Karena Taman Itu Disirami
Karya: Abu Ammar al-Ghoyami
Indahnya pergaulan pasutri dalam membina rumah tangganya sarat dengan keharmonisan. Keharmonisan merupakan sebutan yang sering dan selalu didamba keberadaannya oleh setiap pasutri. Hal ini wajar, mengingat begitu pentingnya peranannya dalam kehidupan setiap pasutri. Bisa jadi dan sangat mungkin sebab keharmonisan itu merupakan pokok keberhasilan dalam usaha mereka berdua mendayung sampan mengarungi samudera kehidupan rumah tangganya.
Termasuk unsur pokok keharmonisan setiap pasutri adalah akhlaq yang terpuji dari tiap-tiap individu. Dan termasuk pokok akhlaq terpuji adalah berbuat adil dan tidak menzholimi. Seorang suami harus mempergauli isterinya dengan penuh keadilan dan tidak ada kezholiman. Begitu pula seorang isteri harus mengimbangi keadilan suami dengan keadilan serupa. Bersihnya suami dari kezholiman ialah dengan menahan dari melakukan kezholiman kepada isterinya. Bukankah itu adalah keharmonisan?
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan kedudukan yang berbeda antara suami dan istri dalam rumah tangganya, hal ini menuntut keadilan dan dibuangnya jauh-jauh kezholinman dari setiap pasutri terhadap pasangannya. Sebab dibalik perbedaan itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menganugerahkan keharmonisan bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya. Simaklah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala berikut:
Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (kaum wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka…. (QS. an-Nisa’ [4]: 34)
Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan para suami sebagai orang yang memiliki kuasa dalam membina para isterinya, mendidik mereka, serta memerintah mereka untuk melaksanakan seluruh kewajiban yang harus mereka tunaikan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kepada suaminya, serta memberikan pelajaran kepada mereka bila mereka tidak menunaikannya. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menghendaki sebaliknya.
Mengapa ditetapkan demikian? Padahal yang demikian ini benar-benar sebuah perbedaan? Memang benar, itu adalah perbedaan, sedangkan keharmonisan tidak selamanya harus sepadan, harus sama, dan harus selaras. Dalam perbedaan pun Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki keharmonisan, bahkan merupakan keharmonisan yang sesungguhnya.
Mengapa hanya suami? Sebab Subhanahu wa Ta’ala telah melebihkan para suami atas para isteri dengan mahar-mahar yang mereka bayarkan, dengan harta yang mereka nafkahkan untuk isteri mereka, dan dengan kecukupan yang mereka berikan kepada para isteri mereka. Benar-benar sebuah keharmonisan! Para isteri itu di sisi suami laksana bunga-bunga di taman yang selalu disirami.
Bukankah tidak harmonis bila yang selalu disirami tidak ’mengerti’ tuannya? Seperti juga bukan keharmonisan bila si tuan tidak menyirami tamannya? Karena taman itu disirami, maka selayaknya mawar-mawar itu memahami perbedaan ini. Hanya karena taman itu disirami maka bunga-bunga keharmonisan pun harum semerbak mewangi.
Ditulis ulang dari Majalah al-Mawaddah, Edisi 2 Tahun ke-1 1428/2007
Betul mbak,, kami mendambakan istri yang soleha,, akan tetapi , saya sendiri sdh berusaha semampu saya sebagai pribadi yg soleh sepanjang kekuatan kami menjalankan perintah Allah sesuai tuntunan alqur’an dan hadist, walaupun tidak seperti nabi muhamad, saya sadar jauh dari sempurna sebagai mkluk lemah ini, yaa setidak-2nya istri solehah bagiku bisa menjjalankan tuntunan berkeluarga yg islami sesuai tuntunan Alqur’an dan nabi muhammad SAW. apa yang dilarang dan apa yang menjadi kwajibannya. Dan yang penting bisa menjaga amanah dlm keluarga.
jaman sekarang kaidah-2 tuntunan Hidup yg Islami sdh kabur antara hal-2 yg dilarang dan yang wajib. banyak. kaum kita yg memperlihatkan aurat di jalan- jalan, mall, tv dsb-nya .. Astagfirullah.,., ,, betul ndak mbak.. ?
Ummu Fathimah Zaujah reply on December 28th, 2007:
Alhamdulillah ..
Akh Didik .. sebelum kita mencari seorang istri yang solekhah .. benar kata ukhti Salsa .. sudahkah kita melihat diri kita ..??
