<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Jilbab Online &#187; Kisahku</title>
	<atom:link href="http://jilbab.or.id/archives/category/kisahku/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jilbab.or.id</link>
	<description>-- Cocok Untuk Akhowat, Perlu Untuk Ikhwan --</description>
	<lastBuildDate>Sat, 06 Mar 2010 23:31:33 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Aku Meninggalkan Suami Karena Ia Memintaku Meninggalkan Islam</title>
		<link>http://jilbab.or.id/archives/681-aku-meninggalkan-suami-karena-ia-memintaku-meninggalkan-islam/</link>
		<comments>http://jilbab.or.id/archives/681-aku-meninggalkan-suami-karena-ia-memintaku-meninggalkan-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Aug 2009 04:28:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ummu Raihanah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisahku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jilbab.or.id/?p=681</guid>
		<description><![CDATA[Jika ada sebagian di antara wanita muslimah yang rela meninggalkan islam yang dianutnya demi cinta, ekonomi, harta, kekayaan, atau urusan dunia lainnya, maka dalam kisah nyata kali ini tidaklah demikian. Seorang wanita Jerman yang telah mendapat hidayah islam justru mengorbankan suaminya demi mempertahankan hidayah yang telah diraihnya! Sungguh hidayah itu adalah sangat mahal nilainya bagi orang-orang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jika ada sebagian di antara wanita muslimah yang rela meninggalkan islam yang dianutnya demi cinta, ekonomi, harta, kekayaan, atau urusan dunia lainnya, maka dalam kisah nyata kali ini tidaklah demikian. Seorang wanita Jerman yang telah mendapat hidayah islam justru mengorbankan suaminya demi mempertahankan hidayah yang telah diraihnya! Sungguh hidayah itu adalah sangat mahal nilainya bagi orang-orang yang mau merenunginya dan mensyukurinya.Inilah dia kisahnya :<span id="more-681"></span></p>
<p>“Saya sampai di Saudi, sedangkan di pikiranku ada berbagai hal tentangnya. Sebelumnya saya sudah yakin bahwa akan terjadi perubahan besar pada diriku. Saya mulai memperhatikan hal-hal aneh di masyarakat  yang ada di sekitarku. Ketika waktu shalat  tiba, semua orang meninggalkan apa saja yang mereka kerjakan dan berdiri dishaf-shaf secara teratur (untuk melaksanakan shalat), mereka diliputi oleh kebahagiaan dan ketenangan.</p>
<blockquote><p>Saya memperhatikan berbagai macam pergaulan antara anggota masyarakat, di pikiranku berkecamuk dan bertumpuk berbagai pertanyaan. Pada setiap jawaban yang saya dapatkan, saya merasakan adanya denyutan baru di dalam hati yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Saya membandingkan antara tatanan kehidupan di Jerman dan tatanan ke hidupan yang ada di sini. Di Jerman, kami menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tak bermanfaat, sementara disini semua orang menghabiskan waktunya untuk bekerja dan beribadah.&#8221;</p></blockquote>
<p>Selanjutnya perempuan ini menambahkan, &#8220;Insinyur Subhi Tiraji dan istrinya telah menerangkan Islam kepadaku secara terperinci. Mereka juga telah menjelaskan kepadaku perkara-perkara yang ghaib dan pemahaman-pemahaman yang salah supaya saya masuk Islam dengan penuh kerelaan. Saya menamakan diri dengan Hana.</p>
<p>Saya mengirim surat kepada suamiku di Jerman untuk memberitahukan hal ini dan menjelaskan kepadanya tentang kelebihan-kelebihan agama Islam, serta menjelaskan bahwa Islamlah agama yang benar. Akan tetapi sayang, suamiku malah memintaku untuk segera pulang dan meninggalkan Islam. Saya menolak permintaannya dan mengorbankan dirinya. Saya meminta untuk di talak dan saya pun mendapatkan hasilnya. Allah memberiku seorang suami yang shalih, berkebangsaan Amerika yang berasal dari Mesir.&#8221;</p>
<p>Kemudian Hana menceritakan kehidupan barunya, &#8220;Setiap minggu kami pergi ke Mekkah atau Madinah al-Munawwarah untuk menghabiskan waktu-waktu yang indah di berbagai tempat suci dan mendengarkan berbagai kaset, supaya dengan mudah kami mendapatkan pemahaman yang benar tentang Islam dengan lebih dalam dan lebih sempurna.&#8221;</p>
<p> </p>
<p>Di kutip dari :</p>
<p><strong>Akhirnya Mereka Memilih Islam Kesaksian Para Muallaf</strong>, Khalid Abu SHalih, hal: 146-147, Darul Haq Jakarta, 2006.</p>
<p> </p>
<hr /><strong>Catatan kaki:</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jilbab.or.id/archives/681-aku-meninggalkan-suami-karena-ia-memintaku-meninggalkan-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Karena Cinta Aku Murtad</title>
		<link>http://jilbab.or.id/archives/516-karena-cinta-aku-murtad/</link>
		<comments>http://jilbab.or.id/archives/516-karena-cinta-aku-murtad/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 May 2009 22:47:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sutikno bin Tumingan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisahku]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[kisah]]></category>
		<category><![CDATA[murtad]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jilbab.or.id/?p=516</guid>
		<description><![CDATA[Aku seorang wanita berusia 27 tahun.  Dua tahun yang lalu aku melahirkan seorang anak ke dunia.  Hanya saja mungkin keadaanku sebagai seorang ibu berbeda dengan ibu-ibu yang lain.  Mereka senantiasa memandang wajah putra dan putrinya dengan tatapan kasih sayang, bangga dan penuh cinta.  Sedangkan aku?  Yang kudapat saat menatap bola [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku seorang wanita berusia 27 tahun.  Dua tahun yang lalu aku melahirkan seorang anak ke dunia.  Hanya saja mungkin keadaanku sebagai seorang ibu berbeda dengan ibu-ibu yang lain.  Mereka senantiasa memandang wajah putra dan putrinya dengan tatapan kasih sayang, bangga dan penuh cinta.  Sedangkan aku?  Yang kudapat saat menatap bola matanya adalah kepedihan yang teramat perih dari kisi-kisi hati yang tersayat sesal. </p>
