03
Ketika Ku Langkahkan Kakiku Keluar Untuk Bekerja
Kategori Mu'amalah, Pribadi Shalihah by Ummu Raihanahوَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَءَاتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ“
Dan hendaklah kamu tetap(tinggal) dirumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahilyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya (Al-Ahzab :33)
Wahai ukhti muslimah,…Wanita dalam pingitan menunjukkan kemuliaan dan kesucian. Terdapat dalam sejarah dari dulu hingga kemudian. Dalam pingitan malu menjadi hiasan. Wajarlah bila ia menjadi primadona dan dambaan. Bukankah Allah ciptakan bidadari surga dalam pingitan?
Tetapi mengapa wanita sekarang berlomba-lomba meninggalkan rumahnya,menukar tempat yang mulia dengan kehinaan?Bukankah telah Allah perintahkan dalam Al-Qur’an tinggallah dalam rumah-rumah kalian wahai wanita yang beriman?tidakkah kau lihat sekarang terjadi berbagai kerusakan dari banyaknya wanita yang berbaur dengan laki-laki dan berkeliaran?perselingkuhan dan perzinahan menjadi kemaksiatan yang tak lagi menakutkan, pada Allahlah kita meminta pertolongan…
Wahai ukhti muslimah,…banyak slogan bertaburan untuk menjadikan kalian wanita yang mengikuti perkembangan zaman walaupun harus mengorbankan agama dan kehormatan kalian, agar julukan kuno dan ketinggalan zaman tidak melekat pada diri kalian.
Hingga akhirnya wahai saudariku,…sebagian saudari kita merasa sesak dan sempit dadanya ketika harus tinggal dirumah. “Seperti burung dalam sangkar “, katanya. Betapa membosankannya! Merasa nyaman ketika di luar rumah bergaul begitu bebas tanpa batasan, keluar rumah tanpa kebutuhan. Hilanglah sudah rasa malu yang menjadi hiasan utama para wanita, tak merasa risih berbicara dengan lawan jenisnya tanpa ada kebutuhan yang penting atau mendesak bahkan tertawa dan bercanda? Bukankah Rasul kita yang mulia bersabda : “Malu adalah sebagian dari iman?”1
Mereka beralasan “Tidaklah kami keluar melainkan karena kami harus bekerja membantu suami atau orangtua kami karena kebutuhan hidup yang semakin tinggi, bagaimana kami hidup jika kami tidak keluar bekerja?”
Wahai saudariku,…mencari nafkah adalah tanggungjawab suami jika engkau telah bersuami, ridhalah dengan pemberiannya. Syukurilah ia walau tak seberapa, keridhaanmu dan qana’ahmu (menerima apa adanya) justru akan membawa barakah pada harta suamimu. Bila engkau belum menikah maka ayahmulah yang bertanggungjawab atas biaya hidupmu. Bersyukurlah atas pemberian orangtuamu dan berbaktilah pada mereka agar doamu dikabulkanNya. Bukankah Uwais Al-qarni sangat berbakti pada ibunya yang membuat doanya dikabulkan Allah? hingga Nabi kita yang mulia menyuruh Umar Radiyallahu anhu bila berjumpa Uwais agar meminta doa darinya agar Allah mengampuni dosa Umar? Bukankah Umar radiyalahu anhu juga menawarkan dunia berupa surat rekomendasi kepada uwais yang waktu itu akan ke Kufah. Bila saja ia mau menggunakannya maka kehidupannya akan berubah. Dunia mendatangi Uwais dan tunduk padanya akan tetapi Uwais menolaknya dengan berkata, “Menjadi orang biasa dan tidak terkenal adalah lebih aku sukai.”2
Wahai saudariku fillah,… dalam hidup ini kita akan selalu dirisaukan dengan kelaparan, kefakiran dan ketakutan karena memang demikianlah Allah jelaskan dalam Al-Qur’an sebagai ujian bagi orang-orang yang beriman :
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan, berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah:155)
Tidakkah kau lihat dalam sejarah wahai saudariku,…sebelum sahabat dan sahabiyah mengenal islam. Hidup dalam gelap gulita, kehinaan, permusuhan, pertumpahan darah, kesesatan bahkan kefakiran. Kemudian mereka menyerahkan diri mereka hanya taat pada perintahNya dan RasulNya tercinta. Keikhlasan dan mengikuti Sunnah Nabi mereka adalah pedoman hidup mereka. Jasad mereka berjalan di atas muka bumi tetapi hati-hati mereka tergantung di akhirat. Iman, takwa dan amal shaleh menjadi pakaian mereka. Maka kejayaan, kekayaan bahkan dunia menghampiri dan bertekuk lutut dihadapan mereka. Tidakkah mereka pada saat itu menguasai bumi dari timur hingga barat? Allahpun memenuhi janjiNya.
