<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Jilbab Online &#187; Ibu dan Anak</title>
	<atom:link href="http://jilbab.or.id/archives/category/keluarga/ibu-dan-anak/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jilbab.or.id</link>
	<description>-- Cocok Untuk Akhowat, Perlu Untuk Ikhwan --</description>
	<lastBuildDate>Sat, 06 Mar 2010 23:31:33 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Cara Mengajarkan Shalat Pada Anak*</title>
		<link>http://jilbab.or.id/archives/778-cara-mengajarkan-shalat-pada-anak/</link>
		<comments>http://jilbab.or.id/archives/778-cara-mengajarkan-shalat-pada-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Aug 2009 17:00:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ibu dan Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jilbab.or.id/?p=778</guid>
		<description><![CDATA[*diketik ulang oleh Humaira Ummu Abdillah dari Majalah al-Mawaddah, Edisi ke-12 Tahun Ke-2,Rajab 1430 H/ Juli 2009, Rubrik: Yaa Bunayya, Oleh : Ustadz Abdur Rohman al-Buthoni, halaman : 34-36*
Menurut syari’at Islam yang mulia, anak-anak tidak dikenai beban syari’at selagi dia belum baligh. Namun mereka harus dididik dan dilatih sejak masa anak-anak agar menjadi terbiasa melakukan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>*diketik ulang oleh Humaira Ummu Abdillah dari Majalah al-Mawaddah, Edisi ke-12 Tahun Ke-2,Rajab 1430 H/ Juli 2009, Rubrik: Yaa Bunayya, Oleh : Ustadz Abdur Rohman al-Buthoni, halaman : 34-36*</em></p>
<p>Menurut syari’at Islam yang mulia, anak-anak tidak dikenai beban syari’at selagi dia belum baligh. Namun mereka harus dididik dan dilatih sejak masa anak-anak agar menjadi terbiasa melakukan syari’at ketika telah dewasa.Apabila syari’at memerintahkan para orang tua dan wali agar memerintah anak-anak mereka untuk menunaikan sholat, maka wajib bagi orang tua dan para murobbi untuk mengajarkan kepada mereka perihal thoharoh sesuai dengan thoharohnya Rasulullah shalallahu alaihi wassalam, menjelaskan kepada mereka sifat wudhu Nabi shalallahu alaihi wassalam, syarat sah, rukun-rukunnya dan hal-hal yang membatalkannya.<span id="more-778"></span></p>
<p>Demikian pula harus mengajarkan tata cara sholat sesuai degan sholat Rasulullah shalallahu alaihi wassalam karena sabda beliau:</p>
<blockquote><p> “ Tunaikanlah sholat seperti kalian melihat aku sholat “.</p></blockquote>
<p> Hendaknya anak diajari teori sekaligus praktiknya dengan diajak memperhatikan tata cara berwudhu dan sholat bapak ibunya atau mengajaknya melakukan sholat dan berdiri di samping orang tuanya untuk mengambil secara langsung tata cara sholat yang benar.</p>
<p> Ini mengingatkan orang tua, para murobbi dan para guru TK dan SD agar mengajarkan do’a dan dzikir-dzikir dalam wudhu dan sholat sebelum yang lainnya. Hal ini perlu kita perhatikan sebab sebagian guru ada yang lebih mendahulukan do’a dan dzikir yang lain, seperti do’a berpakaian atau yang lainnya, daripada do’a dan dzikir dalam wudhu dan sholat.</p>
<p> Sistem pengajaran seperti itu tentu salah bila ditinjau dari sisi ini, sebab syari’at belum memerintahkannya. Dan jikalau anak mengamalkannya pun tidak terlalu berarti bila dibandingkan dengan do’a dalam wudhu dan sholat yang dituntut untuk dihafal dan diamalkan setelah mencapai usia 7 tahun, sebagaimana anjuran Rasulullah shallahu alaihi wassalam. Bila bisa didapat kedua-duanya tentu lebih baik.</p>
<p> <strong>POKOK – POKOK PENGAJARAN SHOLAT</strong></p>
<p>Pokok-pokok pengajaran yang harus diberikan kepada anak berkaitan dengan masalah sholat adalah sebagai berikut:</p>
<p>-  Ilmu tentang syarat sahnya sholat, rukun, wajib dan sunnah-sunnahnya.</p>
<p>-  Tata cara pelaksanaanya dari takbirotul ihrom hingga salam, meliputi gerakan-gerakannya, bacaan dan dzikir-dzikirnya, jumlah gerakan atau jumlah bacaan dan dzikir.</p>
<p>-  Sifat-sifat gerakan, seperti sifat tangan atau jari-jari tangan ketika takbirotul ihrom atau ketika posisi yang lainnya, apakah dengan menggenggam jari-jari atau dengan membuka dan rapat, ataukah membuka dengan merenggangkan jari-jari lurus ke atas atau melengkung ke bawah.</p>
<p>-  Sifat bacaannya, antara yang sir dan yang jahr, juga panjang pendeknya suatu gerakan dan bacaan, seperti gerakan tangan ketika takbirotul ihrom apakah perlahan-lahan hingga beberapa menit baru sampai ke bahu dan daun telinga ataukah bagaimana. Demikian juga dengan bacaan-bacaannya, misalnya apakah melafazhkan takbir dengan bacaan panjang seperti “ Allooooohuuuuu Akbaaaaar “ ataukah tidak.</p>
<p>-  Mengajarkan yang shohih dari Rasulullah shalallahu alaihi wassalam dan meninggalkan yang tidak shohih.</p>
<p>-  Mengajarkan nama-nama sholat dan waktu-waktunya serta bilangan roka’atnya.</p>
<p>-  Mengajarkan tata cara berpakaian yang wajar di dalam sholat.</p>
<p>-  Menanamkan akidah ( keyakinan ) bahwa orang yang sholat itu sedang menghadap Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Maka, apabila kita menghadap kepala desa atau orang kaya saja tidak boleh bermain-main, tentunya menghadap Alloh, Sang Penguasa langit dan bumi dan seluruh alam semesta, lebih sangat tidak layak untuk bermain-main.</p>
<p>-  Mengajarkan syarat syahnya sholat yang paling utama, yaitu thoharoh dan berwudhu, hal ini meliputi:</p>
<p>a.  Tata cara membersihkan najis tinja dan kencing sehingga benar-benar suci dan tidak membawa najis dalam sholat. Mengenalkan kepada mereka benda-benda yang najis agar mereka jauhi, terutama ketika sholat.</p>
<p>b. Mengajarkan tata cara berwudhu, dzikir sebelum dan sesudahnya, tata cara penggunaan air yang sesuai dengan sunnah Rasulullah shalallahu alaihi wassalam, tidak boleh boros sekalipun banyak air, urut-urutannya dan bilangan-bilangannya.</p>
<p>c.  Tata cara membasuh, apakah membasuh dengan menyiramkan air ataukah cukup dengan mengusap tanpa menyiramkan air. Juga menjelaskan tentang sifat membasuh dan mengusap.</p>
<p>d. Mengajarkan kepada mereka anggota-anggota wudhu dan hal-hal yang berkaitan dengannya, apakah yang penting anggota wudhu tersebut terkena air sehingga cukup dicelupkan ke dalam air ataukah harus diusap da diratakan dengan tangan.</p>
<p>e.  Mengajarkan kepada mereka batas-baras anggota wudhu, dari mana hingga ke mana.</p>
<p>f.  Mengajarkan kepada mereka tata cara adzan dan iqomat, lafazh-lafazhnya dan bagaimana menjawab jika mendengar adzan dan do’a sesudah adzan bagi yang mendengar. Juga tentang tata cara melafazhkannya, yaitu tidak boleh berlebihan dengan memanjangkan lafazh yang seharusnya pendek atau sebaliknya, atau lafazh yang panjang dilebihkan dari kadarnya sehingga terlalu panjang, atau dengan merusak lafazah, seperti “ Allohu Akbar “ menjadi “ Aulohuu Akbaruu “.</p>
