Jilbab Online

– Cocok Untuk Akhowat, Perlu Untuk Ikhwan –

Dec
14

Menjadi Ibu Rumah Tangga, Mengapa Harus Malu??

Kategori Obrolan Muslimah by Ummu Raihanah

Ah,…Cuma ibu rumah tangga aja kok!” dengan malu-malu dan tersipu seorang akhwat menjawab pertanyaan kawannya tentang aktifitas apa yang di gelutinya sekarang. Sedangkan di kalangan ikhwan yang pernah penulis temui, ada diantara mereka yang malu untuk menjawab profesi istrinya bila istrinya bukan seorang dokter, insinyur, guru, atau profesi terhormat lainnya. Maka jawaban yang muncul adalah:

”biasa di rumah saja, mengurus anak-anak, Cuma ibu RT aja,… ga ada aktifitas lainnya!”

Duh, sebegitu hinakah profesi ini?

Padahal ketika penulis berinteraksi dengan wanita barat sewaktu di negeri Kanguru diantara mereka ada yang menjawab,

“Wow, profesi yang hebat tidak semua wanita mau menekuninya, I can’t do that!”

Ya,.. karena mereka melihat betapa sulitnya untuk menjadi istri sekaligus ibu yang baik bagi anak-anak. Saking beratnya, mereka memilih memasukkan anak-anak mereka di child care. Anda akan melihat dengan mata kepala sendiri panjangnya daftar antrian para orangtua yang ingin memasukkan anak-anak mereka ke tempat penitipan anak (childcare). Anda harus menunggu minimal selama 6 bulan sebelum nama anak anda di panggil.1 Rata-rata mereka memilih bekerja daripada mengasuh anak dirumah.

Suatu fakta yang tidak bisa di pungkiri bahwa para ibu dikalangan wanita barat memilih “melarikan diri” dari tugas dan tanggungjawabnya sebagai ibu dengan bekerja. Mereka bilang kepada penulis lebih mudah bekerja daripada tinggal dirumah mengasuh anak.Mengasuh anak membuatku stress! Itu yang penulis dengar. Bukankah itu suatu bukti bahwa mengurus anak-anak adalah suatu pekerjaan dan tanggung jawab yang berat? Lalu dimana penghargaan masyarakat kita terhadap ibu? Terlebih suami?

Itu baru dilihat dari satu sisi saja,…tidakkah anda melihat bahwa seorang istri atau ibu dirumah tidak pernah berhenti dari tugasnya?.Jika para suami mempunyai jam kerja yang terbatas antara 8-10 jam misalnya maka sesungguhnya seorang ibu rumah tangga mempunyai jam kerja yang lebih panjang yaitu selama 24 jam. Ia harus standby (selalu siap) kapan saja diperlukan. Bila diantara anggota keluarga ada yang sakit, siapakah yang bergerak terlebih dahulu? Bukankan seorang ibu/istri adalah dokter pribadi sekaligus perawat (suster) bagi suami dan anak-anaknya? Karena beliaulah yang akan berusaha meringankan beban sakit “sang pasien” dirumah sebelum di bawa kerumah sakit (yang sebenarnya) apabila ternyata sang ibu tidak sanggup mengobatinya. Pernahkah anda memikirkan berapa jumlah uang yang harus anda keluarkan untuk membayar seorang dokter dan perawat pribadi dirumah anda?

Bukankah seorang ibu juga seorang psikolog? Karena tentu anda melihat sendiri kenyataan ketika datang anak-anak mengeluh dan mengadu atas kesusahan atau penderitaan yang mereka alami maka sang ibu berusaha mencari jalan keluar dengan saran, nasehat dan belaian kasih sayang. Begitupula suami ketika merasa resah dan gelisah bukankah istri menjadi tempat curahan? Tak jarang para istri membantu suami meringankan dan memberi jalan keluar terhadap masalah yang sedang dihadapinya. Penulis lihat sendiri betapa mahalnya bayaran seorang psikolog di Australia ada diantara mereka yang harus membayar $100 perjam dan tentu saja tidak ada jaminan mereka bisa membantu menyelesaikan masalah yang sedang anda hadapi.

Bukankan seorang istri/ibu dituntut untuk pandai memasak? Pernahkah anda membayangkan wahai para suami, anda memiliki juru masak dirumah yang selalu siap anda perintah kapan saja anda mau. Anda memiliki juru masak pribadi dirumah, ketika anda pulang ke rumah maka hidangan lezat tersedia bagimu dan juga untuk anak-anakmu. Pernahkah anda membayangkan berapa juta uang yang harus anda keluarkan untuk mengundang juru masak pribadi datang kerumah anda?

