<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Jilbab Online &#187; Mu&#8217;amalah</title>
	<atom:link href="http://jilbab.or.id/archives/category/muamalah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jilbab.or.id</link>
	<description>-- Cocok Untuk Akhowat, Perlu Untuk Ikhwan --</description>
	<lastBuildDate>Sat, 06 Mar 2010 23:31:33 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Dengan 5 Hal Ini, Kau Akan Berbahagia Bersamaku, Istriku…*</title>
		<link>http://jilbab.or.id/archives/856-dengan-5-hal-ini-kau-akan-berbahagia-bersamaku-istriku%e2%80%a6%e2%80%a6/</link>
		<comments>http://jilbab.or.id/archives/856-dengan-5-hal-ini-kau-akan-berbahagia-bersamaku-istriku%e2%80%a6%e2%80%a6/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Sep 2009 03:46:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Mu'amalah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jilbab.or.id/?p=856</guid>
		<description><![CDATA[*diketik ulang oleh Humaira Ummu Abdillah dari majalah al-mawwaddah, Edisi I Tahun ke-3,Sya’ban 1430H/2009,Rubrik: Taman Pasutri, oleh: Ustadz Abu Amar al-Ghoyami hal:29-30*
Suami Anda mungkin tidak pernah berkata-kata secara terbuka dan apa adanya kepada Anda. Setiap Anda bertanya kepadanya ia selalu menjawab dengan mendahulukan perasaannya. Akibatnya, Anda tidak bisa puas dengan jawabannya yang memang sangat sedikit.Bila [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>*diketik ulang oleh Humaira Ummu Abdillah dari majalah al-mawwaddah, Edisi I Tahun ke-3,Sya’ban 1430H/2009,Rubrik: Taman Pasutri, oleh: Ustadz Abu Amar al-Ghoyami hal:29-30*</p>
<p>Suami Anda mungkin tidak pernah berkata-kata secara terbuka dan apa adanya kepada Anda. Setiap Anda bertanya kepadanya ia selalu menjawab dengan mendahulukan perasaannya. Akibatnya, Anda tidak bisa puas dengan jawabannya yang memang sangat sedikit.Bila ini terjadi pada suami Anda, maka Anda harus tahu bahwa memang tidak semua laki-laki bisa begitu saja terbuka, namun benar-benar ada tipe suami yang memang pendiam dan pemalu.<span id="more-856"></span></p>
<p>Berikut tips yang bisa digunakan oleh istri untuk mengambil hati suaminya yang pendiam dan pemalu yang menurut hasil penelitan telah terbukti banyak memberi faedah bagi istri untuk bisa hidup berbahagia bersama suaminya.</p>
<p> <strong>1. Jadilah Istri Yang Menghormati Suami</strong></p>
<p>Bila istri menghormati suaminya, maka dengan mudahnya suami pun akan menghormatinya. Namun, bila istri tidak bisa menghormati suaminya maka selamanya ia akan menderita disisi suaminya. Mengapa? Apakah memang sikap saling menghormati merupakan kebutuhan asasi bagi suami yang tidak bisa ditawar-tawar lagi sehingga mereka mewajibkannya atas istri?</p>
<p>Banyak istri yang bila telah melahirkan anak suaminya beranggapan bahwa ia akan terus damai disisi suaminya. Ia menyangka akan senantiasa bahagia disisi suaminya hanya dengan telah lahirnya anak suaminya. Akibat dari sangkaan dan duga-duga ini akhirnya banyak istri yang lupa atau tidak lagi memandang perlu sikap hormat kepada suaminya. Ia banyak merendahkan suaminya dan menyepelekannya.</p>
<p>Ketahuilah, istri yang menghormati suaminya ialah istri-istri penduduk surga. Tidaklah Anda ingin meneladani mereka? Rasulullah shalallahu alaihi wassalam pernah bersabda:</p>
<blockquote><p> “Maukah aku kabarkan kepada kalian para istri kalian di surga? Wanita yang penyayang, sangat subur, dan suka kembali berbuat baik yang apabila berbuat aniaya ia akan mengatakan, ‘ Ini tanganku ada diatas tanganmu, aku tidak bisa sekejap pun memejamkan mata sehingga engkau ridho kepadaku”</p></blockquote>
<p>Bukankah meminta maaf merupakan bentuk penghormatan yang tinggi? Bukankah mengulurkan tangan mengharapkan maaf suami merupakan sikap hormat istri kepadanya?  Maka, bila Anda ingin menghormati suami, jadilah istri yang sabar atas kekhilafannya. Jadilah istri yang tidak pernah menentang suami saat ia marah. Jadilah istri yang menghargai dan menghormati cemburu suami. Jadilah istri yang bisa menjaga suami. Jadilah istri yang tidak enggan meminta maaf. Enggan meminta maaf suami adalah bukti kesombongan istri. Tunjukkan rasa hormat dan perhatian Anda kepada suami dihadapan orang lain, baik saat ia bersamamu maupun saat ia tidak hadir disisimu. Dengan begitu, Anda telah menghormatinya dan insya Allah Anda akan senantiasa bahagia disisinya. Perkataan yang mudah terucap dan mudah menghancurkan rumah tangga ialah, “ Aku tidak akan menghormatimu lagi”.</p>
<p> <strong>2. Jadilah Istri Yang Bertanggung Jawab</strong></p>
<p>Banyak istri mengeluhkan perihal suaminya yang tidak bertanggung jawab. Sementara banyak pula suami yang menganggap istrinya tidak bertanggung jawab.</p>
<p>Dalam masalah ini, penting sekali kita menilik kisah Asma’, putri Abu Bakar ash Shidiq. Ia adalah istri yang ikut memikul tanggung jawab dirumah suaminya secara sempurna. Bahkan ia tetap menjaga dan menghormati perasaan serta kecemburuan suaminya.</p>
<p>Suaminya ialah Zubair, seorang sahabat yang fakir. Asma’ pun tahu bahwa suaminya sangat membutuhkan kesiapannya untuk ikut memikul tanggung jawab keluarga bersamanya. Ia biasa mengurusi makanan kuda Zubair, menjahit tempat airnya, menumbuk gandum, mengusung biji-bijian dari kebun dan lain-lainnya. Namun begitu, ia sangat menyadari bahwa keadaanya tidak boleh mengurangi rasa hormatnya kepada suaminya. Ia tetap menjaga perasaan suaminya dan kecemburuannya. Ia lebih memilih mengusung biji-bijian diatas pundaknya dengan berjalan kaki daripada naik untuk padahal ada kaum laki-laki bersamanya. Hal itu hanya demi menghargai kecemburuan suaminya. Sehingga dihadapan istri yang sangat menghargai dan bertanggung jawab inilah sosok seorang suami pun luluh hatinya sehingga ia berkata, “ Demi Allah, pengorbananmu untuk membawa biji-bijian itu jauh lebih berat bagiku daripada dudukmu diatas unta Rasulullah shalallahu aalaihi wassalam”.Memang , Asma’ lebih mendahulukan kecemburuan suaminya sehingga tidak menerima tawaran Rasulullah Shalallahualaihi wassalam untuk naik di unta beliau saat mengusung biji-bijian.</p>
<p> <strong>3. Jadilah Istri Yang Terbuka dan Menghargai Perasaan</strong></p>
<p>Ketenteraman perasaan dipengaruhi oleh terungkapnya isi hati pasutri. Ungkapan isi hati tentang rasa cinta kasih istri terhadap suami merupakan factor utama untuk mewujudkan kebahagiaan rumah tangga. Para suami sangat membutuhkan hal itu, sebagaimana istripun membutuhkannya. Bahkan Rasulullah Shalallahu aalaihi wassalam membolehkan istri berdusta dalam pengungkapan rasa cinta dan kasihnya terhadap suaminya demi terwujudnya kehangatan hubungan berumah tangga dan demi terpeliharanya ikatan pernikahan.  Lalu,mengapa pasutri tidak melakukannya? Mengapa para istri tidak mengutarakan isi hatinya kepada suaminya tentang sesuatu yang bisa membahagiakan kehidupan rumah tangganya?</p>