<p>Sebelum peristiwa pahit itu menyapa dalam hidupku, kehidupanku yang sederhana senantiasa diliputi oleh ketenangan.  Aku bahagia dengan keadaanku, dengan rutinitasku.  Setiap hari kujalani dengan hati yang riang sebagai seorang wanita.  Kebanggaanku pada kehormatan yang senantiasa kujaga demi satu mimpi mendapatkan keluarga yang bahagia suatu saat nanti.  Hingga sosok itu hadir menghancurkannya.</p>
<p><span id="more-516"></span>Peristiwa itu bermula saat aku bekerja sebagai salah satu staf tata usaha di sebuah akademi kesehatan di kota Daeng.  Aku berkenalan dengan dengan seorang pria yang mengaku bujang.  Dia juga bekerja sebagai staf tata usaha di kampus tempatku bekerja, namun jabatannya lebih tinggi dariku. </p>
<p>Seperti kata orang, &#8220;mulanya biasa saja,&#8221; yah, memang semuanya biasa saja. Saling ber-say hello, bercerita, bercanda, bertegur sapa.  Sesuatu yang lazim dilakukan oleh sesama pegawai staf.  Apalagi dalam satu kantor.  Hingga waktu terus berjalan seiring dengan hubungan kami yang begitu akrab.  Semuanya mulai menjadi sesuatu yang tidak biasa lagi. </p>
<p>Jujur saja,  dalam hal agama, pengetahuanku memang tidak terlalu dalam.  Orang mungkin biasa mengatakannya &#8220;awam&#8221;.  Di alam pikiranku, bergaul dengan lawan jenis itu adalah sesuatu yang biasa.  Seperti yang terjadi ditengah masyarakat.  Apalagi aku dilahirkan dari lingkungan keluarga yang pendidikan agamanya &#8220;biasa-biasa saja&#8221; tidak mengenal apa itu tarbiyah, ikhtilath, ghibah, dan istilah-istilah yang lain. </p>
<p>Sebenarnya aku tidak pernah berkeinginan untuk dekat dengannya, karena pertimbangan beda agama. Dia seorang non muslim.  Namun rayuan demi rayuannya, perjuangannya mendekatiku, janji manisnya, perhatiannya yang berlebihan dan tidak henti-henti meski selalu kutolak dengan cara yang halus, sedikit demi sedikit meluluhkan hatiku.</p>
<p>Gayung pun bersambut, akhirnya kuterima uluran tangannya.  Waktu itu aku tidak berpikir untuk serius.  Hanya sekedar pengisi waktu saja.  Apalagi dia sudah banyak berkorban untukku, dan aku merasa kasihan padanya.  Waktu itu aku berpikir suatu saat nanti aku akan minta putus.  Mudah kan?</p>
<p>Hubungan kami pun berjalan secara rahasia, back street.  Untuk menghindari ocehan dan desas desus penghuni kampus. </p>
<p>Seiring dengan waktu yang mengantar kebersamaanku dengannya, entah mengapa tanpa sadar aku sudah mulai menyukainya, mencintainya.  Aku tidak tahu, apa yang telah membuatku begitu tergila-gila kepadanya.  Kehidupannya juga sederhana, wajahnya malah dibawah rata-rata.  Apa karena rayuannya?  Kelihaiannya mengumbar rayuan gombal menjadikanku merasa tersanjung dan berbunga-bunga.  Seakan-akan akulah wanita yang paling menarik di dunia ini.  Di sampingnya aku selalu merasa yang terbaik.  Dia sungguh pandai menggombal. </p>
<p>Tak pernah kusangka dan kuduga sebelumnya, hubunganku dengannya sudah melewati ambang batas moral dan norma agama. </p>
<p>Tragedi yang tak mungkin pernah bisa kulupakan dalam lembaran sejarah hidupku.  Aku hamil.  Aku tidak tahu, iblis mana yang merasukiku waktu itu.  Mengapa aku bisa menjadi sehina ini? Mengorbankan sesuatu kepada seseorang yang sebenarnya tidak berhak dan tidak boleh mengusiknya. </p>
<p>Aku tidak tahu harus berbuat apa.  Aku tidak berani lagi pulang ke kampung dengan corengan hitam di wajahku.  Tidak sampai di situ, entah darimana pihak birokrasi kampus mengetahui kehamilanku di luar nikah, yang berujung dengan memecatku. </p>
<p>Pihak kampus tidak mengetahui siapa bapak dari bayi yang kukandung.  Dia mengancamku dan menyuruhku untuk tutup mulut.  Aku tersudut.  Entah mengapa dia sudah begitu menguasai hidupku.  Seakan membuatku tak mampu bergerak. </p>
<p>Dan aku tidak mengerti, mengapa aku selalu menurut saja pada setiap kata dan perintahnya.  Yang bisa kulakukan hanya memohon kepadanya untuk bertanggung jawab atas perbuatannya terhadapku.</p>
<p>Ia bersedia menikahiku dengan satu syarat, aku harus keluar dari Islam dan masuk ke agamanya.  Menjadi seorang non muslim sepertinya.  Ternyata orang yang selama ini mencurahkan perhatiannya -yang kukira tulus untukku- adalah seorang misionaris.  </p>
<p>Istilah ini juga baru kukenal setelah semuanya sudah terlanjur terjadi.  Selama ini istilah itu hanya lewat saja di kepalaku.  Masuk telinga kiri, keluarpun juga lewat telinga yang sama.  Aku tidak pernah membayangkan jika aku akan menjadi korbannya.  Aku tidak pernah menduga kalau istilah dan kekhawatiran sebagian kaum muslim tentang misi itu ternyata menimpa kehidupanku. </p>
<p>Mirisnya karena aku sudah terlanjur menjadi korbannya.  Kakiku sudah sulit dan mungkin tidak bisa lagi aku tarik kembali.  Yang ada di kepalaku saat itu bukan lagi tentang aqidahku, tetapi tentang makhluk kecil yang ada di rahimku.  Tentang aib, tentang calon istri bayi yang aku juga mulai mencintainya.  Aku tidak ingin menggugurkannya.  Ia darahku dan aku ingin merasakan desahan nafasnya.  Merasakan kaki-kaki kecilnya nanti akan meronta di dalam dekapanku. </p>
<p>Otakku sudah buntu, bagiku sudah tak ada lagi pilihan lain.  Aku tidak sanggup menghadapi aib ini sendiri, imanku begitu lemah.  Aku tidak mau bayiku terlahir tanpa ayah dan akan dicemooh kelak di tengah masyarakat.  Ditambah lagi siapa yang akan menanggung beban ekonomi kami nanti?  Sedangkan aku sudah dipecat dan menjadi salah satu dari sekian banyak pengangguran yang ada di kota ini. </p>
