<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Jilbab Online &#187; Nikah</title>
	<atom:link href="http://jilbab.or.id/archives/category/fiqih-muslimah/nikah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jilbab.or.id</link>
	<description>-- Cocok Untuk Akhowat, Perlu Untuk Ikhwan --</description>
	<lastBuildDate>Sat, 06 Mar 2010 23:31:33 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Indahnya Rumah Tangga di Bawah Naungan Manhaj  Nubuwwah</title>
		<link>http://jilbab.or.id/archives/922-indahnya-rumah-tangga-di-bawah-naungan-manhaj-nubuwwah/</link>
		<comments>http://jilbab.or.id/archives/922-indahnya-rumah-tangga-di-bawah-naungan-manhaj-nubuwwah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 Jan 2010 21:50:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>JO admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Nikah]]></category>
		<category><![CDATA[rumah tangga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jilbab.or.id/?p=922</guid>
		<description><![CDATA[


Oleh Ust. Abu Ahmad bin Syamsyuddin
Rumah Tangga Sebuah Amanah
Kewajiban paling utama, tanggung jawab paling besar, dan amanah paling berat adalah pendidikan terhadap keluarga dan bimbingan untuk rumah tangga, berawal dari diri sendiri kemudian istri, anak-anak , dan kerabatnya. Inilah yang dimaksud firman Alloh:
يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارً۬ا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ عَلَيۡہَا مَلَـٰٓٮِٕكَةٌ غِلَاظٌ۬ [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center">
<p style="text-align: center"><img class="size-full wp-image-927 aligncenter" src="http://jilbab.or.id/wp-content/uploads/2010/01/63.jpg" alt="63" width="258" height="196" /></p>
<p style="text-align: center">
<p style="text-align: center"><span style="color: #000000">Oleh Ust. Abu Ahmad bin Syamsyuddin</span></p>
<p><span style="color: #800080"><strong>Rumah Tangga Sebuah Amanah</strong></span></p>
<p><span style="color: #000000">Kewajiban paling utama, tanggung jawab paling besar, dan amanah paling berat adalah pendidikan terhadap keluarga dan bimbingan untuk rumah tangga, berawal dari diri sendiri kemudian istri, anak-anak , dan kerabatnya. Inilah yang dimaksud firman Alloh:</span></p>
<p><span style="color: #000000">يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارً۬ا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ عَلَيۡہَا مَلَـٰٓٮِٕكَةٌ غِلَاظٌ۬ شِدَادٌ۬ لَّا يَعۡصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمۡ وَيَفۡعَلُونَ مَا يُؤۡمَرُونَ (﻿٦﻿)</span></p>
<p><span style="color: #000000"><em>Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api naar yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa ang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. 66:6)</em></span></p>
<p><span style="color: #000000"><em><span id="more-922"></span></em>Pendidikan keluarga bukan sekedar kegiatan sambilan, pemikiran sedeharna, atau upaya ala kadarnya. Namun pendidikan keluarga merupakan kebutuhan asasi dan masalah yang sangat urgen serta memiliki konsekuensi jauh ke depan dalam menentukan masa depan rumah tangga. Seorang muslim harus bertanggung jawab atas segala kekurangan dan kesesatan yang terjadi di tengah keluarganya. Dari Ibnu Umar Rodhiyalloohu ‘Anhuma berkata: aku mendengar Rosulullooh Shololloohu ‘alaihi wassallam bersabda:</span></p>
<p><span style="color: #000000"><strong>“</strong><strong><em>Kamu sekalian adalah pemimpin, dan </em></strong><strong><em>akan diminta </em></strong><strong><em>tanggung</em></strong><strong><em> </em></strong><strong><em>jawab</em></strong><strong><em> </em></strong><strong><em>atas </em></strong><strong><em>ke</em></strong><strong><em>pimpin</em></strong><strong><em>an</em></strong><strong><em>nya</em></strong><strong><em>, s</em></strong><strong><em>eorang </em></strong><strong><em>imam</em></strong><strong><em> adalah pemimpin, dan </em></strong><strong><em>akan diminta </em></strong><strong><em>tanggung</em></strong><strong><em> </em></strong><strong><em>jawab</em></strong><strong><em> </em></strong><strong><em>atas kepemimpinannya</em></strong><strong><em> dan seorang</em></strong><strong><em> laki-laki </em></strong><strong><em>adalah</em></strong><strong><em> pemimpin dan </em></strong><strong><em>akan diminta </em></strong><strong><em>tanggung</em></strong><strong><em> </em></strong><strong><em>jawab</em></strong><strong><em> </em></strong><strong><em>atas atas kepemimpinannya</em></strong><strong><em>, dan wanita adalah penanggung jawab terhadap rumah suaminya </em></strong><strong><em> dan </em></strong><strong><em>akan diminta </em></strong><strong><em>tanggung</em></strong><strong><em> </em></strong><strong><em>jawa</em></strong><strong><em>bnya</em></strong><strong><em>, </em></strong><strong><em>serta pembantu penanggung jawab atas harta benda majikannya dan akan diminta </em></strong><strong><em>tanggung</em></strong><strong><em> </em></strong><strong><em>jawa</em></strong><strong><em>bnya</em></strong><strong><em>”</em></strong><strong><em>.</em></strong><strong><em> </em></strong><em>(</em><em>Shohih, diriwayatkan oleh</em><em> Bukh</em><em>o</em><em>ri</em><em> dalam </em><em>Shohih</em><em>-nya: 893, 2409, 2554, 2558, 2571, 5188, dan 7138. </em><em> Muslim</em><em> dalam </em><em>Shohih</em><em>-nya: 4701, dan Tirmidzi dalam </em><em>Sunan</em><em>-nya: 1705)</em><em> </em></span></p>
<p><span style="color: #000000">Keluarga yang baik merupakan nikmat yang paling agung dan karunia yang palingberharga dan tidak ada yang mampu menghargai dan mengenali nilainya kecuali orang yang telah memiliki keluarga hancur dan rumah tangga berantakan sehingga kehidupan laksana terkurung oleh hawa neraka, dan hari-harinya hampir diwarnai perih dan pilu karena keluarga berantakan.</span></p>
<p><span style="color: #800080"><strong>Bekal Membina Rumah Tangga</strong></span></p>
<p><span style="color: #000000">Ketahuilah bahwa berbagai macam problem kehidupan dalam rumah tangga sering timbul akibat kebodohan terutama terhadap ilmu agama. Dan sebagai obatnya adalah belajar, sebagaimana sabda Nabi Shololloohu ‘alaihi wassallam kepada para sahabat Rodhiyalloohu ‘Anhuma:</span></p>
<p><span style="color: #000000"><em>“Mengapa mereka tidak bertanya jika tidah tahu? Sesungguhnya obat kebodohan adalah bertanya”.</em> (Hasan, diriwayatkan Imam Abu Dawud dalam <em>Sunan</em>-nya: 337 dan Ibnu Majah dalam Sunan-nya:572. Dan dihasankan syaikh al-Albani dalam Shohih <em>Sunan </em>Abu Dawud: 337)</span></p>
<p><span style="color: #000000">Kedunguan hati dari ilmu dan kebisuan lisan dari berbicara dinyatakan sebagai penyakit. Dan obatnya adalah bertanya kepada ulama, sehingga meraih ilmu yang bermanfaat, sebab ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang terpancar dari lentera Al-Qur’an dan as-Sunnah sesuai dengan pemahaman  para sahabat dan tabi’in , termasuk perkara yang terkait dengan ma’rifat kepada Alloh, hukum halal-haram, zuhud, kebersihan hati dan akhlaq mulia, serta mengatur kehidupan rumah tangga.</span></p>
<p><span style="color: #000000">Ilmu yang bermanfaat berfungsi sebagai pemusnah secara tuntas dua penyakit rohani yang paling berbahaya dan menjadi biang penyakit hati yaitu syubhat dan syahwat. Maka sebagai seorang pendidik, sebelum membina keluarganya, harus membekali dirinya dengan ilmu agama yang cukup. Sehingga dengan bekal ilmu agama yang bermanfaat, semua urusan rumah tangga menjadi mudah dan berdakwah di tengah keluarga menjadi lancar. Apalagi bila ilmu telah meresap ke dalam hati maka akan melenyapkan penyakit syubhat dan syahwat, mencabut kedua penyakit itu sampai ke akar-akarnya. Ibaratnya orang yang sedang minum obat, segala macam kuman akan hancur dan musnah, sementara obat yang paling manjur adalah obat yang cepat meresap ke dalam tubuh dan tidak membuat kuman kebal, tetapi untuk memusnahkan.</span></p>