Masih banyak sisi lain yang tidak mungkin penulis sebutkan satu persatu. Anda tentu pernah membaca syair Arab yang sangat terkenal yang berbunyi:

”Al-Ummu madrasatun idza a’dadtaha ‘adadta sya’ban tayyibul ‘araq” maknanya “seorang ibu adalah sebuah sekolah. Jika engkau persiapkan dia dengan baik maka sungguh engkau telah mempersiapkan sebuah generasi yang unggul”.

Ditangan ibulah masa depan generasi sebuah bangsa.Karena itulah islam sangat menghormati dan menghargai profesi ini. Kenyataan yang tidak bisa di pungkiri bahwa kedudukan ibu tiga kali lebih tinggi dibandingkan sang ayah.2

Karena Islam melihat tanggung jawab yang berat yang di emban seorang ibu, itu menandakan bahwa menjadi seorang ibu rumah tangga adalah profesi yang mulia dan sangat terhormat. Lalu mengapa kita masih malu ya ukhti?? Ayo,..angkatlah wajahmu dan katakan dengan bangga bahwa aku adalah seorang “ibu rumah tangga!!” sebuah profesi yang sangat berat dan tentu saja pahala yang sangat besar Allah sediakan untukmu. Al-jaza’u min jinsil amal artinya balasan tergantung dari amal/perbuatan yang ia lakukan.Semakin berat atau sulit sebuah amal dilakukan seorang hamba maka pahala yang akan didapatinya pun semakin besar. Wallahu a’lam bisshawwab.

Muraja’ah oleh: Ustadz Eko Hariyanto Lc


Catatan Kaki:< br />

  1. Tak jarang para orang tua ada yang harus menunggu selama 1 tahun karena penuh dan banyaknya antrian (waiting list) dari tahun sebelumnya. []
  2. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dia menceritakan, ada seorang yang datang kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Salam seraya bertanya :”Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak saya pergauli dengan baik?” Rasulullah menjawab: Ibumu! Orang itu bertanya lagi: “Lalu siapa?” Ibumu! Jawab beliau. Lalu siapa lagi? Tanya orang itu, Beliaupun menjawab: Ibumu!, Selanjutnya bertanya:”Lalu siapa?” Beliau menjawab: Ayahmu” (Mutaffaqun Alaih).
     
    Imam Nawawi mengatakan; Hadits tersebut memerintahkan agar senantiasa berbuat baik kepada kaum kerabat dan yang paling berhak mendapatkannya diantara mereka adalah ibu, lalu ayah dan selanjutnya orang-orang terdekat.
     
    Didahulukannya ibu dari mereka itu karena banyaknya pengorbanan, pengabdian, kasih sayang yang telah diberikannya. Dan, karena seorang ibu telah mengandung, menyusui, mendidik, dan tugas lainnya” tutur para ulama (lihat Al-Jami’ Fi fiqh Nisa bab birru walidain Syaikh Kamil ‘Uwaidah). []


  1. yuli » November 19th, 2007 » 1:16 pm berkata,

    Hina? apanya yang hina? apa mengurus, merawat, mendidik dan membesarkan anak itu pekejaan yg hina? …justru klo suami sdh sanggup mencukupi kebutuhan kelg. inginnya saya bersama anak2 aja di rumah…agar bs selalu memperhatikan perkembangannya hingga ia dewasa…

    [Reply]

    Azzahra reply on December 28th, 2007:

    saya mau tanya. kalau orang2 bilang ” percuma kamu sekolah tinggi2 tapi balik juga ke dapur?” gimana jawabnya mb?

    [Reply]

    Indree reply on January 11th, 2010:

    kembali lagi ke mind set qt….berpikir positif, biar sama2 di dapur antara yg pny ilmu dan gak tentu kan beda, antara pembantu dan koki masakannya pasti beda, ngasuh anak, antr lulus SD-SMA n yg kuliah jg hrsnya beda, smp pd mnjlnkan RT, aq pikir seharusnya berbeda…..pola pikir, cr komunikasi, problem solving, dst. Dan itu semua memang tak bs dilht scr kasat mata. Salah kalo’ jd IRT gak perlu ilmu……pendidikan bukan hny semata2 ilmu sesuai jurusan, tp akan mnjadi jln bg qt untuk lbh dewasa n bijaksana….

    [Reply]

    hada reply on January 15th, 2010:

    prcumanya itu kn dnilai..dr segi duniawi aja tuh,klu untuk segi akhirat itu tdk prcuma deh.yng namanya seorng wanita atu istri itu memang kodratnya dong dlm urusan dapur agr kelurga atu suami jd senang makanan.putri atu istrinya sendiri.drpada harus membeli nasi atu sambal dwarung/restoran yng blm tentu trjamin kbersihannya..bukan?

