<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Jilbab Online &#187; Keluarga</title>
	<atom:link href="http://jilbab.or.id/archives/category/keluarga/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jilbab.or.id</link>
	<description>-- Cocok Untuk Akhowat, Perlu Untuk Ikhwan --</description>
	<lastBuildDate>Tue, 15 Jun 2010 12:21:35 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Anak, perhiasan sekaligus ujian</title>
		<link>http://jilbab.or.id/archives/979-anak-perhiasan-sekaligus-ujian/</link>
		<comments>http://jilbab.or.id/archives/979-anak-perhiasan-sekaligus-ujian/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Jun 2010 21:27:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>JO admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jilbab.or.id/?p=979</guid>
		<description><![CDATA[Allooh Subhannahu Ta’ala berfirman: ٱلۡمَالُ وَٱلۡبَنُونَ زِينَةُ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا‌ۖ &#8220;Harta dan anak-anak adalah perhiasaan kehidupan dunia &#8220;(QS. Al-Kahfi:46) Ya tentu saja, anak adalah perhiasan kehidupan dunia. Betapa jiwa kita merasa bahagia menyaksikan mereka dan hati pun bergembira saat bercanda ria dengan mereka. Namun waspadalah, sebab anak adalah fitnah (ujian). Dan Allooh Subhannahu Ta’ala berfirman: إِنَّمَآ [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #000000;"><span style="color: #000000;"><span style="color: #000000;"><span style="color: #000000;"><span style="color: #000000;"><span style="color: #000000;"><a href="http://jilbab.or.id/wp-content/uploads/2010/06/shoesss.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-982" title="shoesss" src="http://jilbab.or.id/wp-content/uploads/2010/06/shoesss-300x201.jpg" alt="" width="300" height="201" /></a></span></span></span></span></span></span></p>
<p><span style="color: #000000;">Allooh Subhannahu Ta’ala berfirman:<span style="color: #000000;"><span style="color: #000000;"><span style="color: #000000;"><span style="color: #000000;"></span></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="color: #000000;"><span style="color: #000000;"></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="color: #000000;"></span></span></span><span style="color: #000000;"><span style="color: #000000;"></span></span></p>
<p><span style="color: #000000;"><span style="font-size: large;">ٱلۡمَالُ وَٱلۡبَنُونَ زِينَةُ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا‌ۖ<br />
</span></span></p>
<p><span style="color: #000000;"><em>&#8220;Harta dan anak-anak adalah perhiasaan kehidupan dunia &#8220;</em>(QS. Al-Kahfi:46)</span><span style="color: #000000;"><span style="color: #000000;"></span></span><br />
<span style="color: #000000;"> Ya tentu saja, anak adalah perhiasan kehidupan dunia. Betapa jiwa kita merasa bahagia menyaksikan mereka dan hati pun bergembira saat bercanda ria dengan mereka.</span></p>
<p><span style="color: #000000;"> Namun waspadalah, sebab anak adalah fitnah (ujian).</span></p>
<p><span style="color: #000000;"> Dan Allooh Subhannahu Ta’ala berfirman:</span><span style="color: #000000;"><span style="color: #000000;"></span></span><br />
<span style="color: #000000;"> <span style="font-size: large;">إِنَّمَآ أَمۡوَٲلُكُمۡ وَأَوۡلَـٰدُكُمۡ فِتۡنَةٌ۬‌ۚ  وَٱللَّهُ عِندَهُ ۥۤ أَجۡرٌ عَظِيمٌ۬</span></span></p>
<p><span style="color: #000000;"><em>&#8220;Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu); dan di sisi Allah-lah pahala yang besar&#8221; </em>(QS. At-Taghaabun:15)</span></p>
<p><span style="color: #000000;"> Jangan kita terpedaya!<br />
Anak, kadang membuat seorang hamba menjadi angkuh dan tidak mensyukuri nikmat</span><span style="color: #000000;"><span style="color: #000000;"></span></span><span style="color: #000000;"> Allooh Subhannahu Ta’ala. Ia menjadi angkuh dan berbangga diri karena anaknya, merasa paling tinggi dari orang lain. Ia sombong dan takabbur, bahkan merendahkan orang lain dan berlaku aniaya. Maka hal itu hanya mengantarkannya ke neraka.<br />
Simak firman Allooh Subhannahu Ta’ala berikut ini:</span></p>
<p><span style="color: #000000;">(</span><span style="color: #000000;">وَمَآ أَرۡسَلۡنَا فِى قَرۡيَةٍ۬ مِّن نَّذِيرٍ إِلَّا قَالَ  مُتۡرَفُوهَآ إِنَّا بِمَآ أُرۡسِلۡتُم بِهِۦ كَـٰفِرُونَ (﻿٣٤﻿</span></p>
<p><span style="color: #000000;">(وَقَالُواْ  نَحۡنُ أَڪۡثَرُ أَمۡوَٲلاً۬ وَأَوۡلَـٰدً۬ا وَمَا نَحۡنُ بِمُعَذَّبِينَ  (﻿٣٥﻿</span><span style="color: #000000;"><span style="color: #000000;"></span></span></p>
<p><span style="color: #000000;">(قُلۡ  إِنَّ رَبِّى يَبۡسُطُ ٱلرِّزۡقَ لِمَن يَشَآءُ وَيَقۡدِرُ وَلَـٰكِنَّ  أَڪۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ (﻿٣٦﻿</span></p>
<p><span style="color: #000000;">وَمَآ أَمۡوَٲلُكُمۡ وَلَآ أَوۡلَـٰدُكُم بِٱلَّتِى  تُقَرِّبُكُمۡ عِندَنَا زُلۡفَىٰٓ إِلَّا مَنۡ ءَامَنَ وَعَمِلَ صَـٰلِحً۬ا  فَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ</span></p>
<p><span style="color: #000000;">(<span style="color: #000000;"></span>لَهُمۡ جَزَآءُ ٱلضِّعۡفِ بِمَا عَمِلُواْ وَهُمۡ فِى  ٱلۡغُرُفَـٰتِ ءَامِنُونَ (</span><span style="color: #000000;">٣٧</span><span style="color: #000000;">﻿</span><span style="color: #000000;"><br />
</span></p>
<p><span style="color: #000000;"><br />
<em>Dan Kami tidak mengutus kepada suatu negeri seorang pemberi peringatanpun, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata:&#8221;Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu diutus untuk menyampaikannya&#8221;.<br />
</em></span></p>
<p><span style="color: #000000;"><em>Dan mereka berkata:&#8221;Kami lebih banyak mempunyai harta dan anak-anak (daripada kamu) dan kami sekali-kali tidak akan di azab&#8221;.<br />
</em></span></p>
<p><span style="color: #000000;"><em>Katakanlah:&#8221;Sesungguhnya Rabb-ku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan (bagi siapa yang dikendaki-Nya), akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui&#8221;.<br />
</em></span></p>
<p><span style="color: #000000;"><em>Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikitpun; tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, merekalah itu yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa di tempat-tempat yang tinggi (dalam jannah). </em>(QS. Saba’: 34-37)</span></p>
<p><span style="color: #000000;"> Anak, kerap kali mendorong ayah untuk meghalalkan usaha yang haram. Demi masa depan anak katanya…<br />
Ia pun berusaha keras mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya, dengan segala cara, sekalipun ia harus mendzhalimi yang lemah, memusuhi manusia atau memutus tali silaturrahim.</span></p>
<p><span style="color: #000000;"><br />
Anak, kadang membuat seorang hamba menjadi kikir dan penakut. Saat ingin bersedekah, setan datang kepadanya seraya berkata,”Anakmu tadi minta ini dan itu! Maka demi anaknya, ia pun urung menginfakkan hartanya di jalan Allooh Subhannahu Ta’ala. Padahal yang diminta oleh anaknya itu bukanlah suatu kebutuhan primer.</span></p>
<p><span style="color: #000000;"><br />
Benarlah sabda Rosulullooh Shololloohu ‘alahi Wassallam:<br />
<em>“Sesungguhnya anak bisa membuat seseorang menjadi bakhil, penakut, jahil dan bersedih.”</em> (HR. Al-Hakim (5284) dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih al-Jaami’(1990))</span></p>
<p><span style="color: #000000;"><br />
Ketika ia harus mengatakan kalimat yang hak, ia berfikir dua kali. Ia takut petaka akan menimpa dirinya dan anak kesayangannya. Ia pun memilih diam daripada menyampaikan kebenaran.</span></p>
<p><span style="color: #000000;"> Ketika anak jatuh sakit, rasa iba mendorong orang tua bertindak bodoh, melanggar syari’at agama dengan ucapan maupun perbuatannya, mengugat takdir Allooh dan tidak menerima ketetapan-Nya. Ia pun membawa anaknya ke dukun padahal Nabi melarang pebuatannya itu.</span></p>
<p><span style="color: #000000;"><br />
Yang parah lagi, ada pula anak yang mendorong orang tuanya kepada kesesatan dan kekafiran, Wallaahul musta’an.</span></p>
<p><span style="color: #000000;"><br />
Perhatikanlah orang yang tertipu disebabkan anak-anaknya dan tidak mensyukuri nikmat Allooh ini! Ia adalah seorang kafir Makkah bernama Khalid bin Mughirah. Allooh Subhannahu Ta’ala berkata tentangnya:<br />
<em>Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian.<br />
</em></span></p>
<p><span style="color: #000000;"><em>Dan Aku jadikan baginya harta benda yang banyak,<br />
</em></span></p>
<p><span style="color: #000000;"><em>dan anak-anak yang selalu bersama dia,</em></span></p>
<p><span style="color: #000000;"><em>dan Ku-lapangkan baginya (rezki dan kekuasaan) dengan selapang-lapangnya,<br />
</em></span></p>
<p><span style="color: #000000;"><em>kemudian dia ingin sekali supaya Aku menambahnya.<br />
</em></span></p>
<p><span style="color: #000000;"><em>Sekali-kali tidak (akan Aku tambah), karena sesungguhnya dia menentang ayat-ayat Kami (al-Qur&#8217;an).<br />
</em></span></p>
<p><span style="color: #000000;"><em>Aku akan membebaninya mendaki pendakian yang memayahkan. </em>(QS. Al-Muddatstsir: 11-17)<br />
Dia adalah lelaki yang dikarunia anak-anak dan Allooh menjadikan ia selalu bersama mereka untuk mengais rizki. Bahkan rizki lah yang mengelilinginya. Dan anak-anaknya senantiasa berada di sisi nya menjadi hiburan baginya. Walau demikian, ia tidak mensyukuri nikmat Allooh, bahkan dibalasnya dengan kekufuran.<br />
Akibatnya, Allooh Subhannahu Ta’ala berfirman:</span></p>
<p><span style="color: #000000;"><em>Aku akan memasukkannya ke dalam Saqar.</em></span></p>
<p><span style="color: #000000;"><em>Tahukah kamu apa (naar) Saqar itu<br />
</em></span></p>
<p><span style="color: #000000;"><em>Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan.<br />
</em></span></p>
<p><span style="color: #000000;"><em>(Naar Saqar) adalah pembakar kulit manusia. </em>(QS. Al-Muddatstsir: 26-29)</span></p>
<p><span style="color: #000000;"><br />
Lalu bagaimana caranya agar kita terhindar dari fitnah (godaan) ini?<br />
Jadikanlah cinta pertama kita untuk Allooh Subhannahu Ta’ala.  Jadikan manusia yang paling kita cintai adalah Rosul-Nya dan bertakwalah kepada Allooh dalam mengurus mereka.</span></p>
<p><span style="color: #000000;"><br />
Rosulullooh Shololloohu ‘alahi Wassallam mengajarkan bahwa di antara yang dapat menghapuskan keburukan akibat godaan anak adalah mengerjakan sholat, puasa, shodaqoh dan beramar ma’ruf nahi munkar. Rosulullooh Shololloohu ‘alahi Wassallam bersabda:<br />
<em>“Gangguan menimpa seseorang disebabkan keluarga, harta, anak, diri dan tetangganya dapat dihapuskan oleh puasa, sholat, shodaqoh dan beramar ma’ruf nahi munkar.” </em>(HR. Al-Bukhari dan Muslim)<br />
Walloohu a’lam bish showab.</span></p>
<p><span style="color: #000000;"><br />
*Ditulis ulang oleh Ummu Tsaqiif al-Atsariyyah dari buku “Mencetak Generasi Robbani, Pustaka Darul Ilmi untuk jilbab.or.id*</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jilbab.or.id/archives/979-anak-perhiasan-sekaligus-ujian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Izinkan Anak Berbuat &#8220;Salah&#8221;</title>
		<link>http://jilbab.or.id/archives/959-izinkan-anak-berbuat-salah/</link>
		<comments>http://jilbab.or.id/archives/959-izinkan-anak-berbuat-salah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Mar 2010 23:31:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sutikno bin Tumingan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jilbab.or.id/?p=959</guid>
		<description><![CDATA[Kesadaran bahwa kesalahan dan kegagalan adalah manusiawi perlu dimiliki oleh siapapun, termasuk anak. Mendorong dan melatih anak agar memandang kesuksesan dan kegagalan dalam persektif yang benar penting dilakukan. Dalam hal ini orang tua berperan penting. Mendorong anak untuk berhasil tentu saja wajar dan bahkan harus. Namun hal itu perlu diimbangi dengan meneguhkan anak untuk bersikap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Kesadaran bahwa kesalahan dan kegagalan adalah manusiawi perlu  dimiliki  oleh siapapun, termasuk anak. Mendorong dan melatih anak agar  memandang  kesuksesan dan kegagalan dalam persektif yang benar penting  dilakukan.  Dalam hal ini orang tua berperan penting. Mendorong anak  untuk berhasil  tentu saja wajar dan bahkan harus. Namun hal itu perlu  diimbangi dengan meneguhkan  anak untuk bersikap realistis untuk menerima kegagalan.  Orang tua juga  perlu berbagi pengalaman bahwa tidak setiap tujuan pasti  terwujud meski  telah dipersiapkan dengan teliti dan matang.</p></blockquote>