<p><strong>4. Percayalah Kepada Suamimu</strong></p>
<p>Rasa cemburu merupakan bukti yang sangat kuat akan besarnya cinta dan kasih istri kepada suaminya. Sehingga rasa cemburu terkadang dibutuhkan untuk mengungkapkan isi hati istri kepada suaminya bahwa ia mencintai dan mengasihinya. Bahkan, sifat pencemburu merupakan hal yang lazim bagi wanita. Namun cemburu ada dua, sebagaimana yang disebutkan oleh Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam:</p>
<blockquote><p>“ Ada diantara sifat cemburu ada yang dicintai dan ada pula yang dibenci oleh Allah. Adapun cemburu yang dicintai Allah adalah cemburu dalam keragu-raguan, sedangkan cemburu yang dibenci oleh Allah ialah cemburu tidak dalam keragu-raguan”</p></blockquote>
<p>Cemburu tidak boleh menghilangkan kepercayaan istri kepada suaminya dengan memastikan bahwa suaminya telah salah dan menyeleweng, misalnya si istri mengatakan: “ Mengapa kamu telat pulang?” atau “ Darimana saja tadi kamu pergi?” atau “ Berapa banyak wanita yang bekerja ditempat kerjamu?” Semua perkataan ini dan yang senada ialah cemburu yang tidak baik sebab didasari penetapan bahwa suaminya telah salah dan menyeleweng, bukan dibangun diatas kepercayaan atau sekadar duga-duga dan rasa ragu yang akan hilang dengan penjelasan dari suami.</p>
<p> <strong>5. Jadilah Istri Yang Berakhlak Terpuji</strong></p>
<p>Seorang suami yang shahih akan merasa bahagia dan terpenuhi kebutuhan asasinya bila beristrikan seorang wanita yang baik akhlaknya. Wanita yang buruk ialah wanita yang perkataannya selalu bermakna ancaman, ucapan dan suaranya kasar, tidak mau tahu kebaikan orang lain atasnya, dan suka mencari-cari keburukan orang lain. Selain itu, ia juga tidak mengasihi suami, sedikit rasa malunya, suka mencela, pemarah, rumahnya kotor, suka menunjuk dengan tangan dan jarinya, biasa berdusta, dan selalu meneteskan air mata buaya. Istri yang berakhlak terpuji tidak memiliki sifat-sifat tersebut. Bahkan, disaat ia sedang cemburu sekalipun, ia hanya akan menyebut kebaikan suami yang tidak bisa tidak harus membuatnya cemburu.Semoga dengan 5 hal in Anda, para istri , akan berbahagia bersama suami Anda. Wallahul Muwaffiq.</p>
<hr />
<p style="text-align: justify;"><strong>Catatan kaki:</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jilbab.or.id/archives/856-dengan-5-hal-ini-kau-akan-berbahagia-bersamaku-istriku%e2%80%a6%e2%80%a6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Inilah Cinta dan Kesetiaan !</title>
		<link>http://jilbab.or.id/archives/654-inilah-cinta-dan-kesetiaan/</link>
		<comments>http://jilbab.or.id/archives/654-inilah-cinta-dan-kesetiaan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 26 Jul 2009 21:47:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ummu Raihanah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Mu'amalah]]></category>
		<category><![CDATA[Nikah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jilbab.or.id/?p=654</guid>
		<description><![CDATA[Pada dirinya yang mulia sumber  teladan bagi setiap manusia yang berusaha menggapai ridha-Nya. Terpesona pada kehidupannya yang tak akan pernah habis dan puas di reguk oleh hamba-hambaNya yang merindukan surga-Nya.Sampai masalah kehidupan pribadinya pun begitu indah mempesona. Ia memberi teladan bagi para suami tentang arti cinta dan kesetiaan pada pasangannya yang sesungguhnya. Cinta itu tak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada dirinya yang mulia sumber  teladan bagi setiap manusia yang berusaha menggapai ridha-Nya. Terpesona pada kehidupannya yang tak akan pernah habis dan puas di reguk oleh hamba-hambaNya yang merindukan surga-Nya.Sampai masalah kehidupan pribadinya pun begitu indah mempesona. Ia memberi teladan bagi para suami tentang arti cinta dan kesetiaan pada pasangannya yang sesungguhnya. Cinta itu tak kan pernah lekang oleh ruang dan waktu yang di lewati manusia. Walau sang belahan jiwa tercinta telah keharibaan-Nya. Tapi cinta itu tetap membara di dalam dadanya yang suci dan mulia. Bila ia teringat pada sang kekasihnya tercinta yang telah tiada, bibirnya yang mulia tak kan jemu senantiasa menyebut namanya ,memujinya dan memintakan ampunan untuknya. Adakah para suami istri berhasrat untuk meneladani cinta dan kesetiaannya?<span id="more-654"></span></p>
<p>Duhai, para suami,&#8230;junjunganmu memberikan contoh yang sangat istimewa dan mulia. Tentang kisah cinta dan kesetiaannya yang telah disaksikan oleh istri-istrinya yang lain dan para sahabatnya yang mulia. Generasi seterusnya dan para ulamapun membukukannya dalam tulisan mereka. Sehingga kisah ini bukanlah dongengan ataupun khayalan semata. Akan tetapi ia nyata adanya dan bagi orang yang ingin menirunya tentu pahala menantinya. Tidakkah hatimu tergerak untuk mewujudkannya?</p>
<p>Rasulmu tercinta yang amat sangat mencintai umatnya adalah sangat menghargai jasa istrinya. Bukti penghargaan beliau ini diwujudkan dengan tidak menikahnya beliau dengan wanita lain ketika Khadijah radiyallahu anha masih hidup mendampinginya. Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari jalan Az-Zuhri dari Urwah radiyallahu anhu bahwa Aisyah radiyallahu anha berkata:</p>
<blockquote><p>“Nabi Shalallahu alaihi wassalam tidak menikahi wanita lain sampai khadijah wafat”</p></blockquote>
<p>Hal ini tidak diperselisihkan di kalangan ahli ilmu dan sejarawan yang menunjukkan betapa agungnya kedudukan khadijah radiyallahu anha dalam hati beliau, tidakkah engkau memikirkannya?</p>
<p>Wahai para istri,&#8230;mengapa sangat agung kedudukan Khadijah radiyallahu anha dalam hati beliau shalallahu alaihi wassalam?Karena ia telah memberikan pengorbanan dan jasa yang sangat besar dalam kehidupan suaminya tercinta.Ia tak kenal  lelah dan letih begitu setia mendampingi  Rasulullah shalallahu alaihi wassalam dalam berdakwah mengenalkan islam pada masyarakat Quraisy waktu itu, sehingga sang suami mendapat berbagai cobaan, ujian dan kesulitan dalam hidupnya. Ia korbankan harta bendanya untuk sang suami tercinta di jalan dakwahnya, memberikan dukungan, ketenangan dan kasih sayang yang melimpah ruah dalam rumah tangganya.Mendidik anak-anak beliau sehingga menjadi penyejuk mata bagi keduanya.Inilah sosok istri teladan yang patut  bagi setiap muslimah untuk mencontohnya dan mempersembahkannya untuk suami tercinta sehingga rumah tangga setiap muslim menjadi kokoh dan kuat bangunannya.Wajarlah bila Allah Azza wa jalla memberikan kabar gembira atas jasa-jasa beliau ini berupa istana di surga.Dari Abu Hurairah radiyallahu anhu bahwa suatu ketika malaikat Jibril mendatangi Rasulullah shalallahu alaihi wassalam dia berkata :</p>
