<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Jilbab Online &#187; Ilmu</title>
	<atom:link href="http://jilbab.or.id/archives/category/ilmu/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jilbab.or.id</link>
	<description>-- Cocok Untuk Akhowat, Perlu Untuk Ikhwan --</description>
	<lastBuildDate>Tue, 15 Jun 2010 12:21:35 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>DOA DARI 70 RIBU MALAIKAT !!</title>
		<link>http://jilbab.or.id/archives/912-doa-dari-70-ribu-malaika/</link>
		<comments>http://jilbab.or.id/archives/912-doa-dari-70-ribu-malaika/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Dec 2009 23:09:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sutikno bin Tumingan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ilmu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jilbab.or.id/?p=912</guid>
		<description><![CDATA[Tiada seorang muslim pun yang membesuk saudaranya yang sakit, melainkan Allah mengutus baginya 70.000 malaikat agar mendoakannya kapan pun di siang hari hingga sore harinya, dan kapan pun di sore hari hingga pagi harinya. (musnad ahmad 2/110, syaikh ahmad syakir mengatakan bahwa sanadnya shahih). Syaikh Ahmad Abdurrahman al Banna dalam syarahnya menjelaskan, &#8216;Shalawat malaikat bagi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!-- 		@page { margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } --></p>
<blockquote>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-weight: normal;"><strong>Tiada seorang muslim pun yang membesuk saudaranya yang sakit, melainkan Allah mengutus baginya 70.000 malaikat agar mendoakannya kapan pun di siang hari hingga sore harinya, dan kapan pun di sore hari hingga pagi harinya.</strong> (musnad ahmad 2/110, syaikh ahmad syakir mengatakan bahwa sanadnya shahih).</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-weight: normal;"><span id="more-912"></span></p>
</blockquote>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-weight: normal;">Syaikh Ahmad Abdurrahman al Banna dalam syarahnya menjelaskan, &#8216;Shalawat malaikat bagi anak adam ialah dengan mendoakan agar mereka diberi rahmat dan maghfirah.  Sedang yang dimaksud dengan &#8216;kapanpun di siang hari&#8217; yakni waktu ia menjenguk.  Jika ia menjenguknya di siang hari, maka malaikat mendoakannya hingga sore hari dan bila ia menjenguknya di malam hari, maka malaikat mendoakannya hingga pagi. Oleh karena itu, orang yang berniat hendaknya berangkat sepagi mungkin di awal siang, atau bersegera begitu malam menjelang, agar semakin banyak didoakan malaikat.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-weight: normal;">&#8216;Siapa yang membesuk orang sakit di pagi hari akan diiring oleh 70.000 malaikat, semuanya memohonkan ampun untuknya hingga sore hari, dan ia mendapat taman di jannah.  Jika ia membesuknya di sore hari, ia akan diiring oleh 70 ribu malaikat yang semuanya memintakan ampun untuknya hingga pagi, dan ia mendapat taman di jannah.&#8217; (musnad ahmad 2/206, hadits 975. Syaikh ahmad syakir menilai hadits ini shahih)</p>
<p style="margin-bottom: 0cm;">
<p style="margin-bottom: 0cm;">
<p style="margin-bottom: 0cm;"><strong>AKU SAKIT, TETAPI KAMU TIDAK MENJENGUK-KU!</strong></p>
<blockquote>
<p style="margin-bottom: 0cm;">Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya pada hari kiamat Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman,</p>
<p style="margin-bottom: 0cm;">&#8216;Hai Anak Adam, Aku Sakit, tetapi kamu tidak menjenguk-Ku.&#8217;</p>
<p style="margin-bottom: 0cm;">Dia berkata. &#8216;Wahai Rabb-ku, bagaimana saya menjenguk-Mu, padahal Engkau adalah Rabb semesta alam?!&#8217;</p>
<p style="margin-bottom: 0cm;">Dia berfirman, &#8216;Tidak tahukah kamu bahwa hamba-Ku, fulan, sakit, tetapi kamu tidak menjenguknya.  Tidak tahukah kamu jika kamu menjenguknya, kamu akan mendapati Aku berada di sisi-Nya.&#8217;</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-weight: normal;">(diriwayatkan oleh Muslim, no. 2569)</p>
</blockquote>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;">
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;">
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;"><strong>HUKUM MENJENGUK ORANG SAKIT</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;">Menjenguk orang sakit diperintahkan oleh Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam.  Al Bara bin Azib radhiyallahu anhu meriwayatkan, “Nabi menyuruh kita tujuh hal dan melarang kita tujuh hal.  Beliau menyuruh kita untuk mengantarkan jenazah, menjenguk orang sakit, memenuhiundangan, menolong orang yang teraniaya, melaksanakn sumpah, menjawab salam, dan mendoakan orang yang bersin.  Dan beliau melarang kita memakai wadah (bejana) dari perak, cincin emas, kain sutera, <em>dibaj </em>(sutera halus), <em>qasiy</em> (sutera kasar), dan <em>istibraq</em> (sutera tebal). <strong>(Bukhari no.1239; Muslim no.2066)</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;">Hadits-hadits yang memerintahkan kita untuk menjenguk orang sakit, membuat Imam Bukhari  membuat “bab Wujubi &#8216;Iyadatil-Maridh” (Bab Kewajiban Menjenguk Orang Sakit) di dalam kitab shahih nya.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;">Imam Ath Thabari menekankan bahwa menjenguk orang sakit merupakan kewajiban bagi orang yang diharapkan berkah (dari Allah datang lewat diri) nya, disunnahkan bagi orang yang memelihara kondisinya, dan mubah bagi mereka.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;">Imam Nawawi mengutip kesepakatan ulama bahwa menjenguk orang sakit hukumnya bukan wajib, yakni wajib &#8216;ain, (melainkan wajib kifayah).</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;">
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;">
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;"><strong>MANFAAT MENJENGUK ORANG SAKIT</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;">Selain mendapat keutamaan sebagaimana hadits-hadits yang disebutkan diatas, menjenguk orang sakit memiliki beberapa manfaat, diantaranya:</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;">
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;">Menjenguk 	orang sakit berpotensi memberi perasaan dan kesan kepadanya bahwa ia 	diperhatikan orang-orang disekitarnya, dicintai, dan diharapkan 	segera sembuh dari sakitnya. Hal ini dapat menentramkan hati si 	sakit.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;">Menjenguk 	orang sakit dapat menumbuhkan semangat, motivasi, dan sugesti dari 	pasien; hal ini dapat menjadi kekuatan khusus dari dalam jiwanya 	untuk melawan sakit yang dialaminya.  Dalam dirinya ada energi hebat 	untuk sembuh.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;">mencari tahu 	apa yang diperlukan si sakit.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;">mengambil 	pelajaran dari penderitaan yang dialami si sakit.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;">mendoakan si 	sakit</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;">melakukan 	ruqyah (membaca ayat-ayat tertentu dari Al Quran) yang syar&#8217;i.</p>
</li>
</ol>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;">
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;">
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;"><strong>MESKI SAKIT RINGAN, TETAP DIJENGUK!</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;">Hadits-hadits yang ada, menyuruh dan mengajurkan untuk menjenguk orang sakit, baik yang sakit kecil maupun dewasa, anak-anak maupun orang tua, dari kaum laki-laki maupun wanita.  Sakit ringan maupun berat. Yang sakit terpelajar atau bukan, orang kota maupun desa, pejabat maupun rakyat jelata, miskin maupun kaya, mengerti makna menjenguk orang sakit atau pun tidak.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;">Menjenguk orang sakit tetap dianjurkan, bahkan terkadang, dalam kondisi tertentun menjadi wajib, tanpa melihat bentuk penyakit tersebut, apakah tergolong parah atau ringan.  Hal ini sudah mulai memudar di antara kita, bahkan seringkali sebagian kita hanya merasa perlu menjenguk teman, saudara, atau kenalan yang sakit; jika sudah masuk rumah sakit.  Sekian lama terbaring di rumah, hanya sedikit yang menjenguknya.  Apalagi jika penyakit tersebut digolongkan penyakit ringan.  Padahal, nabi shallallahu alaihi wa sallam menjenguk salah seorang sahabatnya yang &#8216;hanya&#8217; sakit mata. Sakit mata biasa, bukan sejenis kebutaan atau penyakit mata berat lainnya!</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;">Al Hafizh Ibnu Hajar berkata, &#8216;mengenai menjenguk orang yang sakit mata, bahkan sudah ada hadits khusus yang membicarakannya, yaitu hadits Zaid bin Arqam, dia menceritakan, &#8216;Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjenguk saya karena saya sakit mata.&#8217; (lihat adabul mufrad, no.532)</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;">
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;">
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;"><strong>MENJENGUK LAWAN JENIS?</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;">Wanita boleh menjenguk laki-laki yang sedang sakit, ataupun sebaliknya; meskipun bukan mahramnya.  Akan tetapi, hal ini dengan syarat aman dari fitnah, menutup aurat, dan tidak terjadi khalwat (berduaan dengan lawan jenis).</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;">Aisyah radhiyallahu anha meriwayatkan, Ketika Rasulullah shallalallahu alaihi wa sallam tiba di madinah, Abu Bakar dan Bilal terserang demam.  Kemudian, kata Aisyah, aku menemui mereka dan bertanya, &#8216;Ayah, bagaimana keadaanmu?&#8217; &#8216;Wahai Bilal, bagaimana keadaanmu?” <strong>(HR. Bukhari no.5654)</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;">Ibnu Syihab meriwayatkan dari Abu Umamah bin Sahal bin Hanaif, &#8216;Bahwa dirinya diberitahu bahwasanya ada seorang wanita miskin yang sedang sakit.  Kemudian Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam pun diberitahu tentang sakitnya wanita tersebut.  Dan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dahulu suka menjenguk orang-orang miskin dan menanyakan keadaan mereka.” <strong>(HR. Malik, Al Muwaththo&#8217; no.531)</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;">
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;">
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;"><strong>BOLEHKAN MENJENGUK ORANG MUSYRIK?</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;">Menjenguk orang kafir oleh sabagian ulama dihukumi makruh.  Hal ini dikarenakan: secara implisit (tidak langsung) merupakan penghormatan kepada mereka. (lihat At-Tamhid, Ibnu Abdil Bar, 24/276).</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;">Namun sebagia ulama yang lain berpendapat bolehnya menjenguk orang kafir apabila ada harapan untuk masuk islam.  Pendapat ini lebih dekat kepada apa yang dilakukan oleh Rasullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;">Anas bin Malik meriwayatkan, &#8216;Bahwasanya ada seorang anak muda Yahudi yang pernah menjadi pembantu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam.  Dia sakit, lalu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam datang menjenguknya.  Kemudian beliau bersabda, &#8216;Masuklah Islam!”  Maka dia pun masuk Islam.” <strong>(HR. Bukhari no.5657)</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;">Sa&#8217;id bin Musayyib meriwayatkan dari ayahnya, dia berkata, &#8216;Ketika Abu Thalib hendak dijemput kematian. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mendatanginya seraya bersabda, &#8216;Ucapkanlah &#8216;Laa ilaaha illa Allah&#8217; sebuah kalimat yang bisa aku jadikan sebagai hujjah untukmu di sisi Allah kelak.&#8217; <strong>(HR. Bukhari no.6681)</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;">
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;">
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;"><strong>KAPAN WAKTU MENJENGUK ORANG SAKIT?</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Tidak ada keterangan dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang menerangkan waktu-waktu tertentu untuk menjenguk orang sakit.  Oleh karena itu, dapat dilakukan kapan saja, selama tidak merepotkan si sakit dan keluarganya.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Salah satu alasan menjenguk orang sakit adalah meringankan penderitaan si sakit dan memberinya dukungan moral, sehingga sangat tidak bijaksana jika kedatangan kita malah merepotkan yang bersangkutan.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Waktu yang tepat untuk menjenguk berbeda-beda pada setiap keadaan.  Berbeda-beda dari waktu ke waktu dan antara satu tempat dengan tempat lainnya.  Oleh karena itu, kita harus jeli mencari waktu yang pas untuk menjenguk, mampu memperkirakan kondisi si sakit &amp; keluarganya (sedang beristirahat atau tidak, sedang banyak tamu atau tidak, dan lain sabagainya).</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;">
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;">
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;"><strong>PERSINGKAT WAKTU KUNJUNGAN!</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Hendaknya kita memperhatikan waktu ketika menjenguk orang sakit.  Jangan sampai terlalu lama, karena hal ini bisa membebani bahkan menambah penderitaan si sakit ataupun keluarganya.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Ibnu Thowuss mengatakan bahwa ayahnya pernah berkata, &#8216;Sebaik-baik kunjungan kepada orang sakit ialah yang paling singkat.&#8217;</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Asy-Sya&#8217;bi mengatakan, &#8216;Kunjungan orang dungu lebih berat dirasakan oleh keluarga si sakit daripada sakitnya salah seorang angota keluarga mereka.  Yaitu, orang yang datang menjenguk pada waktu yang tidak tepat dan duduk terlalu lama.&#8217; (lihat At-Tamhid, Ibnu Abdil Bar, 24/277)</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Namun, apabila si sakit suka berlama-lama dengan penjenguknya, dan ingin dikunjungi sesering mungkin, maka sebaiknya keinginan tersebut dikabulkan oleh si penjenguk.  Sebab, hal ini berarti memberikan kegembiraan dan dukungan moral kepada si sakit.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Hal ini pernah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam terhadap Sa&#8217;ad bin Mu&#8217;adz sewaktu ia menjadi korban perang Khandaq.  Ketika itu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan agar Sa&#8217;ad dibuatkan kemah di dalam masjid agar beliau bisa menjenguknya dari dekat.  Sahabat mana yang tidak suka ditunggui oleh Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan dikunjungi berulang kali? (lihat Bukhari no.463)</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;">
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;"><strong>BERAPA KALI MENJENGUK SESEORANG?</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Hal ini dikembalikan kepada kebiasaan, kondisi penjenguk, kondisi si sakit, berapa jauh hubungan yang bersangkutan dengan si sakit.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Orang yang lama jatuh sakit, maka dia dijenguk dari waktu ke waktu, dalam hal ini tidak ada batasan waktu tertentu.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;">