<p>Akhirnya, kuikuti keinginannya.  Kujual akidahku dengan harga yang sangat murah dan tak bernilai.  Kulepas jilbab yang selama ini menutup kepalaku, beralih ke agamanya, murtad dari agama Islam yang benar dan suci. </p>
<p>Tapi lagi-lagi, keputusanku itu bukanlah hal yang tepat.  Saat ini, meskipun ia sudah berhasil menjadikanku sebagai salah satu korban misinya, ia tengah berusaha mendekati dan mengejar seorang mahasiswi, tetap di kampus yang sama.  Korban misi yang berikutnya.</p>
<p>Aku sama sekali tidak berdaya, aku sangat lemah dan pengecut.  Aku selalu ketakutan dengan ancaman-ancaman dan perlakuannya yang keras dan kasar.  Aku ketakutan pada kekasaran tangannya yang selalu menyiksa tubuhku.  Rasanya perih.  Aku menjadi semakin lemah.  Aku tak tahu mengapa harus menjadi seperti ini?  Padahal bisa saja aku lari menjauh dari hidupnya.  Tapi lagi-lagi tetap saja aku tidak bisa.  Ada yang mengikatku dengannya, sesuatu yang tidak aku mengerti. </p>
<p>Tapi hatiku sedikit lega saat kudengar bahwa mahasiswi itu memiliki sahabat seorang akhwat berjilbab besar yang selalu bersamanya.  Akhwat itu pastilah lebih mengerti tentang kristenisasi dan akan memahamkan dirinya.  Sehingga mau tidak mau, misionaris yang saat ini sudah menjadi suamiku sulit unutk bisa mendekatinya. </p>
<p>Saat kisah ini dituturkan, aku masih dalam keadaan seperti ini, terkatung dalam penderitaan dan penyesalan.  Penderitaanku ini mungkin adalah balasan atas dosa besar yag telah kuperbuat. </p>
<p>Hanya ini yang bisa kulakukan untuk para calon ibu di manapun berada.  Semoga kisahku ini yang hanya berwujud tinta di atas kertas, dapat dibaca dan dijadikan sebagai pelajaran bagi  seluruh perempuan -khususnya para remaja muslimah- bahwa misionaris sedang berkeliaran di sekitar kita dengan metode-metodenya yang beragam.</p>
<p>Selagi masih sempat, belajarlah tentang agama Allah.  Jangan tunggu sampai menyesal seperti keadaanku sekarang.  Jangan menunggu sampai kau merasa bingung dengan tindakan apa yang harus kau lakukan saat kehancuran kita sebagai wanita yang gagal mempertahankan kehormatannya menyapa.</p>
<p>Selagi muda, belajar dan belajarlah untuk memperkuat aqidah keislaman yang mulia.  Kenalilah mereka dari metode-metode apa saja yang mereka gunakan.  Tingkatkan kewaspadaan dan tolong sebarkan pada saudarimu yang lain.  Agar tidak lagi menjadi tangis penyesalan seperti yang aku alami terhadap mereka.  Agar tidak ada lagi terjadi perusakan fitrah terhadap bayi-bayi yang tak berdosa.  Jika ibu mereka adalah Islam, maka insya Allah anaknya juga akan Islam.</p>
<p>Habiskan waktumu untuk ilmu, dan jangan kau habiskan untuk mencari-cari trend model terbaru, berjalan di mall tanpa manfaat atau menghabiskannya di kegelapan malam dengan lelaki yang kau pandang sebagai kekasih.</p>
<p>Mereka bukan kekasih &#8230;, tetapi serigala yang ingin menelanmu bulat-bulat.  Bacalah buku-buku atau majalah-majalah Islami.  Jadilah wanita yang cerdas dan tangguh.  Belajarlah dari kesalahan dan kelemahanku.  Belajarlah dari penyesalan dan penderitaanku.  Sungguh &#8230;, apa yang kualami sangat menyakitkan.  Kau akan merasa antara hidup dan mati.  Tak ada lagi senyum ceria.  Air matapun mengering.  Selagi kau bisa meniti dan merencanakan mada depanmu. </p>
<p>Aku hanya bisa bercerita, setidaknya semoga engkau bisa merenung barang sedetik.  Sekali lagi &#8230;, belajarlah dari hidupku!!! Dan tolong doakanlah aku semoga saja suatu saat nanti keberanian itu akan muncul dalam diriku, sehingga aku bisa kembali ke jalan-Nya yang benar. </p>
<p>Mudah-mudahan Allah mendengar doamu meski hanya seorang diantaranya.  Tolong doakanlah aku barang semenit saja.  Karena saat ini aku benar-benar merasakan ketidakberdayaan sebagai seorang wanita dan sebagai seorang manusia. </p>
<p>&#8220;Anakku, maafkan Ibu karena telah merusak fithrahmu, cepatlah besar untuk bisa menentukan sendiri jalan hidupmu.&#8221;  Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,</p>
<blockquote><p>&#8220;Semua bayi yang dilahirkan dalam keadaan fitrah.  Ibu bapaknyalah yang menjadikannya yahudi, nasrani, atau majusi.&#8221; <strong>(HR.Bukhari)</strong></p></blockquote>
<p>Dari seorang sahabat, Cahaya Bintang<br />
Semoga Allah selalu menjagamu.<br />
24 Juli 2005</p>
<hr />
diketik ulang dari buku:<br />
&#8220;KARENA CINTA AKU MURTAD; kisah-kisah bertabur hikmah dan insprirasi untuk melewati episode keremajaan kamu&#8221; Suherni Syamsul, Penerbit: Gen!mirqat, hal 1-11.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jilbab.or.id/archives/516-karena-cinta-aku-murtad/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>40</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Islam adalah Kerinduanku</title>
		<link>http://jilbab.or.id/archives/480-islam-adalah-kerinduanku/</link>
		<comments>http://jilbab.or.id/archives/480-islam-adalah-kerinduanku/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Dec 2007 03:47:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>zulfikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisahku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jilbab.or.id/archives/480-islam-adalah-kerinduanku/</guid>
		<description><![CDATA[Hidayah tidak selalu datang pada hati yang telah &#8220;siap&#8221;.  Tidak jarang seorang yang telah tertarik dengan Islam, akan berusaha menjalankan segala yang diperintahkan oleh agama Islam.  Namun, aku merupakan kasus lain, aku benar-benar ikhlas menerima Islam sebagai tuntunan hidup setelah kira-kira tujuh tahun.
