<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Jilbab Online &#187; Aqidah</title>
	<atom:link href="http://jilbab.or.id/archives/category/aqidah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jilbab.or.id</link>
	<description>-- Cocok Untuk Akhowat, Perlu Untuk Ikhwan --</description>
	<lastBuildDate>Sat, 06 Mar 2010 23:31:33 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>[kiamat 2012] KIAMAT YANG BEGITU DEKAT, MENGAPA HARUS DIRAMAL?</title>
		<link>http://jilbab.or.id/archives/907-kiamat-2012-kiamat-yang-begitu-dekat-mengapa-harus-diramal/</link>
		<comments>http://jilbab.or.id/archives/907-kiamat-2012-kiamat-yang-begitu-dekat-mengapa-harus-diramal/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Nov 2009 00:27:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sutikno bin Tumingan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[kiamat 2012]]></category>
		<category><![CDATA[ramalan kiamat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jilbab.or.id/?p=907</guid>
		<description><![CDATA[Orang ramai bicara tentang kiamat,  saat kehancuran bumi yang kemudian diikuti dengan dibangkitkannya manusia kembali.  Kini semakin ramai diperbincangkan kembali.  Bukan masalah ada atau tidaknya kiamat, karena hampir semua orang percaya adanya kiamat.  Yang sedang hangat didiskusikan adalah kapan kiamat itu tiba.
Alam dunia adalah salah satu fase kehidupan yang dilalui oleh manusia, suatu saat nanti  [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Orang ramai bicara tentang kiamat,  saat kehancuran bumi yang kemudian diikuti dengan dibangkitkannya manusia kembali.  Kini semakin ramai diperbincangkan kembali.  Bukan masalah ada atau tidaknya kiamat, karena hampir semua orang percaya adanya kiamat.  Yang sedang hangat didiskusikan adalah kapan kiamat itu tiba.</p>
<p><span id="more-907"></span>Alam dunia adalah salah satu fase kehidupan yang dilalui oleh manusia, suatu saat nanti  dunia ini akan berakhir dan manusia berpindah kepada fase kehidupan berikutnya yaitu alam akhirat. Akhir kehidupan dunia inilah yang disebut kiamat.</p>
<p>Sesungguhnya setiap makhluk hidup —apakah itu manusia, hewan, atau tumbuh-tumbuhan— memiliki tanda-tanda dari akhir kesudahan hidupnya di dunia.  Tanda-tanda dekatnya kematian manusia adalah rambut beruban, tua, sakit, atau lemah. Begitu juga halnya dengan hewan, hampir sama dengan manusia.  Sementara tumbuhan warna menguning, kering, jatuh, lalu hancur. Demikian juga alam semesta, memiliki tanda-tanda akhir masanya seperti kehancuran dan kerusakan.</p>
<p>Kiamat disebut juga dengan Sa&#8217;ah.   Sa&#8217;ah asalnya adalah sebagian malam atau siang.   Dikatakan juga bahwa sa&#8217;ah segala sesuatu berarti waktunya hilang dan habis.   Dari makna ini, sa&#8217;ah atau kiamat mengandung dua macam, yaitu:</p>
<p>Sa&#8217;ah khusus bagi setiap makhluk, seperti tanaman, binatang dan manusia ketika mati; dan bagi sebuah umat jika datang ajalnya. Itu semua dikatakan telah datang saatnya.</p>
<p>Sa&#8217;ah umum bagi dunia secara keseluruhan ketika ditiup sangkakala, maka hancurlah segala yang di langit dan di bumi.</p>
<p>Bagaimana dengan kiamat yang sebenarnya?  Tentu saja lebih dahsyat, lebih besar, dan lebih mengerikan.   Al-Quran banyak menyebutkan tentang kejadian di hari kiamat. Tanpa keraguan sedikit pun, kaum muslimin meyakini bahwa kiamat memang akan tiba. Kepastian terjadinya ditetapkan oleh dalil-dalil al-Quran dalam jumlah yang banyak.</p>
<p>Di antara dalil-dalil tersebut adalah:</p>
<blockquote><p>&#8220;Dan sesungguhnya Sa&#8217;ah (Hari Kiamat) Itu pastilah datang, tak ada keraguan padanya;  dan bahwasanya Allah membangkitkan semua orang di dalam kubur.&#8221; <strong>(Al-Hajj: 7)</strong>.</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya Hari Kiamat pasti akan datang, tidak ada keraguan tentangnya, akan tetapi kebanyakan manusia tiada beriman.&#8221; <strong>(Ghafir: 59)</strong>.</p></blockquote>
<p><strong>KEDATANGANNYA DIDAHULUI DENGAN TANDA </strong></p>
<p>Terjadinya kiamat adalah hal yang ghaib.  Hanya Allah yang tahu. Tidak satu pun makhluk-Nya mengetahui kapan kiamat, baik para nabi maupun malaikat.</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman,</p>
<blockquote><p>&#8220;Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat.&#8221; <strong>(Luqman:34)</strong></p></blockquote>
<p>Karena itulah, ketika ditanya tentang hal ini,  Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengembalikannya kepada Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala,</p>
<blockquote><p>&#8220;Kepada-Nya lah dikembalikan pengetahuan tentang hari kiamat.&#8221; <strong>(Fushilat:47)</strong></p></blockquote>
<p>Allah merahasiakan terjadinya hari kiamat, dan menerangkan bahwa kiamat akan datang secara tiba-tiba.</p>
<blockquote><p>&#8220;Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: &#8216;Bilakah terjadinya?&#8217; Katakanlah:  &#8216;Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorang pun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru-haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba.&#8217; Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: &#8216;Sesungguhnya pengetahuan tentang hari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui&#8217;&#8221; <strong>(Al-A&#8217;raf: 187)</strong></p></blockquote>
<p>Ibnu Katsir berkata, &#8220;Firman Allah, &#8216;Katakanlah: &#8216;Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku;  tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia&#8217; adalah perintah Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala kepada nabi-Nya Shallallahu Alaihi wa Sallam, apabila beliau ditanya tentang waktu terjadinya kiamat, hendaklah mengembalikan pengetahuan tentang itu kepada Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala.  Sesungguhnya Dialah yang menjelaskan waktu kedatangannya atau mengetahui kejelasan<br />
perkara itu dan kapan kepastian waktunya.&#8217; (<strong>Tafsir Ibnu Katsir juz III hal. 518</strong>)</p>
<p>Meskipun tidak diketahui, kiamat sebenarnya sudah dekat waktu kedatangannya.  Allah nyatakan di dalam al-Quran,</p>
<blockquote><p>&#8220;Manusia bertanya kepadamu tentang Hari Berbangkit. Katakanlah, &#8216;Sesungguhnya pengetahuan tentang Hari Berbangkit itu hanya di sisi Allah.&#8217; Dan tahukah kamu (hai Muhammad), boleh jadi Hari Berbangkit itu sudah dekat waktunya.&#8221; <strong>(Al-Ahzab:63)</strong></p></blockquote>
<blockquote><p>&#8220;Telah dekat datangnya sa&#8217;ah itu dan telah terbelah bulan.&#8221; <strong>(Al-Qamar: 1)</strong>.</p></blockquote>
<p>Nabi  Shallalahu Alaihi wa Sallam, di antaranya, pernah bersabda menyatakan betapa dekatnya waktu datangnya hari kiamat,</p>
<blockquote><p>&#8220;Aku diutus, sedangkan aku dan Hari Kiamat adalah seperti ini,&#8217; beliau menyandingkan antara jari tengah dan jari telunjuk.&#8221; <strong>(Syu&#8217;abul Iman juz VII hal 259/260 no. 10235,  menurut penulisnya hadits ini dikeluarkan oleh Bukhari dari hadits Abu Hushain)</strong>.</p></blockquote>
<p>Dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim ketika Jibril datang kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bertanya tentang kapan Kiamat, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menjawab,</p>
<blockquote><p>&#8220;Yang ditanya tentang Hari Kiamat tidak lebih mengetahui dari yang bertanya.&#8221; <strong>(Shahih al-Bukhari no. 48 dan Muslim no. 9)</strong></p></blockquote>
<p>Namun demikian, sesungguhnya Allah dengan rahmat-Nya telah menjadikan kiamat memiliki alamat yang menunjukkan ke arah itu dan tanda-tanda yang mengantarkannya.</p>
<blockquote><p>&#8220;Maka tidaklah yang mereka tunggu-tunggu melainkan hari kiamat (yaitu) kedatangannya kepada mereka dengan tiba-tiba, karena sesungguhnya telah datang tanda-tanda-nya. Maka apakah faedahnya bagi mereka kesadaran mereka itu apabila hari kiamat sudah datang?&#8221; <strong>(Muhammad: 18)</strong></p></blockquote>
<blockquote><p>&#8220;Yang mereka nanti-nanti tidak lain hanyalah kedatangan malaikat kepada mereka (untuk mencabut nyawa mereka), atau kedatangan Tuhanmu atau kedatangan sebagian tanda-tanda Tuhanmu.  Pada hari datangnya sebagian tanda-tanda Tuhanmu tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang bagi dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya. Katakanlah:  &#8216;Tunggulah olehmu sesungguhnya kami pun menunggu (pula) <strong>(Al-An&#8217;am: 158)</strong></p></blockquote>