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;">
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;"><strong>MENJENGUK ORANG YANG PINGSAN ATAU KOMA</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Orang sakit yang dapat merasakan kehadiran kita dan yang tidak dapat merasakan kehadiran kita (misalnya karena pingsan atau koma), sama-sama memiliki hak untuk dijenguk.  Janganlah kita enggan menjenguknya, dengan alasan, toh&#8230;mereka tidak tahu dijenguk atau tidak&#8230;mereka tidak dapat merasakan kehadiran kita.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Ibnu Hajar Al Asqolani mengatakan, &#8216;Anjuran menjenguk orang sakit tidak hanya ditujukan agar si sakit mengetahui penjenguknya.  Sebab, di balik kunjungan itu ada dukungan moral kepada keluarganya, harpaan mendapatkan berkah dari doa penjenguk, sentuhan tangannya kepada si sakit, meniupkan bacaan mu&#8217;awwidzat, dan lain-lain.&#8217;  (Fathul baari, 10/119)</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;">
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;">
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;"><strong>DIMANA POSISI DUDUK PENJENGUK?</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Orang yang menjenguk, dianjurkan duduk di dekat si sakit.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">&#8216;Adalah nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam ketika menjenguk orang sakit, beliau duduk di sisi kepalanya.&#8217; <strong>(HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad, no.536, hadits shahih)</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Diantara manfaat duduk di sisi kepala si sakit: memberi rasa akrab kepada si sakit, dan memungkinkan bagi penjenguk untuk menyentuh si sakit, memanjatkan doa untuknya, meniupnya dengan ruqyah, dan lain sebagainya.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;">
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;"><strong>MENANYAKAN KEADAAAN SI SAKIT</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Ada baiknya kita menanyakan keadaan si sakit, sebagaimana yang dilakukan oleh Aisyah Radhiyallahu Anha,  Ketika Rasulullah shallalallahu alaihi wa sallam tiba di madinah, Abu Bakar dan Bilal terserang demam.  Kemudian, kata Aisyah, aku menemui mereka dan bertanya, &#8216;Ayah, bagaimana keadaanmu?&#8217; &#8216;Wahai Bilal, bagaimana keadaanmu?” <strong>(HR. Bukhari no.5654)</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;">
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;"><strong>JANGAN PAKSA SI SAKIT BERCERITA PANJANG LEBAR!</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Diantara maksud mengunjungi si sakit adalah untuk meringankan kan penderitaannya, oleh karena itu jangan sampai membebani bahkan menambah penderitaan si sakit ataupun keluarganya.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Satu hal yang dapat membebani si sakit atau keluarganya adalah pertanyaan kronologis musibah atau penyakit.  Si sakit atau keluarga diminta untuk menceritakan kronologis kejadian yang cukup panjang; dan repotnya lagi, cerita ini harus diceritakan berulang kali karena hampir setiap pembesuk menanyakan, &#8216;awal mulanya bagaimana?&#8217;   ; &#8216;kejadiannya bagaimana?&#8217; </p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;"><strong>HIBUR &amp; BERIKAN HARAPAN SEMBUH!</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Ada baiknya penjenguk menghibur si sakit atau keluarga si sakit dengan pahala-pahala yang akan di dapat mereka.</p>
<blockquote>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">&#8216;Setiap muslim yang terkena musibah penyakit atau yang lainnya, pasti akan Allah hapuskan berbagai kesalahannya, seperti sebuah pohon meruntuhkan daun-daunnya.&#8217; <strong>(HR. Muslim)</strong></p>
</blockquote>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">&#8216;Cobaan itu akan selalu menimpa seorang mukmin dan mukminah, baik pada dirinya, pada anaknya, ataupun pada hartanya, sehingga ia bertemu dengan Allah tanpa dosa sedikitpun.&#8217;  <strong>(HR. Tirmidzi)</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">&#8216;Saat orang-orang tertimpa musibah diberi pahala di hari kiamat nanti, orang-orang yang selamat dari berbagai musibah tersebut berharap seandainya dahulu di dunia kulit mereka dikerat dengan gergaji besi&#8230;&#8217; <strong>(HR. Tirmidzi)</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Ada baiknya pula penjenguk memberikan harapan sembuh kepada si sakit.  Misalnya dengan mengatakan.   <em>&#8216;Tidak perlu kuatir, insya Allah Anda akan sembuh.&#8217; </em>atau &#8216;<em>penyakit ini tidak berbahaya, Anda akan segera sembuh,insya Allah.&#8217; </em>atau kalimat-kalimat lain yang dapat menumbuhkan semangatnya untuk sembuh.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;"><strong>JANGAN MENAKUT-NAKUTI!</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Apa yang kita sampaikan kepada si sakit maupun keluarganya, harus kita perhatikan benar-benar.  Ucapkanlah kalimat-kalimat yang baik, yang dapat menumbuhkan motivasi atau meringankan musibah yang dialami mereka.  Jangan sampai apa yang kita sampaikan malah menimbulkan rasa takut &amp; cemas terhadap si sakit maupun keluarganya.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Diantara yang dapat menimbulkan rasa takut adalah cerita atau kabar bahwa seseorang mengalami hal yang sama, namun berakhir dengan cacat seumur hidup, dengan kematian&#8230;.; kalau maksud yang bercerita adalah agar keluarga si sakit berhati-hati dan waspada terhadap musibah yang diderita si sakit, alangkah baiknya jika di kemas dengan kalimat-kalimat yang baik.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;"><strong>MEMAHAMI KELUHAN SI SAKIT</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Keluhan yang diucapkan si sakit ada dua kemungkinan:</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;"><strong><em>Pertama</em></strong>, diucapkan sebagai ekspresi kekesalan dan kejengkelan. Hal ini tentnu saja dilarang oleh agama Islam, karena merupakan indikator lemahnya keyakinan dan tidak rela terhadap qadha dan qadar Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala.  Apabila kita mendengar keluhan semacam ini, si sakit segera diingatkan, dinasehati dengan cara yang baik.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;"><strong><em>Kedua</em>,</strong> diucapkan dalam rangka memberi informasi tentang dirinya tanpa mengharap belas kasih kepada makhluk dan tidak pula menggantungkan harapan kepada mereka.  Hal ini tentu saja boleh dilakukan, bahkan didukung oleh dalil syari:</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Ibnu Mas&#8217;ud meriwayatkan:</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">&#8216;Aku pernah menghadap Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, sementara beliau sedang menderita demam.  Lalu aku menyentuhnya dengan tanganku, kemudian aku mengatakan, &#8216;Sungguh, Engkau menderita demam yang sangat berat.&#8217; Beliau menjawab, &#8216;Ya, seperti layaknya demam yang diderita oleh dua orang dari kalian.&#8217;  &#8216;Engkau mendapat dua pahala?&#8217; tanya Ibnu Mas&#8217;ud.  Beliau menjawab ,&#8217;Ya.  Tidaklah seorang muslim mengalami penderitaan -sakit dan sebagainya- melainkan Allah akan merontokkan keburukan-keburukannyaa sebagaimana pohon merontokkan daunnya.” <strong>(HR. Bukhari no.5667)</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;"><strong>MENANGIS DI TEMPAT ORANG YANG SAKIT?</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Yang nampak dari kita, hukumnya boleh.  Sebab, Abdullah bin Umar meriwayatkan,</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">&#8216;Sa&#8217;ad bin Ubadah pernah mengeluhkan sakit yang di deritanya, kemudian Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam datang menjenguknya bersama dengan Abdurrahman bin Auf, Sa&#8217;ad bin Abi Waqqash dan Abdullah bin Mas&#8217;ud.  Ketika beliau menemuinya, beliau mendapatinya sedang dikerumuni oleh keluarganya.  Lalu beliau bertanya, &#8216;Apakah dia sudah meninggal?&#8217;  Mereka menjawab, &#8216;Tidak ya Rasulullah!&#8217;  Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menangis, dan ketika orang-orang melihat tangisan nabi, maka mereka pun menangis.  Lalu beliau bersabda, &#8216;Tidakkah kalian mendengar, sesungguhnya Allah tidak mengadzab karena linangan air mata maupun kesedihan hati, melainkan mengadzab karena ini -dan beliau menunjuk ke arah lidahnya- atau Dia berbelas kasih.  Dan sesungguhnya mayit itu akan disiksa karena tangisan keluarganya yang meratapi (kepergian) nya.&#8217;  <strong>(HR. Bukhori no.1304)</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;"><strong>MENDOAKAN SI SAKIT</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Orang yang menjenguk orang sakit hendaknya tidak berkata-kata kecuali sesuatu yang baik.  Sebab para malaikat akan mengamini apa yang akan diucapkannya.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Dari Ummu Salamah, doa mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:</p>
<blockquote>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">&#8216;Apabila kamu mendatangi orang sakit atau mayit, maka ucapkanlah kata-kata yang baik.  Karena sesungguhnya malaikat mengamini apa yang kamu ucapkan.&#8217;  Kemudian, kata Ummu Salamah, ketika Abu Salamah meninggal dunia, aku pun mendatangi Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam seraya mengatakan, &#8216;Ya Rasulullah, Abu Salamah sudah meninggal dunia.&#8217; Beliau lantas bersabda, <strong>&#8216;Ucapkanlah: Ya Allah, ampunilah aku dan dia, dan berilah aku pengganti yang baik.</strong>&#8216;  Ummu Salamah berkata, &#8216;Lalu aku mengatakannya.  Kemudian Allah memberiku pengganti yang lebih baik bagiku daripada dia (Abu Salamah), yakni Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam.&#8217; <strong>(HR. Muslim no.919)</strong></p>
</blockquote>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;"><strong><br />
</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Orang yang menjenguk orang sakit dianjurkan berdoa agar si sakit diberikan rahmat, ampunan, kebersihan dari dosa, keselamatan, dan kebebasan dari penyakit.  Diantara doa yang pernah dibaca oleh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam:</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">1.  Mengucapkan:<strong> “Laa ba&#8217;sa thohuurun in syaa&#8217;allooh.” &#8216;tidak mengapa, semoga dapat membersihkan kamu (dari dosa) insya Allah.&#8217; </strong>(riwayat Bukhari dalam al fath: 10/118)</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Kata &#8216;tidak mengapa&#8217; maksudnya ialah bahwa sakit itu dapat menghapus kesalahan.  Jika mendapat kesembuhan setelah sakit, maka berarti mendapatkan dua keuntungan sekaligus.  Dan jika tidak, maka akan mendapatkan keuntungan berpa penghapusan dosa.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;">2.  Membaca doa: “ <strong>As alukalloohal-&#8217;azhiima, robbal &#8216;arsyil-&#8217;azhiimi, ayyasyfiyaka.” (7x) </strong>“<strong>Aku memohon kepada Allah yang Maha Agung, Rabb &#8216;Arsy yang agung agar menyembuhkanmu.”</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">&#8216;Tidak ada seorang muslim yang menjenguk seorang yang sedang sakit yang belum sampai kepada ajalnya, lalu dia membacakan doa  <strong>As alukalloohal-&#8217;azhiima, robbal &#8216;arsyil-&#8217;azhiimi, ayyasyfiyaka </strong>tujuh kali, kecuali dia akan sembuh.&#8217;  (Shahih At Tirmidzi: 2/210)</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;"><strong>RUQYAH KEPADA SI SAKIT</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Orang yang menjenguk orang sakit dianjurkan untuk melakukan ruqyah terhadapnya. Terutama kalau si penjenguk termasuk orang yang bertakwa dan shalih.  Karena ruqyah yang dilakukannya akan memberikan manfaat yang lebih besar daripada orang lain (karena faktor ketakwaan &amp; keshalihannya tersebut).</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Di antara ruqyah syariah yang ada:</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">1.  <strong>Ruqyah dengan mu&#8217;awwidzatain</strong> (surat al ikhlas, al falaq, dan an naas)</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">&#8216;adalah rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ketika salah satu dari keluarganya sakit, beliau meniup keluarganya  dengan (bacaan)  mu&#8217;awwidzat&#8230;&#8217; (HR. Muslim no.2192)</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;"><strong>2. Ruqyah dengan surat al fatihah</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Hal ini pernah dilakukan oleh Abu Said al Khudri terhadap kepala suku yang tersengat serangga.  (lihat HR. Muslim no.2201)</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;"><strong>3. Ruqyah dengan doa</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">&#8216;Adalah rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam ketika salah seorang dari kami mengeluh sakit, maka beliau mengusapnya dengan tangan kanannya, kemudian beliau mengucapkan: “Hilangkanlah penderitaan ini wahai Rabb manusia.  Sembuhkanlah, karena Engkaulah yang Maha Menyembuhkan.  Tiada kesembuhan melainkan kesembuhan-Mu.  Kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit.” (HR. Muslim no.2191)</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;"><strong>KARANGAN BUNGA?</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Ada sebagian orang yang ketika mengunjungi orang sakit selalu menyempatkan diri untuk membawa karangan bunga kepada si sakit.  Ada pula yang menelipkan tulisan yang berisi ungkapan dan harapan agar lekas sembuh.  Hal ini dilarang, karena:</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">tradisi semacam ini berasal dari agama lain, padahal kita dilarang 	untuk menyerupai perilaku mereka.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">mengganti doa untuk si sakit agar diberikan kesucian, rahmat, 	ampunan, dan kesehatan dengan ungkapan-ungkapan kering dan 	harapan-harapan yang tidak bisa dimajukan atau diundur.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">mengganti ruqyah yang syari melalui bacaan ayat-ayat al quran maupun 	hadits dengan karangan bunga yang barangkali akan layu sehari atau 	dua hari kemudian.</p>
</li>
</ol>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;"><strong>MEMBACAKAN SURAT YASIN?</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Ada sebagian orang yang membacakan surat yasin kepada orang yang sakit, terutama jika si sakit sudah sangat parah, koma, atau jika dalam keadaan menjemput ajal.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Mereka berdasarkan pada:</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-weight: normal;">“<strong>Tidak seorang pun yang akan mati, lalu dibacakan buatnya surat yasin, kecuali pasti diringankan/dimudahkan kematiannya.” </strong></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;">Keterangan:</p>
