Jilbab Online

– Cocok Untuk Akhowat, Perlu Untuk Ikhwan –

Nov
16

Fitri: BESOK SAYA MAU JADI BAPAK

Kategori Obrolan Muslimah, Pribadi Shalihah by Sutikno bin Tumingan

Fitri: Besok Saya Mau Jadi Ayah1

“Fit, tolong bantu Ibu mengemasi piring-piring ya,” kata Ibu suatu pagi. Saat itu Fitri sedang melihat seorang lelaki dengan berpakaian rapi membawa laptop dan berjalan menuju mobil. Laki-laki itu adalah bapak dari gadis kecil yang setiap pagi memandanginya, Fitri.   Begitu mobil berjalan, Fitripun membalikan badan menuju Ibu.

“Fitri, sebentar lagi mandi ya, sekarang sudah jam 06.00,” sambung Ibu. Belum sempat menjawab perintah mandi, Fitri sudah mendengar perintah berikutnya: “Fit, jadwal pelajaran dibaca ya, buku-buku kamu tata sendiri”. Fitri melihat ibunya begitu sibuk.  Sepintas Fitri melihat wajah ibu yang kepayahan.

Sore hari Fitri menyambut kepulangan bapak setelah bekerja. Tidak lupa orangtua Fitri membawa oleh-oleh buah kesukaannya, apel. “Fit ini buah kesukaanmu, apel,” kata bapak. “Terima kasih bapak,” ucap Fitri sambil menerima sebungkus buah apel.

Fitri terus memandangi langkah bapak, hingga akhimya menyelinap masuk kamar mandi. Fitri pun menunggu apalagi yang akan dikerjakan bapak setelah mandi.

Sebagaimana biasanya, Fitri melihat ibu membuatkan secangkir teh panas. Diletakkannya secangkir teh di atas meja belakang bersama pisang goreng kesukaan bapak.

Selepas mandi Fitri melihat bapak membawa koran menuju meja yang telah tersedia secangkir teh dan pisang goreng.  Bapak kelihatan asyik membaca koran sambil sesekali menyeruput teh panas buatan Ibu.  Sambil terus membaca koran, pisang goreng kesukaannya dimakan oleh bapak.

“Bu, nanti setelah Isya bapak ada undangan,  rapat di kampung, tolong anak-anak didampingi belajar ya,” kata bapak kepada kepada Ibu.

Malampun berjalan. Setelah shalat Isya bapak berangkat menghadiri rapat, ibu pun mendampingi Fitri dan Farhan, kakak Fitri, untuk belajar.

“Bu, ibu capek ya,” kata Farhan.”Iya nak, ibu capek. Ini jari-jari ibu memar terkena muntu saat nguleg lombok, kuku ibu juga tergores saat mengiris bawang,  kaki ibu kutu airnya juga kambuh karena berlama-lama mencuci piring, dan badan ibu juga terasa pegal-pegal karena hari ini listrik mati sehingga ibu tidak bisa mencuci dengan mesin cuci.”  Begitu banyak keluhan ibu.

Seakan Fitri membaca buku, namun sesungguhnya ia konsentrasi mendengarkan keluhan Ibu.  “Tidak enak ya jadi ibu, seharian bekerja mengurus rumah, capek,” celetuk Fitri spontan, “besok saya mau jadi bapak saja.”

Fitri anak berusia tujuh tahun yang duduk di bangku kelas dua Seko]ah Dasar merasakan ketidaknyamanannya menjadi Ibu, pagi kerja menyiapkan sarapan untuk semua keluarga dan siang membereskan seisi rumah. Fitri juga melihat enaknya menjadi bapak, pagi telah disiapkan makan dan sepulang kerja bisa santai membaca sambil minum dan makan-makan.
Pemandangan sehari-hari atas bapaknya yang tidak kelihatan bekerja dipandang oleh anak menyenangkan.