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa.” (An-Nuur: 55).
Wahai saudariku,…aku ulang sekali lagi, bukankah dunia menghampiri para sahabat yang mulia? Mereka tidak tertipu dan terbenam dalam gemerlapnya kehidupan dunia. Akan tetapi justru hidup zuhud adalah pilihan mereka. Mereka tetap memilih untuk khusyu’, tunduk dan berhina diri di hadapan Allah Azza wa jalla.
Lalu arahkanlah pandanganmu sekali lagi pada Al-Qur’an,…akan engkau dapati kisah indah dan menakjubkan. Dua wanita putri nabi yang mulia, sangat terpaksa harus membawa binatang ternaknya ke sumber air Madyan . Karena sang ayah telah lanjut usia hingga tugasnya tak mampu lagi beliau tunaikan. Rasa malu menghalangi mereka untuk berbaur (ikhtilath) dengan kaum lelaki jadilah mereka menunggu dari kejauhan. Mereka rela sabar menunggu memberi minum ternaknya setelah berlalunya rombongan. Inilah dia kisah yang akan membuat hatimu tertawan, Allah berfirman:
وَلَمَّا وَرَدَ مَاءَ مَدْيَنَ وَجَدَ عَلَيْهِ أُمَّةً مِنَ النَّاسِ يَسْقُونَ وَوَجَدَ مِنْ دُونِهِمُ امْرَأتَيْنِ تَذُودَانِ قَالَ مَا خَطْبُكُمَا قَالَتَا لَا نَسْقِي حَتَّى يُصْدِرَ الرِّعَاءُ وَأَبُونَا شَيْخٌ كَبِيرٌ
“Dan tatkala ia (Nabi Musa alaihis salam) sampai di sumber air negeri Madyan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata: “Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)? ” Kedua wanita itu menjawab: “Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya”.(Al-Qashas:23).
Maka Allahpun memberikan pertolongan pada kedua putri Nabi Syuaib alahis salam dengan hadirnya Nabi Musa alaihis salam yang memberi minum ternak mereka.
فَسَقَى لَهُمَا ثُمَّ تَوَلَّى إِلَى الظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ
“Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya, kemudian dia kembali ketempat yang teduh lalu berdo’a: “Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.” (Al-Qashas :24).
Wahai hamba Allah yang shalihah,…renungkanlah kisah mulia diatas. Rasa malu ternyata telah menjadi hiasan wanita di masa lampau. Walau bagaimanapun beratnya tantangan hidup, dua putri nabi mulia memilih menjauh dari ramai sesaknya para pria. Bersabar menunggu hingga mereka pergi dan berlalu barulah mereka memberi minum ternaknya kemudian Allah pun memudahkan urusan dunia mereka dengan menghadirkan Musa alaihis salam agar menolong mereka berdua.
Diantara saudari kita ada yang berkata, “Kita tetap harus bekerja karena kita butuh pegangan, kita butuh harta agar anak-anak kita tidak terlantar bila ayahnya tiada, apalagi kita tidak tahu isi hati suami kita bagaimana kalau ia tergiur wanita lain lalu melupakan kewajibannya menafkahi keluarga?”
Wahai para istri,…tak ada satupun ulama melarang wanita bekerja dengan dua syarat kewajibanmu sebagai istri engkau tunaikan dan jenis pekerjaan yang tidak melanggar syariat agama. Tinggal dirumah adalah lebih utama akan tetapi bila memang engkau harus keluar maka taatilah rambu-rambu agama. Keluar dengan menutup aurat secara sempurna yaitu dengan jilbab syar’i yang merupakan pakaian wanita bertakwa, hindari ikhtilath semampumu, menundukkan pandangan dan hiasan malumu janganlah engkau tanggalkan. Karena dengan malu itulah engkau menjadi terhormat dan dimuliakan.
Jika engkau berburuk sangka pada suamimu diluar ketika mencari nafkah,..hatimu tidak tenang dan was-was boleh jadi ia tergiur wanita lain. Tidakkah engkau sadar karena ini adalah akibat dari bergaul bebasnya wanita dengan laki-laki sehingga engkaupun terkena fitnah keraguan? Sebagai seorang muslimah yang beriman hendaklah menjauhi dari prasangka karena ini adalah dosa sebagaimana Rabb kita berfirman:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa” (Al-Hujuraat: 12)
“Bagaimana bila suamiku tiada, tentu anak-anakku akan terlantar”, Wahai saudariku,… jangan biarkan setan mengelabuhimu. Menakut-nakutimu terhadap perkara ghaib. Kematian adalah perkara yang ghaib, hanya Allah saja yang tahu. Boleh jadi kitalah yang mendahului suami kita karena urusan ajal adalah rahasia Allah semata. Kita dilarang berbuat “rajman bilghaib” yaitu menerka-nerka sesuatu perkara yang ghaib yang dimana hanya Allah saja yang mengetahuinya.
وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Dan, tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati.Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Lukman : 34).
Bercerminlah wahai ukhti muslimah,…pada Ummu Salamah radiyallahu anha. Ketika suaminya tercinta ditakdirkan Allah sebagai syuhada. Beliau beristirja (mengucapkan innalillahi wa inna ilahi raajiun) kemudian bersabar dan bertawakal kepadaNya dengan berdoa:
“Ya, Allah berikanlah pahala karena musibah ini dan berikanlah kepadaku pengganti yang lebih baik”3.
Maka beliaupun bertanya pada dirinya sendiri, “Siapa gerangan yang lebih baik dari Abu Salamah?” Allahpun menjawab doanya ketika iddah beliau selesai, Rasulullah shalallahu alaihi wassalam datang melamarnya kemudian menikahinya dan beliau pula yang menanggung anak-anak Ummu Salamah. Ummu Salamah berkata:
Allah telah mengganti untuk diriku yang lebih baik dari Abu Salamah radiyallahu anhu yaitu Rasulullah shalallahu alaihi wassalam.4.
Wahai ukhti muslimah semoga Allah memuliakanmu, setelah engkau membaca kisah Ummu Salamah Radiyallahu anha apalagi yang engkau ragukan?Apa lagi yang engkau risaukan?Bukankah Ar-Rahman telah memberikan jaminan setelah Ia memberikan ujian dan cobaan pada hamba-hambaNya yang beriman?kebahagiaan di akhirat berupa surga yang penuh dengan kenikmatan dan keabadian. Di dunia bahkan Dia akan menggantinya dengan lebih baik dari yang sebelumnya hamba tersebut dapatkan. Buah dari kesabaran dan ketawakalan.
Tinggal di rumah adalah perintah dari Rabbmu Azza Wajalla, sangat utama ibadah dan berpahala. Kebaikan di dalamnya tersimpan melimpah ruah. Barakah dari atas langit senantiasa tercurah.
Duhai, para calon bidadari surga… segeralah kembali pada seruan Penciptamu,taatilah perintahNya maka keberuntungan akan menghampirimu, kebahagiaan dunia akan mendatangimu akhiratpun berbahagia menyambutmu.Wallahu a’lam bish-shawwab.
Artikel ini telah di muraja’ah (dibaca dan di cek ulang) dan di setujui oleh :
Ustadz Khalid Syamhudi Lc dan Ustadz Muhammad Elvy Syam Lc.
Sumber Rujukan:
- Terjemah Shahih Bukhari,Asy-Syifa’, Semarang.
- Ringkasan Shahih Muslim,Pustaka Amani, Jakarta.
- Hiburan bagi Orang-orang Yang Tertimpa Musibah,Muhammad bin Muhammad Al-Manjabi Al-Hambali,Darul Haq,Jakarta.
Catatan kaki:
- HR.Muslim no.30 Bukhari no.9 [↩]
- Lihat Hadits Riwayat Muslim no.1747 dan 1748 [↩]
- HR.Muslim no.918 kitab janaiz [↩]
- lihat kisah ini dalam Shahih Muslim dalam kitab al-Janaiz [↩]
assalaamualaykum,artikelnya bagus boleh saya copy ?
[Reply]
Ummu Raihanah reply on July 5th, 2009:
Wa alaykumussalam,tafadhol (silahkan) dengan syarat mencantumkan sumber dari jilbab.or.id dan amanah untuk tidak merubah tulisannya. Dan, ana ada sedikit memberikan perubahan(edit) sebelum bagian terakhir tulisan mohon di baca ulang. Jazakumullah khayran atas perhatiannya.
[Reply]
salam. saya mau bertanya, apakah menjadi seorang guru termasuk profesi yang tidak melanggar syariat agama?terimakasih atas jawabannya
[Reply]
ummu raihanah reply on July 11th, 2009:
Wa alaykumussalam,…maaf ukhti bisa diperjelas pertanyaannya.Guru dalam bidang apa?kemudian mengajari siapa? (maksud saya apakah mengajar orang dewasa perempuan semua atau laki-laki,anak-anak dan seterusnya)karena pertanyaannya masih bersifat umum jadi sulit untuk menjawabnya.Afwan jiddan.
[Reply]
Artikel yang menarik.