Setelah bermimpi berada di masjid dan mengenakan mukena serta didoakan oleh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hidayah tidak selalu datang pada hati yang telah &#8220;siap&#8221;.  Tidak jarang seorang yang telah tertarik dengan Islam, akan berusaha menjalankan segala yang diperintahkan oleh agama Islam.  Namun, aku merupakan kasus lain, aku benar-benar ikhlas menerima Islam sebagai tuntunan hidup setelah kira-kira tujuh tahun.</p>
<p>Setelah bermimpi berada di masjid dan mengenakan mukena serta didoakan oleh seorang ustadz, saat i&#8217;tikaf untuk pertama kali dalam hidupku, aku semakin mantap untuk membaca dua kalimat syahadat, sebagai wujud keseriusan aku memilih Islam sebagai tuntunan hidup dan secara ikhlas bersumpah berusaha kuat menjalankan segala perintah-Nya.  Di dalam keluarga, aku adalah anak pertama adari tiga bersaudara.  Dari pihak ibu, Eyang putri dan Eyang kakung berasal dari Solo dan Sedayu. Sedangkan dari pihak Ayah, nenek adalah asli orang Makassar tepatnya Tanah Toraja.  Eyang buyut dari pihak nenek, adalah salah satu pemangku adat dan pendeta di daerahnya.</p>
<p><span id="more-480"></span>Dulu aku adalah penganut Katholik yang taat.  Aku menempuh pendidikan formal mulai TK-SMU di sekolah swasta yang notabene milik yayasan Katholik.  Saya mengenyam pendidikan formal di TK Santo Yoseph, SMP Katholik Puteri (sekarang ganti nama menjadi SMP Katholik Santa Maria, dan SMUK Santo Augustinus).</p>
<p>Awal ketertarikanku dengan Islam hanya kerena dua kata &#8211; mesti inti dari semua ketertarikanku pada Islam adalah karena aku sendiri tidak memahami adanya &#8220;Doktrin Trinitas&#8221; dalam keyakinan lama yang aku anut &#8211; yaitu Iri dan Logis.</p>
<p>Di sini aku tegaskan, aku memaparkan penjelasan ini untuk mendiskreditkan ajaran-agama lain.  Dalam hal ini aku berbicara karena kapasitasku hanyalah muallaf yang benar-benar tertarik pada Islam karena akhirnya saya benar-benar memilih Islam sebagai tuntunan hidupku.</p>
<p><strong>Aku Iri dengan Islam </strong></p>
<p>Pertama, dalam agamaku yang dulu dikenal dengan adanya dosa turunan.  Dalam keyakinanku yang lama, setiap bayi yang dilahirkan ke bumi telah membawa dosa , hal tersebut dikarenakan dulu manusia petama, Nabi Adam, telah berbuat dosa yang mengakibatkannya diusir dari surga oleh Tuhan dan dosa itu ikut ditanggung oleh anak keturunannya sampai sekarang.  Dulu timbul pertanyaan dalam diriku <strong>&#8220;Tidak adil sekali, orang nggak ikut berbuat dosa masa menanggung akibatnya?  Bukankah Tuhan itu Maha Adil??.</strong></p>
<p>Kedua, ada semacam statement &#8220;Jika masuk Islam maka akan mendapat pahala&#8221;.  Waktu itu aku berpikir, &#8220;Wah asyik sekali, begitu masuk Islam aku mendapat pahala, mau sekali!&#8221;.</p>
<p>Ketika, ketika saya melihat acara &#8216;Ied di televisi, aku merasakan suatu yang -dalam bahasaku menakjubkan- berbeda.  Waktu aku menganut keyakinan Katholik, aku belum pernah merasakan ketika bersembahyang aku menitikkan air mata.  Pertanyaanku, mengapa mereka bisa meneteskan air mata seperti itu?  Apa karena dosa-dosa mereka?  Atau karena rindu bertemu Tuhannya?  Atau hal lain?  Untuk yang pertama, aku yakin semua manusia tidak pernah luput dari dosa.  Tapi dulu aku merasa telah melaksanakan ajaran agama Katholik yang disebut dengan 10 Perintah Allah.  Aku rajin ke Gereja, selalu patuh pada orang tua dan saudara-sudaraku yang lebih tua, rajin datang ke sekolah minggu, rajin ikut kegiatan sosial, rajin pergi ke Panti Wreda (Panji Jompo milik Yayasan Katholik, milik Yayasan Santo Yoseph, tempat dimana aku mengenyam pendidikan TK-SD).  Jadi, waktu itu tidak ada alasan yang membuatku untuk menangis hanya karena dosa, karena aku merasa tidak pernah melakukan apa-apa yang dilarang oleh Tuhan.  Jika karena alasan yang kedua, rindu apada Tuhannya.  <strong>Bagaimana aku bisa menangis</strong>, <strong>aku saja belum tahu pasti siapa Tuhanku. Apakah Tuhanku itu Allah Bapa?  atau Yesus?  atau Roh Kudus?  Aku memang benar-benar belum tahu pasti siapa Tuhanku.</strong></p>
<p><strong>Islam adalah Logis</strong><strong> </strong></p>
<p><strong>Pertama, menurut pendapatku, Islam adalah satu-satunya agama yang secara jelas memberikan konsep ketuhanan.  </strong>Setelah mengenal Islam, aku semakin tahu siapa tuhanku.  Kedua, aku dulu memang belum pernah melihat seperti apa kitab suci teman saya yang beragama Hindu dan Budha tapi saya membandingkan kitab suci keyakinan saya dulu dengan kitab suci umat Islam, Al-Qur&#8217;an.</p>
<blockquote><p><strong>&#8220;Mengapa kitab suci umat Islam dimanapun berada, dari dulu sampai sekarang tetap menggunakan Bahsa Arab, beda sekali dengan punyaku, jangankan lain negara, untuk satu kota saja sudah berbeda bahasa, bukankah hal tersebut justru rawan untuk diselewengkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab?&#8221;.</strong></p></blockquote>
<p>Saat berproses dalam bangku kuliah, saya menemukan teman-teman yang menyenangkan.  Di hadapan mereka, aku mengaku beragama Islam (padahal dalam kenyataan saya memang belum bisa memutuskan apakah aku tetap menganut keyakinanku yang lama atau pindah ke Islam).   Saat mengikuti kajian tentang keislaman atau mengaji bersama aku terpaksa memakai jilbab hanya karena merasa sungkan, malu, karena mereka semua memakai jilbab.</p>
<p>Saat mulai kuliah, aku memutuskan untuk tidak pernah kembali pada keyakinan saya yang lama, dan akan mengikuti tata cara peribadatan yang dilakukan oleh umat Islam.  Semua ini aku lakukan hanya karena aku tidak ingin dikatakan sebagai orang yang tidak beragama.  Aku shalat bukan karena Allah ta&#8217;ala, tapi karena manusia, Aku melaksanakan shalat hanya sekadar aktifitas yang memang diwajibkan, kalau<em> mood </em>shalat kalau tidak <em>mood </em>ya tidak.</p>
