<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Jilbab Online &#187; Biografi</title>
	<atom:link href="http://jilbab.or.id/archives/category/biografi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jilbab.or.id</link>
	<description>-- Cocok Untuk Akhowat, Perlu Untuk Ikhwan --</description>
	<lastBuildDate>Sat, 06 Mar 2010 23:31:33 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>AL KHANSA : IBUNDA 4 MUJAHID SEJATI</title>
		<link>http://jilbab.or.id/archives/896-al-khansa-ibunda-4-mujahid-sejati/</link>
		<comments>http://jilbab.or.id/archives/896-al-khansa-ibunda-4-mujahid-sejati/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Oct 2009 01:53:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sutikno bin Tumingan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Biografi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jilbab.or.id/?p=896</guid>
		<description><![CDATA[Pengantar:
Empat putera Khansa yang gugur menyongsong syahadah&#8230;
Siapakah gerangan di balik mereka?
Ada pepatah yang tak asing di telinga kita, di belakang tokoh mulia, pasti ada wanita yang mulia.
Bagaimana Al Khansa, seorang ibu yang mulia, mengantarkan keempat puteranya menjadi seorang mujahid sejati?

Sekelumit kisah beliau, kami salinkan untuk Anda, wahai para Ibunda.  Semoga bermanfaat.
Dialah al-Khansa&#8217;, wanita Arab pertama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pengantar:<br />
Empat putera Khansa yang gugur menyongsong syahadah&#8230;<br />
Siapakah gerangan di balik mereka?<br />
Ada pepatah yang tak asing di telinga kita, di belakang tokoh mulia, pasti ada wanita yang mulia.</p>
<p>Bagaimana Al Khansa, seorang ibu yang mulia, mengantarkan keempat puteranya menjadi seorang mujahid sejati?<br />
<span id="more-896"></span><br />
Sekelumit kisah beliau, kami salinkan untuk Anda, wahai para Ibunda.  Semoga bermanfaat.</p>
<p>Dialah al-Khansa&#8217;, wanita Arab pertama yang jago bersyair. Para sejarawan sepakat bahwa sejarah tak pernah mengenal wanita yang lebih jago bersyair dari pada al-Khansa&#8217;, sebelum maupun sepeninggal dirinya. Konon mulanya ia tak pandai bersyair, ia hanya bisa melantunkan dua atau tiga bait saja.</p>
<p>Namun di zaman jahiliyah, tatkala saudara kandungnya yang bernama Mu&#8217;awiyah bin Amru as -Sulami terbunuh, ia meratapi kematiannya dalam beberapa bait syair.<br />
Lalu menyusullah saudara seayahnya yang terbunuh pula, namanya Shakhr.<br />
Konon al-Khansa&#8217; amat mencintai saudaranya yang satu ini, karena ia amat penyabar, penyantun, dan penuh perhatian terhadap keluarga. Kematiannya menyebabkannya sangat terpukul, lalu muncullah bakat bersyairnya yang selama ini terpendam.  Dan mulailah ia melantunkan bait demi baik meratapi kematian saudaranya.  Semenjak itulah ia mulai banyak bersyair dan syairnya semakin indah.</p>
<p><strong>Keislaman al-Khansa&#8217; dan Kaumnya</strong><br />
Tatkala mendengar dakwah Islam, al-Khansa&#8217; datang bersama kaumnya —Bani Sulaim— menghadap Rasulullah dan menyatakan keislaman mereka. Ahli-ahli sejarah menceritakan bahwa pernah suatu ketika Rasulullah menyuruhnya melantunkan syair, kemudian karena kagum keindahan syairnya, beliau mengatakan, &#8220;Ayo teruskan, tambah lagi syairnya, wahai Khansa&#8217;!&#8221; sambil mengisyaratkan dengan telunjuk beliau.</p>
<p><strong>Wasiat al-Khansa&#8217; Bagi Keempat Anaknya</strong><br />
Dalam sebuah riwayat disebutkan, bahwa al-Khansa&#8217; dan keempat putranya ikut serta dalam perang al-Qadisiyyah.</p>
<p>Menjelang malam pertama mereka di al-Qadisiyyah, al-Khansa berwasiat kepada putera-puteranya,</p>
<p>&#8220;Wahai anak-anakku, kalian telah masuk Islam dengan taat dan berhijrah dengan penuh kerelaan. Demi Allah yang tiada ilah yang haqq selain Dia. kalian adalah putera dari laki-laki yang satu sebagaimana kalian juga putera dari wanita yang satu. Aku tak pernah mengkhianati ayah kalian, tak pernah mempermalukan khal) kalian, tak pernah mempermalukan nenek moyang kalian, dan tak<br />
pernah menyamarkan nasab kalian.</p>
<p>Kalian semua tahu betapa besar pahala yang Allah siapkan bagi orang-orang yang beriman ketika berjihad melawan orang-orang kafir. Ketahuilah bahwa negeri akhirat yang kekal jauh lebih baik dari negeri dunia yang fana. Allah Azza wa Jalla berfirman,</p>
<blockquote><p>&#8220;Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.&#8221; (Qs. Ali Imran: 200)</p></blockquote>
<p>Andaikata esok kalian masih diberi kesehatan oleh Allah, maka perangilah musuh kalian dengan gagah berani, mintalah kemenangan atas musuhmu dari Ilahi.</p>
<p>Apabila pertempuran mulai sengit dan api peperangan mulai menyala, terjunlah kalian ke jantung musuh, habisilah pemimpin mereka saat perang tengah berkecamuk, mudah-mudahan kalian meraih ghanimah dan kemuliaan di negeri yang kekal dan penuh kenikmatan.&#8221;</p>
