Arsip selama tahun 2003

Khaif (Orang yang takut kepada Allah)

August 5, 2003. Dikirim dalam Uncategorized | Comments Off

Khouf adalah cambuk Alloh swt untuk menggiring
hamba-hambaNya menuju ilmu dan amal agar mereka mendapatkan kedekatan dengan
Alloh swt. Khouf inilah yang mencegah diri dari perbuatan maksiat dan
mengikatnya dengan bentuk-bentuk ketaatan.

Kekurangan khouf akan mengakibatkan kealpaan dan keberanian untuk berbuat
dosa. Sebaliknya terlalu berlebihan dalam khouf akan menyebabkan putus asa
-putus harapan.

Khouf kepada Alloh swt bisa lahir dari ma’rifah kepada Alloh swt dan ma’rifah
kepada sifat-sifatNya. Khouf bisa juga lahir dari perasan banyaknya dosa yang
telah diperbuat oleh seorang hamba. Juga terkadang khouf lahir dari
keduanya.

As-Sya’biy perbah diseru “Hai alim (orang yang berilmu)!”, beliau berkata,
“Sesungguhnya yang alim itu hanyalah yang takut kepada Alloh. Hal itu karena
Alloh berfirman,”Hanyasanya yang takut kepada Alloh di antara hamba-hambaNya
adalah para ulama”. (QS : Fathir : 28)

Orang yang takut kepada Alloh swt bukanlah orang yang menangis dan bercucuran
air matanya. Tetapi ia adalah orang yang meninggalkan perbuatan-perbuatan yang
ia khawatirkan hukumannya.

Dzun Nun al-Mishriy pernah ditanya, “Kapankah seorang hamba itu takut kepada
Alloh?” Ia menjawab, “Jika ia mendudukkan dirinya sebagai orang sakit yang
menahan didi(dari berbagai hal ) khawatir jika sakitnya berkepanjangan.”

Abul Qasim al-Hakim bertutur, “Siapa yang takut terhadap sesuatu ia akan lari
darinya. Tetapi siapa yang takut kepada Alloh ia justru lari untuk
mendekatinya.”

Fudlail bin ‘Iyadl berujar,”Jika kamu ditanya, ‘Apakah kamu takut kepada
Alloh?’, maka diamlah, jangan menjawab! Sebab jika kamu jawab ‘ya’, kamu telah
berdusta. Sedangkan jika kamu jawab ‘tidak’, maka kamu telah kafir!!!”

Khauf akan membakar syahwat yang diharankan, sehingga kemaksiatan yang dulu
disukai menjadi di benci. Seperti madu, orang yang suka pun menjadi tidak suka
jika tahu madu itu mengandung racun. Syahwat terbakar oleh khauf. Anggota badan
pun jadi beradab. Dan hati pun diliputi rasa khusyu’ dan tenang, jauh dari
kesombongan, iri, dan dengki. Bahkan ia mampunmenguasi segala kegundahan dan
tahu bahayanya. Maka ia tidak pernah pindah kepada selainNya. Tiada lagi
keibukannya selain usaha mendekatkan diri , muhasabah, mujahadah, dan
memperhitungkan setiap desah nafas dan waktunya.

Ia selalu waspada terhadap segala pikiran, langkah, dan kalimat yang keluar
dari dirinya. Keadaannya seperti dalam cengkeraman binatang buas. Ia tidak tahu
apakah binatang itu lengah sehingga ia bisa melepaskan diri, atau sebaliknya ia
justru menerkamnya maka hancurlah ia. Lahir dan batinnya disibukkan oleh sesuatu
yang ia takutkan, tidak ada tempat bagi yang lain disana. Beginilah keadaan
orang yang diliputi khauf

KEUTAMAAN KHAUF

Alloh swt menyediakan petunjuk, rahmat, ilmu, dan keridhoan bagi hamba yang
khauf kepadaNya. Alloh berfirman, “petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang
takut kepada Rabb mereka (QS. Al-A’raf : 156)

“Alloh ridla terhadap mereka dan mereka pun ridla kepadaNya. Demikian itu
bagi siapa saja yang takut kepada RabbNya (QS. Al-Bayyinah:8)

Alloh memerintahkan khauf , dan menjadikannya syarat iman. “Dan takutlah
kalian kepadaKu, jika kalian benar-benar beriman.! (QS. Ali Imran: 175).

Yahya bin Mu’adz berkata, “Jika seorang mukmin melakukan suatu kemaksiatan,
ia pasti menindaklanjutinya dengan salah satu dari dua hal yang akan
menghantarkannya ke surga; takut akan siksa dan harapan akan ampunan.”

DALIL-DALIL TENTANG KHAUF

Alloh berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut
kepada Robb mereka. Dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Rabb mereka.
Dan orang-orang yang tidak menyekutukan Rabb mereka (sesuatu pun). Dan
orang-orang yang telah memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati
yang takut,(karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada
Rabb mereka. Mereka itulah orang-orang yang bersegera untuk berbuat kebaikan,
dan merekalah orang-orang yang pertama-tama memperolehnya.”