<p style="margin-bottom: 0cm;">hadits ini derajatnya <strong>“Maudhu/palsu</strong>”, diriwayatkan oleh Abu Nu&#8217;aim dalan Akhbar al Asbahan 1/188, di dalamnya ada seorang perowi yang suka memalsukan hadits yang bernama &#8216;Marwan bin Salim Al Jazari&#8217;.  Imam Bukhori dan Muslim mengatakan bahwa Marwan bin Salim dalam meriwayatkan hadits tergolong &#8216;MUNGKARUL HADITS&#8217; (lihat: Mizanul I&#8217;tidal 4/90). <br />
</em></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;">“<strong>Bacakanlah surat Yasin untuk orang-orang yang akan mati di antara kamu.”</strong>(Riwayat Abu Dawud, Ibnu Majah, Nasa&#8217;i. Derajat hadits Dhaif.)</em></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Karena hadits-hadits di atas adalah dhaif &amp; maudhu/palsu, maka pembacaan surat yasin untuk orang-orang yang akan mati tidak dapat diamalkan.  Hal ini sebagaimana keterangan para ulama bahwa hadits lemah tidak dapat dipakai sebagai dasar suatu amalam meskipun hanya fadhaail amal.  Soal aqidah, ibadah, muamalah, maupun fadhaail amal harus berdasarkan dalil yang shahih.  Di antara salah satu sebab munculnya bidah adalah karena pengamalan hadits-hadits lemah maupun palsu.  Tidak dibenarkan menetapkan hukum syari, baik hukum mustahab (sunnat) atau hukum lainnya dengan hadits lemah.  Inilah pendapat yang benar.  Konsekuensinya, tidak ada perbedaan antara hadits tentang fadhaail amal dengan hadits tentang hukum.   Inilah pendapat mayoritas ulama, seperti Al Hafizh Ibnu Hajar al Asqolani, Imam Asy Syaukani, Al Allamah Shiddiq Hasan Khan dan Syaikh Muhammad Syakir serta lainnya.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;"><strong>PERLUKAH EUTHANASIA?</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Terkadang, karena sakit yang diderita sangat berat, atau keluarga sudah tidak tega melihatnya; serta menurut ilmu medis, pasien tersebut tidak dapat sembuh, baginya kematian hanya soal waktu;  seseorang disarankan atau meminta suntikan euthanasia, sehingga si sakit dapat segera terbebas dari penderitaan yang sering dialaminya selama ia masih hidup.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Euthanasia sebaiknya tidak dilakukan, hal ini karena:  euthanasia menghalangi si sakit ataupun orang-orang di sekitar si sakit untuk mendapatkan manfaat dari status kehidupannya.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Dengan tetap hidup dengan kondisi semacam itu, si sakit akan dihapus catatan buruknya dan diangkat derajatnya, jika ia memiliki iman dan ihsan.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Dengan tetap hidup, yang bersangkutan terkadang mendapatkan doa yang baik dan diterima oleh Allah.  Sehingga disembuhkan oleh Allah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu, atau diampuni dosa-dosanya berkat doa sesama muslim yang ditujukan kepadanya.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Dengan tetap hidup, maka catatan buruk keluarganya yang dirundung kesedihan dan kegelisahan akan dihapus.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">&#8216;Tidaklah seorang muslim mengalami kepayahan, kesakitan, kegelisahan, kesedihan, gangguan, maupun kesusahan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan dengan itu Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya. &#8216; (HR. Bukhari no.5642)</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Dengan tetap hidup, maka kebajikannya akan tetap mengalir dan tidak terputus, terutama jika yang bersangkutan adalah seorang ayah atau ibu.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Dan dengan tetap hidup, maka pahala akan tetap melimpah kepada orang yang menjenguk dan mengunjungi si sakit.  Penjenguk akan mendapatkan shalawat dari 70 ribu malaikat yang ditugaskna mendoakannya, insya Allah.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Semoga bermanfaat, Allahu A&#8217;lam </p>
</li>
</ol>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Wonorejo, 8 Juli 2008</p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jilbab.or.id/archives/912-doa-dari-70-ribu-malaika/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hadiah Nabawiyah Untuk Menghapus Musibah</title>
		<link>http://jilbab.or.id/archives/877-hadiah-nabawiyah-untuk-menghapus-musibah/</link>
		<comments>http://jilbab.or.id/archives/877-hadiah-nabawiyah-untuk-menghapus-musibah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Oct 2009 14:57:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sutikno bin Tumingan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Pribadi Shalihah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jilbab.or.id/?p=877</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Abu Maryam Majdi Fathi As-Sayyid Saudariku Muslimah &#8230; Ini adalah hadiah nabawiyah kepada para wanita yang dengannya Allah menghapus musibah darimu,  mengeluarkanmu dari kesulitan-kesulitan dan menjadikan sebuah kebahagiaan untukmu dari kesedihan dan jalan keluar dari kesusahan. Ini benar-benar hadiah. Ini benar-benar ghanimah (harta ramapasan perang). Sahabiyah yang mulia Ummu Salamah radhiyallahu &#8216;anhuma meriwayatkan kepada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh Abu Maryam Majdi Fathi As-Sayyid</p>
<p>Saudariku Muslimah &#8230;<br />
Ini adalah hadiah nabawiyah kepada para wanita yang dengannya Allah menghapus musibah darimu,  mengeluarkanmu dari kesulitan-kesulitan dan menjadikan sebuah kebahagiaan untukmu dari kesedihan dan jalan keluar dari kesusahan.</p>
<p>Ini benar-benar hadiah.<br />
Ini benar-benar ghanimah (harta ramapasan perang).</p>
<p><span id="more-877"></span></p>
<p>Sahabiyah yang mulia Ummu Salamah radhiyallahu &#8216;anhuma meriwayatkan kepada kita, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:</p>
<blockquote><p>&#8220;Tidaklah seorang hamba yang tertimpa musibah lalu dia berkata &#8216;<strong><em>Inna lillaahi wa innaa ilaihi rooji&#8217;uun, allohumma &#8216;jurni fii mushiibatii wa akhlif lii khoirom-minhaa&#8217; </em></strong>(Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya lah kami kembali, ya Allah berikanlah pahala kepadaku dalam musibahku dan gantilah untukku yang lebih baik daripadanya), kecuali Allah subhanahu wa ta&#8217;ala memberikan pahala kepadanya dalam musibahnya dan menggantinya dengan yang lebih baik.&#8221;<br />
<strong>[Hadits shahih diriwayatkan oleh Muslim 918, Abu Daud 3119, Ahmad 6/313, Abdur Razzaq 5/564 dalam Al-Mushannaf, At-Tirmidzi 3578, Ibnu Majah 1598, dan Ath-Thayalisi 809]</strong></p></blockquote>
<p>Ummu Salamah radhiyallahu &#8216;anhuma berkata: Ketika Abu Salamah meninggal, saya mengucapkan: &#8220;Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu pahala di sisi-Mu dengan musibahku tentang Abu Salamah, ya Allah berilah ganti kepadaku dengan yang lebih baik daripadanya, dan aku<br />
mengulang-ulang dalam diriku: Yang lebih baik dari Abu Salamah, maka datanglah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melamarku dan menikahiku.&#8221;</p>
<p><strong>&#8220;Tidak ada seorang hamba yang tertimpa musibah&#8221;, </strong><br />
musibah disini mencakup musibah yang sedikit dan banyak, yang besar maupun yang kecil, sebab lafazhnya dalam bentuk nakirah (tanpa alif dan lam) dengan di tanwin, hal itu menunjukan umum dan menyeluruh.</p>
<p><strong><em>Inna lillaahi wa innaa ilaihi rooji&#8217;uun </em></strong><br />
&#8220;Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya lah kami kembali&#8221;, yakni Dzat kita dan semua yang dinisbatkan kepada kita adalah milik dan makhluk Allah, Dia berbuat kepada kita sebagaimana kehendak-Nya, semuanya adalah pinjaman yang (mesti) dikembalikan sebagaimana ditunjukkan oleh Allah subhanahu wa ta&#8217;ala dengan firman-Nya: &#8220;Dan kepada-Nya lah kami kembali.&#8221;</p>
<p>Maka kita wajib sabar terhadap musibah dan merenungkan hakikat perkara ini. Manfaat perkara ini bagi wanita yang tertimpa musibah tidak terletak pada pengucapan lafazh doa itu semata, hal itu tidak berguna, akan tetapi manfaatnya diperoleh dengan merenungkannya dengan sebenar-benarnya, sungguh hal itu adalah obat mujarab yang mendorong kepada kesempurnaan kesabaran bahkan itulah hakikat ridha.</p>
<p>Saudariku Muslimah &#8230;<br />
Allah subhanahu wa ta&#8217;ala menjadikan kalimat-kalimat mulia ini sebagai pegangan bagi orang-orang yang tertimpa musibah karena terkandung di dalamnya makna-makna yang penuh berkah dan rahasia-rahasia Rabbaniyah.</p>
<p><em><strong>allohumma &#8216;jurni</strong></em><br />
&#8220;Berikanlah ganjaran dan pahala kepadaku &#8220;.</p>
<p><em><strong>fii mushiibatii</strong></em><br />
&#8220;Musibah&#8221;, adalah semua hal yang tidak diinginkan yang terjadi pada diri seseorang, yakni berikanlah pahala kepadaku, pahala yang menyertai musibah atau karenanya.</p>
<p><em><strong>wa akhlif lii </strong></em><br />
&#8216;<em>akhlafa&#8217;</em> dari <em>&#8216;ikhlaafu&#8217;</em> karena apa yang terganti dikatakan kepadanya (<em>akhlafa alaika</em>) dan apa yang tidak terganti seperti ayah yang meninggal dinamakan (<em>kholafa alaika</em>).</p>
<p><strong>&#8220;Allah mengganti baginya dengan yang lebih baik&#8221;, </strong><br />
hal itu karena ketenangannya di bawah keputusan-keputusan Allah, kesabarannya terhadap apa yang menimpanya dan Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang yang baik dalam beramal.</p>
<p>Hadiah nabawiyah yang satu ini banyak dilupakan oleh kebanyakan manusia kecuali yang diberi rahmat oleh Allah subhanahu wa ta&#8217;ala.</p>
<p>Dan engkau wahai Saudariku muslimah membutuhkannya untuk menghapus musibah yang menimpamu siang malam. Oleh karena itu, jadikanlah doa-doa nabawiyah tersebut sebagai benteng dan perisaimu yang menjaga dan melindungimu dari musibah yang menimpamu.</p>
<p>Di dalam hadiah nabawiyah di atas, terdapat janji pemberian ganti yang lebih baik atas musibah, baik di dunia -dan itulah kabar gembira yang disegerakan bagi seorang mukminah-, maupun di akhirat, dan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.</p>
<p>==dari: Bingkisan Istimewa bagi Muslimah, Abu Maryam Majdi Fathi As-Sayid, Darul Haq, hal138-140==</p>
<p><!-- 		@page { margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } 		A.sdfootnoteanc { font-size: 57% } --></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jilbab.or.id/archives/877-hadiah-nabawiyah-untuk-menghapus-musibah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan Biarkan Puasa Anda Sia-Sia (bag.2)</title>
		<link>http://jilbab.or.id/archives/838-jangan-biarkan-puasa-anda-sia-sia/</link>
		<comments>http://jilbab.or.id/archives/838-jangan-biarkan-puasa-anda-sia-sia/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Sep 2009 23:44:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sutikno bin Tumingan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jilbab.or.id/?p=838</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Betapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya selain lapar dan dahaga.&#8221; (Hr. Ahmad) Pada bagian kedua ini, syaikh Abdul Aziz As Sadhan memaparkan koreksi beliau mengenai: mengakhirkan adzan maghrib mengakhirkan berbuka tidak bersiwak setelah matahari condong ke barat merasa tertekan karena di pagi hari dalam kondisi junub Selamat membaca&#8230; 7. Mengakhirkan Adzan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>&#8220;Betapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya selain lapar dan dahaga.&#8221; (Hr. Ahmad)</p></blockquote>
<p>Pada bagian kedua ini, syaikh Abdul Aziz As Sadhan memaparkan koreksi beliau mengenai:</p>
<ol>
<li> mengakhirkan adzan maghrib</li>
<li>mengakhirkan berbuka</li>
<li>tidak bersiwak setelah matahari condong ke barat</li>
<li>merasa tertekan karena di pagi hari dalam kondisi junub</li>
</ol>
<p>Selamat membaca&#8230;</p>
<p><span id="more-838"></span><strong>7. Mengakhirkan Adzan Maghrib</strong></p>
<p>Kesalahan lain yang berkaitan dengan muadzin pada bulan Ramadhan, ada sebagian orang tidak mengumandangkan adzan kecuali setelah kegelapan merata, dan tidak cukup hanya dengan terbenamnya matahari saja. Mereka beranggapan bahwa itu merupakan sikap lebih berhati-hati dalam ibadah. Perbuatan ini termasuk menyelisihi sunnah. Sebab, menurut sunnah, hendaknya adzan dikumandangkan ketika matahari terbenam dengan sempurna, sedangkan acuan yang lain tidak dianggap. Allah Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<blockquote><p>&#8220;&#8230;kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam&#8230;&#8221; (Al-Baqarah: 187)</p></blockquote>
<p>Allah Ta&#8217;ala menjadikan batasan puasa dengan masuknya waktu malam. Sedangkan, masuknya waktu malam ditandai dengan terbenamnya matahari, sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam:</p>
<blockquote><p>&#8220;Apabila waktu malam telah tiba dari sini dan waktu siang telah pergi dari sini dan matahari telah terbenam, maka orang yang puasa (boleh) berbuka.&#8221; (HR. Bukhari dan Muslim)</p></blockquote>
<p>Imam Muhammad bin Nashr Al-Marwazi rahimahullahu, setelah menyebutkan ayat di atas, mengatakan, &#8220;Para ulama sepakat bahwa bila matahari telah terbenam, berarti telah masuk waktu malam dan orang yang puasa dibolehkan berbuka.&#8221;</p>
<p><strong><em>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah</em></strong> pernah ditanya tentang terbenamnya matahari, apakah dibolehkan bagi orang yang puasa berbuka dengan sekedar melihat terbenamnya matahari? Syaikhul Islam rahimahullah menjawab, &#8220;Bila bulatan matahari seluruhnya telah terbenam, maka orang yang berpuasa boleh berbuka. Sodangkan, warna merah menyala yang masih terlihat di ufuk itu tidak perlu dianggap. Bila bulatan matahari seluruhnya telah sirna, maka akan tampak warna hitam di ufuk timur, sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam,</p>
<blockquote><p>&#8220;Apabila waktu malam telah tiba dari sini dan waktu siang telah pergi dari sini dan matahari telah terbenam, maka orang yang puasa (boleh) berbuka&#8221; </p></blockquote>
<p><strong>8. Mengakhirkan Berbuka</strong></p>
<p>Termasuk kesalahan yang banyak dilakukan kaum muslimin adalah mengakhirkan buka puasa. Di sini ada dua kesalahan;</p>
<p><em><span style="text-decoration: underline;">pertama</span></em><span style="text-decoration: underline;">,</span> hal itu pada umumnya akan menyebabkan terlambatnya pelaksanaan shalat Maghrib. Bahkan, terkadang bisa menyebabkan habisnya waktu shalat Maghrib secara keseluruhan. Ini tentu saja musibah yang lebih besar dan lebih pahit. Karena itu, seorang muslim harus segera buka puasa agar bisa shalat berjamaah bersama kaum muslimin.</p>
<p><em><span style="text-decoration: underline;">Kedua</span></em><span style="text-decoration: underline;">,</span> mengakhirkan buka puasa berarti menyelisihi sunnah Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan menyerupai kaum yahudi dan nasrani. Hal ini dijelaskan oleh dalil-dalil berikut. Diriwayatkan dari Sahl bin Sa&#8217;ad, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,</p>
<blockquote><p>&#8220;Manusia senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.&#8221; (HR. Bukhari dan Muslim).</p></blockquote>
<p>Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda:</p>