<p><span style="color: #800080"><strong>Akhlaq Seorang Pendidik</strong></span></p>
<p><span style="color: #000000">Seorang pembina rumah tangga harus berilmu, berperangai lemah lembut, bersabar dalam mendidik, sehingga akan memberikan kesan yang baik pada keluarga, seperti firman Alloh Subhannahu Ta’ala:</span></p>
<p><span style="color: #000000">فَبِمَا رَحۡمَةٍ۬ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمۡ‌ۖ وَلَوۡ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلۡقَلۡبِ لَٱنفَضُّواْ مِنۡ حَوۡلِكَ‌ۖ فَٱعۡفُ عَنۡہُمۡ وَٱسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ وَشَاوِرۡهُمۡ فِى ٱلۡأَمۡرِ‌ۖ فَإِذَا عَزَمۡتَ فَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُتَوَكِّلِينَ (﻿١٥٩﻿)</span></p>
<p><span style="color: #000000"><em>Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.</em> (QS. Ali Imran [3]: 159)</span></p>
<p><span style="color: #000000">Syaikhul islam Ibnu taimiyah Rohimahulloh berkata:</span></p>
<p><span style="color: #000000"><em>“Hendaknya tidak menyeru kebaikan dan melarang kemungkaran kecuali setelah memiliki tiga bekal: berilmu sebelum menyeru kebaikan dan melarang kemungkaran, berperangai lemah lembut ketika menyeru kebaikan dan melarang kemungkaran, serta bersabar setelah menyeru kebaikan dan melarang kemungkaran.”</em> (al-Amr bil Ma’ruf wan Nahyu ‘anil Munkar, Ibnu Taimiyah, hal. 57)</span></p>
<p><span style="color: #000000">Hendaknya seorang pendidik paling terdepan dalam memberi contoh karena sangat berat ancaman orang yang tidak konsekuen terhadap ajakannya, sebagaimana sabda Nabi Shololloohu ‘alaihi wassallam:</span></p>
<p><span style="color: #000000">“<em>Nanti pada hari kiamat ada seseorang didatangkan lalu dilemparkan ke dalam neraka, maka ususnya keluar. Lalu ia berputar-putar di sekitar penggilingan. Kemudian penghuni neraka mengerumuninya dan bertanya, ‘Hai Fulan, ada apa denganmu? Bukankah kamu yang menyeru kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran?’ Ia menjawab, ‘Ya, aku telah menyeru kepada kebaikan tetapi aku sendiri tidak mengerjakannya dan aku melarang orang dari kemungkaran tetapi aku sendiri mengerjakannya.”</em> (Shohih, diriwayatkan Imam Bukhori dalam <em>Shohih</em>-nya: 3267, 7098. Dan Imam Muslim dalam <em>shohih-</em>nya: 7408)</span></p>
<p><span style="color: #000000">Hadits shohih di atas memberi petunjuk bahwa orang yang mengetahui kebaikan dan kemungakaran lalu melanggarnya lebih berat siksaannya daripada orang yang tidak mengetahuinya karena ia seperti orang yang menghina larangan Alloh dan meremehkan syari’at-Nya, sehingga ia termasuk ahli ilmu yang tidak bermanfaat ilmunya.</span></p>
<p><span style="color: #800000"><strong>Wahai saudaraku, para suami&#8230;</strong></span></p>
<p><span style="color: #000000"><strong> </strong>Wahai sang suami, sungguh engkaulah pemegang kendali rumah tangga, ikatan pernikahan dan perjanjian yang berat, karena Alloh berfirman:</span></p>
<p><span style="color: #000000">&#8230;.. وَّاَخَذۡنَ مِنۡكُمۡ مِّيۡثَاقًا غَلِيۡظًا</span></p>
<p><span style="color: #000000"><em>Dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat. (QS. 4:21)</em></span></p>
<p><span style="color: #000000">Anda telah memikul tanggung jawab, memegang amanat dan beban rumah tangga. Hubungan penikahan merupakan kemuliaan bagi laki-laki dan perempuan, maka secara fitroh dan naluri masing-masing memiliki tugas hidup agar kehidupan rumah tangga berjalan normal dan lurus seperti firman Alloh:</span></p>
<p><span style="color: #000000">ٱلرِّجَالُ قَوَّٲمُونَ عَلَى ٱلنِّسَآءِ بِمَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بَعۡضَهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٍ۬ وَبِمَآ أَنفَقُواْ مِنۡ أَمۡوَٲلِهِمۡ‌ۚ فَٱلصَّـٰلِحَـٰتُ قَـٰنِتَـٰتٌ حَـٰفِظَـٰتٌ۬ لِّلۡغَيۡبِ بِمَا حَفِظَ ٱللَّهُ‌ۚ وَٱلَّـٰتِى تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَٱهۡجُرُوهُنَّ فِى ٱلۡمَضَاجِعِ وَٱضۡرِبُوهُنَّ‌ۖ فَإِنۡ أَطَعۡنَڪُمۡ فَلَا تَبۡغُواْ عَلَيۡہِنَّ سَبِيلاً‌ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيًّ۬ا ڪَبِيرً۬ا (﻿٣٤﻿)</span></p>
<p><span style="color: #000000"><em>Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka [laki-laki] atas sebahagian yang lain [wanita], dan karena mereka [laki-laki] telah menafkahkan sebagian dari harta  mereka. </em>(QS. An-Nisa’ [4]: 34)</span></p>
<p><span style="color: #000000">Upayakanlah kendali rumah tangga, terutama isterimu, tetap berada di tanganmu. Jangan bersikap lemah dan tidak berwibawa serta tidak berdaya di hadapan tuntutan dan tekanan isterimu, akhirnya ia menghinamu, memperbudakmu, dan merendahkanmu sehingga kehidupan rumah tanggamu berantakan bagaikan neraka. Begitu pula, jangan engkau menghinanya dan menzholiminya, serta menganggapnya seperti barang tak berguna, sebab sikap semena-mena terhadap orang yang lemah seperti isterimu menunjukkan kerdilnya sebuah kepribadian. Terimalah kebaikan yang telah diberikan kepadamu dengan senang hati dan bersabarlah atas berbagai kekurangannya, serta jangan mengangan-angankan kesempurnaan darinya karena dia diciptakan oleh Alloh dari tulang rusuk yang bengkok sebagaimana sabda Rosululloh Shololloohu ‘alaihi wassallam:</span></p>
<p><span style="color: #000000">((إِنَّ الْمَرْأَةََ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ, لَنْ تَسْتَقِيْمَ لَكَ عَلَى طَرِيْقَةٍ, فَإِنِ اسْتَمْتَعْتَ بِهَا اِسْتَمْتَعْتَ بِهَا وَفِيْهَا عِوَجٌ, وَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيْمُهَا كَسَرْتَهَا وَكَسْرُهَا طَلاَقُهَا))<br />
<em>&#8220;Sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk, ia tidak bisa lurus bersamamu di atas satu jalan. Jika kamu menikmatinya maka kamu menikmatinya dalam kondisi bengkok, namun bila anda ingin  meluruskannya, maka boleh jadi patah dan patahnya adalah talak.”</em> (Shohih, diriwayatkan Imam Muslim dalam <em>Shohih</em>-nya: 3631)</span></p>
<p><span style="color: #800000"><strong>Wahai saudaraku, para isteri&#8230;</strong></span></p>
<p><span style="color: #000000">Setiap kesalahan yang dilakukan seorang isteri, perasaan mengikuti hawa nafsu, sikap terlalu cemburu, atau was-was hanya merupakan bisikan setan dan bersumber dari lemahnya iman kepada Alloh, sehingga rumah tangga berubah meikan bagnjadi berantakan laksana neraka dan rumah tangga menjadi porak-poranda bagaikan bangunan disambar halilintar; akibatnya, semua pihak menyesali pernikahan tersebut. Atau boleh jadi karena kesalahan isteri menjadi penyebab talak (perceraian), kemudian jiwa menjadi goncang dan ditimpa kegelisahan yang sangat berat.</span></p>
<p><span style="color: #000000">Betapa indahnya bila anda meluruskan hati, ahlak, dan tabiat ketika bergaul dengan suami dan kerabat suami anda. Betapa eloknya bila anda selalu menggunakan akal sehat dan kesabaran dalam setiap menghadapi urusan rumah tangga. Betapa mulianya ketika seorang isteri mampu menjadi pendamping setia bagi suami, dan betapa agung kedudukannya di hati sang suami bahkan ia mampu memikat perasaan suami ketika sang isteri berkata: “Aku mendengar dan mentaati”.</span></p>
<p><span style="color: #000000">Semoga saudariku muslimah mendapa taufiq dan hidayah dengan etika Islam, mau menyempurnakan akal pikiran dengan ilmu dan ma’rifah, dan menyembuhkan hatinya dengan keimanan kepada Alloh, sehingga kehidupan penuh dengan suasana bahagia dan hidup bersama sang suami penuh dengan ketenangan dan ketentraman serta kegembiraan.</span></p>
<p><span style="color: #000000">Wahai para isteri, tunaikanlah kewajibanmu terhadap suamimu, niscaya engkau akan mendapat kasih sayang dan cintanya!.</span></p>