Imam Tirmidziy meriwayatkan, Aisyah berkata,” Aku pernah bertanya kepada
Rasulullah tentang ayat ini, apakah yang dimaksud disini orang-orang yangmeminum
arak, berzina dan mencuri?” Rasululloh saw menjawab, “Bukan begitu, wahai puti
as-Shiddiq. Tetapi mereka orang-orang yang berpuasa, sholat, dan bersedekah.
Mereka takut jika amalannya tidak diterima. Merekalah yang bersegera dalam
kebaikan.”

(Hadits shohih riwayat at-Tirmidiy Kitaabut-tafsir IX/19, al-Hakim at-Tafsir
II/393 menyatakannya shohih dan disepakati oleh adz-Dzahabiy).

Abdullah bin as-Syikhiir meriwayatkan bahwa Rasulullah saw jika memulai
sholat terdenagrlah dari dada beliau gemuruh seperti suara air yang mendidih
dalam bejana.

Siapapun yang mencermati kehidupan para sahabat dan para salafus-sholih pasti
akan mendapati betapa mereka berada di puncak khauf. Adapun kita, semuanya
benar-benar lalai, alpa, dan merasa aman dari adzab.

Abu Bakr as-Shiddieq berkata, “Duhai, seandainya aku adalah sehelai rambut
yang tumbuh di tubuh seorang mukmin.” Adalah beliau bila berdiri sholat, tak
ubahnya seperti sebatang kayu (tidak bergerak) karena takut kepada Alloh
swt.

Umar bin Khatthab pernah membaca surat at-Thuur. Ketika sampai pada
ayat:”Sungguh, adzab Rabbmu pasti benar-benar terjadi. (QS Ath-Thuur : 7)

Beliau menangis dan semakin menghebat tangis beliau sampai beliau sakit, dan
orang-orang pun menjenguk beliau.

Adalah padawajah beliau ada dua gais hitam lantaran banyak menangis.
Kepadanya Abdullah bin ‘Abbas pernah berkata, “ Alloh telah meramaikan berbagai
kota dan membukakan berbagai negri dengan tanganmu.” Mendengar itu Umar berkata,
“Aku ingin kalau bisa meninggalkan dunia ini tanpa pahala dan tanpa dosa.”

Suatu pagi, seusai melaksanakan sholat shubuh, dengan bermuran durja dan
membolak-balikkan telapak tangannya, ‘Ali bin Abu Thalib berkata, “Sungguh aku
pernah melihat para sahabat Nabi. Pada hari ini aku tidak melihat sesuatu pun
yang nenyerupai mereka. Di pagi hari mereka nampak kusut, pucat dan berdebu. Di
antara dua mata mereka seperti ada lutut kambing. Mereka menghabiskan malam
dengan bersujud dab berdiri membaca ayat-ayat Alloh swt. Gerakan mereka hanyalah
antara kening dan kaki. Bila pagi tiba mereka pun berdzikir kepada alloh swt,
bergemuruh seperti pepohonan tertiup angin yang kencang. Mata mereka bercucuran
air mata sampai-samaoai pakaian mereka basah karenanya. Demi alloh hari-hari ini
sepertinya aku menghabiskan malam bersama kaum ini dalam keadaanlalai.” Lantas
beliau berdiri dan sejak itu beliau tidak pernah kelihata tertawa sampai dibunuh
oleh Ibnu Muljam.

Musa bin Mas’ud berkisah, Kla kami bermajlis dengan Sufyan ats-Tsauriy,
seakan-akan neraka ada di sekitar kami. Yang demikian itu karena kami melihat
beapa takut dan khawatirnya ia.

Seseorang menggambarkan keadaan Hasan al-Bashriy, “jika ia datang,
seakan-akan ia datang dari menguburkan teman karibnya. Jika ia duduk,
seakan-akan ia adalah seorang tawanan yang akan dipenggal lehernya. Jika
berbicara tentang neraka, seakan-akan neraka itu hanya diciptakan untuknya.

Zurarah bin Abu Aufa pernah mengimami orang-orang sholat shubuh. Beliau
membaca surat al-Muddatstsir. Ketika sampai pada ayat :” apabila sangkakala
telah ditiup. Hari itulah hari yang teramat susah. (QS. Al-Muddatstsir :
8-9)

Beliau terisak-isak dan lalu meninggal dunia. (lihat al-‘ibar,adz-Dzahabiy
I/109).

Abdullah bin Amr bin ‘Ash bertutur, “Menangislah! Jika tidak bisa maka
usahakan untuk menangis. Demi Alloh, jika salah seorang di antara kalian
benar-benar mengerti, pastilah ia akan berteriak sekeras-kerasnya sampai hilang
suaranya, dan akan sholat sampai patah tulang punggungnya.

Dikutip dari : Tazkiyah an-Nafs (Konsep penyucian jiwa menurut para
Salaf)
Penulis : Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Ibnu Rajab al-Hambali, Imam
Ghazali
Penerbit : Pustaka arafah Solo

[baca selengkapnya...]