<p>Setelah menyelesaikan kuliah, aku mengikuti kursus Bahasa Inggris di salah satu daerah di kotaku.  Setiap kursusan yang ada mewajibkan setiap muslimah untuk memakai jilbab, dan inilah yang membuatku berat, &#8220;Waduh.. pakai jilbab nih, mana mungkin!!&#8221;, inilah yang terlintas dalam benakku.  Akhirnya aku terpaksa memakai jilbab daripada nggak boleh ikut kursus.  Aku memakai jilbab hanya waktu kursus, ketika beraktifitas di luar kursus aku lepas jilbabku.</p>
<p>Hidayah Allah <em>Ta&#8217;ala </em>mulai menyentuh diriku setelah aku selesai mengikuti kursus Bahsa Inggris di kotaku.  Saat itu tanggal 13 September 2006, pukul 12.15 WIB aku dihubungi seseorang yang mengatakan bahwa aku diterima sebagai guru Bahasa Inggris di salah satu English Course, senang sekali aku saat itu.  Malam harinya aku berdoa dan tidak lupa bersyukur atas karunia-Nya.  Saat tidur aku bermimpi aku brada dalam masjid, mengenakan mukena, dan dihadapanku ada (mungkin) imam masjid engan pakaian putih yang sedang mendoakan saya.  Ketika bangun di pagi harinya aku terkejut, jujur seumur hidup aku baru bermimpi masjid dan mengenakan mukena.  Aku baru teringat bahwa dua bulan yang lalu pernah membaca buku masalah i&#8217;tikaf.  Aku mencoba menganalisa mimpiku,</p>
<blockquote><p>&#8220;Oh mungkin mimpi saya waktu itu artinya aku sedang beri&#8217;tikaf, tapi kok ada seorang imam masjid yang mendo&#8217;akanku?&#8221;</p></blockquote>
<p>Akhirnya, aku putuskan untuk menolak lamaran sebagai guru Bahasa Inggris tersebut &#8211; saat itu aku berpikir, jika aku terima tawarkan tersebut, di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan ku pasti tidak bisa pergi ke Surabaya untuk i&#8217;tikaf bersama saudaraku.  Memang, saat itu  hatiku sudah mantap untuk i&#8217;tikaf, kerinduanku untuk segera berada dalam masjid seolah-olah begitu membuncah.</p>
<p>Akhirnya, hari yang aku tunggu datang juga.  Aku bersama Saudara i&#8217;tikaf di Masjid daerah Gayungsari.  Saya merasakan kenikmatan yang luar biasa, aku merasa dekat dengan Rabbku.  Tepat di malam ke 27 aku bermimpi lagi seperti mimpi saya pada tanggal 13 September kemaren.</p>
<p>Setelah kejadian tersebut hati aku merasa mantap untuk mengucap dua kalimat syahadat dengan penuh keikhlasan, aku bersumpah akan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.  Dengan berjalannya waktu, aku mencoba menghubungi teman, dan mengutarakan niatku.  Aku sangat senang ternyata temanku mau membantuku dan mencarikan kau seorang ustadz.  Tetap tanggal 17 Desember 2006 pukul 07.15 bertempat di Masjid Baiturrahman, Kediri, seorang imam masjid, ustadz, dan hakim Pengadilan Agama di kotaku, Ustadz Abdurrahman membimbingku untuk membaca dua kalimat Syahadat dan mendoakan saya yang diamini oleh puluhan jama&#8217;ah yang berada dalam masjid tersebut.</p>
<p>Aku tidak bisa menahan air mataku yang terus meleleh , aku tidak peduli dengan keadaanku saat itu.  Aku merasa sangat bersyukur atas karunia-Nya, ternyata aku bisa menahan hatiku untuk kembali pada keyakinanku dan mantap untuk mengucap dua kalimat syahadat di hadapan ustadz dan puluhan jama&#8217;ah sebagai wujud keseriusanku menerima Islam sebagai tuntunan hidupku.  Sampai tulisan ini aku buat, ibu dan adikku masih menganut Katholik, namun aku tidak berhenti berdoa agar mereka mendapatkan hidayah sepertiku. (ESI).</p>
<p>Ditulis ulang dari majalah Elfata, edisi 11 Volume 07 tahun 2007, Kolom:  Kisah Kamu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jilbab.or.id/archives/480-islam-adalah-kerinduanku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>22</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menggapai Cinta Ibu</title>
		<link>http://jilbab.or.id/archives/23-menggapai-cinta-ibu/</link>
		<comments>http://jilbab.or.id/archives/23-menggapai-cinta-ibu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Nov 2007 02:08:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>zulfikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisahku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jilbab.or.id/archives/23-menggapai-cinta-ibu/</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Bu, ada teman yang mau datang bersilaturahim dengan ibu.  Kapan bu ada waktu&#8221;  Siang itu kuhampiri ibu yang sedang duduk menonton televisi. Ibu tak bereaksi apapun, seakan-akan tak mendengar dan merasakan kehadiranku.
&#8220;Bu, teman itu bermaksud datang melamar.  Bagaimana kalau&#8230;&#8221;
&#8220;Ibu tak peduli dengan semua urusanmu.  Kalau ada apa-apa hubungi saja kakek, biar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Bu, ada teman yang mau datang bersilaturahim dengan ibu.  Kapan bu ada waktu&#8221;  Siang itu kuhampiri ibu yang sedang duduk menonton televisi. Ibu tak bereaksi apapun, seakan-akan tak mendengar dan merasakan kehadiranku.</p>
<p>&#8220;Bu, teman itu bermaksud datang melamar.  Bagaimana kalau&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Ibu tak peduli dengan semua urusanmu.  Kalau ada apa-apa hubungi saja kakek, biar kakek yang urus semuanya!&#8221;  Dengan ketus ibu memotong pembicaraanku.</p>
<p>Tanganku yang baru saja kuletakkan di atas tangannya ditepiskannya dengan kasar.</p>
<p><span id="more-23"></span>&#8220;Tapi ibu kan orang tuaku satu-satunya, mau ngak mau ibu harus tahu urusanku ini.  Lagi pula&#8230;.&#8221;</p>
<p>Tak kulanjutkan ucapanku karena ibu telah beranjak pergi Begitu saja.   Meski sudah kuduga ibu akan bersikap seperti ini, tapi tak urung air mataku jatuh juga.</p>
<p>Sore itu aku ke rumah kakek, bapaknya ibu.  Selama ini beliaulah yang menopang ekonomi keluarga kami sejak bapak meninggal tujuh tahun lalu.</p>