<p><img title="Selebihnya..." src="http://parentingmuslim.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" alt="" /><span id="more-959"></span></p>
<p>Ka&#8217;ab bin Malik. Ia salah satu sahabat mulia Rasulullah shallallahu  alaihi wa sallam. Ia juga pemuka sahabat kalangan Anshor dari suku  Khazraj. Berkali-kali ia membersamai Rasulullah Shallallahu Alaihi wa  Sallam dalam berbagai peperangan, tetapi tidak di perang Tabuk. Ketika  sebagian besar sahabat bersiap untuk perang ini, Ka&#8217;ab bin Malik tak  segera melakukan hal yang sama. Pada akhirnya ia memang tertinggal, tak  ikut serta dalam peperangan ini. Karena kesalahan ini, Rasulullah dan  sahabat-sahabat lain mengucilkannya beberapa lama hingga akhirnya  Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memberi kabar gembira: <em>&#8220;Berbahagialah  dengan hari terbaik yang engkau jumpai semenjak ibumu melahirkanmu.</em>&#8221;  Itulah kabar tentang diterimanya taubat Ka&#8217;ab bin Malik.</p>
<p>Kesalahan dan kegagalan sesungguhnya merupakan bagian dari perjalanan  hidup karena kita memang tidak sempurna. Siapapun bisa melakukan  kesalahan dan mengalami kegagalan, termasuk sahabat Ka&#8217;ab bin Malik  sebagaimana dikisahkan di atas. Bahkan Nabi Adam pun pernah berbuat  salah. Benar sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sebagaimana  diriwayatkan At-Tirmidzi dan Ibnu Majah bahwa setiap bani Adam berbuat  salah dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah orang yang  bertaubat.</p>
<p>Kesalahan dan kegagalan sesungguhnya melekat pada proses  keberhasilan. Thomas Alfa Edison misalnya. Ia berhasil menemukan lampu  pijar setelah melakukan 9.999 kali percobaan. Kegagalan dan kesalahan  tersebut tidak menjadikannya putus asa. Justeru ia mengatakan bahwa  dengan begitu ia mengetahui ribuan cara agar lampu tidak menyala. Sikap  realistis inilah<br />
yang tampaknya menopang kesuksesan Thomas Alfa Edison. Ia menerima  kesalahan dan kegagalan sebagai sesuatu yang wajar dan menjadikannya  titik tolak untuk maju dan berkembang.</p>
<p>Berhati-hati agar tidak melakukan kesalahan dan khawatir mengalami  kegagalan tentu saja wajar. Namun, ketika kekhawatiran itu sangat  berlebihan sehingga menghalangi untuk bertindak apapun, tentu tidak  wajar. Inilah yang mungkin secara tidak sadar dilakukan orang tua yang  sangat protektif kepada anaknya.</p>
<p>Lihatlah bagaimana orang tua dengan segera memegang sang anak yang  sedikit terhuyung ketika sang anak baru berlatih berjalan. Lihat pula  bagaimana orang tua segera mengatakan <strong>&#8220;<em>Nak, jangan pilih warna itu,  tidak cocok, Gunakan yang ini saja</em></strong>&#8221; ketika anak belajar mewarnai.</p>
<p>Orang tua sering begitu protektif dan tidak memberikan kesempatan  kepada anak untuk mencoba berbagai hal dalam proses belajar mereka  karena begitu khawatir anak melakukan kesalahan.</p>
<p>Tak disangsikan bahwa perilaku demikian didasari oleh rasa sayang  mereka. Namun, perilaku demikian berpotensi meneguhkan keyakinan pada  diri anak bahwa melakukan kesalahan dan mengalami kegagalan adalah tabu.  Akibatnya anak cenderung menghindari tindakan apapun yang dipandangnya  dapat menyebabkan kegagalan. Akibat selanjutnya bisa diduga bahwa hal  itu akan membatasi mereka untuk berkreasi dan berkembang.</p>
<p>Kesadaran bahwa kesalahan dan kegagalan adalah manusiawi perlu  dimiliki oleh siapapun, termasuk anak. Mendorong dan melatih anak agar  memandang kesuksesan dan kegagalan dalam persektif yang benar penting  dilakukan. Dalam hal ini orang tua berperan penting. Mendorong anak  untuk berhasil tentu saja wajar dan bahkan harus. Namun hal itu perlu  diimbangi dengan<br />
meneguhkan anak untuk bersikap realistis untuk menerima kegagalan. Orang  tua juga perlu berbagi pengalaman bahwa tidak setiap tujuan pasti  terwujud meski telah dipersiapkan dengan teliti dan matang.</p>
<p>Di kelas, guru juga berperan penting untuk menumbuhkan kesadaran dan  keyakinan bahwa melakukan kesalahan dan mengalami kegagalan adalah  manusiawi. Bagaimana caranya? Sesekali guru perlu mengisahkan  tokoh-tokoh hebat yang dalam kisah suksesnya juga pernah melakukan<br />
kesalahan dan mengalami kegagalan. Kisah Ka&#8217;ab bin Malik dan Thomas Alfa  Edison di atas dapat dijadikan contoh. Guru juga perlu memberikan rasa  aman bagi anak untuk mencoba hal-hal baru dalam proses belajar mereka  tanpa kekhawatiran akan dicerca jika melakukan kesalahan. Guru perlu  meyakini bahwa anak .akan belajar dengan cepat jika mereka berada dalam<br />
lingkungan yang menerima terjadinya kesalahan. Guru sebaiknya  menghindari komentar atau pertanyaan yang bersifat negatif seperti: &#8220;<em>bagaimana  bisa kamu melakukan kesalahan seperti itu?&#8221; atau &#8220;kamu tidak  mendengarkan saya ya&#8230; sehingga bisa salah seperti ini</em>?&#8221;</p>
<p>Dalam kegiatan pembelajaran, guru seharusnya tidak bersegera  memberikan rumus formal kepada anak untuk menyelesaikan suatu soal. Anak  perlu diberikan kebebasan untuk melakukan eksplorasi dan menemukan cara  mereka sendiri tanpa khawatir akan dicerca jika melakukan kesalahan.  Hal ini akan mendorong anak berpikir kreatif dengan melihat berbagai  kemungkinan<br />
cara menyelesaikan soal. Mungkin saja cara mereka lebih kreatif dan  lebih mudah dipahami, setidaknya oleh mereka sendiri. Namun, mungkin  juga anak akan mengalami kesulitan dan menemui jalan buntu. Terhadap hal  ini guru hendaknya membimbing mereka untuk mengenali kesalahan mereka  dan memanfaatkannya untuk proses belajar mereka. Cara demikian akan  memberikan pengalaman dan kemampuan berharga kepada anak. Pengalaman  dimaksud adalah pengalaman menghadapi masalah, bukan menghindarinya, dan  secara bebas berusaha menyelesaikannya tanpa takut gagal. Pengalaman  demikian sangat penting bagi anak mengarungi kehidupannya kelak.</p>
<p>Membelajarkan anak agar menyadari bahwa melakukan kesalahan dan  mengalami kegagalan adalah manusiawi memerlukan proses. Hal itu perlu  dilakukan secara berkelanjutan sehingga anak memiliki perspektif yang  benar dan berimbang dalam memandang keberhasilan dan kegagalan.</p>
<p>dari:<br />
Izinkan Anak Berbuat &#8220;Salah&#8221;: Ali Mahmudi,Dosen Matematika Universitas  Negeri Yogyakarta.<br />
Fahma Vol.7 No.2, Februari 2010, hal. 14-15.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jilbab.or.id/archives/959-izinkan-anak-berbuat-salah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan Salah Mendidik (bag.3)</title>
		<link>http://jilbab.or.id/archives/956-jangan-salah-mendidik-bag-3/</link>
		<comments>http://jilbab.or.id/archives/956-jangan-salah-mendidik-bag-3/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Feb 2010 11:17:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sutikno bin Tumingan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jilbab.or.id/?p=956</guid>
		<description><![CDATA[JANGAN SALAH MENDIDIK (bag.3) penyusun: Ust. Zaenal Abidin bin Syamsudin, Lc 11. Khawatir yang Berlebihan Perasaan takut terhadap keselamatan dan rasa khawatir terhadap masa depan anak merupakan sifat yang wajar ada pada setiap orangtua. Namun, perasaan itu akan berubah menjadi bahaya bila berlebihan dan berubah menjadi was-was akan keselamatan anaknya, bersikap bakhil karena takut beban [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>JANGAN SALAH MENDIDIK (bag.3)<br />
penyusun: Ust. Zaenal Abidin bin  Syamsudin, Lc</p>
<p><strong>11. Khawatir yang Berlebihan</strong><br />
Perasaan  takut terhadap keselamatan dan rasa khawatir terhadap masa depan anak  merupakan sifat yang wajar ada pada setiap orangtua. Namun, perasaan itu  akan berubah menjadi bahaya bila berlebihan dan berubah menjadi was-was  akan keselamatan anaknya, bersikap bakhil karena takut beban biaya  hidup anaknya tidak terpenuhi, dan mencintai anak secara berlebihan.</p>
<p><span id="more-956"></span></p>
<p><img title="Selebihnya..." src="http://parentingmuslim.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" alt="" />Ketakutan  seperti itu hanya akan membuat hidup terbebani, tidak percaya dengan  takdir, dan mengurangi ketawakalannya kepada Allah. Yang ada nanti hanya  perasaan tidak tenang dan khawatir terhadap nasib anaknya. Inilah yang  kadang membuat orangtua tidak tega saat melepas anaknya menempuh  pendidikan boarding school (pondok) di pesantren. Padahal, setiap  orangtua harus menyadari bahwa suatu saat nanti anak akan berpisah  dengannya, baik untuk mencari ilmu atau mencari pekerjaan untuk  menghidupi keluarganya setelah menikah kelak.</p>
<p><strong>12.  Kurang Sabar dalam Menerima Hasil</strong><br />
Bisa jadi orangtua sudah punya  target-target tertentu atas pendidikan anaknya, atau boleh jadi  orangtua telah mendidik anaknya untuk mengganti jabatannya atau memegang  perusahaannya setelah  dia meninggal. Namun, ternyata sang anak  mengecewakannya. Bukan karena ia nakal dan membangkang, melainkan karena  bakat sang anak tidak sejalan dengan keinginan dan harapan orangtuanya.  Akhirnya, kita dengar orang tua mencerca anaknya, &#8220;Tinggal belajar saja  kok tidak bisa. Makanya, belajar yang betul!&#8221;</p>
<p>Padahal, kita  semua sadar bahwa Allah subhanahu wa ta&#8217;ala mengaruniakan kecerdasan dan  kemampuan yang berbeda kepada setiap hamba-Nya. Seharusnya orang tua  bersikap bijak.  Kewajiban orangtua hanyalah berusaha semaksimal mungkin  mengarahkan dan membina anak-anaknya, sedangkan hasilnya, Allah Maha  Adil dan Maha Tahu apa yang tetbaik bagi hamba-Nya. Jadi, kenapa  orangtua harus kecewa dengan hasil yang tidak sesuai keinginannya?   Bukankah lebih baik mengutamakan kesabaran dan keistikomahan dalam  mendidik dan mengarahkan anak, daripada terpaku pada hasil akhirnya?</p>
<p><strong>13.  Curiga Berlebihan</strong><br />
Orang tua harus bersikap terbuka dan memberi  kepercayaan kepada anak. Sikap ini akan memperlancar komunikasi dan  interaksi dengan anak maupun anggota keluarga yang lain.  Keterbukaan  dan kepercayaan juga akan membuat anak mencintai orangtuanya secara  tulus dan memandang penuh hormat dan kasih pada keduanya. Sebaliknya,  bila orang tua mudah menuduh<br />
tanpa bukti, mencurigai setiap  gerak-gerik anak tanpa alasan dan menganggap anak berkhianat kepada  orangtuanya, perasaan anak akan tercabik-cabik, kekecewaan tumbuh, dan  kemarahan anak kepada orangtua akan tersulut. Apalagi bila anak merasa  apa yang dituduhkan kepadanya tidak benar.</p>
<p>Oleh karena itu, orang  tua harus berhati-hati dalam menilai anak-anaknya. Jangan mudah curiga  dan menuduh anak dengan sesuatu tanpa alasan dan bukti hanya karena  kurang cinta atau cemburu. Orang tua juga tidak boleh meremehkan  kemampuan dan kelebihan anak dengan menganggapnya masih terlalu kecil.</p>
<p>Di  pihak lain, sang anak pun tak boleh mudah memvonis orangtuanya tidak  sayang dan membencinya. Seharusnya seorang anak bersabar menghadapi  sikap orang tua yang kurang berkenan dan sebaiknya mencari informasi  yang sebenarnya kenapa orangtuanya bersikap demikian, dan menghilangkan  dendam kepada orangtua karena sikapnya tersebut. Sebab, dendam yang  dibiarkan bisa memutus hubungan silaturahim. Maka, pupuklah sikap saling  percaya,  tumbuhkan empati, dan sikap terbuka dalam menghadapi setiap  masalah.</p>
<p><strong>14. Menjauhkan Anak dari Orang Shalih</strong><br />
Kalau  tidak bergaul dengan ulama atau orang shalih, pasti kita akan bergaul  dengan orang-orang bodoh dan ahli maksiat. Kedekatan dengan para ulama  dan orang shalih akan memotivasi anak untuk cinta pada kebaikan, amal  shalih, dan lingkungan yang bagus. Siapa yang berkumpul dengan  orang-orang baik atau hidup di lingkungan yang baik, akan tertular  kebaikannya. Dan siapa yang berkumpul dengan orang-orang buruk atau  hidup di lingkungan yang buruk, akan pula terkena getah keburukannya.</p>