Ummu Syarik Al-Quraisyiyah, Seorang Wanita Daiyah

July 27, 2003. Dikirim dalam Uncategorized | Comments Off

Namanya adalah Ghaziyah binti Jabir bin Hakim, beliau
seorang wanita dari Quraisy, wanita dari Bani Amir bin Lu’ai dan ia pernah
menjadi istri Abu Al-Akr Ad-Dausi (At-Thabaqatul Kubra 8/237 dan Al-Ishabah
8/206).

Beliau merasa simpati hatinya dengan islam sejak masih di Mekkah, hingga
menjadi mantaplah iman dihatinya dan beliau memahami kewajiban dirinya terhadap
agama yang lurus ini sehingga beliau mempersembahkan hidupnya untuk menyebarkan
dakwah tauhid, meninggikan kalimat Allah dan mengibarkan panji Laa Ilaaha
illallah Muhammad Rasulullah.

Mulailah Ummu Syarik bergerak untuk berdakwah dan mengajak wanita-wanita
Quraisy secara sembunyi-sembunyi. Beliau berdakwah kepada mereka, memberikan
dorongan-dorongan agar mereka masuk islam tanpa kenal lelah dan jemu. Beliau
menyadari resiko yang akan menimpa dirinya baik pengorbanan ataupun penderitaan,
serta resiko yang telah menghadangnya berupa gangguan dan siksaan terhadap jiwa
dan harta. Akan tetapi iman bukanlah sekedar kalimat yang diucapkan oleh lisan,
akan tetapi iman pada hakekatnya memiliki konsekuensi, amanah yang mengandung
kesabaran dan iman berarti jihad yang membutuhkan kesabaran.

Takdir Allah menghendaki setelah masa berlalu beberapa lama mulailah
hari-hari ujian, hari-hari menghadapi cobaan yang mana aktivitas ummu Syarik
radhiyallahu anhu telah diketahui oleh penduduk Mekkah,maka mereka menangkap
beliau dan berkata:”Kalaulah bukan karena kaum kamu akan kami tangani sendiri,
akan tetapi kami akan menyerahkan kamu kepada mereka”

Ummu Syarik berkata:”Maka datanglah keluarga Abu Al-Akr (yakni keluarga
suaminya) kepadaku kemudian berkata:Jangan-jangan engkau telah masuk kepada
agamanya (Muhammmad)? Beliau berkata:”Demi Allah aku telah masuk agama
Muhammad.” Mereka berkata :”Demi Allah kami akan menyiksamu dengan siksaan yang
berat”.Kemudian mereka membawaku dari rumah kami, kami berada di Dzul Khalashah
(terletak di San’a) mereka ingin membawaku kesebuah tempat dengan mengendarai
seekor unta yang lemah yakni kendaraan yang paling jelek dan kasar.Mereka
memberiku makan dan madu akan tetapi tidak memberiku setetes airpun. Hingga
manakala tengah hari dan matahari telah terasa panas mereka menurunkan aku dan
memukuliku, kemudian mereka meninggalkanku ditengah teriknya matahari hingga
hampir-hampir hilang akalku, pendengaranku dan penglihatanku. Mereka melakukan
hal itu selama 3 hari. Tatkala haari ketiga mereka berkata kepadaku, ”Tinggalkan
agama yang telah kau pegang!” Ummu Syarik berkata:”Aku sudah tidak lagi dapat
mendengar perkataan mereka kecuali satu kata demi satu kata dan aku hanya
memberikan isyarat dengan telunjukku kelangit sebagai isyarat tauhid”

Ummu Syarik melanjutkan,”Demi Allah tatkala aku berada dalam keadaan seperti
itu ketika sudah berat aku rasakan, tiba-tiba aku mendapatkan dinginnya ember
yang berisi air diatas dadaku (beliau dalam keadaan terbaring -pent) maka aku
segera mengambilnya dan meminumnya sekali teguk, kemudian ember tersebut
terangkat dan aku melihat ternyata ember tersebut menggantung antara langit dan
bumi dan aku tidak mampu mengambilnya. Kemudian ember tersebut menjulur kepadaku
untuk kedua kalinya maka aku minum darinya kemudian terangkat lagi. Aku melihat
ember tersebut berada diantara langit dan bumi. Kemudian ember tersebut menjulur
kepadaku untuk yang ketiga kalinya maka aku minum darinya hingga kenyang dan aku
guyurkan ke kepala, wajah dan bajuku. Kemudian mereka keluar dan melihatku
seraya berkata:”Dari mana engkau mendapatkan air itu wahai musuh Allah” Beliau
menjawab:”Sesungguhnya musush Allah adalah selain diriku yang menyelisihi
diennya.Adapun pertanyaan kalian dari mana air itu, maka itu adalah dari sisi
Allah yang direzekikan kepadaku” Mereka bersegera pergi menengok ember mereka
dan mereka dapatkan bahwa ember tersebut masih tertutup rapat dan belum terbuka.
Maka mereka berkata:”Kami bersaksi bahwa Rabb-mu adalah Rabb kami dan kami
bersaksi bahwa yang telah memberikan rezeki kepadamu di tempat ini setelah kami
menyiksamu adalah Dia yang mensyari’atkan islam.” Maka masuk islamlah mereka dan
semuanya berhijrah bersama Rasulullah shalallahu alaihi wassalam dan mereka
mengetahui keutamaanku atas mereka dan apa yang telah dilakukan Allah
terhadapku”(1)