<blockquote><p>&#8220;Umatku senantiasa di atas sunnahku selama tidak menunggu munculnya bintang-bintang untuk berbuka puasa.&#8221; (HR. Ibnu Hibban).</p></blockquote>
<p>Diriwayatkan dari Abu Darda&#8217;, ia berkata,</p>
<blockquote><p>&#8220;Ada tiga akhlak kenabian; menyegerakan berbuka puasa; mengakhirkan makan sahur; dan meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri di dalam shalat.&#8221; (HR. Thabarani, hadits mauquf).</p></blockquote>
<p>Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:</p>
<blockquote><p>&#8216;Agama (Islam) ini akan senantiasa unggul selama pemeluknya menyegerakan berbuka, karena yahudi dan nasrani mengakhirkan (berbuka).&#8221; (HR. Ahmad dan Tirmidzi)</p></blockquote>
<p><strong><em>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu</em></strong> mengatakan, &#8220;Ini merupakan dalil, bahwa kemenangan agama Islam yang didapatkan dengan menyegerakan berbuka puasa itu karena menyelisihi kaum yahudi dan nasrani. Bila menyelisihi mereka merupakan sebab kemenangan agama, sedangkan Allah mengutus para rasul agar agama yang hak dimenangkan-Nya terhadap semua agama, maka menyelisihi orang-orang yahudi dan nasrani termasuk tujuan terbesar diutusnya rasul.&#8221;</p>
<p><strong>9. Tidak Bersiwak Setelah Matahari Condong ke Bara</strong>t</p>
<p>Kesalahan lain yang berkaitan dengan puasa adalah keengganan sebagian umat Islam bersiwak setelah matahari condong ke Barat. Mereka juga mengingkari orang yang bersiwak pada waktu tersebut. Di antara argumen pengingkaran mereka bahwa bersiwak itu menghilangkan bau mulut, padahal di sisi Allah, bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi dari minyak kasturi, sebagaimana yang tertera dalam sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam:</p>
<blockquote><p>&#8220;Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, bau mulut orang puasa itu lebih wangi di sisi Allah daripada minyak kasturi.&#8221; (HR. Bukhari dan Muslim) </p></blockquote>
<p><strong><em>Imam Asy-Syaukani</em></strong> mengisyaratkan hal ini dalam kitab Nailul Author ketika menyebutkan perbedaan pendapat terkait bau mulut orang puasa, apakah itu terjadi di dunia atau di akhirat. Asy-Syaukani mengatakan, &#8220;Perbedaan pendapat ini berakibat munculnya pendapat yang memakruhkan bersiwak bagi orang berpuasa.&#8221; </p>
<p>Dalil lain yang mereka jadikan argumen adalah hadits yang diriwayatkan oleh Baihaqi, Ath- Thabrani, dan Daruquthni dari Ali radhiyallahu anhu secara mauquf serta dari Khabbab radhiyallahu anhu secara marfu&#8217; bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,</p>
<blockquote><p>&#8220;Bila kalian puasa, maka bersiwaklah pada pagi hari dan jangan bersiwak pada sore hari. Karena sesungguhnya, tidaklah kedua bibir orang puasa kering pada sore hari, kecuali akan menjadi cahaya antara kedua matanya pada hari kiamat.&#8221;</p></blockquote>
<p><strong>Ini adalah hadits dha&#8217;if marfu&#8217;, dan mauquf. Hadits ini dinyatakan lemah oleh Al-&#8217;Iraqi, Ibnu Hajar, dan Asy-Syaukani</strong></p>
<p>Orang yang enggan bersiwak saat matahari telah condong ke Barat atau sore hari, berdalil dengan riwayat yang berasal dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu yang berkata,</p>
<blockquote><p>&#8220;kamu boleh bersiwah sampai waktu ashar. Bila kamu telah shalat (ashar), maka tinggalkan siwak itu. Sesungguhnya, aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda, &#8216;&#8230; bau mulut orang puasa itu lebih wangi di sisi Allah &#8230; “(HR. Daruquthni) </p></blockquote>
<p><strong><em>Asy Syaukani rahimahullahu</em></strong> berkata, &#8220;Perkataan Abu Hurairah -selain konteksnya tidak menunjukkan sebuah permintaan- tidak bisa dijadikan hujjah karena di dalam sanadnya terdapat Umar bin Qais. Ia tidak dipakai haditsnya. Pendapat yang benar, bersiwak itu disunnahkan bagi orang yang puasa, baik pada pagi maupun sore hari. Inilah pendapat jumhur ulama.&#8221; Dalil yang menunjukkan bolehnya bersiwak adalah keumuman sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam:</p>
<blockquote><p>&#8220;Seandainya aku tidak memberatkan umatku, niscaya aku perintahkan mereka bersiwak setiap kali akan shalat (Muttafaqun &#8216;Alaih)</p></blockquote>
<p><strong><em>Imam Bukhari mengatakan,</em></strong> &#8220;Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak memberikan kekhususan bagi orang yang puasa dari yang lain.&#8221; Nabi shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda:</p>
<blockquote><p>&#8220;Siwak itu pembersih mulut dan diridhai Rabb.&#8221; </p></blockquote>
<p>Dalil yang menguatkan pendapat di atas adalah riwayat yang dikeluarkan oleh Ath-Thabrani dengan sanad yang dinyatakan bagus oleh Ibnu Hajar.</p>
<p>Disebutkan dari Abdurrahman bin Ghanmin, ia berkata, &#8220;Aku bertanya kepada Mu&#8217;adz bin Jabal,&#8217; Apakah aku mesti bersiwak saat aku puasa?&#8217; Ia menjawab, &#8216;Ya.&#8217; &#8216;Kapan waktunya?&#8217; tanyaku. &#8216;Sesukamu, pagi atau sore,&#8217; jawabnya. Aku bertanya lagi, &#8216;Orang-orang enggan bersiwak di sore hari. Mereka berkata bahwa Rasulullah bersabda, &#8216;Bau mulut orang puasa itu lebih wangi di sisi Allah daripada minyak kasturi?&#8217; Ia menjawab, &#8216;Subhanallah, beliau telah memerintahkan mereka bersiwak, sedang beliau mengetahui bahwa orang puasa itu pasti bau mulutnya tidak sedap, meski ia bersiwak. Orang yang menyuruh orang lain agar dengan sengaja membuat bau mulutnya tidak sedap, maka tidak ada kebaikannya sama sekali, bahkan yang ada adalah keburukan. Kecuali, bila orang tersebut sedang diuji dengan mendapat musibah dan tidak mendapatkan jalan keluarnya sama sekali&#8217;.Aku bertanya lagi, &#8216;Apakah debu akibat berjuang di jalan Allah akan dibalas dengan pahala, yaitu bagi orang yang dipaksa keluar ke sana dan tidak mendapatkan jalan keluar darinya?&#8217; Ia menjawab, &#8216;Benar. Adapun, orang yang sengaja melemparkan dirinya ke dalam kebinasaan, maka ia tidak mendapatkan pahala&#8217;. </p>
<p><strong><em>Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu</em></strong> berkata, &#8220;Orang yang puasa tidak batal puasanya hanya dengan bersiwak. Bahkan, siwak adalah sunnah baginya dan bagi selainnya di setiap waktu, baik pagi atau sore hari.&#8221; </p>
<p><strong>10. Merasa Tertekan Karena di Pagi Hari Dalam Kondis Junub</strong></p>
<p>Kesalahan lain adalah perasaan sangat tertekan yang dialami oleh sebagian umat Islam bila bangun pagi dalam kondisi junub. Kepada mereka, perlu disampaikan, &#8220;Tidak ada dosa atas kalian Sempurnakanlah puasa kalian. Sebab, Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah mendapatkan waktu Subuh dalam keadaan junub. Lalu, beliau mandi dan puasa.&#8221;</p>
<p>Syaikh Abdul Aziz bin Baz pernah ditanya tentang orang yang puasa yang mimpi basah pada siang hari bulan Ramadhan; apakah puasanya batal atau tidak dan apakah ia wajib segera mandi. Ia menjawab, &#8220;Mimpi basah tidak membatalkan puasa. Sebab, itu bukan atas kemauan orang puasa. Hendaknya ia mandi janabat bila ia mendapati air mani pada dirinya. Seandainya ia mimpi basah setelah shalat Subuh dan mengakhirkan mandi sampai waktu Zhuhur, maka hal tersebut tidaklah mengapa.</p>
<p>Pun demikian, seandainya ia mengauli istrinya pada malam hari dan baru mandi setelah terbit fajar, maka tidak ada dosa atasnya. Ada riwayat shahih dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam bahwa pada waktu Subuh beliau pernah junub karena bersetubuh, lalu beliau mandi dan berpuasa.</p>
<p>Wanita yang sedang haid atau nifas juga sama, seandainya keduanya telah suci pada malam hari dan baru mandi setelah terbit fajar, maka tidak ada dosa atas mereka, dan puasanya tetap sah. Akan tetapi, keduanya tidak boleh mengakhirkan mandi atau shalat sampai terbitnya matahari. Mereka harus segera mandi sebelum terbit matahari, sehingga mereka bisa menunaikan shalat tepat waktunya. Seorang lelaki harus segera mandi janabat sebelum waktu shalat Subuh, sehingga ia bisa melaksanakan shalat dengan berjamaah. Wallahu waliyyut taufiq.&#8221; </p>
<p>Terkait masalah ini, Syaikh Muhammad bin Utsaimin mengatakan, &#8220;Bila fajar telah terbit, maka puasa orang yang sedang junub tetap sah dan tidak ada masalah dengannya. Dalil mengenai ini ada dalam Al-Quran dan As-Sunnah. Adapun dalil dari Al-Quran adalah firman Allah Ta&#8217;ala:</p>
<blockquote><p>&#8220;Maka, sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. ..&#8221; (Al-Baqarah : 187)</p></blockquote>
<p>Allah menghalalkan bersetubuh pada malam hari sampai fajar tampak jelas. Ini berkonsekuensi bahwa orang itu tidak mandi kecuali setelah terbit fajar. Sebab, bila perbuatan ini dibolehkan untuknya sampai terbit fajar, maka ia akan tetap dalam kondisinya sampai akhir malam yang singkat itu, dan pasti mandinya akan dilakukan setelah terbit fajar.</p>
<p>Adapun dalil dari As-Sunnah adalah riwayat yang shahih dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, bahwa beliau pernah dalam keadaan junub pada waktu pagi dan beliau pun berpuasa. Akan tetapi, yang utama bagi orang yang junub hendaklah segera mandi agar ia dalam kondisi suci. Bila itu tidak mungkin, maka hendaklah ia berwudhu, karena wudhu dapat meringankan janabat.</p>
<p>Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah ditanya tentang orang yang tidur dalam kondisi junub. Beliau menjawab,</p>
<blockquote><p>&#8220;Bila ia telah wudhu, silakan tidur.&#8221; (HR. Bukhari).</p></blockquote>
<p>Ini merupakan dalil bahwa wudhu bisa meringankan janabat, juga sebagai dalil bahwa seseorang itu semestinya tidur dalam keadaan suci. Bisa jadi suci secara sempurna yaitu dengan mandi atau suci yang meringankan yaitu dengan berwudhu.</p>
<hr />disalin dari buku <strong>&#8216;Jangan Biarkan Puasa Anda Sia-Sia!</strong> terjemahan dari: Mukhalafat Ramadhan, Syaikh Abdul Aziz As Sadhan, Penerbit Qiblatuna &#8211; Solo, hal 41-64</p>
<hr />
<p style="text-align: justify;"><strong>Catatan kaki:</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jilbab.or.id/archives/838-jangan-biarkan-puasa-anda-sia-sia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan Biarkan Puasa Anda Sia-Sia (bag 1)</title>
		<link>http://jilbab.or.id/archives/819-jangan-biarkan-puasa-anda-sia-sia-1/</link>
		<comments>http://jilbab.or.id/archives/819-jangan-biarkan-puasa-anda-sia-sia-1/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Sep 2009 00:22:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sutikno bin Tumingan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jilbab.or.id/?p=819</guid>
		<description><![CDATA[Puasa Ramadhan adalah karunia luar biasa bagi umat Islam. Maka, sungguh merugi, bila puasa yang dikerjakan selama bulan ini tak mendatangkan pahala lantaran tidak sesuai dengan tuntunan Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Beliau bersabda, &#8220;Betapa banyak orang yang berpuasa, tapi mereka tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya itu kecuali lapar dan dahaga&#8221;(HR. Ahmad). Syaikh Abdul Aziz [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;">Puasa Ramadhan adalah karunia luar biasa bagi umat Islam. Maka, sungguh merugi, bila puasa yang dikerjakan selama bulan ini tak mendatangkan pahala lantaran tidak sesuai dengan tuntunan Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Beliau bersabda, <strong><em>&#8220;Betapa banyak orang yang berpuasa, tapi mereka tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya itu kecuali lapar dan dahaga&#8221;</em></strong>(HR. Ahmad).</p>
<p style="text-align: left;">Syaikh Abdul Aziz As Sadhan, dalam buku  &#8216;Jangan Biarkan Puasa Anda Sia-Sia!&#8217; -terjemahan dari &#8216;mukhalafat ramadhan&#8217; menjelaskan berbagai kesalahan-kesalahn yang sering dilakukan ketika bulan puasa. Tulisan beliau, insya Allah mampu membimbing kita dalam mengoreksi berbagai praktik yang salah tersebut. Semoga artikel ini bermanfaat dan dapat menjadi panduan setiap muslim dalam menjalani bulan penuh berkah ini. Semoga, kita mampu menjalankan puasa sesuai dengan sunnah Nabi shallallahu alaihi wa sallam; dan tidak membiarkannya sia-sia tanpa mendapatkan apa-apa, kecuali lapar dan dahaga.Selamat membaca!<span id="more-819"></span><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong><strong>1. Tetap Makan Sahur Sampai Mendengar Lafazh Adzan : Hayya &#8216;Alash Shalah</strong></p>
<p>Sebagian orang bila mendengar muadzin mengumandangkan adzan shalat Subuh,mereka baru bangun tidur untuk makan dan minum. Bila Anda menasihati dan menjelaskan bahwa itu salah,mereka akan menjawab bahwa hal itu dibolehkan sampai muadzin mengucapkan: Hayya &#8216;alash shalah. Bila muadzin mengucapkan kalimat ini, maka makan dan minum tidak dibolehkan lagi. Pendapat ini tentu membutuhkan dalil yang shahih.Setelah kami teliti dan tanyakan, bahwa hal itu tidak ada dalilnya. Bahkan, itu hanyalah perbuatan yang dianggap baik oleh sebagian orang dan tertolak berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam:</p>
<blockquote><p>&#8220;Barangsiapa mengada-adakan perkara baru dalam urusan (agama) kami yang bukan berasal darinya, maka itu tertolak.&#8221;(HR. Bukhari dan Muslim)</p></blockquote>
<p>Dalam lafal riwayat yang lain:</p>
<blockquote><p>&#8220;Barangsiapa mengerjakan suatu amalan yang bukan atas dasar perintah kami, maka itu tertolak.&#8221; (HR. Muslim)</p></blockquote>
<p>Nash Al-Quran dan As-Sunnah telah menetapkan batasan imsak, yaitu ketika telah terang benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Bila fajar telah diketahui, maka orang yang sahur hendaklah meninggalkan makan dan minum. Inilah yang benar. Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman,</p>
<blockquote><p>&#8220;&#8230;Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.&#8221;(Al-Baqarah: 187).</p></blockquote>
<p>Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,</p>
<blockquote><p>&#8220;Sesungguhnya, Bilal mengumandangkan adzan pada malam hari. Maka, makan dan minumlah hingga Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan adzan (Subuh).&#8221; (HR. Bukhari).</p></blockquote>
<p>Ibnu Ummi Maktum adalah sahabat yang buta. Ia tidak akan mengumandangkan adzan sebelum ada orang yang mengatakan kepadanya, &#8220;Waktu Subuh telah tiba. Waktu Subuh telah tiba.&#8221;</p>
<p>Dari ayat dan hadits di atas, jelaslah bahwa batasan imsak itu adalah terbitnya fajar, sedangkan adzan hanya sebagai pemberitahuan hal itu. Maka, saat muadzin mulai mengumandangkan adzan, berarti waktu imsak telah masuk. Jadi, waktu imsak itu bukan dibatasi pada ucapan muadzin: Hayya &#8216;alash shalah.</p>
<p><strong>2. Makan Sahur Lebih Awal</strong></p>
<p>Kesalahan lain yang dilakukan oleh orang yang puasa adalah bersegera makan sahur pada awal waktu. Ini merupakan tindakan menyia-nyiakan pahala yang banyak. Sebab, menurut As-Sunnah, seorang muslim hendaknya mengakhirkan makan sahur agar mendapatkan pahala karena mencontoh Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Anas radhiyallahu anhu meriwayatkan dari Zaid bin Tsabit  radhiyallahu anhu, ia berkata,</p>
