
Sumber: www.prettie-sweet.tumblr.com
Mungkin ada benarnya bila ada orang berkata, teori belum tentu sama ketika dipraktikkan. Tapi kalau orang sudah praktik secara otomatis ia akan tahu teorinya. Apalagi bila seseorang sering praktik, meski ia bukan seorang pelajar/tidak pernah belajar teori, bila ditanya pasti akan bisa tahu teorinya, bahkan secara “insting” ia akan tahu apa yang kurang bila hasil akhirnya kurang baik. Demikian juga dengan melahirkan, antara teori dan praktik kadang terjadi perbedaan…
Kisah ini adalah kisah Ummu Afra di K, yang disalin dari majalah Sakinah, Volume 10, No. 5, 15 Agustus – 15 September 2011 / Sya’ban – Ramadhan 1432.
Pernikahan yang aku bangun delapan tahun lalu telah menghadirkan empat momongan. Dua anak laki-laki dan dua perempuan. Tiga buah hatiku lahir sehat dan normal. Semuanya dibantu bidan desa.
[baca selengkapnya...]
Dulu sebelum menikah saya kerap kali dijuluki wanita pekerja keras yang selalu mengupdate diri dengan segala informasi dan wawasan ilmu ekonomi yang ada. Yah kalau dalam bahasa kerennya wanita eksekutif yang hard workerlah… Julukan itu terdengar begitu memukau. Sementera saya merasa biasa saja, karena bagi saya tidak ada yang perlu dibanggakan. Hidup ini adalah hadiah terindah yang telah diberikan yang MahaKuasa kepada kita, jadi kita tak pantas menyia-nyiakan setiap detik yang Dia berikan. Inilah prinsip hidup yang membuat tidak ada yang istimewa dari kehidupan saya. “that’s the way it is”, kalimat yang selalu ada di kepala saya.

Hari-hari saya jalani dengan semangat tinggi untuk terus memamksimalkan potensi yang ada. Di tempat kerja, saya termasuk staf marketing yang diandalkan, mengingat target-target yang sudah saya capai. Dalam pertemanan pun saya sering disebut teman yang setia karena akan selalu berusaha untuk membantu atau at least setia mendengarkan curhat para sohib dekat. Setiap ada waktu luang, biasanya saya isi dengan kegiatan yang menurut saya bermanfaat walau hanya dengan ke pengajian. ke tempat fitness, ke salon atau bahkan hang out bareng teman-teman kost sekadar untuk refreshing.
Kadang ada suka, kadang ada duka. Semuanya silih berganti mampir dalam kehidupan. Namun semuanya bergulir dalam lika-liku koridor perjalanan kehidupan yang menurut saya masih sesuai dengan aturan agama. Karena alhamdulillah, selain sudah berhijab sejak kuliah, saya juga tetap mengikuti pengajian rutin untuk menjaga agar batin ini tetap basah dengan siraman nur Illahi. Selain itu saya juga masih punya teman-teman yang shalih dan shalihah yang selalu mengingatkan atau bahkan menegur bila ada tindakan saya yang dianggap tidak pada jalurnya. Dan itu sangat sering terjadi. Karena sangat percaya dengan mereka, saya tidak pernah tersinggung ataupun sakit hati. Walau tidak jarang terjadi perdebatan sengit antara kami dalam menyelesaikan setiap masalah. Mmhhh… I really miss u guys….
[baca selengkapnya...]
Jika ada sebagian di antara wanita muslimah yang rela meninggalkan islam yang dianutnya demi cinta, ekonomi, harta, kekayaan, atau urusan dunia lainnya, maka dalam kisah nyata kali ini tidaklah demikian. Seorang wanita Jerman yang telah mendapat hidayah islam justru mengorbankan suaminya demi mempertahankan hidayah yang telah diraihnya! Sungguh hidayah itu adalah sangat mahal nilainya bagi orang-orang yang mau merenunginya dan mensyukurinya.Inilah dia kisahnya :
[baca selengkapnya...]
Aku seorang wanita berusia 27 tahun. Dua tahun yang lalu aku melahirkan seorang anak ke dunia. Hanya saja mungkin keadaanku sebagai seorang ibu berbeda dengan ibu-ibu yang lain. Mereka senantiasa memandang wajah putra dan putrinya dengan tatapan kasih sayang, bangga dan penuh cinta. Sedangkan aku? Yang kudapat saat menatap bola matanya adalah kepedihan yang teramat perih dari kisi-kisi hati yang tersayat sesal.
Sebelum peristiwa pahit itu menyapa dalam hidupku, kehidupanku yang sederhana senantiasa diliputi oleh ketenangan. Aku bahagia dengan keadaanku, dengan rutinitasku. Setiap hari kujalani dengan hati yang riang sebagai seorang wanita. Kebanggaanku pada kehormatan yang senantiasa kujaga demi satu mimpi mendapatkan keluarga yang bahagia suatu saat nanti. Hingga sosok itu hadir menghancurkannya.
[baca selengkapnya...]
Hidayah tidak selalu datang pada hati yang telah “siap”. Tidak jarang seorang yang telah tertarik dengan Islam, akan berusaha menjalankan segala yang diperintahkan oleh agama Islam. Namun, aku merupakan kasus lain, aku benar-benar ikhlas menerima Islam sebagai tuntunan hidup setelah kira-kira tujuh tahun.
Setelah bermimpi berada di masjid dan mengenakan mukena serta didoakan oleh seorang ustadz, saat i’tikaf untuk pertama kali dalam hidupku, aku semakin mantap untuk membaca dua kalimat syahadat, sebagai wujud keseriusan aku memilih Islam sebagai tuntunan hidup dan secara ikhlas bersumpah berusaha kuat menjalankan segala perintah-Nya. Di dalam keluarga, aku adalah anak pertama adari tiga bersaudara. Dari pihak ibu, Eyang putri dan Eyang kakung berasal dari Solo dan Sedayu. Sedangkan dari pihak Ayah, nenek adalah asli orang Makassar tepatnya Tanah Toraja. Eyang buyut dari pihak nenek, adalah salah satu pemangku adat dan pendeta di daerahnya.
[baca selengkapnya...]
“Bu, ada teman yang mau datang bersilaturahim dengan ibu. Kapan bu ada waktu” Siang itu kuhampiri ibu yang sedang duduk menonton televisi. Ibu tak bereaksi apapun, seakan-akan tak mendengar dan merasakan kehadiranku.
“Bu, teman itu bermaksud datang melamar. Bagaimana kalau…”
“Ibu tak peduli dengan semua urusanmu. Kalau ada apa-apa hubungi saja kakek, biar kakek yang urus semuanya!” Dengan ketus ibu memotong pembicaraanku.
Tanganku yang baru saja kuletakkan di atas tangannya ditepiskannya dengan kasar.
[baca selengkapnya...]