<p>Wahai  anak shalih yang mendambakan surga, jangan biarkan dirimu bergaul  dengan orang buruk berhati serigala, orang munafik, orang fasik dan ahli  bid&#8217;ah perusak agama. Ingat, orang yang baik akan dikumpulkan bersama  orang baik dan orang yang buruk akan berkumpul dengan orang yang buruk.  Dan pada Hari Kiamat kelak, seseorang dikumpulkan bersama orang yang  dicintainya.</p>
<p><em><strong>dari buku:</strong></em><br />
judul: &#8220;Untukmu  Anak Shalih&#8221;<br />
penyusun: Ust. Zaenal Abidin bin Syamsudin, Lc<br />
penerbit:  rumah penerbit al-manar<br />
halaman: 42-45</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jilbab.or.id/archives/956-jangan-salah-mendidik-bag-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan Salah Mendidik (bag 2)</title>
		<link>http://jilbab.or.id/archives/953-jangan-salah-mendidik-bag-2/</link>
		<comments>http://jilbab.or.id/archives/953-jangan-salah-mendidik-bag-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Feb 2010 23:02:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sutikno bin Tumingan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Pribadi Shalihah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jilbab.or.id/?p=953</guid>
		<description><![CDATA[JANGAN SALAH MENDIDIK (bagian 2) penyusun: Ust. Zaenal Abidin bin Syamsudin, Lc 5. Motivasi yang Kurang Tepat Kesalahan orangtua atau guru dalam memberi motivasi kepada anak didiknya bisa memberi dampak yang kurang baik. Misalnya, mendoromg anak berprestasi dengan hadiah yang menggiurkan, atau memotivasi anak berprestasi agar tidak tersaingi oleh teman-temannya, atau memotivasi anak agar bangga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>JANGAN SALAH MENDIDIK (bagian 2)<br />
penyusun: Ust. Zaenal Abidin bin  Syamsudin, Lc</p>
<p><strong>5. Motivasi yang Kurang Tepat</strong><br />
Kesalahan  orangtua atau guru dalam memberi motivasi kepada anak didiknya bisa  memberi dampak yang kurang baik. Misalnya, mendoromg anak berprestasi  dengan hadiah yang menggiurkan, atau memotivasi anak berprestasi agar  tidak tersaingi oleh teman-temannya, atau memotivasi anak agar bangga  dengan prestasi yang telah dicapainya. Motivasi yang demikian itu akan  merusak watak dan pribadi anak, karena anak terdorong bersungguh-sungguh  dalam menuntut ilmu bukan karena Allah, melainkan karena ingin  berprestasi dan mendapat hadiah yang menggiurkan.<br />
<span id="more-953"></span>Parahnya lagi,  hanya untuk mengejar hadiah yang dijanjikan, si anak bisa saja  menghalalkan segala cara, dengan mencontek atau berbuat curang lainnya,  yang penting hadiah didapat.</p>
<p>Alhasil, bila dia tidak bisa  berprestasi, maka dia akan menjadi orang yang frustasi dan malas  belajar, sedangkan pada anak yang didorong agar tidak tersaingi oleh  teman-temannya akan timbul sifat angkuh, sombong dan egois. Dan anak  yang dimotivasi agar bangga dengan prestasi yang dicapainya, tumbuh  menjadi anak yang tidak pandai bersyukur kepada Allah; ia hanya  bersemangat menuntut ilmu, tapi kehilangan kendali bila gagal.</p>
<p><strong>6.  Membatasi Kreativitas Anak</strong><br />
Ada sebagian orangtua yang membatasi,  memaksa dan selalu menentukan kreativitas anak. Ini akan mengekang  bakat anak, membuat anak kurang percaya diri, tidak pandai bergaul, dan  cenderung memisahkan diri dari teman-temannya. Seharusnya orangtua  mengarahkan, membimbing, mendorong dan memberi fasilitas agar anak  mengembangkan kreativitasnya sepanjang kreativitas itu tidak melanggar  syariat, tidak merugikan dan mengganggu orang lain, dan bermanfaat untuk  diri maupun agamanya. Anak yang merasa didukung kreativitasnya akan  tumbuh dengan kepala yang penuh ide cemerlang dan menjadi orang yang  bertanggung jawab, sekaligus menjadi anak yang bangga dengan  orang-tuanya.</p>
<p><strong>7.  Membatasi Pergaulan</strong><br />
Kadang,  karena tidak ingin anak terpengaruh oleh perilaku buruk teman  bergaulnya, orangtua bertindak sangat protektif terhadap anaknya.  Bahkan, anak tak boleh &#8220;nimbrung&#8221; jika orang tuanya sedang menerima  tamu. Atau, anak hanya diperbolehkan bergaul dengan teman-teman tertentu  yang belum tentu shalih, tapi justru dilarang mendekati temannya yang  shalih, paham As-Sunnah dan rajin beribadah.</p>
<p>Sikap orangtua  seperti di atas membuat anak menjadi pemalu dan tidak pandai bergaul,  atau akan membuat anak mudah merendahkan orang lain yang dianggap tidak  selevel dengannya.</p>
<p>Orangtua bijaksana akan mengawasi pergaulan  anak-anaknya, tanpa terlalu membatasi tapi juga tidak membiarkan anak  bergaul bebas. Orangtua harus selalu mengingatkan dan memantau agar anak  bergaul dengan orang-orang shalih, yang paham As-Sunnah, rajin  beribadah dan berakhlak mulia serta teman-teman yang bisa memotivasinya  menjadi orang yang bermanfaat untuk diri, agama, orang tua dan orang di  sekitarnya.</p>
<p><strong>8. Tidak Disiplin dan Kurang Tertib</strong><br />
Ketidakdisiplinan  dan kurang tertibnya orang tua dalam mendidik anak akan membuat anak  juga tidak disiplin dan tertib dalam menjalani hidupnya. Orangtua dan  para pendidik harus menanamkan hidup disiplin dan tertib sejak usia dini  sehingga anak terbiasa hidup disiplin dan tertib dalam menunaikan  tugas-tugas harian, terutama yang terkait dengan kewajiban agama dan  ibadah kepada Allah, tugas rumah dan tugas sekolahan. Anak harus dilatih  untuk membiasakan shalat fardhu tepat waktu dan berjemaah di masjid  (bagi anak laki-laki), melatih diri untuk berpuasa, serta menaati  perintah orangtua dalam kebaikan, bukan dalam kemaksiatan.</p>
<p>Setiap  orangtua atau pendidik hendaknya membuatkan jadwal rutin harian, yang  berkaitan dengan ibadah, tugas harian maupun tugas sekolah, dan orangtua  harus senantiasa mengontrol dan mengawasinya jangan sampai ada yang  terlewatkan.</p>
<p><strong>9. Hanya Pendidikan Formal</strong><br />
Sebagian  orangtua sudah merasa cukup mendidik anak bila sudah memberi mereka  pendidikan formal atau kursus bimbingan belajar. Padahal, kebanyakan  lembaga tersebut mengajarkan ilmu keduniaan saja, tanpa memedulikan  kebutuhan prinsipil seperti pendidikan akidah, pembinaan akhlak dan  pendidikan yang berbasis pada kemandirian. Alhasil, lulus dari  pendidikan formal, anak tidak bisa menghadapi realitas dan persaingan  hidup. Sebab, kebutuhan ilmu sang anak tidak dapat dipenuhi hanya  melalui madrasah saja.</p>
<p>Dengan kata lain, setiap anak harus  membekali dirinya dengan berbagai pengetahuan yang berkaitan dengan  realitas hidup, perkembangan teknologi, bisnis, informasi, komunikasi,  situasi terkini, dunia tumbuhan dan binatang. Dan untuk itu, orangtua  haruslah aktif dan selektif dalam memilihkan bacaan, yaitu memilihkan  bacaan yang bermanfaat dan tidak bertentangan dengan syariat Islam.  Karenanya, pendidikan non formal, terutama pendidikan agama mutlak  diperlukan, karena dengan pendidikan inilah si anak akan dapat  menyaring, mana ilmu teknologi, bisnis, komunikasi, dan segala hal yang  bermanfaat atau justru berpotensi merusak akidah maupun akhlak  seseorang.</p>
<p><strong>10. Kurang Mengenalkan Tanggung Jawab</strong><br />
Orangtua  harus menumbuhkan kesadaran dan rasa tanggung jawab yang tinggi pada  anak-anaknya akan tugas dan kewajiban mereka, baik yang terkait dengan  urusan agama maupun dunia. Masing-masing harus merasa bahwa tugas  sekecil apa pun merupakan amanah yang harus diemban dan beban tanggung  jawab yang harus dipikul sepenuh kemampuan. Anak harus dilatih untuk  lebih dahulu menunaikan kewajiban dari pada menuntut haknya baik  hubungannya dengan Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala maupun kepada sesama  manusia terutama kepada orangtua, sanak-kerabat dan teman-temannya.</p>
<p>Orangtua  harus mengenalkan kepada anak-anaknya tanggung jawab kepada agama,  diri, dan lingkungannya. Bahkan anak harus dikenalkan pada kewajiban  zakat, infak dan sedekah, menyantuni anak yatim dan fakir-miskin agar  tumbuh rasa tanggung jawab dan sensitivitasnya pada agama dan  lingkungan, baik lingkungan rumah maupun sekolah.</p>
<p>11.Khawatir  yang Berlebihan<br />
12.Kurang Sabar dalam Menerima Hasil<br />
13.Curiga  Berlebihan<br />
14.Menjauhkan Anak dari Orang Shalih</p>
<p>keterangan  poin 11-14, edisi depan, <em>insya allah&#8230;</em></p>
<p>dari buku:<br />
judul:  &#8220;Untukmu Anak Shalih&#8221;<br />
penyusun: Ust. Zaenal Abidin bin Syamsudin,  Lc<br />
penerbit: rumah penerbit al-manar<br />
halaman: 38-42</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jilbab.or.id/archives/953-jangan-salah-mendidik-bag-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>mencetak anak shalih: JANGAN SALAH MENDIDIK</title>
		<link>http://jilbab.or.id/archives/949-mencetak-anak-shalih-jangan-salah-mendidik/</link>
		<comments>http://jilbab.or.id/archives/949-mencetak-anak-shalih-jangan-salah-mendidik/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Feb 2010 23:26:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sutikno bin Tumingan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Pribadi Shalihah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jilbab.or.id/?p=949</guid>
		<description><![CDATA[JANGAN  SALAH  MENDIDIK penyusun: Ust. Zaenal Abidin bin Syamsudin, Lc Lembaga pendidikan hanya sebuah sarana dan sekolah hanya sekadar tempat singgah anak untuk menjalani persiapan menuju jenjang pendidikan berikutnya. Namun, sangat disayangkan sebagian lembaga pendidikan ternyata lebih banyak mewarnai perilaku dan tabiat buruk anak. Oleh karena itu, bila sukses dunia-akhirat adalah pertimbangan utama, maka orangtua [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>JANGAN  SALAH  MENDIDIK<br />
penyusun: Ust. Zaenal Abidin bin Syamsudin, Lc</p>
<p>Lembaga pendidikan hanya sebuah sarana dan sekolah hanya sekadar tempat singgah anak untuk menjalani persiapan menuju jenjang pendidikan berikutnya. Namun, sangat disayangkan sebagian lembaga pendidikan ternyata lebih banyak mewarnai perilaku dan tabiat buruk anak. Oleh karena itu, bila sukses dunia-akhirat adalah pertimbangan utama, maka orangtua harus pandai-pandai memilih lembaga pendidikan yang sejalan dengan syariat Islam.</p>
<p>Banyak orang awam dan berkantong tebal salah dalam memilih lembaga pendidikan. Alih-alih mempertimbangkan kebersihan akidah dan keluhuran akhlak bagi anak-anaknya, mereka hanya berorientasi pada keberhasilan di dunia. Alhasil, mereka hanya memilih sekolah favorit yang ternama dan bergengsi walaupun harus mengeluarkan biaya yang sangat besar. Sekolah mahal dipakai sebagai alat pengangkat prestise orangtua, sekadar alat untuk menunjukkan bahwa orangtua mampu menyekolahkan anak di sekolah pilihan orang kaya. Bila sudah begini, janganlah terlalu berharap memiliki anak shalih.</p>
<p>Berikut beberapa contoh kesalahan orang tua dalam memberikan pendidikan buat anak-anaknya:<br />
<span id="more-949"></span><strong>1. Salah Tujuan</strong><br />
Seringkali orangtua menyekolahkan anak karena malu pada tetangga bila anaknya bodoh atau kalah kecerdasannya, atau khawatir kelak anaknya tidak mendapat pekerjaaan yang layak. Atau, si orangtua hanya ingin agar anaknya nanti menjadi pengawai negeri dan pejabat tinggi yang banyak harta dan hidup mapan. Padahal, orangtua haruslah berangkat dari niat menjalankan<br />
perintah Allah, yaitu memenuhi kewajiban hamba sebagai orangtua yang memang dituntut untuk mendidik anak-anaknya agar menjadi hamba Allah subhanahu wa ta&#8217;ala yang bertakwa dan shalih, yang menjadi simpanan abadi di akhirat kelak.</p>
<p>Sayangnya, saat ini justru sekolah yang melulu berorientasi pada keberhasilan dunialah yang menjadi prioritas banyak orang awam. Mereka tak memperhatikan apakah terjadi ikhtilat atau tidak. Sehingga kemaksiatan mudah tercipta di sekolah tersebut, karena landasan agama dicampakkan, sementara dunia menjadi tujuan. Lihatlah, di sekolah-sekolah yang ikhtilat,<br />
banyak terjadi kasus zina melalui budaya pacaran, pergaulan bebas, dan asmara buta sehingga kekejian merebak dan perzinahan merajalela.</p>
<p><strong>2. Salah Sekolahan</strong><br />
Bisa jadi orangtua sudah benar dalam niat, tapi karena ilmu agamanya yang minim, ia salah mencarikan lembaga pendidikan bagi anak-anaknya. Misalnya, ia ingin anaknya paham ilmu agama, maka ia main masukkan saja anaknya ke sekolah agama seperti madrasah atau pesantren, tanpa peduli apakah pesantren itu penuh bid&#8217;ah atau tidak, dan apakah akidah dan akhlak para santri benar-benar terkontrol.</p>