<blockquote><p>”Wahai Rasulullah, itu Khadijah telah datang membawa makanan atau minuman. Kalau sudah tiba, sampaikan salam kepadanya dari Allah dan dariku, dan berilah kabar gembira bahwa telah di sediakan untuknya sebuah istana di surga yang terbuat dari intan permata dan di istana tersebut tidak ada keributan maupun keletihan”</p></blockquote>
<p>Selain itu atas jasa besar Khadijah radiyallahu anha yang sangat tulus dalam memperjuangkan islam akhirnya beliaupun berhak menyandang gelar sebagai wanita yang terbaik pada umat ini. Dari Ali bin Abu Thalib Radiyallahu anhu bahwa Rasulullah Shalalahu alaihi wassalam bersabda:</p>
<blockquote><p>“Wanita mereka yang terbaik adalah Maryam (yakni kepada umat yang didalamnya terdapat Maryam)dan wanita umat ini yang terbaik adalah Khadijah “</p></blockquote>
<p>Bukankah Allah sangat cepat hisabnya wahai saudariku,&#8230;Tidaklah Dia membalas kebaikan melainkan dengan kebaikan  bahkan yang berlipat ganda, dan tidakkah kita ingin meraihnya?</p>
<p>Untuk para suami yang berusaha membahagiakan sang istri tercinta,&#8230;walau Khadijah radiyallahu anha  telah tiada penghormatan beliau padanya tetap seperti di masa hidupnya . Beliau senantiasa memberikan hadiah pada kerabat dan kawan-kawan istrinya sebagai bukti nyata cinta beliau bukan hanya isapan jempol belaka.Sehingga perbuatan beliau ini membuat Aisyah radiyallahu anha sangat cemburu, Aisyah berkata :</p>
<blockquote><p>“Aku tidak pernah cemburu kepada satupun diantara istri-istri Rasulullah shalallahu alaihi wassalam seperti cemburuku kepada Khadijah. Aku tidak melihatnya, akan tetapi Rasulullah sering menyebut namanya. Terkadang beliau menyembelih  kambing, lalu memotong-motongnya, kemudian membagi-bagikannya kepada kawan-kawan Khadijah.Pernah aku berkata pada beliau, ‘Seolah-olah tidak ada perempuan lain di dunia ini selain Khadijah?” Beliau menjawab : “Dia dulu begini dan begitu. Dan darinya pula aku punya anak”</p></blockquote>
<p>Tentang perkataan Aisyah<strong>”&#8230;akan tetapi Rasulullah sering sekali menyebut namanya”</strong> Ibnu Hajar berkata bahwan dalam riwayat Abdullah al-Bahiyy dari Aisyah sebagaimana di sebutkan dalam Kitab Ath-Thabrani <strong>“beliau menyebut nama Khadijah, tidak bosan-bosan memujinya dan beristighfar untuknya”</strong></p>
<p>Tentang perkataan Rasulullah Shalalahu alaihi wassalam : <strong>“Dia dahulu begini dan begitu”</strong> Ibnu Hajar berkata bahwa maksudnya dia adalah <strong>wanita mulia, cerdas dan sejenisnya</strong>.</p>
<p>Dalam kitab Al-Musnad Imam Ahmad menyebutkan riwayat Masruq dari Aisyah bahwa Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam bersabda:</p>
<blockquote><p>“Dia beriman kepadaku ketika orang-orang ingkar, membenarkanku ketika orang-orang mendustakanku, membantuku dengan hartanya ketika orang-orang tidak mau memberi bantuan, dan Allah Subhanahu wa ta’ala memberiku anak darinya ketika Dia tidak memberiku anak dari wanita lain”.</p></blockquote>
<p>Imam Nawawi berkata  : “Hadits-hadits ini merupakan dalil kesetiaan, penjagaan cinta kasih, dan penghormatan kepada pasangan hidupnya baik semasa hidup maupun setelah mati, serta penghormatan kepada para kenalan teman hidup tersebut”..</p>
<p>Jasa istrinya selalu beliau kenang sepanjang masa, sepanjang perjalanan hidupnya. Beliau begitu setia, santun, memiliki pergaulan yang baik dengan istrinya, menjaga kehormatan hidup istrinya baik di saat hidup maupun setelah tiada serta memuliakan kerabat dan teman-temannya.Cintanya tak pernah lekang di makan usia bahkan beliau tetap setia mencintainya ,senantiasa menyebut namanya. Betapa indahnya!</p>
<blockquote><p>Aisyah berkata bahwa Haalah binti Khuwailid saudara perempuan Khadijah meminta izin bertemu Rasulullah Shalallahu alihi wassalam. Saat itu beliau teringat akan cara minta izinnya Khadijah yaitu cara minta ijin Haalah yang mirip dengan Khadijah. Beliaupun terkenang dan terkejut dengan berkata “ Ya, Allah itu Haalah!” Aisyah yang melihat sikap beliau ini menjadi sangat cemburu. Aku berkata pada beliau :”Untuk apa engkau mengingat-ingat perempuan tua yang sudah tanggal giginya (ompong) dan sudah lama mati, padahal Allah telah memberimu ganti yang lebih baik darinya”</p></blockquote>
<p>Tidakkah engkau melihat kecemburuan Aisyah? Cemburu pada wanita yang telah tiada? Rasulullah tidak pernah melupakannya, melupakan gerak-gerik istrinya di masa hidupnya semua terekam indah dalam ingatan beliau. Hingga Aisyahpun tak kuasa menahan kecemburuannya.Adakah yang mau merenungkannya?</p>
<p>Pada Rasulullah suri tauladan yang menawan, semoga dengan membaca kisah cinta dan kesetiaannya hatimu akan tertawan. Alangkah indah dan manisnya hidup dalam cinta dan kesetiaan.Sehingga tenanglah hati para istri mengarungi biduk rumah tangga yang penuh onak dan duri-duri kehidupan. Islamlah solusi kehidupan bagi para pasangan. Di dalamnya akan kita dapati jalan keluar yang kita butuhkan.  Wahai para suami,&#8230;apalagi yang engkau pikirkan? Jika manusia yang paling mulia di atas bumi ini telah mengajarkanmu arti cinta dan kesetiaan. Tidakkah ingin engkau persembahkan kepada pasangan hidupmu yang telah Allah halalkan? Dan tentu para istripun akan menambah pengabdian dan ketaatan mereka padamu karena inilah yang mereka harapkan! Wallahu ‘alam bish-shawwab.</p>
<p>Artikel ini telah di muraja’ah oleh : Ustadz Khalid Samhudi Lc dan Ustadz Muhammad Elvy Syam Lc.</p>
<p> </p>
<p>Sumber Rujukan :<br />
1.<strong>Fathul Baari Syarah Shahihul Bukhari</strong> jilid 7  Kitabul Manaqib Al-Anshariy, Bab Tazwiijun Nabi Shalallahu alaihi wassalam Khadijata wa fadhliha radiyallahu anha, di tahkik oleh Syaikh Abdullah bin Baaz, daarul Fikr, Lebanon.</p>
<p>2.<strong>Ringkasan Shahih Muslim</strong>, Imam Al-Mundziri ,Bab Keutamaan Khadijah Radiyallahu anha Ummul Mukminin, Istri Nabi Shalallahu alaihi wassalam hal:  976-978, Pustaka Amani,Jakarta</p>
<hr /><strong>Catatan kaki:</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jilbab.or.id/archives/654-inilah-cinta-dan-kesetiaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>32</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Diantara Kehalusan dan Kelembutan Islam</title>
		<link>http://jilbab.or.id/archives/643-diantara-kehalusan-dan-kelembutan-islam/</link>
		<comments>http://jilbab.or.id/archives/643-diantara-kehalusan-dan-kelembutan-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Jul 2009 00:26:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ummu Raihanah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kabar]]></category>
		<category><![CDATA[Mu'amalah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jilbab.or.id/?p=643</guid>