<p>Tanda-tanda kiamat adalah alamat kiamat yang menunjukkan akan terjadinya kiamat tersebut.  Tanda-tanda kiamat ada dua: tanda-tanda kiamat besar dan tanda-tanda kiamat kecil.</p>
<p>Tanda kiamat kecil adalah tanda yang datang sebelum kiamat dengan waktu yang relatif  lama, dan kejadiannya biasa, seperti dicabutnya ilmu, dominannya kebodohan, minum khamr,  berlomba-lomba dalam membangun, dan lain-lain. Terkadang sebagiannya muncul menyertai tanda kiamat besar atau bahkan sesudahnya.</p>
<p>Tanda kiamat besar adalah perkara yang besar yang muncul mendekati kiamat yang kemunculannya tidak biasa terjadi, seperti muncul Dajjal, Nabi Isa, datangnya Ya&#8217;juj dan Ma&#8217;juj, terbit matahari dari Barat, dan lain-lain.</p>
<p>Para ulama berbeda pendapat tentang permulaan yang muncul dari tanda kiamat besar.  Tetapi Ibnu Hajar berkata, &#8220;Yang kuat dari sejumlah berita tanda-tanda kiamat, bahwa keluarnya Dajjal adalah awal dari tanda-tanda kiamat besar, dengan terjadinya perubahan secara menyeluruh di muka bumi. Dan diakhiri dengan wafatnya Isa.&#8221;</p>
<p>Sedangkan terbitnya matahari dari barat adalah awal dari tanda-tanda kiamat besar yang mengakibatkan perubahan kondisi langit. Dan berakhir dengan terjadinya kiamat.&#8221; Ibnu Hajar melanjutkan, &#8220;Hikmah dari kejadian ini bahwa ketika terbit matahari dari barat, maka tertutuplah pintu taubat.&#8221; <strong>(Fathul Bari)</strong></p>
<p>Jadi kalau kita perhatikan, sebagian tanda kiamat kecil di atas jelas sudah kita jumpai di zaman kita dewasa ini. Bahkan bila kita buka kitab para ulama yang menghimpun hadits-hadits mengenai tanda-tanda kecil Kiamat, lalu kita baca satu per satu hadits-hadits tersebut hampir pasti setiap satu hadits selesai kita baca kita akan segera bergumam di dalam hati: &#8220;<em>Wah, yang ini sudah..!</em>&#8221; Hal ini akan selalu terjadi setiap habis kita baca satu hadits.  <em>La haula wa la quwwata illabillah&#8230;.</em></p>
<p>Jika tanda-tanda kecil Kiamat sudah hampir muncul seluruhnya berarti kondisi dunia dewasa ini berada di ambang menyambut kedatangan tanda-tanda besar Kiamat.</p>
<p><strong>SIAPA BISA MERAMAL KIAMAT? </strong></p>
<p>Banyak peramal meramaikan bursa dugaan datangnya kiamat.  Isaac Newton dikabarkan meramalkan kiamat pada tahun 2060. Sebagian orang beranggapan, berdasarkan perhitungan kalander bangsa Maya.   Kiamat, menurut anggapan mereka, terjadi pada tahun 2012, tepatnya 21 &#8216;Desember. Wow!</p>
<p>Bukan berarti anti kiamat,  namun terlalu na&#8217;if membenarkan sebuah prediksi yang kesannya terlalu dipaksakan. Memang saat ini kita masuk kedalam zaman akhir, namun akhir zaman tetaplah sebuah misteri kepunyaan Allah. Tidak ada dalam satu agama manapun yang menyebutkan secara eksplisit kapan terjadinya kiamat dengan secara terbuka.   Semua hanyalah bersifat tanda-tanda. Kiranya dengan begitu manusia menyadari bahwa setiap hari<br />
bisa menjadi akhir untuk hidup mereka di dunia dan tidak ada seorangpun di dunia ini yang diberi sebuah wewenang untuk mengetahui kapan secara pasti hari kiamat akan terjadi. Yang terjadi saat ini adalah sebuah kesoktahuan manusia untuk berusaha memprediksi angka jadi kapan dunia ini akan berakhir.</p>
<p>Terkait dengan akhir penanggalan panjang suku Maya jelas itu hanya hitung-hitungan yang penuh dugaan. Tidak layak seorang muslim mempercayai ramalan semacam itu. Kalaulah benar tahun 5126 M yang bertepatan dengan tahun 2012 M adalah tahun berakhirnya penanggalan mereka yang diyakini pula dengan berakhirnya dunia maka bukanlah berarti bahwa dunia ini akan hancur (kiamat), dikarenakan menurut kosmologi suku Maya bahwa bumi diciptakan 5 kali dan dihancurkan 4 kali. Dengan demikian siklus kalender Maya boleh berakhir, namun siklus baru akan kembali berulang.</p>
<p>Bahkan sebagian ahli mengatakan,</p>
<blockquote><p>&#8216;Ramalan-ramalan itu benar-benar tidak ada dasarnya sama sekali, apalagi di kebudayaan Maya yang kita kenal,&#8221; kata <strong>Stephen Houston, profesor antropologi di Brown University</strong>, yang juga ahli tulisan hieroglif Maya. &#8220;Penggambaran bangsa Maya tidak pernah menyebut-nyebut hal ini.&#8221;katanya.</p></blockquote>
<p>Bangsa Maya melihat bahwa tanggal tersebut adalah tanggal kalender mereka, tapi kemudian mengulang kalender mereka kembali tanpa adanya bencana sama sekali.</p>
<p>Sebagian meramal berdasar teori planet Nibiru, bantahan yang ada dari seorang ahli di NASA mengatakan &#8220;Kami saja sampai sekarang masih berdebat soal Pluto, tiba-tiba ada orang yang mengatakan adanya planet Nibiru. Dari mana ini? Lucu sekali, kami sampai sekarang belum bisa menemukan planet lain, sudah ada yang menemukan planet Nibiru pula,<br />
tanpa ada konfirmasi dari mana berita itu muncul.&#8221;</p>
<p>Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam  bersabda,</p>
<blockquote><p>&#8220;Kunci-kunci ghaib itu lima, &#8216;Sesungguhnya hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat, dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada didalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok, dan tiada yang seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal&#8221; <strong>(Shahih al-Bukharino.4261)</strong></p></blockquote>
<p>Al-Qurthubi menyebutkan pendapat Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa kelima kunci ghaib tersebut tidaklah ada yang mengetahuinya kecuali Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala.  Hal itu juga tidak diketahui oleh para malaikat, para Nabi yang diutus.  Karena itu barang siapa yang beranggapan bahwa dirinya mengetahui sesuatu tentang itu semua, maka orang itu telah mengingkari al-Quran dikarenakan ia telah menyalahinya.  <strong>(Al-Jami&#8217; Li Ahkamil Quran juz XIV hal. 400)</strong></p>
<p>Allah lah yang mengetahui kebenaran hakikinya, bahkan terhadap berbagai penafsiran tentang alam semesta ini, perkembangan alam maupun kehidupan yang seluruhnya merupakan teori-teori, seperti halnya teori ledakan besar, teori ini dan itu.  Sebagaimana sebuah teori, tentu akan ada pula sebagian ilmuwan lainnya yang melakukan penyanggahan terhadapnya dengan berbagai teori lainnya dan begitulah selanjutnya.  Adapun hakikat kebenarannya di dalam permasalahan ini tidaklah ada yang mengetahuinya kecuali Allah Azza wa Jalla, sebagaimana disebutkan didalam Al-Quran.</p>
<p>Lantas mengapa sebagian kita percaya dengan ramalan tersebut bahkan merasa harus menguatkan dengan uthak-athik dalil?</p>
<p>========<br />
disalin dari Majalah Fatawa, Vol. V / No.11 Dzulhijjah 1430-November 2009, hal. 8-11</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jilbab.or.id/archives/907-kiamat-2012-kiamat-yang-begitu-dekat-mengapa-harus-diramal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Larangan Mencaci Masa</title>
		<link>http://jilbab.or.id/archives/615-larangan-mencaci-masa/</link>
		<comments>http://jilbab.or.id/archives/615-larangan-mencaci-masa/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Jun 2009 00:45:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ummu Raihanah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jilbab.or.id/?p=615</guid>
		<description><![CDATA[Ukhti muslimah yang dirahmati Allah,&#8230; Mungkin sering kita mendengar beberapa ucapan seperti “I hate Monday” atau ucapan yang sering kita dengar di kalangan ibu-ibu ketika hujan turun “gara-gara hujan pakaian jadi ga kering!” atau “gara-gara hujan terus menerus jalanan jadi becek, banjir dan susah keluar”, menyalahkan musim kemarau sebagai penyebab kebakaran hutan, atau kepercayaan terhadap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ukhti muslimah yang dirahmati Allah,&#8230; Mungkin sering kita mendengar beberapa ucapan seperti <em>“I hate Monday”</em> atau ucapan yang sering kita dengar di kalangan ibu-ibu ketika hujan turun “gara-gara hujan pakaian jadi ga kering!” atau “gara-gara hujan terus menerus jalanan jadi becek, banjir dan susah keluar”, menyalahkan musim kemarau sebagai penyebab kebakaran hutan, atau kepercayaan terhadap hari tertentu yang membawa sial dan yang semisalnya. Ternyata ucapan-ucapan di atas dilarang oleh agama kita karena termasuk dalam kategori mencaci masa. Mari kita simak penjelasan tentang masalah ini bersama syaikh Salim Ied Al-Hilali <em>hafizhahullah</em>. <span id="more-615"></span></p>
<hr />Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radiyallahu anhu dari Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam bahwa beliau bersabda:</p>