Persoalan juga muncul dari ibu, ibu tidak menunjukan antusiasme kepada anak atas pekerjaan yang dilakukannya. Anak terus-menerus mendengar keluhan yang mengakibatkan ingin menghindari pekerjaan sebagaimana yang ibu kerjakan. Lain ceritanya jika ibu mengkomunikasikan atas pekerjaan harian dengan penuh antusias, semangat, dan energik, tentu anakpun akan terobsesi.

Sebagai bapak, mesti menunjukan kebersamaannya dengan keluarga. Sesekali bapak mesti mencuci, mengiris bawang, merebus air, dan mengelap kaca. Hal ini untuk menunjukkan bahwa pekerjaan rurnah merupakan tanggung jawab bersama. Sesekali anak perlu diajak ke tempat kerja bapak, agar anak melihat apa yang dilakukan bapak di tempat kerja.

Insya Allah, jika demikian kondisinya, Fitri akan berkata: ‘Hebat ya, ibu! Bisa menyelesaikan pekerjaan rumah dengan baik, pasti ibu pahalanya banyak. Enak ya jadi ibu, bisa beramal shalih tanpa harus keluar rumah. Terhadap bapakpun akan punya persepsi positif, “Wah ternyata bapak di kantor pekerjaannya banyak juga ya.”

  1. Ummu Asma Ulunnuha; Fahma vol 5 no.4 – April 2009, hal 18-19 []


  1. ani » November 16th, 2009 » 8:42 pm berkata,

    subhanallah..kelihatan sepele,tp..anak sungguh pribadi yg cermat!

    [Reply]

  2. ani » November 16th, 2009 » 8:48 pm berkata,

    ijin tuk share…smg bermanfaat

    [Reply]

  3. indah » November 17th, 2009 » 1:22 pm berkata,

    subhanallah, pelajaran buat ana ketika menjadi ibu nanti. Ternyata sebagai contoh, seorang ibu benar2 jeli dengan sikap , perkataan untuk bisa dicontoh anak2 nya. ana jadi ingat seorang teman yang anak nya dari bayi ketika bangun dari tidur, sudah disapa “Assalamu’alaikum ade….”

    Subhanallah, yuk mari kita juga jeli dengan sikap kita sehari-hari. Smangatt….

    [Reply]

  4. abu aisyah » November 18th, 2009 » 7:24 am berkata,

    artikel yg bagus utk dipaparkan ke anak-anak

    [Reply]

  5. dyianah » November 19th, 2009 » 2:09 pm berkata,

    Subhanallah,,,Indah’y menjadi seorang ibu “insya Allah mendapat kesempatan untuk menjadi Ibu yang bisa membimbing anak-anak menuju kebaikan di jalan Allah. Amin.

    [Reply]

  6. Salman » November 19th, 2009 » 4:22 pm berkata,

    Ehm….
    Do’akan agar saya dapat menjadi ayah yang baik ya…

    [Reply]

  7. ummu yusuf » November 20th, 2009 » 1:38 pm berkata,

    izin share di fb ana..
    tulisan ini juga sebagai teguran buat ana agar selalu bisa ikhlas dalam mengurus rumah tangga.
    Jazakillah khair…

    [Reply]

  8. Ahmad Zamroni » November 24th, 2009 » 6:19 am berkata,

    Nasywa, hampir 6 tahun, sulungku, pernah mengungkapkan keinginannya untuk menjadi IBU dan GURU, yang terakhir berubah menjadi BIDAN.

    [Reply]

  9. namira » November 24th, 2009 » 6:30 pm berkata,

    wah,ternyata pekerjaan ma2 susah jg yah

    [Reply]

  10. Andi Aulia Puji » November 29th, 2009 » 5:59 pm berkata,

    Astagfirullah… sy masih sering mengeluh capek,masih ada waktu perbaikan diri sebelum anakku mulai bs “mencerna” keluhanku…

    [Reply]

  11. W. K. ANto » November 29th, 2009 » 8:06 pm berkata,

    syukron dah ngingetin jasa jasa mama…

    [Reply]