<p><span style="color: #ff00ff"><strong>Kewajiban Seorang Suami</strong></span></p>
<p><span style="color: #000000">Kewajiban sebagai seorang suami banyak sekali namun yang terpenting antara lain:</span></p>
<p><span style="color: #000000">1.  Kewajiban materi meliputi pemberian nafkah, kebutuhan pakaian, dan kebutuhan pendidikan keluarga serta kebutuhan tempat tinggal</span></p>
<p><span style="color: #000000">2.  Tidak boleh memberatkan isteri dengan mengajukan berbagai tuntutan kebutuhan di luar kemampuannya, dan tidak boleh membuat suasana kacau karena permasalahan sepele, sebagaimana yang telah diwasiatkan Rosululloh Shololloohu ‘alaihi wassallam:</span></p>
<p><span style="color: #000000"><em>“Ingatlah dan berwasiatlah kepada wanita dengan kebaikan, karena mereka berada disisimu bagaikan pelayan, dan kalian tidak bisa memiliki lebih dari itu kecuali mereka telah melakukan perbuatan keji yang jelas</em>.”(Shohih, diriwayatkan Tirmidzi dalam <em>Sunan</em>-nya: 1163 dan Ibnu Majah dalam <em>Sunan</em>-nya: 1851)</span></p>
<p><span style="color: #000000">3.  Kewajiban non materi seorang suami meliputi menggembirakan isteri dan bersikap lemah lembut dalam bertutur kata. Sang suami harus bermusyawarah dan mengambil pendapat sang isteri dalam rangka menunaikan kebaikan. Begitu juga, sang suami harus berterima kasih atas jerih payah isterinya, dan tidak boleh mendiamkan di atas tiga hari karena urusan keduniaan.</span></p>
<p><span style="color: #000000">4.  Hendaknya seorang suami memberi kesempatan bagi isterinya untuk beramal sholih, bersedekah dengan hartanya, memberi hadiah, menyambut tamu dari keluarga dan kerabatnya, serta setiap orang yang mempunyai hak atasnya.</span></p>
<p><span style="color: #000000">5.  Hendaknya mengambil waktu yang cukup untuk tinggal di rumah dan berusaha semaksimal mungkin menghindari keluar rumah tanpa tujuan dan sering berpergian, sering keluar rumah untuk bergadang tanpa manfaat, karena yang demikian itu bisa membawa kehancuran.</span></p>
<p><span style="color: #000000">6.  Hendaknya sang suami tidak melarang isterinya berkunjung kepada keluarga dan kerabatnya, asal tidak berlebihan.</span></p>
<p><span style="color: #000000">7.  Wanita dalah mahluk yang lemah, maka wajib bagi laki-laki memberi perhatian cukup, melarangnya keluar ke pasar dan lainnya seorang diri, dan harus menjauhkannya dari tempat yang i<em>khtilath</em> (bercampur) dan <em>kholwah</em></span> (berduaan/menyepi) dengan laki-laki lain. Begitu juga seorang suami harus menjauhkan sasuatu yang merusak aqidah dan akhlaq keluarganya, dan menyingkirkan segala sarana maksiat yang menghancurkan kehormatan, seperti alat musik.</p>
<p><span style="color: #000000">8.  Seorang suami harus mengajarkan kepada isterinya ilmu agama dan mendidiknya di atas kebaikan, serta menyiapkan segala kebutuhannya dalam rangka meraih ilmu dan istiqomah dalam beragama sesuai dengan ajaran Alloh</span></p>
<p><span style="color: #ff00ff"><strong>Kewajiban Seorang Isteri</strong></span></p>
<p>Di antara Kewajiban sebagai Seorang Isteri yang paling utama dan prinsip, antara lain:</p>
<p>1.<span style="color: #000000"> Mentaati dan mematuhi perintah suami selagi tidak menganjurkan maksiat kepada Alloh, karena tidak ada ketaatan kepada mahluk bila menganjurkan kepada maksiat dan pelanggaran kepada Alloh, seperti sabda Rosululloh Shololloohu ‘alaihi wassallam:</span></p>
<p><span style="color: #000000"><em>“Tidak ada ketaatan bagi orang yang bermaksiat kepada Allah Subahanahu wa Ta’ala”</em>. (Shahih. Diriwayatkan Muslim dalam <em>Shahih-</em>nya: 4840, at-Tirmidzi dalam <em>Sunan</em>-nya: 1707 dan Ibnu Majah dalam <em>Sunan-</em>nya: 2865 dengan lafazh Ibnu Majah serta dishahihkan Syaikh al-Albani.)</span></p>
<p><span style="color: #000000"> 2.  Dalam bidang materi, seorang isteri harus memberikan pelayanan fisik, baik yang berkaitan dengan kebutuhan pribadi suami atau rumah tangganya, sehingga ibadah <em>nafilah</em> (sunnah) menjadi gugur demi menunaikan tugas tersebut.</span></p>
<p><span style="color: #000000">Dari Abu Hurairoh sesungguhnya Rosululloh Shololloohu ‘alaihi wassallam: bersabda:</span></p>
<p><span style="color: #000000"><em>“Tidak boleh bagi seorang isteri berpuasa (sunnat) sementara suami ada di rumah kecuali atas izinnya (suami), tidak boleh ia mengizinkan orang lain masuk rumahnya kecuali atas izinnya (suami), dan setiap harta suami yang diinfaqkan sang isteri tanpa seizinnya, maka sang suami mendapatkan pahala separuh baginya.”</em> (Shohih, diriwayatkan Imam Bukhari dalam <em>Shahih</em>-nya: 2066 dan 5360, Imam Muslim dalam <em>Shahih</em>-nya: 2367 dan Abu Dawud dalam <em>Sunan</em>-nya: 1687, 2458).</span></p>
<p><span style="color: #000000"> 3.  Dalam bidang rohani, seorang isteri harus menjaga perasaan suami dan menciptakan suasana tenang dan kondusif dalam rumah tangga serta membantu meringankan beban dan penderitaan yang menimpa suaminya.</span></p>
<p><span style="color: #000000"> 4.  Dalam bidang kesejahteraan, seorang isteri harus mengingatkan suami tentang kebaikan, membantu dalam kebajikan dan ketaatan, membantu dalam bidang sosial, menyantuni fakir miskin dan membantu orang-orang yang lemah untuk memenuhi kebutuhan mereka.</span></p>
<p><span style="color: #000000"> 5.  Dalam bidang pendidikan, seorang isteri harus membantu suami dengan jiwa raga dan menerima segala nasehat dan arahannya. Begitu juga dia harus membantunya dalam mendidik dan meluruskan adab anak-anak serta menghindarkan sikap antipati dan masa bodoh terhadap masa depan pendidikan anak-anak.</span></p>
<p><span style="color: #000000"> 6. Hendaklah seorang isteri tidak mengajukan tuntutan nafkah atau lainnya yang memberatkan suami atau mempersulit suami.</span></p>
<p><span style="color: #000000">7.  Tidak berkhianat dalam dirinya, harta benda suami dan rahasia-rahasianya</span>.</p>
<p><span style="color: #800080"><strong>Balasan Bagi Rumah Tangga yang Berhasil</strong></span></p>
<p>Tiada amal sholih yang dianggap sia-sia oleh agama. Setiap kebaikan sekecil apapun pasti mendapat balasan. Setiap benih kebaikan yang disemai di ladang subur, pada musim panen pasti akan memetik hasilnya, maka suami dan isteri yang telah membina rumah tangga yang baik dan mengerahkan berbagai macam pengorbanan untuk mendidik keluarga. Alloh akan memberi balasan yang besar. Cukuplah balasan nikmat baginya berupa sanjungan, pujian, dan pahala yang besar setelah wafatnya, seperti yang telah ditegaskan sebuah hadits dari Abu Hurairoh Rodhiyalloohu ‘anhu ia berkata bahwa Rosululloh Shololloohu ‘alaihi wassallam bersabda:</p>
<p>“<em>Jika manusia meninggal maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara,: shodaqoh jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholih yang mendo’akannya</em>.” (HR. Bukhori 7/247 no.6514, dan Muslim 3/1016 no.1631)</p>
<p>Balasan yang lebih besar lagi, ia dikumpulkan di surga bersama para kekasih dan kerabatnya dalam satu tempat tinggal di surga, sebagai karunia dan balasan yang baik dari Alloh, seperti firman Allohu ta’ala:</p>
<p>وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَٱتَّبَعَتۡہُمۡ ذُرِّيَّتُہُم بِإِيمَـٰنٍ أَلۡحَقۡنَا بِہِمۡ ذُرِّيَّتَہُمۡ وَمَآ أَلَتۡنَـٰهُم مِّنۡ عَمَلِهِم مِّن شَىۡءٍ۬‌ۚ كُلُّ ٱمۡرِىِٕۭ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ۬ (﻿٢١﻿)</p>
<p><em>Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka.Tiap-tiap manusia terikat dengan apayang dikerjakannya. (QS. 52:21)</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em>Pembinaan rumah tangga secara baik, mampu mengangkat martabat, memperbaiki nasib rezeki, mengukir prestasi, memelihara moral generasi, dan menanggulangi dekadensi sehingga membuat hati tenang dan jiwa lapang. Maka pembinaan harus berbasis penumbuhan kesadaran, keimanan, ketaqwaan dan pengendalian diri, serta mampu membentuk suasana damai dan mesra sehingga perasaan kasih sayang tumbuh subur. Allohu musta’an</p>
