SUAMIKU BUKAN LELAKI SEMPURNA

October 25, 2009. Dikirim Sutikno bin Tumingan dalam Obrolan Muslimah, Pribadi Shalihah | 55 komentar

SUAMIKU BUKAN LELAKI SEMPURNA
Nikah Vol. 4, No. 6, September 2005

Dulu di tengah hangatnya teh panas dan sepotong rotii di pagi hari, saya dan teman-teman satu kos sering ngobrol tentang sosok ikhwan atau suami ideal.

Menurut kami seorang ikhwan yang paham agama pastilah sosok yang amat ‘super’. Super ngemong, sabar, romantis, dan sebagainya, tiada cela dan noda. Dalam pikiran polos kami saat itu, seorang ikhwan itu pasti ittibaussunnah dalam segala hal, termasuk dalam berumah tangga.

Namun seiring berjalannya waktu akhirnya saya menyadari, ternyata dulu kami melupakan satu hal. Yaitu bahwa seorang ikhwan adalah juga manusia, yang tentu saja memiliki sifat “manusiawi”. Mereka pun memiliki sederet masalah, dan mereka bukan malaikat. Jadi, tidak layak tentunya jika berbagai tuntutan kita bebankan kepada mereka.

Membangun harapan adalah sah-sah saja. Hanya saja, jangan kaget setelah bertemu realita. Setelah menikah, menyatukan dua hati yang berbeda bukanlah hal mudah. Menginginkan sosok suami yang bisa menyelesaikan konflik tanpa menyisakan sedikit pun sakit hati atau masalah adalah harapan berlebihan.

Apalagi mengharap suami yang full romantis di antara sekian beban yang ditanggungnya. Suami kita hanyalah laki-laki biasa yang punya masa lalu dan latar belakang berbeda dengan kita. Mereka seperti kita juga, punya banyak kelemahan di samping kelebihannya.

Lantas apakah harus kecewa kalau sudah dapat suami tapi masih jauh dari harapan waktu muda? Tidak juga. Hal terpenting adalah jangan lagi berandai-andai dan mengeluh. Berpikirlah progresif, jangan regresif. Pikirkan solusi, jangan mempertajam konflik atau mendramatisir keadaan. Komunikasikan apa yang ada dalam benak kita dalam situasi terbaik.

Fitrah wanita dengan porsi perasaan yang lebih dominan seharusnya menjadikan kaum hawa lebih pintar memilih waktu curhat yang tepat. Sikap “nrimo” atas kekurangan suami bisa jadi pilihan tepat untuk mengurangi tingkat kekecewaan.

Konsepnya semakin Anda melihat perbedaan, semakin terluka hati ini (self-fulfilling prophecy).   Jadi, carilah titik persamaan untuk meraih kebahagiaan. Dan ingat, dari sekian akhwat yang ada, Andalah yang terpilih untuk menjadi belahan hatinya. Karena itu cintailah suami Anda apa adanya.

Bagi para akhwat yang belum menikah, tetaplah “memanusiakan” manusia. Para ikhwan itu adalah seperti diri kita juga. Mereka bukan Superman. Ingat pula bahwa jodoh ada di tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tetaplah perbaiki diri baik secara dien maupun fisik. Masalah siapa suami dan bagaimana sosok suami kita kelak adalah hak prerogatif Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Singkirkan sederetan tuntutan “super” bagi calon suami. Semakin banyak tuntutan, bila tak terpenuhi akan membuat tingkat kekecewaan semakin tinggi. Percayalah pada janji Allah, bahwa suami yang baik adalah untuk istri yang baik pula, insya Allah. Lagi pula Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah menegaskan dalam salah satu haditsnya bahwa memilih suami adalah karena ketinggian agama dan akhlaknya, bukan prioritas sekunder lainnya.

Akhir kata, yuk, sembari menyeruput teh panas, kita ganti topik menjadi ~Bagaimana menjadi istri ideal.~ Wallahu a’lam.
(Ummu Aisyah).


Beri Tanggapan:

55 Komentar

1 ... 5 6 7 8

  1. Ummu Fauzan pada 18 February 2010 @ 9:18 pm

    Yupz_ ana setuju sekali dengan komentar Deenar_

    [Reply]

  2. Gek Retha pada 30 January 2010 @ 5:46 pm

    artikel yg menarik dan penuh pesan brmakna.. hanya org brilmu yg bs mngmbl makna dr smw it.

    [Reply]

  3. [...] tiba tiba nemu tulisan yang judulnya ‘Suamiku Bukan Lelaki Sempurna’ dari situs  jilbab.or.id. Ehm, tulisan yang sederhana, namun menyentuh. Jujur, baru kali ini saya mengangkat tema seputar [...]

  4. dinhie pada 29 January 2010 @ 3:26 pm

    Assalamu’alaikum..
    minta izin tulisannya untuk di share di blog saya. Terimakasih..^^

    [Reply]

  5. ratih septiana pada 20 January 2010 @ 12:07 pm

    bismillah….,

    Assalamualaikum warrah matullah….

    artikel yang masya Allah.. bagus. nobody is perfect, kalau Ana kira sendiri di sini mungkin ada baiknya kita mempelajari kekuranagn dan menerapkan sikap yang sabar dan menerima.. dari usaha dan apa hasilnya, Allah Maha Tahu… jikalau mendapatkan tdk sesuai yg kita harapkan…, INsya Allah bersabar…, sabar..dan sabar…. bisa jadi apa yang kita sukai itu belum disukai oleh Allah..dan smoga Ana dan semua akhwat yang belom pada menikah nih…., mendapatkan seseorang pendamping yang juga mau berbagi, dan mengisi atas sela kurangnya pada diri dan hati ini, insya Allah… smeoga Allah membrkahi, AMin…^_^

    wassalamualaikum warrah matullah..

    [Reply]

  6. Ummu 'Ukasyah pada 14 January 2010 @ 9:36 pm

    Betul…betul…betul…

    Tapi kadang aku pgn suami nyatain cinta ke aku, coZ udah 4th nikah, tapi dia ga pernah bilang cinta, meskipun dia bertanggung jawab sama keluarga. Bukan tuntutan yg terlalu berlebihan bukan?

    Oia, ijin dicopy paste ke FB ya… (smg barokah utk yg nulis)

    [Reply]

  7. Kasmui pada 9 January 2010 @ 11:01 pm

    juga sebaliknya ya…istriku bukan wanita sempurna, ada perbedaan dan kekurangan, yang ada kita syukuri, yang belum nampak minta sama Allah swt sembari usaha untuk memperbaikinya, bersama-sama

    [Reply]

1 ... 5 6 7 8

Balas

Arsip