25
SUAMIKU BUKAN LELAKI SEMPURNA
Kategori Obrolan Muslimah, Pribadi Shalihah by Sutikno bin TuminganSUAMIKU BUKAN LELAKI SEMPURNA
Nikah Vol. 4, No. 6, September 2005
Dulu di tengah hangatnya teh panas dan sepotong rotii di pagi hari, saya dan teman-teman satu kos sering ngobrol tentang sosok ikhwan atau suami ideal.
Menurut kami seorang ikhwan yang paham agama pastilah sosok yang amat ’super’. Super ngemong, sabar, romantis, dan sebagainya, tiada cela dan noda. Dalam pikiran polos kami saat itu, seorang ikhwan itu pasti ittibaussunnah dalam segala hal, termasuk dalam berumah tangga.
Namun seiring berjalannya waktu akhirnya saya menyadari, ternyata dulu kami melupakan satu hal. Yaitu bahwa seorang ikhwan adalah juga manusia, yang tentu saja memiliki sifat “manusiawi”. Mereka pun memiliki sederet masalah, dan mereka bukan malaikat. Jadi, tidak layak tentunya jika berbagai tuntutan kita bebankan kepada mereka.
Membangun harapan adalah sah-sah saja. Hanya saja, jangan kaget setelah bertemu realita. Setelah menikah, menyatukan dua hati yang berbeda bukanlah hal mudah. Menginginkan sosok suami yang bisa menyelesaikan konflik tanpa menyisakan sedikit pun sakit hati atau masalah adalah harapan berlebihan.
Apalagi mengharap suami yang full romantis di antara sekian beban yang ditanggungnya. Suami kita hanyalah laki-laki biasa yang punya masa lalu dan latar belakang berbeda dengan kita. Mereka seperti kita juga, punya banyak kelemahan di samping kelebihannya.
Lantas apakah harus kecewa kalau sudah dapat suami tapi masih jauh dari harapan waktu muda? Tidak juga. Hal terpenting adalah jangan lagi berandai-andai dan mengeluh. Berpikirlah progresif, jangan regresif. Pikirkan solusi, jangan mempertajam konflik atau mendramatisir keadaan. Komunikasikan apa yang ada dalam benak kita dalam situasi terbaik.
Fitrah wanita dengan porsi perasaan yang lebih dominan seharusnya menjadikan kaum hawa lebih pintar memilih waktu curhat yang tepat. Sikap “nrimo” atas kekurangan suami bisa jadi pilihan tepat untuk mengurangi tingkat kekecewaan.
Konsepnya semakin Anda melihat perbedaan, semakin terluka hati ini (self-fulfilling prophecy). Jadi, carilah titik persamaan untuk meraih kebahagiaan. Dan ingat, dari sekian akhwat yang ada, Andalah yang terpilih untuk menjadi belahan hatinya. Karena itu cintailah suami Anda apa adanya.
Bagi para akhwat yang belum menikah, tetaplah “memanusiakan” manusia. Para ikhwan itu adalah seperti diri kita juga. Mereka bukan Superman. Ingat pula bahwa jodoh ada di tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tetaplah perbaiki diri baik secara dien maupun fisik. Masalah siapa suami dan bagaimana sosok suami kita kelak adalah hak prerogatif Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Singkirkan sederetan tuntutan “super” bagi calon suami. Semakin banyak tuntutan, bila tak terpenuhi akan membuat tingkat kekecewaan semakin tinggi. Percayalah pada janji Allah, bahwa suami yang baik adalah untuk istri yang baik pula, insya Allah. Lagi pula Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah menegaskan dalam salah satu haditsnya bahwa memilih suami adalah karena ketinggian agama dan akhlaknya, bukan prioritas sekunder lainnya.
Akhir kata, yuk, sembari menyeruput teh panas, kita ganti topik menjadi ~Bagaimana menjadi istri ideal.~ Wallahu a’lam.
(Ummu Aisyah).
Alhamdulillah… artikel yang sangat bagus….semakin memotivasi agar dapat memahami suami dengan segala kekurangan & kelebihannya…
[Reply]
subhanallah..hebaat
[Reply]
Subhanallah….sebagai seorang ikhwan ana tersentuh dengan artikel ini,masya allah bagus sekali…jazakallahu khoiron kashiro…
[Reply]
Assamualaikum wr wb ana suka sekali dengan artikel ini membuat ana semakin sadar bahwa manusia tiada yang sempurna dan semua perlu proses. Bagaimana nanti ana dapat mendampingi calon suami ana tentunya untuk menuju kebaikan yang di ridhoi oleh Allah SWT (amin). Wassalam
[Reply]
alhamdulillah…dpt iLmu lg…
bs bwt pdoman bwt yg msh jomblo, mw marrieD maupun udh married…
[Reply]
Assalaamu’alaikum…
Memang benar, impian masa remaja ga sama dengan kenyataan setelah menikah.