Semoga Allah merahmati Ummu Syarik yang telah mengukir sebaik-baik contoh
dalam berdakwah ke jalan Allah, dalam hal keteguhan dalam meperjuangkan iman dan
akidahnya dan dalam bersabar disaat menghadapi cobaan serta berpegang kepada
tali Allah..mara bahaya tidak menjadikan beliau kendor ataupun lemah yang
mengakibatkan beliau bergeser walaupun sedikit untuk menyelamatkan jiwanya dari
kematian dan kebinasaan. Akan tetapi hasil dari ketegaran beliau, Allah
memuliakan beliau dan menjadikan indah pandangan matanya dengan masuknya kaumnya
kedalam islam. Inilah target dari apa yang dicita-citakan oleh seorang muslim
dalam berjihad. Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda:
”Demi Allah
seandainya Allah memberikan hidayah kepada satu orang karena dakwahmu, maka itu
lebih baik dari unta merah”(2)

Do’a dan harapan kita agar kiranya Allah meneguhkan agama dan pendirian kita
untuk tetap istiqomah …wahai ukhti muslimah semoga kisah ini menjadi cambuk
semangat bagimu dalam beramal dan beribadah kepada Allah terutama dalam mengajak
saudari-saudari kita yang lain untuk bersungguh-sungguh mengamalkan agama kita
ini yang tentunya selaras dengan pemahaman pendahulu kita salafuna shalih semoga
Allah meredhoi mereka semua. amin…

foot note:
1. Lihat biografi beliau dalam Al-Ishabah 8/248 dan
Ath-Thabaqat 8/154 dan Al-Hilyah 2/96
2.Lihat riwayat tersebut dalam
Ath-Thabaqatul Kubra oleh Ibnu Sa’ad 8/155-15, Al-Ishabah oleh Ibnu Hajar
Al-Asqalani 8/248 dan Hilyatul Auliya’ oleh Al-Asbahani 2/96-97.

Dikutip dari :
Mengenal Shahabiyah Nabi Shalallahu alaihi wassalam,
At-Tibyan, hal: 225-227,Solo,2001.

 

[baca selengkapnya...]

Ummu Mahjan, Pelajaran yang Tak Terlupakan

July 27, 2003. Dikirim dalam Uncategorized | Comments Off

Wahai Ibuku,….wahai saudariku,..janganlah anda
meremehkan amal kebaikan sekalipun kecil, dan ketahuilah bahwa anda diseru untuk
menunaikan tugas dan tanggung jawab anda dengan mencurahkan segenap kemampuan
dan banyak berkorban dalam rangka menegakkan bangunan islam yang agung.
Janganlah anda sekali-kali mengelak dari tugas anda sekalipun hanya sedetik
karena tipu daya musuh islam terhadapmu. Mereka musuh-musuh islam ingin
sekiranya engkau menyimpang dari tugasmu yangn mulia, dan mereka berupaya
menjatuhkan semangatmu dalam berkhidmat kepada islam dan umat.

Janganlah,..dan sekali lagi janganlah anda mengelak dan mundur dari
berkhidmat kepada islam karena anda merasa lemah, tidak ada kemapuan untuk ikut
andil dalam menguatkan masyarakat islam, sebab sesungguhnya perasaan-perasaan
seperti itu merupakan rekayasa dari setan jin dan manusia.

Maka disini kami hendak menyuguhkan dihadapan anda sebuah kisah perikehidupan
seorang wanita shahabiyah, seorang wanita yang lemah,berkulit hitam yang mana
cerita ini merupakan sebuah pelajaran bagi kaum muslimin dalam peredaran sejarah
dalam hal kesungguhan, tawadhu’ dan hingga sampai pada puncak semangatnya.

Beliau seorang wanita yang berkulit hitam, dipanggil dengan nama Ummu Mahjan.
telah disebutkan didalam Ash-Shahih tanpa menyebutkan nama aslinya, beliau
berdomisili di Madinah.(lihat Ibnu Sa’ad dalam Ath-Thabaqat 8/414)

Beliau Radhiyallahu anha seorang wanita miskin yang memiliki tubuh yang
lemah. Untuk itu beliau tidak luput dari peerhatian Rasulullah sang pemimpin
shalallahu alaihi wassalam, sebab beliau senantiasa mengunjungi orang-orang
miskin dan menanyai keadaan mereka dan memberi makanan kepada mereka, maka
tidakkah anda tahu akan hal ini wahai para pemimpin rakyat?