<blockquote><p>&#8220;Allah azza wa jalla berfirman, &#8216;Ibnu Adam telah menyakiti-Ku! Mereka berkata, &#8216;Duhai sialnya masa!&#8217; Janganlah mengatakan: &#8216;Duhai sialnya masa,&#8217; sebab Aku-lah Pencipta masa, Aku-lah yang membolak-balikkan siang dan malam. Sekiranya Aku berkehendak, niscaya Aku akan menggenggam keduanya (yakni menahan siang dan malam)!&#8217;&#8221;</p></blockquote>
<p>Dalam riwayat lain disebutkan, &#8220;Mereka memaki masa.&#8221; Diriwayatkan dari jalur lain dengan lafazh:</p>
<blockquote><p>&#8220;Janganlah kalian memaki masa, karena Aku-lah Pencipta masa. Siang dan malam adalah milik-Ku dan Aku-lah yang membolak-balikkan keduanya. Dan Aku-lah yang mengangkat dan menurunkan raja-raja.&#8221;</p></blockquote>
<p>Dari jalur lain, hadits ini diriwayatkan dengan lafazh: &#8220;Janganlah kalian mencaci masa, karena Allah-lah yang menciptakan masa.&#8221; Dari jalur lainnya, hadits ini diriwayatkan dengan lafazh,</p>
<blockquote><p>&#8220;Allah azza wa jalla berfirman, &#8216;Anak Adam mencela-Ku, ia berkata, &#8216;Duhai sialnya masa!&#8217; Padahal Aku-lah Pencipta masa, Aku-lah Pencipta masa.&#8221; (<strong>Hasan, HR Ibnu Abi Ashim</strong> dalam As-Sunnah [598])</p></blockquote>
<p><strong>Kandungan Bab:</strong></p>
<ol>
<li><strong>Memaki masa tidak terlepas dari dua hal; syirik atau mencaci Allah.</strong><br />
Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah rahimahullahu berkata dalam kitab <strong>Zaadul Ma&#8217;aad (II/354-355</strong>): &#8220;Terangkum di dalamnya tiga kerusakan:<strong>Pertama,</strong> memaki sesuatu yang tidak layak dimaki. Sebab, masa adalah makhluk ciptaan Allah yang selalu menuruti perintah-Nya, berjalan menurut kehendak-Nya. Sebenarnya, pencaci masa itulah yang lebih berhak dicaci dan dimaki.</p>
<p><strong>Kedua,</strong> memaki masa termasuk perbuatan syirik. Sebab ia memaki masa karena anggapannya bahwa masa dapat memberi manfaat dan mudharat. Di samping anggapan bahwa masa itu zhalim, karena telah merugikan orang yang tidak pantas dirugikan, memberi orang yang tidak pantas diberi, mengangkat derajat orang yang tidak pantas diangkat derajatnya, menahan orang yang tidak pantas ditahan haknya. Jadi menurut para pencela itu, masa adalah sesuatu yang paling zhalim. Banyak ditemui sya&#8217;ir-sya&#8217;ir orang-orang zhalim yang berisi caci maki terhadap masa. Dan kebanyakan orang-orang jahil secara terang-terangan mencaci maki dan menjelek-jelekkan masa.</p>
<p><strong>Ketiga,</strong> cacian itu mereka lontarkan terhadap siapa yang telah menetapkan ketentuan tersebut, sekiranya ketentuan itu mengikuti hawa nafsu mereka, niscaya hancurlah langit dan bumi. Jika sesuai dengan hawa nafsu, mereka pun memuji masa dan menyanjungnya. Padahal hakikatnya, Allah yang menciptakan masa itulah yang memberi dan menahan, yang mengangkat dan menurunkan, yang memuliakan dan menghinakan, masa sama sekali tidak punya kuasa atas hal tersebut. Jadi, memaki masa sama halnya dengan mencaci Allah. Oleh karena itu, (dia) dianggap telah menyakiti Allah Subhanahu Wata’ala dalam kitab ash-Shahihain, dari hadits Abu Hurairah Radiyallahu anhu, dari Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam beliau bersabda:</p>
<blockquote><p>&#8220;Allah Ta&#8217;ala berfirman, &#8216;Anak Adam telah menyakiti-Ku, ia memaki masa, padahal Aku-lah (yang menciptakan) masa.&#8217;&#8221;</p></blockquote>
<p>Memaki masa tidak terlepas dari dua hal; Mencela Allah atau menyekutukan-Nya. Sebab, jika ia berkeyakinan bahwa masa juga menentukan di samping Allah, maka ia jatuh (ke dalam) musyrik. Jika ia berkeyakinan bahwa hanya Allah sajalah yang menentukannya, lalu ia mencela ketentuan itu, berarti ia telah mencaci Allah.</li>
<li>Bathilnya anggapan kaum Jahiliyyah yang menyandarkan musibah yang menimpa mereka kepada masa. Karena sesungguhnya Allah sematalah yang menentukannya.Al-Baghawi berkata dalam <strong>Syarhus Sunnah</strong> (XII/357), &#8220;Sabda Nabi Shalallahu alaihi wassalam: &#8216;Janganlah anak Adam itu mengatakan, &#8216;Duhai sialnya masa!&#8217;&#8221; Maksudnya, orang-orang Arab dahulu biasa memaki masa saat musibah menimpa mereka. Mereka mengatakan, &#8216;Mereka tertimpa malapetaka zaman!&#8217; atau, &#8216;Zaman telah melumat mereka.&#8217; Allah telah menyebutkan tentang mereka dalam Kitab-Nya:<br />
<blockquote><p>وَقَالُوا مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ</p>
<p>&#8220;Dan mereka berkata, &#8216;Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa.&#8221; <strong>(Al-Jaatsiyah: 24)</strong>.</p></blockquote>
<p>Jika mereka mengkambinghitamkan masa atas seluruh musibah yang menimpa mereka, berarti mereka telah mencela penciptanya. Makian mereka itu sebenarnya tertuju kepada Allah. Karena pada hakikatnya, Allahlah yang menciptkan perkara-perkara yang mereka sandarkan kepada masa. Maka dari itu mereka dilarang memaki masa.</p>
<p>Al-Hafizh al-Munziri berkata dalam kitab <strong>at-Targhiib wat Tarhiib (III/482)</strong>:</p>
<blockquote><p>&#8220;Makna hadits ini ialah, dahulu orang-orang Arab, jika tertimpa musibah atau perkara yang dibenci, mereka memaki masa dengan keyakinan bahwa penentu musibah yang menimpa mereka itu adalah masa. Sebagaimana halnya orang-orang Arab dahulu meminta hujan kepada bintang-bintang. Kata mereka: &#8216;Kami diberi hujan karena bintang ini,&#8217; dengan keyakinan bahwa penentu hujan turun itu adalah bintang tersebut. Maka, hal itu sama halnya dengan mengutuk Penciptanya, dan hanya Allah sajalah yang menciptakan dan melakukan segala sesuatu. Karena itulah Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam melarangnya.&#8221;</p></blockquote>
</li>
<li><em>Ad-Dahr</em> (masa) tidak termasuk nama di antara nama-nama Allah dan tidak juga sifat di antara sifat-sifat-Nya. Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menukil dalam kitab <strong>Fathul Baari</strong> (X/566), dari al-Qadhi &#8216;Iyadh,<br />
<blockquote><p>&#8220;Sebagian orang yang bukan ahli tatqiq mengira bahwa ad-Dahr (masa) termasuk salah satu nama Allah. Itu jelas sebuah kesalahan, sebab masa adalah waktu perjalanan dunia. Sebagian orang mendefinisikan masa sebagai waktu bagi seluruh ketentuan Allah di dunia atau ketentuan-Nya atas setiap manusia sebelum mereka mati. Sebagian kaum Dahriyyah dan Mu&#8217;aththilah berpegang kepada zhahir hadits ini. Mereka mengangkatnya sebagai hujjah terhadap orang-orang jahil. Menurut mereka, tidak ada pencipta selain itu. Cukuplah sebagai bantahannya, sabda Nabi dalam hadits tersebut: &#8216;Aku-lah Pencipta masa, Aku-lah yang membolak-balik siang dan malam.&#8217; Mustahil ada sesuatu yang membolak-balik dirinya sendiri!? Mahatinggi Allah dari apa yang mereka ucapkan!&#8221;</p></blockquote>
</li>
<li>Yang benar, kata <em>&#8216;ad-Dahr&#8217;</em> dalam kalimat <em>&#8220;anaddahr&#8221;</em> dibaca rafa&#8217;. Namun, Muhammad bin Dawud menyelisihinya. Imam al-Baghawi rahimahullah berkata dalam kitab <strong>Syarhus Sunnah (XII/358)</strong>:<br />
<blockquote><p>&#8220;Ibnu Dawud mengingkari riwayat ahli hadits yang berbunyi <em>&#8220;anaddahr&#8221;</em>, ia berkata, &#8216;Sekiranya hadits itu seperti yang diriwayatkan oleh ahli hadits, berarti ad-dahr termasuk salah satu nama Allah.&#8217; Ia sendiri membacanya: <em>&#8220;wa anaddahr, uqollibullaila wa annahaar&#8221;</em>, menurutnya kata ad-Dahr dibaca nashab sebagai zharaf (keterangan waktu), artinya, &#8220;Aku-lah yang membentangkan masa dan zaman, Aku-lah yang membolak-balikkan siang dan malam.&#8221;</p></blockquote>
<p>Sejumlah ulama lainnya membenarkan bacaan dengan merafa&#8217;kan kata ad-dahr, mereka membacanya, <em>&#8220;fainnallaha huwaddahr&#8221;</em>. Dalam masalah ini, Ibnu Dawud telah menyelisihi Jumhur Ulama yang merafa&#8217;kan kata ad-dahr, wallaahu a&#8217;lam.</p>
<p>Al-Hafizh Ibnu Hajar menukil dalam kitab <strong>Fathul Baari</strong> (X/575), perkataan Ibnul Jauzi sebagai berikut: &#8220;Bacaan yang paling tepat adalah dengan merafa&#8217;kan kata ad-dahr, hal itu dapat dilihat dari beberapa sisi:</p>
<p>Pertama, begitulah yang tercantum dalam riwayat-riwayat ahli hadits.</p>
<p>Kedua, kalaulah dibaca nashab, maka takdir kalimatnya menjadi, &#8216;Aku-lah yang membolak-balikkan masa.&#8217; Tidak ada penyebutan alasan pelarangan memaki masa. Sebab, Allah sematalah yang mendatangkan kebaikan dan keburukan silih berganti. Berarti hadits itu bukanlah larangan memaki masa.</p>
