Fitri: BESOK SAYA MAU JADI BAPAK

November 16, 2009. Dikirim Sutikno bin Tumingan dalam Obrolan Muslimah, Pribadi Shalihah | 30 komentar

Fitri: Besok Saya Mau Jadi Ayah1

“Fit, tolong bantu Ibu mengemasi piring-piring ya,” kata Ibu suatu pagi. Saat itu Fitri sedang melihat seorang lelaki dengan berpakaian rapi membawa laptop dan berjalan menuju mobil. Laki-laki itu adalah bapak dari gadis kecil yang setiap pagi memandanginya, Fitri.   Begitu mobil berjalan, Fitripun membalikan badan menuju Ibu.

“Fitri, sebentar lagi mandi ya, sekarang sudah jam 06.00,” sambung Ibu. Belum sempat menjawab perintah mandi, Fitri sudah mendengar perintah berikutnya: “Fit, jadwal pelajaran dibaca ya, buku-buku kamu tata sendiri”. Fitri melihat ibunya begitu sibuk.  Sepintas Fitri melihat wajah ibu yang kepayahan.

Sore hari Fitri menyambut kepulangan bapak setelah bekerja. Tidak lupa orangtua Fitri membawa oleh-oleh buah kesukaannya, apel. “Fit ini buah kesukaanmu, apel,” kata bapak. “Terima kasih bapak,” ucap Fitri sambil menerima sebungkus buah apel.

Fitri terus memandangi langkah bapak, hingga akhimya menyelinap masuk kamar mandi. Fitri pun menunggu apalagi yang akan dikerjakan bapak setelah mandi.

Sebagaimana biasanya, Fitri melihat ibu membuatkan secangkir teh panas. Diletakkannya secangkir teh di atas meja belakang bersama pisang goreng kesukaan bapak.

Selepas mandi Fitri melihat bapak membawa koran menuju meja yang telah tersedia secangkir teh dan pisang goreng.  Bapak kelihatan asyik membaca koran sambil sesekali menyeruput teh panas buatan Ibu.  Sambil terus membaca koran, pisang goreng kesukaannya dimakan oleh bapak.

“Bu, nanti setelah Isya bapak ada undangan,  rapat di kampung, tolong anak-anak didampingi belajar ya,” kata bapak kepada kepada Ibu.

Malampun berjalan. Setelah shalat Isya bapak berangkat menghadiri rapat, ibu pun mendampingi Fitri dan Farhan, kakak Fitri, untuk belajar.

“Bu, ibu capek ya,” kata Farhan.”Iya nak, ibu capek. Ini jari-jari ibu memar terkena muntu saat nguleg lombok, kuku ibu juga tergores saat mengiris bawang,  kaki ibu kutu airnya juga kambuh karena berlama-lama mencuci piring, dan badan ibu juga terasa pegal-pegal karena hari ini listrik mati sehingga ibu tidak bisa mencuci dengan mesin cuci.”  Begitu banyak keluhan ibu.

Seakan Fitri membaca buku, namun sesungguhnya ia konsentrasi mendengarkan keluhan Ibu.  “Tidak enak ya jadi ibu, seharian bekerja mengurus rumah, capek,” celetuk Fitri spontan, “besok saya mau jadi bapak saja.”

Fitri anak berusia tujuh tahun yang duduk di bangku kelas dua Seko]ah Dasar merasakan ketidaknyamanannya menjadi Ibu, pagi kerja menyiapkan sarapan untuk semua keluarga dan siang membereskan seisi rumah. Fitri juga melihat enaknya menjadi bapak, pagi telah disiapkan makan dan sepulang kerja bisa santai membaca sambil minum dan makan-makan.
Pemandangan sehari-hari atas bapaknya yang tidak kelihatan bekerja dipandang oleh anak menyenangkan.

Persoalan juga muncul dari ibu, ibu tidak menunjukan antusiasme kepada anak atas pekerjaan yang dilakukannya. Anak terus-menerus mendengar keluhan yang mengakibatkan ingin menghindari pekerjaan sebagaimana yang ibu kerjakan. Lain ceritanya jika ibu mengkomunikasikan atas pekerjaan harian dengan penuh antusias, semangat, dan energik, tentu anakpun akan terobsesi.