<p><strong>Kepahlawanan Keempat Anaknya</strong><br />
Terdorong oleh nasihat ibunya, keempat puteranya tampil dengan gagah berani. Mereka bangkit demi mewujudkan impian sang ibunda. Dan tatkala fajar menyingsing, majulah keempat puteranya menuju kamp-kamp musuh.</p>
<p>Sesaat kemudian, dengan pedang terhunus anak pertama memulai serangannya sambil bersyair,</p>
<blockquote><p>
Saudaraku, ingatlah pesan ibumu<br />
tatkala ia menasehatimu di waktu malam..<br />
Nasehatnya sungguh jelas dan tegas,<br />
&#8220;Majulah dengan geram dan wajah muram!&#8221;</p>
<p>Yang kalian hadapi nanti hanyalah<br />
anjing-anjing Sasan yang mengaum geram..</p>
<p>Mereka telah yakin akan kehancurannya,<br />
maka pilihlah antara kehidupan yang tenteram<br />
atau kematian yang penuh keberuntungan</p></blockquote>
<p>Ibarat anak panah, anak pertama melesat ke tengah-tengah musuh dan berperang mati-matian hingga akhirnya gugur. Semoga Allah merahmatinya.<br />
Berikutnya, giliran yang kedua maju menyerang sembari melantunkan,</p>
<blockquote><p>Ibunda adalah wanita yang hebat dan tabah,<br />
pendapatnya sungguh tepat dan bijaksana</p>
<p>Ia perintahkan kita dengan penuh bijaksana,<br />
sebagai nasihat yang tulus bagi puteranya</p>
<p>Majulah tanpa pusingkan jumlah mereka<br />
dan raihlah kemenangan yang nyata</p>
<p>Atau kematian yang sungguh mulia<br />
di jannatul Firdaus yang kekal selamanya</p></blockquote>
<p>Kemudian ia bertempur hingga titik darah yang penghabisan menyusul saudaranya ke alam baka. Semoga Allah merahmatinya.</p>
<blockquote><p>Lalu yang ketiga ambil bagian. Ia maju mengikuti jejak saudaranya, seraya bersyair,</p>
<p>Demi Allah, takkan kudurhakai perintah ibu<br />
perintah yang sarat dengan rasa kasih sayang</p>
<p>Sebagai kebaktian nan tulus dan kejujuran<br />
maka majulah dengan gagah ke medan perang..</p>
<p>hingga pasukan Kisra terpukul mundur atau biarkan mereka tahu,<br />
bagaimana cara berjuang</p>
<p>Janganlah mundur karena itu tanda kelemahan<br />
raihlah kemenangan meski maut menghadang</p></blockquote>
<p>Kemudian ia terus bertempur hingga mati terbunuh. Semoga Allah merahmatinya.</p>
<p>Lalu tibalah giliran anak terakhir yang menyerang. Ia maju seraya melantunkan,</p>
<blockquote><p>
Aku bukanlah anak si Khansa&#8217; maupun Akhram<br />
tidak juga Umar atau leluhur yang mulia,</p>
<p>Jika aku tak menghalau pasukan Ajam,<br />
melawan bahaya dan menyibak barisan tentara</p>
<p>Demi kemenangan yang menanti, dan kejayaan<br />
ataulah kematian, di jalan yang lebih mulia</p></blockquote>
<p>Lalu ia pun bertempur habis-habisan hingga gugur.  Semoga Allah meridhainya beserta ketiga saudaranya.</p>
<p>Tatkala berita gugurnya keempat anaknya tadi sampai telinga al-Khansa&#8217;, ia hanya tabah sembari mengatakan,<br />
&#8220;Segala puji bagi Allah yang memuliakanku dengan kematian mereka. Aku berharap kepada-Nya agar mengumpulkanku bersama mereka dalam naungan rahmat-Nya.&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jilbab.or.id/archives/896-al-khansa-ibunda-4-mujahid-sejati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Fathimah Radiyallahu &#8216;anha Memahami Arti Jilbab yang Sesungguhnya</title>
		<link>http://jilbab.or.id/archives/791-fathimah-radiyallahu-anha-memahami-arti-jilbab-yang-sesungguhnya/</link>
		<comments>http://jilbab.or.id/archives/791-fathimah-radiyallahu-anha-memahami-arti-jilbab-yang-sesungguhnya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 Aug 2009 17:00:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ummu Raihanah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Biografi]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih Muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[Jilbab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jilbab.or.id/?p=791</guid>
		<description><![CDATA[Adakah kaum muslimin dan muslimah yang tak mengenal sosok Fathimah binti Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam? Rasanya tak mungkin! Beliau radiyallahu’anha satu-satunya putri Rasulullah shalallahu alaihi wassalam  yang hidup mendampingi  beliau hingga wafatnya beliau ke Rafiqil a’la. Fathimah az-Zahra radiyallahu’anha adalah ratu bagi para wanita di surga (Sayyidah nisa ahlil jannah). Pemahaman beliau tentang arti jilbab [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Adakah kaum muslimin dan muslimah yang tak mengenal sosok Fathimah binti Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam? Rasanya tak mungkin! Beliau radiyallahu’anha satu-satunya putri Rasulullah shalallahu alaihi wassalam  yang hidup mendampingi  beliau hingga wafatnya beliau ke Rafiqil a’la. Fathimah az-Zahra radiyallahu’anha adalah ratu bagi para wanita di surga (<strong>Sayyidah nisa ahlil jannah</strong>). Pemahaman beliau tentang arti jilbab yang sesungguhnya sangat layak untuk disimak dan direnungi oleh para muslimah yang sangat merindukan surga dan keridhaan RabbNya. Sudah sempurnakah kita menutup aurat kita seperti apa yang difahami Shahabiyah?<span id="more-791"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Wahai saudariku muslimah yang merindukan surga Firdaus al-A’la&#8230;Shahabiyah yang mulia ini memandang buruk terhadap apa yang di lakukan wanita terhadap pakaian yang mereka kenakan yang masih menampakkan gambaran bentuk tubuhnya. Apa yang beliau tidak sukai itu beliau sampaikan kepada Asma radiayallahu’anha sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Ummu Ja’far bahwasanya Fatimah binti Rasulullah shalallahu alaihi wassalam berkata:</p>
