Emansipasi, Adakah Dalam Islam?

December 31, 2005. Dikirim dalam Uncategorized | 5 komentar

Wanita muslimah merupakan bagian terbesar dari komunitas masyarakat
secara umum. Apabila mereka baik, niscaya masyarakat pun akan menjadi
baik. sebaliknya, apabila mereka rusak, masyarakat pun akan rusak.
Sungguh, apabila mereka benar-benar memahami agama, hukum dan syari’at
Alloh, niscaya mereka akan mampu melahirkan generasi-generasi baru
yang tangguh dan berguna bagi umat seluruhnya.


Di tengah perhelatan dunia Islam sekarang ini, kita merasakan alangkah
banyaknya kekuatan yang hendak menarik, sekaligus mengeluarkan wanita
dari agama dan syari’at NabiNya ke jalan yang amat jauh dari jalan
yang diridhai Alloh, diantaranya adalah derasnya suara seruan kebebasan
wanita yang mendapatkan sambutan memuaskan dari kalangan orang-orang
yang memang berfikiran tak karuan.


Para penyeru kebebasan wanita belakangan ini, bertambah gencar dan
lancar, dengan berusaha sekuat tenaga menodai kehormatan dan kedudukan
para wanita, berbagai ucapan dan slogan-sloganpun dengan entengnya
keluar dari mulut mereka. Semua itu pada intinya adalah untuk menyeret
wanita agar supaya mempunyai kedudukan setara dengan kaum laki-laki,
agar wanita meninggalkan serta menanggalkan busana (jilbab) muslimahnya,
agar wanita bekerja di sektor-sektor pekerjaan kaum laki-laki, agar
wanita berhias secantik mungkin agar bertambah ayu, supel, feminim,
menawan bagi kaum laki-laki ketika keluar dari tempat tinggalnya.
Dan berbagaia seruan-seruan lainnya yang pada lahirnya terlihat manis
dan menggiurkan, namun pada hakekatnya pahit dan menghancurkan!


Langkah-langkah penjerumusan dan penyesatan seperti di atas bertambah
deras lajunya dengan terbentangnya berbagai sarana informasi yang
tidak lagi mengenal batasan. Akhirnya, melalui sarana informasi itulah,
kaum wanita sangat mudah diekspose bahkan dikomersialkan. Lihatlah
hampir tidak ada satu iklanpun dimedia elektronik maupun media cetak
yang tidak menampilkan wanita, bahkan sesuatu yang dulunya sangat
tabu dibicarakan, kini menjadi tontonan dan sarapan harian. Jelas,
semua ini merupakan bentuk pelecehan bagi wanita. Tapi anehnya, kenapa
amat langka sekali wanita yang membencinya, bahkan banyak sekali dukungan
dan persetujuan dari mereka?!


Benarlah sabda Nabi Muhammad:



Tidaklah aku tinggalkan fitnah yang lebih berbahaya bagi kaum laki-laki
daripada fitnah kaum wanita. HREF="#foot57">1

Sebenarnya hal semacam ini tidak akan pernah terjadi bilamana para
wanita berpegang teguh dengan jalan yang digariskan Alloh sejak ribuan
tahun yang lalu yaitu sebuah solusi yang mencakup seluruh segi kehidupan
wanita yang akan membawa kaum wanita ke tempat terhormat dan terhindar
dari berbagai jurang kehinaan.


1 Makna Emansipasi Wanita


Emansipasi berasal dari bahasa latin "emancipatio"
yang artinya pembebasan dari tangan kekuasaan. Di zaman Romawi dulu,
membebaskan seorang anak yang belum dewasa dari kekuasaan orang tua,
sama halnya dengan mengangkat hak dan derajatnya.


Adapun makna emansipasi wanita adalah perjuangan sejak abad ke-14
M. dalam rangka memperoleh persamaan hak dan kebebasan seperti hak
kaum laki-laki. HREF="#foot62">2


Jadi para penyeru emansipasi wanita menginginkan agar para wanita
disejajarkan dengan kaum pria disegala bidang kehidupan, baik dalam
pendidikan, pekerjaan, perekonomian maupun dalam pemerintahan.