[Reply]
izin copas ya ukht, jazakillah khoir
[Reply]
Artikel yang mengharukan sekaligus menyakitkan , sayang kadang hanya jadi sebuah teori yang sulit untuk di realisasikan.hanya seruan2 sok idealis kadang sedikit kurang bijak, tak adakah seruan yang memotifasi untuk muslimah yamg terpaksa keluar rumah untuk bekerja agar sedikit lebih bijak (tidak membuat kecil hati). Sungguh kalau kita mau bertanya dari hati ke hati kebanyakan perempuan sangat terpaksa sekali harus melangkahkan kaki keluar untuk bekerja.Saya hampir yakin dengan seyakin-yakinnya bahwa semua perempuan akan merasa nyaman untuk berdiam diri di rana domestik , tapi kadang ada sebuah tuntutan yang memaksa perempuan untuk melangkahkan kaki ke luar rumah untuk bekerja.seharusnya ini tak hanya di tujukan kepada muslimah tapi juga kepada laki2 (Ayah,saudara laki2, dan suami)agar tak membuat paramuslimah yang terpaksa keluar rumah untuk bekerja tidak jadi dilematis , serbah salah.buat ertikel yang solutif, jangan yang dilematis.
[Reply]
Ummu Raihanah reply on July 8th, 2009:
Tidaklah menyakitkan jika semua permasalahan hidup hanya kita sandarkan kepadaNya karena Dialah yang memberikan ujian tentu Diapulalah yang hanya dapat menolong kita.Sayangnya keyakinan(keimanan)kaum muslimin sering kalah dengan derasnya fitnah kecuali orang-orang yang dirahmatiNya.Saya adalah ibu dari empat orang anak yang tak jauh beda dengan ukhti berusaha keras hidup untuk tetap di koridor syariatNya.Kami tinggal di Luar negeri jauh dari tanah air, tempat saya hidup tak ada pilihan lain selain bekerja atau sekolah demikianlah aturan yang ditetapkan pemerintah disini.Kaum muslimah di sini menghadapi problema hidup yang dilematis juga di satu sisi kita harus taat pada SyariatNya agar bisa mendapatkan keridhaanNya disisi yang lain kita tidak punya banyak pilihan lain. Diantara kita ada yang memilih belajar on line (bagi yang memilih sekolah) dan bagi yang memilih bekerja mereka berusaha mendapatkan pekerjaan di lingkungan wanita seperti menjadi pekerja child care, guru Tk, merawat anak-anak sakit dll. saya sendiri menjadi volunteer mengajar dalam satu organisasi wanita muslimah dengan demikian saya tidak harus bekerja bersama kaum laki-laki di luar. Dua kisah nyata ini mungkin bisa ukhti jadikan renungan, saya memiliki kawan dengan 2 orang anak beliau khawatir dengan masa depan anak-anaknya takut terlantar apabila kelak suaminya meninggal akhirnya meminta ijin suaminya untuk sekolah agar ia memiliki ketrampilan sehingga bisa bekerja sang suamipun mengijinkan setelah mempertimbangkan alasan beliau. Ahirnya kawan saya ini sekolah, setelah 2 tahun ketika saya mengunjungi sahabat saya A saya melihat 2 putranya di rumah sahabat saya ini, sayapun bertanya padanya bagaimana kabar ibunya dan sahabat saya bilang bahwa mereka telah bercerai kedua anaknya ini dititipkan ke sahabat saya ketika ayahnya bekerja. Cobalah ukhti renungkan,…siapa yang terlantar jadinya?bukankah dia dulu yang mengkhawatirkan anak-anaknya?justru sekarang anak-anaknya terlantar!kemudian saya memiliki sahabat B yang gagal dalam pernikahannya selama 2 kali. Tinggal menjanda dengan 4 orang anak tidak membuat ia berpangku tangan apalagi berputus asa. Ia harus menghidupi 4 anaknya yang tentu saja harus juga sekolah. Ia berdoa tanpa lelah siang dan malam memohon kepada Allah Yang Maha Kaya agar memberikannya pekerjaan yang Ia ridhoi. Mulailah sahabat saya B ini bekerja sebagai pembersih rumah(cleaner), ia mau bekerja bila tak ada laki-laki atau suami si pemilik rumah tak ada ketika ia menjalankan tugasnya. Dengan kesabarannya dan tekunnya ia bekerja akhirnya ia mendapat banyak pelanggan. Saya bila ingin mengunjunginya harus telpon dulu karena saking sibuknya. Ia bisa menyekolahkan anak-anaknya di sekolah private islam, membayar kontrakan, menafkahi anak-anaknya. dan, yang mengejutkan saya adalah ia memberi tahu saya bahwa ia akhirnya bisa menunaikan ibadah haji setahun yang lalu bersama kakaknya dari jerih payahnya bekerja selama ini. Sahabat saya B ini adalah contoh nyata yang membuat saya bersemangat Allah memberkahi hartanya, dan ke 4 anaknya, anak-anaknya semua pandai di sekolahnya.Memang pekerjaannya di mata manusia mungkin hina tapi lihatlah ia berhasil mempertahankan hidupnya yang sulit tanpa melanggar syariatNya. Jika ukhti menginginkan nomor telponnya saya akan bersenang hati memberikannya. Banyak saudari kita yang melihat pahitnya hidup sebagai ujian dan mereka berusaha mencari solusi kepada jalan yang diridhaiNYa. Dan, tentu Yang diatas Langit tidak akan membiarkan hambanya yang berimana di telantarkan, bagaimana tidak sedangkan semut dan cacing melata mendapatkan rizkiNya apalagi hamba-hambaNYa yang berusaha istiqamah di jalanNya mustahil IA akan menelantarkannya.Wallahu a’alam.