<p>g. Mengajarkan kepada mereka tentang batas-batas aurat dalam sholat, sebab aurat itu ada 2: <strong><em>aurat yang berkaitan dengan pandangan mata</em></strong> dan <strong><em>aurat yang berkaitan dengan hak Alloh</em></strong>. Atau dengan istilah lain, berbeda antara aurat di luar sholat dengan aurat di dalam sholat. Contoh, anak kecil yang belum baligh tidak ada auratnya sehubungan dengan pandangan mata, meski begitu ia tidak boleh menunaikan sholat dalam keadaan telanjang. Nabi shalallahu alaihi wassalam bersabda:</p>
<blockquote><p>“ Janganlah salah seorang diantara kalian melakukan sholat dengan mengenakan satu pakaian saja, yang ( dengan begitu ) kedua pundaknya tidak tertutup “.</p></blockquote>
<p> Sabda Rasulullah shalallahu alaihi wassalam lainnya:</p>
<blockquote><p>“ Alloh tidak menerima sholat wanita yang telah baligh kecuali dengan penutup kepala”.</p></blockquote>
<p> <strong>PENTINGNYA KETELADANAN</strong></p>
<p>Semua orang sepakat bahwa mengajar dengan praktik dan memberi contoh secara langsung jauh lebih berpengaruh positif pada pemahaman anak daripada hanya teori semata. Karena itulah hendaknya para murobbi tidak lalai dari manhaj ta’lim ( metode pengajaran ) ini sebab inilah yang dicontohkan Nabi shalallahu alaihi wassalam dan para sahabatnya.</p>
<p> Suatu ketika, Ustman bin Affan radiyallahu anhu meminta air wudhu dan mengajak para sahabat untuk memperhatikan cara wudhu beliau dari awal hingga akhir lalu berkata,<em> “ Seperti inilah aku melihat Nabi shalallahu alaihi wassalam berwudhu “.</em></p>
<p> Dalam kisah yang lain, salah seorang sahabat pernah mempraktikkan sholat dari awal hingga akhir dihadapan para sahabat yang lain, seraya mengatakan, <em>“ Kemarilah kalian! Akan aku perlihatkan kepada kalian sifat sholat Nabi shalallahu alaihi wassalam “.</em></p>
<p> Rosulullah shalallahu alaihi wassalam terkadang juga melakukan sholat ( sebagai imam ) dengan berdiri dan ruku’ diatas mimbar untuk memperlihatkan sholatnya kepada para sahabat, beliau mengatakan, <em>“ Aku melakukan ini agar kalian mengikutiku dan mengetahui sholatku”.</em></p>
<p> Contoh metode pengajaran seperti ini sangat sering diterapkan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wassalam dan para sahabatnya. Demikian itu karena teori semata sulit untuk dipahami dan membutuhkan waktu yang lama bahkan mudah terlupakan, berbeda dengan apa yang dialami dan dilihat secara langsung. Ini berarti orang tua dan para pendidik tidak cukup hanya menyediakan buku-buku bacaan seputar wudhu dan sholat atau hanya memerintahkan anak untuk melakukan sholat, namun mereka juga dituntut untuk memberikan keteladanan berupa praktik amali di hadapan anak-anak mereka seperti yang dicontohkan Rosululloh shalallahu alaihi wassalam, sebaik-baik pendidik, dan para sahabat beliau.</p>
<p> <strong>MENGAJARKAN SHOLAT YANG BENAR</strong></p>
<p>Para pendidik dan orang tua harus  mengajarkan sholat yang benar kepada anak-anak mereka. Sholat yang benar artinya sholat yang sesuai dengan sholat Rosululloh shalallahu alaihi wassalam, sebagaimana sabda beliau diatas. Oleh karena itu, sebelum melakukan pengajaran, para pendidik harus memiliki ilmu tentang sifat sholat Nabi shalallahu alaihi wassalam dan tidak cukup dengan mengikuti sholat kebanyakan orang zaman sekarang, sebab diantara mereka masih banyak yang melakukan bid’ah dalam sholat, baik dengan mengurangi atau menambahi sebagaian dari sholat mereka yang tidak ada contohnya dari Rosululloh shalallahu alaihi wassalam. Padahal sholat merupakan amal yang paling utama yang pelakunya sangat berharap agar sholatnya bisa diterima oleh Alloh, sementara Alloh tidak akan menerima sebuah amal kecuali yang ikhlas karena Alloh semata dan sesuai dengan sunnah ( petunjuk / contoh ) dari Rosululloh shalallahu alaihi wassalam.</p>
<p><strong> TIDAK MENDIAMKAN KESALAHAN</strong></p>
<p>Sebagian orang beranggapan bahwa tidak mengapa membiarkan anak sholat dalam keadaan tidak benar, toh juga masih anak-anak, misalnya membiarkan anak sholat tanpa berwudhu atau berwudhu hanya dengan membasuh telapak tangan, wajah dan kaki saja dengan alasan bahwa anak masih kecil dan belum baligh. Anggapan ini jelas salah. Perlu diketahui bahwa meskipun hukum-hukum syari’at belum berlaku bagi anak, namun Allah Subhanahu Wata’ala memerintahkan dan memberi beban kepada para wali untuk memberlakukan hukum-hukum syari’at kepada anak-anak mereka. Anggapan yang salah ini jelas bertentangan dengan perintah Rosululloh shalallahu alaihi wassalam:</p>
<blockquote><p> “ Perintahkan anak-anak kalian untuk menunaikan sholat ketika mereka berusia 7 tahun dan pukullah mereka jika meninggalkannya ketika mereka telah berusia 10 tahun “.</p></blockquote>
<p> Maksud dari perintah Rosululloh tersebut adalah agar para orang tua menyuruh anak-anaknya untuk thoharoh dan berwudhu dengan sempurna, berpakaian menutup aurat dan pundak, berdiri menghadap kiblat, di tempat yang tidak haram untuk sholat di dalamnya, melakukan tata cara sholat dari takbirotul ihrom hingga salam lengkap dengan rukun-rukunnya, fardhu dan sunnah-sunnahnya.</p>
<p> Rosululloh pernah melakukan sholat malam, lalu Abdulloh bin Abbas datang mengikuti dan berdiri di sebelah kiri beliau. Maka beliau shalallahu alaihi wassalam memutarnya dari arah kiri lewat belakang kea rah kanan beliau</p>
<p> Pernah salah seorang Arab Badui datang ke masjid lalu melakukan sholat. Setelah selesai dari sholatnya, Rosululloh shalallahu alaihi wassalam mengatakan,</p>
<blockquote><p> “ Ulangi sholatmu, karena sesungguhnya engkau belum sholat “. Maka orang tersebut mengulangi sholatnya seperti sholatnya yang semula hingga 3 kali, sampai akhirnya orang itu berkata, “ Wahai Rosululloh, ajarilah aku sholat, sebab aku tidak bisa sholat kecuali dengan cara yang seperti ini ( yakni sholat dengan gerakan yang sangat cepat, tanpa thuma’ninah ). Maka Rosululloh shalallahu alaihi wassalam mengajarinya sholat seraya menyampaikan bahwa wajib baginya untuk thuma’ninah pada setiap gerakan sholat.</p></blockquote>
<p>Rosululloh shalallahu alaihi wassalam menganggap sholat orang ini batal karena meninggalkan salah satu rukun sholat, yaitu thuma’ninah. Sholat yang dianggap batal oleh Nabi shalallahu alaihi wassalam yang dilakukan oleh orang ini banyak sekali dilakukan oleh anak-anak.Sehingga kewajiban para orang tua dan para pendidik adalah membenarkan sholat mereka yang masih salah ini.</p>
<hr /><strong>Catatan kaki:</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jilbab.or.id/archives/778-cara-mengajarkan-shalat-pada-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wahai Anakku, Kami Menginginkan Pahala Itu</title>
		<link>http://jilbab.or.id/archives/508-wahai-anakku-kami-menginginkan-pahala-itu/</link>
		<comments>http://jilbab.or.id/archives/508-wahai-anakku-kami-menginginkan-pahala-itu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 May 2009 23:51:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ummu Raihanah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ibu dan Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jilbab.or.id/?p=508</guid>