<p><em>Diketik ulang oleh Ummu Tsaqiif al-Atsariyyah dari majalah Mawaddah Edisi 1 Tahun ke-1 (1428/2007) untuk </em><a href="../"><em>http://jilbab.or.id</em></a><em>)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jilbab.or.id/archives/922-indahnya-rumah-tangga-di-bawah-naungan-manhaj-nubuwwah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Suamiku Super Ganteng…</title>
		<link>http://jilbab.or.id/archives/849-suamiku-super-ganteng%e2%80%a6/</link>
		<comments>http://jilbab.or.id/archives/849-suamiku-super-ganteng%e2%80%a6/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Oct 2009 02:07:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>JO admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Nikah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jilbab.or.id/?p=849</guid>
		<description><![CDATA[Mas Budi –sebut saja begitu- tersenyum. Sejenak ia memandang wajah istrinya. Agak heran, “Ada apa, ya, dengan istriku, kok pakai memuji segala?” Begitulah salah satu reaksi suami ketika pertama kali menjumpai sang istri memuji dirinya. Hampir semua suami pasti senang mendengarnya,tak jarang malah melambung tinggi ke udara, apalagi yang memuji tersebut adalah orang yang paling [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mas Budi –sebut saja begitu- tersenyum. Sejenak ia memandang wajah istrinya. Agak heran, “Ada apa, ya, dengan istriku, kok pakai memuji segala?” Begitulah salah satu reaksi suami ketika pertama kali menjumpai sang istri memuji dirinya. Hampir semua suami pasti senang mendengarnya,tak jarang malah melambung tinggi ke udara, apalagi yang memuji tersebut adalah orang yang paling dicintai. Memuji suami adalah sesuatu yang dianjurkan bagi para istri.Ini termasuk perkara yang terpuji dalam rangka menyenangkan hati suami. Bila ikhlas dilakukan demi sang suami tercinta, insya Alloohu Ta’ala berpahala.</p>
<p><span id="more-849"></span><strong>Kaum Adam pun Sama</strong></p>
<p>Urusan puji memuji bukan hanya spesial buat kaum wanita. Pria pun ingin dan butuh suatu pujian. Kalau para suami itu mau jujur, sebenarnya perasaan mereka tidak jauh beda dengan para istri, dalam hal keinginan untuk dipuji.</p>
<p>Pujian, bagi kita menandakan suatu penghargaan terhadap kelebihan atau usaha jerih payah kita. Sudah jadi kodratnya, manusia itu suka dihargai dan berharap sekali setiap orang menghargai terlebih istri tercinta.</p>
<p>Reaksi suami ketika dipuji pun tak beda jauh dengan para istri. Tersenyum, tertawa, malu-malu, atau yang lainnya sebagaimana umum terjadi pada wanita.</p>
<p><strong>Yang boleh dan dilarang</strong><br />
Pada asalnya hukum memuji boleh-boleh saja. Kapan pun dan buat siapa pun. Namun, ada pengecualian dan itu termasuk pujian yang dilarang, yaitu jika pujian kita tersebut berlebihan, atau ada tujuan tertentu yang bertentangan dengan syariat agama, seperti menjilat atasan, dan lain sebagaimanya. Termasuk juga dalam larangan yaitu pujian yang membuat sombong, sum’ah dan ujub.</p>
<p>Larangan memuji demikian itu diisyaratkan oleh Rasulullaah shalallahu’alaihi wassallaam,</p>
<blockquote><p>“Janganlah kalian mengagungkanku seperti yang diperbuat orang Nasrani terhadap Isa bin Maryam, karena sebenarnya aku tidak lebih dari hamba Allah. Sebut saja aku ini hamba Allah dan rasul-Nya (Riwayat Bukhari).</p></blockquote>
<p>Dari hadits di atas dapat diambil pelajaran bahwa pujian itu harus sesuai dengan kenyataan, tidak boleh berlebih-lebihan (sampai keluar dari yang sebenarnya).</p>
<p><strong>Saat tepat memuji suami</strong><br />
Agar manjur pujian Anda (para istri), hendaknya Anda tahu kapan saat yang tepat memuji sang suami. Karena saat yang tepat itulah akan tercapai tujuan, yaitu membuat suami ternyum, malu-malu, bahagia dan semakin cinta pada Anda.</p>
<p>Bagaimana caranya? Tips berikut insyaAllah bisa Anda pratikkan:</p>
<ol>
<li><strong>Puji suami saat berhasil dalam tugasnya</strong>, caranya:
<ul>
<li>Seusai suami menceritakan keberhasilannya dalam tugas (apa pun), peluklah dirinya dan bisikkan kata-kata mesra, seperti <em>I love you</em>, mas hebat deh, aku bangga dengan mas dan lain sebagainya</li>
<li>Cium suami sebagai tanda terima kasih atas pengorbanan dia demi membahagiakan keluarga</li>
<li>Butkan masakan spesial sebagai hadiah buat dirinya. Katakan kalau ini hadiah istimewa dari Anda, insya Allah suami akan tambah sayang</li>
</ul>
</li>
<li><strong>Puji suami sehabis ia mandi</strong>, caranya:
<ul>
<li>Sehabis mandi, saat ia sedang berhias memperganteng diri pujilah ia, <em>“Aduh, suamiku kok ganteng banget yah!”</em>. Yakinlah ia akan tersenyum atau malu-malu.</li>
<li>Cemburui dia saat tampil rapi, tunjukkan bahwa Anda takut kalau-kalau penampilannya tersebut membuat wanita lain meliriknya. Tunjukkan pula kalau Anda takut kehilangan dia.</li>
</ul>
</li>
<li><strong>Puji suami saat bangun tidur</strong>, caranya:
<ul>
<li>Baik bangun tidur untuk shalat malam maupun bangun tidur biasa, pujilah dirinya. Sambil tersenyum katakan, <em>“Mas, matanya sipit tambah cakep, deh!”</em> kemudian cium tangannya.</li>
<li>Tanyakan padanya minta dibuatkan masakan apa untuk sarapan atau makan siang. Ingatkan suami untuk segera mandi, sholat atau segera menyelesaikan pekerjaannya. Ini akan membuat suami merasa benar-benar diperhatikan.</li>
</ul>
</li>
<li><strong>Puji suami setelah membantu Anda</strong>, caranya:
<ul>
<li>Saat membantu, sediakan baginya minuman hangat atau sekedar camilan.</li>
<li>Cium tangannya, dan katakan, <em>“Mas adalah suami yang hebat, sayang banget sama istri, ya?”</em>. Sebagai penghargaan kepadanya karena sudah membantu pekerjaan Anda.</li>
<li>Tawari untuk memijat dirinya jika ia kelelahan.</li>
<li>Katakan padanya kalau nanti dirinya mengerjakan sesuatu dan butuh bantuansuruh bilang saja, Anda akan siap membantunya.</li>
</ul>
</li>
<li><strong>Puji suami sehabis jima’</strong>, caranya:
<ul>
<li>Pandangi wajah suami, ucapkan terima kasih padanya karena telah memberi yang terbaik buat Anda.</li>
<li>Segera mengambil minuman untuk suami, dan kalau bisa diminum bersama sebagai tanda sayang dan untuk menambah kemesraan.</li>
</ul>
</li>
</ol>
<p>Demikianlah sekelumit contoh sederhana dalam membahagiakan suami Anda wahai para Istri…</p>
<p><strong>Buat Anda, para Suami</strong><br />
Bila suami sering dipuji sang istri, itu artinya istri semakin sayang kepada Anda. Istri senang, bahagia dan bangga dengan apa yang Anda lakukan kepadanya dan berharap untuk senantiasa seperti itu, kalau bisa selamanya. Pujian istri juga bermakna bahwa Anda telah menyenangkan dirinya, membuatnya bahagia. Satu kisah dari Ibnu Abbas radhiallahu anhu seorang sahabat Nabi shalallahu’alaihi wassallaam, bisa menjadi pelajaran bagi Anda akan pentingnya menyenangkan hati istri, sebagaimana Anda juga berharap demikian. Ibnu Abbas radhiallahu anhu berkata,</p>
<blockquote><p>“Aku berdandan diri untuk kepentingan istriku sebagaimana ia berdandan untuk kepentinganku. Aku tidak mau hanya menikmati hakku dari dirinya tetapi aku pun ingin ia memperoleh haknya dariku. Karena Allah subhannahu ta’ala telah menyatakan,</p>
<blockquote><p>“…dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf..” (Al-baqarah: 228)</p></blockquote>
</blockquote>