		<description><![CDATA[Dengan adanya peristiwa bom yang menggemparkan mata dunia baru-baru ini di Jakarta tentu membuat orang menebak dan menduga inilah pasti ulah kaum muslimin garis keras yang ekstrim. Pembunuhan, kekerasan, terorisme atau nama lain yang tidak menyenangkan berusaha keras di sandarkan atas nama islam. Padahal islam sendiri berlepas diri darinya. Bagi setiap muslim dan muslimah dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dengan adanya peristiwa bom yang menggemparkan mata dunia baru-baru ini di Jakarta tentu membuat orang menebak dan menduga inilah pasti ulah kaum muslimin garis keras yang ekstrim. Pembunuhan, kekerasan, terorisme atau nama lain yang tidak menyenangkan berusaha keras di sandarkan atas nama islam. Padahal islam sendiri berlepas diri darinya. Bagi setiap muslim dan muslimah dan siapa saja yang ingin belajar memahami islam dengan baik dan benar layak merenungkan hadits ini.</p>
<p><span id="more-643"></span>Dari Abu Hurairah radiyallahu anhu ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shalallahu alaihi wassalam :</p>
<blockquote><p>“Imam itu mempunyai tujuh puluh atau enam puluh cabang lebih. Yang paling tinggi ialah perkataan Laa ilaaha illallah, sedangkan yang paling rendah ialah menghilangkan gangguan dari jalan dan sifat malu adalah salah satu cabang dari keimanan”</p></blockquote>
<p>Ustadz Abdul Hakim Abdat (semoga Allah menjaganya) dalam Kitab beliau Al-Masail jilid 6 halaman 28 berkata:</p>
<blockquote><p>Hadits yang mulia ini adalah sebuah hadits yang sangat besar dan sangat agung sekali. Hadits yang menjadi salah satu dasar di dalam islam. Dia menjelaskan tentang keimanan yang mempunyai tujuh puluh cabang lebih. Yang tertinggi adalah kalimat thayyibah Laa ilaaha illallah, sedangkan yang paling rendah adalah menghilangkan gangguan dari jalan. Kalau islam telah memerintahkan untuk menghilangkan gangguan dari jalan yang merupakan salah satu cabang keimanan meskipun sangat kecil sekali dan hampir-hampir tidak kelihatan seperti duri yang ada di jalan, atau kayu yang melintang menghalangi perjalanan manusia dan seterusnya, maka bagaimana mungkin islam memerintahkan dan mengajarkan umatnya untuk mengebom tanpa haq sebagaimana yang dituduhkan oleh musuh-musuh islam . Kalau duri yang ada di jalan saja telah di perintahkan untuk disingkirkan.</p></blockquote>
<p>Itulah salah satu kehalusan dan kelembutan islam sayangnya sedikit sekali orang yang mau mengambil pelajaran darinya dan kepada Allahlah kita memohon pertolongan. Semoga Allah mengampuni kesalahan dan dosa-dosa kita semua.amin. Wallahu’alam bish-shawaab.</p>
<p>Sumber Rujukan :<br />
<strong>AL-Masail (Masalah-masalah Agama)</strong> jilid VI/28-29,Darus Sunnah, Jakarta, Juli 2007.</p>
<hr /><strong>Catatan Kaki:</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jilbab.or.id/archives/643-diantara-kehalusan-dan-kelembutan-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketika Ku Langkahkan Kakiku Keluar Untuk Bekerja</title>
		<link>http://jilbab.or.id/archives/623-ketika-ku-langkahkan-kakiku-keluar-untuk-bekerja/</link>
		<comments>http://jilbab.or.id/archives/623-ketika-ku-langkahkan-kakiku-keluar-untuk-bekerja/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Jul 2009 04:41:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ummu Raihanah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mu'amalah]]></category>
		<category><![CDATA[Pribadi Shalihah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jilbab.or.id/?p=623</guid>
		<description><![CDATA[
 وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَءَاتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ“
Dan hendaklah kamu tetap(tinggal) dirumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahilyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya (Al-Ahzab :33)
Wahai ukhti muslimah,&#8230;Wanita dalam pingitan menunjukkan kemuliaan dan kesucian. Terdapat dalam sejarah dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<p style="text-align: right;"> وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَءَاتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ“</p>
<p>Dan hendaklah kamu tetap(tinggal) dirumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahilyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya (Al-Ahzab :33)</p></blockquote>
<p>Wahai ukhti muslimah,&#8230;Wanita dalam pingitan menunjukkan kemuliaan dan kesucian. Terdapat dalam sejarah dari dulu hingga kemudian. Dalam pingitan malu menjadi hiasan. Wajarlah bila ia menjadi primadona dan dambaan. Bukankah Allah ciptakan bidadari surga dalam pingitan?<span id="more-623"></span></p>
<p>Tetapi mengapa wanita sekarang berlomba-lomba meninggalkan rumahnya,menukar tempat yang mulia dengan kehinaan?Bukankah telah Allah perintahkan dalam Al-Qur’an tinggallah dalam rumah-rumah kalian wahai wanita yang beriman?tidakkah kau lihat sekarang terjadi berbagai kerusakan dari banyaknya wanita yang berbaur dengan laki-laki dan berkeliaran?perselingkuhan dan perzinahan menjadi kemaksiatan yang tak lagi menakutkan, pada Allahlah kita meminta pertolongan&#8230;</p>
<p>Wahai ukhti muslimah,&#8230;banyak slogan bertaburan untuk menjadikan kalian wanita yang mengikuti perkembangan zaman walaupun harus mengorbankan agama dan kehormatan kalian, agar julukan kuno dan ketinggalan zaman tidak melekat pada diri kalian.</p>
<p>Hingga akhirnya wahai saudariku,&#8230;sebagian saudari kita merasa sesak dan sempit dadanya ketika harus tinggal dirumah. “Seperti burung dalam sangkar “, katanya. Betapa membosankannya! Merasa nyaman ketika di luar rumah bergaul begitu bebas tanpa batasan, keluar rumah tanpa kebutuhan. Hilanglah sudah rasa malu yang menjadi hiasan utama para wanita, tak merasa risih berbicara dengan lawan jenisnya tanpa ada kebutuhan yang penting atau mendesak bahkan tertawa dan bercanda? Bukankah Rasul  kita yang mulia bersabda : “Malu adalah sebagian dari iman?”</p>
<blockquote><p>Mereka beralasan “Tidaklah kami keluar melainkan karena kami harus bekerja membantu suami atau orangtua kami karena kebutuhan hidup yang semakin tinggi, bagaimana kami hidup jika kami tidak keluar bekerja?”</p></blockquote>
<p>Wahai saudariku,&#8230;mencari nafkah adalah tanggungjawab suami  jika engkau telah bersuami,  ridhalah dengan pemberiannya. Syukurilah ia walau tak seberapa, keridhaanmu dan qana’ahmu (menerima apa adanya) justru akan membawa barakah pada harta suamimu. Bila engkau belum menikah maka ayahmulah yang bertanggungjawab atas biaya hidupmu. Bersyukurlah atas pemberian orangtuamu dan berbaktilah pada mereka agar doamu dikabulkanNya. Bukankah Uwais Al-qarni sangat berbakti pada ibunya yang membuat doanya dikabulkan Allah? hingga Nabi kita yang mulia menyuruh Umar Radiyallahu anhu bila berjumpa Uwais agar meminta doa darinya agar Allah mengampuni dosa Umar? Bukankah Umar radiyalahu anhu juga menawarkan dunia berupa surat rekomendasi kepada uwais yang waktu itu akan ke Kufah. Bila saja ia mau menggunakannya maka kehidupannya akan berubah. Dunia mendatangi Uwais dan tunduk padanya akan tetapi Uwais menolaknya dengan berkata, <em>“Menjadi orang biasa dan tidak terkenal adalah lebih aku sukai.”</em></p>