		<description><![CDATA[Ya Bunayya,..engkau buah hati kami. Padamu tergantung masa depan kami. Dunia kami dan akhirat kami. Hilang letih dan lelah kami ketika melihat engkau beranjak dewasa tumbuh dengan akhlak mulia. Wahai anakku,&#8230; engkau hidup di penghujung zaman yang semakin banyak kerusakan dan fitnah yang menyambar setiap detik nafasmu. Jikalah tidak engkau bergantung pada Zat Yang Maha [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Ya Bunayya</em>,..engkau buah hati kami. Padamu tergantung masa depan kami. Dunia kami dan akhirat kami. Hilang letih dan lelah kami ketika melihat engkau beranjak dewasa tumbuh dengan akhlak mulia. Wahai anakku,&#8230; engkau hidup di penghujung zaman yang semakin banyak kerusakan dan fitnah yang menyambar setiap detik nafasmu. Jikalah tidak engkau bergantung pada Zat Yang Maha Kuat dan Kuasa pada siapa lagi engkau kan berlari.</p>
<p><span id="more-508"></span>Kami tidak perduli melihat para orang tua yang sibuk memilih dunia untuk belahan jiwa mereka. Yang berkorban dengan apa saja agar anak-anaknya berhasil meraih pangkat dan kedudukan di hati manusia. Yang bila mana kami lupa memanggil anaknya dengan nama biasa, maka mereka akan segera tergesa-gesa meralat,.. maaf anak kami adalah seorang dokter panggillah nama depannya dengan jabatannya.</p>
<p>Duhai penyejuk hati yang gundah,&#8230; kami menginginkan dunia hanya sebagai bekal untukmu menuju akhirat yang abadi. Karena itu kami tidak kecewa bila mendapati nilai C pada matematikamu atau fisikamu. Tetapi sungguh kami akan menangis dan berduka bila engkau lalai pada perintah Rabbmu.</p>
<p>Duhai penyejuk mata,&#8230;. di hari yang semakin mendekati kepunahan. Tak lelah kami mendidikmu dengan Al-Qur’an. Betapa engkau sangat kami inginkan menjadi penghafal dan pengamal Al Qur’an. Siang malam kami bersabar dan tak kecewa membetulkan bacaanmu yang yang tertatih-tatih dan terlupa dari satu ayat Al-Qur’an.<br />
Demikian pula doa senantiasa kami panjatkan untuk kalian agar Allah memberi kemudahan.</p>
<p>Untukmu <em>bunayya</em>,&#8230; bersabarlah di hari yang sulit ini. Sungguh engkau akan menikmati jerih payahmu<br />
ketika dewasa nanti.Janganlah engkau lupakan kami dalam doamu .Semoga Allah di kemudian hari, memberi kelapangan pada kubur kami yang sempit nanti.</p>
<p><em>Ya bunayya</em>,&#8230;. engkau pasti kan bertanya, mengapa orang tua kami melakukan hal ini untuk kami? Jawabnya,&#8230; karena ia adalah suatu kebiasaan yang telah di wariskan oleh para pendahulu kita(salafus shalih).<br />
Begitu pula telah kami dapati dalam ucapan Nabimu yang mulia <em>shalallahu alaihi wassalam</em> diriwayatkan dari Buraidah bin Hushaib <em>radhiyallahu anhu</em> ia berkata: “Pernah ketika aku sedang berada di sisi Rasulullah <em>shalallahu alaihi wassalam</em> maka aku pernah mendengar beliau bersabda,</p>
<p><em>&#8220;Al-Qur’an itu akan menemui ahlinya pada hari kiamat ketika kubur telah terbelah seperti seorang laki-laki yang berwajah putih berseri. Ia berkata pada laki-laki tadi,”Apakah kamu mengenaliku?” dia menjawab,”Aku tidak mengenalimu” Ia berkata,”Aku adalah temanmu, Al-Qur’an yang dulu selalu membuat kering tenggorokanmu di siang hari dan begadang di malam hari. Dan setiap pedagang tentulah mengharapkan keuntungan dari barang dagangannya, dan kamu pada hari ini mendapatkan keuntungan dari usahamu.”Kemudian di berikan untuknya kerajaan di tangan kanannya dan keabadian (surga) ditangan kirinya, di letakkan mahkota kebesaran di kepalanya, dan dikenakan bagi kedua orangtuanya dua pakaian (teramat indah) yang belum pernah dikenakan oleh penduduk bumi. Keduanya berkata: ”Dengan amalan apa kami bisa memperoleh pakaian seperti ini?” Dikatakan: “Dengan (kesabaran)mu dalam mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anakmu” Kemudian diperintahkan kepadanya, Bacalah (Al-Qur’an) dan naikilah tangga-tangga surga dan masuklah ke kamar-kamarnya” Maka dia terus naik (derajatnya) selama dia membacanya dengan cepat atau dengan cara tartil (perlahan-lahan)</em>” <strong>(HR. Ahmad)</strong></p>
<p>Dan juga dalam hadits Abu Hurairah <em>radhiyallahu anhu</em> yang <em>marfu’</em> (sampai) kepada <em>Nabi shalallahu alaihi wassalam</em> beliau bersabda,</p>
<p>“&#8230;. dan dikenakan kepada kedua orangtuanya dua pakaian indah yang tidak bisa dinilai dengan dunia dan seisinya. Keduanya berkata, “Ya Rabb, Bagaimana kami bisa mendapatkan balasan seperti ini !! dikatakan :”<em>Dengan mendidik Al-Qur’an kepada anak-anakmu</em>” <strong>(HR. Ath-Thabrani)</strong>.</p>
<p>Wahai bunayya,.. betapa kami menginginkan pahala itu. Kami-pun menyadari tidaklah mudah untuk mendapatkannya. Karena memang segala sesuatu harus diraih dengan kerja keras yang gigih dan kesabaran yang tak bertepi. Lelah dan letih kami akan di hargai-Nya karena Allah Yang Maha Mulia telah berfirman:</p>
<p><em>“Dan bahwasanya seorang manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya (39) dan bahwasanya usahanya itu kelak akan di perlihatkan kepadanya (40) Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna” (41).</em> <strong>(An-Najm :39-41)</strong>.</p>
<p>Sungguh kami yakin wahai bunayya,&#8230; jika sekiranya para orangtua mengetahui keutamaan dan kedudukan yang tinggi di sisi-Nya karena mengajarkan Al-Qur’an pada buah hati mereka, niscaya mereka akan berlomba-lomba untuk mengajarkan anak-anaknya Al-Qur’an, membimbing mereka untuk selalu membaca, menghayati maknanya dan mengamalkannya dalam kehidupan yang fana ini.</p>
<p>Sumber bacaan :</p>
<ol>
<li>Tafsir Ibnu katsir jilid 9 , Pustaka Imam ASy-Syafi’i, Jakarta, 2008.</li>
<li>Keagungan Al-Qur’an Al-karim, Syaikh Mahmud Al Dosari, Maktabah Darus salam, Riyadh, 2006.</li>
</ol>
<p>Murajaah oleh : Ustadz Eko Hariyanto Lc(Abu Ziyad)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jilbab.or.id/archives/508-wahai-anakku-kami-menginginkan-pahala-itu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>22</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Makanan Sehat untuk Bayi Sehat</title>
		<link>http://jilbab.or.id/archives/497-makanan-sehat-untuk-bayi-sehat/</link>
		<comments>http://jilbab.or.id/archives/497-makanan-sehat-untuk-bayi-sehat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Jul 2008 04:47:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>JO admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ibu dan Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jilbab.or.id/archives/497-makanan-sehat-untuk-bayi-sehat/</guid>