<blockquote style="text-align: justify;"><p>&#8220;Wahai Asma&#8217;! Sesungguhnya aku memandang buruk apa yang dilakukan oleh kaum wanita yang mengenakan baju yang dapat menggambarkan  tubuhnya.&#8221; Asma&#8217; berkata : &#8216;&#8221;Wahai putri Rasulullah maukah kuperlihatkan kepadamu sesuatu yang pernah aku lihat di negeri Habasyah?&#8221; Lalu Asma&#8217; membawakan beberapa pelepah daun kurma yang masih basah, kemudian ia bentuk menjadi pakaian lantas dipakai. Fatimah pun berkomentar: &#8220;Betapa baiknya dan betapa eloknya baju ini, sehingga wanita dapat dikenali (dibedakan) dari laki-laki dengan pakaian itu. Jika aku nanti sudah mati, maka mandikanlah aku wahai Asma&#8217; bersama Ali (dengan pakaian penutup seperti itu ) dan jangan ada seorangpun yang menengokku!&#8221; Tatkala Fatimah meninggal dunia, maka Ali bersama Asma&#8217; yang memandikannya sebagaimana yang dipesankan. &#8221;</p></blockquote>
<p style="text-align: justify;"><em><strong>Syaikh Albani rahimahullah berkata</strong></em> : Perhatikanlah sikap Fatimah radiyallahu anha yang merupakan  bagian dari tulang rusuk Nabi shalallahu alaihi wassalam bagaimana ia memandang buruk bilamana sebuah pakaian itu dapat mensifati atau menggambarkan tubuh seorang wanita meskipun sudah mati, apalagi jika masih hidup, tentunya jauh lebih buruk. Oleh karena itu hendaklah kaum muslimah zaman ini merenungkan hal ini, terutama kaum muslimah yang masih mengenakan pakaian yang sempit dan ketat yang dapat menggambarkan bulatnya buah dada, pinggang, betis dan anggota badan mereka yang lain. Selanjutnya hendaklah mereka beristighfar kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya”</p>
<p style="text-align: justify;">Wahai ukhti muslimah yang dirahmati Allah,…benarlah apa yang dikatakan oleh Syaikh Albani rahimahullah. Fitnah yang melanda kaum muslimah begitu deras dan hebat.Jika Fathimah radiyallahu&#8217; anha saja tidak rela jasadnya tergambar bentuk tubuhnya tentulah dapat kita fahami bagaimana beliau mengenakan jilbab di masa hidupnya. Karena beliau sangat memahami perintah jilbab dengan pemahaman yang benar dan sempurna. Pemahaman beliau yang sangat mendalam ini jelas tersirat dari ketidaksukaannya yang beliau pandang sebagai suatu keburukan apabila seorang wanita memakai pakaian yang dapat menggambarkan lekuk tubuhnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu bandingkanlah dengan apa yang dikenakan oleh sebagian kaum muslimah dewasa ini sangat jauh dari apa yang disyariatkan oleh Rabb mereka. Jauh panggang dari api.Mereka menisbahkan pakaian wanita dengan kerudung ala kadarnya yang sekedar menutupi leher-leher mereka tidak sampai menutupi dada dengan nama pakaian islami atau jilbab. Dan ironisnya yang memakainyapun  merasa bahwa apa yang mereka pakai itu sudah benar karena melihat  para artis di TV mengenakan yang demikian itu jadilah pakaian trendy ini menyebar begitu cepat dan menjadi pakaian pilihan utama mereka. Bahkan tentu terkadang kita melihat saudari kita yang memakai busana muslimah yang justru menambah fitnah karena nampak jelasnya lekuk tubuh mereka dengan penutup kepala yang melilit di leher (sehingga jenjang atau tidaknya bentuk leher terlihat sangat jelas) dan hanya sampai di bagian pundak saja tidak sampai ke dada disambung dengan pakaian ketat yang menggambarkan bentuk payudara mereka kemudian  celana ketat yang menambah jelas  lekukan tubuh mereka. Ada juga yang memakai abaya (gamis/pakaian terusan) memilih ukuran yang ketat daripada ukuran besar dan lapang dengan alasan agar nampak cantik dan modis! Sebagian adapula yang memakai penutup kepala dengan menyanggul rambut-rambut mereka hingga ketika mereka berjalan dapat dilihat dengan jelas ikatan rambut tersebut, karena sangat kecilnya penutup kepala yang mereka pakai maka merekapun mengikat rambut tersebut agar tidak menyembul keluar. Bukankah apa yang mereka pakai itu semua  justru yang semestinya mereka jauhi karena Rasulullah shalallahu alaihi wassalam telah bersabda :</p>
<blockquote style="text-align: justify;"><p>&#8220;Pada akhir ummatku nanti akan ada wanita-wanita yang berpakaian namun (hakekatnya) telanjang. Di atas kepala mereka seperti terdapat bongkol (punuk) onta. Kutuklah mereka karena sebenarnya mereka itu adalah kaum wanita yang terkutuk.&#8221;</p></blockquote>