<p>Ketiga, riwayat(lah) yang menyebutkan &#8220;fainnallaha huwaddahr&#8221; (artinya: Sesungguhnya Allah itulah (Pencipta)masa.</li>
</ol>
<p>Wallahu a’lam bish-shawwab.</p>
<hr />Sumber: <strong>Ensiklopedi Larangan menurut Al-Qur&#8217;an dan As-Sunnah</strong>, diterjemahkan oleh Abu Ihsan al-Atsari (Pustaka Imam Syafi&#8217;i, 2006), jilid I/87-91 buah karya Syaikh Salim bin &#8216;Ied al-Hilali , Al-Manaahisy Syar&#8217;iyyah fii Shahiihis Sunnah an-Nabawiyyah.</p>
<hr /><strong>Catatan Kaki:</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jilbab.or.id/archives/615-larangan-mencaci-masa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kesabaran Berujung Kenikmatan</title>
		<link>http://jilbab.or.id/archives/15-keasbaran-berujung-kenikmatan/</link>
		<comments>http://jilbab.or.id/archives/15-keasbaran-berujung-kenikmatan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Oct 2007 07:49:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>febri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Teladan]]></category>
		<category><![CDATA[Pribadi Shalihah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jilbab.or.id/archives/15-keasbaran-berujung-kenikmatan/</guid>
		<description><![CDATA[Seorang dokter spesialis luka dalam Riyadh yang bernama Dr. Khalid Al Jubir berkisah tentang dirinya dan sahabatnya. Beginilah kisahnya, selama kuliah dulu dia memiliki seorang teman mahasiswa akademi militer. Dalam semua hal dia memiliki banyak kelebihan disbanding teman-temannya yang lain. Selain baik hati, pemuda ini juga amat rajin shalat malam dan tidak pernah lalai menjalankan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seorang dokter spesialis luka dalam Riyadh yang bernama Dr. Khalid Al Jubir berkisah tentang dirinya dan sahabatnya. Beginilah kisahnya, selama kuliah dulu dia memiliki seorang teman mahasiswa akademi militer. Dalam semua hal dia memiliki banyak kelebihan disbanding teman-temannya yang lain. Selain baik hati, pemuda ini juga amat rajin shalat malam dan tidak pernah lalai menjalankan shalat lima waktu.<span id="more-15"></span></p>
<p>Pemuda ini lulus dengan nilai memuaskan. Tentu saja ia sangat ingin senang. Namun tak ada yang bisa menduga jalannya takdir. Suatu saat pemuda ini terserang penyakit influensa, dan sejak saat itu fisiknya mnejadi lemah hingga mudah terserang berbagai macam penyakit. Hingga karena komplikasi penyakit yang beragam, ia menjadi lumpuh. Tubuhnyatidak mampu lagi digerakkan sama sekali. Semua dokter yang menanganinya mengatakan kepada Dr.Khalid, kalau kemungkinan kesembuhan untuk pemuda itu sekitar 10% saja.</p>
<p>Pada saat Dr.Khalid membesuknya di rumah sakit, ia melihat pemuda itu tak berdaya diatas ranjangnya. Dr.Khalaid datang untuk menghiburnya. Namun Subhanallah, apa yang ia dapatkan justru sebaliknya, wajah pemuda it cerah jauh dari mendung kedukaan. Pada wajah itu jelas sekali terpancar cahaya dan kilauan iman.</p>
<p>”Alhamdulillah, sya dalam leadaan sehat-sehat saja. Sya berdoa kepada Allah Subhanaahuwataa’ala semoga Anda lekas sembuh.” kata Dr.Khalid membuka pembicaraan. Di luar dugaan pemuda itu menjawab,”Terimakasih untuk doamu. Sesunggunya saudaraku mungikn saat ini Allah tengah menghukumku karena lalai dalam menghafal Al-Qur’an. Allah menguji saya, agar saya segera  menuntaskan hafalan saya. Sungguh ini adalah nikmat yang tiada terkira.”</p>
<p>Dr.Kahlid terpana mendengar jawaban menakjubkan itu. Bagaimna mungkin cobaan begitu berat yang tengah dialami pemuda itu dianggap sebagai suatu nikmat? Benar-benar ini adalah suatu pelajaran baru yang amat berharga bagi dirinya sehingga ia merasa tak berharga dihadapan pemuda itu.</p>
<p>Dr.kahlid teringat akan sabda Rasulullah Sallallahu A’laihi Wassallam : ” Sungguh  menggumkn perkara seorang mukmin. Seluruh perkaranya mengandung kebaikan. Hal ini hanya ada pada seorang mukmin. Ketika ia dikaruniai kesengangan ia bersyukur, maka hal iti baik baginya. Dan ketika ia ditimpa kesedihan, ia menghadapinya dengan sabar dan tabah, maka  hal itu baik baginya.” (Riwayat Muslim)</p>
<p>Jujur saja Dr.Kahalid teramat  mengagumi ketabahan pemuda itu. Beberapa pekan kemudian ia membesuk sahabatnya itu, sepupu sang pemuda berkata,”Coba gerakkan kakimu, coba angkat kakimu ke atas.” Peuda itu menjawab,”Sungguh saya amat malu kepada Allah untuk terburu-buru sembuh. Jika kesembuhan itu yang terbaik bai Allah, aku bersyukur. Namun, apabila Allah tidak memberikan kesembuhan padaku hanya agfar aku tidak melangkah ke tempat-tempat maksiat aku pun bersyukur. Allah Amha Tau yang terbaik untukku.</p>
<p>Allahu Akbar, betapa kaimaat itu sangat menggetarkan. Setelah peristiwa itu Dr.khalid menempuh progrmmagisternya ke luar kota. Beberapa bulan setelah itu ia kembalidan yang pertama diingatnya adalah pemuda sahabatnya itu. Dalam benaknya ia berpikir,”Paling saat ini ia sedang terbaring lemah di atas kasurnya, jika ia kemana-mana pastilah ia digotong.”</p>
<p>Ternyata menurut teman-temannya pemuda itu sudah pindah ke ruang penyiapan untuk mendapatkan pengobatan alami. Pada saat Dr.Khalid menemuinya, ia tengah duduk di kursi roda. Dr.Khalid senagng sekali melihatnya hingga berkali-kali ia mengucapkan syukur.</p>
<p>Pemuda itu dengan spontan menyampaikankabar gembira yang tak terduga ”Alhamdulillah saya telah menyelesaikan bacaan Al-Qur’an.” katanya penuh semangat. ”Subhanallah” Dr.Khalid memekik kagum. Setiap kali membesuknya ia selalu mendapat hikmah yang semakin mempertebal keimanannya.</p>
<p>Tidak lama berselang, Dr.Khalid kembali pergi ke luar kota selama empat bulan. Dan selama itu pula ia tidak pernah bertemu dengan pemuda sahabatnya yang sangat tabah itu. Hingga saat ia kembali, ia menerima kenyataan yang amat sulit diterima oleh akal manusia. Namun, bagi Dzat yang Maha Tinggi, bukanlah hal yang mustahil terjadi. Jangankan hanya sakit, tulang-belulang yang telah hancur pun bisa dihidupka kembali menjadi manusia yang utuh.</p>
<p>Pada waktu Dr.Khalid sedang shalat di mushalla rumah sakit itu. Tiba-tiba ia mendengar sapaan seseorang, ”Abu Muhammad!” Reflek dia menoleh dan pandangan di hapannya membuatnya terpana. Ia tak mapu mengucap sepatah kata pun. Benar, Wallahi (Demi Allah-red) yang berdiri di hadapannya adalah pemuda sahabatnya yang dulu lumpuh total. Namun di hadapannya kini ia dapat berjalankembali dengan normal dan segar bugar. Allahu Akbar, sesungguhnya keimanan lah yang dapat memunculkan keajaiban.</p>
<p>Spontanitas, Dr. Khalid menangis. Pertama dia menangis karena terharu dan senang akan karunia Allah berupa kesembuhan untuk sahabatnya itu. Kedua ia menangis untuk dirinya sendiri yang selama ini lalai untuk mensyukuri nikmat-nikmatNya.</p>
<p>Ternyata, karunia untuk sahabatnya tidak hanya sebatas itu. Ia diterima sebagai delegasi Universitas Malik Su’ud Riyadh, kerajaan  Saudi Arabia untuk melanjutkan studi magisternya. ”Dr. Khalid apa yang saya terima ini justru akan menjadi malapetaka bagi saya jika saya tidak mensyukurinya.” Paparnya kepada Dr.Khalid</p>
<p>Setelah tujuh tahun, pemuda itu mengunjungi Dr. Khalid kembali dalam rangka mengantar kakeknya yang terkena penyakit hati. Dan Subhanallah, ia telah menjadi seorang mayor!</p>
<p>Dr.Khalid kembali meneteskan airmatanya. Ia berdoa kepada Allah agar pemuda itu selalu dalam kebaikan dan selalu istiqomah di dalam iman dan islam. Sungguh Allah Maha Mendengar dan Mengabulkan permohonan setiap hambaNya.</p>
<p>(Ummu Faros, dari penjagaan Allah kepada hamba-hambaNya yang shalih; Khalid Abu Shalih )</p>
<p>Diambil dari : Majalah Elfata, Volume 07 2007, Kasih sayang di Bulan Suro.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jilbab.or.id/archives/15-keasbaran-berujung-kenikmatan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>31</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mulia Di Akhirat &amp; Meraih Dunia dengan Ilmu</title>
		<link>http://jilbab.or.id/archives/13-mulia-di-akhirat-meraih-dunia-dengan-ilmu/</link>
		<comments>http://jilbab.or.id/archives/13-mulia-di-akhirat-meraih-dunia-dengan-ilmu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Oct 2007 23:02:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>febri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Studi Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.jilbab.or.id/archives/13-mulia-di-akhirat-meraih-dunia-dengan-ilmu/</guid>
		<description><![CDATA[            ”Hidup bahagia,mati masuk syurga” yup,pasti setiap orang ingin seperti itu.Jadi apa yang dapat kita lakukan untuk mewujudkannya? 