Dan itu karena kita harus menyatukan 2 insan yg jelas berbeda.
Susah???
Kalau ga di coba, ga bakalan tau, he..he..
Ayo para akhawat yg masih sendiri, jangan ditunda-tunda lagi kalau sdh ada yg datang dan baik diennya…
[Reply]
Assalamu’alaikum wr wb…
Ummu , Subhanallah tulisan yg cukup menggugah.
ana izin share di FB ya, biar bisa jadi renungan para akhwat secara luas,,,,
sblmnya ana ucapkan jazakumullah khoiron katsiron …
[Reply]
Alhamdulillah, mudah-mudahan artikel ini memberikan pemahaman yang lebih baik, bagi siapa saja dalam mengarungi biduk rumah tangga ….. jazakallah khoiron katsir …. terutama yang kasih komentar ini
[Reply]
alhamdulillah… setelah menikah, ana semakin banyak melihat sisi manusiawi ikhwan(suami ana).
intinya, jika kita tak bisa menjadi persis seperti Fatimah radhiallahu’anha, janganlah mengharapkan pasangan yang persis seperti Ali radhiallahu’anhu.
[Reply]
acungan jempol u/penulis. sebagai laki2, sy sudah lama ingin mengatakan hal yg sama kepada akhwat. sy sendiri adalah penggemar berat novel2 karya habiburrahman el shirazy dan karena sy sdh menikah sy bisa katakan: kalau anda membaca dan mengharapkan sosok “ikhwan super” seperti di novel kang abib itu, siap2 saja u/kecewa karena sosok itu tidak akan pernah ada..
[Reply]
subhanallah…. semoga hati kita tersentuh…. barakallahu fikum
[Reply]
izin share ya, jazakillahu khoiron
[Reply]
subhanallah………..materi ringan namun dalam maknanya … bahan renungan untuk akhwat semua… barakallahu fiikum
[Reply]
Subhanalloh, alhamdulillah..,bgs skl artikelnya, sngt menyentuh ht, smg bs memotifasi kt untk lbh memperbaiki diri & lbh memahami suami, barokallohu fikum
[Reply]
Alhmdulillah sy sbg suami kgum dgn artikel ini. Dan smg dgn ini sy bs membw diri sya dlm membna klg kecil sy mnjd klg yg andalan diMATA ALLAH dan semua. Amin. Teruslah berkarya agr kt bs sling berbg ilmu.
[Reply]
Intinya……..
“No Body Perfect”
Tidak ada manusia yang sempurna, yang terpenting adalah saling memahami dan saling melengkapi.
Kalo menginginkan pasangan yang perfect maka bersiap-siaplah untuk kecewa dan dikecewakan…..’.’.
Ya Allah mudah2an q diberikan pasangan yang terbaik diantara yang baik. Amien…
[Reply]
hmmm…artikelnya bagus banget bunda..realistis dan sederhana, tapi bisa menyentuh hati saya.nasehatnya juga tidak terkesan menyuruh,tapi mengajak orang seperti saya ini untuk merenungi dan bersyukur atas segala pemberian dari ALLAH.termasuk harus sabar dalam menanti jodoh saya kelek.hehehe…..
[Reply]
Membacanya mmbuat ana tersadar,btp berdosanya ana pd suami tercinta.
[Reply]
Alhamdulillah sy jga srinG BrfikirN sprti itU v krg stlh sy mmbaca artklx sy bi5a mmbuka hati sy Utk bsa mEnerima ap adax. Krna sUami jga org x ptut qta h0rmati bkn tuk’ d pErntah2.
[Reply]
assalamu’alaikum wr wb
artikel yang sangat sederhana tapi menyentuh,memamg tak ada manusia yang sempurna,kesempurnaan hanya milik Allah.
yang terbaik menurut kita belum tentu baik bagi Allah,hanya Allah yang tau mana yang terbaik untuk hambanya.
mudah2an kita diberikan jodoh yang baik untuk kita menurut Allah.
Amin…..
wassalam
[Reply]
Setuju….
[Reply]
subhanaloh…..sungguh sgt menyentuh hati.memang kebnykn kita para akhwat terlalu banyak berhayal mendpatkn sosok suami yg sempurna sampai lupa bhw tak da seorgpn yg perfect didunia ini. maka jgnlah berhrp mendptkn sosok ali bin abi tholib bila kita tak sprti fatimah.jgn berhaylmendptkn sosok Nabi M uhammad bila kita tak seperti khdijah.maka perbaika diri klo ingin mndptkn suami sperti yg kita inginkn
[Reply]
Tinggalkan komentar Anda