<p>Harus diakui, saat ini masih ada sekolah Islam yang di situ bercampur-baur antara pelajar laki-laki dengan perempuan, atau kurang memperhatikan sistem pengajarannya, sehingga bercampur antara pelajaran yang syar&#8217;i dan bid&#8217;ah, bahkan antara ajaran Islam dan ajaran kafir. Alhasil, pemahaman dan efek buruklah yang diterima sang anak. Kelak, ia pun secara sistematis akan tumbuh menjadi generasi dengan pemahaman dan pengamalan Islam yang<br />
menyimpang dari syariat Islam.</p>
<p><strong>3. Salah Teladan</strong><br />
Sebagaimana yang telah saya jelaskan di atas, keteladan memiliki pengaruh kuat dalam proses pendidikan anak. Perilaku orangtua maupun guru berdampak kuat bagi pembentukan kematangan pribadi sang anak. Teladan yang salah akan membuat anak terdidik di atas kebiasaan buruk dan perilaku negatif. Karena itu, orangtua harus memilih pendidik yang menjunjung tinggi<br />
nilai-nilai akidah dan moral, serta memiliki kelebihan ilmu dan amal dibanding murid-muridnya.</p>
<p><strong>4. Salah Metode Pendidikan</strong><br />
Bisa saja pelajaran yang diberikan kepada sang anak sudah baik, tapi cara penyampaiannya yang tidak tepat, sehingga tujuan dan target pendidikan tidak tercapai, atau anak didik menjadi gagal. Mendisiplinkan anak-anak dengan sanksi kekerasan fisik, misalnya, hanya membentuk anak berwatak keras. Sebaliknya, memberi toleransi yang berlebihan akan membuat anak semakin manja. Anak yang selalu diluluskan permintaan materinya akan tumbuh menjadi anak yang cinta dunia, sementara anak yang biasa diabaikan permintaannya, bisa punya kebiasaan mencuri. Di sekolah, anak hanya dicecar dengan hafalan, tapi kurang diajak memahami suatu permasalahan.</p>
<p>5. Motivasi yang Kurang Tepat<br />
6. Membatasi Kreativitas Anak<br />
7. Membatasi Pergaulan<br />
8. Tidak Disipilin dan Kurang Tertib<br />
9. Hanya Pendidikan Formal<br />
10.Kurang Mengenalkan Tanggung Jawab<br />
11.Khawatir yang Berlebihan<br />
12.Kurang Sabar dalam Menerima Hasil<br />
13.Curiga Berlebihan<br />
14.Menjauhkan Anak dari Orang Shalih</p>
<p><em><strong>keterangan poin 5-14, edisi depan, insya allah&#8230;</strong></em></p>
<p>dari buku:<br />
judul: &#8220;Untukmu Anak Shalih&#8221;<br />
penyusun: Ust. Zaenal Abidin bin Syamsudin, Lc<br />
penerbit: rumah penerbit al-manar<br />
halaman: 35-38</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jilbab.or.id/archives/949-mencetak-anak-shalih-jangan-salah-mendidik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Indahnya Rumah Tangga di Bawah Naungan Manhaj  Nubuwwah</title>
		<link>http://jilbab.or.id/archives/922-indahnya-rumah-tangga-di-bawah-naungan-manhaj-nubuwwah/</link>
		<comments>http://jilbab.or.id/archives/922-indahnya-rumah-tangga-di-bawah-naungan-manhaj-nubuwwah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 Jan 2010 21:50:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>JO admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Nikah]]></category>
		<category><![CDATA[rumah tangga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jilbab.or.id/?p=922</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Ust. Abu Ahmad bin Syamsyuddin Rumah Tangga Sebuah Amanah Kewajiban paling utama, tanggung jawab paling besar, dan amanah paling berat adalah pendidikan terhadap keluarga dan bimbingan untuk rumah tangga, berawal dari diri sendiri kemudian istri, anak-anak , dan kerabatnya. Inilah yang dimaksud firman Alloh: يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارً۬ا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center">
<p style="text-align: center"><img class="size-full wp-image-927 aligncenter" src="http://jilbab.or.id/wp-content/uploads/2010/01/63.jpg" alt="63" width="258" height="196" /></p>
<p style="text-align: center">
<p style="text-align: center"><span style="color: #000000">Oleh Ust. Abu Ahmad bin Syamsyuddin</span></p>
<p><span style="color: #800080"><strong>Rumah Tangga Sebuah Amanah</strong></span></p>
<p><span style="color: #000000">Kewajiban paling utama, tanggung jawab paling besar, dan amanah paling berat adalah pendidikan terhadap keluarga dan bimbingan untuk rumah tangga, berawal dari diri sendiri kemudian istri, anak-anak , dan kerabatnya. Inilah yang dimaksud firman Alloh:</span></p>
<p><span style="color: #000000">يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارً۬ا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ عَلَيۡہَا مَلَـٰٓٮِٕكَةٌ غِلَاظٌ۬ شِدَادٌ۬ لَّا يَعۡصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمۡ وَيَفۡعَلُونَ مَا يُؤۡمَرُونَ (﻿٦﻿)</span></p>
<p><span style="color: #000000"><em>Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api naar yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa ang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. 66:6)</em></span></p>
<p><span style="color: #000000"><em><span id="more-922"></span></em>Pendidikan keluarga bukan sekedar kegiatan sambilan, pemikiran sedeharna, atau upaya ala kadarnya. Namun pendidikan keluarga merupakan kebutuhan asasi dan masalah yang sangat urgen serta memiliki konsekuensi jauh ke depan dalam menentukan masa depan rumah tangga. Seorang muslim harus bertanggung jawab atas segala kekurangan dan kesesatan yang terjadi di tengah keluarganya. Dari Ibnu Umar Rodhiyalloohu ‘Anhuma berkata: aku mendengar Rosulullooh Shololloohu ‘alaihi wassallam bersabda:</span></p>
<p><span style="color: #000000"><strong>“</strong><strong><em>Kamu sekalian adalah pemimpin, dan </em></strong><strong><em>akan diminta </em></strong><strong><em>tanggung</em></strong><strong><em> </em></strong><strong><em>jawab</em></strong><strong><em> </em></strong><strong><em>atas </em></strong><strong><em>ke</em></strong><strong><em>pimpin</em></strong><strong><em>an</em></strong><strong><em>nya</em></strong><strong><em>, s</em></strong><strong><em>eorang </em></strong><strong><em>imam</em></strong><strong><em> adalah pemimpin, dan </em></strong><strong><em>akan diminta </em></strong><strong><em>tanggung</em></strong><strong><em> </em></strong><strong><em>jawab</em></strong><strong><em> </em></strong><strong><em>atas kepemimpinannya</em></strong><strong><em> dan seorang</em></strong><strong><em> laki-laki </em></strong><strong><em>adalah</em></strong><strong><em> pemimpin dan </em></strong><strong><em>akan diminta </em></strong><strong><em>tanggung</em></strong><strong><em> </em></strong><strong><em>jawab</em></strong><strong><em> </em></strong><strong><em>atas atas kepemimpinannya</em></strong><strong><em>, dan wanita adalah penanggung jawab terhadap rumah suaminya </em></strong><strong><em> dan </em></strong><strong><em>akan diminta </em></strong><strong><em>tanggung</em></strong><strong><em> </em></strong><strong><em>jawa</em></strong><strong><em>bnya</em></strong><strong><em>, </em></strong><strong><em>serta pembantu penanggung jawab atas harta benda majikannya dan akan diminta </em></strong><strong><em>tanggung</em></strong><strong><em> </em></strong><strong><em>jawa</em></strong><strong><em>bnya</em></strong><strong><em>”</em></strong><strong><em>.</em></strong><strong><em> </em></strong><em>(</em><em>Shohih, diriwayatkan oleh</em><em> Bukh</em><em>o</em><em>ri</em><em> dalam </em><em>Shohih</em><em>-nya: 893, 2409, 2554, 2558, 2571, 5188, dan 7138. </em><em> Muslim</em><em> dalam </em><em>Shohih</em><em>-nya: 4701, dan Tirmidzi dalam </em><em>Sunan</em><em>-nya: 1705)</em><em> </em></span></p>
<p><span style="color: #000000">Keluarga yang baik merupakan nikmat yang paling agung dan karunia yang palingberharga dan tidak ada yang mampu menghargai dan mengenali nilainya kecuali orang yang telah memiliki keluarga hancur dan rumah tangga berantakan sehingga kehidupan laksana terkurung oleh hawa neraka, dan hari-harinya hampir diwarnai perih dan pilu karena keluarga berantakan.</span></p>
<p><span style="color: #800080"><strong>Bekal Membina Rumah Tangga</strong></span></p>
<p><span style="color: #000000">Ketahuilah bahwa berbagai macam problem kehidupan dalam rumah tangga sering timbul akibat kebodohan terutama terhadap ilmu agama. Dan sebagai obatnya adalah belajar, sebagaimana sabda Nabi Shololloohu ‘alaihi wassallam kepada para sahabat Rodhiyalloohu ‘Anhuma:</span></p>
<p><span style="color: #000000"><em>“Mengapa mereka tidak bertanya jika tidah tahu? Sesungguhnya obat kebodohan adalah bertanya”.</em> (Hasan, diriwayatkan Imam Abu Dawud dalam <em>Sunan</em>-nya: 337 dan Ibnu Majah dalam Sunan-nya:572. Dan dihasankan syaikh al-Albani dalam Shohih <em>Sunan </em>Abu Dawud: 337)</span></p>
<p><span style="color: #000000">Kedunguan hati dari ilmu dan kebisuan lisan dari berbicara dinyatakan sebagai penyakit. Dan obatnya adalah bertanya kepada ulama, sehingga meraih ilmu yang bermanfaat, sebab ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang terpancar dari lentera Al-Qur’an dan as-Sunnah sesuai dengan pemahaman  para sahabat dan tabi’in , termasuk perkara yang terkait dengan ma’rifat kepada Alloh, hukum halal-haram, zuhud, kebersihan hati dan akhlaq mulia, serta mengatur kehidupan rumah tangga.</span></p>
<p><span style="color: #000000">Ilmu yang bermanfaat berfungsi sebagai pemusnah secara tuntas dua penyakit rohani yang paling berbahaya dan menjadi biang penyakit hati yaitu syubhat dan syahwat. Maka sebagai seorang pendidik, sebelum membina keluarganya, harus membekali dirinya dengan ilmu agama yang cukup. Sehingga dengan bekal ilmu agama yang bermanfaat, semua urusan rumah tangga menjadi mudah dan berdakwah di tengah keluarga menjadi lancar. Apalagi bila ilmu telah meresap ke dalam hati maka akan melenyapkan penyakit syubhat dan syahwat, mencabut kedua penyakit itu sampai ke akar-akarnya. Ibaratnya orang yang sedang minum obat, segala macam kuman akan hancur dan musnah, sementara obat yang paling manjur adalah obat yang cepat meresap ke dalam tubuh dan tidak membuat kuman kebal, tetapi untuk memusnahkan.</span></p>
<p><span style="color: #800080"><strong>Akhlaq Seorang Pendidik</strong></span></p>
<p><span style="color: #000000">Seorang pembina rumah tangga harus berilmu, berperangai lemah lembut, bersabar dalam mendidik, sehingga akan memberikan kesan yang baik pada keluarga, seperti firman Alloh Subhannahu Ta’ala:</span></p>
<p><span style="color: #000000">فَبِمَا رَحۡمَةٍ۬ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمۡ‌ۖ وَلَوۡ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلۡقَلۡبِ لَٱنفَضُّواْ مِنۡ حَوۡلِكَ‌ۖ فَٱعۡفُ عَنۡہُمۡ وَٱسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ وَشَاوِرۡهُمۡ فِى ٱلۡأَمۡرِ‌ۖ فَإِذَا عَزَمۡتَ فَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُتَوَكِّلِينَ (﻿١٥٩﻿)</span></p>
<p><span style="color: #000000"><em>Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.</em> (QS. Ali Imran [3]: 159)</span></p>
<p><span style="color: #000000">Syaikhul islam Ibnu taimiyah Rohimahulloh berkata:</span></p>
<p><span style="color: #000000"><em>“Hendaknya tidak menyeru kebaikan dan melarang kemungkaran kecuali setelah memiliki tiga bekal: berilmu sebelum menyeru kebaikan dan melarang kemungkaran, berperangai lemah lembut ketika menyeru kebaikan dan melarang kemungkaran, serta bersabar setelah menyeru kebaikan dan melarang kemungkaran.”</em> (al-Amr bil Ma’ruf wan Nahyu ‘anil Munkar, Ibnu Taimiyah, hal. 57)</span></p>
<p><span style="color: #000000">Hendaknya seorang pendidik paling terdepan dalam memberi contoh karena sangat berat ancaman orang yang tidak konsekuen terhadap ajakannya, sebagaimana sabda Nabi Shololloohu ‘alaihi wassallam:</span></p>
<p><span style="color: #000000">“<em>Nanti pada hari kiamat ada seseorang didatangkan lalu dilemparkan ke dalam neraka, maka ususnya keluar. Lalu ia berputar-putar di sekitar penggilingan. Kemudian penghuni neraka mengerumuninya dan bertanya, ‘Hai Fulan, ada apa denganmu? Bukankah kamu yang menyeru kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran?’ Ia menjawab, ‘Ya, aku telah menyeru kepada kebaikan tetapi aku sendiri tidak mengerjakannya dan aku melarang orang dari kemungkaran tetapi aku sendiri mengerjakannya.”</em> (Shohih, diriwayatkan Imam Bukhori dalam <em>Shohih</em>-nya: 3267, 7098. Dan Imam Muslim dalam <em>shohih-</em>nya: 7408)</span></p>