<blockquote><p>&#8220;Kami pernah makan sahur bersama Nabi. Setelah itu, beliau bangkit menuju shalat. Aku (Anas) bertanya, &#8216;Berapa lama waktu antara adzan dan makan sahur?&#8217; Zaid bin Tsabit menjawab, &#8216;Kira-kira selama bacaan 50 ayat&#8217;.&#8221; (HR. Bukhari dan Muslim).</p></blockquote>
<p><strong>3. Sengaja Minum Saat Adzan Subuh</strong></p>
<p>Kesalahan lain terkait dengan puasa, sengaja minum saat adzan Subuh kedua yang dilakukan sebagian orang. Menjelang adzan dikumandang, Anda melihatnya hanya duduk santai. Namun, saat muadzin mulai mengumandangkan adzan, ia justru bergegas untuk mengambil air dan meminumnya. Bila diingatkan, ia menjawab, &#8220;Aku boleh makan dan minum sampai adzan selesai.&#8221; Dengan perbuatannya itu, ia telah merusak puasanya, terutama bila muadzin teliti dalam melihat jadwal adzan. Allah Ta&#8217;ala telah mensyariatkan waktu imsak ketika masuk waktu shubuh dengan firman-Nya:</p>
<blockquote><p>&#8220;.. .dan makan dan minumlah hingga terang bagi kalian benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.&#8217;(Al-Baqarah: 187).</p></blockquote>
<p>Nabi shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda,</p>
<blockquote><p>&#8220;Sesungguhnya Bilal mengumandangkan adzan pada malam hari. Maka, maka makan dan minumlah hingga Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan adzan (Subuh).&#8221; (HR. Bukhari-Muslim).</p></blockquote>
<p>Kata &#8216;hatta&#8217; dalam ayat dan hadits di atas berarti masuk, maksudnya kalian boleh makan dan minum sampai waktu Subuh. Hanya saja, ada permasalahan yang harus dijelaskan berkaitan dengan hal ini. Yaitu, seorang muslim boleh minur air di gelas yang telah berada di tangannya saat muadzin mengumandangkan adzan. Ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam:</p>
<blockquote><p>&#8220;Bila salah seorang di antara kalian mendengar seruan adzan sedangkan gelas minuman masih di tangannya, maka janganlah ia meletakkannya sebelum melaksanakan keinginannya untuk minum.&#8221; (HR. Abu Dawud, Ibnu Jarir, Hakim, Baihaqi, dan lainnya. Hadits ini memiliki banyak penguat).</p></blockquote>
<p>Perlu ditambahkan juga terkait hal ini, bahwa seorang muslim masih dibolehkan makan dan minum setelah adzan bilamana muadzin mengumandangkan adzan sebelum waktunya. Adzan tersebut tidak berlaku, sehingga orang yang puasa tidak diharamkan dari apa pun yang dibolehkan oleh Allah baginya di waktu ifthar. Shalat Subuh juga tidak dianjurkan untuk segera dilaksanakan karena waktunya belum masuk.</p>
<p><strong><em>Syaikhul Islam mengatakan</em></strong>, &#8220;Bila muadzin mengumandangkan adzan sebelum fajar terbit, sebagaimana Bilal mengumandangkan adzan sebelum fajar pada masa Nabi dan adzannya para muadzin di Damaskus dan kota lainnya, maka makan dan minum setelah itu tidak ada masalah dengan waktu secukupnya.&#8221;</p>
<p><strong><em>Syaikh Ibnu Utsaimin mengatakan</em></strong>, &#8220;Adzan shalat Subuh, baik setelah terbit fajar atau sebelumnya, jika dikumandangkan setelah terbit fajar, maka orang yang sahur wajib berhenti makan dan minum dengan sekedar mendengar adzan saja. Sebab, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya, Bilal mengumandangkan adzan pada malam hari, maka makan dan minumlah sampai kalian mendengar adzan Ibnu Ummi Maktum. Dia tidak mengumandangkan adzan kecuali fajar telah terbit.&#8221; (HR. Bukhari-Muslim).</p>
<p>Jika kalian mengetahui bahwa muadzin mengumandangkan adzan setelah terbit fajar Subuh, maka berhentilah makan dan minum ketika mendengar adzan itu.&#8221;</p>
<p><strong><em>Syaikh Abdul Aziz bin Baz </em></strong>mengatakan saat menjawab masalah ini dan hal-hal yang berkaitan dengannya, &#8220;Seorang mukmin yang berpuasa wajib menahan diri dari makan dan minum serta lainnya bila terbitnya fajar sudah ia ketahui. Itu dalam puasa wajib, seperti; puasa Ramadhan, puasa nadzar, dan puasa kafarat. Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala:</p>
<blockquote><p>&#8220;&#8230; Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar, kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.&#8221; (Al-Baqarah: 187).</p></blockquote>
<p>Selain itu, bila ia mendengar adzan dan mengetahui bahwa itu adzan Subuh, maka ia wajib berhenti dari makan dan minum. Bila muadzin mengumandangkan adzan sebelum terbit fajar atau setelahnya, maka yang utama dan selamat adalah berhenti makan dan minum bila telah mendengarnya. Tidak ada masalah, seandainya seseorang minum atau makan sekedarnya ketika terdengar adzan, karena ia tidak mengetahui terbitnya fajar.</p>
<p>Telah diketahui bersama bahwa masyarakat yang tinggal di tengah-tengah kota yang terdapat banyak cahaya listrik mereka tidak bisa mengetahui terbitnya fajar dengan mata kepalanya sendiri pada waktu tersebut. Namun, ia hendaknya berhati-hati dalam menggunakan jadwal adzan dan kalender waktu yang membatasi terbitnya fajar dengan jam dan menit sebagai bentuk pengamalan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam:</p>
<blockquote><p>&#8220;Tinggalkanlah sesuatu yang meragukanmu kepada sesuatu yang tidak meragukanmu.&#8221; (HR. Bukhari)</p></blockquote>
<p>Juga sabda beliau shallallahu alaihi wa sallam,</p>
<blockquote><p>&#8220;Barangsiapa menjauhi sesuatu yang samar (syubhat), berarti ia telah menjaga agama dan kehormatannya.&#8221; (HR. Bukhari dan Abu Dawud).</p></blockquote>
<p>Hanya Allah sebagai pelindung dan pemberi taufiq.&#8221;</p>
<p><strong>4. Memajukan Waktu Adzan Subuh</strong></p>
<p>Kesalahan lain yang berkaitan dengan puasa adalah adzan Subuh beberapa saat sebelum waktunya yang dilakukan sebagian muadzin. Mereka menganggap bahwa itu merupakan bentuk kehati-hatian dalam beribadah. Perbuatan mereka ini sangat buruk. Mereka tidak berhak mendapatkan citra baik yang diberikan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam kepada muadzin, dengan sabda beliau:</p>
<blockquote><p>&#8220;Muadzin itu dipercaya.&#8221; (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu)</p></blockquote>
<p><strong><em>Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullahu</em></strong> mengatakan, &#8220;Di antara bid&#8217;ah munkar yang diada-adakan pada zaman sekarang adalah mengumandangkan adzan kedua sebelum terbit fajar sekitar 1/3 jam dalam bulan Ramadhan. Demikian juga, mematikan lampu-lampu sebagai tanda larangan makan dan minum bagi siapa saja yang ingin berpuasa. Orang yang mengadakan bid&#8217;ah itu mengklaim bahwa itu untuk kehati-hatian dalam beribadah, dan hanya segelintir orang yang tahu hal itu. Perbuatan itu telah menyeret mereka untuk tidak mengumandangkan adzan kecuali beberapa menit setelah matahari terbenam untuk memantapkan waktu. Dengan keyakinan itu, mereka telah mengakhirkan buka puasa dan menyegerakankan sahur. Mereka telah menyelisihi sunnah. Karena itu, kebaikan mereka hanya sedikit, sedangkan keburukan mereka bertambah banyak. Hanya kepada Allah kita meminta pertolongan.&#8221;</p>
<p>Di samping menyelisihi sunnah, memajukan waktu adzan juga menyebabkan seorang muslim terhalang untuk makan yang pada dasarnya itu masih dibolehkan oleh Allah baginya. Akibatnya, shalat sunah qabliyah dikerjakan sebelum waktunya.</p>
<p><strong>5. Merasa Berdosa Karena Lupa Makan dan Minum Saat Berpuasa</strong></p>
<p>Sebagian orang terkadang merasa berdosa sekali bila mengingat dirinya telah makan atau minum saat puasa karena faktor lupa. Ia bahkan merasa ragu terhadap keabsahan puasanya. Untuk masalah seperti ini dan semisalnya, perlu dikatakan, bahwa tidak ada dosa seberat biji sawi pun, dan puasa tersebut tetap sah, insya Allah. Hendaklah puasa tersebut tetap disempurnakan. Inilah pendapat yang benar. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:</p>
<blockquote><p>&#8220;Bila salah seorang dari kalian lupa, sehingga ia pun makan dan minum, maka hendaklah ia menyempurnakan puasanya. Allah telah memberinya makan dan minum.&#8221; (HR.Bukhari)</p></blockquote>
<p>Dalam hal ini, tidak ada bedanya apakah makanan dan minuman itu sedikit atau banyak. Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan, &#8220;Hadits tersebut mengandung makna kelembutan Allah kepada para hamba-Nya dan bentuk kemudahan bagi mereka, serta diangkatnya kesukaran dan kesempitan dari mereka.&#8221; </p>
<p><strong><em>Syaikh Muhammad bin Utsaimin</em></strong> ketika menjawab pertanyaan terkait masalah ini mengatakan, &#8220;Siapa saja yang makan atau minum saat berpuasa karena lupa, maka puasanya tetap sah. Akan tetapi, bila ia teringat, maka ia harus berhenti dan mengeluarkan makanan atau minuman yang ada di mulutnya. Adapun, dalil sempurnanya puasa karena lupa makan adalah hadits shahih yang disabdakan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan diriwayatkan Abu Hurairah radhiyallahu anhu: &#8221;Bila salah seorang dari kalian lupa, sehingga ia pun makan dan minum, maka hendaklah ia menyempurnakan puasanya. Allah telah memberinya makan dan minum.&#8221; (HR. Muslim).</p>
<p>Karena, lupa itu tidak menyebabkan seseorang dihukum karena mengerjakan perbuatan terlarang. Ini berdasarkan firman Allah yang menyebutkan orang yang meminta ampun akibat lupa, &#8220;Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami khilaf.&#8221; (Al-Baqarah [2]: 286). Allah pun menjawab, &#8216;Telah Aku ampuni&#8217;.&#8221;</p>
<p><strong>6. Tidak Mengingatkan Orang Lain yang Makan dan Minum Karena Lupa</strong></p>
<p>Kesalahan lain yang berkaitan dengan puasa adalah sebagian orang membiarkan orang lain makan dan minum karena lupa hingga ia menyelesaikannya. Orang yang mengetahui hal itu beranggapan bahwa bila orang yang lupa itu diingatkan, maka ia akan terhalang mendapatkan rezeki dari Allah. Orang tersebut tidak sadar kalau sikapnya itu merupakan sebuah kemunkaran dan menyetujui kemunkaran dengan kebodohannya itu.</p>
<p>Di sini, kami akan menyampaikan fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz yang berkaitan dengan permasalahan ini. Ada orang yang bertanya, &#8220;Sebagian orang mengatakan, &#8216;Bila Anda melihat seorang muslim berpuasa, lalu makan atau minum pada siang hari bulan Ramadhan karena lupa, maka Anda tidak semestinya mengingatkannya. Sebab, Allah telah memberinya makan dan minum sebagaimana disebutkan dalam hadits. Apakah tindakan ini benar? Berilah kami fatwa, semoga Anda dibalas pahala.&#8221;</p>
<p><strong><em>Syaikh Ibnu Baz menjawab</em></strong>, &#8220;Siapa pun yang melihat orang berpuasa yang minum atau makan, atau menelan apa saja pada siang hari bulan Ramadhan, maka ia wajib mengingkarinya. Sebab, memperlihatkan makan dan minum pada siang hari bulan puasa adalah bentuk kemunkaran, meskipun pelakunya memiliki alasan dalam perkara itu. Tujuannya, agar orang-orang tidak akan berani terang-terangan melanggar larangan Allah, dengan makan dan minum pada siang hari bulan puasa dengan alasan lupa.Bila pelakunya memang jujur dalam hal klaim kelupaannya itu, maka ia tidak mengganti (menqadha&#8217;) puasanya itu. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam,</p>
<blockquote><p>&#8220;Bila salah seorang dari kalian lupa, sehingga ia pun makan dan minum, maka hendaklah ia menyempurnakan puasanya. Allah telah memberinya makan dan minum.&#8221; (Muttafaqun&#8217;Alaih).</p></blockquote>
<p>Pun demikian dengan musafir, ia tidak boleh menampakkan makan dan minumnya di hadapan orang-orang yang tidak bepergian karena mereka tidak mengetahui statusnya. Ia harus mencari tempat tertutup supaya tidak dituduh melanggar larangan Allah, juga agar orang lain tidak berani berbuat serupa.Orang-orang kafir juga sama, mereka dilarang memperlihatkan makan, minum dan semisalnya di hadapan kaum muslimin. Celah penyepelean ini harus ditutup rapat. Sebab, mereka dilarang menampakkan syi&#8217;ar agama mereka yang batil di hadapan kaum muslimin. Hanya Allah sebagai pelindung dan pemberi taufiq.&#8221;</p>
<p>Kami sampaikan juga <strong><em>fatwa Syaikh Muhammad bin Al Utsaimin</em></strong> terkait masalah ini. Syaikh Utsaimin pernah ditanya tentang hukum makan dan minum karena lupa, apakah orang yang melihat pelakunya wajib mengingatkan puasanya?</p>
<p>Ia menjawab, &#8220;Siapa saja yang makan atau minum saat berpuasa karena lupa, maka puasanya tetap sah. Akan tetapi, bila ia teringat, maka ia harus berhenti dan mengeluarkan makanan atau minuman yang ada di mulutnya. Adapun dalil yang menunjukkan kesempurnaan puasa karena lupa makan adalah hadits shahih yang disabdakan Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan diriwayatkan Abu Hurairah radhiyallahu anhu,</p>
<blockquote><p>&#8216;Barangsiapa terlupa sedang ia berpuasa sehingga terlanjur makan dan minum, maka hendaklah ia menyempurnakan puasanya. Allah telah memberinya makan dan minum.&#8217; (HR. Muslim).</p></blockquote>
<p>Karena, lupa itu tidak menyebabkan seseorang dihukum karena mengerjakan perbuatan terlarang. Ini berdasarkan firman Allah yang menyebutkan orang yang meminta ampun akibat lupa, &#8220;Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami khilaf.&#8221; (Al-Baqarah [2]: 286). Allah pun menjawab, &#8216;Telah Aku ampuni.&#8217;Adapun orang yang melihat orang makan dan minum saat berpuasa karena lupa, maka ia wajib mengingatkannya. Karena, ini termasuk mengubah kemunkaran. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:</p>
<blockquote><p>&#8216;Barangsiapa di antara kalian melihat kemunkaran, maka hendaklah ia mengubah dengan tangannya. Bila tidak mampu maka hendaklah mengubah dengan lisannya. Bila tidak mampu, maka dengan hatinya! (HR. Muslim)</p></blockquote>
<p>Tidak diragukan lagi bahwa tindakan makan dan minum yang dilakukan oleh orang yang berpuasa adalah bentuk kemungkaran. Akan tetapi, pelakunya dimaafkan bila dalam kondisi lupa karena memang tidak ada sangsi hukuman baginya. Adapun, orang yang melihat perbuatan itu, maka tidak ada alasan baginya untuk tidak mengingkarinya.&#8221;</p>
<p>Berkaitan dengan masalah ini, <strong><em>Syaikh Ibnu Jibrin</em></strong> mengatakan, &#8220;Ada sebagian orang yang mengatakan, &#8216;Kami tidak akan mengingatkan orang yang lupa. Kami tidak akan menghentikan rezeki makanan dan minuman yang dikaruniakan oleh Allah kepadanya.&#8217; Yang benar, orang yang melihat hendaknya mengingatkannya, karena itu wajib hukumnya dan lermasuk bentuk amar makruf nahi munkar. Hal yang sama juga berlaku, ketika seseorang melakukan sesuatu yang bisa membatalkan puasa selain makan dan minum karena dianalogikan dengan kedua hal tersebut.&#8221; Bersambung pada tulisan kedua, insya Allah.</p>
<hr />disalin dari buku <strong>&#8216;Jangan Biarkan Puasa Anda Sia-Sia!</strong> terjemahan dari: Mukhalafat Ramadhan, Syaikh Abdul Aziz As Sadhan, Penerbit Qiblatuna &#8211; Solo, hal 41-64</p>
<hr />
<p style="text-align: justify;"><strong>Catatan kaki:</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jilbab.or.id/archives/819-jangan-biarkan-puasa-anda-sia-sia-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Klasifikasi Manusia di Bulan Ramadhan*</title>
		<link>http://jilbab.or.id/archives/711-klarifikasi-manusia-di-bulan-ramadhan/</link>
		<comments>http://jilbab.or.id/archives/711-klarifikasi-manusia-di-bulan-ramadhan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 Aug 2009 02:18:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sutikno bin Tumingan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jilbab.or.id/?p=711</guid>