Allah Ta’ala telah mengajarkan sebuah doa dalam firmanNya:
”Wahai Rabb kami,berilah kami kebaikan di dunia, dan kebaikan di akhirat” (QS.Al-Baqarah : 201)
Al-Hasan rahimahullah (wafat th. 110 H) [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>            <strong>”Hidup bahagia,mati masuk syurga”</strong> yup,pasti setiap orang ingin seperti itu.Jadi apa yang dapat kita lakukan untuk mewujudkannya? </p>
<p>Allah Ta’ala telah mengajarkan sebuah doa dalam firmanNya:</p>
<blockquote><p><em>”Wahai Rabb kami,berilah kami kebaikan di dunia, dan kebaikan di akhirat”</em> <strong>(QS.Al-Baqarah : 201)</strong></p></blockquote>
<p>Al-Hasan rahimahullah (wafat th. 110 H) berkata, ”Yang dimaksud kebaikan dunia adalah ilmu dan ibadah, dan kebaikan akhirat adalah Syurga ”Sedangkan Ibnu Wahb (wafat th.197 H) rahimahullah berkata, ”Aku mendengar Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata ”Kebaikan di dunia adalah rizki yang baik dan ilmu, sedangkan kebaikan di akhirat adalah syurga” </p>
<p><span id="more-13"></span><br />
Perhatikanlah bagaimana para ulama memegang ilmu sebagai sumber kebaikan di dunia,yang dengannya dapat diraih pula kebaikan di akhirat berupa syurga.Karena itu, hal utama yang harus kita lakukan untuk mewujudkan kebahagiaan di dunia dan akhirat adalah dengan terus menerus mengejar ilmu dengan mengikhlaskan niat karena Allah Ta’ala.Ilmu yang dimaksud adlah ilmu yang bermanfaat. </p>
<p>Imam Ibnu Rajab (wafat th.795 H) rahimahullah mengatakan bahwa ”Ilmu yang bermanfaat menunjukkan pada dua hal : <em>Pertama</em>,mengenal Allah Ta’ala dan segala pa yang menjadi hak-Nya berupa nama-nama yang indah, sifat-sifat yang mulia, dan perbuatan-perbuatan yang agung. Hal ini mengharuskaan adanya pengagungan, rasa takut,cinta,harap,dan tawakkal kepada Allah serta ridha terhadap takdir dan segala musibah yang Allah Ta’ala berikan.</p>
<p><em>Kedua</em>, mengetahui segala apa yang dibenci dan dicintai Allah Azza wa Jalla dan menjauhi apa yang dibenci dan dimurkai olehNya berupa keyakinan, perbuatan yang lahir dan bathin. Hal ini emengharuskan orang yang mengetahuinya untukbersegera melakukan segala apa yang dicintai dan diridhoi oleh Allah Ta’ala dan menjauhi segala apa yang dibenci dan dimurkai-Nya. Apabila ilmu itu menghasilkan kedua hal ini bagi pemiliknya, maka inilah ilmu yang bermanfaat.</p>
<p>Kapan saja ilmu itu bermanfaat dan menancap dalam hati maka sungguh, hati itu akan tunduk dan meras patuh pada Allah Azza wa Jalla, jiwa merasa cukup dan puas dengan sedikit dari keuntungan dunia yang halal dan merasa kenyang dengannya sehingga hal itu menjadikannya qanaah dan zuhud di dunia.” </p>
<p>Rasululah Salallahu Allaihi Wasallam mendoakan orang-orang yang mendengarkan sabda beliau dan memahaminya dengan keindahan dan berserinya wajah. Beliau  bersabda :</p>
<blockquote><p>”Semoga Allah memberikan cahaya pada wajah orang yang mendengarkan sebuah hadist dari kami, lalu menghafalkannya dan menyampaikannya kepada orang lain. Banyak orang yang membawa fiqih namun dia tidak memahami. Dan banyak orang yang menerangkan fiqih pada orang yang lebih faham darinya. Ada tiga hal yang tidak dapat dpungkiri hati seorang muslim selama-lamanya: melakukan sesuatu dengan ikhlas karena Allah, menasehati ulul amri (penguasa) dan berpegang teguh pada jama’ah kaum muslimin,karena do’a mereka meliputi orang-orang ayng berada dibelakang mereka.”
</p></blockquote>
<p>Beliau bersabda, </p>
<blockquote><p>”Barangsiapa yang keinginannya adalah negeri akhirat, Allah akan mengumpulkan kekuatannya,menjadikan kekayaan di hatinya dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina. Namun barangsiapa yang niatnya mencari dunia, Allah akan mencerai-beraikan urusan dunianya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan ia mendapat dunia menurut apa  yang tealah ditetapkan baginya.” (Hadist Shahih diriwayatkan oleh Ahmad (V/183),ad-Darimi(I/75),Ibnu Hibban (no 72,73-Mawarid),Ibnu’Abdil Barr dalam Jaami’Bayaanil’Ilmi wa Fadhlihi(I/175-176,no.184),lafazh hadist ini milik Imam Ahmad dari Abdurrahman bin Aban bin ’Utsman radhiyallahu’anhum)
</p></blockquote>
<p>Jadi, ayo semangat menuntut ilmu..!! supaya bahagia dunia dan akhirat, insyaAllah. Jangan lupa ikhlaskan niat pada Allah Subhanahu Wata’ala. </p>
<p>Israil bin Yunus (wafat th.160 H) rahimahullah mengatakan,</p>
<blockquote><p>”Barangsiapa menuntut ilmu karena Allah Ta’ala, maka ia mulia dan bahagia di dunia.Dan barangsiapa menuntut ilmu bukan karena Allah, maka ia merugi di dunia dan akhirat.”</p></blockquote>
<p>Dan diantara doa yang Rasulullah ucapkan adalah : ”Ya Allah, aku memohon kepadaMu ilmu yang bermanfaat,rizki yang halal, dan amal yang diterima.” </p>
<p>Wallahu’alam bishowab</p>
<p>Disarikan dari buku: <strong>Menuntut Ilmu Jalan Menuju Syurga</strong>, oleh Yazid bin Abdul Qadir Jawaz</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jilbab.or.id/archives/13-mulia-di-akhirat-meraih-dunia-dengan-ilmu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hikmah musibah dan Bencana</title>
		<link>http://jilbab.or.id/archives/12-hikmah-musibah-dan-bencana/</link>
		<comments>http://jilbab.or.id/archives/12-hikmah-musibah-dan-bencana/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Mar 2007 23:25:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>febri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.jilbab.or.id/archives/12-hikmah-musibah-dan-bencana/</guid>
		<description><![CDATA[Bangsa Indonesia saat ini sedang ditimpa musibah secara berturut-turut. Dari tinjauan islam,musibah apapun yang berupa bencana alam atau akibat kelalaian manusia, segala yang terjadi telah ditakdirkan oleh Allah SWT. Berat mata memandang,memang tak seberat bahu memikul. Suka atau tidak kehidupan harus terus berjalan. Oleh sebab itu pastilah ada hikmah yang dapat diambil dari berbagai kejadian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bangsa Indonesia saat ini sedang ditimpa musibah secara berturut-turut. Dari tinjauan islam,musibah apapun yang berupa bencana alam atau akibat kelalaian manusia, segala yang terjadi telah ditakdirkan oleh Allah SWT. Berat mata memandang,memang tak seberat bahu memikul. Suka atau tidak kehidupan harus terus berjalan. Oleh sebab itu pastilah ada hikmah yang dapat diambil dari berbagai kejadian yang menimpa, karena Dia yang Maha Adil dan Penyayang pasti tidak akan berbuat aniaya. Smoga kutipan ini dapat menjadi sedikit penghibur bagi sobat-sobat yang sedang mengalami kesulitan atau kesedihan.</p>
<p><span id="more-12"></span>Ibnu Qayyim berkata:</p>
<p>&#8220;Andaikata kita bisa menggali hikmah Allah yang terkandung dalam ciptaan dan urusanNya, maka tidak kurang dari ribuan hikmah. Namun akal kita sangat terbatas, pengetahuan kita terlalu sedikit dan ilmu semua makhluk akan sia-sia jika dibandingkan dengan ilmu Allah, sebagaimana sinar lampu yang sia-sia dibawah sinar matahari. Dan ini pun hanya kira-kira, yang sebenarnya tentu lebih dari sekedar gambaran ini.&#8221;</p>
<p>Diantara beberapa hikmah yang bisa saya kutip diantaranya:</p>
<ol>
<li><strong>Sabar sebgai konsekuensi menghadapi kesulitan dan kesusahan.</strong> Allah berfirman:<br />
<blockquote><p>&#8220;Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira pada orang-orang yang sabar,(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan &#8220;Innalillahi wa inna ilaihi rojiun (Sesungguhnya semua berasal dr Allah dan akan kembali kpd_NYa). Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.&#8221; <strong>(QS.Al-Baqarah:155-157)</strong></p></blockquote>
</li>
<li><strong>Menghapuskan dosa dan kesalahan.</strong> Allah berfirman:<br />
<blockquote><p>&#8220;Dan apa saja musibah yang menimpamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri,dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).&#8221; <strong>(QS.Asy-Syura:30)</strong></p></blockquote>
<p>Dari Sahabat Abu Hurairah dan Abu Sa&#8217;id radiallahuanhu : Rasulullah SAW bersabda: </p>
<blockquote><p>&#8220;Tidaklah seorang muslim ditimpa keletihan, penyakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, kegundah gulanaan hingga duri yang menusuknya melainkan Allah akan menghapuskan sebagian dari kesalahan-kesalahannya. <strong>(HR. Bukhari)</strong></p></blockquote>