<p>Wahai saudariku fillah,&#8230; dalam hidup ini kita akan selalu dirisaukan dengan kelaparan, kefakiran dan ketakutan karena memang demikianlah Allah jelaskan dalam Al-Qur’an sebagai ujian bagi orang-orang yang beriman : </p>
<blockquote>
<p align="right">وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ</p>
<p>“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan, berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah:155)</p></blockquote>
<p>Tidakkah kau lihat dalam sejarah wahai saudariku,&#8230;sebelum sahabat dan sahabiyah mengenal islam. Hidup dalam gelap gulita, kehinaan, permusuhan, pertumpahan darah, kesesatan bahkan kefakiran. Kemudian mereka menyerahkan diri mereka hanya taat pada perintahNya dan RasulNya tercinta. Keikhlasan dan mengikuti Sunnah Nabi mereka adalah pedoman hidup mereka. Jasad mereka berjalan di atas muka bumi tetapi hati-hati mereka tergantung di akhirat. Iman, takwa dan amal shaleh menjadi pakaian mereka. Maka kejayaan, kekayaan bahkan dunia menghampiri dan bertekuk lutut dihadapan mereka. Tidakkah mereka pada saat itu menguasai bumi dari timur hingga barat? Allahpun memenuhi janjiNya.                     </p>
<blockquote>
<p align="right">وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا</p>
<p>“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa.” (An-Nuur: 55).</p></blockquote>
<p> </p>
<p>Wahai saudariku,&#8230;aku ulang sekali lagi, bukankah dunia menghampiri para sahabat yang mulia? Mereka tidak tertipu dan terbenam dalam gemerlapnya kehidupan dunia. Akan tetapi justru hidup zuhud adalah pilihan mereka. Mereka tetap memilih untuk khusyu’, tunduk dan berhina diri di hadapan Allah Azza wa jalla. </p>
<p>Lalu arahkanlah pandanganmu sekali lagi pada Al-Qur’an,&#8230;akan engkau dapati kisah indah dan menakjubkan. Dua wanita putri  nabi yang mulia, sangat terpaksa harus membawa binatang ternaknya ke sumber air Madyan . Karena sang ayah telah lanjut usia hingga tugasnya tak mampu lagi beliau tunaikan. Rasa malu menghalangi mereka untuk berbaur (ikhtilath) dengan kaum lelaki jadilah mereka  menunggu dari kejauhan. Mereka rela sabar menunggu memberi  minum ternaknya setelah berlalunya rombongan. Inilah dia kisah yang akan membuat hatimu tertawan, Allah berfirman:</p>
<blockquote>
<p align="right">وَلَمَّا وَرَدَ مَاءَ مَدْيَنَ وَجَدَ عَلَيْهِ أُمَّةً مِنَ النَّاسِ يَسْقُونَ وَوَجَدَ مِنْ دُونِهِمُ امْرَأتَيْنِ تَذُودَانِ قَالَ مَا خَطْبُكُمَا قَالَتَا لَا نَسْقِي حَتَّى يُصْدِرَ الرِّعَاءُ وَأَبُونَا شَيْخٌ كَبِيرٌ</p>
<p>“Dan tatkala ia (Nabi Musa alaihis salam) sampai di sumber air negeri Madyan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata: &#8220;Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)? &#8221; Kedua wanita itu menjawab: &#8220;Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya&#8221;.(Al-Qashas:23).</p></blockquote>
<p> Maka Allahpun memberikan pertolongan pada kedua putri Nabi Syuaib alahis salam dengan hadirnya Nabi Musa alaihis salam yang memberi minum ternak mereka.</p>
<p> </p>
<blockquote>
<p align="right">فَسَقَى لَهُمَا ثُمَّ تَوَلَّى إِلَى الظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ</p>
<p>“Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya, kemudian dia kembali ketempat yang teduh lalu berdo’a: “Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.” (Al-Qashas :24).</p></blockquote>
<p>Wahai hamba Allah yang shalihah,&#8230;renungkanlah kisah mulia diatas. Rasa malu ternyata telah menjadi hiasan wanita di masa lampau. Walau bagaimanapun beratnya tantangan hidup, dua putri nabi mulia memilih menjauh dari  ramai sesaknya para pria. Bersabar menunggu hingga mereka pergi dan berlalu barulah mereka memberi minum ternaknya kemudian Allah pun memudahkan urusan dunia mereka dengan menghadirkan Musa alaihis salam agar menolong mereka berdua.</p>
<blockquote><p>Diantara saudari kita ada yang berkata, <em>“Kita tetap harus bekerja karena kita butuh pegangan, kita butuh harta agar anak-anak kita tidak terlantar bila ayahnya tiada, apalagi kita tidak tahu isi hati suami kita bagaimana kalau ia tergiur wanita lain lalu melupakan kewajibannya menafkahi keluarga?”</em></p></blockquote>
<p>Wahai para istri,&#8230;tak ada satupun ulama melarang wanita bekerja dengan dua syarat kewajibanmu sebagai  istri engkau tunaikan dan jenis pekerjaan yang tidak melanggar syariat agama. Tinggal dirumah adalah lebih utama akan tetapi bila memang engkau harus keluar maka taatilah rambu-rambu agama. Keluar dengan menutup aurat secara sempurna yaitu dengan jilbab syar’i yang merupakan pakaian wanita bertakwa, hindari ikhtilath semampumu, menundukkan pandangan dan hiasan malumu janganlah engkau tanggalkan. Karena dengan malu itulah engkau menjadi terhormat dan dimuliakan.</p>
<p>Jika engkau berburuk sangka pada suamimu diluar ketika mencari nafkah,..hatimu tidak tenang dan was-was boleh jadi ia tergiur wanita lain. Tidakkah engkau sadar karena ini adalah akibat dari bergaul bebasnya wanita dengan laki-laki sehingga engkaupun terkena fitnah keraguan? Sebagai seorang muslimah yang beriman hendaklah menjauhi dari prasangka karena ini adalah dosa sebagaimana Rabb kita berfirman: </p>
<blockquote>
<p style="text-align: right;">يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ</p>
<p>“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa” (Al-Hujuraat: 12)</p></blockquote>
<p>“<em><strong>Bagaimana bila suamiku tiada, tentu anak-anakku akan terlantar</strong></em>”, Wahai saudariku,&#8230; jangan biarkan setan mengelabuhimu. Menakut-nakutimu terhadap perkara ghaib. Kematian adalah perkara yang ghaib, hanya Allah saja yang tahu. Boleh jadi kitalah yang mendahului suami kita karena urusan ajal adalah rahasia Allah semata. Kita dilarang berbuat “<em>rajman bilghaib</em>” yaitu menerka-nerka sesuatu perkara yang ghaib yang dimana hanya Allah saja yang mengetahuinya.       </p>
<blockquote>
<p align="right">وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ                                                                       </p>
<p> “Dan, tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati.Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Lukman : 34).</p></blockquote>
<p>Bercerminlah wahai ukhti muslimah,&#8230;pada Ummu Salamah radiyallahu anha. Ketika suaminya tercinta ditakdirkan Allah sebagai syuhada. Beliau beristirja (mengucapkan innalillahi wa inna ilahi raajiun) kemudian bersabar dan bertawakal kepadaNya dengan berdoa:</p>
<blockquote><p>“Ya, Allah berikanlah pahala karena musibah ini dan berikanlah kepadaku pengganti yang lebih baik”.</p></blockquote>