		<description><![CDATA[Bayi yang baru dilahirkan atau suatu saat dalam kehidupannya memiliki kondisi kesehatan/klinis yang berbeda-beda. Ada yang dilahirkan atau pada suatu saat mengalami gangguan kesehatan seperti gangguan pencernaan, gizi buruk, gangguan jantung, menjalani operasi tertentu, infeksi berat dan lain-lain. Pada keadaan tersebut, bayi harus diberikan diet khusus yang disesuaikan dengan keadaan kilnis dan penyakit yang dideritanya. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bayi yang baru dilahirkan atau suatu saat dalam kehidupannya memiliki kondisi kesehatan/klinis yang berbeda-beda. Ada yang dilahirkan atau pada suatu saat mengalami gangguan kesehatan seperti gangguan pencernaan, gizi buruk, gangguan jantung, menjalani operasi tertentu, infeksi berat dan lain-lain. Pada keadaan tersebut, bayi harus diberikan diet khusus yang disesuaikan dengan keadaan kilnis dan penyakit yang dideritanya.  Bayi yang tidak sedang mengalami keadaan klinis yang dimaksud disebut bayi sehat.Secara umum makanan bayi sehat dibagi menjadi 2 golongan, yaitu makanan utama yaitu ASI/PASI (pengganti ASI) dan makanan pelengkap yang diberikan ketika bayi telah mencapai umur dan berat badan tertentu yang terdiri dari buah, biskuit, makanan lumat (bubur susu), dan makan lembek (nasi tim). Makanan pelengkap ini diberikan ketika ASI/PASI tidak lagi mencukupi kebutuhan pertumbuhan dan perkembangan bayi sehingga harus ditambah dari sumber makanan yang lain.<span id="more-497"></span>MAKANAN UTAMATelah lazim diketahui makanan paling baik bagi bayi sehat adalah air susu ibu (ASI) terutama pada bulan-bulan pertama setelah dilahirkan. ASI mencukupi kebutuhan gizi bayi sehat sampai umur 6 bulan sehingga ibu dianjurkan untuk memberikan ASI ekslusif sampai bayi berumur 6 bulan. Namun adakalanya bayi yang sehat terhalang untuk mendapatkan ASI karena sesuatu dan lain sebab baik karena faktor ibu atau bayi itu sendiri sehingga pemberian ASI tidak memungkinkan sehingga harus diganti dengan makanan lain pengganti ASI. Makanan pengganti ini disebut PASI. PASI  diformulasi sesuai dengan kondisi dan kebutuhan bayi, diantaranya fungsi saluran pencernaan yang  masih terus berkembang, umur, berat badan, ada tidaknya alergi dan lain-lain. Sekarang ini telah ada PASI yang formulanya sangat mirip dengan ASI walaupun tetap tidak bisa menggantikan ASI dengan segala kelebihannya.ASIASI merupakan makanan yang ideal untuk bayi terutama pada bulan-bulan pertama. Air susu ibu mengandung semua zat gizi untuk membangun dan menyediakan energi dalam susunan yang diperlukan, tidak memberatkan fungsi saluran pencernaan (lambung dan usus) dan ginjal, menghasilkan pertumbuhan yang optimal, memiliki berbagai zat antiinfeksi, mengurangi kemungkinan terjadinya dermatitis atopik (radang kulit yang tidak jelas penyebabnya), serta memperpanjang jarak kelahiran anak. Keuntungan lain menyusui adalah murah harganya, tersedia pada suhu yang ideal dan tidak perlu dipanaskan terlebih dahulu, selalu segar dan bebas pencemaran kuman, memperkuat ikatan batin antara ibu dan anak, serta mempercepat pengembalian besarnya rahim pada bentuk dan ukuran sebelum hamil.Yang harus diperhatikan saat menyusui adalah bayi sedang bangun dan mau minum. Bayi akan bereaksi jika puting payudara ditempelkan pada mulutnya. Tetapi jika bayi menolak berarti ia belum mau minum dan tidak perlu dipaksakan. Hendaknya ASI diberikan secepatnya terutama bila ibu dan bayi sehat.Air susu yang diproduksi pada 1-5 hari pertama dinamakan kolostrum berupa cairan kental yang berwarna kekuningan. Kolostrum ini sangat menguntungkan bayi karena mengandung lebih banyak antibodi, protein, mineral, dan vitamin A. Sebagai pedoman pada hari pertama dan kedua, lama pemberian ASI adalah 5-10 menit pada tiap payudara dan pada hari ketiga dan selanjutnya lama pemberiana ASI adalah 15-20 menit. ASI dapat diberikan terus sampai anak berumur 2 tahun.PASIPASI diberikan bila karena sesuatu sebab bayi tidak dapat memperoleh ASI, seperti:� Produksi ASI tidak cukup atau sama sekali tidak keluar� Terdapat penyakit pada ibu, misalnya penyakit gagal jantung� Bayi dengan kelainan metabolik bawaan, seperti intoleransi laktosa� Ibu sedang dirawat di rumah sakit dan dipisahkan dari ibunya� Ibu bekerja atau berdagang yang letaknya jauh dari tempat tinggalnya.Berdasarkan umur bayi, PASI dibagi menjadi 2 golongan, yaitu PASI formula awal (starting formula) dan PASI Formula tindak lanjut (follow-on formula). Formula awal dibagi lagi menjadi formula awal adaptasi dan formula awal lengkap.Formula awal  adaptasi adalah formula yang susunan gizinya disesuaikan dengan fisiologis bayi baru lahir. Formula ini diberikan pada bayi baru lahir sampai berumur 6 bulan. Beberapa formula awal adaptasi yang beredar di Indonesia diantaranya bebelac 1, bimbi, dumex sb, enfamil, morinaga bmt, nan, nutrilon primer, s26, dan vitalac.Formula awal lengkap berarti susunan zat gizinya lengkap dan pemberiannya dapat dimulai setelah bayi dilahirkan. Dibandingkan dengan formula awal adaptasi, formula ini mememiliki kadar protein dan mineral yang lebih tinggi. Keuntungan dari formula bayi ini terletak pada harganya yang lebih murah. Beberapa formula awal yang lengkap yang beredar di Indonesia diantaranya lactogen 1, nestogen, new camelpo, dan sgm.Formula tindak lanjut diberikan setelah bayi berumur 6 bulan dimana bayi telah mendapat makanan pelengkap. Beberapa formula tindak lanjut yang beredar di Indonesia antara lain beeblac 2, benamil, chilmil, dumex sl, anfapro, lactogen 2, nestlac, nutrima, promil, sgm 2, vitalac 2, dll.Bagaimana pengaturan makanan utama pada bayi?Segera setelah lahir, bayi yang sehat dapat diberikan makanan melalui mulut dengan tujuan mempertahankan metabolisme dan pertumbuhan normal pada saat transisi dari kehidupan intra-ke ekstra-uterin, menggalang hubungan batin antara ibu dan bayinya terutama bayi yang diberikan ASI dan mengurangi resiko hipoglikemia, hiperkalemia, hiperbilirubinemia, dan azotemia.Pemberian minum pada neonatus (bayi baru lahir) didasarkan pada pengosongan lambung yaitu antara 1-4 jam sehingga yang terbaik adalah pemberian minum sesukanya tanpa penjadwalan (ad libitum). Pemberian makanan bayi dikatakan baik bila berat badan tidak turun lagi pada pada hari ke-5 dan 7 atau berat badan meningkat pada hari ke 12 dan 13.Selama bayi belum mendapat makanan pelengkap atau makanan tambahan lain, maka tidak perlu penjadwalan khusus bagi pemberian asi.Cara menilai ASI/PASI yang diberikan sudah mencukupi?Untuk menilai kecukupan ASI/PASI ada beberapa kriteria:� Sesudah menyusu atau minum bayi tampak puas, tidak menangis dan dapat tidur dengan nyenyak� PASI yang diberikan tidak bersisa� Selambatnya 2 minggu setelah lahir, berat badan waktu lahir tercapai kembali� Bayi tumbuh dengan baik. Pada umur 5-6 bulan berat badan mencapai 2 kali berat badan lahir. Pada umur 1 tahun berat badan mencapai 3 kali lipat berat badan lahir.MAKANAN PELENGKAPUmumnya bayi membutuhkan makanan pelengkap setelah anak berumur 6 bulan. Makanan ini diolah dan diberikan secara bertahap sesuai dengan umur dan pertambahan berat badan bayi. Makanan yang dipilih tentunya yang kaya dengan nutrisi, biasanya terdiri dari buah-buahan, sayur-sayuran, daging, ikan, ayam, dll dengan komposisi yang seimbang.Buah-buahanBuah sudah dapat diberikan pada umur 4-6 bulan atau berat badan mencapai 4,5-5 kg, dan bergantung pada kesukaan bayi. Pilih buah yang segar serta masak dan cuci terlebih dahulu. Jika yang diberikan adalah pepaya, pisang, dan alpukat, setelah dikupas keroklah halus dengan sendok kecil. Tomat direndam dalam air panas dan dibuang kulitnya, lalu disaring dan diencerkan dengan air matang dengan perbandingan yang sama. Jeruk diperas dan disaring, serta dapat diencerkan dengan perbandingan yang sama.BiskuitBiskuit yang dicairkan terlebih dahulu dengan air minum biasa, air teh, atau susu encer dapat diberikan pada umur 4-6 bulan atau berat badan mencapai 4,5-6 kg.Bubur susuBubur susu mulai diberikan pada bayi berumur 4-5 bulan bila berat badannya mencapai 5,5-6 kg. Bubur susu merupakan makanan padat pertama yang dapat diberikan pada bayi.Cara membuat bubur susu:� Campurkan tepung beras/maizena/kacang hijau/havermout 1,5 sendok makan (15 gr) dengan susu cair 1 gelas (200 ml) dan gula pasir 1 sendok makan (10 ml).