  12. dina » December 2nd, 2009 » 11:42 am berkata,

    alhamdulillah…kutemukan tulisan yg bisa memotifasiku…

    [Reply]

  13. ummu zachary ar-royyan » December 2nd, 2009 » 12:59 pm berkata,

    izin share ya…..^^

    [Reply]

  14. susi untari » December 4th, 2009 » 2:27 pm berkata,

    Artikel yang sederhana, tapi bagus. Anakku usia 4 tahun juga pernah berkomentar” Ibu kok pekerjanya banyaaaak…. sekali sih, nggak selesai-selesai, padahal aku kan ingin ditemeni maen…”.
    Yah…itulah perjuangan sekaligus ibadah seorang wanita yang sudah menjadi Ibu,
    Selamat berjuang dan beribadah para ibu….., Allah akan membalasnya kelak dengan sejuta kebahagiaan……Amin

    [Reply]

  15. fitri » December 4th, 2009 » 11:11 pm berkata,

    apa pekerjaan abi at umi sebaiknya sdari kecil dijelaskan kpd anak, dg pengertian melalui kata2 sderhna shga anak tahu apa2 yg dilak orang tua.so anak bukn hnya mlihat apa yg dilak abi or umi sj.contoh sdrhna pagi hari saat abi at umi mo brangkt kerja,anak dipamitin.saat kumpul dirmh santai komunikasi perlu dilak dg bertanya ttg aktifitas2 disekolah,dikantor,shg abi,umi,anak slg tahu.shg tdk terjadi penilain berat sebelah,o enek jd abi o enak jd umi.sesekl anak jg perlu diajak kekantor spy tahu apa yg dilak ortunya.yg terpenting pekerjaan baik dikantor maupun dirmah smua semata2 ber7n beribadah kpd Allah.

    [Reply]

  16. galuhsurya » December 10th, 2009 » 2:00 pm berkata,

    pelajaran yang sangat berharga…

    [Reply]

  17. HDHT » December 11th, 2009 » 5:40 pm berkata,

    Begitu sempurnanya Islam, tidak salah jika “Syurga berada dibawah telapak kaki ibu”

    [Reply]

  18. ukhti » December 15th, 2009 » 10:27 am berkata,

    assalamu’alaikuum…
    izin share di FB ya…

    [Reply]

  19. Bunda Kafa'a » December 16th, 2009 » 8:48 am berkata,

    Setelah membaca artikel ini … semoga para ibu lebih semangat menjadi ibu dan bangga yg luuuuaaar biasa menjadi seorang “IBU RUMAH TANGGA” sebagai ketaatan pd perintahNya utk tetap tinggal di rumah menjalankan tugas sbg wanita muslimah, istri dan ibu bg anak2nya.
    Doa’kan supaya ana istiqomah, ikhlas, dan sabar menjalani profesi ibu rumah tangga yg membanggakan ini…… amiin

    [Reply]

  20. atma » December 19th, 2009 » 4:57 pm berkata,

    subhanallah artikelnya memberikan ilmu sekali terutama ilmu untk berumahtangga.semoga ummahat n para calon ummahat dapat menjadi pribadi yang luar biasa bagi anak2 nya.

    [Reply]

  21. siti robingatun » December 21st, 2009 » 4:06 pm berkata,

    artikel ini sungguh memberi masukan kepada saya supaya saya bisa lebih baik lagi melayani suami,terutama dalam mengurus rumah tangga dan anak tentunya harus pintar2 membagi waktu.terima kasih atas artikelnya semoga bisa memberikan masukan kepada muslimah2 lainya.