<p>Dengan demikian, satu hal yang lumrah bila Anda harus berbuat yang terbaik buat sang istri tercinta. Namun perlu jadi catatan, apa pun pujian istri terhadap Anda tidak kemudian menjadikan Anda sombong atau ujub. Pula, jangan sampai setiap apa yang Anda lakukan buat istri bertujuan agar dipuji olehnya. Klau niatnya sudah begitu jelas hal tersebut keliru. Biarlah pujian itu keluar secara alamiah, bukan sesuatu yang menjadi niat Anda. Niat Anda tetap satu yaitu ingin menyenangkan hati istri, menyayangi dirinya, dan menjalankan perintah agama.karena yang demikian itu yang berpahala, selain itu berdosa. Wallaahu a’lam.</p>
<p>Oleh karena itu, kenapa harus berat atau malu untuk memuji sang kekasih hati? (Abu Zalfa)</p>
<p><strong>Rujukan:</strong></p>
<ol>
<li><strong>Bimbingan Islam untuk Pribadi dan Masyarakat</strong> oleh Syaikh Muhammad bin Zainu.</li>
<li><strong>40 Tanggung Jawab Suami Terhadap Istri</strong> oleh Drs. M. Thalib</li>
</ol>
<hr />Ditulis kembali dengan sedikit revisi oleh Ummu Tsaqiif dari majalah <strong>Nikah vol.2 No.10 2004</strong>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jilbab.or.id/archives/849-suamiku-super-ganteng%e2%80%a6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>27</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Inilah Cinta dan Kesetiaan !</title>
		<link>http://jilbab.or.id/archives/654-inilah-cinta-dan-kesetiaan/</link>
		<comments>http://jilbab.or.id/archives/654-inilah-cinta-dan-kesetiaan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 26 Jul 2009 21:47:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ummu Raihanah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Mu'amalah]]></category>
		<category><![CDATA[Nikah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jilbab.or.id/?p=654</guid>
		<description><![CDATA[Pada dirinya yang mulia sumber  teladan bagi setiap manusia yang berusaha menggapai ridha-Nya. Terpesona pada kehidupannya yang tak akan pernah habis dan puas di reguk oleh hamba-hambaNya yang merindukan surga-Nya.Sampai masalah kehidupan pribadinya pun begitu indah mempesona. Ia memberi teladan bagi para suami tentang arti cinta dan kesetiaan pada pasangannya yang sesungguhnya. Cinta itu tak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada dirinya yang mulia sumber  teladan bagi setiap manusia yang berusaha menggapai ridha-Nya. Terpesona pada kehidupannya yang tak akan pernah habis dan puas di reguk oleh hamba-hambaNya yang merindukan surga-Nya.Sampai masalah kehidupan pribadinya pun begitu indah mempesona. Ia memberi teladan bagi para suami tentang arti cinta dan kesetiaan pada pasangannya yang sesungguhnya. Cinta itu tak kan pernah lekang oleh ruang dan waktu yang di lewati manusia. Walau sang belahan jiwa tercinta telah keharibaan-Nya. Tapi cinta itu tetap membara di dalam dadanya yang suci dan mulia. Bila ia teringat pada sang kekasihnya tercinta yang telah tiada, bibirnya yang mulia tak kan jemu senantiasa menyebut namanya ,memujinya dan memintakan ampunan untuknya. Adakah para suami istri berhasrat untuk meneladani cinta dan kesetiaannya?<span id="more-654"></span></p>
<p>Duhai, para suami,&#8230;junjunganmu memberikan contoh yang sangat istimewa dan mulia. Tentang kisah cinta dan kesetiaannya yang telah disaksikan oleh istri-istrinya yang lain dan para sahabatnya yang mulia. Generasi seterusnya dan para ulamapun membukukannya dalam tulisan mereka. Sehingga kisah ini bukanlah dongengan ataupun khayalan semata. Akan tetapi ia nyata adanya dan bagi orang yang ingin menirunya tentu pahala menantinya. Tidakkah hatimu tergerak untuk mewujudkannya?</p>
<p>Rasulmu tercinta yang amat sangat mencintai umatnya adalah sangat menghargai jasa istrinya. Bukti penghargaan beliau ini diwujudkan dengan tidak menikahnya beliau dengan wanita lain ketika Khadijah radiyallahu anha masih hidup mendampinginya. Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari jalan Az-Zuhri dari Urwah radiyallahu anhu bahwa Aisyah radiyallahu anha berkata:</p>
<blockquote><p>“Nabi Shalallahu alaihi wassalam tidak menikahi wanita lain sampai khadijah wafat”</p></blockquote>
<p>Hal ini tidak diperselisihkan di kalangan ahli ilmu dan sejarawan yang menunjukkan betapa agungnya kedudukan khadijah radiyallahu anha dalam hati beliau, tidakkah engkau memikirkannya?</p>
<p>Wahai para istri,&#8230;mengapa sangat agung kedudukan Khadijah radiyallahu anha dalam hati beliau shalallahu alaihi wassalam?Karena ia telah memberikan pengorbanan dan jasa yang sangat besar dalam kehidupan suaminya tercinta.Ia tak kenal  lelah dan letih begitu setia mendampingi  Rasulullah shalallahu alaihi wassalam dalam berdakwah mengenalkan islam pada masyarakat Quraisy waktu itu, sehingga sang suami mendapat berbagai cobaan, ujian dan kesulitan dalam hidupnya. Ia korbankan harta bendanya untuk sang suami tercinta di jalan dakwahnya, memberikan dukungan, ketenangan dan kasih sayang yang melimpah ruah dalam rumah tangganya.Mendidik anak-anak beliau sehingga menjadi penyejuk mata bagi keduanya.Inilah sosok istri teladan yang patut  bagi setiap muslimah untuk mencontohnya dan mempersembahkannya untuk suami tercinta sehingga rumah tangga setiap muslim menjadi kokoh dan kuat bangunannya.Wajarlah bila Allah Azza wa jalla memberikan kabar gembira atas jasa-jasa beliau ini berupa istana di surga.Dari Abu Hurairah radiyallahu anhu bahwa suatu ketika malaikat Jibril mendatangi Rasulullah shalallahu alaihi wassalam dia berkata :</p>
<blockquote><p>”Wahai Rasulullah, itu Khadijah telah datang membawa makanan atau minuman. Kalau sudah tiba, sampaikan salam kepadanya dari Allah dan dariku, dan berilah kabar gembira bahwa telah di sediakan untuknya sebuah istana di surga yang terbuat dari intan permata dan di istana tersebut tidak ada keributan maupun keletihan”</p></blockquote>
<p>Selain itu atas jasa besar Khadijah radiyallahu anha yang sangat tulus dalam memperjuangkan islam akhirnya beliaupun berhak menyandang gelar sebagai wanita yang terbaik pada umat ini. Dari Ali bin Abu Thalib Radiyallahu anhu bahwa Rasulullah Shalalahu alaihi wassalam bersabda:</p>
<blockquote><p>“Wanita mereka yang terbaik adalah Maryam (yakni kepada umat yang didalamnya terdapat Maryam)dan wanita umat ini yang terbaik adalah Khadijah “</p></blockquote>
<p>Bukankah Allah sangat cepat hisabnya wahai saudariku,&#8230;Tidaklah Dia membalas kebaikan melainkan dengan kebaikan  bahkan yang berlipat ganda, dan tidakkah kita ingin meraihnya?</p>
<p>Untuk para suami yang berusaha membahagiakan sang istri tercinta,&#8230;walau Khadijah radiyallahu anha  telah tiada penghormatan beliau padanya tetap seperti di masa hidupnya . Beliau senantiasa memberikan hadiah pada kerabat dan kawan-kawan istrinya sebagai bukti nyata cinta beliau bukan hanya isapan jempol belaka.Sehingga perbuatan beliau ini membuat Aisyah radiyallahu anha sangat cemburu, Aisyah berkata :</p>
<blockquote><p>“Aku tidak pernah cemburu kepada satupun diantara istri-istri Rasulullah shalallahu alaihi wassalam seperti cemburuku kepada Khadijah. Aku tidak melihatnya, akan tetapi Rasulullah sering menyebut namanya. Terkadang beliau menyembelih  kambing, lalu memotong-motongnya, kemudian membagi-bagikannya kepada kawan-kawan Khadijah.Pernah aku berkata pada beliau, ‘Seolah-olah tidak ada perempuan lain di dunia ini selain Khadijah?” Beliau menjawab : “Dia dulu begini dan begitu. Dan darinya pula aku punya anak”</p></blockquote>
<p>Tentang perkataan Aisyah<strong>”&#8230;akan tetapi Rasulullah sering sekali menyebut namanya”</strong> Ibnu Hajar berkata bahwan dalam riwayat Abdullah al-Bahiyy dari Aisyah sebagaimana di sebutkan dalam Kitab Ath-Thabrani <strong>“beliau menyebut nama Khadijah, tidak bosan-bosan memujinya dan beristighfar untuknya”</strong></p>
<p>Tentang perkataan Rasulullah Shalalahu alaihi wassalam : <strong>“Dia dahulu begini dan begitu”</strong> Ibnu Hajar berkata bahwa maksudnya dia adalah <strong>wanita mulia, cerdas dan sejenisnya</strong>.</p>