Sebagai bapak, mesti menunjukan kebersamaannya dengan keluarga. Sesekali bapak mesti mencuci, mengiris bawang, merebus air, dan mengelap kaca. Hal ini untuk menunjukkan bahwa pekerjaan rurnah merupakan tanggung jawab bersama. Sesekali anak perlu diajak ke tempat kerja bapak, agar anak melihat apa yang dilakukan bapak di tempat kerja.

Insya Allah, jika demikian kondisinya, Fitri akan berkata: ‘Hebat ya, ibu! Bisa menyelesaikan pekerjaan rumah dengan baik, pasti ibu pahalanya banyak. Enak ya jadi ibu, bisa beramal shalih tanpa harus keluar rumah. Terhadap bapakpun akan punya persepsi positif, “Wah ternyata bapak di kantor pekerjaannya banyak juga ya.”

  1. Ummu Asma Ulunnuha; Fahma vol 5 no.4 – April 2009, hal 18-19 []

Beri Tanggapan:

30 Komentar

1 2 3 4 5

  1. Talwinderjitkaur pada 22 January 2010 @ 3:37 pm

    ia emang benar pekerjaan rumah adalah pekerjan yang harus dikerjakan bersama sama baik suami maupun istri karena istri bukan pembantu yang setiap pagi harus repot walaupun istri wajib membersihkan rumah dan menyiapkan segala sesuatu maka sang suami juga harus punya waktu luang untuk membantu istri yah intinya harus ada saling pengertian yang tinggi agar selalu tercipta keluarga yang harmonis

    [Reply]

  2. nefriade pada 19 January 2010 @ 10:47 pm

    Subhanallah…terkadang timbul rasa jenuh, namun dengan membaca artikel diatas, kembali memacu semangat dan niat saya untuk meluruskan niat saya ikhlas karena Allah dalam menjalani semua pekerjaan RT saya, dan alhamdulillah sekali suami tidak banyak menuntut….

    [Reply]

  3. nona pada 3 January 2010 @ 11:24 am

    Subhanallah………………
    artikel yg bagus utk dpt mengingatkan kita bahwa kita jg masi harus memperhatikan perasaan n fikiran anak kita utk pertumbuhannya sekarang n d masa depan.jgn biarkan sikap kita membuat anak kita salah berfikir n salah melangkah.
    tersenyumlah n selalu belajar ikhlas agar kita tidak mengeluh d hadapan siapapun terutama anak kita.
    trima kasih u sudah saling mengingatkan. saya ijin share ya……

    [Reply]

  4. nona pada 3 January 2010 @ 11:18 am

    saya ijin share ya…maaf komen saya yg tadi salah ketik nama dg “nina”. nama saya ” NONA”. terima kasih.

    [Reply]

  5. nina pada 3 January 2010 @ 11:16 am

    subhanallah………………..
    menyentuh n mengingatkan kita semua bahwa kita masi harus dapat memperhatikan perasaan n fikiran anak utk sekarang n nantinya dlm pembentukan pola fikir yg positif serta optimis.
    jangan pernah mengeluh apapun d hadapan anak kita sebesar apapun beratnya yg kita hadapi.Tersenyumlah n selalu berceritra tanpa mengeluh agar anak kita mempunyai jiwa n kepribadian yg baik.akrab,tdk takut terhadap org tua agar selalu mau berbagi terlebih terhadap org tuanya bkn terhadap org lain agar kita dpt mengontrolnya dg baik pula.
    terima kasih untuk sudah saling mengingatkan.

    [Reply]

  6. diyan pada 31 December 2009 @ 3:44 pm

    subhanallah..artikelnya bagus dan mengingatkan saya…ijin share y

    [Reply]

  7. ummi ghozi pada 22 December 2009 @ 2:44 pm

    Jadi malu…, selama ini saya suka mengeluh di depan anak2 tentang pekerjaan rumah. Ditambah lagi saya harus mengajar dari pagi sampai sore. Ya, kita memang harus tersenyum dalam mengerjakan tugas2 kita. Kalau rumah rapih kan kita juga yang senang… Ikhlaskan diri… Makasih atas artikelnya…

    [Reply]

1 2 3 4 5

Balas

Arsip