Umumnya seorang lelaki “yang berakal” selalu menginginkan istri yang solekhah .. tetapi .. kadang itu hanya ucapan di mulut saja .. terkadang yang berucap seperti itu mereka masih banyak melakukan maksiat dan kemungkaran .. dan tidak berusaha untuk menjalankan sunnah dan berusaha untuh menjauhi kemungkaran.
Hal ini juga seperti perkataan setiap orang .. “saya ingin masuk surga” tetapi perbuatannya sehari2x selalu bergelimang dengan dosa dan kemaksiatan .. semoga yang mengucpkan seperti itu mendapatkan hidayah taufik dari ALLAH sehingga bisa mewujudkan apa yang diucapkan…
tetapi .. bagaimana dengan mengharap kepada ALLAH tetapi tidak ada usaha ke arah jalan yang menuju surga ..?? bukankah ALLAH tidak akan mengubah jalan seseorang sebelum seseorang itu berusaha ..??
Jadi ya akhi fillah maka apabila kita ingin menjadi suami yang sholekhah berusahalah dengan maksimal untuk berilmu dien dengan ikhlash, dan mengamalkan ilmu yang didapat dengan sabar .. dan mendakwahkannya dalam rangka ber amar ma’ruf nahi munkar ..
Dan .. jgn lupa selalu ntrospeksi ..
sudahkah kita menjadi orang yang sholeh ..??
Semoga kita semua digolongkan oleh ALLAH kedalam golongan orang2x yang ikhlash karena ALLAH dalam beramal sholeh … amin ..
Allahul musta’an ..
Mengapa hanya suami? Sebab Subhanahu wa Ta’ala telah melebihkan para suami atas para isteri dengan mahar-mahar yang mereka bayarkan dengan harta yang mereka nafkahkan untuk isteri mereka, dan dengan kecukupan yang mereka berikan kepada para isteri mereka. dst….dst….
Bagaimana klo sebaliknya,
istri yg mencari nafkah istri yg mencukupi kebutuhan keluarga? apalagi pada jaman sekarang ini banyak istri2 yg mencari nafkah sedang suami dirumah ( krn tidak bekerja )
didik kusdianto reply on December 25th, 2007:
Istri kerja ndak masalah,, kalau suami memang dak bisak kerja, /cacat dsbnya.
akan tetapi sebagai istri, yg memang bertanggung jawab utk keluarga , itu adalah ibadah mencari nafkah utk keluarga. dan yg penting jagn jadi sombong / berani kepada suami yg nota bene tidak bekerja, karena dlm prinsip Islam kalau tdk salah Adil belum tentu sama. .
Alhan\mfulillah jika semua para istri seperti apa yang diharapkan suami , yaitu sebagai istri yang soleha..
tapi sulit mencari myg seperti itu, apalagi jaman skrng yg banyak terkontaminasi kehidupan ini dgn pola hidup barap yg serba hura-2, glamour , boros dansgnya-2
salsa reply on December 24th, 2007:
wajarlah jika para lelaki mengharapkan istri yg solekha seperti halnya para wanita yg sangat mendamba lelaki yg soleh juga, paling tidak bisa dijadikan naungan dan suri tauladan dlm hal kebaikan.
Namun jika kita mengharapkan seorang istri yg seperti khadijah r.a apakah diri ini selayak nabiyullah S.A.W ?
tapi paling tidak kita bisa belajar untuk menjadi soleh dan solkha, betul tidak???
saya suka dengan kata-kata “Para isteri itu di sisi suami laksana bunga-bunga di taman yang selalu disirami”. tp kenapa harus pakai kata para dan bunga-bunga? (kesan jamak) seorang istri bagai sekuntum bunga jg cukup ko…..dan indah
saya suka dengan kata-kata “Para isteri itu di sisi suami laksana bunga-bunga di taman yang selalu disirami”. kenapa harus pakai kata para dan bunga-bunga? (kesan jamak) seorang istri bagai sekuntum bunga jg cukup ko…..dan indah
saya suka dengan kata-kata “Para isteri itu di sisi suami laksana bunga-bunga di taman yang selalu disirami”. kenapa harus pakai kata para dan bunga-bunga? (kesan jamak) seorang istri bagai sekuntum bunga jg cukup ko…..dan
assalaamu’alaikum
sekadar info nich…buat admin moga tetap istiqomah…
oya bisa di link website Ma’had An-najiyah (Bandung), ma’had khusus putri bermanhaj ahlussunnah di bandung
http://annajiyah.or.id
jazakumullahu khoiron…
http://salafiyumpad.wordpress.com