  2. muza » February 29th, 2008 » 2:48 pm berkata,

    subhanallah, pekerjaan sebagai ibu rumah tangga adalah pekerjaan yang mulia dan tdk setiap wanita bisa untuk menjalaninya ,
    muza pun jika sdh berkeluarga ingin nya jadi ibu rumah tangga, tetep tinggal dirumah dan keluar jika ada hajat yang memang benar-benar penting..
    aamiiin,
    semangatt untuk para ibu rt..
    salam ukhuwah
    -afwan bila kurang berkenan-

    [Reply]

  3. Dede Sani » March 5th, 2008 » 11:29 am berkata,

    Artikel yang sangat manusiawi.
    bikin saya barusan meneteskan air mata karena inget perjuangan ibunda tercinta membesarkan saya dan 2 adik saya.

    Seluruh isi dunia ini tidak akan sanggup mengganti se-perseribu dari kasih sayang IBU.

    terima kasih utk artikel ini.semoga bermanfaat utk kita semua.amien

    [Reply]

  4. ummu hilal » May 10th, 2009 » 8:09 pm berkata,

    Gimana bagi yang belum dikaruniai anak? Mau berdakwah (ngajar TPA/semisalnya) tidak punya ilmu. Pekerjaan rumah tangga juga dibantu pembantu. Tidak bisa bebas pergi ta’lim kecuali ditemani. Kesannya menjadi istri yang hanya ‘menghabiskan uang suami’ atau ‘istri pasif’

    [Reply]

    muza reply on May 28th, 2009:

    bagaimana kalau misalnya buka usaha di rumah mba ?
    misal buka warung, atau mgkn suami ada bisnis online :)
    semangatt ya

    [Reply]

  5. Ummu Hanif » May 14th, 2009 » 11:28 am berkata,

    Saya dari belum menikah bercita2 untuk jadi wanita DRA, alias di rumah aja, bangga tuh jadi ibu RT, alhamdulillah…

    [Reply]

  6. ayu » May 29th, 2009 » 9:06 pm berkata,

    Alhamdulillah .Saya sangat bangga dgn gelar saya” DRS. IRT”.Gelar yang tidak bs saya dapatkan di universitas manapun.

    [Reply]

  7. lindaabdul » June 9th, 2009 » 11:10 pm berkata,

    kadang minder juga sih ama tetangga yang wanita karier ,kesannya kayaknya saya kurang “kurang cerdas” gitu.

    [Reply]

  8. Sri » September 8th, 2009 » 12:48 pm berkata,

    saya pernah bekerja hampir 15 thn, tapi kemudian saya memutuskan untuk berhenti dan mengurus rumah tangga. walau harus beradaptasi selama sebulan, dan merasakan stress, tapi alhamdulillah, sekarang saya lebih rileks dan menikmati menjadi IRT tanpa harus minder. karena bagi saya kenyamanan, kesehatan, pendidikan anak-anak lebih penting dari segala-galanya,walau saya tau, tugas IRT memang lebih berat dari pekerjaan saya dulu.

    [Reply]

  9. mia » September 18th, 2009 » 8:23 pm berkata,

    kadang memang ada rasa minder sedikit apalagi kalau melihat para ibu2 tetangga yang pada kerja diluar rumah semua tapi kalau melihat anak2 mereka tidak terurus saya selalu mengatakan pada diri saya sendiri betapa beruntungnya saya yang setiap saat dapat melihat dan memantau perkembangan /aktivitas anak2 saya yang tidak pernah dilakukan oleh ibu2 tetangga saya dan menurut saya itu adalah pekerjaan yang mulia apabila kita bisa mendiddk anak2 kita menjadi anak yang soleh & sholeha

    [Reply]

  10. wulan » September 24th, 2009 » 1:11 am berkata,

    subhanallah………alhamdulillah….. ! syukran
    sy juga seorang ibu rmh tangga,krn hamil sy meninggalkan dunia kantoran, skr anakku usianya 3 bulan. Tapi bnyk hikmah yang bisa sy ambil dibalik semuax, tidak semua wanita bisa menjadi seorang “Ibu”. beruntunglah seorang ibu…..derajatnya paling mulia, subhanallah. Wahai ibu, lakukanlah yang terbaik untuk keluargamu, ikhlaslah, jangan pernah mengeluh…disanalah ladang engkau mendapatkan Ridho Allah Subhanahu Wata’ala. Allah Maha Penyayang.