</li>
<li><strong>Dicatat sebagai kebaikan dan derajat ditinggikan.</strong><br />
<blockquote><p>&#8220;Tidaklah seorang muslim tertusuk duri atau yang lebih dari itu,melainkan ditetapkan baginya dengan sebab itu satu derajat dan dihapuskan pula satu kesalahan darinya&#8221; <strong>(HR.Muslim)</strong></p></blockquote>
</li>
<li><strong>Jalan menuju syurga.</strong> Dari Abu Hurairah,Rasulullah SAW bersabda:<br />
<blockquote><p>&#8220;Syurga itu dikelilingi dengan hal-hal yang tidak disukai dan Neraka itu dikelilingi dengan berbagai macam syahwat.&#8221; <strong>(HR. Bukhari &#8211; Muslim)</strong></p></blockquote>
<p>Allah berfirman dalam sebuah hadist qudsi: </p>
<blockquote><p>&#8220;Tidaklah ada suatu balasan (yang lebih pantas di sisiKu bagi hambaKu yang beriman, jika Aku telah mencabut nyawa kesayangannya dari penduduk dunia kemudian dia bersabar atas kehilangan orang kesayanagnnya itu, melainkan Surga.&#8221; <strong>(HR. Bukhari)</strong></p></blockquote>
</li>
<li><strong>Membawa keselamatan dari api neraka</strong><br />
<blockquote><p>&#8220;Janganlah kamu mencacimaki penyakit demam, karena sesungguhnya (dengan penyakit itu) Allah akan menghapuskan dosa-dosa anak Adam sebagaimana tungku api menghilangkan kotoran-kotoran besi&#8221; <strong>(HR. Muslim)</strong></p></blockquote>
</li>
<li><strong>Mengembalikan hamba kepada Rabb-nya dan mengingat kelalaiannya.</strong> Allah berfirman:<br />
<blockquote><p>&#8220;Dan sesungguhnya KAmi telah mengutus Rasul-Rasul kepada umat-umat sebelummu, kemudian Kami timpa mereka dengan kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka bermohon (kepada Allah) dengan tunduk dan merendahkan diri.&#8221; <strong>(QS.Al-An&#8217;am : 42)</strong></p></blockquote>
</li>
<li><strong>Mengingat nikmat Allah yang lalu dan yang ada</strong>. Seorang penyair berkata: Seseorang tidak mengenali tanda-tanda sehat selagi dia belum tertimpa sakit.</li>
<li><strong>Mengingat keadaan saudara-saudaramu yang ditimpa musibah</strong>. Maka diantara hikmah Allah, Dia menimpakan cobaan berupa penyakit dan penderitaan kepada orang mukmin pada waktu-waktu tertentu, agar dia mengingat saudara-saudaranya yang ditimpa kesulitan, sehingga tergugah untuk membantunya.</li>
<li><strong>Mensucikan hati</strong>. Ibnu Qayyim radiallahuanhu berkata:<br />
<blockquote><p>&#8220;Hati dan ruh bisa mengambil manfaat dari penderitaan dan penyakit yang merupakan urusan yang tidak bisa dirasakan kecuali jika di dalamnya ada kehidupan. Kebersihan hati dan ruh tergantung kepada penderitaan badan dan kesulitannya.&#8221; (<strong><em>Tuhfatul Mariidh</em></strong> hal 25)</p></blockquote>
</li>
<li><strong>Cobaan dan ujian merupakan nikmat</strong>. Karena hikmah dari berbagai cobaan,orang &#8211; orang shalih justru gembira sekiranya mendapat cobaan spt telah mendapat kesenangan. RAsullullah SAW menyebutkan bahwa para Nabi telah ditimpa cobaan berupa penyakit, kemiskinan dan yang lainnya kemudian beliau bersabda:<br />
<blockquote><p>&#8220;&#8230;Dan sesungguhnya salah seorang diantara mereka benar-benar merasa gembira karena mendapat cobaan, sebagaimana salah seorang merasa gembira karena telah mendapatkan kelapangan.&#8221; <strong>(HR. Ibnu Majah)</strong></p></blockquote>
</li>
</ol>
<hr />Dikutip dari : <strong>Do’a &#038; Hiburan (Bagi orang sakit dan terkena musibah) Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah yang Shahih</strong> oleh Yazid bin Abdul Qadir Jawas.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jilbab.or.id/archives/12-hikmah-musibah-dan-bencana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perdebatan Antara Adam dan Musa Alaihimas Salam</title>
		<link>http://jilbab.or.id/archives/54-perdebatan-antara-adam-dan-musa-alaihimas-salam/</link>
		<comments>http://jilbab.or.id/archives/54-perdebatan-antara-adam-dan-musa-alaihimas-salam/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Jun 2005 11:22:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ummu Raihanah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Adam dan Musa beragumentasi disisi Rabb mereka. Bagaimana itu bisa terjadi? banyak diantara kaum muslimin yang menolak atau tidak percaya dengan hadits tersebut. Alasan mereka karena jaraknya yang sangat jauh fase Adam alaihis salam dan Musa alaihis salam. Sehinggga apa yang bertentangan dengan akal mereka maka mereka tidak mau menerimanya. Padahal masalah aqidah adalah masalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family: Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;">Adam dan Musa beragumentasi disisi Rabb mereka. Bagaimana itu bisa terjadi? banyak diantara kaum muslimin yang menolak atau tidak percaya dengan hadits tersebut. Alasan mereka karena jaraknya yang sangat jauh fase Adam alaihis salam dan Musa alaihis salam. Sehinggga apa yang bertentangan dengan akal mereka maka mereka tidak mau menerimanya. Padahal masalah aqidah adalah masalah tauqifi yaitu yang sudah tidak bisa digugat lagi karena apabila masalah ini diserahkan kepada akal maka niscaya tidak adalagi gunanya iman. Benar, bila semua urusan agama ini dikembalikan kepada akal untuk menilainya maka akan banyak terjadi pengingkaran dan penolakan terhadap ajaran islam ini, wal hasil agama hanya dijadikan wacana pergunjingan pendapat bukan sesuatu yang harus diimani dan ditaati. </span></p>
<p><span id="more-54"></span><br />
Ukhti muslimah, sesungguhnya Adam dan Musa alaihimas salam berdebat disisi Allah Subhanahu wata&#8217;ala hal ini dinyatakan dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim yang berbunyi demikian:</p>
<blockquote><p>&#8220;Musa berkata: &#8220;Engkau adalah Adam yang Allah telah menciptakanmu dengan tangan-Nya, meniupkan ruh-Nya kedalam dirimu, memerintahkan malaikat bersujud kepadamu dan menempatkanmu didalam surga-Nya.Kemudian kesalahanmu menjadikan manusia diturunkan ke bumi&#8221;Maka Adampun berkata: &#8220;Engkau adalah Musa yang Allah telah memilihmu melalui risalah dan kalam-Nya. Dan, DIA telah memberikan kepadamu lembaran-lembaran yang didalamnya berisi penjelasan mengenai segala sesutu serta mendekatkanmu pada keselamatan. Lalu berapa lama engkau mendapatkan Allah menulis Kitab Taurat sebelum aku diciptakan?&#8221;Musa menjawab: &#8220;40 tahun&#8221; lebih lanjut Adam berkata:&#8221;Apakah didalamnya (Taurat) engkau menemukan firman-Nya:&#8221;Dan, Adam mendurhakai Rabb-Nya sehingga ia pun sesat&#8221; (Thaha:12)&#8221;"Ya&#8221; jawab Musa. Selanjutnya Adam bertanya:&#8221;Jika demikian, mengapa engkau mencaciku karena aku mengerjakan perbuatan yang telah ditetapkan (ditakdirkan) Allah bagiku untuk mengerjakannya 40 tahun sebelum DIA menciptakanku?&#8221;Rasulullah shalallahu alaihi wassalam pun berkata,:&#8221;Demikianlah Adam memberikan argumentasi kepada Musa&#8221;</p></blockquote>
<div>
Setelah kita menyimak hadits diatas marilah kita melihat pada kelompok qadariyah yang tidak mau menerima hadits ini dan melontarkan syubhatnya.Syubhat yang harus ukhti ketahui sehingga sikap waspada dan hati-hati akan muncul dalam hati ukhti bila telah mengenal syubhat mereka. Nah mari kita lihat syubhat ini dalam kitab Tahdzib Syarh Aqidah Ath-Thahawiyah jilid 2/150:</div>
<p><span style="text-decoration: underline;"><br />
<strong><em>Berdalih dengan &#8220;Adam Berbuat Dosa Juga Karena Takdir&#8221;</em></strong></span><br />
Apabila ada yang menanyakan : Apa pendapat anda tentang alasan Adam tentang takdir terhadap Musa alaihimas salam? Yaitu ketika beliau berkata kepadanya:</p>
<blockquote><p>&#8220;Apakah engkau mengecamku atas apa yang telah Allah suratkan bagi diriku 40 tahun sebelum aku diciptakan? nabi (Muhammad) lalu mempersaksikan bahwa Adam unggul dengan hujjahnya atas Musa?&#8221; </p></blockquote>
<p><span style="text-decoration: underline;"><em>Jawabannya:</em></span></p>