Beliau radhiyallahu anha menyadari bahwa dirinya memiliki kewajiban terhadap
akidahnya dan masyarakat islam, lantas apa yang bisa dia laksanakan padahal
beliau adalah seorang wanita yang tua dan lemah? Akan tetapi beliau sedikitpun
tidak bimbang dan ragu, dan tidak menyisakan sedikitpun rasa putus asa dalam
hatinya. Dan rasa putus asa adalah jalan yang tidak dikenal dihati orang-orang
yang beriman.

Begitulah, keimanan beliau telah menunjukkan kepadanya untuk menunaikan
tanggung jawabnya. Maka beliau membersihkan kotoran dan dedaunan dari masjid dan
beliau sapu , lalu beliau buang ke tong sampah dan beliau menjaga kebersihan
rumah Allah, sebab masjid memiliki peran yang sangat penting dalam islam.
Disanalah berkumpulnya para pahlawan dan para ulama. Dan masjid ibarat parlemen
yang sebanyak lima kali sehari digunakan sebagai wahana untuk bermusyawarah,
saling memahami dan saling mencintai, sebagaimana pula masjid adalah universitas
tarbiyah amaliyah yang mendasar dalam membina umat.

Begitulah fungsi masjid pada zaman Rasulullah shalallahu alaihi wassalam,
demikian pulalah yang terjadi pada zaman khulafaur rasyidin dan demikian pulalah
seharusnya peranan masjid hari ini hingga tegaknya hari kiamat.

Untuk itulah Ummu Mahjan tidak kendor semangatnya, sebab pekerjaan itulah
merupakan target yang dapat beliau kerjakan. Beliau tidak meremehkan pentingnya
membersihkan kotoran untuk membuat suasana yang bersih bagi Rasulullah dan para
sahabatnya dalam bermusyawarah yang senantiasa mereka kerjakan secara rutin.

Ummu Mahjan radhiyallau anha terus menerus menekuni pekerjaan tersebut hingga
wafat beliau pada zaman Rasulullah shalallahu alihi wassalam. Maka para sahabat
ridhwanullahi alihim membawa jenazah beliau setelah gelapnya malam dan mereka
mendapatkan RAsulullah masih tidur sehingga mereka tidak ingin membangunkan
beliau, maka mereka langsung menyolatkan dan menguburkannya di Baqi’ul
Gharqad.

Pada pagi harinya Rasulullah shalallahu alaihi wassalam merasa kehilangan
wanita itu, kemudian beliau tanyakan kepada para sahabat, mereka menjawab,
”Beliau telah dikubur wahai Rasulullah, kami telah mendatangi anda dan kami
dapatkan anda masih dalam keadaan tidur sehingga kami tidak ingin membangunkan
anda”. Maka pergilah Rasulullah sedangkan para sahabat menyertai beliau sehingga
mereka menunjukkan kubur Ummu Mahjan. maka berdirilah Rasulullah Shalallahu
alaihi wassalam sementara para sahabat berdiri bershaf-shaf dibelakang beliau ,
lantas Rasululah menyolatkannya dan bertakbir 4 kali.(1)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwa ada seorang wanita yang berkulit
hitam yang biasanya membersihkan masjid, suatu ketika Rasulullah kehilangan dia,
maka beliau bertanya tentangnya. Mereka berkata:”Dia telah wafat ” Rasulullah
shallahu alaihi wassalam berkata:”Mengapa kalian tidak memberitahukan hal itu
kepadaku?” Abu Hurairah berkata: ”Seolah-olah mereka menganggap bahwa kematian
Ummu Mahjan itu adalah hal yang sepele.Rasulullah bersabda:”Tunjukkan kepadaku
dimana kuburnya!” Maka mereka menunjukkan kuburnya kepada Rasulullah kemudian
Rasulullah shalallahu alaihi wassalam menyolatkannya lalu bersabda:

”Sesungguhnya kubur ini terisi dengan kegelapan atas penghuninya dan Allah
meneranginya bagi mereka karena aku telah menyolatkannya”(2)

Semoga Allah merahmati Ummu Mahjan radhiyallahu anha yang sekalipun beliau
seorang yang miskin dan lemah, akan tetapi beliau turut berperan sesuai dengan
kemampuannya. Beliau adalah pelajaran bagi kaum muslimin dalam perputaran
sejarah bahwa tidak boleh menganggap sepele suatu amal sekalipun kecil.