    [Reply]

  11. ummu ibad » October 15th, 2009 » 12:15 pm berkata,

    alhamdulillah….lega rasanya…..banyak ummahat yg bangga brgelar IRT…..mrasa tidak sendiri lg…..salam buat ummahat yg slalu bersemangat dg IRT nya…..lelah letih dan kadang dg kekesalanku dg kenakalan anak2…….terobati………jazakalloh khoir…..izin share d FB ya…….syukron….

    [Reply]

  12. ummu ifa » November 8th, 2009 » 6:23 am berkata,

    subhanallah………. …ijin share ya ….. syukron

    [Reply]

  13. tyka » November 12th, 2009 » 10:48 pm berkata,

    assalamualaikum semua.
    saya sampai sekarang belum kesampaian menjadi Fulltime Housewife. Masih disambi bekerja diluar rumah. Tapi besok-besok insyaallah kalau keinginan saya menjadi IRT sudah kesampean dan ada yg bertanya kepada saya, apa pekerjaan saya…. saya akan menjawab dengan tersenyum:

    “Saya adalah Ibu Rumah Tangga yang rangkap jabatan sebagai:

    Staf Ahli di bidang Keuangan (Direktur Keuangannya dipegang Suami).
    Manajer Pembelian/ Personal Buyer (alias tukang belanja)
    Psikolog
    Perawat
    Guru Privat aka Pendidik Anak
    Chef
    Home-maker [pengurus rumah tangga]…..”

    nah, jabarkan semua rangkap jabatan / jobdesc diatas, supaya orang yg bertanya itu tahu bahwa menjadi IRT itu adalah pekerjaan yg MULIA yang tidak gampang hehehe… jawaban diatas tentu tidak bisa diberikan kepada semua orang yg bertanya. cukup kepada teman/kerabat dekat yang tidak akan tersinggung mendapat penjabaran diatas

    maap bisa ada salah2 kata,
    wassalam

    [Reply]

  14. ummu ilyasa » December 7th, 2009 » 1:55 pm berkata,

    ijin share yaa…bagus sekalliii artikel nya, semoga blog ini diberkahi Allah

    [Reply]

  15. hidayani » December 9th, 2009 » 3:22 pm berkata,

    bagi orang yang meremehkan seorang wanita yang ber profesi sbgai IRT itu adalah orang yng belum paham dengan ajaran islam…bg wanita yng bersangkutan ..klu minder menjadi IRT brarti pikiran nya cuma duniawi saja ..klu trpikir pd kehidupan akhirat kelak ..kita tidak akan merasa ..minder2..hidup ddunia ini ,tk kan selamanya ..mana tahu.jatah hidup kita seminggu lagi..yng utama kita kejar kehidupan akhirat yng abadi..dari profesi kita sbgi IRT yng baik..itulah .tabungan amal untk kita. DI akhirat…Allah tk akan menanya,,apakah kita jd seorang dokter,guru..karyawati..kelak…hidup…IBU RUMAH TANGGA…

    [Reply]

  16. hidayani » December 9th, 2009 » 4:12 pm berkata,

    profesi sebagai IRT…berkaitan dengan surat alqur’an.(al ahzab) ayat 33…bagi yng merenungkan nya,,,pasti..dia menilai bahwa..jd IRT..itu adalah pekerjaaan yang mulia…dari pekerjaan wanita di luar rumah…

    [Reply]

  17. sari prayudo » January 11th, 2010 » 12:15 pm berkata,

    subhannallah…
    selama kita menjalaninya dengan ikhlas karena Allah,pahala akan kita dapatkan..yuk kita jadikan suami,anak-anak, maupun rumah kita sebagai ladang amal untuk bekal kita di akhirat kelak…
    mohon ijin utk dishare..

    [Reply]

  18. merry » January 21st, 2010 » 2:12 pm berkata,

    Jihadnya perempuan adalah di rumah tangga sehingga menjadikan anak2nya menjadi unggul baik itu di masyarakat maupun agamanya.. tugas seorang istri sama beratnya dg tugas seorang ayah di luar. Belum tentu seorg ayah bisa melakukan segala tugas istrinya di rumah yg memang membutuhkan keahlian khusus dan ketelatenan. Seorang istri yg tidak menjalankan tugasnya sbg ibu rt saya rasa akan membuat sbh rumah tangga jdi timpang. ibarat sebuah bangunan tanpa pondasi. akan rapuh dan akhirnya roboh. jika perempuan menyadari ini, saya rasa kehidupan akan seimbang krn masing2 menjalankan tugasnya dg baik dan memahami bhwa setiap peran dan tugas itu sama pentingnya.

    [Reply]

Tinggalkan komentar Anda