<p>Maka beliaupun bertanya pada dirinya sendiri, “Siapa gerangan yang lebih baik dari Abu Salamah?” Allahpun menjawab doanya ketika iddah beliau selesai,  Rasulullah shalallahu alaihi wassalam datang  melamarnya kemudian menikahinya dan beliau pula yang menanggung anak-anak Ummu Salamah. Ummu Salamah berkata:</p>
<blockquote><p> Allah telah mengganti untuk diriku yang lebih baik dari Abu Salamah radiyallahu anhu yaitu Rasulullah shalallahu alaihi wassalam..</p></blockquote>
<p>Wahai ukhti muslimah semoga Allah memuliakanmu, setelah engkau membaca kisah Ummu Salamah Radiyallahu anha apalagi yang engkau ragukan?Apa lagi yang engkau  risaukan?Bukankah Ar-Rahman telah memberikan jaminan setelah Ia memberikan ujian dan cobaan pada hamba-hambaNya yang beriman?kebahagiaan di akhirat berupa surga yang penuh dengan kenikmatan dan keabadian. Di dunia bahkan Dia akan menggantinya dengan lebih baik dari yang sebelumnya hamba tersebut dapatkan. Buah dari kesabaran dan ketawakalan.</p>
<p>Tinggal di rumah adalah perintah dari Rabbmu Azza Wajalla, sangat utama ibadah dan berpahala. Kebaikan di dalamnya tersimpan melimpah ruah. Barakah dari atas langit senantiasa tercurah.</p>
<p>Duhai, para calon bidadari surga&#8230; segeralah kembali pada seruan Penciptamu,taatilah perintahNya maka keberuntungan akan menghampirimu, kebahagiaan dunia akan mendatangimu akhiratpun berbahagia menyambutmu.Wallahu a’lam bish-shawwab.</p>
<p>Artikel ini telah di muraja’ah (dibaca dan di cek ulang) dan di setujui oleh :</p>
<p> Ustadz Khalid Syamhudi Lc dan Ustadz Muhammad Elvy Syam Lc.</p>
<p>Sumber Rujukan:</p>
<ol>
<li>Terjemah Shahih Bukhari,Asy-Syifa’, Semarang.</li>
<li>Ringkasan Shahih Muslim,Pustaka Amani, Jakarta.</li>
<li>Hiburan bagi Orang-orang Yang Tertimpa Musibah,Muhammad bin Muhammad Al-Manjabi Al-Hambali,Darul Haq,Jakarta.</li>
</ol>
<hr /><strong>Catatan kaki:</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jilbab.or.id/archives/623-ketika-ku-langkahkan-kakiku-keluar-untuk-bekerja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>37</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jika Wanita Muslimah Berobat ke Dokter Lelaki (2)</title>
		<link>http://jilbab.or.id/archives/605-jika-wanita-muslimah-berobat-ke-dokter-lelaki-2/</link>
		<comments>http://jilbab.or.id/archives/605-jika-wanita-muslimah-berobat-ke-dokter-lelaki-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Jun 2009 16:12:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dinda</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mu'amalah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jilbab.or.id/?p=605</guid>
		<description><![CDATA[Melanjutkan pembahasan sebelumnya, berikut adalah bagian terakhir dari permasalahan wanita berobat ke dokter lelaki. Tulisan ini merupakan salinan ulang dari majalah As-Sunnah. Tulisan pertama dapat anda baca di sini. Semoga bermanfaat. 

Idealnya Muslimah Berobat ke Dokter Wanita
Hukum asalnya, apabila ada dokter umum dan dokter spesialis dari kaum muslimah, maka menjadi kewajiban kaum Muslimah untuk menjatuhkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Melanjutkan pembahasan sebelumnya, berikut adalah bagian terakhir dari permasalahan wanita berobat ke dokter lelaki. Tulisan ini merupakan salinan ulang dari <a href="http://bukhari.or.id/home/index.php?option=com_content&#038;view=category&#038;layout=blog&#038;id=26&#038;Itemid=379">majalah As-Sunnah</a>. Tulisan pertama dapat anda baca <a href="http://jilbab.or.id/archives/594-jika-wanita-muslimah-berobat-ke-dokter-lelaki-1/">di sini</a>. Semoga bermanfaat. <span id="more-605"></span></p>
<hr />
<p><strong>Idealnya Muslimah Berobat ke Dokter Wanita</strong><br />
Hukum asalnya, apabila ada dokter umum dan dokter spesialis dari kaum muslimah, maka menjadi kewajiban kaum Muslimah untuk menjatuhkan pilihan kepadanya. Meski hanya sekedar keluhan yang paling ringan, flu, batuk, pilek, sampai keadaan genting, semisal persalinan ataupun jika harus melakukan pembedahan. Berkaitan dengan masalah itu, Syaikh Bin Baz rahimahullah mengatakan, </p>
<blockquote><p>&#8220;Seharusnya para dokter wanita menangani kaum wanita secara khusus, dan dokter lelaki melayani kaum lelaki secara khusus kecuali dalam keadaan yang sangat terpaksa. Bagian pelayanan lelaki dan bagian pelayanan wanita masing-masing hendaknya terpisah, agar masyarakat terjauhkan dari fitnah dan ikhtilat yang bisa mencelakakan. Inilah kewajiban semua orang.&#8221;</p></blockquote>
<p>Lajnah Da-imah juga memfatwakan, bila seorang wanita mudah menemukan dokter wanita yang cakap menangani penyakitnya, ia tidak boleh membuka aurat atau berobat ke seorang dokter lelaki. Kalau tidak memungkinkan maka ia boleh melakukannya.</p>
<p>Bagaimana tidak? Karena seorang muslimah harus menjaga kehormatannya, sehingga ia harus menjaga rasa malu yang telah menjadi fitrah wanita, menghindarkan diri dari tangan pria yang bukan mahramnya, menjauhkan diri dari ikhtilath. Tatkala ia ingin mendapatkan penjelasan mengenai penyakitnya secara lebih banyak, lebih leluasa bertanya, dan sebagainya, maka mau tidak mau hal ini tidak akan bisa didapatkan dengan baik, melainkan jika seorang wanita berobat atau memeriksakan dirinya kepada dokter atau ahli medis wanita. Bila tidak, maka hal itu sulit dilakukan secara maksimal.</p>
<p><strong>Bagaimana Bila Tidak Ada Dokter Wanita?</strong><br />
Kenyataan yang kita saksikan cukup langkanya dokter umum maupun spesialis dari kalangan kaum hawa. Keadaan ini, sedikit banyak tentu menimbulkan pengaruh yang cukup membuat risih kaum wanita, bila mereka mesti berhadapan dengan lawan jenis untuk berobat, sehingga banyak di antara kaum wanita yang terpaksa berobat kepada dokter pria.</p>
<p>Syaikh Bin Baz rahimaullah memandang permasalahan ini sebagai persoalan penting untuk diketahui dan sekaligus menyulitkan. Akan tetapi, ketika Allah Ta&#8217;ala telah memberi karunia ketakwaan dan ilmu kepada seorang wanita, maka ia harus bersikap hati-hati untuk dirinya, benar-benar memperhatikan masalah ini, dan tidak menyepelekan. Sorang wanita memiliki kewajiban untuk mecari dokter wanita terlebih dahulu. Bila mendapatkannya, alhamdulillah, dan ia pun tidak membutuhkan bantuan dokter lelaki.</p>
<p>Bila memang dalam keadaan darurat dan memaksa, Islam memang membolehkan untuk menggunakan cara yang mulanya tidak diperbolehkan. Selama mendatangkan maslahat seperti untuk pemeliharaan dan penyelamatan jiwa dan raganya. Seorang muslimah yang keadaannya benar-benar dalam kondisi terhimpit dan tidak ada pilihan, maka ia boleh pergi ke dokter lelaki, baik karena tidak ada seorang dokter muslimah yang mengetahui penyakitnya maupun memang belum ada yang ahli.</p>
<p>Allah Ta&#8217;ala menyebutkan dalam firman-Nya surat al-An&#8217;am ayat 119:</p>