[Reply]
Artikel nya bagus sekali. Terima kasih atas suntikan ilmu nya. Doa kn saya mdh2an mndpt istri shalihah .syukron ktsir.
[Reply]
salut dengan tulisannya, teruskan da’wahnya
[Reply]
Subhanallooh…
Sungguh Islam sangat memuliakan wanita dan menempatkannya pada derajat yang mulia.
[Reply]
artikel yang bagus, boleh izin untk copy paste? Islam telah memberi tempat kepada kaum wanita dengan sebaik-baik tempat.
[Reply]
assalamualakum ukhty… subhanllah… tulisan yang sangat bagus sekali, membuat saya harus introspeksi diri. selama ini saya sudah merasa pekerjaan yang saya pilih sudah sesuai kodrat saya sebagai muslimah dan diridhai suami. namun… karena pekerjaan ini, saya harus rela kehilangan banyak waktu untuk bersama suami dan anak-anak dan menghabiskan banyak waktu diluar rumah. setelah membaca tulisan ukhty saya jadi bertanya, sudah benarkah langkah saya? tolong dong ukhty… bantu saya ya… jazakumullah khair…
[Reply]
Ummu Raihanah reply on July 11th, 2009:
Wa alaykumussalam warahmatullah
Pekerjaan ukhti sangat mulia,..hanya status ukhti jangan lupa ukhti adalah seorang istri dan ibu,..Jika suami sudah ridha insya Allah tidak masalah hanya seorang ibu tentu memiliki tanggung jawab besar dalam keluarga salah satunya mendidik anak-anaknya dengan pendidikan islami,menanamkan tauhid aqidah yang benar, mengajarkan shalat,membaca Alqur’an dllnya. Jika ukhti terlalu banyak keluar tentu tugas ukhti di rumah jadi terbengkalai,bila ukhti sampai di rumah tentu sudah lelah dari aktifitas di luar. Dan inilah salah satu hikmah mengapa Allah perintahkan kita tinggal di rumah karena kita tidak akan sanggup mengerjakan banyak tanggung jawab kita punya kekuatan yang terbatas.Saran dari ana (Allahu’alam) kurangi jadwal rutin anti bila harus keluar selama 5 hari misalnya jadikan hanya 3 hari sisa harinya bisa ukhti konsentrasikan untuk anak-anak dan keluarga. Karena tugas ukhti sangat di butuhkan wanita maka pandai-pandailah anti mengatur mana yang lebih utama dari yang utama.Barakallahu fiki semoga Allah senantiasa memberkahi waktu anti di jalan yang diridhaiNya.amin
[Reply]
assalamualaikum ukhy… tulisanya bagus sekali… membuat saya harus introspeksi diri. selama ini saya merasa sudah memilih pekerjaan sesuai kodrat saya sebagai muslimah dan diridhai oleh suami. namun karena pekerjaan saya bidan komunitas, membuat saya kehilangan banyak waktu bersama suami dan anak-anak serta lebih banyak menghabiskan waktu tsb di luar rumah. saya jadi bertanya… “sudah benarkah langkahku?” hal ini menimbulkan kerisauan dalam hati saya. duh ukhty… tolong saya ya…
[Reply]
Ntahlah, tapi terima kasih sudah memotifasi .
[Reply]
Peringatan yang sangat berharga.. Jazakumullah!