� Masak diatas api sambil diaduk hingga matang. Energi yang dikandung sebesar 217 kkal.Nasi Tim/bubur campurNasi Tim saring diberikan pada bayi berumur 6 bulan dengan berat badan 6-7 kg dan pada umur 8-9 bulan diberikan dalam bentuk tidak disaring.Bahan makanan dicuci, ikan/daging dan tempe/tahu dipotong kecil atau dicincang, sayuran dipotong pendek. Semua bahan dimasukkan kedalam panci dan diberi air. Dimasak dengan api sedang dan ditutup. Setelah mendidih diaduk dan dimask terus hingga kental dan matang. Bila dibutuhkan dalam bentuk halus dapat disaring atau dihaluskan dengan blender. Enegi yang dikandung nasi tim tersebut sebesar 155 kkal.Bahan yang dibutuhkan untuk membuat satu porsi nasi tim:Beras 2 sdm (20 gr), daging/ikan 1 potong kecil (25 gr), tempe/tahu 1 potong kecil (10 gr), sayur (bayam/kangkung/daun singkong muda/wortel/labu kuning, dll) 0,5 gelas (25 gr), air 3-4 gelas (800 gr)Beberapa poin tentang makanan pelengkap antara lain:� Setelah bayi berumur 4-6 bulan, bayi dapat diberi buah dan biskuit dengan jadwal pemberian pukul 11.00 dan 16.00 sedangkan pemberian ASI tetap dapat diberikan setiap saat sesukanya.� Saat bayi berumur 4 bulan atau setelah mencapai berat badan 5,5 kg, bayi dapat diberi makanan padat pertama berupa bubur susu untuk makan pagi (pukul 09.00). Bila telah menyukainya, bubur susu dapat diberi untuk makan sore (pukul 17.00).� Setelah bayi berumur 6 bulan atau setelah berat badannya 6,5 kg, bayi dapat diberi makanan padat kedua berupa nasi tim saring yang diberikan yang diberikan 2 kali sebagai makan siang dan makan malam. Sekitar umur 8-9 bulan bayi dapat diberi nasi tim biasa.Namun begitu seperti yang telah disebutkan sebelumnya, jika anak mendapatkan ASI, lanjutkan ASI ekslusif sampai bayi berumur 6 bulan karena ASI masih bisa mencukupi kebutuhan pertumbuhan dan perkembangan bayi sampai umur tersebut.Secara umum, bayi sehat telah memadai makanannya secara kualitas dan kuantitas apabila bayi bisa tumbuh secara optimal.Referensi:1. Mansjoer A. Et all, editor. Kapita Selekta Kedokteran, Ed.3. Jakarta: Media Aesculapsius, 2000:568-75.2. Butte NF, Lopez-Alarcon MG, Garza C. Nutrient adequacy of exclusif bresfeeding for the term infant during the first six months of life. Geneva: WHO, 2002.dr. Wenni</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jilbab.or.id/archives/497-makanan-sehat-untuk-bayi-sehat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ayah, Ibu&#8230;sayangilah aku, bercandalah denganku..</title>
		<link>http://jilbab.or.id/archives/482-ayah-ibusayangilah-aku-bercandalah-denganku/</link>
		<comments>http://jilbab.or.id/archives/482-ayah-ibusayangilah-aku-bercandalah-denganku/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Jan 2008 09:58:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>JO admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ibu dan Anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jilbab.or.id/archives/482-ayah-ibusayangilah-aku-bercandalah-denganku/</guid>
		<description><![CDATA[Wahai saudaraku pendidik, menyayangi dan bersenda gurau dengan anak kecil termasuk bentuk kasih sayang dan kedalaman pemahaman seseorang dalam dien.
Rasulullah Shallallahu’Alaihi wa sallam adalah sosok pemimpin manusia yang sangat bersikap lemah lembut terhadap anak-anak kecil. Seperti kita ketahui beliau pernah menggendong Hasan di atas pundaknya, Beliau pun mengajak tertawa, membuka mulut dan menciumnya, serta memperlihatkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Wahai saudaraku pendidik, menyayangi dan bersenda gurau dengan anak kecil termasuk bentuk kasih sayang dan kedalaman pemahaman seseorang dalam dien.</p>
<p>Rasulullah Shallallahu’Alaihi wa sallam adalah sosok pemimpin manusia yang sangat bersikap lemah lembut terhadap anak-anak kecil. Seperti kita ketahui beliau pernah menggendong Hasan di atas pundaknya, Beliau pun mengajak tertawa, membuka mulut dan menciumnya, serta memperlihatkan dia sedang bermain, lari ke sana ke mari. Setelah itu Nabi Shallallahu’Alaihi wa sallam pun menangkapnya. Subhannallah…<br />
Wahai saudaraku pendidik, tidakkah kita bercermin dari Rasulullah Shallallahu’Alaihi wa sallam?<br />
Abu Hurairah Radhiyallahu &#8216;Anhu meriwayatkan:<br />
“Bahwasanya Rasulullah mencium Al-Hasan bin Ali kala itu Al-Aqra’ bin Habis At-Tamimi duduk di sisinya, Al-Aqra’ berkata: “Saya punya sepuluh orang anak namun tidak satu anakpun pernah saya cium!” Rasulullah menoleh kepadanya lalu berkata:<br />
مَنْ لاَ يَرْحَمْ لاَ يُرْحَمْ<br />
“Barangsiapa yang tidak menyayangi niscaya tidak akan disayang!”</p>
<p><span id="more-482"></span></p>
<p>‘Aisyah Radhiyallahu &#8216;Anha meriwayatkan:<br />
“Datang seorang arab badui menemui Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam, ia berkata: “Apakah kalian mencium anak-anak? Adapun kami tidak mencium anak-anak! Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam berkata kepadanya:<br />
“Sanggupkah kamu bila Allah mencabut rasa kasih sayang dari hatimu!?”</p>
<p>Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam juga bersenda gurau dengan menjulurkan lidah beliau kepada anak-anak. Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, bahwa ”Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam pernah menjulurkan lidahnya di depan Hasan bin Ali, lalu ketika Hasan melihat merah lidah beliau, ia segera mendekat kepada beliau” 3<br />
Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam selalu memberi motivasi kepada para orang tua dalam hal menyayangi anak-anak, hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh Anas, ”Bahwa suatu ketika ada seorang perempuan datang ke rumah ’Aisyah Radhiyallahu’Anha lalu ’Aisyah memberikan tiga butir kurma kepadanya. Lalu perempuan itu memberikan masing-masing anak sebutir kurma sehingga ia menyisakan sebutir kurma untuk dirinya. Lalu kedua anak itu masing-masing memakan kurmanya sambil memandang kepada ibunya. Kemudian ibunya mengambil kurma itu dan membelah mejadi dua lalu ia berikan kepada masing-masing anak separuhnya. Kemudian datanglah Nabi Shallallahu’Alaihi wa sallam, lalu beliau diceritakan ‘Aisyah Radhiyallahu’Anha. Setelah itu beliau bersabda:<br />