<p>Mulanya kakek menolak. Alasannya aku baru saja menyelesaikan studiku dan belum mengamalkan ilmu yang kuperoleh selama empat tahun.</p>
<p>Malah kakek menawariku pekerjaan.  Menjadi <em>front officer</em> di sebuah hotel berbintang milik seorang pengusaha yang kini menjadi orang nomor dua di republik ini. Kakek memang dekat dengan pejabat dan orang penting di daerah kami.  Jadi, untuk urusan seperti ini bukanlah hal yang sulit baginya.</p>
<p>&#8220;Di sana kamu boleh kok berkerudung.  Saya sudah bicara dengan Pak JK dan katanya hal itu bukan masalah,&#8221; bujuk kakek yang tahu kalau selama ini aku menolak pekerjaan yang mempersoalkan kerudungku.</p>
<p>Tawaran kakek itu kutolak dengan hati-hati.  Sebelumnya aku ditawari teman kerja di bank konvensional.  Sama seperti kakek, katanya aku boleh berkerudung.  Tapi aku tahu, kalau pun dibolehkan pasti yang dimaksud bukan kerudung selebar yang kupakai sekarang.  Apalagi saat ini diam-diam aku telah ber-<em>niqab</em> (bercadar-red) meski tak seorang pun di keluargaku yang tahu.  Selain itu aku juga sadar, akan banyak pelanggaran syariat yang harus kulakukan jika menerima tawaran itu.</p>
<p>Tapi terus terang sempat terlintas juga kenikmatan yang akan kuperoleh bila mengiyakan tawaran-tawaran tersebut.  Dengan materi yang kudapat aku bisa membantu meringankan beban kakek dan ibu.  Apalagi aku masih punya delapan adik yang semuanya bersekolah, dan tentu saja masih sangat membutuhkan banyak biaya.</p>
<p>Dan yang paling penting, aku bisa kembali mendapatkan cinta ibu.  Cinta yang hilang sejak aku memutuskan <em>hijrah</em>, setahun yang lalu.   Ibu yang selama ini sangat hangat dan mencintaiku, sehingga sering membuat adik-adikku iri, telah berubah dingin dan sangat membenciku.</p>
<p>Mengingat semua itu air mataku kembali menetes.  Ya Allah, hanya Engkau yang tahu betapa inginnya aku membahagiakan orang-orang yang sangat kucintai ini.  Orang-orang yang paling berjasa dalam hidupku.  Orang-orang yang memang sudah sepantasnya mendapatkan baktiku.</p>
<p>Tapi ya Allah, aku tak sanggup kalau harus kembali berkubang maksiat untuk memperoleh semua itu.  Rasanya sudah cukup semua kemaksiatan yang kulakukan selama ini.  Aku tak ingin kembali sesat setelah Engkau tunjukkan jalan-Mu yang lurus.  Ya Allah, hanya Engkaulah tempatku mengadu dan bersandar.</p>
<p>&#8220;Sudahlah, kalau memang jodohnya biarkan saja.  Daripada nanti jadi perawan tua, toh kita juga yang repot!&#8221;  Nenek yang selalu mendukungku angkat bicara.  Saat ini hanya beliaulah yang tidak berubah sikap.  Malah diam-diam beliau sering memberiku uang, karena tahu kakek telah menghentikan bantuannya padaku.</p>
<p><em>Alhamdulillah, </em>akhirnya kakek mau mengalah setelah sempat berdebat panjang dengan nenek.  Tapi kemudian aku terhenyak ketika kakek menetapkan sejumlah uang yang menurutku cukup besar.  Ya Allah, kalau memang ikhwan ini jodohku dan ia baik bagi diri dan agamaku, maka permudahkanlah urusan ini.</p>
<p>**</p>
<p>Pagi itu, tibalah hari yang sangat bersejarah dalam hidupku.  Cuaca yang sejak malam bersahabat, mendadak mendung dan gelap.  Sepertinya sebentar lagi turun hujan deras.  Tapi gejala alam biasa itu rupanya dimaknai lain oleh sebagian keluargaku.  Entah siapa yang memulai, beberapa orang kemudian berinisiatif membuang cabe ke atas genting.</p>
<p>&#8220;Biar hujannya tidak jadi turun!&#8221; begitu katanya ketika ditanyakan motifnya.  Tapi yang bikin ksal ialah ketika salah seorang tante meminta (maaf) pakaian dalamku untuk dibuang ke genting.  Katanya lebih ampuh dari cabe.  Tentu saja aku menolak sambil menjelaskan kalau tak ada hubungannya antara pakaian dalam atau cabe dengan hujan.</p>
<p>Akhirnya, semua mengomel dengan kekerasanku.  Apalagi tak lama kemudian hujan turun deras dibareng dengan angin kencang. Kami sampai sangat khawatir tenda-tenda akan roboh karenanya.</p>
<p>&#8220;Percuma, karena sudah terlambat membuangnya.  Mestinya sebelum hujan gerimisnya turun.&#8221;  Lamat-lamat kudengar suara tante menjawab pertanyan adikku.</p>
<p>Aku merasa curiga.  Jangan-jangan telah terjadi sesuatu.  Buru-buru kulongokkan kepalaku di jendela kamar.  Di atas genting, kulihat beberapa biji cabe dan tiga lembar pakaian dalamku yang berhasil diambilnya tanpa sepengetahuanku, padahal sejak tante meminta aku telah mengunci lemari pakaianku.</p>
<p><em>Alhamdulillah</em> hujan deras dan angin kencang berhenti kurang lebih setengah jam sebelum jadwal akad nkah.  Di acara ini yang paling banyak berperan adalah teman-teman ikhwan dan akhwat LDK kampus.  Selain karena ibu bersikeras tak ingin ikut campur, juga karena untuk pertama kalinya dalam keluargaku diadakan walimahan yang memisahkan antara mempelai wanita dan pria.  Jadi, mereka belum tahu tata caranya.</p>
<p>Ada baiknya juga sikap keluar yang menyerahkan jalannya acara sepenuhnya padaku, meski suara suara sumbang tetap terdengar.  <em>Alhamdulillah</em>, di walimahan ini tak ada musik maupun foto-foto.  Semuanya berjalan sederhana dan sesuai syariat seperti keinginan kami.</p>
<p>Hampir sejam kemudian rombongan mempelai pria datang.  Akad nikah pun segera dilaksanakan.  Setelah itu kami pun dipertemukan.  Hanya sebentar, karena keluarga suamiku memaksa masuk untuk melihatku.  Suamiku hanya sempat meletakkan tangannya di dahiku sembari berdoa dan setelah itu bergegas keluar diikuti yang lainnya.</p>
<p>Aku pun bergerak keluar kamar.  Dengan dituntun tante dan seorang akhwat aku menuju ke barisan orang tua untuk sungkeman.  Ketika giliran ibu, beliau mendorong tubuhku sehingga aku hampir jatuh dibuatnya.</p>
<p>Aku menangis diperlakukan seperti itu.  Kucoba mendekati ibu lagi, tapi teman yang melihat gelagat tidak baik segera menarikku sembari membisikkan agar aku sabar.</p>