<p style="text-align: justify;">Di dalam hadits lain terdapat tambahan :</p>
<blockquote style="text-align: justify;"><p>&#8220;Mereka tidak akan masuk surga dan juga tidak akan memperoleh baunya, padahal baunya surga itu dapat dicium dari perjalanan (jarak) sekian dan sekian.&#8221;</p></blockquote>
<p style="text-align: justify;">Kemudian lihatlah penjelasan dari Ibnu Abdil Barr rahimahullah ia berkata:</p>
<blockquote style="text-align: justify;"><p><em> </em>&#8220;Yang dimaksud Nabi shalallahu alaihi wassalam adalah kaum wanita yang mengenakan pakaian yang tipis, yang dapat mensifati (menggambarkan) bentuk tubuhnya dan tidak dapat menutup atau menyembunyikannya. Mereka itu tetap berpakaian namanya, akan tetapi hakekatnya telanjang.&#8221;</p></blockquote>
<p style="text-align: justify;">Dari<em> </em>Ummu Alqamah bin Abu Alqamah bahwa ia berkata<em> </em>:<em> </em></p>
<blockquote><p>&#8220;Saya pernah melihat Hafshah bin Abdurrahman bin Abu Bakar mengunjungi &#8216;Aisyah dengan mengenakan khimar(kerudung) tipis yang dapat menggambarkan pelipisnya, lalu &#8216;Aisyah pun tak berkenan melihatnya dan berkata : &#8220;Apakah kamu tidak tahu apa yang telah diturunkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala dalam surat An Nuur?!&#8221; Kemudian &#8216;Aisyah mengambilkan khimar untuk dipakaikan kepadanya<em>.</em></p></blockquote>
<p style="text-align: justify;"><em><strong>Syaikh Albani menjelaskan perkataan Aisyah radiyallahu anha : </strong></em>Apakah kamu tidak tahu tentang apa yang diturunkan oleh Allah dalam surat An-Nuur? Mengisyaratkan bahwa wanita yang menutupi tubuhnya dengan pakaian yang tipis pada hakikatnya ia belum menutupi tubuhnya dan juga belum melaksanakan firman Allah Subahnahu wa ta’ala yang ditunjukkan oleh Aisyah radiyallahu anha yaitu “Dan hendaklah kaum wanita menutupkan khimar/kerudung pada bagian dada mereka”</p>
<p style="text-align: justify;">Tidakkah kita melihat perbedaan yang sangat jauh antara generasi Shahabiyah dengan kita? Mereka benar-benar menjadikan jilbab sebagai penutup tubuh dan aurat sebagai bentuk ketaatan pada perintahNya sedangkan kita justru sebaliknya menjadikan jilbab sebagai pembuka fitnah kecuali wanita-wanita yang dirahmati Allah. Jilbab yang difahami shahabiyah sebagai pakaian yang lapang (lebar) yang menutupi tubuh dari atas kepala hingga ujung kaki sedangkan kaum muslimah sekarang menganggap jilbab adalah secarik kain yang digunakan untuk menutupi rambut mereka saja sedangkan bagian-bagian lainnya mereka tutupi dengan bahan yang ala kadarnya yang tidak bisa dikatakan menutupi aurat apalagi menutupi lekuk tubuh mereka. Kepada Allahlah kita memohon pertolongan semoga kaum kita mau kembali kepada Rabb mereka dan  berusaha untuk  menunaikan apa yang diperintahkan Allah dan rasulNya secara sempurna dan menyeluruh. Sebagaimana firmanNya:</p>
<blockquote style="text-align: justify;"><p>        يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ</p>
<p>Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu(Al-Baqarah :208).  </p></blockquote>
<p style="text-align: justify;">Wallahu’alam bish-shawwab.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><em>Artikel ini telah di cek oleh : Ustadz Muhammad Elvy Syam Lc</em></strong>.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Sumber Rujukan :</strong></p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Jilbab Wanita Muslimah menurut Al-Qur’an dan Sunnah, Syaikh Nashiruddin Al-Albani,Pustaka Tibyan,Solo.</li>
<li>Ringkasan Shahih Muslim, Imam Al-mundziri, Pustaka Amani, Jakarta.</li>
<li>Mengenal Shahabiyah Nabi Shalallahu alaihi wassalam, Mahmud al-Istanbuli, Pustaka Tibyan, Solo.</li>
</ol>
<hr style="text-align: justify;" />
<p style="text-align: justify;"><strong>Catatan kaki:</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jilbab.or.id/archives/791-fathimah-radiyallahu-anha-memahami-arti-jilbab-yang-sesungguhnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>51</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dihyah bin Khalifah Al-Kalbi; Malaikat Jibril Menjelma dalam Rupanya</title>
		<link>http://jilbab.or.id/archives/638-dihyah-bin-khalifah-al-kalbi-malaikat-jibril-menjelma-dalam-rupanya/</link>
		<comments>http://jilbab.or.id/archives/638-dihyah-bin-khalifah-al-kalbi-malaikat-jibril-menjelma-dalam-rupanya/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 12 Jul 2009 07:50:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dinda</dc:creator>
				<category><![CDATA[Biografi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jilbab.or.id/?p=638</guid>
		<description><![CDATA[’Awwaanah bin al-Hakam berkata, “Manusia yang paling tampan rupanya, ialah seseorang yang Malaikat Jibril ’alaihis salam datang dalam bentuk rupanya. Yakni Dihyah.”