<p><span style="color: #000000">Hadits shohih di atas memberi petunjuk bahwa orang yang mengetahui kebaikan dan kemungakaran lalu melanggarnya lebih berat siksaannya daripada orang yang tidak mengetahuinya karena ia seperti orang yang menghina larangan Alloh dan meremehkan syari’at-Nya, sehingga ia termasuk ahli ilmu yang tidak bermanfaat ilmunya.</span></p>
<p><span style="color: #800000"><strong>Wahai saudaraku, para suami&#8230;</strong></span></p>
<p><span style="color: #000000"><strong> </strong>Wahai sang suami, sungguh engkaulah pemegang kendali rumah tangga, ikatan pernikahan dan perjanjian yang berat, karena Alloh berfirman:</span></p>
<p><span style="color: #000000">&#8230;.. وَّاَخَذۡنَ مِنۡكُمۡ مِّيۡثَاقًا غَلِيۡظًا</span></p>
<p><span style="color: #000000"><em>Dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat. (QS. 4:21)</em></span></p>
<p><span style="color: #000000">Anda telah memikul tanggung jawab, memegang amanat dan beban rumah tangga. Hubungan penikahan merupakan kemuliaan bagi laki-laki dan perempuan, maka secara fitroh dan naluri masing-masing memiliki tugas hidup agar kehidupan rumah tangga berjalan normal dan lurus seperti firman Alloh:</span></p>
<p><span style="color: #000000">ٱلرِّجَالُ قَوَّٲمُونَ عَلَى ٱلنِّسَآءِ بِمَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بَعۡضَهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٍ۬ وَبِمَآ أَنفَقُواْ مِنۡ أَمۡوَٲلِهِمۡ‌ۚ فَٱلصَّـٰلِحَـٰتُ قَـٰنِتَـٰتٌ حَـٰفِظَـٰتٌ۬ لِّلۡغَيۡبِ بِمَا حَفِظَ ٱللَّهُ‌ۚ وَٱلَّـٰتِى تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَٱهۡجُرُوهُنَّ فِى ٱلۡمَضَاجِعِ وَٱضۡرِبُوهُنَّ‌ۖ فَإِنۡ أَطَعۡنَڪُمۡ فَلَا تَبۡغُواْ عَلَيۡہِنَّ سَبِيلاً‌ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيًّ۬ا ڪَبِيرً۬ا (﻿٣٤﻿)</span></p>
<p><span style="color: #000000"><em>Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka [laki-laki] atas sebahagian yang lain [wanita], dan karena mereka [laki-laki] telah menafkahkan sebagian dari harta  mereka. </em>(QS. An-Nisa’ [4]: 34)</span></p>
<p><span style="color: #000000">Upayakanlah kendali rumah tangga, terutama isterimu, tetap berada di tanganmu. Jangan bersikap lemah dan tidak berwibawa serta tidak berdaya di hadapan tuntutan dan tekanan isterimu, akhirnya ia menghinamu, memperbudakmu, dan merendahkanmu sehingga kehidupan rumah tanggamu berantakan bagaikan neraka. Begitu pula, jangan engkau menghinanya dan menzholiminya, serta menganggapnya seperti barang tak berguna, sebab sikap semena-mena terhadap orang yang lemah seperti isterimu menunjukkan kerdilnya sebuah kepribadian. Terimalah kebaikan yang telah diberikan kepadamu dengan senang hati dan bersabarlah atas berbagai kekurangannya, serta jangan mengangan-angankan kesempurnaan darinya karena dia diciptakan oleh Alloh dari tulang rusuk yang bengkok sebagaimana sabda Rosululloh Shololloohu ‘alaihi wassallam:</span></p>
<p><span style="color: #000000">((إِنَّ الْمَرْأَةََ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ, لَنْ تَسْتَقِيْمَ لَكَ عَلَى طَرِيْقَةٍ, فَإِنِ اسْتَمْتَعْتَ بِهَا اِسْتَمْتَعْتَ بِهَا وَفِيْهَا عِوَجٌ, وَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيْمُهَا كَسَرْتَهَا وَكَسْرُهَا طَلاَقُهَا))<br />
<em>&#8220;Sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk, ia tidak bisa lurus bersamamu di atas satu jalan. Jika kamu menikmatinya maka kamu menikmatinya dalam kondisi bengkok, namun bila anda ingin  meluruskannya, maka boleh jadi patah dan patahnya adalah talak.”</em> (Shohih, diriwayatkan Imam Muslim dalam <em>Shohih</em>-nya: 3631)</span></p>
<p><span style="color: #800000"><strong>Wahai saudaraku, para isteri&#8230;</strong></span></p>
<p><span style="color: #000000">Setiap kesalahan yang dilakukan seorang isteri, perasaan mengikuti hawa nafsu, sikap terlalu cemburu, atau was-was hanya merupakan bisikan setan dan bersumber dari lemahnya iman kepada Alloh, sehingga rumah tangga berubah meikan bagnjadi berantakan laksana neraka dan rumah tangga menjadi porak-poranda bagaikan bangunan disambar halilintar; akibatnya, semua pihak menyesali pernikahan tersebut. Atau boleh jadi karena kesalahan isteri menjadi penyebab talak (perceraian), kemudian jiwa menjadi goncang dan ditimpa kegelisahan yang sangat berat.</span></p>
<p><span style="color: #000000">Betapa indahnya bila anda meluruskan hati, ahlak, dan tabiat ketika bergaul dengan suami dan kerabat suami anda. Betapa eloknya bila anda selalu menggunakan akal sehat dan kesabaran dalam setiap menghadapi urusan rumah tangga. Betapa mulianya ketika seorang isteri mampu menjadi pendamping setia bagi suami, dan betapa agung kedudukannya di hati sang suami bahkan ia mampu memikat perasaan suami ketika sang isteri berkata: “Aku mendengar dan mentaati”.</span></p>
<p><span style="color: #000000">Semoga saudariku muslimah mendapa taufiq dan hidayah dengan etika Islam, mau menyempurnakan akal pikiran dengan ilmu dan ma’rifah, dan menyembuhkan hatinya dengan keimanan kepada Alloh, sehingga kehidupan penuh dengan suasana bahagia dan hidup bersama sang suami penuh dengan ketenangan dan ketentraman serta kegembiraan.</span></p>
<p><span style="color: #000000">Wahai para isteri, tunaikanlah kewajibanmu terhadap suamimu, niscaya engkau akan mendapat kasih sayang dan cintanya!.</span></p>
<p><span style="color: #ff00ff"><strong>Kewajiban Seorang Suami</strong></span></p>
<p><span style="color: #000000">Kewajiban sebagai seorang suami banyak sekali namun yang terpenting antara lain:</span></p>
<p><span style="color: #000000">1.  Kewajiban materi meliputi pemberian nafkah, kebutuhan pakaian, dan kebutuhan pendidikan keluarga serta kebutuhan tempat tinggal</span></p>
<p><span style="color: #000000">2.  Tidak boleh memberatkan isteri dengan mengajukan berbagai tuntutan kebutuhan di luar kemampuannya, dan tidak boleh membuat suasana kacau karena permasalahan sepele, sebagaimana yang telah diwasiatkan Rosululloh Shololloohu ‘alaihi wassallam:</span></p>
<p><span style="color: #000000"><em>“Ingatlah dan berwasiatlah kepada wanita dengan kebaikan, karena mereka berada disisimu bagaikan pelayan, dan kalian tidak bisa memiliki lebih dari itu kecuali mereka telah melakukan perbuatan keji yang jelas</em>.”(Shohih, diriwayatkan Tirmidzi dalam <em>Sunan</em>-nya: 1163 dan Ibnu Majah dalam <em>Sunan</em>-nya: 1851)</span></p>
<p><span style="color: #000000">3.  Kewajiban non materi seorang suami meliputi menggembirakan isteri dan bersikap lemah lembut dalam bertutur kata. Sang suami harus bermusyawarah dan mengambil pendapat sang isteri dalam rangka menunaikan kebaikan. Begitu juga, sang suami harus berterima kasih atas jerih payah isterinya, dan tidak boleh mendiamkan di atas tiga hari karena urusan keduniaan.</span></p>
<p><span style="color: #000000">4.  Hendaknya seorang suami memberi kesempatan bagi isterinya untuk beramal sholih, bersedekah dengan hartanya, memberi hadiah, menyambut tamu dari keluarga dan kerabatnya, serta setiap orang yang mempunyai hak atasnya.</span></p>
<p><span style="color: #000000">5.  Hendaknya mengambil waktu yang cukup untuk tinggal di rumah dan berusaha semaksimal mungkin menghindari keluar rumah tanpa tujuan dan sering berpergian, sering keluar rumah untuk bergadang tanpa manfaat, karena yang demikian itu bisa membawa kehancuran.</span></p>
<p><span style="color: #000000">6.  Hendaknya sang suami tidak melarang isterinya berkunjung kepada keluarga dan kerabatnya, asal tidak berlebihan.</span></p>
<p><span style="color: #000000">7.  Wanita dalah mahluk yang lemah, maka wajib bagi laki-laki memberi perhatian cukup, melarangnya keluar ke pasar dan lainnya seorang diri, dan harus menjauhkannya dari tempat yang i<em>khtilath</em> (bercampur) dan <em>kholwah</em></span> (berduaan/menyepi) dengan laki-laki lain. Begitu juga seorang suami harus menjauhkan sasuatu yang merusak aqidah dan akhlaq keluarganya, dan menyingkirkan segala sarana maksiat yang menghancurkan kehormatan, seperti alat musik.</p>
<p><span style="color: #000000">8.  Seorang suami harus mengajarkan kepada isterinya ilmu agama dan mendidiknya di atas kebaikan, serta menyiapkan segala kebutuhannya dalam rangka meraih ilmu dan istiqomah dalam beragama sesuai dengan ajaran Alloh</span></p>
<p><span style="color: #ff00ff"><strong>Kewajiban Seorang Isteri</strong></span></p>
<p>Di antara Kewajiban sebagai Seorang Isteri yang paling utama dan prinsip, antara lain:</p>
<p>1.<span style="color: #000000"> Mentaati dan mematuhi perintah suami selagi tidak menganjurkan maksiat kepada Alloh, karena tidak ada ketaatan kepada mahluk bila menganjurkan kepada maksiat dan pelanggaran kepada Alloh, seperti sabda Rosululloh Shololloohu ‘alaihi wassallam:</span></p>
<p><span style="color: #000000"><em>“Tidak ada ketaatan bagi orang yang bermaksiat kepada Allah Subahanahu wa Ta’ala”</em>. (Shahih. Diriwayatkan Muslim dalam <em>Shahih-</em>nya: 4840, at-Tirmidzi dalam <em>Sunan</em>-nya: 1707 dan Ibnu Majah dalam <em>Sunan-</em>nya: 2865 dengan lafazh Ibnu Majah serta dishahihkan Syaikh al-Albani.)</span></p>
<p><span style="color: #000000"> 2.  Dalam bidang materi, seorang isteri harus memberikan pelayanan fisik, baik yang berkaitan dengan kebutuhan pribadi suami atau rumah tangganya, sehingga ibadah <em>nafilah</em> (sunnah) menjadi gugur demi menunaikan tugas tersebut.</span></p>
<p><span style="color: #000000">Dari Abu Hurairoh sesungguhnya Rosululloh Shololloohu ‘alaihi wassallam: bersabda:</span></p>
<p><span style="color: #000000"><em>“Tidak boleh bagi seorang isteri berpuasa (sunnat) sementara suami ada di rumah kecuali atas izinnya (suami), tidak boleh ia mengizinkan orang lain masuk rumahnya kecuali atas izinnya (suami), dan setiap harta suami yang diinfaqkan sang isteri tanpa seizinnya, maka sang suami mendapatkan pahala separuh baginya.”</em> (Shohih, diriwayatkan Imam Bukhari dalam <em>Shahih</em>-nya: 2066 dan 5360, Imam Muslim dalam <em>Shahih</em>-nya: 2367 dan Abu Dawud dalam <em>Sunan</em>-nya: 1687, 2458).</span></p>
<p><span style="color: #000000"> 3.  Dalam bidang rohani, seorang isteri harus menjaga perasaan suami dan menciptakan suasana tenang dan kondusif dalam rumah tangga serta membantu meringankan beban dan penderitaan yang menimpa suaminya.</span></p>
<p><span style="color: #000000"> 4.  Dalam bidang kesejahteraan, seorang isteri harus mengingatkan suami tentang kebaikan, membantu dalam kebajikan dan ketaatan, membantu dalam bidang sosial, menyantuni fakir miskin dan membantu orang-orang yang lemah untuk memenuhi kebutuhan mereka.</span></p>
<p><span style="color: #000000"> 5.  Dalam bidang pendidikan, seorang isteri harus membantu suami dengan jiwa raga dan menerima segala nasehat dan arahannya. Begitu juga dia harus membantunya dalam mendidik dan meluruskan adab anak-anak serta menghindarkan sikap antipati dan masa bodoh terhadap masa depan pendidikan anak-anak.</span></p>
<p><span style="color: #000000"> 6. Hendaklah seorang isteri tidak mengajukan tuntutan nafkah atau lainnya yang memberatkan suami atau mempersulit suami.</span></p>
<p><span style="color: #000000">7.  Tidak berkhianat dalam dirinya, harta benda suami dan rahasia-rahasianya</span>.</p>
<p><span style="color: #800080"><strong>Balasan Bagi Rumah Tangga yang Berhasil</strong></span></p>
<p>Tiada amal sholih yang dianggap sia-sia oleh agama. Setiap kebaikan sekecil apapun pasti mendapat balasan. Setiap benih kebaikan yang disemai di ladang subur, pada musim panen pasti akan memetik hasilnya, maka suami dan isteri yang telah membina rumah tangga yang baik dan mengerahkan berbagai macam pengorbanan untuk mendidik keluarga. Alloh akan memberi balasan yang besar. Cukuplah balasan nikmat baginya berupa sanjungan, pujian, dan pahala yang besar setelah wafatnya, seperti yang telah ditegaskan sebuah hadits dari Abu Hurairoh Rodhiyalloohu ‘anhu ia berkata bahwa Rosululloh Shololloohu ‘alaihi wassallam bersabda:</p>
<p>“<em>Jika manusia meninggal maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara,: shodaqoh jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholih yang mendo’akannya</em>.” (HR. Bukhori 7/247 no.6514, dan Muslim 3/1016 no.1631)</p>