Oleh karena itu ia mendapatkan perhatian dari Rasulullah shalallau alaihi
wassalam hingga ia wafat. Sehingga beliau menyalahkan para sahabat beliau
ridhwanullahi alaihim yang tidak memberitahukan kepada beliau perihal
kematiannya agar beliau dapat mengantarkan Ummu Mahjan ketempat tinggalnya yang
terakhir didunia. Bahkan tidak cukup hanya demikian namun beliau bersegera
menuju kuburnya untuk menyolatkannya agar Allah menerangi kuburnya dengan shalat
beliau.Semoga Allah memberi kita kekuatan untuk meniru dan meneladani akhlak
mereka yang merupakan sebaik-baik generasi diatas muka bumi. Allahumma
jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mencintai RasulMu dan para sahabatnya
dan wafatkanlah kami diatas islam dan sunnah. Wallahu ‘alam bishawwab.

footnote:
1. Al-Ishabah dalam Tamyizish Shahabah 8/187
2. Al-Ishabah
8/187, Al-Muwatha 1/277, An-Nasa’i 1/9 Hadits tersebut mursal, akan tetapi
maknanya sesuai dengan hadits yang setelahnya yang bersambung dengan riwayat
Bukhari dan Muslim.

—-
Dikutip dari kitab: Nisau haula Rasul Mengenal Shahabiyah Nabi
Shalallahu alihi wassalam, dengan beberapa perubahan, hal;257-260, Pustaka
Tibyan, Solo, Agustus, 2001M

[baca selengkapnya...]

Ummu Fadhl ( Istri Abbas Paman Rasulullah Shollalahu’alayhi wa Sallam)

July 27, 2003. Dikirim dalam Uncategorized | Comments Off

Nama Beliau adalah Lubabah binti al-Harits bin Huzn bin
Bajir bin Hilaliyah. Beliau adalah Lubabah al-Kubra, ia dikenal dengan
kuniyahnya (Ummu Fadhl). Ummu Fadhl adalah salah satu dari empat wanita yang
dinyatakan keimanannya oleh Rasulullah Shollalahu‘alayhi wa Sallam. Keempat
wanita tersebut adalah Maimunah, Ummu Fadhl, Asma’ dan Salma.

Adapun Maimunah adalah Ummul Mukminin radhiallahu anha, saudara kandung dari
Ummu Fadhl. Adapun Asma’ dan Salma adalah kedua saudarinya dari jalan ayahnya,
sebab keduanya adalah putri dari ‘Umais

Ummu Fadhl radhiallahu anha adalah istri dari Abbas, pamanda Rasulullah
Shollalahu ‘alayhi wa Sallam dan ibu dari enam orang yang mulia, pandai dan
belum ada seorang wanita pun yang melahirkan laki-laki semisal mereka. Mereka
adalah Fadhl, Abdullah al-Faqih, Ubaidullah al-Faqih, Ma’bad, Qatsam, dan
Abdurrahman. Tentang Ummu Fadhl ini, Abdullah bin Yazid berkata,

Tiada seorang wanita pun yang melahirkan orang-orang terkemuka

yang aku lihat sebagaimana enam putra Ummu Fadhl

putra dari dua orang tua yang mulia

pamanda Nabiyul Mushthafa yang mulia

penutup para rasul dan sebaik-baik rasul

Ummu Fadhl radhiallahu anha masuk Islam sebelum hijrah, beliau adalah wanita
pertama yang masuk Islam setelah Khadijah (Ummul Mukminin radhiallahu anha),
sebagaimana dituturkan oleh putra beliau Abdullah bin Abbas, ”Aku dan ibuku
adalah termasuk orang-orang yang tertindas dari wanita dan anak-anak.”

Ummu Fadhl termasuk wanita yang berkedudukan tinggi dan mulia di kalangan
para wanita. Rasulullah Shollalahu‘alayhi wa Sallam terkadang mengunjungi beliau
dan terkadang tidur siang di rumahnya.

Ummu Fadhl adalah seorang wanita yang pemberani dan beriman yang memerangi
Abu Lahab (si musuh Allah) dan membunuhnya. Diriwayatkan oleh Ibnu Ishak dari
Ikrimah berkata, ”Abu Rafi’ budak Rasulullah Shollalahu ‘alayhi wa Sallam
berkata, ‘Aku pernah menjadi budak Abbas, ketika Islam datang, maka Abbas masuk
Islam yang kemudian disusul oleh Ummu Fadhl, namun Abbas masih disegani terhadap
kaumnya. Abu Lahab tidak dapat menyertai Perang Badar dan mewakilkannya kepada
Ash bin Hisyam bin Mughirah, begitulah kebiasaan mereka manakala tidak dapat
mengikuti suatu peperangan, maka dia mewakilkannya kepada orang lain. Tatkala
datang kabar tentang musibah yang menimpa orang-orang Quraisy pada perang Badar
yang mana Allah telah menghinakan dan merendahkan Abu Lahab. Adapun kami
merasakan adanya kekuatan dan ‘izzah pada diri kami. Aku adalah seorang
laki-laki yang lemah, aku bekerja membuat gelas yang aku pahat di bebatuan
sekitar zam-zam, demi Allah suatu ketika aku duduk sedangkan di dekatku ada Ummu
Fadhl yang sedang duduk, sebelumnya kami berjalan, namun tidak ada kebaikan yang
sampai kepada kami, tiba-tiba datanglah Abu Lahab dengan berlari, kemudian
duduk, tatkala dia duduk tiba-tiba orang-orang berkata, ‘Ini dia Abu Sufyan bin
Harits telah datang dari Badar’. Abu Lahab berkata, ‘Datanglah ke mari, sungguh
aku menanti beritamu’. Kemudian duduklah Abu Jahal dan orang-orang berdiri
mengerumuni di sekitarnya. Berkatalah Abu Lahab, ‘Wahai putra saudaraku
beritakanlah kepadaku bagaimana keadaan manusia (dalam perang Badar)?’ Abu
Sufyan berkata, ‘Demi Allah, tatkala kami menjumpai mereka, tiba-tiba mereka
tidak henti-hentinya menyerang pasukan kami, mereka memerangi kami sesuka mereka
dan mereka menawan kami sesuka hati mereka. Demi Allah, sekalipun demikian,
tatkala aku menghimpun pasukan, kami melihat ada sekelompok laki-laki yang
berkuda hitam-putih berada di tengah-tengah manusia, demi Allah mereka tidak
menginjakkan kakinya di tanah’.”