<p>Dalam kitab Al-Musnad Imam Ahmad menyebutkan riwayat Masruq dari Aisyah bahwa Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam bersabda:</p>
<blockquote><p>“Dia beriman kepadaku ketika orang-orang ingkar, membenarkanku ketika orang-orang mendustakanku, membantuku dengan hartanya ketika orang-orang tidak mau memberi bantuan, dan Allah Subhanahu wa ta’ala memberiku anak darinya ketika Dia tidak memberiku anak dari wanita lain”.</p></blockquote>
<p>Imam Nawawi berkata  : “Hadits-hadits ini merupakan dalil kesetiaan, penjagaan cinta kasih, dan penghormatan kepada pasangan hidupnya baik semasa hidup maupun setelah mati, serta penghormatan kepada para kenalan teman hidup tersebut”..</p>
<p>Jasa istrinya selalu beliau kenang sepanjang masa, sepanjang perjalanan hidupnya. Beliau begitu setia, santun, memiliki pergaulan yang baik dengan istrinya, menjaga kehormatan hidup istrinya baik di saat hidup maupun setelah tiada serta memuliakan kerabat dan teman-temannya.Cintanya tak pernah lekang di makan usia bahkan beliau tetap setia mencintainya ,senantiasa menyebut namanya. Betapa indahnya!</p>
<blockquote><p>Aisyah berkata bahwa Haalah binti Khuwailid saudara perempuan Khadijah meminta izin bertemu Rasulullah Shalallahu alihi wassalam. Saat itu beliau teringat akan cara minta izinnya Khadijah yaitu cara minta ijin Haalah yang mirip dengan Khadijah. Beliaupun terkenang dan terkejut dengan berkata “ Ya, Allah itu Haalah!” Aisyah yang melihat sikap beliau ini menjadi sangat cemburu. Aku berkata pada beliau :”Untuk apa engkau mengingat-ingat perempuan tua yang sudah tanggal giginya (ompong) dan sudah lama mati, padahal Allah telah memberimu ganti yang lebih baik darinya”</p></blockquote>
<p>Tidakkah engkau melihat kecemburuan Aisyah? Cemburu pada wanita yang telah tiada? Rasulullah tidak pernah melupakannya, melupakan gerak-gerik istrinya di masa hidupnya semua terekam indah dalam ingatan beliau. Hingga Aisyahpun tak kuasa menahan kecemburuannya.Adakah yang mau merenungkannya?</p>
<p>Pada Rasulullah suri tauladan yang menawan, semoga dengan membaca kisah cinta dan kesetiaannya hatimu akan tertawan. Alangkah indah dan manisnya hidup dalam cinta dan kesetiaan.Sehingga tenanglah hati para istri mengarungi biduk rumah tangga yang penuh onak dan duri-duri kehidupan. Islamlah solusi kehidupan bagi para pasangan. Di dalamnya akan kita dapati jalan keluar yang kita butuhkan.  Wahai para suami,&#8230;apalagi yang engkau pikirkan? Jika manusia yang paling mulia di atas bumi ini telah mengajarkanmu arti cinta dan kesetiaan. Tidakkah ingin engkau persembahkan kepada pasangan hidupmu yang telah Allah halalkan? Dan tentu para istripun akan menambah pengabdian dan ketaatan mereka padamu karena inilah yang mereka harapkan! Wallahu ‘alam bish-shawwab.</p>
<p>Artikel ini telah di muraja’ah oleh : Ustadz Khalid Samhudi Lc dan Ustadz Muhammad Elvy Syam Lc.</p>
<p> </p>
<p>Sumber Rujukan :<br />
1.<strong>Fathul Baari Syarah Shahihul Bukhari</strong> jilid 7  Kitabul Manaqib Al-Anshariy, Bab Tazwiijun Nabi Shalallahu alaihi wassalam Khadijata wa fadhliha radiyallahu anha, di tahkik oleh Syaikh Abdullah bin Baaz, daarul Fikr, Lebanon.</p>
<p>2.<strong>Ringkasan Shahih Muslim</strong>, Imam Al-Mundziri ,Bab Keutamaan Khadijah Radiyallahu anha Ummul Mukminin, Istri Nabi Shalallahu alaihi wassalam hal:  976-978, Pustaka Amani,Jakarta</p>
<hr /><strong>Catatan kaki:</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jilbab.or.id/archives/654-inilah-cinta-dan-kesetiaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>32</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Salahkah Seorang Ikhwan Memilih Calon Istri yang Cantik?</title>
		<link>http://jilbab.or.id/archives/526-salahkah-seorang-ikhwan-memilih-calon-istri-yang-cantik/</link>
		<comments>http://jilbab.or.id/archives/526-salahkah-seorang-ikhwan-memilih-calon-istri-yang-cantik/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 May 2009 23:17:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ummu Raihanah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nikah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jilbab.or.id/?p=526</guid>
		<description><![CDATA[Kecantikan tetap merupakan daya tarik yang memikat setiap lelaki di dunia ini. Wajarlah jika para produsen menggunakan jasa wanita cantik untuk melariskan barang dagangan mereka dan memang tak bisa dipungkiri! Begitupula masalah memilih pasangan hidup tentu setiap lelaki memiliki kriteria tertentu tentang calon istri yang akan di nikahinya. Kalau mau jujur dalam setiap kriteria itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kecantikan tetap merupakan daya tarik yang memikat setiap lelaki di dunia ini. Wajarlah jika para produsen menggunakan jasa wanita cantik untuk melariskan barang dagangan mereka dan memang tak bisa dipungkiri! Begitupula masalah memilih pasangan hidup tentu setiap lelaki memiliki kriteria tertentu tentang calon istri yang akan di nikahinya. Kalau mau jujur dalam setiap kriteria itu diantara salah satunya adalah menginginkan calon istrinya berwajah cantik atau sedap dipandang mata, tidak membosankan. Salahkah bila seorang ikhwan menghendaki atau menginginkan seorang istri yang cantik?</p>
<p><span id="more-526"></span>Wahai ukhti saudariku,.. jangan bersungut dahulu menyalahkan si ikhwan yang berselera demikian. Karena pernikahan itu sendiri adalah ibadah, terkadang iman akan naik dan turun. Tentunya sangat membutuhkan sebab-sebab yang dapat merekatkan tali pernikahan dimasa mendatang. Bila kecantikan adalah merupakan daya tarik bagi si ikhwan itu yang nantinya akan mengekalkan hubungan percintaan (pernikahan)dan kasih sayangnya kepada wanita yang akan di nikahinya maka islam tidaklah melarangnya. Karena ia adalah<em> fitrah</em> atau naluri yang Allah subhanahu wata&#8217;ala ciptakan untuk manusia. Coba kita simak hadits berikut ini, dari Abu Hurairah radiyallahu &#8216;anhu dari Nabi shalallahu alaihi wassalam beliau bersabda:</p>
<blockquote><p>“wanita itu biasa dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, karena kemuliaan keturunannya, karena kecantikannya dan karena agamanya. Maka pilihlah yang beragama, karena kalau tidak niscaya engkau akan merugi”</p></blockquote>
<p>Kemudian marilah kita simak penjelasan fiqh hadits diatas:</p>
<p>Dalam hadits diatas menjelaskan kepada kita tentang <strong>adat</strong> atau <strong>kebiasaan</strong> laki-laki menikahi wanita karena salah satu dari empat perkara diatas.Yaitu diantara mereka mengutamakan (cenderung) kepada harta, kemulian keturunannya (nasabnya), <strong>kecantikannya</strong>, dan karena agama si wanita tersebut.Kemudian Nabi kita yang mulia memberikan petunjuk kepada kita agar memilih yang tertinggi dan termulia yang akan memberikan kebahagiaan dunia dan akhirat yaitu pilihlah yang beragama.Yaitu pilihlah wanita karena keshalihahannya.</p>
<p>Tetapi hal ini <strong>tidak berarti</strong> bahwa laki-laki <strong>tidak boleh</strong> memilih wanita yang cantik dan seterusnya. <strong>Tidak demikian!</strong> Ini adalah sebuah <strong>kesalahan</strong> di dalam memahami hadits. Akan tetapi maksudnya -Insya Allah- seperti ini:</p>