”Sungguh apa yang dilakukan perempuan itu membuat kamu terpesona. Semoga Allah mengasihi dia karena kasih sayang dia kepada kedua anaknya yang masih kecil”4<br />
Subhannallah&#8230;<br />
Lalu kenapa ada ibu-ibu yang tega menyiksa anak-anak mereka, padahal Allah akan mengasihinya bila ia menyayangi anaknya?.<br />
Bisa jadi dikarenakan mereka tidak mengetahui keutamaan dalam Islam untuk menyayangi anak kecil. Sungguh mereka telah merugi&#8230; Allahua’lam&#8230; [Bintu Nashrun]</p>
<p>1. Hadits shahih riwayat Al-Bukhari (X/426), Muslim (2318), Abu Dawud (XIV/129), At-Tirmidzi (1911), Ahmad (II/228, 241, 269, 514), Ibnu Hibban (2236), Al-Baghawi dalam Syarah Sunnah (XIII/34), dari jalur Abu Salamah dari Abu Hurairah Radhiyallahu &#8216;Anhu. At-Tirmidzi berkata: Hasan Shahih!<br />
2  Hadits shahih riwayat Al-Bukhari (X/426), Muslim ((2317), Ibnu Majah (II/390), Ahmad (VI/56-70), Al-Baghawi (XIII/34-35), dari jalur Hisyam bin Urwah dari bapaknya dari ‘Aisyah Radhiyallahu &#8216;Anha.<br />
3 Al Silsilah As Shahihah, hal.70<br />
4 HR. Bukhari, di dalam kitab Adabul Mufrad, kitabul Walidat Rahimat I : 89</p>
<p>Referensi:<br />
Bekal-bekal Menuju Pelaminan, ,At-Tibyan Solo</p>
<p>Tumbuh di bawah naungan Illahi, Doa dan Kiat Nabi Shalallahu’alahi wa sallaam mendidik anak Sejak dalam Sulbi Ayah dalam Kandungan Ibu hingga Dewasa, syaikh Jamal Abdul Rahman, Penerbit Media Hidayah</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jilbab.or.id/archives/482-ayah-ibusayangilah-aku-bercandalah-denganku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Masalah Pada Ibu Menyusui Dan Solusinya</title>
		<link>http://jilbab.or.id/archives/17-masalah-pada-ibu-menyusui-dan-solusinya/</link>
		<comments>http://jilbab.or.id/archives/17-masalah-pada-ibu-menyusui-dan-solusinya/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Sep 2007 15:09:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>widia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ibu dan Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.jilbab.or.id/archives/17-masalah-pada-ibu-menyusui-dan-solusinya/</guid>
		<description><![CDATA[Kehamilan, persalinan dan menyusui merupakan proses fisiologi yang perlu dipersiapkan oleh wanita dari pasangan subur agar dapat dilalui dengan aman. Selama masa kehamilan, ibu dan janin adalah unit fungsi yang tak terpisahkan. Kesehatan ibu hamil dan menyusui adalah persyaratan penting untuk fungsi optimal dan perkembangan kedua bagian unit itu.
Dalam menanti kelahiran bayi, si Ibu harus [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kehamilan, persalinan dan menyusui merupakan proses fisiologi yang perlu dipersiapkan oleh wanita dari pasangan subur agar dapat dilalui dengan aman. Selama masa kehamilan, ibu dan janin adalah unit fungsi yang tak terpisahkan. Kesehatan ibu hamil dan menyusui adalah persyaratan penting untuk fungsi optimal dan perkembangan kedua bagian unit itu.</p>
<p>Dalam menanti kelahiran bayi, si Ibu harus menyiapkan terlebih dahulu keadaan psikologinya dalam menghadapi bayinya nanti, terutama dalam hal menyusui bayi. Berikut langkah-langkah yang harus diambil untuk mempersiapkan ibu secara kejiwaan untuk menyusui bayinya:</p>
<p><span id="more-17"></span></p>
<ul>
<li>Mendorong setiap ibu untuk percaya dan yakin bahwa ia dapat sukses dalam menyusui bayinya; menjelaskan pada ibu bahwa persalinan dan menyusui adalah proses alamiah yang hampir semua ibu berhasil menjalaninya, bila ada masalah hubungi dokter atau petugas kesehatan yang berkompeten.</li>
<li>Meyakinkan ibu akan keuntungan ASI dan kerugian susu buatan/formula</li>
<li>Memecahkan masalah yang timbul pada ibu yang mempunyai pengalaman menyusui sebelumnya, pengalaman kerabat atau keluarga lain</li>
<li>Mengikutsertakan suami atau anggota keluarga lain yang berperan dalam keluarga, ibu dapat beristirahat cukup untuk kesehatannya dan bayi sehingga perlu adanya pembagian tugas dalam keluarga</li>
<li>Setiap saat ibu diberi kesempatan untuk bertanya dan dokter atau petugas kesehatan harus dapat memperlihatkan perhatian dan kemauannya dalam membantu ibu sehingga hilang keraguan atau ketakutan untuk bertanya tentang masalah yang tengah dihadapinya.</li>
</ul>
<p>Selain hal tersebut diatas, ada hal-hal lain yang perlu diperhatikan :</p>
<ol>
<li>Ukuran dan bentuk<br />
Tidak berpengaruh pada produksi ASI. Perlu diperhatikan bila ada kelainan seperti pembesaran masif, gerakan yang tidak simetris pada perubahan posisi</li>
<li>Kontur/permukaan<br />
Permukaan yang tidak rata, adanya depresi, elevasi (pengangkatan jaringan), retraksi (tindakan menarik kembali) atau luka pada kulit payudara harus dipikirkan ke arah tumor atau keganasan dibawahnya. Saluran limfe yang tersumbat dapat menyebabkan kulit membengkak, dan membuat gambaran seperti kulit jeruk</li>
<li>Warna kulit<br />
Pada umumnya sama dengan warna kulit perut atau punggung, yang perlu diperhatikan adalah warna kemerahan tanda radang, penyakit kulit atau bahkan keganasan</li>
<li>Sebelum menyusui, ASI dikeluarkan sedikit, kemudian dioleskan pada puting susu dan areola sekitarnya. Cara ini mempunyai manfaat sebagai desinfektan dan menjaga kelembaban puting susu.</li>
<li>Bayi diletakkan menghadap perut ibu/payudara :
<ol>
<li>Ibu duduk atau berbaring dengan santai, bila duduk lebih baik menggunakan kursi yang rendah (kaki ibu tidak tergantung dan punggung ibu bersandar pada sandaran kursi</li>
<li>Bayi dipegang pada belakang bahunya dengan satu lengan satu lengan, kepala bayi terletak pada lengkung siku ibu (kepala tidak boleh menengadah dan bokong bayi ditahan dengan telapak tangan)</li>
<li>Satu tangan bayi diletakkan di belakang badan ibu dan yang satu di depan</li>
<li>Perut bayi menempel pada badan ibu, kepala bayi menghadap payudara (tidak hanya membelokkan kepala bayi)</li>
<li>Telinga dan lengan bayi terletak pada satu garis lurus</li>
<li>Ibu menatap bayi dengan kasih sayang</li>
</ol>
</li>
<li>Payudara dipegang dengan ibu jari diatas dan jari yang lain menopang di bawah, jangan menekan puting susu atau areolanya saja</li>
</ol>
<p>Masalah yang sering terjadi pada saat menyusui:</p>
<ol>
<li>Mastitis    Mastitis adalah peradangan payudara yang dapat disertai atau tidak disertai infeksi. Penyakit ini biasanya menyertai laktasi, sehingga disebut juga mastitis laktasional atau mastitis puerperalis. Abses (nanah) payudara, pengumpulan nanah lokal di dalam payudara, merupakan komplikasi berat dari mastitis. Dua penyebab utama dari mastitis adalah stasis (terhenti) ASI dan infeksi. Patogen yang paling sering diidentifikasi adalah staphilokokus aureus. Pada mastitis infeksius, ASI dapat terasa asin akibat kadar natrium dan klorida yang tinggi dan merangsang penurunan aliran ASI. Ibu harus tetap menyusui. Antibiotik (resisten-penisilin) diberikan bila ibu mengalami mastitis infeksius.