Abu Rafi’ berkata, ”Aku mengangkat batu yang berada di tanganku, kemudian aku
berkata, demi Allah itu adalah malaikat. Tiba-tiba Abu Lahab mengepalkan
tangannya dan memukul aku dengan pukulan yang keras, maka aku telah membuatnya
marah, kemudian dia menarikku dan membantingku ke tanah, selanjutnya dia
dudukkan aku dan memukuli aku sedangkan aku adalah laki-laki yang lemah.
Tiba-tiba berdirilah Ummu Fadhl mengambil sebuah tiang dari batu kemudian beliau
pukulkan dengan keras mengenai kepala Abu Lahab sehingga melukainya dengan
parah. Ummu Fadhl berkata, ‘Saya telah melemahkannya sehingga jatuhlah
kredibilitasnya’.”

Kemudian bangunlah Abu Lahab dalam keadaan terhina, demi Allah dia tidak
hidup setelah itu melainkan hanya tujuh malam hingga Allah menimpakan kepadanya
penyakit bisul yang menyebabkan kematiannya.

Begitulah perlakuan seorang wanita muslimah yang pemberani terhadap musuh
Allah sehingga gugurlah kesombongannya dan merosotlah kehormatannya karena
ternoda. Alangkah bangganya sejarah Islam yang mencatat Ummu Fadhl radhillahu
anha sebagai teladan bagi para wanita yang dibina oleh Islam.

Ibnu Sa’ad menyebutkan di dalam Thabaqat al-Kubraa bahwa Ummu Fadhl suatu
hari bermimpi dengan suatu mimpi yang menakjubkan, sehingga ia bersegera untuk
mengadukannya kepada Rasulullah Shollalahu‘alayhi wa Sallam, ia berkata, ”Wahai
Rasulullah, saya bermimpi seolah-olah sebagian tubuhmu berada di rumahku.”
Rasulullah Shollalahu ‘alayhi wa Sallam bersabda,

”Mimpimu bagus, kelak Fathimah melahirkan seorang anak laki-laki yang nanti
akan engkau susui dengan susu yang engkau berikan buat anakmu (Qatsam).”

Ummu Fadhl keluar dengan membawa kegembiraan karena berita tersebut, dan
tidak berselang lama Fathimah melahirkan Hasan bin Ali radhillahu anhu yang
kemudian diasuh oleh Ummu Fadhl.

Ummu Fadhl berkata, ”Suatu ketika aku mendatangi Rasulullah Shollalahu
‘alayhi wa Sallam dengan membawa bayi tersebut, maka Rasulullah
Shollalahu‘alayhi wa Sallam segera menggendong dan mencium bayi tersebut, namun
tiba-tiba bayi tersebut mengencingi Rasulullah Shollalahu ‘alayhi wa Sallam,
lalu beliau bersabda, ”Wahai Ummu Fadhl, peganglah anakku ini, karena dia telah
mengencingiku.”

Ummu Fadhl berkata, ”Maka aku ambil bayi tersebut dan aku cubit dia sehingga
dia menangis.” Aku berkata, ”Engkau telah menyusahkan Rasulullah
Shollalahu‘alayhi wa Sallam, karena engkau telah mengencinginya.”Tatkala melihat
bayi tersebut menangis, Rasulullah Shollalahu‘alayhi wa Sallam bersabda, ”Wahai
Ummu Fadhl, justru engkau telah menyusahkanku, karena engkau membuat anakku
menangis.” Kemudian, Rasulullah Shollalahu‘alayhi wa Sallam meminta air lalu
beliau percikkan ke tempat yang terkena air kencing tersebut, kemudian bersabda,
”Jika bayi laki-laki, maka percikilah air, akan tetapi apabila bayi itu wanita
maka cucilah.”

Di dalam riwayat yang lain, Ummu Fadhl berkata, ”Lepaslah sarung Anda dan
pakailah baju yang lain agar aku dapat mencucinya.” Namun, Nabi
Shollalahu‘alayhi wa Sallam bersabda: ”Yang dicuci hanyalah air kencing bayi
wanita dan cukuplah diperciki dengan air apabila terkena air kencing bayi
laki-laki.”