<p>Aku pun dituntun untuk langsung menuju pelaminan.  Dengan menahan air mata dan rasa sesak di dada, kupaksakan kakiku melangkah.  Sikap ibu berlanjut dengan penolakannya menemuiku di pelaminan.  Alhasil aku hanya berdua dengan nenek disana.  Sore harinya, sat semua sibuk membereskan rumah, adik bungsuku datang menghampiriku.  Dengan pelan ia menyampaikan pesan ibu.  Katanya aku tak boleh lagi tinggal di rumah ini bila sudah menikah.  Katanya, mulai sekarang aku bukan lagi tanggung jawab ibu karena sudah ada yang menanggungku.</p>
<p>&#8220;Iya aku tahu kok, bilang ke ibu secepatnya kami akan pindah,&#8221; jawabku berusaha bersikap biasa.  Aku berusaha menahan gejolak hatiku yang tiba-tiba sesak, menyadari betapa bencinya ibu padaku, padahal sebelumnya akulah anak kesayangannya.  Kehijrahanku telah membuat ibu berubah sangat drastis.  Hanya dua hari kami berada di rumah ibu.  Kemudian aku pun pindah ke rumah mertua.  Disana aku disambut baik.  Sangat baik malah.   Maka mulailah aku berinteraksi dengan keluarga baruku, sambil belajar menyelami watak masing-masing dan senantiasa berusaha menjadi anggota keluarga yang baik.</p>
<p>Sementara ibu tetap dengan sikap dinginnya.  Walaupun demikian aku tetap berusaha menyempatkan waktu mengunjunginya.  Beliau lebih banyak diam, tapi pada suamiku sudah mau &#8220;membuka mulut&#8221;.  Aku pun senantiasa berdoa agar Allah membuka hatinya dan menerimaku sehangat dulu lagi.</p>
<p>Sekitar dua tahun aku tinggal di rumah mertua.  Suami yang seorang <em>thalibul &#8216;ilmi</em> mendapat tugas dakwah di daerah.  Maka kami pun pindah menjalankan amanah yang baru pertama kalinya dibebankan pada suamiku.</p>
<p>Kini enam tahun telah berlalu, <em>alhamdulillah</em> sikap ibu telah membaik.  Beliau kembali hangat karena kami telah membuktikan bahwa tak ada yang perlu dikhawatirkan dengan hijab <em>syar&#8217;i</em>-ku.  Salah satu penyebab sikap keras ibu selama ini, beliau takut dikucilkan para tetangga karena anaknya berbeda dari yang lainnya.</p>
<p><em>Alhamdulillah</em> aku berhasil membuktikan pada para tetangga bahwa meski berhijab, aku dan suamiku senantiasa menjaga <em>silaturrahim</em> dengan mereka bila kami datang mengunjungi ibu.  Malah kini mereka terkadang meminta nasehat dan menanyakan hal-hal yang masih menjadi tanda tanya tentang dakwah <em>salaf </em>ini.</p>
<p>Ya Allah, terima kasih atas semua nikmat yang telah Engkau anugerahkan pada kami.  Berilah kami kekuatan dan kemampuan untuk terus mendakwahkan <em>manhaj salaf </em>ini agar mereka yang belum mengerti dapat paham dan mengamalkannya sebagai satu-satunya jalan untuk meraih ridha-Mu.  Amin.</p>
<p>(Ummu Abdillah, Sulsel)</p>
<p><strong>Catatan Redaksi</strong></p>
<p>Berusaha untuk melaksanakan syariat agama acapkali tidaklah mudah.  Apalagi saat umur dunia semakin tua, semakin banyak orang yang tidak peduli terhadap agamanya.  Tolak ukur kebenaran tidak lagi aturan ilahi, namun menurut keumuman dan jumlah orang.  Sehingga, ketika ada orang yang ingin menghidupkan <em>sunnah rasul</em> dan komitmen terhadap agamanya malah jadi bahan omongan, celaan, bahkan dimusuhi.  Namun itu semua tidak seharusnya melemahkan seorang hamba yang beriman untuk tunduk pada <em>Rabb-</em>nya.  Bahkan dengan bijak disiasati agar halangan-halangan tersebut tidak menjadi &#8220;onak dan duri&#8221; lagi. Dengan demikian, <em>Insya Allah </em>lama-kelamaan mereka pun akan &#8220;membiarkan&#8221; kita dan tidak menutup kemungkinan mengikuti langkah kita menyongsong cahaya hidayah.</p>
<p>Jika kita lihat kembali perjuangan para pendahulu kita, halangan yang kita temui untuk menegakkan syariat yang <em>shahih </em>tentu belum seberapa.  Celaan dan hinaan, ibaratnya sudah menjadi santapan mereka sehari-hari.  Adapun teror fisik, terlalu banyak untuk disebutkan ragam siksaan yang mereka alami.  Namun mereka tetap tegar demi menggapai <em>ridha ilahi</em>, dan pada akhirnya mereka pun berhasil.  Namanya tercatat harum dalam sejarah dan menjadi teladan bagi siapa saja yang mendamba surga.</p>
<p><em>Ukhti,</em> kami ikut gembira dengan adanya secercah hidayah yang menerpa ibu <em>ukhti.  </em>Tidak menutup kemungkinan, itu merupakan buah kesabaran <em>ukhti </em>dalam menghadapi &#8220;permusuhannya&#8221;.  Semoga kian hari, cahaya hidayah semakin menerangi keluarga <em>ukhti.  </em>Tak lupa, semoga rumah tangga <em>ukhti</em> dianugerahi <em>sakinah mawaddah wa rahmah</em> dan mudah-mudahan Allah subhanahu wa ta&#8217;ala membimbing dan memudahkan kita untuk meniti jalan golongan yang selamat (<em>Firqatun Najiyah</em>) ini.</p>
<p>(*) Kisah Nyata diketik ulang dari Majalah Nikah Vol. 6, No. 6, September 2007</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jilbab.or.id/archives/23-menggapai-cinta-ibu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bercerai dari Suami Akibat Kecanduan Chatting</title>
		<link>http://jilbab.or.id/archives/403-bercerai-dari-suami-akibat-kecanduan-chatting/</link>
		<comments>http://jilbab.or.id/archives/403-bercerai-dari-suami-akibat-kecanduan-chatting/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Mar 2004 06:14:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ummu Raihanah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Kisahku]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[


Duh,…siapa yang tidak kenal dengan chatting?? Rasanya hampir sebagian besar umat manusia diatas muka bumi ini mengenal chatting dengan baik,…bahkan amat akrab dalam kehidupan kita sehari-hari.Sarana yang satu ini memang sangat bermanfaat sekali bagi mereka yang jauh dari keluarga,handai taulan,teman atau saudara dan yang lainnya.