[Reply]
Ana ucapkan jazakumullah khayran atas seluruh komentar yang masuk. Dari sebagian komentar ada yang mengedepankan akal dan hawa nafsu mohon hendaklah di pertimbangkan jika anda ingin menulis sebuah komentar. Apa yang kita tulis yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan sunnah dengan pemahaman salaful ummah akan membahayakan diri kita sendiri.Semua itu akan di hisab Allah akan di minta pertanggungjawabannya di hari kiamat (lihat QS:17:36). Jadikanlah sudut pandang kita berfikir selalu berlandaskan syarat diatas karenanya kita selamat.Segala permasalahan yang dialami manusia dewasa ini adalah sama dengan apa yang dialami Rasulullah dan para sahabatnya mereka juga mengalami resesi ekonomi dan kesulitan-kesulitan dunia lainnya akan tetapi hal itu tidak menjadi alasan untuk tidak taat pada perintah Rabb mereka. Tidaklah yang keluar dari lisan-lisan mereka selain kami dengar dan kami patuh.Ada yang menyiratkan seakan-akan surat Al-Ahzab ayat 33 itu sudah tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Sungguh suatu pernyataan yang sangat berbahaya yakni menghujat perintah Allah, padahal Al-Qur’an hukumnya tetap berlaku hingga hari kiamat. Wajib bagi seorang mukmin dan mukminah tunduk dan taat terhadap perintahNya berdasarkan apa yang kita mampu. Allahlah yang menurunkan perintah dan Allah pula yang tahu yang terbaik untuk kebaikan dunia dan akhirat kita.Karena Dialah yang menciptakan kita. Seluruh ulama salaf telah sepakat dengan sebab turunnya ayat itu mereka mewajibkan wanita untuk tinggal dirumah kecuali keluar untuk keperluan yang bersifat syar’iyah, keluar dengan tidak melanggar syariatNya.Syaikh bin Baaz rahimahullah salah seorang ulama besar kita beliau berkata bahwa tinggal di rumah bagi wanita memiliki pahala yang besar sedang bagi laki-laki dengan keluar rumahlah mereka mendapat pahala besar.Dan, sebagaimana yang saya tulis bahwa tidak ada satu ulamapun yang melarang wanita bekerja,mohon di baca tulisan saya dengan baik.Dengan syarat jenis pekerjaan yang sesuai dengan fitrah mereka dan tidak melanggar syariat. Dan terhadap komentar yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan sunnah dengan pemahaman salaful ummah tidak akan ana muat. Karena jika semua orang boleh berpendapat sesuai dengan hawa nafsu dan pemikiran manusia maka akan rusak dan hancurlah agama ini. Wallahu a’lam bishawwab
[Reply]
semoga allah selalu melindungi hambanya yang selalu berusaha menjaga kehormatan dan kesucian dirinya
[Reply]
Jazakilahu khairon katsir ,,,,
tulisan yang sangat menyentuh … membuat ana bertanya kembali sudah benarkah jalan yang ana pilih selama ini .
ijin copy paste untuk teman2 ana ya.
[Reply]
Assalamu’alaikum. Tulisan yang sangat baik karena memuat hukum yang jelas dan absolut yaitu Al Qur’an yang diperkaya dengan Hadits. Insya Allah bermanfaat untuk yang membaca dan menulis. Amin.
Karena dasar hukumnya jelas dan absolut jadi tidak pada tempatnya untuk kita menyatakan pendapat setuju atau tidak setuju. Kita harus taat. Titik.
Saya sendiri wanita muslimah, bersuami, tidak ada anak, tapi bekerja di luar rumah atas saran dan izin suami. Jadi sebetulnya walaupun saya tunduk pada suami karena bekerja atas sarannya, saya termasuk yang sudah melanggar ketetapan Allah sebagaimana dalam ayat 33 Surat Al Ahzab tsb. dalam alinea pertama tulisan ini.
Untuk saudari muslimah yang masih bekerja di luar rumah seperti saya, hati-hati jaga diri dan orang di sekitar kita agar kita semua selalu menjaga agama Islam yang berarti juga menjaga suami dan keluarga kita agar kita dan suami yang memberi izin kita keluar rumah tidak terbebani dosa.
Langkahkan kaki keluar rumah tidak lain karena yang di benarkan agama atau keadaan darurat yang mendapat udzur di hadapan Allah dengan demikian insya Allah kita keluar mendapat ridhaNya.
Mohon maaf dan mohon koreksi bila ada yang salah dalam tulisan saya ini agar menjadi perbaikan diri saya dan umat yang membaca bila tulisan ini dipublikasi.
Wa’alaikum salam.
[Reply]
Assalammualaikum. wr. wb.
Ukhti, mohon izin copy ya… Supaya bisa saya baca sambil nyantai di rumah, dan bisa saya jadikan bahan referensi. Karena memang, banyak sekali (karena tuntutan zaman) wanita dituntut untuk membantu suami dalam memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Namun, koridor yang telah ditentukan Al Qur’an, harus selalu menjadi acuan utama. Tulisan ini, saya harapkan menjadi salahsatu referensi saya, dalam berbagi ilmu dengan orang-orang di sekitar saya. Terimakasih. Hanya Allah SWT yang dapat membalas kebaikan ukhti. Ditunggu artikel-artikel selanjutnya.