Dihyah bin Khalifah al-Kalbi radhiyallahu ’anhu adalah salah satu di antara para sahabat Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam yang telah lama masuk Islam. Beliau masuk Islam sebelum perang Badar. Akan tetapi, dalam peperangan itu, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>’Awwaanah bin al-Hakam berkata, “Manusia yang paling tampan rupanya, ialah seseorang yang Malaikat Jibril ’alaihis salam datang dalam bentuk rupanya. Yakni Dihyah.”</p>
<p>Dihyah bin Khalifah al-Kalbi radhiyallahu ’anhu adalah salah satu di antara para sahabat Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam yang telah lama masuk Islam. Beliau masuk Islam sebelum perang Badar. Akan tetapi, dalam peperangan itu, beliau belum sempat mengikutinya. Baru, setelah peperangan itu, beliau tidak pernah absen dalam jihad di medan peperangan.</p>
<p><span id="more-638"></span>Dia juga salah seorang sahabat Rasulullah yang masyhur. Dia dikaruniai Allah berupa keutamaan yang tidak dimiliki sahabat lainnya. Di antara keutamaan yang beliau miliki, yaitu Malaikat Jibril ’alaihis salam seringkali datang menemui Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dalam wujud menyerupai dirinya. Imam an-Nasa’i meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Yahya bin Ya’mur rahimahullah dari Ibnu ’Umar,</p>
<blockquote><p>Malaikat Jibril ’alaihis salam mendatangi Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam dalam rupa Dihyah Al-Kalbi.</p></blockquote>
<p>Dalam hadits lain disebutkan, dari Jaabir radhiyallahu ’anhu bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,</p>
<blockquote><p>Telah diperlihatkan kepadaku para nabi, maka aku melihat Musa ’alaihis salam adalah seorang laki-laki yang kuat, seakan-akan dia adalah lelaki dari kaum Syanuu’ah. Dan aku melihat Isa bin Maryam ’alaihis salam, dan yang paling mirip dengannya di antara yang pernah aku lihat, adalah Urwah bin Mas’ud. Dan aku melihat Ibrahim ’alaihis salam, dan yang paling mirip dengannya di antara yang pernah aku lihat ialah sahabat kalian –yaitu diri beliau sendiri– Dan aku pun melihat Jibril ’alaihis salam, dan yang paling mirip dengannya di antara yang pernah aku lihat adalah Dihyah. <strong>(HR. Muslim)</strong>.</p></blockquote>
<p>Dari Abu ’Utsman, ia berkata,</p>
<blockquote><p>“Telah diberitakan kepadaku bahwa Malaikat Jibril ’alaihis salam datang kepada Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam, dan Ummu Salamah sedang bersama beliau. Maka, dia pun berbicara lantas berdiri, sehingga Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam pun berkata kepada Ummu Salamah, ’Siapakah ini?’ – atau (kurang lebih) seperti (itu) ucapan beliau– Lantas Ummu Salamah pun berkata, ’Ini adalah Dihyah’. Ummu Salamah berkata,</p>
<blockquote><p>’Demi Allah, sungguh aku mengira, ia adalah Dihyah, sampai aku mendengar khutbah Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam yang mengabarkan bahwa dia adalah Malaikat Jibril ’alaihissalam&#8217;</p></blockquote>
</blockquote>
<p>Ketika Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam mengirimkan surat-surat seruan memeluk Islam kepada para raja, kisra dan kaisar, yaitu pada akhir tahun ke enam hijriah, Dihyah termasuk salah satu delegasi yang ditugaskan. Adapun tugas yang diberikan Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam kepada Dihyah, yaitu agar ia menyampaikan surat beliau shallallahu ’alaihi wa sallam kepada Hiraklius, kaisar Romawi.</p>
<p>Dalam satu riwayat disebutkan, dari ’Abdullah bin ’Abbas radhiyallahu ’anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam menulis surat kepada kaisar untuk mengajaknya masuk Islam. Beliau pun mengutus Dihyah al-Kalbi untuk menyampaikan suratnya. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam memintanya supaya menyerahkan surat tersebut kepada penguasa Bushra, agar ia menyampaikannya kepada kaisar.</p>
<p>Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan di dalam al-Bidayah wan Nihayah, sepulang dari menemui kaisar -dan Dihyah mendapatkan hadiah yang banyak dari kaisar– ketika ia telah sampai di daerah Hisma, ia dihadang oleh sekelompok orang dan mereka pun mengambil semua yang ada padanya. Maka Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam mengutus Zaid bin Haritsah radhiyallahu ’anhu untuk memerangi mereka.</p>
<p>Demikian, seklias kisah Dihyah bin Khaliifah. Pada masa hidupnya, beliau tinggal di daerah Mizzah di Damaskus, dan beliau hidup hingga masa kekhalifahan Mu’awiyyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ’anhuma. Semoga keridhaan Allah Ta’ala senantiasa tercurahkan pada sahabat yang mulia ini.</p>
<hr />
Disalin dari <strong>majalah As-Sunnah</strong> edisi 04/XII/1429H 2008M , Rubrik Baituna, hal. 8</p>
<hr />
<strong>Catatan Kaki:</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jilbab.or.id/archives/638-dihyah-bin-khalifah-al-kalbi-malaikat-jibril-menjelma-dalam-rupanya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Al-Imam Abu &#8216;Ubaid Al-Qasim bin Sallam</title>
		<link>http://jilbab.or.id/archives/5-al-imam-abu-ubaid-al-qasim-bin-sallam/</link>
		<comments>http://jilbab.or.id/archives/5-al-imam-abu-ubaid-al-qasim-bin-sallam/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Mar 2007 23:24:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dinda</dc:creator>
				<category><![CDATA[Biografi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.jilbab.or.id/archives/5-al-imam-abu-ubaid-al-qasim-bin-sallam/</guid>