<p>Misalnya ada seorang laki-laki memilih wanita yang cantik parasnya. Kemudian dia melihat apakah pilihannya seorang wanita shalihah? Kalau jawabannya adalah: ‘ya’ maka dia boleh melanjutkan pilihannya. Kiaskanlah dengan keistimewaan yang lainnya! Tetapi kalau jawabannya ‘tidak’, maka dia dihadapkan kepada dua pilihan yang salah satunya harus dia tentukan dan tetapkan. Kalaupun dia melanjutkan pilihannya berarti dia telah mendahulukan kecantikan dari keshalihan.Kalaupun dia membatalkan pilihannya berarti dia telah mendahulukan keshalihan (agama) dari kecantikan. Atau ketika akan memilih dia menentukan sesuai dengan apa yang dia mau atau sesuai dengan seleranya misalnya: “Saya akan memilih wanita yang cantik, yang tinggi, yang putih, yang begini dan begitu dan seterusnya.&#8221; Pilihan yang seperti ini <strong>dibolehkan</strong> dan agama tidak pernah melarangnya.Karena memang berjalan dengan fitrah manusia. Oleh karena itu Nabi kita shalallahu alaihi wassalam mengatakan: &#8220;Wanita itu biasa dinikahi karena empat perkara&#8230;”</p>
<p>Akan tetapi tetap saja <strong>penentuan akhirnya</strong> ada pada agama si akhwat tersebut, sebagaimana sabda Nabi mengakhiri dan menutup sabdanya: <strong>Maka pilihlah yang beragama!</strong> Maksudnya janganlah kau kalahkan agamamu dengan segala kecantikan dan harta benda duniawi. Padahal sebaik-baik kesenangan, kemewahan, harta benda dunia adalah wanita shalihah. Kalau pilihanmu jatuh pada wanita shalihah berarti engkau telah memiliki harta benda dan kesenangan dunia yang terbaik. Istimewa kalau wanita shalihah pilihanmu itu seperti yang kau ingini. Hukum ini juga berlaku bagi setiap muslimah yang akan menjatuhkan pilihannya kepada laki-laki muslim.</p>
<p>Setelah tahu penjelasan hadits diatas tentu kita melihat betapa indahnya islam sejalan dengan fitrah manusia. Karena kecenderungan merupakan hak mutlak bagi setiap pasangan yang akan menikah untuk mengekalkan hubungan mereka maka islampun menganjurkan agar mereka melihat (nazhar) hal-hal yang dapat membuat mereka tertarik untuk segera menikah dan salah satunya adalah faktor kecantikan yang dimana terkadang sangat mempengaruhi hati atau hasrat seorang laki-laki untuk segera menikahi wanita yang telah dilihatnya. Wallahu ‘alam.</p>
<p>Sumber:<br />
- <strong>Al Masail Masalah-masalah Agama jilid 7</strong>, Abdul hakim Abdat, Darus Sunnah, Jakarta, 2006.<br />
- <strong>Fiqh Wanita</strong>, Syaikh Kamil Uwaidah, Pustaka Kautsar.</p>
<p>Artikel ini telah di muraja&#8217;ah oleh ustadz Eko Haryanto Lc (Abu Ziyad)</p>
<hr /><strong>Catatan Kaki:</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jilbab.or.id/archives/526-salahkah-seorang-ikhwan-memilih-calon-istri-yang-cantik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>33</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rebutlah hati suamimu dengan bersegera menta’atinya</title>
		<link>http://jilbab.or.id/archives/502-rebutlah-hati-suamimu-dengan-bersegera-menta%e2%80%99atinya/</link>
		<comments>http://jilbab.or.id/archives/502-rebutlah-hati-suamimu-dengan-bersegera-menta%e2%80%99atinya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Feb 2009 00:42:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>JO admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nikah]]></category>
		<category><![CDATA[Obrolan Muslimah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jilbab.or.id/?p=502</guid>
		<description><![CDATA[Istri yang bijak adalah istri yang dapat mengerti dan memahami kewajiban yang harus dilakukannya. Memahami bahwa mentaati suami merupakan salah satu kewajibannya. Dan bahwa mentaati suami dalam perkara yang bukan maksiat merupakan penyebab ia masuk ke dalam jannah.
 Rasulullooh Shololloohi ‘alahi wassallaam telah bersabda:
“Apabila seorang wanita telah mengerjakan sholat lima waktu, puasa bulan ramadhon, menjaga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Istri yang bijak adalah istri yang dapat mengerti dan memahami kewajiban yang harus dilakukannya. Memahami bahwa mentaati suami merupakan salah satu kewajibannya. Dan bahwa mentaati suami dalam perkara yang bukan maksiat merupakan penyebab ia masuk ke dalam jannah.</p>
<p><span id="more-502"></span> Rasulullooh Shololloohi ‘alahi wassallaam telah bersabda:</p>
<blockquote><p><em>“Apabila seorang wanita telah mengerjakan sholat lima waktu, puasa bulan ramadhon, menjaga kemaluannya, mentaati suaminya, maka akan dikatakan kepadanya: “Masuklah jannah dari pintu manapun yang engkau suka”.</em> <strong>(Shahih Al-Jami’ Al Kabir)</strong></p></blockquote>
<p>Ketahuilah, kewajiban utama seorang istri terhadap suaminya adalah mentaatinya dalam perkara-perkara yang bukan maksiat dan tidak menyeret kepada mudhorat. Ketaatan istri ini akan memberikan pengaruh yang amat besar dalam menciptakan suasana keluarga yang harmonis. Dalam hadits tentang kisah delegasi kaum wanita, mereka menyebutkan tentang pahala yang diperoleh para lelaki dengan jihad, kemudian mereka bertanya, “Bagaimana kami dapat memperoleh keutamaan seperti demikian?”</p>
<p>Maka Rasulullooh Shololloohi ‘alahi wassallaam bersabda:</p>
<blockquote><p><em>“Sampaikan kepada para wanita yang kalian jumpai bahwa mentaati suami dan menunaikan hak-haknya dapat menyamai semua keutamaan itu&#8230;”</em> <strong>(HR. Al-Bazaar dan Ath-Thobrani)</strong></p></blockquote>
<p>Kewajiban kepada suami bukan berarti menihilkan kepribadianmu sebagai wanita. Bukan berarti hegemoni kaum lelaki terhadap wanita dan bukan pula berarti kehidupan rumah tangga menjadi ajang pertempuran, penentangan dan membuat keras kepala. Namun, merupakan kehidupan yang mana kesantunan menjadi ciri utamanya.</p>
<p>Sesungguhnya ketaatan istri kepada suaminya secara ma’ruf dan kecintaannya kepada suaminya bisa mengangkat kedudukannya di sisi Allooh dan mendatangkan kebahagiaan dan ketenangan baginya. Dan suaminya juga akan mentaatinya dan menuruti keinginannya yang syar’i. Dalam sebuah mutiara-mutiara hikmah, disebutkan: “Sebaik-baik istri adalah yang ta’at, mencintai, bijak, subur lagi penyayang, pendek lisan (tak cerewet) dan mudah diatur.”</p>
<p>Suami akan sangat gembira ketika mendapatkan istrinya segera mentaatinya, tidak bermalas-malasan dalam menunaikan apa yang dikehendakinya, bahkan terkadang sampai pada taraf kedua-duanya memahami apa yang diingini oleh pasangannya, ia tidak perlu memikirkannya sebelum menyebutkannya.</p>
<p>Itu berarti engkau benar-benar mengharapkan ridha suamimu dan berusaha untuk meraihnya. Dan juga berarti engkau mengetahui jalan menuju jannah.</p>
<p>Rasulullooh Shololloohi ‘alahi wassallaam bersabda:</p>
<blockquote><p><em>“siapa saja wanita yang meninggal sementara suaminya ridho terhadapnya maka ia pasti masuk jannah.”</em> <strong>(HR. Ibnu Majah dan Al-Hakim)</strong></p></blockquote>
<p>Dikutip dari <em>Kuuni Zaujatan Naajihatan</em>, DR. Najla’ As-Sayyid Nayil.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jilbab.or.id/archives/502-rebutlah-hati-suamimu-dengan-bersegera-menta%e2%80%99atinya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>29</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Karena Taman Itu Disirami</title>
		<link>http://jilbab.or.id/archives/22-karena-taman-itu-disirami/</link>
		<comments>http://jilbab.or.id/archives/22-karena-taman-itu-disirami/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Oct 2007 23:36:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>zulfikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Nikah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jilbab.or.id/archives/22-karena-taman-itu-disirami/</guid>
		<description><![CDATA[Karya:  Abu Ammar al-Ghoyami
Indahnya pergaulan pasutri dalam membina rumah tangganya sarat dengan keharmonisan.  Keharmonisan merupakan sebutan yang sering dan selalu didamba keberadaannya oleh setiap pasutri.  Hal ini wajar, mengingat begitu pentingnya peranannya dalam kehidupan setiap pasutri.  Bisa jadi dan sangat mungkin sebab keharmonisan itu merupakan pokok keberhasilan dalam usaha mereka berdua [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Karya:  Abu Ammar al-Ghoyami</p>