Enak mengobrol di sini karena selain murah juga praktis ditambah teknologi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<table border="0" cellpadding="10">
<tbody>
<tr align="justify">
<td>Duh,…siapa yang tidak kenal dengan chatting?? Rasanya hampir sebagian besar umat manusia diatas muka bumi ini mengenal chatting dengan baik,…bahkan amat akrab dalam kehidupan kita sehari-hari.Sarana yang satu ini memang sangat bermanfaat sekali bagi mereka yang jauh dari keluarga,handai taulan,teman atau saudara dan yang lainnya.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><span id="more-403"></span></p>
<table border="0" cellpadding="10">
<tbody>
<tr align="justify">
<td>Enak mengobrol di sini karena selain murah juga praktis ditambah teknologi sekarang yang bisa memuat suara kita didalamnya sekaligus webcamnya maka jadilah berkomunikasi jarak jauh ini nyaris sempurna.Orang jadi lebih suka memilih teknologi ini dibandingkan dengan komunikasi lewat telpon karena biayanya yang tidak murah selain itu Penelpon tidak bebas ngobrol karena teringat biaya pulsa yang bisa aja membengkak!!Akan tetapi tahukah anda bahwa dibalik itu semua bagi mereka yang tidak pandai menggunakannya bisa terfitnah dengannya,..terfitnah dengan chatting kok bisa?? Ya…bisa bahkan ada salah satu akhwat muslimah tertinah dengan chatting ini,..sampai ia harus bercerai dengan suaminya gara-gara chatting ini,…kisah nyata yang perlu kita baca untuk diambil ibrahnya</p>
<p align="justify">Kisah ini terjadi di Lebanon berdasarkan apa yang saya dengar lewat kajian bersama ustadz di majelis ilmu syar’i…ustadz menguraikan kisah ini agar bisa menjadi perhatian bagi muslimah disini (Sydney) agar mereka berhati-hati terhadap chatting ini dan tidak melayani sapaan dari laki-laki yang suka iseng menggoda lewat chatting ini…</p>
<p align="justify">Beliau adalah seorang wanita muslimah yang alhamdulillah Allah karuniakan kepadanya seorang suami yang baik akhlak dan budi pekertinya.Dirumah iapun memilki komputer sebagaimana keluarga muslim lainnya dimana komputer bukan lagi merupakan barang mewah di Lebanon.Sang suami pun mengajari bagaimana menggunakan fasilitas ini yang akhirnya beliaupun mahir bermain internet.Yang akhirnya iapun mahir pula chatting dengan kawan-kawanya sesama muslimah.</p>
<p align="justify">Awalnya ia hanya chatting dengan rekannya sesama muslimah,…hingga pada suatu hari ia disapa oleh seorang laki-laki yang mengaku sama-sama tinggal dikota beliau.Terkesan dengan gaya tulisannya yang enak dibaca dan terkesan ramah..sang muslimah yang telah bersuami ini akhirnya tergoda pada lelaki tersebut.</p>
<p align="justify">Bila sang suami sibuk bekerja untuk mengisi kekosongan waktunya beliau akhirnya menghabiskan waktu bersama dengan lelaki itu lewat chatting ,…sampai sang suami menegurnya setiba dari kerja mengapa ia tetap sibuk diinternet.Sang istripun membalas bahwa ia merasa bosan karena suaminya selalu sibuk bekerja dan ia merasa kesepian,… ia merahasiakan dengan siapa ia chatting ..khawatir bila suaminya tahu maka ia akan dilarang main internet lagi….sungguh ia telah kecanduan berchatting ria dengan lekai tersebut.</p>
<p align="justify">Fitnahpun semakin terjadi didalam hatinya,..ia melihat sosok suaminya sungguh jauh berbeda dengan lelaki tersebut, enak diajak berkomunikasi, senang bercanda..dan sejuta keindahan lainnya dimana setan telah mengukir begitu indah didalam lubuk hatinya,..</p>
<p align="justify">Duhai fitnah asmara semakin membara,…ketika ia chatting lagi sang laki-laki itupun tambah menggodanya,..ia pun ingin bertemu empat mata dengannya..Gembiralah hatinya,..iapun memenuhi keinginan lelaki tersebut untuk berjumpa.Jadilah mereka berjumpa dalam sebuah restoran,..lewat pembiacaran via darat mereka jadi lebih akrab.Dari pertemuan itu akhirnya dilanjutkan dengan pertemuan berikutnya….</p>
<p align="justify">Hingga akhirnya si lelaki tersebut telah berhasil menawan hatinya,..sang suami yang menasehati agar ia tidak lama-lama main internet tidak digubrisnya..Akhirnya suami wanita ini menjual komputer tersebut karena kesal nasehatnya tidak di dengar,…lalu apa yang terjadi ?? Langkah itu (menjual komputer) membuat marah sang istri yang akhirnya iapun meminta cerai dari suaminya.Sungguh ia masih teringat percakapan manis dengan laki-laki terse but yang menyatakan bahwa ia sangatlah mencintai dirinya, dan ia berjanji akan menikahinya apabila ia bercerai dari suaminya.</p>
<p align="justify">Sang suami yang sangat mencintai istrinya tersebut tentu saja menolak keputusan cerai itu,..karena terus didesak sang istri akhirnya iapun dengan berat hati menceraikan istrinya.Sungguh betapa hebatnya fitnah lelaki itu.Singkatnya setelah ia selesai cerai dengan suaminya iapun menemui lelaki tersebut dan memberitahukan kabar gembira tentang statusnya sekarang yang telah menjadi janda.Lalu apakah si lelaki itu mau menikahinya sebagaimana janjinya???</p>
<p align="justify">Ya,..ukhti muslimah dengarlah penuturan kisah tragis ini,…dengan tegasnya silelaki itu berkata “Tidak!! Aku tidak mau menikahimu! Aku hanya mengujimu sejauh mana engkau mencintai suamimu,ternyata engkau Hanyalah seorang wanita yang tidak setia kepada suami.Dan, aku takut bila aku menikahimu nantinya engkau tidak akan setia Kapadaku! Bukan ,..bukan..wanita sepertimu yang aku cari, aku mendambakan seorang istri yang setia dan taat kepada suaminya..!” Lalu ia pun berdiri meninggalkan wanita ini,..sang wanita dengan isak tangis yang tidak tertahan inipun akhirnya menemui ustadz tadi dan menceritakan Kisahnya….iapun merasa malu untuk meminta rujuk kembali dengan suaminya yang dulu…mengingat betapa buruknya dia melayani suaminya dan telah menjadi istri yang tidak setia.</p>
<p align="justify">Sungguh kisah diatas patut untuk direnungkan bersama semoga kita semua ukhti muslimah tidak terfitnah dengan sarana ini (chatting ini),..dan agar lebih waspada serta hati-hati…bila ada yang ingin menggodamu maka acuhkan saja,…selain karena resikonya yang tinggi (kita tidak tahu siapa dia)mungkin ia hanya ingin meluangkan waktu senggangnya dengan menggoda anda…Mudah-mudahan Allah senantiasa melindungi kita.Dan, penulis berdo&#8217;a semoga peristiwa diatas tidak menimpa muslimah lainnya.amiin.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jilbab.or.id/archives/403-bercerai-dari-suami-akibat-kecanduan-chatting/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>22</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