		<description><![CDATA[(Beliau) adalah Abu &#8216;Ubaid Al-Qasim bin Sallam bin &#8216;Abdillah. Berkat keilmuannya, beliau pun mendapatkan julukan sebagai imam, hafizh dan mujtahid. Ayahnya adalah budak milik salah seorang penduduk Harah. Meskipun budak, ternyata ayahnya sangat perhatian terhadap perkembangan keilmuan anaknya. Saat Abu &#8216;Ubaid bersama dengan putra gurunya, diriwayatkan bahwa sang ayah keluar dari rumahnya dan berkata kepada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>(Beliau) adalah Abu &#8216;Ubaid Al-Qasim bin Sallam bin &#8216;Abdillah. Berkat keilmuannya, beliau pun mendapatkan julukan sebagai imam, hafizh dan mujtahid. Ayahnya adalah budak milik salah seorang penduduk Harah. Meskipun budak, ternyata ayahnya sangat perhatian terhadap perkembangan keilmuan anaknya. Saat Abu &#8216;Ubaid bersama dengan putra gurunya, diriwayatkan bahwa sang ayah keluar dari rumahnya dan berkata kepada gurunya, &#8220;Ajarilah Al-Qasim. Sesungguhnya dia anak yang cerdas.&#8221;</p>
<p><span id="more-5"></span>Setelah selesai mempelajari dasar-dasar ilmu sesuai keinginan bapaknya yang tidak bisa berbahasa Arab, maka beliau mulai melakukan rihlah fi thalabil ilmi, yaitu menempuh perjalanan untuk mencari ilmu di negeri seberang menuju Bashrah dan Kufah. Di sana, beliau memperdalam bahasa Arab, ilmu fikih dan hadits, kepada para ulama Daulah Islamiyah yang ada di kedua kota tersebut.</p>
<p>Ulmu yang dimilikinya tersebut, telah mengantarkan beliau menjabat sebagai qadhi di kota Tursus pada masa pemerintahan Tsabit bin Nasr bin Malik. Dan beliau tetap menjadi qadhi di kota tersebut selama Tsabit bin Nasr menjabat sebagai wali kota Tursus, yaitu dari tahun 192 H sampai 210 H, atau sekitar 18 tahun. Kemudian pada tahun 210 H beliau kembali ke kota Baghdad dan memulai berhubungan dengan Abdullah bin Thahir, yang menjabat sebagai gubernur di Khurasan.</p>
<p>Hubungan Abu &#8216;Ubaid dengan &#8216;Abdullah bin Thahir sangat dekat sehingga membuat &#8216;Abdullah bin Thahir sangat mencintai Abu &#8216;Ubaid. Ada beberapa kisah yang menjadi bukti kecintaan tersebut. Dikisahkan, ketika Abu &#8216;Ubaid bersama Abdullah bin Thahir, datanglah seseorang yang bernama Abu Dalf. Kedatangannya ini meminta agar ia bisa belajar kepada Abu &#8216;Ubaid selama 2 bulan. Abu &#8216;Ubaid pun menyanggupi permintaan tersebut, kemudian bermukimlah beliau di rumah Abu Dalf selama 2 bulan. Begitu waktu belajar telah usai, ketika hendak kembali, Abu Dalf memberikan uang kepada beliau sebesar 30.000 dirham. Akan tetapi beliau tidak mau menerimanya seraya berkata, </p>
<blockquote><p>    Sesungguhnya aku berada di sisi orang yang telah mencukupi kebutuhanku. Dan tidak menjadikan diriku membutuhkan kepada yang lainnya. Dan aku tidak akan mengambil sesuatu yang mengurangiku.</p></blockquote>
<p>Ketika beliau telah kembali dari kediaman Abu Dalf, maka &#8216;Abdullah bin THahir menyerahkan kepada beliau 30.000 Dirham sebagai gantinya. Sehingga beliau berkata,</p>
<blockquote><p>    Adapun sekarang, wahai Amir, maka aku terima (uang ini). Akan tetapi engkau telah mencukupkan aku dengan kebaikan yang telah engkau berikan kepadaku. Aku berniat menggunakan uang ini untuk membali sebuah senjata dan seekor kuda. Yang keduanya, nanti akan aku pergunakan untuk berjaga-jaga di perbatasan, agar engkau mendapatkan pahala yang lebih banyak, wahai Amir. </p></blockquote>
<p>Kemudian beliau pun mewujudkan keinginannya tersebut. Terdapat juga kisah lainnya yang menceritakan: Abul &#8216;Abbas Ahmad bin Yahya Tsa&#8217;lab berkata,</p>
<blockquote><p>     Suatu ketika Thahir bin &#8216;Abdullah bin Thahir datang dari Khurasan untuk melaukan haji, dan beliau singgah di rumah Ishaq bin Ibrahim. Dia pun mengundang para ulama untuk menemui Thahir bin &#8216;Abdullah bin Thahir. Maka, datanglah para ulama hadits dan fiqh, di antaranya Ibnul &#8216;Arabi dan Abu Nasr sahabat al Asma&#8217;i. Begitu pula Abu &#8216;Ubaid, diminta untuk datang menemuinya, akan tetapi beliau menolak menghadiri undangan tersebut. Beliau pun berkata,</p>
<blockquote><p>Ilmu itulah yang harus didatangi </p></blockquote>
<p>    Mendengar jawaban itu, marahlah Ishaq. Waktu itu &#8216;Abdullah bin Thahir telah biasa memberikan gaji kepada Abu &#8216;Ubaid sebanyak 2.000 dirham setiap bulannya. Penolakan beliau ini kemudian menjadi sebab Ishaq bin Ibrahim menghentikan gaji tersebut dan mengirimkan laporan mengenai apa yang telah dilakukan Abu &#8216;Ubaid. Untuk menjawab risalah laporan ini, &#8216;Abdullah bin Thahir berkata,</p>
<blockquote><p>Sungguh benar yang dikatakan Abu &#8216;Ubaid. Dan sesungguhnya akau akan menambah gajinya, disebabkan dengan yang dia lakukan. Maka berikanlah yang telah tahan dari gajinya dan tunaikanlah haknya.</p></blockquote>
</blockquote>
<p>Demikian ini dua dari beberapa kisah yang menunjukkan kedekatan Abu &#8216;Ubaid dengan &#8216;Abdullah bin Thalhah yang kala itu menjabat sebagai Gubernur Khurasan. Bahkan &#8216;Abdullah bin Thahir pernah memujinya dengan berkata,</p>
<blockquote><p>    Manusia ada empat, Ibnu &#8216;Abbas pada zamannya, Asy-Sya&#8217;bi pada zamannya, Qasim bin Ma&#8217;an pada zamannya, dan Abu &#8216;Ubaid pada zamannya. </p></blockquote>
<p>Hubungan beliau dengan Gubernur &#8216;Abdullah bin Thahir tidak hanya sampai di situ, bahkan ketika Abu &#8216;Ubaid mengarang sebuah buku, beliau menghadiahkan buku tersebut untuk &#8216;Abdullah bin Thahir. Sebagaimana ketika menulis kitab Gharibul Hadits, beliau menunjukkan kitab tersebut kepada &#8216;Abdullah bin Thahir, sehingga Gubernur Khurasan ini berkata,</p>
<blockquote><p>     Sesungguhnya, akal yang telah membawa seseorang untuk menulis kitab yang sangat berharga ini, tidaklah pantas sibuk mencari ma&#8217;isyah (penghasilan). </p></blockquote>