    [Reply]

  22. ummi ghozi » December 22nd, 2009 » 2:44 pm berkata,

    Jadi malu…, selama ini saya suka mengeluh di depan anak2 tentang pekerjaan rumah. Ditambah lagi saya harus mengajar dari pagi sampai sore. Ya, kita memang harus tersenyum dalam mengerjakan tugas2 kita. Kalau rumah rapih kan kita juga yang senang… Ikhlaskan diri… Makasih atas artikelnya…

    [Reply]

  23. diyan » December 31st, 2009 » 3:44 pm berkata,

    subhanallah..artikelnya bagus dan mengingatkan saya…ijin share y

    [Reply]

  24. nina » January 3rd, 2010 » 11:16 am berkata,

    subhanallah………………..
    menyentuh n mengingatkan kita semua bahwa kita masi harus dapat memperhatikan perasaan n fikiran anak utk sekarang n nantinya dlm pembentukan pola fikir yg positif serta optimis.
    jangan pernah mengeluh apapun d hadapan anak kita sebesar apapun beratnya yg kita hadapi.Tersenyumlah n selalu berceritra tanpa mengeluh agar anak kita mempunyai jiwa n kepribadian yg baik.akrab,tdk takut terhadap org tua agar selalu mau berbagi terlebih terhadap org tuanya bkn terhadap org lain agar kita dpt mengontrolnya dg baik pula.
    terima kasih untuk sudah saling mengingatkan.

    [Reply]

  25. nona » January 3rd, 2010 » 11:18 am berkata,

    saya ijin share ya…maaf komen saya yg tadi salah ketik nama dg “nina”. nama saya ” NONA”. terima kasih.

    [Reply]

  26. nona » January 3rd, 2010 » 11:24 am berkata,

    Subhanallah………………
    artikel yg bagus utk dpt mengingatkan kita bahwa kita jg masi harus memperhatikan perasaan n fikiran anak kita utk pertumbuhannya sekarang n d masa depan.jgn biarkan sikap kita membuat anak kita salah berfikir n salah melangkah.
    tersenyumlah n selalu belajar ikhlas agar kita tidak mengeluh d hadapan siapapun terutama anak kita.
    trima kasih u sudah saling mengingatkan. saya ijin share ya……

    [Reply]

  27. nefriade » January 19th, 2010 » 10:47 pm berkata,

    Subhanallah…terkadang timbul rasa jenuh, namun dengan membaca artikel diatas, kembali memacu semangat dan niat saya untuk meluruskan niat saya ikhlas karena Allah dalam menjalani semua pekerjaan RT saya, dan alhamdulillah sekali suami tidak banyak menuntut….

    [Reply]

  28. Talwinderjitkaur » January 22nd, 2010 » 3:37 pm berkata,

    ia emang benar pekerjaan rumah adalah pekerjan yang harus dikerjakan bersama sama baik suami maupun istri karena istri bukan pembantu yang setiap pagi harus repot walaupun istri wajib membersihkan rumah dan menyiapkan segala sesuatu maka sang suami juga harus punya waktu luang untuk membantu istri yah intinya harus ada saling pengertian yang tinggi agar selalu tercipta keluarga yang harmonis

    [Reply]

  29. anak 19 » February 13th, 2010 » 10:20 am berkata,

    tapi apakah musti dihormati dan dikagumi ke dua orang tua sedangkan yang ada dalam benak mereka tak ada yang sempurna bagi anaknya dan seolah-olah mereka tuh capek dengan kerjaan mereka, khususnya kepada sang ayah ??? apakah masih?// sedangkan seorang anak juga merasakan kelelahan yang mendera juga, dan lelah tidak adanya perhatian?? apakah masih?? never

    [Reply]

  30. mita » February 18th, 2010 » 9:45 am berkata,

    apa yang tertulis itu juga pernah aku alami… aku juga pernah berpikir seperti itu.. enak ya jadi laki2… tidak perlu susah payah mengurus rumah tangga. tidak perlu bingung mau nyiapin masakan apa…gak perlu nyuci piring, baju dll.
    itu pemikiranq dulu… ternyata laki2 n wanita sama2 memiliki tanggung jawab yang besar. dan dalam hidup berumah tangga memang perlu pengertian dan kerjasama antar laki n wanita agar keluarga bisa utuh dan bahagia.
    terima kasih sudah dibagi ceritanya untuk bahan renungan kami dalam berumah tangga

    [Reply]

Tinggalkan komentar Anda