		<description><![CDATA[*diketik Ulang oleh Sutikno dari  buku: &#8220;Jangan Biarkan Puasa Anda Sia-Sia!&#8221;, Penyusun: Syaikh Abdul Aziz As Sadhan, terbitan &#8216;Qiblatuna &#8211; Solo&#8217; halaman 25-29]* Terkait dengan bulan Ramadhan,manusia terbagi menjadi beberapa macam : PERTAMA kelompok yang menunggu kedatangan bulan ini dengan penuh kesabaran. Ia bertambah gembira dengan kedatangannya,hingga ia pun menyingsingkan lengan dan bersungguh-sungguh mengerjakan segala [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>*<em>diketik Ulang oleh Sutikno dari  buku: &#8220;Jangan Biarkan Puasa Anda Sia-Sia!&#8221;, Penyusun: Syaikh Abdul Aziz As Sadhan, terbitan &#8216;Qiblatuna &#8211; Solo&#8217; halaman 25-29]*</em></p>
<p>Terkait dengan bulan Ramadhan,manusia terbagi menjadi beberapa macam :</p>
<p><strong>PERTAMA</strong></p>
<p>kelompok yang menunggu kedatangan bulan ini dengan penuh kesabaran. Ia bertambah gembira dengan kedatangannya,hingga ia pun menyingsingkan lengan dan bersungguh-sungguh mengerjakan segala macam bentuk ibadah seperti; puasa, shalat, sedekah, dan lain sebagainya. Ini merupakan kelompok yang terbaik.<span id="more-711"></span></p>
<p>Ibnu Abbas radhiyallahu &#8216;anhuma menuturkan,</p>
<blockquote><p>“&#8217;Nabi shallallahu alaihi wa sallam adalah orang paling berderma. Namun, beliau lebih berderma lagi pada bulan Ramadhan, ketika beliau selalu ditemui Jibril.Setiap malam pada bulan Ramadhan, Jibril menemui beliau hingga akhir bulan.  Nabi shallallahu alaihi wa sallam membacakan Al-Quran kepadanya.  Bila beliau bertemu Jibril,beliau lebih berderma daripada angin yang bertiup.&#8221;  </p></blockquote>
<p><strong>KEDUA </strong></p>
<p>kelompok yang sejak bulan Ramadhan datang sampai berlalu, keadaan mereka tetap saja seperti sebelum Ramadhan. Mereka tidak terpengaruh oleh bulan puasa itu serta tidak bertambah senang atau bersegera dalam hal kebaikan.  Kelompok ini adalah orang-orang yang menyia-nyiakan keuntungan besar yang nilainya tidak bisa diukur dengan apa pun.  Sebab, seorang muslim akan bertambah semangatnya pada waktu-waktu yang banyak terdapat kebaikan dan pahala di dalamnya.</p>
<p><strong>KETIGA </strong></p>
<p>kelompok yang tidak mengenal Allah, kecuali pada bulan Ramadhan saja.Bila bulan Ramadhan datang Anda dapat melihat mereka ikut rukuk dan sujud dalam shalat. Tetapi, bila Ramadhan berakhir, mereka kembali berbuat maksiat seperti semula.Mereka adalah kaum yang disebutkan kepada Imam Ahmad dan Al-Fudhail bin Iyadh dan keduanya berkata,<strong> &#8220;Mereka adalah seburuk-buruk kaum lantaran tidak mengenal Allah kecuali pada bulan Ramadhan.&#8221;</strong></p>
<p>Karena itu, setiap orang yang termasuk dalam kelompok ini semestinya tahu bahwa ia telah menipu dirinya sendiri dengan perbuatannya tersebut. Setan pun juga memperoleh keuntungan besar darinya. Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman,</p>
<blockquote><p> &#8221;Setan telah menjadikan mereka mudah (berbuat dosa) dan memanjangkan angan-angan mereka.&#8221; (Muhammad: 25)</p></blockquote>
<p>Sebagai bentuk ajakan dan peringatan untuk kelompok seperti mereka, hendaklah mereka bertaubat kepada Allah dengan sebenar-benarnya taubat. Kami menghimbau agar mereka memanfaatkan bulan ini untuk kembali dan tunduk ke pada Allah serta meminta ampun dan meninggalkan perbuatan buruk yang telah lalu. Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala  berfirman:</p>
<blockquote><p>&#8220;Dan sesungguhnya, Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal shalih, kemudian tetap dijalan yang benar.&#8221;  (Thaha 20: 82)</p></blockquote>
<blockquote><p>“Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal shalih, maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha penyayang.&#8221;</p>
<p>(Al-Furqan : 70) </p></blockquote>
<p>Bila Allah telah mengetahui ketulusan dan keikhlasan mereka, maka Dia akan memaafkan mereka sebagaimana yang Dia janjikan.  Karena, Allah tidak akan mengingkari janji-Nya. Namun, bila mereka tetap saja berbuat maksiat, maka kita harus mengingatkan perbuatan mereka, dan menyampaikan bahwa mereka dalam bahaya besar. Bahaya macam apalagi yang lebih besar daripada meremehkan kewajiban, batasan-batasan, perintah, dan larangan-Nya.</p>
<p><strong>KEEMPAT</strong></p>
<p>kelompok yang hanya perutnya saja yang berpuasa dari segala macam makanan, namun tidak menahan diri dari selain itu. Anda akan melihatnya sebagai orang yang paling tidak berselera terhadap makanan dan minuman. Akan tetapi, mereka tidak merasa gerah ketika mendengar kemungkaran, ghibah, adu domba, dan penghinaan. Bahkan, inilah kebiasaannya pada bulan Ramadhan dan bulan-bulan lainnya.</p>
<p>Kepada orang-orang seperti ini, perlu kita sampaikan bahwa kemaksiatan pada bulan Ramadhan dan bulan lainnya itu diharamkan, tetapi lebih diharamkan lagi pada bulan Ramadhan, menurut pendapat sebagian ulama. Dengan kemaksiatan tersebut berarti mereka telah menodai puasa dan menyia-nyiakan pahala yang banyak.</p>
<p>Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :</p>
<blockquote><p>&#8220;Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta, maka tidak ada kebutuhan bagi Allah dalam diri orang yang meninggalkan makanan dan minumannya.&#8221;  </p></blockquote>
<p>Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda:</p>
<blockquote><p>&#8220;Puasa itu bukan sekedar menahan makan dan minum, tetapi puasa itu adalah meninggalkan perbuatan sia-sia dan perkataan keji.&#8221;  </p></blockquote>
<p><strong>KELIMA</strong></p>
<p>kelompok yang menjadikan siang hari untuk tidur, sedangkan malam harinya untuk begadang dan main-main belaka. Mereka tidak memanfaatkan siangnya untuk berdzikir dan berbuat kebaikan, tidak pula membersihkan malamnya dari hal-hal yang diharamkan.</p>
<p>Kepada orang-orang seperti ini perlu kita sampaikan agar mereka takutlah kepada Allah berkenaan dengan diri mereka. Janganlah menyia-nyiakan kebaikan yang datang kepada mereka.  Mereka telah hidup sejahtera dan makmur. Hendaklah mereka bertaubatlah kepada Allah dengan taubat nasuha dan dan bergembira dengan berita dari Allah yang menyenangkan.</p>
<p><strong>KEENAM</strong></p>
<p>kelompok yang tidak mengenal Allah pada bulan Ramadhan dan tidak pula pada bulan lainnya. Mereka adalah kelompok yang paling buruk dan berbahaya. Anda akan melihat mereka tidak memperhatikan shalat atau puasa. Mereka meninggalkan kewajiban itu secara sengaja, padahal kondisinya sehat dan segar bugar. Setelah itu mereka mengaku sebagai orang Islam. Padahal, Islam sangat jauh dari mereka, bagaikan jauhnya Barat dan Timur. Orang-orang Islam pun berlepas diri dari mereka.Kepada orang-orang semacam ini perlu dikatakan,</p>
<blockquote><p> &#8221;Segeralah bertaubat dan kembalilah kepada agama kalian. Lipatlah lembaran hitam hidup kalian. Sesunguhnya, Rabb kalian Maha penyayang kepada siapa saja yang mentaati-Nya, dan sangat keras siksanya kepada orang yang mendurhakai-Nya.&#8221;</p></blockquote>
<p>Demikianlah, klasifikasi manusia secara global berkaitan dengan bulan Ramadhan. Meski mungkin sebagian kelompok masuk pada pada kelompok lainnya, namun ini perlu dijelaskan.</p>
<hr /><strong>Catatan kaki:</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jilbab.or.id/archives/711-klarifikasi-manusia-di-bulan-ramadhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wahai Anakku, Kami Menginginkan Pahala Itu</title>
		<link>http://jilbab.or.id/archives/508-wahai-anakku-kami-menginginkan-pahala-itu/</link>
		<comments>http://jilbab.or.id/archives/508-wahai-anakku-kami-menginginkan-pahala-itu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 May 2009 23:51:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ummu Raihanah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ibu dan Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jilbab.or.id/?p=508</guid>
		<description><![CDATA[Ya Bunayya,..engkau buah hati kami. Padamu tergantung masa depan kami. Dunia kami dan akhirat kami. Hilang letih dan lelah kami ketika melihat engkau beranjak dewasa tumbuh dengan akhlak mulia. Wahai anakku,&#8230; engkau hidup di penghujung zaman yang semakin banyak kerusakan dan fitnah yang menyambar setiap detik nafasmu. Jikalah tidak engkau bergantung pada Zat Yang Maha [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Ya Bunayya</em>,..engkau buah hati kami. Padamu tergantung masa depan kami. Dunia kami dan akhirat kami. Hilang letih dan lelah kami ketika melihat engkau beranjak dewasa tumbuh dengan akhlak mulia. Wahai anakku,&#8230; engkau hidup di penghujung zaman yang semakin banyak kerusakan dan fitnah yang menyambar setiap detik nafasmu. Jikalah tidak engkau bergantung pada Zat Yang Maha Kuat dan Kuasa pada siapa lagi engkau kan berlari.</p>
<p><span id="more-508"></span>Kami tidak perduli melihat para orang tua yang sibuk memilih dunia untuk belahan jiwa mereka. Yang berkorban dengan apa saja agar anak-anaknya berhasil meraih pangkat dan kedudukan di hati manusia. Yang bila mana kami lupa memanggil anaknya dengan nama biasa, maka mereka akan segera tergesa-gesa meralat,.. maaf anak kami adalah seorang dokter panggillah nama depannya dengan jabatannya.</p>
<p>Duhai penyejuk hati yang gundah,&#8230; kami menginginkan dunia hanya sebagai bekal untukmu menuju akhirat yang abadi. Karena itu kami tidak kecewa bila mendapati nilai C pada matematikamu atau fisikamu. Tetapi sungguh kami akan menangis dan berduka bila engkau lalai pada perintah Rabbmu.</p>
<p>Duhai penyejuk mata,&#8230;. di hari yang semakin mendekati kepunahan. Tak lelah kami mendidikmu dengan Al-Qur’an. Betapa engkau sangat kami inginkan menjadi penghafal dan pengamal Al Qur’an. Siang malam kami bersabar dan tak kecewa membetulkan bacaanmu yang yang tertatih-tatih dan terlupa dari satu ayat Al-Qur’an.<br />
Demikian pula doa senantiasa kami panjatkan untuk kalian agar Allah memberi kemudahan.</p>
<p>Untukmu <em>bunayya</em>,&#8230; bersabarlah di hari yang sulit ini. Sungguh engkau akan menikmati jerih payahmu<br />
ketika dewasa nanti.Janganlah engkau lupakan kami dalam doamu .Semoga Allah di kemudian hari, memberi kelapangan pada kubur kami yang sempit nanti.</p>
<p><em>Ya bunayya</em>,&#8230;. engkau pasti kan bertanya, mengapa orang tua kami melakukan hal ini untuk kami? Jawabnya,&#8230; karena ia adalah suatu kebiasaan yang telah di wariskan oleh para pendahulu kita(salafus shalih).<br />
Begitu pula telah kami dapati dalam ucapan Nabimu yang mulia <em>shalallahu alaihi wassalam</em> diriwayatkan dari Buraidah bin Hushaib <em>radhiyallahu anhu</em> ia berkata: “Pernah ketika aku sedang berada di sisi Rasulullah <em>shalallahu alaihi wassalam</em> maka aku pernah mendengar beliau bersabda,</p>
<p><em>&#8220;Al-Qur’an itu akan menemui ahlinya pada hari kiamat ketika kubur telah terbelah seperti seorang laki-laki yang berwajah putih berseri. Ia berkata pada laki-laki tadi,”Apakah kamu mengenaliku?” dia menjawab,”Aku tidak mengenalimu” Ia berkata,”Aku adalah temanmu, Al-Qur’an yang dulu selalu membuat kering tenggorokanmu di siang hari dan begadang di malam hari. Dan setiap pedagang tentulah mengharapkan keuntungan dari barang dagangannya, dan kamu pada hari ini mendapatkan keuntungan dari usahamu.”Kemudian di berikan untuknya kerajaan di tangan kanannya dan keabadian (surga) ditangan kirinya, di letakkan mahkota kebesaran di kepalanya, dan dikenakan bagi kedua orangtuanya dua pakaian (teramat indah) yang belum pernah dikenakan oleh penduduk bumi. Keduanya berkata: ”Dengan amalan apa kami bisa memperoleh pakaian seperti ini?” Dikatakan: “Dengan (kesabaran)mu dalam mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anakmu” Kemudian diperintahkan kepadanya, Bacalah (Al-Qur’an) dan naikilah tangga-tangga surga dan masuklah ke kamar-kamarnya” Maka dia terus naik (derajatnya) selama dia membacanya dengan cepat atau dengan cara tartil (perlahan-lahan)</em>” <strong>(HR. Ahmad)</strong></p>
<p>Dan juga dalam hadits Abu Hurairah <em>radhiyallahu anhu</em> yang <em>marfu’</em> (sampai) kepada <em>Nabi shalallahu alaihi wassalam</em> beliau bersabda,</p>
<p>“&#8230;. dan dikenakan kepada kedua orangtuanya dua pakaian indah yang tidak bisa dinilai dengan dunia dan seisinya. Keduanya berkata, “Ya Rabb, Bagaimana kami bisa mendapatkan balasan seperti ini !! dikatakan :”<em>Dengan mendidik Al-Qur’an kepada anak-anakmu</em>” <strong>(HR. Ath-Thabrani)</strong>.</p>
<p>Wahai bunayya,.. betapa kami menginginkan pahala itu. Kami-pun menyadari tidaklah mudah untuk mendapatkannya. Karena memang segala sesuatu harus diraih dengan kerja keras yang gigih dan kesabaran yang tak bertepi. Lelah dan letih kami akan di hargai-Nya karena Allah Yang Maha Mulia telah berfirman:</p>
<p><em>“Dan bahwasanya seorang manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya (39) dan bahwasanya usahanya itu kelak akan di perlihatkan kepadanya (40) Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna” (41).</em> <strong>(An-Najm :39-41)</strong>.</p>
<p>Sungguh kami yakin wahai bunayya,&#8230; jika sekiranya para orangtua mengetahui keutamaan dan kedudukan yang tinggi di sisi-Nya karena mengajarkan Al-Qur’an pada buah hati mereka, niscaya mereka akan berlomba-lomba untuk mengajarkan anak-anaknya Al-Qur’an, membimbing mereka untuk selalu membaca, menghayati maknanya dan mengamalkannya dalam kehidupan yang fana ini.</p>
<p>Sumber bacaan :</p>
<ol>
<li>Tafsir Ibnu katsir jilid 9 , Pustaka Imam ASy-Syafi’i, Jakarta, 2008.</li>
<li>Keagungan Al-Qur’an Al-karim, Syaikh Mahmud Al Dosari, Maktabah Darus salam, Riyadh, 2006.</li>
</ol>
<p>Murajaah oleh : Ustadz Eko Hariyanto Lc(Abu Ziyad)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jilbab.or.id/archives/508-wahai-anakku-kami-menginginkan-pahala-itu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>23</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gambaran Hamba Pilihan</title>
		<link>http://jilbab.or.id/archives/486-gambaran-hamba-pilihan/</link>
		<comments>http://jilbab.or.id/archives/486-gambaran-hamba-pilihan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 Mar 2008 14:42:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sofyan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ilmu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jilbab.or.id/archives/486-gambaran-hamba-pilihan/</guid>
		<description><![CDATA[Inilah sifat mereka. Ketika orang-orang bodoh melontarkan ucapan buruk, mereka tidak membalas dengan ucapan yang sama, namun mema’afkan. Senantiasa berkata yang baik, tidak terprovokasi oleh kejahilan orang tersebut. ‘Ibadurrahman (hamba-hamba Ar Rahman sejati). Sosok-sosok pilihan, pribadi dambaan. Mereka dilansir secara tersendiri dalam lembaran-lembaran firman Allah subhanahu wata’ala. Merekalah yang mendapat pujian khusus dari-Nya. Lalu bagaimana [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>           <em><strong> </strong></em><em><strong>Inilah sifat mereka. Ketika orang-orang bodoh melontarkan ucapan buruk, mereka tidak membalas dengan ucapan yang sama, namun mema’afkan. Senantiasa berkata yang baik, tidak terprovokasi oleh kejahilan orang tersebut.</strong></em></p>