<p>Dan &#8216;Abdullah bin Thahir akhirnya menambahkan gajinya menjadi 10.000 dirham. Bahkan setelah beliau meninggal, gaji tersebut masih terus diterima oleh anak-anaknya.</p>
<p>Meski menetap di Baghdad, bukan berarti beliau meninggalkan thalabul &#8216;ilmi (menuntut ilmu -red. jilbab). Beliau waktu tidak memangku jabatan, akan tetapi, beliau menyusun dan menulis kitab, dan ini memudahkan beliau untuk terus belajar kepada para ulama di berbagai tempat.</p>
<p>Di antara (tempat) yang beliau datangi adalah Mesir pada tahun 213 H, Damaskus, Marwa dan kota yang lainnya. Kemudian pada tahun 219 H, beliau pergi ke Mekkah, dan terus berada di kota tersebut sampai wafatnya. Mengapa beliau memilih tetap tinggal di Mekkah dan tidak kembali ke Baghdad?</p>
<p>Coba kita perhatikan kisah beliau ini. Ketika selesai melakukan haji, beliau berniat segera kembali ke Irak pada pagi hari. Abu &#8216;Ubaid menuturkan kisahnya, </p>
<blockquote><p>     Aku bermimpi melihat Rasulullah dalam keadaan duduk Dan di atas kepala beliau shallallahu &#8216;alaihi wa sallam ada orang-orang yang menutupi beliau. Banyak orang yang masuk dan menemuinya memberi salam dan berjabat tangan dengan beliau shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Setiap aku berusaha mendekat, ada yang berusaha menghalangiku. Maka aku katakan kepada mereka, &#8220;mengapa kalian tidak membarkan aku bertemu dengan Rasulullah?&#8221; </p>
<p>    Mereka menjawab, &#8220;Tidak, Demi Allah, engkau tidak boleh masuk dan tidak boleh memberi salam kepadanya, sedangkan engkau akan keluar besok pagi menuju Irak.&#8221; Mendengar jawaban itu, maka aku katakan kepada mereka, &#8220;Kalo begitu, aku tidak akan kembali ke Irak.&#8221; Maka mereka pun mengambil janjiku, kemudian membiarkan aku untuk menemui Rasulullah. Aku pun masuk dan memberi salam dan beliau shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menjabat tanganku. Dan akhirnya aku membatalkan niatku kembali ke Irak. </p></blockquote>
<p>Disamping kedekatannya dengan Gubernur Khurasan waktu itu, sebagai seorang ulama yang beraqidah shahihah yang kuat berpegang kepada Sunnah, beliau juga menjadi salah seorang yang sangat dekat hubungannya dengan Imam Ahmad bin Hambal. Sehingga tidak heran, jika beliau banyak terpengaruh oleh Imam Ahmad, terutama dalam masalah aqidah, sehingga beliau terkenal sangat keras terhadap ahlul bid&#8217;ah. Sikap keras beliau terhadap ahlul bid&#8217;ah, dapat kita lihat dalam perkataan-perkataan beliau,</p>
<blockquote><p>    Aku telah banyak menyertai manusia, dan berbicara kepada ahli kalam, tidaklah aku dapatkan suatu kaum yang lebih lemah, lebih kotor, lebih menjijikkan dan lebih dungu melebihi orang-orang Rafidhah. Dan sungguh, aku telah memangku jabatan hakim di perbatasan, maka aku keluarkan dari mereka tiga orang, yaitu dua orang Jahmiyah dan satu orang Rafidhah atau dua orang Raidhah, dan satu orang jahmiyyah. Aku katakan kepada mereka, orang seperti kalian tidak pantas untuk berada di perbatasan.
</p></blockquote>
<p>Kedekatan beliau dengan Imam Ahmad, jiga dapat dilihat dari perkataan Imam Ahmad tentang dirinya, &#8220;Abu &#8216;Ubaid adalah seorang yang setiap harinya menambah untuk kami, kecuali kebaikan.&#8221; Begitupula Abu &#8216;Ubaid, beliau sangat menghormati Imam Ahmad, hingga beliau mengatakan,</p>
<blockquote><p>    Sungguh aku telah duduk bersama Abu Yusuf Al-Qadhi, Muhammad bin Hasan, Yahya bin Said dan Abdurrahman bin Mahdi, maka tidak ada yang lebih aku hormati ketika membahas suatu masalah melebihi Abu Abdillah Ahmad bin Hambal. </p></blockquote>
<p>Abu &#8216;Ubaid juga berkata,</p>
<blockquote><p>    Ilmu itu berakhir pada empat orang. Yaitu Ahmad bin Hambal yang paling faqih, Ibnu Abi Syaibah yang paling hafal, Ali bin Madini yang paling mengetahui, dan Yahya bin Main yang paling rajin menulis </p></blockquote>
<p>Dan juga beliau mengatakan,</p>
<blockquote><p>    Aku tidak pernah melihat seorang yang paham terhadap Sunnah melebihi Ahmad bin Hambal </p></blockquote>
<p>[[Diringkas dari Muqaddimah <strong>Tahqiq kitab At-Thahur</strong> karya Imam Abu 'Ubaid Qasim bin Sallam, oleh Syaikh Abu 'Ubaidah Mansyur bin Hasan Alu Salman, cet. I tahun 1414H, penerbit As-Shahabah, Jeddah. Disalin dari <strong>majalah As-Sunnah edisi 10/X/1427H/2006M</strong>, rubrik baituna hal. 9-10.]]</p>
<hr /><strong>Catatan Kaki:</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jilbab.or.id/archives/5-al-imam-abu-ubaid-al-qasim-bin-sallam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wasiat Wahab bin Munabbih Tentang Akhlak Mulia  &#8211; arsip-</title>
		<link>http://jilbab.or.id/archives/251-wasiat-wahab-bin-munabbih-tentang-akhlak-mulia-arsip/</link>
		<comments>http://jilbab.or.id/archives/251-wasiat-wahab-bin-munabbih-tentang-akhlak-mulia-arsip/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Mar 2006 05:46:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adillah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Biografi]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Arsip Baru : http://jilbab.or.id/archives/24-wasiat-wahab-bin-munabbih-tentang-akhlak-mulia/#more-24 
 
Wahhab bin Munabbih (1) berkata : 
 