Assalammualaikum. wr. wb.
[Reply]
Assalammualaikum. wr. wb.
Ukhti, mohon izin copy ya… , artikel yg luar biasa , tetapi membutuhkan semangat yg luarbiasa pula utk penerapannya , dan luarbiasa pula RidhoNYA apabila kita bisa terapakan….
[Reply]
Assalamu’alaikum,
Semua yang ukhti paparkan diatas tak terbantahkan, teruslah menulis untuk dakwah yang haq ini, saya salut dan bangga karena masih banyak orang yang peduli terhadap keadaan umat islam saat ini yang jauh dari sunnah, saya benar2 terharu membaca artikel diatas karena kebenaran itu ternyata indah dan mahal sekali, Barokillahu fiik. Jazaakillahu khoyr.
[Reply]
Assalammu’alaikum Warohmatullohi Wabarakatuh,
Allohu Akbar !, it’s a nice real story umm, maybe i have to learn more from you to be qonaah…
Ana juga ibu dari 2 orang anak laki-laki yang masih mencoba bergelut menaklukan hati agar bisa hijrah ke tempat yang lebih baik
Barakallahu fikum
Di Valentino – Cimanggis
[Reply]
Subhanallah artikel yang bagus…
ana pengajar TK bermanhaj Salaf di Bekasi Utara
semoga menjadi renungan untuk para ummu…
Jazzakumullah
[Reply]
subhanallah…saya menangis ketika membaca artikel ini, sungguh …..masih adakah waktu untuk memperbaiki diri.
saya termasuk muslimah yang harus bekerja di luar rumah, dan kebetulan mendapatkan posisi yang lumayan dan sudah mendapatkan ijin suami. karena pekerjaan saya, maka saya harus bertemu dan bergaul dengan lawan jenis, memang saya rasakan di luar rumah terlalu banyak “godaan” dan subhanallah, tulisan ini memberikan solusi yang terbaik untuk para muslimah untuk bisa menjaga diri, dengan menjaga penampilan, bertingkah laku dan semua yang mengakibatkan fitnah.
ya Allah jagalah diri ini untuk dapat menghindari semua fitnah yang ada maupun yang tersembunyi……………
ya Allah, engkaulah pelindung kami…………………….
jazzakumullah, ummu…………….
[Reply]
assalammu’alaikum,
ukhti, minta izin copy,
[Reply]
assalamu’alaikum, mmm minta ijin ngopy ya ukh
[Reply]
Assalamu’alaykum ummu Raihanah,
Jazakillahu khair…subhanallah tulisannya bagus sekali. Semoga bermanfaat buat saya dan kita semua. Boleh saya ijin copy paste utk saya posting di group sisters in Islam?
wassalam,
umm muhammad
[Reply]
saya..ini..memang..stuju..jg..dng..surat alqur’an.(alhahzab ayt 33 itu.diterapkn di negri.kt.ini.yng..ktnya mayoritas islam..tp.apa.daya.ibu..kita kartini..tlh..mempelopori..yng namanya emansipasi.wanita’ maka jdnya wanita2 indonesia sekarang,,super2 dlm berkarir dluar rumahnya.tp.bagi.kaum.llki sendiri kyknya krng mendukung sih.dngn hal ini.sbgi contoh ya..kaum lelaki atu orang tua.skrng kebanyakan maunya mncri istri atu calon menantu yng sudah bekerja dluar rumah seprti..tlh menjadi pns panda i berwiraswasta.yah..makanya ..wanita/gadis2 yng tdak bekrja jd trsingkir.dn tdk berminat untk di lamar…malu lh rasanya,,mndapat istri/menantu yng dirumah2 saja katanya,.pr pembaca ini curahan hati saya sendiri ya,,ya saya memng wanita yng tk berminat untk bekerja dluar rumah.tp..seprti hal diatas lh kenyataannya,,,ya..Allah semoga bukakan lah hati bagi para lelaki/para orang tua untuk mau menerima wanita yng sperti saya ini..mudah2an dia menjadikan pernikahan bukan sekedar duniawisaja tp ingat akan akhirat juga amin ya rabbala’lamin….
