Ukhti Muslimah, Bagaimana Aqidahmu?

March 17, 2004. Dikirim dalam Uncategorized | Comments Off


Sengaja penulis mengambil judul diatas agar ukhti semua senantiasa
bermuhasabah(intropeksi) diri , apakah sudah benar aqidah (keyakinan) kita dalam
beragama ini? suatu pertanyaan yang mungkin agak sepele akan tetapi sangat sulit
untuk dijawab.


Sebenarnya dari sinilah segala amal akan dihisab oleh Rabb kita,..dengan
akidah yang shahih (benar) sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah dan pemahaman
pendahulu kita salafuna Shalih maka hati kita akan tunduk dan patuh kepadaNya.
Menyerahkan seluruh hidup kita dengan penuh kepasrahan dan keikhlasan. Segala
perintah yang Allah turunkan dalam kitab-Nya yang Mulia dan melalui lisan
Nabi-Nya adalah merupakan hal yang ringan …mudah sehingga jawaban kita
terhadap perintah-perintah tersebut adalah ”kami dengar dan kami
patuh”…sebuah jawaban yang indah .


Wahai ukhti muslimah,…


Cobalah simak firman-Nya:


”Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan
supaya mereka menyembahKu


(Adz-dzariyaat:56)


Sebuah seruan yang jelas dan pasti untuk kita,..yaitu agar kita hanya
benar-benar menyembahNya saja, mentauhidkan-Nya, tidak menyekutukan-Nya….tentu
ukhti semua menyadari kita ini adalah hamba-hamba-Nya dan suatu saat akan
kembali pada-Nya. Karena itulah tugas kita untuk selalu membersihkan akidah kita
dari noda-noda kesyirikan.


Dengan akidah yang bersih inilah kita mulai beramal untuk mencapai derajat
takwa derajat wanita shalihah yang kita idam-idamkan.


sayangnya,..banyak saudari kita yang masih terlena dan jauh dari akidah yang
benar..jauh dari syariat yang benar..sehingga apa yang mereka perbuat lebih
banyak melanggar perintah-Nya dari pada taat kepada-Nya.


Wahai ukhti muslimah saudariku….bukan maksud penulis untuk membuka aib atau
mencela dan merasa diri sendiri suci dan benar..akan tetapi hanya ingin saling
menasehati semoga Allah selalu membimbing kita semua…


Penulis hanyalah ingin membagi cerita tentang apa yang dialaminya ketika
Allah memberikan kemudahan untuk menunaikan rukun islam yang kelima pada tahun
2001 yang lalu bersama sang suami..


Dengan penuh rasa haru penulis memasuki pesawat dan duduk disebelah saya
seorang wanita keturunan Arab yang cantik jelita dengan dua orang anaknya..saya
bertanya kepadanya ”Akan pergi kemana?” karena saya melihatnya tanpa
mahram..


dia menjawab akan ke Dammam. Saya melihatnya dengan prihatin karena kasihan
melihatnya kerepotan seorang diri mengurus dua anaknya yang agak rewel
dipesawat..Saya membantunya memasukkan barang-barangnya yang sempat tercecer
keluar diantaranya adalah abaya hitam(gamis panjang) dan jilbab panjang
hitam…saya bertanya ”apakah anda memakai ini sama seperti saya? saya bertanya
heran karena beliau saat itu mengenakan setelan celana jean ketat dan kaos
ketat..


beliau menjawab:”Iya,..di Saudikan kita haram terbuka seperti ini,..setiba
saya di bandara saya akan memakainya..mbak orang Arab? saya menjawab:Bukan


beliau bertanya lagi : Oh,.tetapi kenapa pake cadar apa karena suami mbak
orang Arab jadi disuruh pake begitu? beliau bertanya sambil melirik kesuami
saya.


Sayapun menjelaskannya dengan panjang lebar mengapa saya memakai cadar
kepadanya..dan alhamdulillah dia mengerti.


Suatu kejadian yang sungguh disesalkan dimana banyak kaum kita (wanita)
memahami bahwa perintah jilbab adalah ditaati ketika suatu negara mewajibkannya
bukan karena ketaatan dan ketundukan hati…


Ketika penulis sampai di Madinahpun banyak meneteskan air mata karena
ternyata ..saudari-saudari kita yang shalat disana masih banyak yang melakukan
kemusyrikan diantaranya mencium tiang-tiang masjid Nabawi dan menyapunya
keseluruh tubuh untuk mencari berkah walaupun polisi wanita disana meneriaki
haram,..toh mereka


tak perduli..jalan terus..sungguh menyedihkan.


Hal tersebut tak jauh berbeda saya dapati di Masjidil Haram,..mereka
berdesak-desakkan mencari berkah ditempat keluarnya air zam-zam..mengorek-ngorek
dinding tersebut ..kemudian menyimpan serpihan-serpihan dari dinding disekitar
keluarnya zam-zam itu kedalam saputangan atau yang lainnya sehingga mengganggu
saudarinya yang lain yang ingin minum air zam-zam…


teriakan saudari kita yang lain melarang perbuatan itu sama sekali tidak
digubris..


Saya hanya bisa berdo’a semoga Allah memberi mereka hidayah,..


Setibanya di Bandara Jeddah untuk pulang ketanah air..saya mendapatkan
pengalaman yang sangat menarik,..karena tempat pemeriksaan antara laki-laki dan
wanita dipisah,..jadilah saya sendiri menghadapi petugas imigrasi
bandara,..mereka lama sekali melihat kesaya,..sayapun bertanya kepadanya dalam
bahasa Arab :Apakah ada masalah?


Petugas itu agak terkejut karena dia melihat paspor saya adalah paspor
indonesia . Dia menjawab:”tidak”


Salah seorang petugas imigrasi yanglain mendatangi saya dan bertanya apakah
saya benar-benar orang indonesia asli bukan keturunan Arab…saya
mengiyakan..dia pun berkata kepada saya:”Coba lihat disana itu semua kan
teman-temanmu mereka sudah melepaskan kerudung mereka semua karena sudah selesai
dari hajinya..” saya tidak sempat menjawab banyak karena saya melihat wajah
khawatir suami saya dari jauh..
dengan sangat terpaksa sayapun meninggalkan
beliau yang masih dalam kebingungan…


Ini adalah suatu kenyataan ukhti…saudariku…
Sebuah hal yang sungguh
patut di renungkan,..apabila memang hati kita benar-benar telah tunduk
kepada-Nya kita akan selalu taat dimanapun kita berada tanpa memandang situasi
dan kondisi hingga kita menghadap-Nya.


Semoga Allah senantiasa membimbing dan menjaga kita untuk istiqomah
dijalan-Nya dan menjadikan seluruh amalan kita ikhlas kepada-Nya bersih dari
riya dan kesyirikan. amin.



Beri Tanggapan:

Komentar ditutup.

Arsip