<blockquote><p>(padahal) sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepadamu apa yang diharamkan-Nya atasmu. Kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya.</p></blockquote>
<p>Meskipun dibolehkan dalam kondisi yang betul-betul darurat, tetapi harus mengikuti rambu-rambu yang wajib untuk ditaati. Tidak berlaku secara mutlak. Keberadaan mahram adalah keharusan, tidak bisa ditawar-tawar. Sehingga tatkala seorang muslimah terpaksa harus bertemu dan berobat kepada dokter lelaki, ia harus didampingi mahram atau suaminya saat pemeriksaan. Tidak berduaan dengan sang dokter di kamar praktek atau ruang periksa.</p>
<p>Syarat ini disebutkan Syaikh Bin Baz rahimahullah untuk pengobatan pada bagian tubuh yang nampak, seperti kepala, tangan dan kaki. Jika obyek pemeriksaan menyangkut aurat wanita, meskipun sudah ada perawat wanita &#8211;umpamanya&#8211; maka keberadaan suami atau wanita lain (selain perawat) tetap diperlukan, dan ini lebih baik untuk menjauhkan dari kecurigaan.</p>
<p>Ketikah Syaikh Shalih Al-Fauzan ditanya mengenai hukum berobat kepada dokter yang berlawan jenis, beliau menjelaskan,</p>
<blockquote><p>&#8220;Seorang wanita tidak dilarang berobat kepada dokter pria, terlebih lagi ia seorang spesialis yang dikenal dengan kebaikan, akhlak dan keahliannya. Dengan syarat, bila memang tidak ada dokter wanita yang setaraf dengan dokter pria tersebut. Atau karena keadaan si pasien yang mendesak harus cepat ditolong, (karena) bila tidak segera, penyakit (itu) akan cepat menjalar dan membahayakan nyawanya.</p>
<p>&#8220;Dalam masalah ini, perkara yang harus diperhatikan pula, dokter tersebut tidak boleh membuka sembarang bagian tubuh (aurat) pasien wanita itu, kecuali sebatas yang diperlukan dalam pemeriksaan. Dan juga, dokter tersebut adalah muslim yang dikenal dengan ketakwaannya. Pada situasi bagaimanapun, seorang muslimah yang terpaksa harus berobat kepada dokter pria, tidak dibolehkan memulai pemeriksaan terkecuali harus disertai dengan salah satu mahramnya.&#8221;</p></blockquote>
<p>Ketika Lajnah Da-imah menjawab sebuah pertanyaan tentang syarat-syarat yang harus terpenuhi bagi dokter lelaki untuk menangani pasien perempuan, maka Lajnah Da-imah mengeluarkan fatwa yang berbunyi</p>
<blockquote><p>&#8220;(Syarat-syaratnya), yaitu tidak dijumpai adanya dokter wanita muslimah yang sanggup menangani penyakitnya, dokter tersebut sorang muslim lagi bertakwa, dan pasien wanita itu didampingi oleh mahramnya.&#8221;</p></blockquote>
<p>Demikian pula menurut Syaikh Muhammad bin Shalih al-&#8217;Utsaimin. Hanya saja untuk menangani wanita muslimah, beliau rahimahullah lebih memilih seorang dokter wanita beragama Nashrani yang dapat dipercaya, daripada memilih seorang dokter lelaku muslim. Kata beliau,</p>
<blockquote><p>&#8220;Menyingkap aurat lelaki kepada wanita, atau aurat wanita kepada pria ketika dibutuhkan tidak masalah, selama terpenuhi dua syarat, yaitu aman dari fitnah dan tidak disertai khalwat (berduaan dengan lawan jenis yang bukan mahramnya). Akan tetapi, berobat kepada dokter wanita yang beragama Nasrani dan amanah, tetap lebih utama daripada ke dokter muslim meskipun lelaki, karena aspek persamaan.&#8221;</p></blockquote>
<p>Penjelasan tambahan Syaikh Al-Utsaimin di atas, juga dipilih oleh para ulama yang tergabung dalam Lajnah Da-imah. Dalam fatawanya yang bernomor 16748, Lajnah Da-imah memfatwakan, &#8220;wanitalah yang menangani (pasien) wanita, baik ia seorang muslimah maupun bukan. Seorang lelaki yang bukan mahram tidak boleh menangani wanita, kecuali dalam kondisi darurat. Yaitu bila memang tidak ditemukan dokter wanita.&#8221;</p>
<p>Begitu pula bagi wanita yang menghadapi persalinan.</p>
<p>Ada sebuah pertanyaan mengenai hukum wanita memasuki rumah sakit untuk menjalani persalinan, sedangkan dokter-dokter di rumah sakit tersebut seluruhnya laki-laki. Lajnah Da-imah memberi jawaban:</p>
<blockquote><p>&#8220;Dokter laki-laki tidak boleh menangani persalinan wanita, keculi dalam kondisi darurat, seperti mengkhawatirkan kondisi wanita (ibu bayi), sementara itu tidak ada dokter wanita yang mampu mengambil alih pekerjaan itu.&#8221;</p></blockquote>
<p><strong>Kesimpulan</strong><br />
Sebagaimana hukum asalnya, bila ada dokter wanita yang ahli, maka dialah yang wajib menjalankan pemeriksaan atas seorang pasien wanita. Bila tidak ada dokter wanita non muslim yang dipilih. Jika masih belum ditemukan, maka dokter lelaki muslim yang melakukannya. Bila keberadaan dokter muslim tidak tersedia, bisa saja dokter non-muslim yang menangani.</p>
<p>Akan tetapi harus diperhatikan, dokter lelaki yang melakukan pemeriksaan hanya boleh melihat tubuh pasien wanita itu sesuai dengan kebutuhannya saja, yaitu saat menganalisa penyakit dan mengobatinya, serta harus menjaga pandangan. Dan juga, saat dokter lelaki menangani pasien wanita, maka pasien wanita itu harus disertai mahram, atau suaminya, atau wanita yang dapat dipercaya supaya tidak terjadi khalwat.</p>
<p>Dalam semua kondisi di atas, tidak boleh ada orang lain yang menyertai dokter lelaki kecuali yang memang diperlukan perannya. Selanjutnya, para dokter lelaki itu harus menjaga kerahasiaan si pasien wanita.</p>
<p>Bertolak dari keterangan di atas, bagaimanapun keadaannya, sangat diperlukan kejujuran kaum wanita dan keluarganya tentang masalah ini. Hendaklah terlebih dulu beriktikad untuk mencari dokter wanita. Tidak membuat bermacam alasan dikarenakan malas untuk berusaha. Semua harus dilandasi dengan takwa dan rasa takut kepada Allah, kemudian berusaha untuk mewujudkan tujuan-tujuan mulia di atas.</p>
<p>Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah Ta&#8217;ala menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya. Allahu a&#8217;lam bish-shawab.</p>
<hr />
<strong>Maraji&#8217;</strong></p>
<ol>
<li> Al-Fatawa Al-Muta&#8217;alliqah bith Thibbi wa Ahkamil Mardha, Pengantar Syaikh &#8216;Abdul &#8216;Aziz bin &#8216;Abdullah Alu Syaikh, Darul=Muayyad, Cetakan I, Tahun 1424H.</li>
<li>Fatawa Syaikh Muhammad bin Shalih al-&#8217;Utsaimin.</li>
<li>Fatawa Syaikh Shalih Al-Fauzan.</li>
<li>Fatawa wa Maqalat, Syaikh ibnu Baz.</li>
<li>Fiqhun-Nawazil, Dr. Muhammad bin Hasan Al-Jizani, Darul-Ibnil-Jauzi, Cetakan I, Tahun 1426H / 2005.</li>
<li>Majalah Mujamma&#8217;. Juz 3.</li>
</ol>
<hr />
<strong>Catatan Kaki:</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jilbab.or.id/archives/605-jika-wanita-muslimah-berobat-ke-dokter-lelaki-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jika Wanita Muslimah Berobat ke Dokter Lelaki (1)</title>
		<link>http://jilbab.or.id/archives/594-jika-wanita-muslimah-berobat-ke-dokter-lelaki-1/</link>