<p>Kita menerima kabar itu dengan <strong>mendengar</strong> dan <strong>taat</strong>. Karena kabar itu sah dari Nabi shalallahu alaihi wassalam. Kita tidak menerima kabar itu lalu menolak dan mendustakannya perawinya, sebagaimana yang dilakukan oleh Qadariyah. Kita juga tak memberikan takwil-takwil kosong. Tapi yang betul , bahwa Adam tidaklah beralasan atas dosanya itu dengan takdir dan ketetapan Allah. Karena dia adalah orang yang paling kenal dengan dosa dan Rabbnya. Padahal kaum mukminin dari anak cucunya saja tak mau beralasan dengan takdir, karena itu batil. Sedangkan Musa sendiri amat mengenal bapaknya (Adam) dengan dosanya tadi. tak mungkin ia mencela Adam alaihis salam karena dosa yang dia sudah bertaubat darinya, bahkan Allah telah mengampuninya, memilih dan memberinya petunjuk. Tapi yang beliau (Musa) kecam adalah musibah yang menyebabkan keluarnya anak cucu Adam dari Jannah.Maka Adam beralasan bahwa semua itu sudah takdir. Yakni musibah itu bukan kekeliruannya tadi. Karena beralasan dengan takdir itu memang ketika datang musibah, bukan ketika melakukan kesalahan. Pengertian inilah yang paling bagus sebagai penafsiran hadits tadi. Setiap musibah yang telah ditakdirkan, harus diterima dengan pasrah. Karena itu adalah kesempurnaan rasa ridhanya terhadap rabb. Adapun dosa, seorang hamba tidak berhak melakukannya., ia harus beristighfar dan bertaubat. Ia bertaubat dari kesalahannya itu, Namun bersabar terhadap musibahnya. Allah berfirman:</p>
<blockquote><p><em>&#8220;Maka bersabarlah kamu, karena sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mohon ampunlah atas dosamu&#8221;(Fathir: 55)<br />
&#8220;Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu&#8221;(Ali-Imran:120)</em></p></blockquote>
<p>Adapun pada kitab Tauhid jilid 2 didapatkan keterangan tentang bolehnya kita berdalih dengan takdir ketika ditimpa musibah. Dengan berdalih pada hadits argumentasi Adam dengan Musa alaihimas salam.Berdalih dengan takdir atas tertimpanya musibah adalah dibolehkan. Segala musibah yang telah ditakdirkan menimpa manusia wajib diterima dengan ridha. Ini adalah hadits pembelaan Nabi Adam dihadapan Musa alaihimas salam rasulullah shalallahu alahi wassalam bersabda:</p>
<blockquote><p>&#8220;Adam dan Musa berbantah-bantahan, Musa berkata,&#8221;Wahai Adam, anda adalah bapak kami, anda telah mengecewakan kami dan mengekluarkan kami dari surga&#8221;. Maka Adampun berkata kepadanya:&#8221;Engkau Musa, Allah telah memilihmu dengan kalam-Nya dan menulisakan untukmu dengan Tangan-Nya.Apakah engkau (pantas) mencelaku berdasarkan suatu perkara yang telah ditakdirkan Allah menimpaku sebelum aku dicipatkan 40 tahun?Maka Nabi shalallahu alaihi wassalam bersabda:Maka Adampun membantah musa, Adam telah membantah Musa&#8221;(HR.Muslim IV/2042-2043)</p></blockquote>
<blockquote><p>Adam berhujjah dengan takdir atas musibah yang menimpanya keluar dari surga.Karena itu Musa menyalahkan Adam dan berkata: Mengapa engkau mengelaurkan kami dari surga? maka ternyata hujjah Adam mengalahkan hujjah Musa. Allah Azza Wa jalla telah menetapkan bahwa Adam dan anak keturunannya akan hidup didunia dan mereka diciptakan untuk itu, seperti yang dikabarkan Allah :<br />
&#8220;Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat,&#8221;Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah dimuka bumi. Mereka berkata,&#8221;Mengapa Engkau hendak menjadikan dibumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kai senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?Tuhamnu berfirman: Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui&#8221;(Al-Baqarah:30)</p></blockquote>
<p>Maka hujjah Adam mengalahkan Musa, dan Musa tidak menyalahkan Adam atas kemaksiatannya yaitu memakan sesuatu dari pohon, Musa lebih mengerti untuk tidak mencela Adam atas dosa yang dia telah bertaubat kepada Allah, dan Allahpun menerima taubatnya. Dan, Adam lebih mengerti untuk tidak berhujjah dengan takdir bahwa orang yang berdosa tidak mendapat cela.<br />
<em></em></p>
<p>Dari pembahasan diatas dapatlah kita fahami bahwa seseorang yang berbuat maksiat/dosa tidak boleh berhujjah dengan takdir. Kita diperbolehkan berhujjah dengan takdir ketika kita ditimpa musibah.Wajib bagi seorang mukmin dan mukminah untuk mengimani hadits ini dan dilarang didalamnya mencari-cari takwil atau bahkan menolak kesahan hadits diatas karena tidak sesuainya dengan akal pikiran kita.Wallahu&#8217;alam bishawwab.</p>
<hr />
<p>Daftar Pustaka:<br />
1. Kisah Para Nabi, Ibnu Katsir, Pustaka Azzam.<br />
2. Tahdzib Syrah Aqidah Tha-hawiyah Dasar-dasar Aqidah Menurut Ulama Salaf, At-Tibyan, Solo.<br />
3. Kitab Tauhid, Tim Ahli tauhid, Darul Haq,Jakarta.<br />
4. Ringkasan Shahih Muslim,Pustaka Amani, Jakarta</p>
<hr />
<p style="text-align: justify;"><strong>Catatan kaki:</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jilbab.or.id/archives/54-perdebatan-antara-adam-dan-musa-alaihimas-salam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ukhti, Bagaimana Agar Amalmu Diterima-Nya?</title>
		<link>http://jilbab.or.id/archives/45-ukhti-bagaimana-agar-amalmu-diterima-nya/</link>
		<comments>http://jilbab.or.id/archives/45-ukhti-bagaimana-agar-amalmu-diterima-nya/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Mar 2004 19:29:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ummu Raihanah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[ Ukhti muslimah,&#8230;.ketahuilah bahwa Allah hanya akan menerima amal shaleh dari hamba-Nya apabila mengikuti 2 syarat yaitu ikhlas (bersih dari kesyirikan) dan mutaba&#8217;ah (mengikuti tuntunan Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam). Akan anda dapati lebih dalam lagi penjelasannya pada kajian aqidah kali ini, yaitu mengambil 2 ayat dari surat Al-mulk ayat 1 dan 2.Didalamnya menjelaskan keutamaan surat Al-Mulk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> Ukhti muslimah,&#8230;.ketahuilah bahwa Allah hanya akan menerima amal shaleh dari hamba-Nya apabila mengikuti 2 syarat yaitu ikhlas (bersih dari kesyirikan) dan mutaba&#8217;ah (mengikuti tuntunan Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam). Akan anda dapati lebih dalam lagi penjelasannya pada kajian aqidah kali ini, yaitu mengambil 2 ayat dari surat Al-mulk ayat 1 dan 2.Didalamnya menjelaskan keutamaan surat Al-Mulk dan bagaimana amal yang benar disisi Allah.Mudah-mudahan kita semua dapat mengambil manfaatnya dan diberikan kekuatan oleh Allah Azza Wajalla untuk mengamalkannya. <span id="more-45"></span>Kita simak ayatnya beserta tafsirnya:</p>
<p>Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda:</p>
<blockquote><p>“Dalam Al-Qur’an itu ada sebuah surat yang terdiri atas tiga puluh ayat, yang akan memberikan syafaat kepada pembacanya sehingga dia akan diampuni. Itulah Tabaarakalladzi biyadihil-mulk”(Hadits hasan, diriwayatkan pula oleh penyusun kitab sunan yang empat)</p></blockquote>
<p>Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Jabir radhiyallahu’anhu :</p>
<blockquote><p>“Rasulullah shalallahu alaihi wassalam tidak tidur sebelum membaca Alif laam mim Tanzil (surat As-Sajadah) dan Tabaarakalladzi biyadihil-mulk (surat Al-Mulk) “(HR. Tirmidzi, hadits Shahih, lihat Shahihul Jami’ 4/255)</p></blockquote>
<p>Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu dia menceritakan :</p>
<blockquote><p>“Salah seorang sahabat pernah memukulkan kantong airnya pada sebuah kuburan,sedang dia tidak mengira bahwa itu adalah kuburan, dan tiba-tiba seseorang membaca surat Al-Mulk sampai akhir surat kemudian aku mendatangi Nabi dan aku ceritakan “Wahai Rasulullah aku telah memukulkan kantong airku pada sebuah kuburan dan aku tidak mengira bahwa itu adalah kuburan, tiba-tiba ada seseorang membaca surat Al-Mulk sampai selesai. Maka beliaupun berkata :Ia (surat Al-Mulk) adalah pencegah dan penyelamat  yang akan menyelamatkannya dari adzab kubur “(HR.Tirmidzi, Imam Tirmidzi berkata bahwa hadits ini adalah <em>hasan gharib</em>)</p></blockquote>
<p><strong>Tabaarak</strong> secara lughah (bahasa) berarti Maha Suci.</p>
<p>Dan yang dimaksud dengan “ Tangan(biyaadihi) “ dalam ayat ini adalah sifat Allah, bukan nikmat dan kodrat-Nya (sebagaimana yang ditafsirkan oleh sebagaian kaum muslimin). Dia adalah benar-benar tangan-Nya secara hakiki, tanpa mempertanyakan bagaimana bentuknya. Tangan-Nya yang tidak serupa dengan semua ciptaan-Nya yang mengelola kerajaan-Nya sesuai dengan yang Dia kehendaki.</p>