<p>Balasan yang lebih besar lagi, ia dikumpulkan di surga bersama para kekasih dan kerabatnya dalam satu tempat tinggal di surga, sebagai karunia dan balasan yang baik dari Alloh, seperti firman Allohu ta’ala:</p>
<p>وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَٱتَّبَعَتۡہُمۡ ذُرِّيَّتُہُم بِإِيمَـٰنٍ أَلۡحَقۡنَا بِہِمۡ ذُرِّيَّتَہُمۡ وَمَآ أَلَتۡنَـٰهُم مِّنۡ عَمَلِهِم مِّن شَىۡءٍ۬‌ۚ كُلُّ ٱمۡرِىِٕۭ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ۬ (﻿٢١﻿)</p>
<p><em>Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka.Tiap-tiap manusia terikat dengan apayang dikerjakannya. (QS. 52:21)</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em>Pembinaan rumah tangga secara baik, mampu mengangkat martabat, memperbaiki nasib rezeki, mengukir prestasi, memelihara moral generasi, dan menanggulangi dekadensi sehingga membuat hati tenang dan jiwa lapang. Maka pembinaan harus berbasis penumbuhan kesadaran, keimanan, ketaqwaan dan pengendalian diri, serta mampu membentuk suasana damai dan mesra sehingga perasaan kasih sayang tumbuh subur. Allohu musta’an</p>
<p><em>Diketik ulang oleh Ummu Tsaqiif al-Atsariyyah dari majalah Mawaddah Edisi 1 Tahun ke-1 (1428/2007) untuk </em><a href="../"><em>http://jilbab.or.id</em></a><em>)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jilbab.or.id/archives/922-indahnya-rumah-tangga-di-bawah-naungan-manhaj-nubuwwah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>25</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Suamiku Super Ganteng…</title>
		<link>http://jilbab.or.id/archives/849-suamiku-super-ganteng%e2%80%a6/</link>
		<comments>http://jilbab.or.id/archives/849-suamiku-super-ganteng%e2%80%a6/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Oct 2009 02:07:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>JO admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Nikah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jilbab.or.id/?p=849</guid>
		<description><![CDATA[Mas Budi –sebut saja begitu- tersenyum. Sejenak ia memandang wajah istrinya. Agak heran, “Ada apa, ya, dengan istriku, kok pakai memuji segala?” Begitulah salah satu reaksi suami ketika pertama kali menjumpai sang istri memuji dirinya. Hampir semua suami pasti senang mendengarnya,tak jarang malah melambung tinggi ke udara, apalagi yang memuji tersebut adalah orang yang paling [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mas Budi –sebut saja begitu- tersenyum. Sejenak ia memandang wajah istrinya. Agak heran, “Ada apa, ya, dengan istriku, kok pakai memuji segala?” Begitulah salah satu reaksi suami ketika pertama kali menjumpai sang istri memuji dirinya. Hampir semua suami pasti senang mendengarnya,tak jarang malah melambung tinggi ke udara, apalagi yang memuji tersebut adalah orang yang paling dicintai. Memuji suami adalah sesuatu yang dianjurkan bagi para istri.Ini termasuk perkara yang terpuji dalam rangka menyenangkan hati suami. Bila ikhlas dilakukan demi sang suami tercinta, insya Alloohu Ta’ala berpahala.</p>
<p><span id="more-849"></span><strong>Kaum Adam pun Sama</strong></p>
<p>Urusan puji memuji bukan hanya spesial buat kaum wanita. Pria pun ingin dan butuh suatu pujian. Kalau para suami itu mau jujur, sebenarnya perasaan mereka tidak jauh beda dengan para istri, dalam hal keinginan untuk dipuji.</p>
<p>Pujian, bagi kita menandakan suatu penghargaan terhadap kelebihan atau usaha jerih payah kita. Sudah jadi kodratnya, manusia itu suka dihargai dan berharap sekali setiap orang menghargai terlebih istri tercinta.</p>
<p>Reaksi suami ketika dipuji pun tak beda jauh dengan para istri. Tersenyum, tertawa, malu-malu, atau yang lainnya sebagaimana umum terjadi pada wanita.</p>
<p><strong>Yang boleh dan dilarang</strong><br />
Pada asalnya hukum memuji boleh-boleh saja. Kapan pun dan buat siapa pun. Namun, ada pengecualian dan itu termasuk pujian yang dilarang, yaitu jika pujian kita tersebut berlebihan, atau ada tujuan tertentu yang bertentangan dengan syariat agama, seperti menjilat atasan, dan lain sebagaimanya. Termasuk juga dalam larangan yaitu pujian yang membuat sombong, sum’ah dan ujub.</p>
<p>Larangan memuji demikian itu diisyaratkan oleh Rasulullaah shalallahu’alaihi wassallaam,</p>
<blockquote><p>“Janganlah kalian mengagungkanku seperti yang diperbuat orang Nasrani terhadap Isa bin Maryam, karena sebenarnya aku tidak lebih dari hamba Allah. Sebut saja aku ini hamba Allah dan rasul-Nya (Riwayat Bukhari).</p></blockquote>
<p>Dari hadits di atas dapat diambil pelajaran bahwa pujian itu harus sesuai dengan kenyataan, tidak boleh berlebih-lebihan (sampai keluar dari yang sebenarnya).</p>
<p><strong>Saat tepat memuji suami</strong><br />
Agar manjur pujian Anda (para istri), hendaknya Anda tahu kapan saat yang tepat memuji sang suami. Karena saat yang tepat itulah akan tercapai tujuan, yaitu membuat suami ternyum, malu-malu, bahagia dan semakin cinta pada Anda.</p>
<p>Bagaimana caranya? Tips berikut insyaAllah bisa Anda pratikkan:</p>
<ol>
<li><strong>Puji suami saat berhasil dalam tugasnya</strong>, caranya:
<ul>
<li>Seusai suami menceritakan keberhasilannya dalam tugas (apa pun), peluklah dirinya dan bisikkan kata-kata mesra, seperti <em>I love you</em>, mas hebat deh, aku bangga dengan mas dan lain sebagainya</li>
<li>Cium suami sebagai tanda terima kasih atas pengorbanan dia demi membahagiakan keluarga</li>
<li>Butkan masakan spesial sebagai hadiah buat dirinya. Katakan kalau ini hadiah istimewa dari Anda, insya Allah suami akan tambah sayang</li>
</ul>
</li>
<li><strong>Puji suami sehabis ia mandi</strong>, caranya:
<ul>
<li>Sehabis mandi, saat ia sedang berhias memperganteng diri pujilah ia, <em>“Aduh, suamiku kok ganteng banget yah!”</em>. Yakinlah ia akan tersenyum atau malu-malu.</li>
<li>Cemburui dia saat tampil rapi, tunjukkan bahwa Anda takut kalau-kalau penampilannya tersebut membuat wanita lain meliriknya. Tunjukkan pula kalau Anda takut kehilangan dia.</li>
</ul>
</li>
<li><strong>Puji suami saat bangun tidur</strong>, caranya:
<ul>
<li>Baik bangun tidur untuk shalat malam maupun bangun tidur biasa, pujilah dirinya. Sambil tersenyum katakan, <em>“Mas, matanya sipit tambah cakep, deh!”</em> kemudian cium tangannya.</li>
<li>Tanyakan padanya minta dibuatkan masakan apa untuk sarapan atau makan siang. Ingatkan suami untuk segera mandi, sholat atau segera menyelesaikan pekerjaannya. Ini akan membuat suami merasa benar-benar diperhatikan.</li>
</ul>
</li>
<li><strong>Puji suami setelah membantu Anda</strong>, caranya:
<ul>
<li>Saat membantu, sediakan baginya minuman hangat atau sekedar camilan.</li>
<li>Cium tangannya, dan katakan, <em>“Mas adalah suami yang hebat, sayang banget sama istri, ya?”</em>. Sebagai penghargaan kepadanya karena sudah membantu pekerjaan Anda.</li>
<li>Tawari untuk memijat dirinya jika ia kelelahan.</li>
<li>Katakan padanya kalau nanti dirinya mengerjakan sesuatu dan butuh bantuansuruh bilang saja, Anda akan siap membantunya.</li>
</ul>
</li>
<li><strong>Puji suami sehabis jima’</strong>, caranya:
<ul>
<li>Pandangi wajah suami, ucapkan terima kasih padanya karena telah memberi yang terbaik buat Anda.</li>
<li>Segera mengambil minuman untuk suami, dan kalau bisa diminum bersama sebagai tanda sayang dan untuk menambah kemesraan.</li>
</ul>
</li>
</ol>
<p>Demikianlah sekelumit contoh sederhana dalam membahagiakan suami Anda wahai para Istri…</p>
<p><strong>Buat Anda, para Suami</strong><br />
Bila suami sering dipuji sang istri, itu artinya istri semakin sayang kepada Anda. Istri senang, bahagia dan bangga dengan apa yang Anda lakukan kepadanya dan berharap untuk senantiasa seperti itu, kalau bisa selamanya. Pujian istri juga bermakna bahwa Anda telah menyenangkan dirinya, membuatnya bahagia. Satu kisah dari Ibnu Abbas radhiallahu anhu seorang sahabat Nabi shalallahu’alaihi wassallaam, bisa menjadi pelajaran bagi Anda akan pentingnya menyenangkan hati istri, sebagaimana Anda juga berharap demikian. Ibnu Abbas radhiallahu anhu berkata,</p>
<blockquote><p>“Aku berdandan diri untuk kepentingan istriku sebagaimana ia berdandan untuk kepentinganku. Aku tidak mau hanya menikmati hakku dari dirinya tetapi aku pun ingin ia memperoleh haknya dariku. Karena Allah subhannahu ta’ala telah menyatakan,</p>
<blockquote><p>“…dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf..” (Al-baqarah: 228)</p></blockquote>
</blockquote>
<p>Dengan demikian, satu hal yang lumrah bila Anda harus berbuat yang terbaik buat sang istri tercinta. Namun perlu jadi catatan, apa pun pujian istri terhadap Anda tidak kemudian menjadikan Anda sombong atau ujub. Pula, jangan sampai setiap apa yang Anda lakukan buat istri bertujuan agar dipuji olehnya. Klau niatnya sudah begitu jelas hal tersebut keliru. Biarlah pujian itu keluar secara alamiah, bukan sesuatu yang menjadi niat Anda. Niat Anda tetap satu yaitu ingin menyenangkan hati istri, menyayangi dirinya, dan menjalankan perintah agama.karena yang demikian itu yang berpahala, selain itu berdosa. Wallaahu a’lam.</p>
<p>Oleh karena itu, kenapa harus berat atau malu untuk memuji sang kekasih hati? (Abu Zalfa)</p>
<p><strong>Rujukan:</strong></p>
<ol>
<li><strong>Bimbingan Islam untuk Pribadi dan Masyarakat</strong> oleh Syaikh Muhammad bin Zainu.</li>
<li><strong>40 Tanggung Jawab Suami Terhadap Istri</strong> oleh Drs. M. Thalib</li>
</ol>
<hr />Ditulis kembali dengan sedikit revisi oleh Ummu Tsaqiif dari majalah <strong>Nikah vol.2 No.10 2004</strong>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jilbab.or.id/archives/849-suamiku-super-ganteng%e2%80%a6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>34</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dengan 5 Hal Ini, Kau Akan Berbahagia Bersamaku, Istriku…*</title>
		<link>http://jilbab.or.id/archives/856-dengan-5-hal-ini-kau-akan-berbahagia-bersamaku-istriku%e2%80%a6%e2%80%a6/</link>
		<comments>http://jilbab.or.id/archives/856-dengan-5-hal-ini-kau-akan-berbahagia-bersamaku-istriku%e2%80%a6%e2%80%a6/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Sep 2009 03:46:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jilbab.or.id/?p=856</guid>
		<description><![CDATA[*diketik ulang oleh Humaira Ummu Abdillah dari majalah al-mawwaddah, Edisi I Tahun ke-3,Sya’ban 1430H/2009,Rubrik: Taman Pasutri, oleh: Ustadz Abu Amar al-Ghoyami hal:29-30* Suami Anda mungkin tidak pernah berkata-kata secara terbuka dan apa adanya kepada Anda. Setiap Anda bertanya kepadanya ia selalu menjawab dengan mendahulukan perasaannya. Akibatnya, Anda tidak bisa puas dengan jawabannya yang memang sangat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>*diketik ulang oleh Humaira Ummu Abdillah dari majalah al-mawwaddah, Edisi I Tahun ke-3,Sya’ban 1430H/2009,Rubrik: Taman Pasutri, oleh: Ustadz Abu Amar al-Ghoyami hal:29-30*</p>
<p>Suami Anda mungkin tidak pernah berkata-kata secara terbuka dan apa adanya kepada Anda. Setiap Anda bertanya kepadanya ia selalu menjawab dengan mendahulukan perasaannya. Akibatnya, Anda tidak bisa puas dengan jawabannya yang memang sangat sedikit.Bila ini terjadi pada suami Anda, maka Anda harus tahu bahwa memang tidak semua laki-laki bisa begitu saja terbuka, namun benar-benar ada tipe suami yang memang pendiam dan pemalu.<span id="more-856"></span></p>
<p>Berikut tips yang bisa digunakan oleh istri untuk mengambil hati suaminya yang pendiam dan pemalu yang menurut hasil penelitan telah terbukti banyak memberi faedah bagi istri untuk bisa hidup berbahagia bersama suaminya.</p>
<p> <strong>1. Jadilah Istri Yang Menghormati Suami</strong></p>
<p>Bila istri menghormati suaminya, maka dengan mudahnya suami pun akan menghormatinya. Namun, bila istri tidak bisa menghormati suaminya maka selamanya ia akan menderita disisi suaminya. Mengapa? Apakah memang sikap saling menghormati merupakan kebutuhan asasi bagi suami yang tidak bisa ditawar-tawar lagi sehingga mereka mewajibkannya atas istri?</p>
<p>Banyak istri yang bila telah melahirkan anak suaminya beranggapan bahwa ia akan terus damai disisi suaminya. Ia menyangka akan senantiasa bahagia disisi suaminya hanya dengan telah lahirnya anak suaminya. Akibat dari sangkaan dan duga-duga ini akhirnya banyak istri yang lupa atau tidak lagi memandang perlu sikap hormat kepada suaminya. Ia banyak merendahkan suaminya dan menyepelekannya.</p>