2 Emansipasi Wanita Dalam Bidang Pendidikan


Mereka menyerukan agar para wanita menuntut ilmu di bangku-bangku
sekolah hingga perguruan tinggi sejajar dengan pria, sekalipun harus
mengorbankan nilai-nilai agamanya. seperti ikhtilath (campur baur
dengan laki-laki), bepergian tanpa mahram, pergaulan bebas tanpa batas,
bersikap toleran terhadap kemungkaran yang ada di depan mata, yang
penting bisa mendapat ijazah yang diidamkan atau berbagai gelar yang
dicita-citakan.


3 Emansipasi Wanita Dalam Bidang Pekerjaan


Setelah kaum wanita lulus dalam pendidikan formal, maka tibalah gilirannya
tuntutan untuk bekerja, tidak mau kalah dengan kaum laki-laki, maka
merekapun memasuki sektor-sektor pekerjan kaum laki-laki, bercampur
baur dengan mereka yang sudah pasti hal ini akan menimbulkan berbagai
dampak negatif. antara lain:


  1. Timbulnya pengangguran bagi kaum pria, sebab lapangan pekerjaan telah
    dibanjiri oleh kebanyakan kaum wanita.

  2. Pecahnya keharmonisan rumah tangga, sebab sang ibu lalai dengan tugas-tugas
    utamanya dalam rumah, seperti, memasak, mencuci, membersihkan rumah,
    melayani suami dan anggota keluarga. Akibatnya, rumah tanggapun berantakan
    tak terurus.

  3. Keadaan perkembangan anak menjadi kurang terkontrol, lantaran ayah
    dan ibu sibuk bekerja di luar rumah. Dari celah inilah, akhirnya muncul
    dengan subur kenakalan anak-anak dan remaja-remaji.

  4. Terjadinya percekcokkan dan perseteruan antara suami-istri. dikarenakan
    ketika suami menuntut pelayanan dari sang istri dengan sebaik-baiknya,
    si istri merasa capek dan lelah, lantaran seharian bekerja di luar
    rumah.

  5. Terjadinya perselingkuhan. Karena ditempat kerja tersebut, tidak ada
    lagi larangan bercampur antar lain jenis, dandanan yang menggoda lawan
    jenisnya dan selainnya dari malapetaka yang hanya Allohlah Maha mengetahuinya.


Semoga Alloh memberi petunjuk kepada kita semua. Semestinya, kaum
wanita hendaknya menjadikan rumahnya seperti istananya, karena memang
itulah (rumah) medan kerja mereka. Alloh berfirman:



"Hendaklah kaum wanita (wanita muslimah), tetap di rumahmu
dan janganlah kamu berhias dan bertingkahlaku seperti orang -orang
jahiliyah dahulu." (QS. Al-Ahzab: 33)


Rasulullah bersabda:



Dan wanita adalah penanggung jawab di dalam rumah suaminya ia akan
di minta pertanggung jawabannya atas tugasnya. HREF="#foot60">3

Pada hakekatnya, Alloh tidaklah membebani kaum wanita untuk bekerja
mencari nafkah keluarga, karena itu merupakan kewajiban kaum laki-laki.
Alloh berfirman:



Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan
cara yang ma’ruf (baik). (QS. Al-Baqarah: 233)


Jadi, seorang istri merupakan tanggungan suami, begitu juga seorang
putri, tanggungan orang tua. Karenanya, apabila seorang wanita muslimah
memaksakan dirinya untuk bekerja menjadi wanita karir -misalnya-,
maka pada hakekatnya dia telah merusak citra dirinya sendiri, karena
bagaimanpun juga, wanita tidak bakalan sanggup menandingi kaum pria
dalam segala pekerjaan lantaran beberapa kelemahan yang ada pada diri
wanita, seperti, kekuatan fisik yang lemah, mengalami haidh, hamil,
melahirkan, nifas, menyusui, mengasuh anak, sehingga mereka tidak
punya waktu penuh dan tenaga ekstra kuat yang mampu mengimbangi kaum
laki-laki.