<p><em><strong>           </strong></em></p>
<p>‘Ibadurrahman (hamba-hamba Ar Rahman sejati). Sosok-sosok pilihan, pribadi dambaan. Mereka dilansir secara tersendiri dalam lembaran-lembaran firman Allah subhanahu wata’ala. Merekalah yang mendapat pujian khusus dari-Nya.</p>
<p>Lalu bagaimana dengan karakteristik hamba-hamba yang memiliki kedudukan mulia tersebut? Ikuti sajian yang berikut! Di antara sifat dan karakter yang melekat pada mereka adalah :<span id="more-486"></span><br />
<strong>        TAWADHU’ (RENDAH HATI)</strong></p>
<p>Allah  subhanahu wata’ala menggambarkan keadaan mereka dalam firmanNya, “ (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati” ( Al-Furqan : 63 )<br />
Sifat pertama seorang hamba yang menyandang gelar “ ‘ibadurrahman adalah tawadhu’. Tatkala berjalan di atas bumi ini mereka sangat enteng dan ringan, tidak direkayasa, tidak sombong, ataupun angkuh. Tidak berjalan dengan sangat cepat yang menunjukkan sikap suka mengentengkan dan kasar, juga tidak berjalan dengan sangat pelan yang menunjukkan sifat malas dan kumal. Namun insan-insan pilihan ini berjalan dengan ringan, penuh dengan semangat, tekad, kelelakian, dan jiwa muda.</p>
<p>Merekalah yang mengimplementaskan firmanNya , “ Dan sederhanakanlah kamu dalam berjalan.” (Luqman : 19 ).</p>
<p>Maknanya adalah sedang-sedang saja dalam semua urusan, tidak berlebihan atau keterlaluan sekali.</p>
<p>‘Ibadurrahman berjalan di pelosok bumi untuk mencari rizki dan tuntutan hidup dengan penuh kelembutan dalam koridor yang diperkenankan Allah subhanahu wata’ala. Tidak rakus, tamak, menyia-nyiakan kewajiban, melakukan hal-hal yang diharamkan, atau pun berbuat mubadzir.</p>
<p>Mereka teramat jauh dari sikap keras, melecehkan orang lain, sombong, berbangga, dan berbesar diri. Mereka tidak berbuat kerusakan di muka bumi, mencari ketinggian, lebih mendahulukan keuntungan duniawi yang fana, tidak berusaha semata hanya untuk mengumpulkan harta dan bersenang-senang dengan kenikmatan kehidupan duniawi.<br />
<strong>        </strong></p>
<p><strong>        RIFQ ( LEMAH LEMBUT )</strong></p>
<p>Karakter yang berikutnya adalah sebagaimana firman-Nya, “ Dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” ( Al Furqan : 63)</p>
<p>Inilah sifat mereka. Ketika orang-orang bodoh melontarkan ucapan buruk, mereka tidak membalas dengan ucapan yang sama, namun mema’afkan. Senantiasa berkata yang baik, tidak terprovokasi oleh kejahilan oran tersebut, malah, mereka mampu menahan lisan dan emosi.</p>
<p>Yang menjadi patokan mereka dalam hal ini adalah Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, insan paling lemah lembut. Begitu indah satu kisah yang menunjukan keagungan beliau  shallallaahu ‘alaihi wasallam, “Suatu ketika ada seorang Arab Badui yang datang kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dan berkata kasar, lalu kaum muslimin marah dan ingin memberinya pelajaran, namn hal itu dicegah oleh beliau. Beliau membalas sikap kasar itu dengan kasih sayang dan lemah lembut.” (Hadits Muttafaqun ‘alaih).<br />
<strong>        BANYAK BERSUJUD DAN BERDIRI</strong></p>
<p>Allah meneruskan gambaran pribadi ini dalam firman-Nya, “Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka.”(Al Furqan : 64).</p>
<p>Allah menyebut para hamba-Nya sebagai orang yang mencintai malam hari dengan melakukan ibadah. Mereka bangun saat orang-orang sedang terlelap tidur, waspada saat orang-orang lengah, sibuk menyongsong Rabb mereka, mengantungkan jiwa dan angota badan mereka kepada-Nya. Manakala yang lain terlena dan merasa mantap dengan kehidupan duniawi, mereka menginginkan ‘Arsy ar-Rahman sebab mereka mengetahui bahwa ibadah di kegelapan malam dapat menjauhkan mereka dari sifat riya dan minta dipuji. Ibadah di malam hari juga membangkitkan kebahagiaan di hati dan ketenangan bagi jiwa serta penerangan bagi penglihatan mereka.</p>
<p>Saat berdiri di hadapan Allah dan mengarahkan wajah mereka kepada-Nya, mereka merasakan kelezatan dan kebahagiaan yang tak terkira. Tiada lagi rasa manis setelah manisnya beribadah kepada Allah , bermesra, dan melakukan kontak dengan-Nya. Melakukan Qiyamullail merupakan sifat asli ‘ibadurrahman. Allah menyebut mereka dengan sifat itu dalam banyak ayat dan menganjurkan para Nabi-Nya untuk melakukan hal itu.<br />
<strong>        TAKUT NERAKA</strong></p>
<p>Sebagaimana firman-Nya, “Dan orang-orang yang berkata, ‘Ya Rabb kami, jauhkan adzab Jahannam dari kami, sesungguhnya adzabnya itu adalah kebinasaan yang kekal. Sesungguhnya Jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman.” (Al-Furqan : 65-66).</p>
<p>Sekalipun ‘ibadurrahman sangat ta’at dan hari mereka dipenuhi dengan ketakwaan, namun mereka senantiasa merasa amalan dan ibadah mereka masih kurang. Mereka tidak melihat hal itu sebagai jaminan dan pemberi rasa aman dari api neraka bila saja tidak mendapatkan curahan karunia dan rahmat-Nya yang dengannya mereka terhindar dari adzab Jahannam. Karena itu, mereka selalu terlihat takut, cemas dan khawatir dengan adzab Jahannam.</p>
<p>Mereka selalu memohon kepada Allah subhanahu wata’ala agar Dia menghindarkan mereka dari adzab Jahannam seluruhnya, baik adzab yang dirasakan penghuni abadinya ataupun penghuni sementaranya. Inilah sifat setiap mukmin ang bersungguh-sungguh dalam berbuat ta’at dan takut akan adzab Allah subhanahu wata’ala sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya yang lain, “ Dan orang-orang yang takut terhadap adzab Rabbnya. Karena sesunguhnya adzab Rabb mereka tidak dapat orang merasa aman (dari kedatangannya).” (Al-Ma’arj : 27, 28 ).<br />
<strong>        </strong></p>
<p><strong>        EKONOMIS, TIDAK BOROS</strong></p>
<p>Allah subhanahu wata’ala mengatakan, “ Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta) merka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu ) di tengah-tengah antara yang demikian.” (Al-Furqan : 7)</p>
<p>‘Ibadurrahman bukanlah orang-orang yang berbuat mubadzir, membelanjakan harta melewati batas keperluan. Karena orang-orang yang berbuat mubadzir adalah saudara-saudara syetan. Syetan selalu menyuruh berbuat keji dan munkar. Mereka juga mengetahui bahwa mereka bertanggungjawab di hadapan Allah subhanahu wata’ala terhadap harta mereka; dari mana mereka peroleh dan kepada siapa mereka infakan.</p>
<p>Mereka juga tidak pernah kikir terhadap diri sendiri dan keluarga mereka, dalam arti teledor memberikan hak mereka dan tidak berinfaq untuk hal yang telah diwajibkan Allah subhanahu wata’ala, sebab mereka mengetahui bahwa Allah subhanahu wata’ala telah mencela kekikiran dan sifat bakhil. Jiwa nan suci menilai buruk sifat bakhil dan mengindari pelakunya.</p>
<p>Metode berinfaq ‘ibadurrahman adalah moderat dan pertengahan, antara bakhil dan boros. Mereka berada di puncak pertengahan antara boros dan bakhil. Mereka meletakkan ayat Allah subhanahu wata’ala, “ Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.” (Al-Isra’: 29)</p>
<p>Maksudnya janganlah kita memiliki sifat bakhil, yang bermuara tidak mau memberi sesuatu kepada siapa pun. Jangan pula bersifat boros dalam mengeluarkan harta, hingga melebihi kadar kemampuan yang ada pada kita. Namun bersifat tengah antara boros dan kikir, itulah hamba yang bijaksana lagi mulia.</p>
<p>Sumber : Shifaat ‘Ibaadirrahman Fii Al-Qu’an, disusun oleh Bagian Ilmiah penerbit Darul Wathan.<br />
Disalin ulang dari majalah Elfata  edisi 06 volume 07 tahun 2007 hal 21-23.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jilbab.or.id/archives/486-gambaran-hamba-pilihan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Akses Mobile: WAP Jilbab Online dan RSS Situs Muslimah</title>
		<link>http://jilbab.or.id/archives/29-akses-mobile-wap-jilbab-online-dan-rss-situs-muslimah/</link>
		<comments>http://jilbab.or.id/archives/29-akses-mobile-wap-jilbab-online-dan-rss-situs-muslimah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Nov 2007 23:19:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dinda</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Situs]]></category>
		<category><![CDATA[Studi Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Teknologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jilbab.or.id/archives/29-akses-mobile-wap-jilbab-online-dan-rss-situs-muslimah/</guid>
		<description><![CDATA[Berawal dari komentar Abu Afifah yang menanyakan versi WAP dari situs kita tercinta ini, jilbab online (JO), saya jadi mulai memahami bagaimana pentingnya memberikan sebuah layanan akses yang lebih luas menjangkau orang banyak, sampai ke tangan-tangan (baca: ponsel) mereka langsung. Tidak kalah dengan layanan informasi lain, dakwah pun harus berupaya melakukan hal yang serupa, agar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berawal dari <a href="http://jilbab.or.id/archives/19-untuk-layanan-yang-lebih-baik-tak-hanya-sekedar-wajah-baru/#comment-27">komentar Abu Afifah</a> yang menanyakan versi WAP dari situs kita tercinta ini, jilbab online (JO), saya jadi mulai memahami bagaimana pentingnya memberikan sebuah layanan akses yang lebih luas menjangkau orang banyak, sampai ke tangan-tangan (baca: ponsel) mereka langsung. Tidak kalah dengan layanan informasi lain, dakwah pun harus berupaya melakukan hal yang serupa, agar orang-orang mendapatkan pilihan yang lebih baik untuk mereka.</p>
<p>Menyadari hal ini, tim JO telah mengupayakan versi WAP untuk situs ini. Sehingga, jika anda mengaksesnya dari ponsel (http://jilbab.or.id) maka akan diarahkan ke versi WAP secara otomatis. Dengan demikian aksesnya menjadi lebih murah lantaran tidak perlu mendownload gambar dan menjadi lebih sederhana dibandingkan akses dari PC.</p>
<p><span id="more-29"></span>Setelah dua hari lalu tahu dari <a href="http://blog.assunnah.web.id">Blog Assunnah</a> bahwa ternyata kita dapat menambah ilmu disela-sela kesibukan kita sehari-hari dengan lebih hemat lagi, maka kalo boleh kasi saran, silahkan <a href="http://blog.assunnah.web.id/2007/11/13/menuntut-ilmu-syari-dari-situs-sunnah-di-genggaman-anda-dengan-morange/">ikuti caranya di sini</a>. Dan untuk materi-materi khusus wanita / keluarga saja, silahkan isi feed berikut pada cara keempat:</p>
<p>http://feeds.feedburner.com/SitusMuslimah</p>
<p><center><img src="http://blog.assunnah.web.id/wp-content/uploads/2007/11/rss_morange_situs-sunnah_04.jpg" border="0" /></center><center> </center>Mengapa bukan jilbab.or.id? Karena JO termasuk kedalam feed Situs Muslimah bersama situs-situs lainnya yang mengulas permasalahan wanita dan keluarga. Jika mengalami kesulitan ataupun tanggapan lainnya, jangan ragu untuk memberikan komentar.<span style="font-weight: bold"></span></p>
<p><span style="font-weight: bold">Catatan:</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jilbab.or.id/archives/29-akses-mobile-wap-jilbab-online-dan-rss-situs-muslimah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mulia Di Akhirat &amp; Meraih Dunia dengan Ilmu</title>
		<link>http://jilbab.or.id/archives/13-mulia-di-akhirat-meraih-dunia-dengan-ilmu/</link>
		<comments>http://jilbab.or.id/archives/13-mulia-di-akhirat-meraih-dunia-dengan-ilmu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Oct 2007 23:02:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>febri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Studi Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.jilbab.or.id/archives/13-mulia-di-akhirat-meraih-dunia-dengan-ilmu/</guid>
		<description><![CDATA[”Hidup bahagia,mati masuk syurga” yup,pasti setiap orang ingin seperti itu.Jadi apa yang dapat kita lakukan untuk mewujudkannya? Allah Ta’ala telah mengajarkan sebuah doa dalam firmanNya: ”Wahai Rabb kami,berilah kami kebaikan di dunia, dan kebaikan di akhirat” (QS.Al-Baqarah : 201) Al-Hasan rahimahullah (wafat th. 110 H) berkata, ”Yang dimaksud kebaikan dunia adalah ilmu dan ibadah, dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>            <strong>”Hidup bahagia,mati masuk syurga”</strong> yup,pasti setiap orang ingin seperti itu.Jadi apa yang dapat kita lakukan untuk mewujudkannya? </p>
<p>Allah Ta’ala telah mengajarkan sebuah doa dalam firmanNya:</p>
<blockquote><p><em>”Wahai Rabb kami,berilah kami kebaikan di dunia, dan kebaikan di akhirat”</em> <strong>(QS.Al-Baqarah : 201)</strong></p></blockquote>
<p>Al-Hasan rahimahullah (wafat th. 110 H) berkata, ”Yang dimaksud kebaikan dunia adalah ilmu dan ibadah, dan kebaikan akhirat adalah Syurga ”Sedangkan Ibnu Wahb (wafat th.197 H) rahimahullah berkata, ”Aku mendengar Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata ”Kebaikan di dunia adalah rizki yang baik dan ilmu, sedangkan kebaikan di akhirat adalah syurga” </p>
<p><span id="more-13"></span><br />
Perhatikanlah bagaimana para ulama memegang ilmu sebagai sumber kebaikan di dunia,yang dengannya dapat diraih pula kebaikan di akhirat berupa syurga.Karena itu, hal utama yang harus kita lakukan untuk mewujudkan kebahagiaan di dunia dan akhirat adalah dengan terus menerus mengejar ilmu dengan mengikhlaskan niat karena Allah Ta’ala.Ilmu yang dimaksud adlah ilmu yang bermanfaat. </p>
<p>Imam Ibnu Rajab (wafat th.795 H) rahimahullah mengatakan bahwa ”Ilmu yang bermanfaat menunjukkan pada dua hal : <em>Pertama</em>,mengenal Allah Ta’ala dan segala pa yang menjadi hak-Nya berupa nama-nama yang indah, sifat-sifat yang mulia, dan perbuatan-perbuatan yang agung. Hal ini mengharuskaan adanya pengagungan, rasa takut,cinta,harap,dan tawakkal kepada Allah serta ridha terhadap takdir dan segala musibah yang Allah Ta’ala berikan.</p>
<p><em>Kedua</em>, mengetahui segala apa yang dibenci dan dicintai Allah Azza wa Jalla dan menjauhi apa yang dibenci dan dimurkai olehNya berupa keyakinan, perbuatan yang lahir dan bathin. Hal ini emengharuskan orang yang mengetahuinya untukbersegera melakukan segala apa yang dicintai dan diridhoi oleh Allah Ta’ala dan menjauhi segala apa yang dibenci dan dimurkai-Nya. Apabila ilmu itu menghasilkan kedua hal ini bagi pemiliknya, maka inilah ilmu yang bermanfaat.</p>
<p>Kapan saja ilmu itu bermanfaat dan menancap dalam hati maka sungguh, hati itu akan tunduk dan meras patuh pada Allah Azza wa Jalla, jiwa merasa cukup dan puas dengan sedikit dari keuntungan dunia yang halal dan merasa kenyang dengannya sehingga hal itu menjadikannya qanaah dan zuhud di dunia.” </p>
<p>Rasululah Salallahu Allaihi Wasallam mendoakan orang-orang yang mendengarkan sabda beliau dan memahaminya dengan keindahan dan berserinya wajah. Beliau  bersabda :</p>
<blockquote><p>”Semoga Allah memberikan cahaya pada wajah orang yang mendengarkan sebuah hadist dari kami, lalu menghafalkannya dan menyampaikannya kepada orang lain. Banyak orang yang membawa fiqih namun dia tidak memahami. Dan banyak orang yang menerangkan fiqih pada orang yang lebih faham darinya. Ada tiga hal yang tidak dapat dpungkiri hati seorang muslim selama-lamanya: melakukan sesuatu dengan ikhlas karena Allah, menasehati ulul amri (penguasa) dan berpegang teguh pada jama’ah kaum muslimin,karena do’a mereka meliputi orang-orang ayng berada dibelakang mereka.”