<ol>
<li>Gejala mastitis non-infeksius:
<ul>
<li>Ibu memperhatikan adanya &#8220;bercak panas&#8221;, atau area nyeri tekan yang akut</li>
<li>Ibu dapat merasakan bercak kecil yang keras di daerah nyeri tekan tersebut</li>
<li>Ibu tidak mengalami demam dan merasa baik-baik saja</li>
</ul>
</li>
<li>Gejala mastitis infeksius:
<ul>
<li>Ibu mengeluh lemah dan sakit-sakit pada otot seperti flu</li>
<li>Ibu dapat mengeluh sakit kepala</li>
<li>Ibu demam dengan suhu di atas 34 oC</li>
<li>Terdapat area luka yang terbatas atau lebih luas pada payudara</li>
<li>Kulit pada payudara dapat tampak kemerahan atau bercahaya (tanda-tanda akhir)</li>
<li>Kedua payudara mungkin terasa keras dan tegang &#8220;pembengkakan&#8221;</li>
</ul>
<p>Pengobatan:</p>
<ol>
<li>Lanjutkan menyusui</li>
<li>Berikan kompres panas pada area yang sakit</li>
<li>Tirah baring (bersama bayi) sebanyak mungkin</li>
<li>Jika bersifat infeksius, berikan analgesik non narkotik, antipiretik (ibuprofen, asetaminofen) untuk mengurangi demam dan nyeri</li>
<li>Pantau suhu tubuh akan adanya demam. Jika ibu demam tinggi (&lt; 39oC), periksa kultur susu terhadap kemungkinan adanya infeksi streptokokal</li>
<li>Pertimbangkan pemberian antibiotik antistafilokokus kecuali jika demam dan gejala berkurang.</li>
</ol>
</li>
</ol>
</li>
<li>Kandida/sariawan    Merupakan hal yang biasa terjadi pada ibu yang menyusui dan bayi setelah pengobatan antibiotik. Manifestasinya seperti area merah muda yang menyolok menyebar dari area puting, kulit mengkilat, nyeri akut selama dan setelah menyusui; pada keadaan yang parah, dapat melepuh. Ibu mengeluh nyeri tekan yang berat dan rasa tidak nyaman, khususnya selama dan segera setelah menyusui.Bayi dapat menderita ruam popok, dengan pustula yang menonjol, merah, tampak luka dan/atau seperti luka terbakar yang kemerahan. Pada kasus-kasus yang berat, bintik-bintik atau bercak-bercak putih mungkin terlihat merasakan nyeri dan menolak untuk menghisap.Pengobatan:
<ol>
<li>Obati ibu dan bayinya</li>
<li>Oleskan krim atau losion topikal antijamur ke puting dan payudara setiap kali sehabis menyusui, dan seka mulut, lidah dan gusi bayi setiap kali sehabis menyusui.</li>
<li>Anjurkan ibu untuk mengkompreskan es pada puting sebelum menyusui untuk mengurangi nyeri.</li>
</ol>
</li>
<li>Cacar air (virus varisela zoster)    Kebanyakan ibu dan pekerja rumah sakit pernah menderita cacar air dan tidak beresiko. Ketika ibu mengidap cacar air beberapa hari sebelum kelahiran bayi, bayi menjadi beresiko karena antibodi ibu yang memberikan kekebalan pada bayi belum mempunyai kesempatan untuk berkembang.Perawatan :
<ol>
<li>Jika ibu sudah pernah mengalami cacar, menyusui akan memberikan antibodi kepada bayi. Menyusui tidak perlu dihentikan</li>
<li>Jika ibu belum pernah mengidap cacar air, ibu dan bayinya harus menerima vaksin varisela jika mereka sudah terpapar.</li>
<li>Jika ibu mengidap cacar air beberapa hari sebelum melahirkan :
<ul>
<li>ibu dan bayi harus diisolasi secara terpisah jika neonatus tidak mengalami lesi (hilangnya fungsi suatu bagian). Hanya sekitar 50% bayi yang terpapar akan berkembang menjadi penyakit</li>
<li>keluarkan ASI jika bayi ditempatkan pada tempat lain</li>
<li>jika bayi menderita lesi, isolasi bayi dengan ibu; menyusui tidak dihentikan.</li>
</ul>
</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p>So&#8230;para ibu..ga perlu cemas karena semua itu ada solusinya..biidznillah.. Semoga bermanfaat</p>
<p><strong>Literatur:</strong> Pedoman pelayanan farmasi untuk ibu hamil dan menyusui, dirjen bina kefarmasian dan alkes, Dep. Kes RI 2006</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jilbab.or.id/archives/17-masalah-pada-ibu-menyusui-dan-solusinya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berita Gembira Bagi Wanita yang Hamil</title>
		<link>http://jilbab.or.id/archives/9-berita-gembira-bagi-wanita-yang-hamil/</link>
		<comments>http://jilbab.or.id/archives/9-berita-gembira-bagi-wanita-yang-hamil/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Aug 2007 07:12:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ibu dan Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.jilbab.or.id/archives/9-berita-gembira-bagi-wanita-yang-hamil/</guid>
		<description><![CDATA[Wanita yang paling baik dan paling tinggi kedudukannya adalah para Ibu. Hal ini disebabkan mereka memikul berbagai kesulitan dan kecapaian sebagai ibu. Allah menerangkan:
&#8230;وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا
“Kami perintakan kepada manusia supaya berbuat baik kepada kedua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Wanita yang paling baik dan paling tinggi kedudukannya adalah para Ibu. Hal ini disebabkan mereka memikul berbagai kesulitan dan kecapaian sebagai ibu. Allah menerangkan:</p>
<p>&#8230;وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا</p>
<p>“Kami perintakan kepada manusia supaya berbuat baik kepada kedua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah pula. Mengandungnya sampai menyampihnya adalah tigapuluh bulan” <strong>(Surat Al-Ahqaf:15)</strong></p>
<p><span id="more-9"></span>Yaitu mengandungnya di perutnya dalam bulan-bulan kehamilan dengan berbagai kesulitan, dan melahirkannya dengan penuh kesulitan pula. Maka dia mengalami kesusahan-kesusahan dalam kehamilan, sakitnya melahirkan, dan sulitnya menyusui serta menyapih. Firman Allah Ta’ala:</p>
<p>وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ</p>
<p>“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku lah kembalimu” <strong>(Luqman:14.)</strong></p>
<p>Karena seorang ibu mengalami kepayahan melebihi apa yang dialami oleh seorang bapak, maka hak dan bagiannya terhadap anak lebih besar untuk diperlakukan secara baik oleh anak.</p>
<p>Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu: Datang seorang laki-laki kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassallaam dan berkata: “Ya Rasulullah siapakah manusia yang paling berhak untuk aku berbuat baik kepadanya?” Beliau mengatakan: “Ibumu’ laki-laki itu berkata: “Kemudian siapa?” Beliau menjawab: ‘Ibumu” laki-laki itu berkata lagi “Setelah itu siapa?” Beliau berkata: “Ibumu” laki-laki itu bertanya lagi “Setelah itu siapa?” Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassallaam menjawab: “Bapakmu”.</p>
<p>Hadits ini bukan berarti mengecilkan kedudukan seorang ayah dan meremehkan hak-haknya karena hak ayah terhadap anak itu sangat agung dan besar. Tetapi Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassallaam mendapati perempuan pada posisi yang lemah secara umum terlebih pada masa beliau dimana manusia hidup pada jaman jahiliyah dengan akhlak yang jelek dan perlakuan yang jelek terhadap perempuan. Maka beliau menganjurkan untuk birrul walidain (berbakti pada orang tua) khususnya ibu, supaya jangan sampai seorang anak meremehkan kedua orang tua untuk berbuat baik dan menunaikan hak-haknya dimana hak seorang ibu lebih besar terhadap hak-hak seorang bapak terhadapnya.</p>
<p>Allah telah mewajibkan kepada anak berbakti kepada orang tuanya dan menjanjikan pahala yang besar, dan mengharamkan durhaka pada orang tua atau salah satunya. Hal itu dianggap dosa besar. Banyak ayat dan hadits tentang permasalahan ini. Firman Allah Ta’ala:</p>
<p>وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا (23) وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا(24)</p>
<p>“Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka jangan sekali-kali kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka dengan perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkalah: ‘Wahai Rabbku, kasihilah mereka berdua sebagaimana mereka berdua mendidik aku diwaktu kecil” <strong>(Al Isra: 23-24)</strong></p>
<p>Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin ‘Amr bin As radhiallahu ‘anhu menyatakan: seorang laki-laki menghadap Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassallaam dan berkata: “Aku berbaiat kepadamu untuk hijrah dan berjihad dengan mengharap pahala dari Allah Ta’ala”. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassallaam berkata: “Apakah kamu memiliki salah satu dari orang tuamu yang masih hidup?” Laki-laki itu menjawab: “Ya, bahkan keduanya (masih hidup)”. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassallaam bersabda: “Apakah kamu ingin mendapatkan pahala dari Allah?”. Laki-laki itu menjawab: “Ya”. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassallaam berkata: “Kembalilah kamu kepada kedua orang tuamu dan perlakukan mereka dengan baik”. Dalam riwayat lain “Pada kedua orang tuamu maka kamu berjihad”.</p>
<p>Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Nufa’i bin Al-Harits menyatakan: bersabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassallaam: “Maukah kalian aku beritahu tentang dosa besar yang paling besar?” Kami berkata,”Tentu, Ya! Rasulullah”. Beliau menyatakan:”Menyekutukan Allah, durhaka kepada orang tua”. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassallaam yang semula bersandar kemudian duduk dan menyatakan: “Dan ucapan dusta dan sumpah palsu”. Rasulullah terus mengulang-ulang sampai kami berkata: “Seandainya beliau diam”.</p>
<p>Dari Kitab <strong>Ushul Muaasyarotil Zaujiayti</strong>, syaikh Muhammad Kan’an.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jilbab.or.id/archives/9-berita-gembira-bagi-wanita-yang-hamil/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Persiapan Sebelum Persalinan</title>
		<link>http://jilbab.or.id/archives/306-persiapan-sebelum-persalinan-2/</link>
		<comments>http://jilbab.or.id/archives/306-persiapan-sebelum-persalinan-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Jul 2003 15:10:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ummuabdillah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ibu dan Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Kelahiran anak merupakan suatu yang selalu diimpikan oleh pasangan hidup rumah tangga, ketahuilah, anak adalah karunia Allah dan merupakan titipan dari-Nya. Tapi, pada umumnya bagi calon ibu, atau sang akhwat yang melahirkan untuk pertama kali, biasanya merasa ngeri dan bingung, gimana sih cara melahirkan????.