		<comments>http://jilbab.or.id/archives/594-jika-wanita-muslimah-berobat-ke-dokter-lelaki-1/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Jun 2009 21:05:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dinda</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mu'amalah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jilbab.or.id/?p=594</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa pertanyaan menghampiri meja Redaksi (Majalah As-Sunnah &#8211;Dinda), yaitu menyangkut problem yang dihadapi wanita muslimah saat harus berobat atau memeriksakan kesehatan kepada dokter lelaki. Ini menjadi ganjalan bagi kaum hawa. Apabila tidak ada dokter wanita, atau jika sulit mendapatkan dokter wanita, lantas bagaimanakah hukumnya? Apabila jika menyangkut hal-hal yang sangat pribadi, seperti partus (persalinan), atau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa pertanyaan menghampiri meja Redaksi (Majalah As-Sunnah &#8211;Dinda), yaitu menyangkut problem yang dihadapi wanita muslimah saat harus berobat atau memeriksakan kesehatan kepada dokter lelaki. Ini menjadi ganjalan bagi kaum hawa. Apabila tidak ada dokter wanita, atau jika sulit mendapatkan dokter wanita, lantas bagaimanakah hukumnya? Apabila jika menyangkut hal-hal yang sangat pribadi, seperti partus (persalinan), atau keluhan lain yang memaksa wanita membuka auratnya. <span id="more-594"></span></p>
<hr />
Tulisan ini merupakan salinan ulang dari <a href="http://bukhari.or.id/home/index.php?option=com_content&#038;view=category&#038;layout=blog&#038;id=26&#038;Itemid=379">majalah As-Sunnah</a> dan ini adalah bagian pertama dari 2 tulisan insya Allah. Bagian kedua dapat <a href="http://jilbab.or.id/archives/605-jika-wanita-muslimah-berobat-ke-dokter-lelaki-2/">dibaca di sini</a>.</p>
<hr />
<p>Islam mensyariatkan, jika seseorang tertimpa penyakit maka ia diperintahkan untuk berusaha mengobatinya. Al-Qur&#8217;an dan As-Sunnah telah menetapkan syariat tersebut. Dan pada pelayanan dokter memang terdapat faedah, yaitu memelihara jiwa. Satu hal yang termasuk ditekankan dalam syariat Islam.</p>
<p>Pembahasan masalah di atas akan diulas melalui beberapa sub judul, dengan bercermin pada fatwa-fatwa ulama kontemporer.</p>
<p><strong>Pandangan Islam Terhadap Ikhtilat</strong><br />
Pembahasan ikhtilat sangat penting untuk menjawab persoalan di atas. Yakni untuk menjaga kehormatan dan menghindarkan dari perbuatan yang mengarah (kepada) dosa dan kekejian.</p>
<p>Yang dimaksud ikhtilat, yaitu berduanya seorang lelaki dengan seorang perempuan di tempat sepi. Dalam hal ini menyangkut pergaulan antara sesama manusia, yang rambu-rambunya sangat mendapat perhatian dalam Islam. Yaitu berkait dengan ajaran Islam yang sangat menjunjung tinggi keselamatan bagi manusia dari segala gangguan. Terlebih lagi dalam masalah mu&#8217;amalah (pergaulan) dengan lain jenis. Dalam Islam, hubungan antara pria dan wania telah diatur dengan batasan-batasan, untuk membentengi gejolak fitnah yang membahayakan dan mengacaukan kehidupan. Karenanya, Islam telah melarang pergaulan yang dipenuhi dengan ikhtilat.</p>
<p>Dalam hadits di bawah ini, Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam telah memperingatkan kaum lelaki untuk lebih berhati-hati dalam masalah wanita, </p>
<blockquote><p>Berhati-hatilah kalian dalam menjumpai para wanita. Maka seorang sahabat dari Anshar bertanya, &#8220;Bagaimana pendapat engkau tentang saudara ipar, wahai Rasulullah?&#8221; Rasulullah menjawab, &#8220;Saudara ipar adalah maut (petaka)&#8221;. (HR. Bukhari dan Muslim).</p></blockquote>
<p>Imam Ibnul Qayyim rahimahullah memperingatkan bahaya ikhtilat ini dengan pernyataannya: &#8220;Ikhtilat yang terjadi di antara lelaki dan wanita menjadi penyebab banyaknya perbuatan keji dan zina&#8221; Maka, sungguh kehati-hatian Islam dalam banyak hal, ialah demi kemaslahatan kehidupan manusia itu sendiri.</p>
<p><strong>Perintah Menjaga Aurat dan Menahan Pandangan</strong><br />
Di antara keindahan syariat Islam, yaitu ditetapkannya larangan mengumbar aurat dan perintah untuk menjaga pandangan mata kepada obyek yang tidak diperbolehkan, lantaran perbuatan itu hanya akan mencelakakan diri dan agamanya. Allah Ta&#8217;ala telah berfirman,</p>
<blockquote><p>Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, &#8216;Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat&#8217;. Katakanlah kepada wanita yang beriman, &#8216;Hendaklah mereka menahan pandangan mereka dan memelihara kemaluan mereka, dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dada mereka. Dan hendaklah jangan menampakkan perhiasan mereka kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki atau pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita .. <strong>(QS. An-Nur/24: 30 &#8211; 31)</strong>.</p></blockquote>
<p>Larangan melihat aurat, tidak hanya tertuju kepada lawan jenis, akan tetapi Islam pun menetapkan larangan melihat aurat sesama jenis, baik antara lelaki dengan lelaki lainnya, mauun antara sesama wanita. Disebutkan dalam sebuah hadits, dari &#8216;Abdir Rahman bin Abu Sa&#8217;id Al-Khudri, dari ayahnya, bahwasanya Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda,</p>
<blockquote><p>Janganlah seorang lelaki melihat kepada aurat lelaki (yang lain), dan janganlah seorang wanita melihat kepada aurat wanita (yang lain). <strong>(HR. Muslim)</strong>.</p></blockquote>
<p>Imam An-Nawawi rahimahullah mengatakan, di antara kandungan hadits ini, yaitu larangan bagi seorang lelaki melihat aurat lelaki (lainnya) dan wanita melihat aurat wanita (lainnya). Di kalangan ulama, larangan ini tidak diperselisihkan. Sedangkan lelaki melihat aurat wanita, atau sebaliknya, wanita melihat aurat lelaki, maka berdasarkan Ijma&#8217;, perbuatan seperti ini merupakan perkara yang diharamkan. Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam mengarahkan dengan penyebutan larangan seorang lelaki melihat aurat lelaki lainnya, yang berarti lelaki melihat aurat wanita maka lebih tidak dibolehkan.</p>
<p>Selain itu juga, guna mengantisipasi terjadinya perbuatan buruk, yang disebabkan terjalinnya hubungan bebas antara lelaki perempuan. Islam benar-benar menutup akses ke arah sana. Yaitu dengan mengharamkan terjadinya persentuhan antara kulit lelaki dan perempuan. Bahkan Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam telah bersabda,</p>
<blockquote><p>Tertusuknya kepala salah seorang di antara kalian dengan jarum besi, (itu) lebih baik daripada ia menyentuh wanita yang tidak halal baginya.</p></blockquote>
<p>Demikian sekilas prinsip pergaulan dengan lawan jenis yang telah ditetapkan Islam. Tujuannya adalah demi kebaikan yang sebesar-besarnya.</p>
<hr />
<strong>Catatan Kaki:</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jilbab.or.id/archives/594-jika-wanita-muslimah-berobat-ke-dokter-lelaki-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