<p>Allah Ta’ala memuliakan diri-Nya sendiri dan memberitahukan bahwa kerajaan itu terletak diTangan-Nya. Dialah Yang Mengatur semua makhluk-Nya sesuai dengan yang Dia kehendaki. Tidak ada yang dapat menolak ketetapan-Nya. Dan, Dia tidak akan ditanya tentang perbuatan-Nya, karena Dia adalah Maha Kuasa, Maha Bijaksana, dan Maha Adil. Itulah sebabnya Allah Ta’ala berfirman(wahuwa’alaa kulli syai’in qadir) Dan Dia Maha Kuasa atas Segala sesuatu.</p>
<p> Kemudian Allah Ta’alaa berfirman”Yang Menjadikan mati dan hidup” maksudnya adalah sesungguhnya Dialah yang telah mewujudkan semua makhluk dari yang asalnya tidak ada , dengan tujuan menguji mereka siapakah diantara mereka yang paling bagus amalnya. Hal ini sebagaimana firman-Nya:</p>
<blockquote><p>Bagaimana mungkin kamu kafir kepada Allah, sedangkan kamu sebelumnya adalah mati, kemudian Dia menghidupkan kamu “(Al-Baqarah:28)</p></blockquote>
<p>Allah mengistilahkan keadaan pertama, yaitu tidak ada dengan kematian. Dan mengistilahkan ‘kejadian’ ini dengan kehidupan. Itulah sebabnya Allah Ta’ala berfirman:</p>
<blockquote><p>“Kemudian Allah mematikan kamu kemudian menghidupkan kamu,kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nyalah kamu dikembalikan “ (Al-Baqarah:28)</p></blockquote>
<p>Dan, firman Allah Ta’aala:”<em>Supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya</em>”</p>
<p>Dalam ayat ini Allah tidak mengatakan yang paling banyak amalnya namun yang paling baik amalannya</p>
<p>Bila dilihat arti kata (ahsanu amala) menurut  penafsiran ulama tafsir adalah;</p>
<p>Yang paling benar amalnya (sesuai dengan Syariat-Nya), paling ikhlas (bersih dari kesyirikan, tauhidnya benar, dan paling cepat dalam bersegera menuju kepada ketaatan-Nya .</p>
<p>Berkenaan dengan ayat ini ulama tafsir seperti Imam at-Tabari, al-Qurtubi dan Ibnu Katsir  memberikan perhatian penting tentang arti ayat tersebut (ahsanu amala) dengan mengatakan bahwa Syarat diterimanya amal oleh Allah swt ada dua:</p>
<p><strong>1.      </strong><strong>Amal tersebut dikerjakan haruslah ikhlas kepada Allah Ta</strong><strong>’</strong><strong>ala (bersih dari kesyirikan)</strong></p>
<p><strong>2.      Amal tersebut mutaba’ah (sesuai dengan apa yang dikerjakan oleh rasulullah shalallahu alaihi wassalam)</strong></p>
<p>Dan seseorang yang ingin beramal tidak akan dapat memenuhi kedua syarat tersebut kecuali dengan ilmu.karena itulah Imam Bukhari menempatkan kedudukan ilmu dalam kitabnya {Shahih Bukhari} sebelum berkata dan beramal (Babul ilmu qabla qauli wa amal yaitu bab mengetahui atau mengilmui dahulu sebelum berkata dan beramal)  “bab Ilmu sebelum ucapan dan perbuatan” dalilnya adalah firman Allah Ta’ala :</p>
<blockquote><p>“Ketahuilah  bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Allah dan mohon ampun atas dosamu” (Muhammad :19)                                                      </p></blockquote>
<p>makna  “ketahuilah” disini yaitu  tahu dengan ilmu.Beliau berdalil dengan ayat ini untuk menunjukkan wajibnya mempunyai ilmu pengetahuan sebelum ucapan dan perbuatan(amal). Ini  dalil yang tepat yang menunjukkan bahwa manusia hendaknya mengetahui dahulu, baru kemudian mengamalkannya. Ada juga dalil aqli (akal) yang menunjukkan hal serupa, yaitu bahwasanya amal dan ucapan tidak akan benar dan diterima sehingga sesuai dengan syariat. Seseorang tidak akan tahu apakah amalnya sesuai dengan syariat atau tidak kecuali dengan ilmu.</p>
<p> Karena itulah apakah mungkin kita beribadah kepada Allah yang menjadi kewajiban kita tanpa mengetahui ilmunya terlebih dahulu?!. Sebagian ulama berkata:</p>
<p>“dan setiap orang yang beramal tanpa ilmu maka amalan-amalan yang telah dikerjakan olehnya ditolak, tidak dapat diterima” (lihat dalam kitab-kitab mereka dalam kitab tauhid Syahadatur rasul)</p>
<p> Dengan demikian mengikuti syariat Nabi muhammad merupakan syarat diterimanya amal, dan perlu diketahui bahwa mutaba’ah (mengikuti Nabi Shalallahu alahi wassalam) tidak akan tercapai kecuali apabila amal yang dikerjakan sesuai dengan syariat dalam 6 perkara yaitu:</p>
<p><strong>1.      </strong><strong>Sebab</strong></p>
<p>Jika seseorang melakukan suatu ibadah kepada Allah dengan seba yang tidak disyariatkan, maka ibadah tersebut adalah bid’ah dan tidak diterima (ditolak). Contoh: Ada orang yang melakukan shalat tahajud pada malam 27 bulan Rajab, dengan dalih bahwa malam itu adalah malam  Mi’raj Rasulullah (dinaikkan keatas langit). Shalat tahajud adalah ibadah, tetapi karena dikaitkan dengan sebab tersebut menjadi bid’ah. Karena ibadah tadi didasarkan atas sebab yang tidak ditetapkan dalam syariat. Syarat ini, yaitu: ibadah harus sesuai dengan syariat, sebab adalah penting, karena dengan demikian dapat diketahui beberapa macam amal yang dianggap termasuk sunnah, namun sebenarnya adalah bid’ah.</p>
<p>        <strong></strong></p>
<p><strong>2.      </strong><strong>Jenis</strong></p>
<p>Artinya: ibadah harus sesuai dengan syariat dalam jenisnya. Jika tidak maka tidak diterima. Contoh; seseorang yang menyembelih kuda untuk kurban adalah tidak syah, karena menyalahi ketentuan syariat dalam jenisnya. Yang boleh dijadikan kurban yaitu unta, sapi, dan kambing.</p>
<p> <strong>3.      </strong><strong>Kadar (bilangan)</strong></p>
<p>Kalau ada seseorang yang menambah bilangan raka’at suatu shalat, yang menurutnya hal itu diperintahkan, maka shalat tersebut adalah bid’ah dan tidak diterima karena tidak sesuai dengan ketentuan syariat dalam jumlah bilangan raka’atnya. Jadi apabila ada seseorang shalat zuhur 5 raka’at, umpamanya maka shalatnya tidak sah.</p>
<p> <strong>4.      </strong><strong>Kaifiyat (cara)</strong></p>
<p>Seandainya ada seseorang yang berwudhu dengan cara membasuh tangan, lalu muka, maka tidak sah wudhunya karena tidak sesuai dengan cara yang ditentukan syariat.</p>
<p><strong>5.      </strong><strong>Waktu</strong></p>
<p>Apabila ada seseorang yang menyembelih binatang kurban pada hari pertama bulan dzulhijjah, maka tidak sah, karena waktu melaksanakannya tidak menurut syariat/ajaran islam.Saya (syaikh shalih Utsaimin) pernah mendengar bahwa ada orang yang menekatkan diri (takarub) kepada Allah pada bulan Ramadhan dengan menyembelih kambing. Amal seperti ini adalah bid’ah. Karena tidak ada sembelihan yang ditujukan untuk bertakarub kepada Allah kecuali sebagai kurban, denda haji, akikah. Adapun menyembelih pada bulan Ramadhan dengan keyakinan mendapat pahala atas sembelihan tersebut sebagaimana idhul adha adalah bid’ah. Kalau menyembelih hanya untuk makan dagingnya , boleh saja.</p>
<p><strong>6.      </strong><strong>Tempat</strong></p>
<p>Andaikata ada orang yang beri’tikaf ditempat selain masjid, maka I’tikafnya tidak sah. Sebab tempat I’tikaf hanyalah di masjid. Begitupula, seandainya ada wanita yang hendak I’tikaf didalam mushalla dirumahnya, maka tidak sha I’tikafnya. Karena tempat melakukannya tidak sesuai dengan ketentuan syariat. Contoh lainnya: Ada seseorang yang melakukan thawaf diluar masjidil haram dengan lasan karena tempat melakukan thawaf telah penuh sesak, thawafnya tidak sah, karena tempat melakukan thawaf adalah dalam baitullah sebagaimana firman-Nya:</p>
<blockquote><p>“Dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang thawaf” (Al-baqarah:125)</p></blockquote>
<p>Kesimpulan dari pembahasan ini adalah bahwa Allah tidaklah melihat banyaknya amal yang dilakukan hamba-hamba-Nya akan tetapi Allah melihat kepada hamba-hamba-Nya yang mengerjakan amal yang paling baik/bagus. Dan amal yang paling baik itu tidak akan diterima oleh Allah subhanahu wata’ala bila tidak ikhlas (bersih dari kesyirikan dan penyakit-penyakitnya) dan tidak  muta’abah (mengikuti ajaran rasul-Nya) dan mutaba’ah tidak akan tercapai kecuali dengan enam perkara tadi. Semoga Allah senantiasa membimbing kita untuk terus istiqomah dalam menuntut ilmu-Nya . Wallahu’alam bishawab.</p>
<hr />
<p style="text-align: justify;"><strong>Catatan kaki dan Sumber rujukan:</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jilbab.or.id/archives/45-ukhti-bagaimana-agar-amalmu-diterima-nya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