Tapi jangan khawatir ukhti,&#8230;
Sebenarnya tidak perlu ada yang dicemaskan, bertawakallah kepada Allah, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kelahiran anak merupakan suatu yang selalu diimpikan oleh pasangan hidup rumah tangga, ketahuilah, anak adalah karunia Allah dan merupakan titipan dari-Nya. Tapi, pada umumnya bagi calon ibu, atau sang akhwat yang melahirkan untuk pertama kali, biasanya merasa ngeri dan bingung, gimana sih cara melahirkan????.<span id="more-306"></span></p>
<p>Tapi jangan khawatir ukhti,&#8230;<br />
Sebenarnya tidak perlu ada yang dicemaskan, bertawakallah kepada Allah, Yang Maha Kuasa. Kemudian artikel bawah ini mudah-mudahan bisa membantu ukhti dalam mengurangi ketegangan menghadapi persalinan, setelah pertolongan dari Allah ta&#8217;ala. Artikel ini berisikan pengetahuan umum tentang reaksi, kejadian, serta tindakkan yang harus kita lakukan, selamat membaca</p>
<p>Kejadian-kejadian pada kala I sebelum kelahiran.<br />
Kala I :  Permulaan kontraksi yang teratur sampai pembukaan lengkap leher rahim.</p>
<p>I : a. Pembukaan leher rahim sampai 3 cm.<br />
b.Kejadian :<br />
- His (kontraksi ) teratur tiap 10-15 menit.<br />
- Keluar sedikitdarah campur lendir<br />
- Pembukaan leher rahim.<br />
- Ibu merasa nyeri di pinggang.<br />
c Tindakan :<br />
- Jika ketuban belum pecah bolehberjalan-jalan.<br />
- Mengosongkan kandung seni.</p>
<p>II. a. Pembukaan leher rahim 3-9 cm.<br />
b. Kejadian:<br />
- His (kontraksi) makin kuat tiap 3-5 menit.<br />
- Ketuban menonjol/pecah.<br />
- Ibu merasa nyeri perut yang kuat sehingga berbaring.<br />
c.Untuk mengurangi nyeri :<br />
- Tekan dengan tangan pada tulang kelangkang dan menggosok punggung.<br />
- Banyak minum.<br />
- Sering kencing<br />
- Tidak boleh mengejan, tarik napas dalam-dalam jika ingin pengejan<br />
.</p>
<p>III a. Pembukaan 9-10 cm.<br />
b. Kejadian :<br />
- His makin kuat tiap 2-3 menit.<br />
- Timbul nyeri yang keras.<br />
- Keluar darah saat his.<br />
- Ketuban pecah.<br />
c Tindakan :<br />
- Tidak boleh mengejan sebelum pembukaan lengkap.<br />
- Tarik nafas secara cepat saat his.</p>
<p>Kejadian-kejadian dalam kala II persalinan.<br />
a.Kejadian :<br />
- Kepala belum sampai dasar panggul.<br />
- His mengejan, kehendak mengejan sukar di kendalikan.<br />
- Keluar darah, lendir makin banyak.<br />
-Pembukaan lengkap.<br />
- Ketuban pecah.<br />
- Ibu tanpa sadar ingin menarik tungkai ke atas.<br />
b. Tindakan :</p>
<p>- Pada waktu kesakitan itu dipersilahkan menarik nafas dalam-dalam, kemudian dengan menahan nafas, menutup mulut, mengangkat kepala mengejan selama ada his dan istirahat bila kontraksi berhenti.<br />
Gejala Bersalin.<br />
- Lebih mudah bernafas.<br />
- Sering BAK.<br />
- Perut kendang,tegang.<br />
Segera ke RS / Bidan, jika :<br />
- Kontraksi rahin teratus, 10-15menit sekali, perut keras, jika tidur dinding perut naik<br />
- Nyeri pada pinggang menuju perut.<br />
- Dengan majunya waktu his makin kuat.<br />
- Keluar lendir bercampur darah.<br />
- Terjadi pendarahan leher rahim.</p>
<p>Persiapan fisik :<br />
- Tenang, minum susu +telur.<br />
- Mandi air hangat.<br />
- Memotong rambut aurat.</p>
<p>Pelepasan uri (tali pusat).<br />
- 5-80 menit, uri harus keluar.<br />
- Reaksi dari rahim.<br />
- Pelepasan uri rahim berkontraksi,darah mengalir, tali pusat memanjang, rahim naik ke atas menjadi keras dan bulat.<br />
- Ibu merasa mules di perut.</p>
<p>Masa dua jam setelah persalinan.<br />
- Rahim berkontraksi.<br />
- Ibu gembira, merasa gemetar, ingin istirahat.<br />
- Usahakan kencing dengan cara :<br />
i. Cepat bangkit dari berbaring.<br />
ii. Menaruh botol air hangat di atas perut bagian bawah.<br />
iii. Dengar suara air kran.<br />
iv.Usahakan 3 hari sebelum melahirkan sudah buang air basar, agar saat melahirkan<br />
tidak menumpuk, kalau susah BAB makan pepaya, obat dulcolax.</p>
<p>Posisi melahirkan<br />
- Hemat tenaga pada awal kontraksi perut terasa. Usahakan mandi air hangat, minum susu + telur, bersikap santai, jalan-jalan, sampai darah, lendir keluar sedikit.<br />
- Jika kontraksi semakin hebat. Berbaring, ubah-ubahlah posisi berbaring, duduk dengan mengganjal<br />
punggung dengan beberapa bantal.<br />
- Posisi persalinan : berbaring terlentang dengan kedua kaki di tekuk, kepala ibu diluruskan / mengubah posisinya miring, saat tidak ada kontraksi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jilbab.or.id/archives/306-persiapan-sebelum-persalinan-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