<p>Ketahuilah, istri yang menghormati suaminya ialah istri-istri penduduk surga. Tidaklah Anda ingin meneladani mereka? Rasulullah shalallahu alaihi wassalam pernah bersabda:</p>
<blockquote><p> “Maukah aku kabarkan kepada kalian para istri kalian di surga? Wanita yang penyayang, sangat subur, dan suka kembali berbuat baik yang apabila berbuat aniaya ia akan mengatakan, ‘ Ini tanganku ada diatas tanganmu, aku tidak bisa sekejap pun memejamkan mata sehingga engkau ridho kepadaku”</p></blockquote>
<p>Bukankah meminta maaf merupakan bentuk penghormatan yang tinggi? Bukankah mengulurkan tangan mengharapkan maaf suami merupakan sikap hormat istri kepadanya?  Maka, bila Anda ingin menghormati suami, jadilah istri yang sabar atas kekhilafannya. Jadilah istri yang tidak pernah menentang suami saat ia marah. Jadilah istri yang menghargai dan menghormati cemburu suami. Jadilah istri yang bisa menjaga suami. Jadilah istri yang tidak enggan meminta maaf. Enggan meminta maaf suami adalah bukti kesombongan istri. Tunjukkan rasa hormat dan perhatian Anda kepada suami dihadapan orang lain, baik saat ia bersamamu maupun saat ia tidak hadir disisimu. Dengan begitu, Anda telah menghormatinya dan insya Allah Anda akan senantiasa bahagia disisinya. Perkataan yang mudah terucap dan mudah menghancurkan rumah tangga ialah, “ Aku tidak akan menghormatimu lagi”.</p>
<p> <strong>2. Jadilah Istri Yang Bertanggung Jawab</strong></p>
<p>Banyak istri mengeluhkan perihal suaminya yang tidak bertanggung jawab. Sementara banyak pula suami yang menganggap istrinya tidak bertanggung jawab.</p>
<p>Dalam masalah ini, penting sekali kita menilik kisah Asma’, putri Abu Bakar ash Shidiq. Ia adalah istri yang ikut memikul tanggung jawab dirumah suaminya secara sempurna. Bahkan ia tetap menjaga dan menghormati perasaan serta kecemburuan suaminya.</p>
<p>Suaminya ialah Zubair, seorang sahabat yang fakir. Asma’ pun tahu bahwa suaminya sangat membutuhkan kesiapannya untuk ikut memikul tanggung jawab keluarga bersamanya. Ia biasa mengurusi makanan kuda Zubair, menjahit tempat airnya, menumbuk gandum, mengusung biji-bijian dari kebun dan lain-lainnya. Namun begitu, ia sangat menyadari bahwa keadaanya tidak boleh mengurangi rasa hormatnya kepada suaminya. Ia tetap menjaga perasaan suaminya dan kecemburuannya. Ia lebih memilih mengusung biji-bijian diatas pundaknya dengan berjalan kaki daripada naik untuk padahal ada kaum laki-laki bersamanya. Hal itu hanya demi menghargai kecemburuan suaminya. Sehingga dihadapan istri yang sangat menghargai dan bertanggung jawab inilah sosok seorang suami pun luluh hatinya sehingga ia berkata, “ Demi Allah, pengorbananmu untuk membawa biji-bijian itu jauh lebih berat bagiku daripada dudukmu diatas unta Rasulullah shalallahu aalaihi wassalam”.Memang , Asma’ lebih mendahulukan kecemburuan suaminya sehingga tidak menerima tawaran Rasulullah Shalallahualaihi wassalam untuk naik di unta beliau saat mengusung biji-bijian.</p>
<p> <strong>3. Jadilah Istri Yang Terbuka dan Menghargai Perasaan</strong></p>
<p>Ketenteraman perasaan dipengaruhi oleh terungkapnya isi hati pasutri. Ungkapan isi hati tentang rasa cinta kasih istri terhadap suami merupakan factor utama untuk mewujudkan kebahagiaan rumah tangga. Para suami sangat membutuhkan hal itu, sebagaimana istripun membutuhkannya. Bahkan Rasulullah Shalallahu aalaihi wassalam membolehkan istri berdusta dalam pengungkapan rasa cinta dan kasihnya terhadap suaminya demi terwujudnya kehangatan hubungan berumah tangga dan demi terpeliharanya ikatan pernikahan.  Lalu,mengapa pasutri tidak melakukannya? Mengapa para istri tidak mengutarakan isi hatinya kepada suaminya tentang sesuatu yang bisa membahagiakan kehidupan rumah tangganya?</p>
<p><strong>4. Percayalah Kepada Suamimu</strong></p>
<p>Rasa cemburu merupakan bukti yang sangat kuat akan besarnya cinta dan kasih istri kepada suaminya. Sehingga rasa cemburu terkadang dibutuhkan untuk mengungkapkan isi hati istri kepada suaminya bahwa ia mencintai dan mengasihinya. Bahkan, sifat pencemburu merupakan hal yang lazim bagi wanita. Namun cemburu ada dua, sebagaimana yang disebutkan oleh Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam:</p>
<blockquote><p>“ Ada diantara sifat cemburu ada yang dicintai dan ada pula yang dibenci oleh Allah. Adapun cemburu yang dicintai Allah adalah cemburu dalam keragu-raguan, sedangkan cemburu yang dibenci oleh Allah ialah cemburu tidak dalam keragu-raguan”</p></blockquote>
<p>Cemburu tidak boleh menghilangkan kepercayaan istri kepada suaminya dengan memastikan bahwa suaminya telah salah dan menyeleweng, misalnya si istri mengatakan: “ Mengapa kamu telat pulang?” atau “ Darimana saja tadi kamu pergi?” atau “ Berapa banyak wanita yang bekerja ditempat kerjamu?” Semua perkataan ini dan yang senada ialah cemburu yang tidak baik sebab didasari penetapan bahwa suaminya telah salah dan menyeleweng, bukan dibangun diatas kepercayaan atau sekadar duga-duga dan rasa ragu yang akan hilang dengan penjelasan dari suami.</p>
<p> <strong>5. Jadilah Istri Yang Berakhlak Terpuji</strong></p>
<p>Seorang suami yang shahih akan merasa bahagia dan terpenuhi kebutuhan asasinya bila beristrikan seorang wanita yang baik akhlaknya. Wanita yang buruk ialah wanita yang perkataannya selalu bermakna ancaman, ucapan dan suaranya kasar, tidak mau tahu kebaikan orang lain atasnya, dan suka mencari-cari keburukan orang lain. Selain itu, ia juga tidak mengasihi suami, sedikit rasa malunya, suka mencela, pemarah, rumahnya kotor, suka menunjuk dengan tangan dan jarinya, biasa berdusta, dan selalu meneteskan air mata buaya. Istri yang berakhlak terpuji tidak memiliki sifat-sifat tersebut. Bahkan, disaat ia sedang cemburu sekalipun, ia hanya akan menyebut kebaikan suami yang tidak bisa tidak harus membuatnya cemburu.Semoga dengan 5 hal in Anda, para istri , akan berbahagia bersama suami Anda. Wallahul Muwaffiq.</p>
<hr />
<p style="text-align: justify;"><strong>Catatan kaki:</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jilbab.or.id/archives/856-dengan-5-hal-ini-kau-akan-berbahagia-bersamaku-istriku%e2%80%a6%e2%80%a6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>34</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cara Mengajarkan Shalat Pada Anak*</title>
		<link>http://jilbab.or.id/archives/778-cara-mengajarkan-shalat-pada-anak/</link>
		<comments>http://jilbab.or.id/archives/778-cara-mengajarkan-shalat-pada-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Aug 2009 17:00:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ibu dan Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jilbab.or.id/?p=778</guid>
		<description><![CDATA[*diketik ulang oleh Humaira Ummu Abdillah dari Majalah al-Mawaddah, Edisi ke-12 Tahun Ke-2,Rajab 1430 H/ Juli 2009, Rubrik: Yaa Bunayya, Oleh : Ustadz Abdur Rohman al-Buthoni, halaman : 34-36* Menurut syari’at Islam yang mulia, anak-anak tidak dikenai beban syari’at selagi dia belum baligh. Namun mereka harus dididik dan dilatih sejak masa anak-anak agar menjadi terbiasa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>*diketik ulang oleh Humaira Ummu Abdillah dari Majalah al-Mawaddah, Edisi ke-12 Tahun Ke-2,Rajab 1430 H/ Juli 2009, Rubrik: Yaa Bunayya, Oleh : Ustadz Abdur Rohman al-Buthoni, halaman : 34-36*</em></p>
<p>Menurut syari’at Islam yang mulia, anak-anak tidak dikenai beban syari’at selagi dia belum baligh. Namun mereka harus dididik dan dilatih sejak masa anak-anak agar menjadi terbiasa melakukan syari’at ketika telah dewasa.Apabila syari’at memerintahkan para orang tua dan wali agar memerintah anak-anak mereka untuk menunaikan sholat, maka wajib bagi orang tua dan para murobbi untuk mengajarkan kepada mereka perihal thoharoh sesuai dengan thoharohnya Rasulullah shalallahu alaihi wassalam, menjelaskan kepada mereka sifat wudhu Nabi shalallahu alaihi wassalam, syarat sah, rukun-rukunnya dan hal-hal yang membatalkannya.<span id="more-778"></span></p>
<p>Demikian pula harus mengajarkan tata cara sholat sesuai degan sholat Rasulullah shalallahu alaihi wassalam karena sabda beliau:</p>
<blockquote><p> “ Tunaikanlah sholat seperti kalian melihat aku sholat “.</p></blockquote>
<p> Hendaknya anak diajari teori sekaligus praktiknya dengan diajak memperhatikan tata cara berwudhu dan sholat bapak ibunya atau mengajaknya melakukan sholat dan berdiri di samping orang tuanya untuk mengambil secara langsung tata cara sholat yang benar.</p>
<p> Ini mengingatkan orang tua, para murobbi dan para guru TK dan SD agar mengajarkan do’a dan dzikir-dzikir dalam wudhu dan sholat sebelum yang lainnya. Hal ini perlu kita perhatikan sebab sebagian guru ada yang lebih mendahulukan do’a dan dzikir yang lain, seperti do’a berpakaian atau yang lainnya, daripada do’a dan dzikir dalam wudhu dan sholat.</p>
<p> Sistem pengajaran seperti itu tentu salah bila ditinjau dari sisi ini, sebab syari’at belum memerintahkannya. Dan jikalau anak mengamalkannya pun tidak terlalu berarti bila dibandingkan dengan do’a dalam wudhu dan sholat yang dituntut untuk dihafal dan diamalkan setelah mencapai usia 7 tahun, sebagaimana anjuran Rasulullah shallahu alaihi wassalam. Bila bisa didapat kedua-duanya tentu lebih baik.</p>
<p> <strong>POKOK – POKOK PENGAJARAN SHOLAT</strong></p>
<p>Pokok-pokok pengajaran yang harus diberikan kepada anak berkaitan dengan masalah sholat adalah sebagai berikut:</p>
<p>-  Ilmu tentang syarat sahnya sholat, rukun, wajib dan sunnah-sunnahnya.</p>
<p>-  Tata cara pelaksanaanya dari takbirotul ihrom hingga salam, meliputi gerakan-gerakannya, bacaan dan dzikir-dzikirnya, jumlah gerakan atau jumlah bacaan dan dzikir.</p>
<p>-  Sifat-sifat gerakan, seperti sifat tangan atau jari-jari tangan ketika takbirotul ihrom atau ketika posisi yang lainnya, apakah dengan menggenggam jari-jari atau dengan membuka dan rapat, ataukah membuka dengan merenggangkan jari-jari lurus ke atas atau melengkung ke bawah.</p>
<p>-  Sifat bacaannya, antara yang sir dan yang jahr, juga panjang pendeknya suatu gerakan dan bacaan, seperti gerakan tangan ketika takbirotul ihrom apakah perlahan-lahan hingga beberapa menit baru sampai ke bahu dan daun telinga ataukah bagaimana. Demikian juga dengan bacaan-bacaannya, misalnya apakah melafazhkan takbir dengan bacaan panjang seperti “ Allooooohuuuuu Akbaaaaar “ ataukah tidak.</p>
<p>-  Mengajarkan yang shohih dari Rasulullah shalallahu alaihi wassalam dan meninggalkan yang tidak shohih.</p>
<p>-  Mengajarkan nama-nama sholat dan waktu-waktunya serta bilangan roka’atnya.</p>
<p>-  Mengajarkan tata cara berpakaian yang wajar di dalam sholat.</p>
<p>-  Menanamkan akidah ( keyakinan ) bahwa orang yang sholat itu sedang menghadap Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Maka, apabila kita menghadap kepala desa atau orang kaya saja tidak boleh bermain-main, tentunya menghadap Alloh, Sang Penguasa langit dan bumi dan seluruh alam semesta, lebih sangat tidak layak untuk bermain-main.</p>
<p>-  Mengajarkan syarat syahnya sholat yang paling utama, yaitu thoharoh dan berwudhu, hal ini meliputi:</p>
<p>a.  Tata cara membersihkan najis tinja dan kencing sehingga benar-benar suci dan tidak membawa najis dalam sholat. Mengenalkan kepada mereka benda-benda yang najis agar mereka jauhi, terutama ketika sholat.</p>
<p>b. Mengajarkan tata cara berwudhu, dzikir sebelum dan sesudahnya, tata cara penggunaan air yang sesuai dengan sunnah Rasulullah shalallahu alaihi wassalam, tidak boleh boros sekalipun banyak air, urut-urutannya dan bilangan-bilangannya.</p>
<p>c.  Tata cara membasuh, apakah membasuh dengan menyiramkan air ataukah cukup dengan mengusap tanpa menyiramkan air. Juga menjelaskan tentang sifat membasuh dan mengusap.</p>
<p>d. Mengajarkan kepada mereka anggota-anggota wudhu dan hal-hal yang berkaitan dengannya, apakah yang penting anggota wudhu tersebut terkena air sehingga cukup dicelupkan ke dalam air ataukah harus diusap da diratakan dengan tangan.</p>
<p>e.  Mengajarkan kepada mereka batas-baras anggota wudhu, dari mana hingga ke mana.</p>