&#8220;Jika kamu ingin melaksanakan ketaatan kepada Allah &#8216;Azza wa Jalla, maka berusahalah agar dirimu benar-benar tulus dan berilmu tentang Allah, sebab tidak akan diterima amal yang dilakukan oleh seseorang yang tidak tulus. Dan ketulusan kepada Allah &#8216;Azza wa Jalla itu juga tidak akan sempurna kecuali dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify">Arsip Baru : http://jilbab.or.id/archives/24-wasiat-wahab-bin-munabbih-tentang-akhlak-mulia/#more-24 </p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify"> </p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">Wahhab bin Munabbih (1) berkata : </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">&#8220;Jika kamu ingin melaksanakan ketaatan kepada Allah &#8216;Azza wa Jalla, maka berusahalah agar dirimu benar-benar tulus dan berilmu tentang Allah, sebab tidak akan diterima amal yang dilakukan oleh seseorang yang tidak tulus. </span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">Dan ketulusan kepada Allah &#8216;Azza wa Jalla itu juga tidak akan sempurna kecuali dengan ketaatan kepada Allah. Ibarat buah yang baik, baunya harum dan rasanya lezat. Demikian pula permisalan untuk ketaatan kepada Allah, ketulusan adalah baunya dan amal adalah rasanya. </span></p>
<p><span id="more-251"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify"> </p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">Kemudian, hiaslah ketaatan kepada Allah dengan ilmu, kesabaran dan pemahaman. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify"> </p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">Kemudian jauhkanlah dirimu dari perilaku orang-orang yang bodoh, paksalah ia mengikuti perilaku para ulama, biasakanlah ia melakukan perbuatan-perbuatan orang-orang penyabar, cegahlah ia dari perbuatan orang-orang yang celaka, haruskanlah ia mengikuti peri kehidupan para fukaha dan jauhkanlah ia dari jalan orang-orang yang jahat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">Jika kamu mempunyai kelebihan, maka bantulah orang lain dengan kelebihanmu itu; jika ada kekurangan pada orang lain, maka bantulah ia sehingga ia bisa seperti dirimu. Orang bijak adalah yang mengumpulkan kelebihan-kelebihannya kemudian menyalurkannya kepada orang lain. Kemudian ia memandang kekurangan-kekurangan orang lain, lalu meluruskan dan membimbingnya sehingga bisa memperbaikinya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">Jika ia seorang fakih, maka ia akan membawa orang yang tidak mempunyai pemahaman tentang fikih, jika dilihatnya orang itu ingin bisa bersahabat dan mendapatkan bantuannya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">Jika ia seorang yang berharta, maka ia memberikan sebagian hartanya untuk orang yang tidak punya harta, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">Jika ia seorang saleh, maka ia memohonkan ampunan untuk pelaku dosa, jika diharapkannya orang itu bertaubat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">Jika ia seorang yang berbuat kebajikan, maka ia berbuat baik kepada orang yang pernah berbuat jahat kepadanya, kemudian mengharapkan pahala dari perbuatan itu. </span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">Ia tidak akan tertipu oleh kata-kata sebelum diiringi dengan kerja nyata dan tidak akan berangan-angan untuk mentaati Allah jika belum melaksanakannya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">Jika ia berhasil melaksanakan sebagian ketaatan kepada Allah, ia memuji Allah, kemudian memohon pertolongan untuk bisa melaksanakan ketaatan lain yang belum dicapainya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">Jika ia mengetahui suatu ilmu, maka ia tidak merasa puas sebelum bisa mempelajari apa yang belum diketahui. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">Jika teringat kepada kesalahan dirinya, ia menutupi kesalahan itu lantas memohon ampunan kepada Allah yang berkuasa untuk mengampuninya. Ia tidak akan menggunakan ucapan dusta untuk mencapai sesuatu, karena kedustaan adalah ibarat kayu yang dimakan rayap, luarnya tampak bagus tetapi dalamnya keropos. Orang yang tertipu tetap menyangka bahwa kayu itu mampu mengangkat beban yang diletakkan di atasnya, sampai kayu itu patah karena bebannya dan orang yang tertipu itu menjadi binasa. Demikian pula ucapan dusta, pelakunya masih terpedaya olehnya dan menyangka bahwa kedustaan itu membantunya dalam memperoleh kebutuhannya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">Keinginannya untuk melakukannya semakin bertambah, sampai kebohongannya itu diketahui oleh orang-orang yang berakal dan para ulama bisa menyimpulkan sesuatu yang disembunyikan dari pandangan mereka. Jika mereka telah melihat dan mengetahui dengan jelas keadaan yang sesungguhnya, maka mereka tidak mempercayai lagi omongannya, menolak kesangsiannya, menghinakannya, membenci majlisnya, menyembunyikan isi hati mereka darinya, menutupi pembicaraan mereka, mengalihkan kepercayaan dan menjauhkan urusan mereka darinya, mengkhawatirkannya terhadap agama dan kehidupan mereka, tidak mengundangnya ke majlis-majlis mereka, tidak mempercayainya untuk mengetahui rahasia mereka, dan tidak menjadikannya sebagai hakim dalam persengketaan mereka (2) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">Catatan kaki : </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">(1) Wahab bin Munabih bin Kamil Al-Yamani Ash-Shan&#8217;ani, seorang tabi&#8217;i yang tsiqah. Riwayat hidupnya disebutkan dalam &#8220;Tahdzibut Tahdzib&#8221; (II : 166) dan &#8220;Hilyatul Auliya&#8221;" (IV:23). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">(2). Dikeluarkan oleh Abu Nu&#8217;aim dalam &#8220;Al-Hilyah&#8221; (IV: 36-37). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">Diketik dari buku : Wasiat para salaf, Salim bin &#8216;Ied Al Hilali , PustakaAt Tibyan (hal 96-99) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"> </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jilbab.or.id/archives/251-wasiat-wahab-bin-munabbih-tentang-akhlak-mulia-arsip/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