4 Emansipasi Kaum Wanita Di Bidang Perekonomian


Telah dijelaskan di atas, bahwa mayoritas wanita zaman sekarang ini,
begitu mudah tergiur dan terbujuk dengan slogan emansipasi ini, sehingga
mereka beramai-ramai berusaha mencari tambahan pemasukan guna meningkatkan
taraf hidup mereka, sekalipun harus melanggar syari’at, seperti bekerja
membungakan uang pinjaman, padahal ini termasuk riba.


Alloh berfirman:



"Alloh menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba."
(QS. Al Baqarah: 275)


Firman-Nya pula:



Alloh memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. (QS. Al-Baqarah:
176)


Atau bekerja menawarkan produk-produk tertentu dengan menampilkan
dan memamerkan kecantikannya walau harus membuka auratnya. Padahal
Rosulullah Muhammad bersabda:



"Wanita itu adalah aurat." HREF="#foot61">4

Adapun yang di maksud aurat wanita muslimah dalam hadits ini adalah
semua anggota tubuh kecuali wajah dan kedua telapak tangan (menurut
sebagian ulama’).


5 Emansipasi Wanita Dalam Bidang Pemerintahan


Hal ini terjadi dengan antusiasnya kaum hawa untuk terjun dalam arena
kancah politik. Padahal anggotanya (yang di pimpinnya) mayoritas terdiri
dari kaum laki-laki. Seperti ini banyak kita saksikan di sekolah-sekolah,
kantor-kantor, lembaga-lembaga, istansi, maupun di berbagai sektor
pekerjaan. Hal ini sangat bertentangan dengan firman Alloh:



Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Alloh
telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain
(wanita). (QS. An Nisa’: 34)


Firman-Nya pula:



Dan orang laki -laki tidaklah sama seperti orang perempuan. (QS.
Al imron: 36)


Inilah beberapa dalil Al Qur’an dan Sunnah yang menjadi hujjah dan
bantahan atas para penyeru slogan emansipasi kaum wanita, semoga Alloh
menjaga kaum muslimin semuanya dari tipudaya musuh-musuh-Nya, sesungguhnya
Alloh Maha Kuat lagi Maha Perkasa.




Catatan Kaki



HREF="#tex2html1">1

Muttafaqun alaihi.


HREF="#tex2html2">2

Lihat "Kamus ilmiyah Populer" hal.74-75.


HREF="#tex2html3">3

HR. Buhkari Muslim.


HREF="#tex2html4">4

HR. Tirmidzi dan berkata hasan shohih.




Beri Tanggapan:

5 Komentar

  1. harrrrjjjjooo pada 15 February 2010 @ 12:28 am

    Produk gagal Globalisasi.. sangat bagus, ilmu saya bertambah, TRIMA KASIH banyak..

  2. Azzawa pada 21 January 2010 @ 1:48 pm

    sebenarnya kurang setuju dengan uraiannya, memang kodrat wanita seperti itu, tapi jika keadaan yang membuat adanya emansipasi, contohnya dalam hal mencari nafkah…jika laki2 (suami) terlalu berat dalam mencari nafkah kita wajib membantu untuk meringankanya, kita diciptakan laki2 dan perempuan yaitu mendampingi dan saling membantu.

  3. rully pada 29 December 2009 @ 11:46 pm

    setuju… porsi kita memang beda…

  4. ade wiranata pada 23 November 2009 @ 10:45 am

    Assalm.inilah menurut saya pendapat yang paling rojih

  5. uni pada 15 May 2009 @ 1:12 pm

    subhanallah…., islam memang indah yang telah mengatur semua kehidupan manusia termasuk wanita, yang dalam islam wanita diposisikan dalam tempat yang mulia.

Kategori

Arsip