<p>Indahnya pergaulan pasutri dalam membina rumah tangganya sarat dengan keharmonisan.  Keharmonisan merupakan sebutan yang sering dan selalu didamba keberadaannya oleh setiap pasutri.  Hal ini wajar, mengingat begitu pentingnya peranannya dalam kehidupan setiap pasutri.  Bisa jadi dan sangat mungkin sebab keharmonisan itu merupakan pokok keberhasilan dalam usaha mereka berdua mendayung sampan mengarungi samudera kehidupan rumah tangganya.</p>
<p><span id="more-22"></span>Termasuk unsur pokok keharmonisan setiap pasutri adalah akhlaq yang terpuji dari tiap-tiap individu.  Dan termasuk pokok akhlaq terpuji adalah berbuat adil dan tidak menzholimi.  Seorang suami harus mempergauli isterinya dengan penuh keadilan dan tidak ada kezholiman.  Begitu pula seorang isteri harus mengimbangi keadilan suami dengan keadilan serupa.  Bersihnya suami dari kezholiman ialah dengan menahan dari melakukan kezholiman kepada isterinya.  Bukankah itu adalah keharmonisan?</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan kedudukan yang berbeda antara suami dan istri dalam rumah tangganya, hal ini menuntut keadilan dan dibuangnya jauh-jauh kezholinman dari setiap pasutri terhadap pasangannya.  Sebab dibalik perbedaan itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menganugerahkan keharmonisan bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya.  Simaklah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala berikut:</p>
<p><em>Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (kaum wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka….</em> <strong>(QS. an-Nisa’ [4]: 34)</strong></p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan para suami sebagai orang yang memiliki kuasa dalam membina para isterinya, mendidik mereka, serta memerintah mereka untuk melaksanakan seluruh kewajiban yang harus mereka tunaikan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kepada suaminya, serta memberikan pelajaran kepada mereka bila mereka tidak menunaikannya.  Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menghendaki sebaliknya.</p>
<p>Mengapa ditetapkan demikian?  Padahal yang demikian ini benar-benar sebuah perbedaan? Memang benar, itu adalah perbedaan, sedangkan keharmonisan tidak selamanya harus sepadan, harus sama, dan harus selaras.  Dalam perbedaan pun Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki keharmonisan, bahkan merupakan keharmonisan yang sesungguhnya.</p>
<p>Mengapa hanya suami?  Sebab Subhanahu wa Ta’ala telah melebihkan para suami atas para isteri dengan mahar-mahar yang mereka bayarkan, dengan harta yang mereka nafkahkan untuk isteri mereka, dan dengan kecukupan yang mereka berikan kepada para isteri mereka.  Benar-benar sebuah keharmonisan!  Para isteri itu di sisi suami laksana bunga-bunga di taman yang selalu disirami.</p>
<p>Bukankah tidak harmonis bila yang selalu disirami tidak ’mengerti’ tuannya?  Seperti juga bukan keharmonisan bila si tuan tidak menyirami tamannya? Karena taman itu disirami, maka selayaknya mawar-mawar itu memahami perbedaan ini.  Hanya karena taman itu disirami maka bunga-bunga keharmonisan pun harum semerbak mewangi.</p>
<p><em>Ditulis ulang dari <strong>Majalah al-Mawaddah</strong>, Edisi 2 Tahun ke-1 1428/2007</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jilbab.or.id/archives/22-karena-taman-itu-disirami/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Qana&#8217;ah Sifat Mulia yang Harus di Miliki Para Istri</title>
		<link>http://jilbab.or.id/archives/27-qanaah-sifat-mulia-yang-harus-di-miliki-para-istri/</link>
		<comments>http://jilbab.or.id/archives/27-qanaah-sifat-mulia-yang-harus-di-miliki-para-istri/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Oct 2004 03:13:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ummu Raihanah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Nikah]]></category>
		<category><![CDATA[Pribadi Shalihah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jilbab.or.id/archives/27-qanaah-sifat-mulia-yang-harus-di-miliki-para-istri/</guid>
		<description><![CDATA[Sikap qana’ah atau menerima apa adanya (nrimo) pada masalah kebendaan (duniawi) dalam kehidupan suami istri sangat dibutuhkan.Terutama bagi seorang istri tanpa adanya sifat qana’ah maka bisa dibayangkan bagaimana susahnya seorang suami.Setiap tiba dirumah maka yang terdengar adalah keluhan-keluhan, belum punya ini belum punya itu, ingin beli perhiasan, pakaian baru, sepatu baru, jilbab baru,perkakas rumah tangga, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sikap qana’ah atau menerima apa adanya (nrimo) pada masalah kebendaan (duniawi) dalam kehidupan suami istri sangat dibutuhkan.Terutama bagi seorang istri tanpa adanya sifat qana’ah maka bisa dibayangkan bagaimana susahnya seorang suami.Setiap tiba dirumah maka yang terdengar adalah keluhan-keluhan, belum punya ini belum punya itu, ingin beli perhiasan, pakaian baru, sepatu baru, jilbab baru,perkakas rumah tangga, furniture, dan lain-lainnya.<span id="more-27"></span></p>
<p>Alhamdulillah bila sang suami memiliki banyak harta apabila tidak maka yang terjadi adalah pertengkaran dan perselisihan melihat kedudukan suami dengan sebelah mata karena gaji yang kecil .Terkadang keluar keluhan bila si Fulan bisa mendapatkan pekerjaan dengan gaji besar mengapa engkau tidak???sehingga impian membina rumah tangga yang sakinah, mawaddah warrahmah semakin jauh.Hati menjadi resah dan gundah lalu hilanglah rasa syukur, baik kepada suami maupun kepada Allah.Bila hal ini sudah menimpa pada seorang istri maka waspadalah ya ukhti,&#8230;.sesungguhnya engkau telah membebani suamimu diluar kemampuannya.</p>
<p>Engkau telah membuatnya terlalu sibuk dengan dunia untuk memenuhi segala keinginanmu. Berapa banyak kaum suami yang meninggalkan majelis ilmu syar&#8217;i demi mengejar uang lemburan? sebelum menikah rajin datang ke tempat majelis ilmu setelah menikah jarang terlihat lagi, mungkin tadinya datang setiap minggu sekarang frekuensinya menjadi sebulan dua kali atau sekali bahkan mungkin tidak datang lagi!!! Atau berapa banyak kaum suami yang rela menempuh jalan yang diharamkan Allah Ta&#8217;ala demi membahagiakan sang istri tercinta.Yang terakhir ini banyak ditempuh oleh para suami yang minim sekali ilmu agamanya sehingga demi &#8216;&#8217;senyuman sang istri&#8221; rela ia menempuh jalan yang dimurkai-Nya.Wal&#8217;iyyadzu billah.</p>
<p>Duhai, para istri&#8230;engkau adalah sebaik-baik perhiasan diatas muka bumi ini bila engkau memahami dienmu. Maka jadilah wanita dan istri yang shalihah,itu semua bisa dicapai bila engkau mampu mengendalikan hawa nafsumu, bergaul hanya dengan kawan-kawan yang shalihah dan berilmu,dan tutuplah matamu bila engkau melihat sesuatu yang tidak mungkin bisa engkau raih, lihatlah kebawah masih banyak yang lebih menderita dan lebih miskin hidupnya dibandingkan engkau. Maka akan kau temui dirimu menjadi orang yang mudah mensyukuri nikmat-Nya.</p>
<p>Sifat qana&#8217;ah ibarat mutiara yang terpendam di bawah laut, barangsiapa yang bisa mengambilnya dan memilikinya maka beruntunglah ia.Seorang istri yang memiliki sifat qana&#8217;ah ini maka dapat membawa ketentraman dan kedamaian dalam rumah tangganya. Suami merasa sejuk berdampingan denganmu, rasanya akan enggan ia menjauh darimu.</p>
<p>Betapa bahagianya para suami yang memiliki istri yang qana&#8217;ah, para istri bisa memiliki sifat ini bila ia mau berusaha sekuat tenaga dan berdo&#8217;a kepada Allah semata. Ya, Allah janganlah kau jadikan dunia satu-satunya keinginan utama kami, amin.Wallahu&#8217;alam bishawwab.</p>
<p>Bumi Allah, Sydney.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jilbab.or.id/archives/27-qanaah-sifat-mulia-yang-harus-di-miliki-para-istri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