[Reply]
saya adalah ibu dari 2 orang anak dan Insya Allah akan 3. saya sebelumnya adalah ibu rumah tangga murni, mengurus rumah dan keluarga. tapi sejak kontrak kerja suami berakhir, kami putuskan berdua untuk mencari pekerjaan. Alhamdulillah saya diterima kerja sebagai sekretaris engineer di perusahaan asing, karena lingkungan saya yang mayoritas laki-laki, maka saya berusaha menjaga diri dengan menutup aurat saya dan berusaha membatasi pergaulan.
suami sampai saat ini (sudah setahun) belum juga mendapatkan pekerjaaan. tapi suami terus berusaha mencari pekerjaan, walaupun saya lihat suami sudah mulai putus asa (karena usia yang sudah tidak muda lagi, dan harus bersaing dengan fresh graduate). saya hanya bisa memberinya semangat dan berdoa.
Setiap hari saya pergi ke kantor, dan suami yang mengurus anak-anak dan rumah (walaupun masih kaku untuk melakukannya).
tapi ternyata hati ini menangis, ketika saya harus meninggalkan anak-anak, saya merasa berdosa ketika saya pergi meninggalkan rumah ketika anak-anak sedang sakit. pulang kerja pun tenaga saya tinggal sedikit untuk bercengkerama dengan mereka.
saya terus berdoa semoga Allah cepat memberikan jalan keluar bagi kami, karena bagaimanapun tugas saya yang sebenarnya adalah di rumah. dengan tinggal dirumah mengurus anak-anak tidak membuat saya terkekang.
[Reply]
Assalamu’alaikum ummu…
Saya seorang wanita blm menikah, dng seorang ibu yg sudah menjanda, dan seorang adik yg blm mendapatkan pekerjaan. Saya sebenarnya ingiiiiiiiiiin sekali segera menikah agar saya bisa segera berhenti bekerja dan ttp tinggal di rumah seperti yg diperintahkan Allah, tp sampai skrg blm dpt terwujud. Saya harus bekerja krn kami msh tinggal di rumah kontrakan yg notabene hrs selalu dibayar tiap bulan. Bgmn solusinya ummu? Sedangkan sy hanya bs bekerja sbg karyawan krn tdk punya keahlian/wiraswasta.
Jazakullah khoir.
Wassalamu’alaikum
[Reply]
Assalamualaikum ya ukhti..izin copy artikel2 nya ya.ana mau sebarkan beserta sumber2 nya.barakallahu fiikum.
[Reply]
Assalaamualaykum ummu..
Hati ini seringkali menjerit bila membaca artikel tentang Wanita Bekerja. Sudah sering ana membaca artikel seperti ini, seakan Allah berulangkali mengingatkan ana untuk tinggal di rumah, tapi ana ga berdaya umm..
Ana ibu dari 1 orang anak usia 4 th, ana bekerja sebagai PNS sedangkan suami ana wiraswasta, ana pergi pagi pulang hampir maghrib, sementara suami pergi pagi tp siang sudah dirumah. Anak ana jadi lebih dekat dengan abinya karena waktu kerjanya bisa disesuaikan..
Ana ada dalam kondisi yang sulit umm, kedua ortu ga pernah mengijinkan ana untuk tinggal di rumah dengan alasan masa depan, parahnya lagi mereka seolah memandang sebelah mata tentang pekerjaan suami yang bukan sebagai pegawai, hal inilah yang membuat ana semakin tertekan. Selama ini suami ana ridho dengan pekerjaan ana, tp hati ini yang sering menjerit karena ana ga bisa menjalankan perintah Allah dalam QS.Al-Ahzab:33..
Ortu ana sangat keras, karena menurut mereka ana adalah anak kebanggaan mereka (PNS), jadi kalo ana brenti kerja brarti menghancurkan kebanggaan mereka. Hubungan ana sempet merenggang dengan ortu karena ada wacana ana mw brenti kerja untuk mengurus rumah tangga. Ortu ana marah besar dan keluarlah dari mulut mereka kata2 yang ana ga suka untuk mendengarnya..
Ana minta sarannya umm..Ana hanya minta kepada Allah agar mereka diberi kelunakan hati untuk menerima keputusan ana..
Jazakumullah khair..^_^
maaf ummu, ana tunggu jawabannya lewat email juga, khawatir kl disini ga terbaca..
[Reply]
hidayani reply on March 7th, 2010:
sdri/ummukhansa ngk sndirian seperti ini,beribuan,jutaan ortu zaman skrang yng brprinsip bangga atu menuntut bhkn smpai rela brjuang asal putriny dpt bekerja diluar rumah…ini merupakn salah satu tanda dr surat alwaqiah ayat..? yng artinya” orang trdahulu bnyak msk surga sdng orng kemudian sedikit msk surga..kalau kita renungkn .memang betul juaga makna dari ayat itu.ya…moga2 bagi yng brminat betul msk surga bisa bnyk melaksanakn anjuran dari allah swt…
[Reply]
Perfect. jilbab.or.id rocks.
[Reply]
Tinggalkan komentar Anda