Pro dan Kontra RUU APP, Syubhat yang Menyerang Kaum Muslimin

June 20, 2006. Dikirim dalam Uncategorized | Comments Off

Gerakan Pro dan kontra terhadap rencana Undang-Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUU APP) semakin memanas dari hari ke hari di negeri tercinta indonesia. Aksi unjuk rasa yang marak dari golongan pro- dan di gayung sambut oleh golongan yang kontra sering terjadi khususnya di daerah ibu kota negara. Perdebatan ini pun berkembang dengan melibatkan beberapa tokoh negara, tokoh agama, penegak hukum, tokoh organisasi, dan tokoh dunia seni (entertainment). Bahkan, di salah satu layar kaca pernah ditayangkan bagaimana beberapa tokoh sampai tuding-tudingan serta saling menuntut ke pengadilan, baik itu ditujukan secara personal ataupun atas nama organisasi. Ironisnya, beberapa pejabat dan tokoh agama yang dianggap masyarakat awam mempunyai “simpanan” ilmu lebih, malah ikut membumbui masalah yang ada, dengan berbagai alasan yang secara langsung justru membuat situasi semakin panas.

Sebagian pihak mengkritisi isi dari Undang-Undang tersebut yang katanya tidak mencerminkan budaya Indonesia yang ber-Bhineka Tunggal Eka, atau pun mengkritisi materi dari Undang-Undang tersebut yang kurang transparan dan menimbulkan multi persepsi, sampai tersampaikannya opini bahwa RUU APP adalah kepentingan umat islam yang diperjuangkan lewat jalur politik. Tentu saja opini-opini yang blak-blak-an ini justru mengkeruhkan kondisi yang ada.

Dari sejumlah opini yang terbentuk karena kobaran massa dan media massa, golongan Pro sering di-identik-kan dengan umat islam, mereka yang bergamis dan berjilbab. Sedangkan golongan kontra di dukung oleh para selebritis dan atau pekerja seni lainnya. Terlepas dari pihak yang berseteru diatas, penulis ingin memaparkan sebuah syubhat yang telah dilancarkan oleh tokoh yang dianggap ulama oleh umat islam di Indonesia. Pemikirannya yang kontroversial dan sering melahirkan konflik di kalangan umat islam Indonesia, justru menebarkan syubhat pada sebagian umat islam yang dangkal ilmunya juga golongan muslim awam. Aksi dan keberaniannya dalam mendukung gerakan kelompok yang menolak RUU APP banyak membuat decak kagum kaum awam dan non-muslim, menimbulkan syubhat bagi muslim penganut setianya dan bahkan kebencian bagi umat islam yang memahami kesesatan pemikirannya. Tidak perlu disebut beliau siapa, karena itu sudah menjadi rahasia umum bagi masyarakat Indonesia muslim maupun non-muslim. Yang ingin penulis tekankan dalam artikel ini adalah sharing keprihatinan atas kondisi umat islam di Indonesia. Penganut garis keras (harakiyin) yang sering bertindak tanpa mencari nasehat dari ulama terlebih dahulu, dan penganut garis lemah, yang berislam tanpa ilmu shahih dan sekedar ikut-ikutan atau menjadi penganut setia seseorang yang dianggap ulama tanpa ilmu atasnya.

Sungguh, fenomena ini adalah PR bagi kita bersama, penyakit/syubhat yang menyerang kaum muslimin Indonesia, tentu saja menjadi tugas kita bersama untuk memerangi pemikiran-pemikiran menyimpang seperti diatas dengan keagungan manhaj Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam. Lakukan dan sampaikan walaupun hanya mampu dalam satu ayat, begitu kurang lebih sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam. Melalui pena, ucapan, tindakan, dan sarana apapun yang bisa kita perbuat. Karena, seperti kita ketahui bersama, penganut setia yang jahil, tanpa landasan ilmu yang haq dan tahu manhaj yang benar masih tersebar di sebagian besar masyarakat muslim Indonesia. Orang yang berilmu, tapi kemudian menebarkan pemahaman yang sesat karena nafsunya, bermunculan di negeri kita, yang memang kecenderungan umat islamnya jauh dari ulama yang shahih.

Banyak orang berilmu di dunia ini, tapi banyak orang yang tidak dewasa dalam ilmunya. Banyak orang pintar, tapi kalah disetir nafsu dibandingkan oleh akal sehatnya. Seperti kata Ibnul Jauzy dalam kitabnya “Talbish Iblish”, kurang lebih sebagai berikut: “Sumber dari penyakit hati itu maksiyat dan syubhat, dan sesungguhnya syubhat jauh lebih berbahaya daripada maksiat. Sesungguhnya mengenali syubhat itu seperti mencari semut hitam di atas batu hitam di malam yang gelap gulita”, dan tentu saja hal ini tetap bisa diperangi dengan bashirah ilmu. Semoga kita semua dimudahkan jalan menuju kebaikan, menuntut ilmu yang haq, mengenali kebenaran dan surpass dari kehidupan dunia serta mati dalam keadaan islam dan iman. Cukup lah bagi kita Allah dan Dia lah sebaik-baiknya pelindung. Wallahu ta’ala a’lam bi shawwab.

Colomadu, 17 Juni 2006


Beri Tanggapan:

Komentar ditutup.

Arsip