<p>f.  Mengajarkan kepada mereka tata cara adzan dan iqomat, lafazh-lafazhnya dan bagaimana menjawab jika mendengar adzan dan do’a sesudah adzan bagi yang mendengar. Juga tentang tata cara melafazhkannya, yaitu tidak boleh berlebihan dengan memanjangkan lafazh yang seharusnya pendek atau sebaliknya, atau lafazh yang panjang dilebihkan dari kadarnya sehingga terlalu panjang, atau dengan merusak lafazah, seperti “ Allohu Akbar “ menjadi “ Aulohuu Akbaruu “.</p>
<p>g. Mengajarkan kepada mereka tentang batas-batas aurat dalam sholat, sebab aurat itu ada 2: <strong><em>aurat yang berkaitan dengan pandangan mata</em></strong> dan <strong><em>aurat yang berkaitan dengan hak Alloh</em></strong>. Atau dengan istilah lain, berbeda antara aurat di luar sholat dengan aurat di dalam sholat. Contoh, anak kecil yang belum baligh tidak ada auratnya sehubungan dengan pandangan mata, meski begitu ia tidak boleh menunaikan sholat dalam keadaan telanjang. Nabi shalallahu alaihi wassalam bersabda:</p>
<blockquote><p>“ Janganlah salah seorang diantara kalian melakukan sholat dengan mengenakan satu pakaian saja, yang ( dengan begitu ) kedua pundaknya tidak tertutup “.</p></blockquote>
<p> Sabda Rasulullah shalallahu alaihi wassalam lainnya:</p>
<blockquote><p>“ Alloh tidak menerima sholat wanita yang telah baligh kecuali dengan penutup kepala”.</p></blockquote>
<p> <strong>PENTINGNYA KETELADANAN</strong></p>
<p>Semua orang sepakat bahwa mengajar dengan praktik dan memberi contoh secara langsung jauh lebih berpengaruh positif pada pemahaman anak daripada hanya teori semata. Karena itulah hendaknya para murobbi tidak lalai dari manhaj ta’lim ( metode pengajaran ) ini sebab inilah yang dicontohkan Nabi shalallahu alaihi wassalam dan para sahabatnya.</p>
<p> Suatu ketika, Ustman bin Affan radiyallahu anhu meminta air wudhu dan mengajak para sahabat untuk memperhatikan cara wudhu beliau dari awal hingga akhir lalu berkata,<em> “ Seperti inilah aku melihat Nabi shalallahu alaihi wassalam berwudhu “.</em></p>
<p> Dalam kisah yang lain, salah seorang sahabat pernah mempraktikkan sholat dari awal hingga akhir dihadapan para sahabat yang lain, seraya mengatakan, <em>“ Kemarilah kalian! Akan aku perlihatkan kepada kalian sifat sholat Nabi shalallahu alaihi wassalam “.</em></p>
<p> Rosulullah shalallahu alaihi wassalam terkadang juga melakukan sholat ( sebagai imam ) dengan berdiri dan ruku’ diatas mimbar untuk memperlihatkan sholatnya kepada para sahabat, beliau mengatakan, <em>“ Aku melakukan ini agar kalian mengikutiku dan mengetahui sholatku”.</em></p>
<p> Contoh metode pengajaran seperti ini sangat sering diterapkan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wassalam dan para sahabatnya. Demikian itu karena teori semata sulit untuk dipahami dan membutuhkan waktu yang lama bahkan mudah terlupakan, berbeda dengan apa yang dialami dan dilihat secara langsung. Ini berarti orang tua dan para pendidik tidak cukup hanya menyediakan buku-buku bacaan seputar wudhu dan sholat atau hanya memerintahkan anak untuk melakukan sholat, namun mereka juga dituntut untuk memberikan keteladanan berupa praktik amali di hadapan anak-anak mereka seperti yang dicontohkan Rosululloh shalallahu alaihi wassalam, sebaik-baik pendidik, dan para sahabat beliau.</p>
<p> <strong>MENGAJARKAN SHOLAT YANG BENAR</strong></p>
<p>Para pendidik dan orang tua harus  mengajarkan sholat yang benar kepada anak-anak mereka. Sholat yang benar artinya sholat yang sesuai dengan sholat Rosululloh shalallahu alaihi wassalam, sebagaimana sabda beliau diatas. Oleh karena itu, sebelum melakukan pengajaran, para pendidik harus memiliki ilmu tentang sifat sholat Nabi shalallahu alaihi wassalam dan tidak cukup dengan mengikuti sholat kebanyakan orang zaman sekarang, sebab diantara mereka masih banyak yang melakukan bid’ah dalam sholat, baik dengan mengurangi atau menambahi sebagaian dari sholat mereka yang tidak ada contohnya dari Rosululloh shalallahu alaihi wassalam. Padahal sholat merupakan amal yang paling utama yang pelakunya sangat berharap agar sholatnya bisa diterima oleh Alloh, sementara Alloh tidak akan menerima sebuah amal kecuali yang ikhlas karena Alloh semata dan sesuai dengan sunnah ( petunjuk / contoh ) dari Rosululloh shalallahu alaihi wassalam.</p>
<p><strong> TIDAK MENDIAMKAN KESALAHAN</strong></p>
<p>Sebagian orang beranggapan bahwa tidak mengapa membiarkan anak sholat dalam keadaan tidak benar, toh juga masih anak-anak, misalnya membiarkan anak sholat tanpa berwudhu atau berwudhu hanya dengan membasuh telapak tangan, wajah dan kaki saja dengan alasan bahwa anak masih kecil dan belum baligh. Anggapan ini jelas salah. Perlu diketahui bahwa meskipun hukum-hukum syari’at belum berlaku bagi anak, namun Allah Subhanahu Wata’ala memerintahkan dan memberi beban kepada para wali untuk memberlakukan hukum-hukum syari’at kepada anak-anak mereka. Anggapan yang salah ini jelas bertentangan dengan perintah Rosululloh shalallahu alaihi wassalam:</p>
<blockquote><p> “ Perintahkan anak-anak kalian untuk menunaikan sholat ketika mereka berusia 7 tahun dan pukullah mereka jika meninggalkannya ketika mereka telah berusia 10 tahun “.</p></blockquote>
<p> Maksud dari perintah Rosululloh tersebut adalah agar para orang tua menyuruh anak-anaknya untuk thoharoh dan berwudhu dengan sempurna, berpakaian menutup aurat dan pundak, berdiri menghadap kiblat, di tempat yang tidak haram untuk sholat di dalamnya, melakukan tata cara sholat dari takbirotul ihrom hingga salam lengkap dengan rukun-rukunnya, fardhu dan sunnah-sunnahnya.</p>
<p> Rosululloh pernah melakukan sholat malam, lalu Abdulloh bin Abbas datang mengikuti dan berdiri di sebelah kiri beliau. Maka beliau shalallahu alaihi wassalam memutarnya dari arah kiri lewat belakang kea rah kanan beliau</p>
<p> Pernah salah seorang Arab Badui datang ke masjid lalu melakukan sholat. Setelah selesai dari sholatnya, Rosululloh shalallahu alaihi wassalam mengatakan,</p>
<blockquote><p> “ Ulangi sholatmu, karena sesungguhnya engkau belum sholat “. Maka orang tersebut mengulangi sholatnya seperti sholatnya yang semula hingga 3 kali, sampai akhirnya orang itu berkata, “ Wahai Rosululloh, ajarilah aku sholat, sebab aku tidak bisa sholat kecuali dengan cara yang seperti ini ( yakni sholat dengan gerakan yang sangat cepat, tanpa thuma’ninah ). Maka Rosululloh shalallahu alaihi wassalam mengajarinya sholat seraya menyampaikan bahwa wajib baginya untuk thuma’ninah pada setiap gerakan sholat.</p></blockquote>
<p>Rosululloh shalallahu alaihi wassalam menganggap sholat orang ini batal karena meninggalkan salah satu rukun sholat, yaitu thuma’ninah. Sholat yang dianggap batal oleh Nabi shalallahu alaihi wassalam yang dilakukan oleh orang ini banyak sekali dilakukan oleh anak-anak.Sehingga kewajiban para orang tua dan para pendidik adalah membenarkan sholat mereka yang masih salah ini.</p>
<hr /><strong>Catatan kaki:</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jilbab.or.id/archives/778-cara-mengajarkan-shalat-pada-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Crispy Spicy Wicked Wing</title>
		<link>http://jilbab.or.id/archives/678-crispy-spicy-wicked-wing-2/</link>
		<comments>http://jilbab.or.id/archives/678-crispy-spicy-wicked-wing-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Aug 2009 00:21:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ummu Raihanah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Resep]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jilbab.or.id/?p=678</guid>
		<description><![CDATA[Ingin kasih jajanan spesial buat keluarga? Tapi ga mau banyak keluarkan anggaran belanja? Kenapa tidak coba resep yang satu ini, insya Allah ga kalah dengan sayap ayam khas ala restoran cepat saji. Walau tanpa menggunakan putih telur rasanya tetap oke. Mungkin bahannya agak rumit dan di butuhkan sedikit kesabaran akan tetapi bila melihat anggota keluarga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://www.jilbab.or.id/wp-content/uploads/2009/08/chicken_wing.jpg" border="0" style="float:right; margin-left:10px;" />Ingin kasih jajanan spesial buat keluarga? Tapi ga mau banyak keluarkan anggaran belanja? Kenapa tidak coba resep yang satu ini, insya Allah ga kalah dengan sayap ayam khas ala restoran cepat saji. Walau tanpa menggunakan putih telur rasanya tetap oke. Mungkin bahannya agak rumit dan di butuhkan sedikit kesabaran akan tetapi bila melihat anggota keluarga menghabiskan “Spicy wicked wing” ini dalam hitungan menit rasanya hilang sudah lelah kita di dapur. Hm,..siapa yang tidak tahan untuk tidak mencobanya&#8230;</p>
<p><span id="more-678"></span><strong>Bahan:</strong></p>
<ul>
<li>1kg sayap ayam potong dua</li>
<li>2 sdm bawang putih yang telah di ulek halus ( garlic paste)</li>
<li>1 sdm jahe yang telah di ulek halus (ginger paste)</li>
<li>3/4 cup yogurt</li>
<li>1 sdm garam (bagi yang tidak suka asin bisa di kurangi porsinya)</li>
<li>¼ cup cuka atau air jeruk lemon</li>
<li>1 sdm penyedap rasa ayam (bagi yang suka)</li>
<li>1 sdt bubuk lada</li>
<li>1 sdt cabai bubuk (buat yang suka pedas bisa di tambah porsinya)</li>
<li>1 sdm bumbu kari</li>
<li>1 sdt daun oregano bubuk (kalau tidak ada bisa di hilangkan- optional)</li>
<li>100 gr tepung sagu</li>
<li>150 gr tepung beras</li>
<li>100 gr  Self Rasing flour (bisa dig anti dengan 100 gr tepung terigu campur dengan 1 sdt baking powder)</li>
<li>Minyak goreng untuk  menggoreng ayam</li>
</ul>
<p><strong>Cara Membuat:</strong></p>
<ol>
<li>Campur yogurt dengan bawang putih, jahe,garam,penyedap rasa,bumbu kari,lada, cabai bubuk, oregano, dan cuka (air perasan jeruk nipis/lemon) dalam wadah besar. Aduk rata sisihkan.</li>
<li>Potong ayam menjadi 2 bagian kemudian masukkan dalam bumbu perendam. Remas-remas pastikan semua potongan ayam tercampur dan teruleni rata dengan bumbu. Masukkan dalam kulkas selama 6 jam atau semalaman ( biasanya bila semalaman di kulkas bumbu akan meresap dengan baik).</li>
<li>Panaskan minyak, campur semua jenis tepung dalam satu adonan kemudian tambahkan lagi di dalam adonan tepung 1 sdm bumbu kari+1 sdt lada  aduk rata kemudian ayak.</li>
<li>Masukkan satu persatu potongan sayap ayam dalam tepung berbumbu, dengan cara dicubit-cubit dengan demikian banyak tepung yang menempel dalam ayam berbumbu ini.Sisihkan dalam piring besar.</li>
<li>Bila tepung berbumbu mulai menggumpal ayak kembali tepung berbumbu dalam wadah lain dan singkirkan gumpalan-gumpalan tepung yang berada dalam ayakan sisihkan.</li>
<li>Dengan di ayaknya kembali tepung berbumbu akan membuat tepung seperti sedia kala sehingga ketika ukhti membalurnya kembali akan menutupi daging ayam dengan sempurna. Ulangi ayak bila ukhti menemukan tepung berbumbu mulai bergumpal kembali.</li>
<li>Goreng ayam dalam minyak banyak yang panas dan api sedang jangan terlalu besar karena akan membuat ayam gosong dan bagian dalamnya tidak matang.Goreng hingga ayam berwarna kuning keemasan. Sajikan dengan sambal botolan dan saus tomat.</li>
</ol>
<p><strong>Tambahan Tips:</strong></p>
<ol>
<li>Buat yang di luar negeri biasanya di toko  india/Pakistan ada bumbu paket Tandoori Chicken atau Chicken Tika untuk variasi bumbu kari bisa diganti dengan bumbu paket ini dengan ukuran yang sama yaitu 1 sdm dan taburkan 1 sdm pula pada adonan tepung sebagai pengganti bumbu kari.</li>
<li>Sisa tepung yang bergumpal bisa di goreng hasilnya mungkin akan sama seperti taburan dalam indomie goreng “kriuk” lumayan untuk di jadikan cemilan daripada di buang jadi mubazir.</li>
<li>Apabila masih ada sisa tepung berbumbu ayak sekali lagi pastikan hanya tepung halus yang tersisa masukkan dalam kantong plastik simpan dalam freezer bisa dipakai kapan saja ukhti membutuhkan untuk membalut rendaman ayam di lain waktu.Tepung yang di masukkan dalam freezer akan tetap segar dan tidak bau insya Allah. </li>
<li>Apabila ukhti tidak menyukai sayap ayam bisa diganti dengan ayam biasa yang di potong-potong sewaktu merendam potongan ayam tusuk-tusuk dengan garpu potongan ayam tersebut dan kerat-kerat bagian paha ayam selain bumbu mudah meresap ketika di goreng bagian dalam paha ayam akan matang insya Allah, jadi tidak ada lagi bagian yang merah atau belum tergoreng dengan sempurna.</li>
</ol>
<p>Selamat mencoba!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jilbab.or.id/archives/678-crispy-spicy-wicked-wing-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Dynamic Page Served (once) in 3.327 seconds -->