</p></blockquote>
<p>Beliau bersabda, </p>
<blockquote><p>”Barangsiapa yang keinginannya adalah negeri akhirat, Allah akan mengumpulkan kekuatannya,menjadikan kekayaan di hatinya dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina. Namun barangsiapa yang niatnya mencari dunia, Allah akan mencerai-beraikan urusan dunianya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan ia mendapat dunia menurut apa  yang tealah ditetapkan baginya.” (Hadist Shahih diriwayatkan oleh Ahmad (V/183),ad-Darimi(I/75),Ibnu Hibban (no 72,73-Mawarid),Ibnu’Abdil Barr dalam Jaami’Bayaanil’Ilmi wa Fadhlihi(I/175-176,no.184),lafazh hadist ini milik Imam Ahmad dari Abdurrahman bin Aban bin ’Utsman radhiyallahu’anhum)
</p></blockquote>
<p>Jadi, ayo semangat menuntut ilmu..!! supaya bahagia dunia dan akhirat, insyaAllah. Jangan lupa ikhlaskan niat pada Allah Subhanahu Wata’ala. </p>
<p>Israil bin Yunus (wafat th.160 H) rahimahullah mengatakan,</p>
<blockquote><p>”Barangsiapa menuntut ilmu karena Allah Ta’ala, maka ia mulia dan bahagia di dunia.Dan barangsiapa menuntut ilmu bukan karena Allah, maka ia merugi di dunia dan akhirat.”</p></blockquote>
<p>Dan diantara doa yang Rasulullah ucapkan adalah : ”Ya Allah, aku memohon kepadaMu ilmu yang bermanfaat,rizki yang halal, dan amal yang diterima.” </p>
<p>Wallahu’alam bishowab</p>
<p>Disarikan dari buku: <strong>Menuntut Ilmu Jalan Menuju Syurga</strong>, oleh Yazid bin Abdul Qadir Jawaz</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jilbab.or.id/archives/13-mulia-di-akhirat-meraih-dunia-dengan-ilmu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perdebatan Antara Adam dan Musa Alaihimas Salam</title>
		<link>http://jilbab.or.id/archives/54-perdebatan-antara-adam-dan-musa-alaihimas-salam/</link>
		<comments>http://jilbab.or.id/archives/54-perdebatan-antara-adam-dan-musa-alaihimas-salam/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Jun 2005 11:22:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ummu Raihanah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Adam dan Musa beragumentasi disisi Rabb mereka. Bagaimana itu bisa terjadi? banyak diantara kaum muslimin yang menolak atau tidak percaya dengan hadits tersebut. Alasan mereka karena jaraknya yang sangat jauh fase Adam alaihis salam dan Musa alaihis salam. Sehinggga apa yang bertentangan dengan akal mereka maka mereka tidak mau menerimanya. Padahal masalah aqidah adalah masalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family: Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;">Adam dan Musa beragumentasi disisi Rabb mereka. Bagaimana itu bisa terjadi? banyak diantara kaum muslimin yang menolak atau tidak percaya dengan hadits tersebut. Alasan mereka karena jaraknya yang sangat jauh fase Adam alaihis salam dan Musa alaihis salam. Sehinggga apa yang bertentangan dengan akal mereka maka mereka tidak mau menerimanya. Padahal masalah aqidah adalah masalah tauqifi yaitu yang sudah tidak bisa digugat lagi karena apabila masalah ini diserahkan kepada akal maka niscaya tidak adalagi gunanya iman. Benar, bila semua urusan agama ini dikembalikan kepada akal untuk menilainya maka akan banyak terjadi pengingkaran dan penolakan terhadap ajaran islam ini, wal hasil agama hanya dijadikan wacana pergunjingan pendapat bukan sesuatu yang harus diimani dan ditaati. </span></p>
<p><span id="more-54"></span><br />
Ukhti muslimah, sesungguhnya Adam dan Musa alaihimas salam berdebat disisi Allah Subhanahu wata&#8217;ala hal ini dinyatakan dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim yang berbunyi demikian:</p>
<blockquote><p>&#8220;Musa berkata: &#8220;Engkau adalah Adam yang Allah telah menciptakanmu dengan tangan-Nya, meniupkan ruh-Nya kedalam dirimu, memerintahkan malaikat bersujud kepadamu dan menempatkanmu didalam surga-Nya.Kemudian kesalahanmu menjadikan manusia diturunkan ke bumi&#8221;Maka Adampun berkata: &#8220;Engkau adalah Musa yang Allah telah memilihmu melalui risalah dan kalam-Nya. Dan, DIA telah memberikan kepadamu lembaran-lembaran yang didalamnya berisi penjelasan mengenai segala sesutu serta mendekatkanmu pada keselamatan. Lalu berapa lama engkau mendapatkan Allah menulis Kitab Taurat sebelum aku diciptakan?&#8221;Musa menjawab: &#8220;40 tahun&#8221; lebih lanjut Adam berkata:&#8221;Apakah didalamnya (Taurat) engkau menemukan firman-Nya:&#8221;Dan, Adam mendurhakai Rabb-Nya sehingga ia pun sesat&#8221; (Thaha:12)&#8221;"Ya&#8221; jawab Musa. Selanjutnya Adam bertanya:&#8221;Jika demikian, mengapa engkau mencaciku karena aku mengerjakan perbuatan yang telah ditetapkan (ditakdirkan) Allah bagiku untuk mengerjakannya 40 tahun sebelum DIA menciptakanku?&#8221;Rasulullah shalallahu alaihi wassalam pun berkata,:&#8221;Demikianlah Adam memberikan argumentasi kepada Musa&#8221;</p></blockquote>
<div>
Setelah kita menyimak hadits diatas marilah kita melihat pada kelompok qadariyah yang tidak mau menerima hadits ini dan melontarkan syubhatnya.Syubhat yang harus ukhti ketahui sehingga sikap waspada dan hati-hati akan muncul dalam hati ukhti bila telah mengenal syubhat mereka. Nah mari kita lihat syubhat ini dalam kitab Tahdzib Syarh Aqidah Ath-Thahawiyah jilid 2/150:</div>
<p><span style="text-decoration: underline;"><br />
<strong><em>Berdalih dengan &#8220;Adam Berbuat Dosa Juga Karena Takdir&#8221;</em></strong></span><br />
Apabila ada yang menanyakan : Apa pendapat anda tentang alasan Adam tentang takdir terhadap Musa alaihimas salam? Yaitu ketika beliau berkata kepadanya:</p>
<blockquote><p>&#8220;Apakah engkau mengecamku atas apa yang telah Allah suratkan bagi diriku 40 tahun sebelum aku diciptakan? nabi (Muhammad) lalu mempersaksikan bahwa Adam unggul dengan hujjahnya atas Musa?&#8221; </p></blockquote>
<p><span style="text-decoration: underline;"><em>Jawabannya:</em></span></p>
<p>Kita menerima kabar itu dengan <strong>mendengar</strong> dan <strong>taat</strong>. Karena kabar itu sah dari Nabi shalallahu alaihi wassalam. Kita tidak menerima kabar itu lalu menolak dan mendustakannya perawinya, sebagaimana yang dilakukan oleh Qadariyah. Kita juga tak memberikan takwil-takwil kosong. Tapi yang betul , bahwa Adam tidaklah beralasan atas dosanya itu dengan takdir dan ketetapan Allah. Karena dia adalah orang yang paling kenal dengan dosa dan Rabbnya. Padahal kaum mukminin dari anak cucunya saja tak mau beralasan dengan takdir, karena itu batil. Sedangkan Musa sendiri amat mengenal bapaknya (Adam) dengan dosanya tadi. tak mungkin ia mencela Adam alaihis salam karena dosa yang dia sudah bertaubat darinya, bahkan Allah telah mengampuninya, memilih dan memberinya petunjuk. Tapi yang beliau (Musa) kecam adalah musibah yang menyebabkan keluarnya anak cucu Adam dari Jannah.Maka Adam beralasan bahwa semua itu sudah takdir. Yakni musibah itu bukan kekeliruannya tadi. Karena beralasan dengan takdir itu memang ketika datang musibah, bukan ketika melakukan kesalahan. Pengertian inilah yang paling bagus sebagai penafsiran hadits tadi. Setiap musibah yang telah ditakdirkan, harus diterima dengan pasrah. Karena itu adalah kesempurnaan rasa ridhanya terhadap rabb. Adapun dosa, seorang hamba tidak berhak melakukannya., ia harus beristighfar dan bertaubat. Ia bertaubat dari kesalahannya itu, Namun bersabar terhadap musibahnya. Allah berfirman:</p>
<blockquote><p><em>&#8220;Maka bersabarlah kamu, karena sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mohon ampunlah atas dosamu&#8221;(Fathir: 55)<br />
&#8220;Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu&#8221;(Ali-Imran:120)</em></p></blockquote>
<p>Adapun pada kitab Tauhid jilid 2 didapatkan keterangan tentang bolehnya kita berdalih dengan takdir ketika ditimpa musibah. Dengan berdalih pada hadits argumentasi Adam dengan Musa alaihimas salam.Berdalih dengan takdir atas tertimpanya musibah adalah dibolehkan. Segala musibah yang telah ditakdirkan menimpa manusia wajib diterima dengan ridha. Ini adalah hadits pembelaan Nabi Adam dihadapan Musa alaihimas salam rasulullah shalallahu alahi wassalam bersabda:</p>
<blockquote><p>&#8220;Adam dan Musa berbantah-bantahan, Musa berkata,&#8221;Wahai Adam, anda adalah bapak kami, anda telah mengecewakan kami dan mengekluarkan kami dari surga&#8221;. Maka Adampun berkata kepadanya:&#8221;Engkau Musa, Allah telah memilihmu dengan kalam-Nya dan menulisakan untukmu dengan Tangan-Nya.Apakah engkau (pantas) mencelaku berdasarkan suatu perkara yang telah ditakdirkan Allah menimpaku sebelum aku dicipatkan 40 tahun?Maka Nabi shalallahu alaihi wassalam bersabda:Maka Adampun membantah musa, Adam telah membantah Musa&#8221;(HR.Muslim IV/2042-2043)</p></blockquote>
<blockquote><p>Adam berhujjah dengan takdir atas musibah yang menimpanya keluar dari surga.Karena itu Musa menyalahkan Adam dan berkata: Mengapa engkau mengelaurkan kami dari surga? maka ternyata hujjah Adam mengalahkan hujjah Musa. Allah Azza Wa jalla telah menetapkan bahwa Adam dan anak keturunannya akan hidup didunia dan mereka diciptakan untuk itu, seperti yang dikabarkan Allah :<br />
&#8220;Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat,&#8221;Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah dimuka bumi. Mereka berkata,&#8221;Mengapa Engkau hendak menjadikan dibumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kai senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?Tuhamnu berfirman: Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui&#8221;(Al-Baqarah:30)</p></blockquote>
<p>Maka hujjah Adam mengalahkan Musa, dan Musa tidak menyalahkan Adam atas kemaksiatannya yaitu memakan sesuatu dari pohon, Musa lebih mengerti untuk tidak mencela Adam atas dosa yang dia telah bertaubat kepada Allah, dan Allahpun menerima taubatnya. Dan, Adam lebih mengerti untuk tidak berhujjah dengan takdir bahwa orang yang berdosa tidak mendapat cela.<br />
<em></em></p>
<p>Dari pembahasan diatas dapatlah kita fahami bahwa seseorang yang berbuat maksiat/dosa tidak boleh berhujjah dengan takdir. Kita diperbolehkan berhujjah dengan takdir ketika kita ditimpa musibah.Wajib bagi seorang mukmin dan mukminah untuk mengimani hadits ini dan dilarang didalamnya mencari-cari takwil atau bahkan menolak kesahan hadits diatas karena tidak sesuainya dengan akal pikiran kita.Wallahu&#8217;alam bishawwab.</p>
<hr />
<p>Daftar Pustaka:<br />
1. Kisah Para Nabi, Ibnu Katsir, Pustaka Azzam.<br />
2. Tahdzib Syrah Aqidah Tha-hawiyah Dasar-dasar Aqidah Menurut Ulama Salaf, At-Tibyan, Solo.<br />
3. Kitab Tauhid, Tim Ahli tauhid, Darul Haq,Jakarta.<br />
4. Ringkasan Shahih Muslim,Pustaka Amani, Jakarta</p>
<hr />
<p style="text-align: justify;"><strong>Catatan kaki:</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jilbab.or.id/archives/54-perdebatan-antara-adam-dan-musa-alaihimas-salam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Dynamic Page Served (once) in 0.661 seconds -->