Di antara peristiwa yang mengesankan Ummu Fadhl (Lubabah binti al-Harits)
radhiallahu anha adalah tatkala banyak orang yang bertanya kepada

beliau mengenai hari Arafah, apakah Rasulullah shollalahu alahi wa sallam
berpuasa atau tidak? Untuk menghilangkan problem yang menimpa kaum muslimin
tersebut, beliau dengan kebijakannya memanggil salah seorang anaknya kemudian
menyuruhnya agar mengirimkan segelas susu kepada Rasulullah shollalahu alahi wa
sallam yang sedang berada di Arafah. Kemudian tatkala dia menemukan Nabi
Shollalahu‘alayhi wa Sallam dengan dilihat oleh semua orang, beliau menerima
segelas susu tersebut kemudian meminumnya.

Di sisi yang lain, Ummu Fadhl radhiallahu anha mempelajari hadis Nabawi dari
Rasulullah shollalahu’alayhi wa Sallam dan beliau meriwayatkan sebanyak tiga
puluh hadits. Adapun yang meriwayatkan dari beliau adalah Abdullah bin Abbas
(Ibnu Abbas), Tamam (yakni budaknya), Anas bin Malik dan yang lain.

Kemudian, wafatlah Ummu Fadhl pada masa khilafah Utsman bin Affan radhillahu
anhu setelah meninggalkan untuk kita contoh yang baik yang patut ditiru sebagai
ibu yang shalihah yang telah melahirkan tokoh semisal Abdullah bin Abbas, tokoh
ulama umat ini dan Turjumanul Qur’an (pakar dalam hal tafsir Alquran). Demikian
pula, beliau telah memberikan contoh yang terbaik bagi kita dalam hal
kepahlawanan yang memancar dari akidah yang benar yang muncul darinya keberanian
yang mampu menjatuhkan musuh Allah yang paling keras permusuhannya (yakni Abu
Lahab).

Sumber : Nisaa’ Haular Rasuuli, Mahmud Mahdi al-Istanbuli dan Mushthafa Abu
an-Nashr asy-Syalabi

[baca selengkapnya...]

Ulama Salaf dalam Berbakti kepada Ibu

July 27, 2003. Dikirim dalam Uncategorized | Comments Off

Dari Muhammad bin Sirin diriwayatkan bahwa ia
berkata:Pada masa pemerintahan Utsman bin Affan, harga pokok kurma mencapai
seribu dirham. Maka Usamah (beliau adalah Usamah bin Zaid bin Haritsah, orang
kesayangan Nabi kita Shalallahu alihi wassalam dan juga anak dari orang
kesayangan beliau. Ibu beliau adalah Ummu Aiman, orang yang merawat Rasulullah
dimasa kecilnya)mengambil dan menebang sebatang pokok kurma dan mencabut
umbutnya(yakni bagian di ujung pangkal kurma berwarna putih, berlemak berbentuk
seperti punuk unta, biasa dimakan bersama madu) lalu diberikannya kepada ibunya
untuk dimakan.Orang-orang bertanya:”Apa yang menyebabkan engkau melakukan hal
itu? padahal engkau tahu bahwa pokok kurma kini harganya mencapai seribu
dirham?” beliau menjawab:”Ibuku menghendakinya. Setiap ibuku menginginkan
sesuatu yang mampu kudapatkan, aku pasti memberikannya”.

Dari Abdullah bin Al-MUbarak diriwayatkan bahwa ia berkata:”Muhammad bin
Al-Munkadir pernah berkata:”Umar (yakni saudaranya) suatu malam melakukan
shalat, sementara aku memijit-mijit kaki ibuku.Aku tidak ingin kalau malamku
kugunakan seperti malamnya”

Dari Ibnu Aun diriwaytakan bahwa ia berkata:”Seorang lelaki datang menemui
Muhammad bin Sirin dirumah ibunya. ia bertanya:”Bagaimana keadaan Muhammad
dirumah ini?Apakah ia mengeluhkan sesuatu?”Orang-orang disitu menjwab:”Tidak
sama sekali! Demikianlah keadaannya bila berada dirumah ibunya”

Dari Hisyam bin Hissan, dari Hafsah binti Sirin diriwayatkan bahwa ia
berkata:”Muhammad, apabila menemui ibunya, tidak pernah berbicara dengannya,
dengan mengumbar omongan, demi menghormati ibunya tersebut”

Dari Ibnu Aun diriwayatkan bahwa ia berkata:”Suatu hari ibunya memanggil
beliau, namun beliau menyambut panggilan itu dengan suara yang lebih keras dari
suara ibunya. Maka beliau segera membebaskan dua orang budak”

Dari Hisyam bin Hasan diriwayatkan bahwa ia berkata:”Hudzail bin Hafshah
biasa mengumpulkan kayu bakar pada musim panas untuk dikuliti. Ia juga mengambil
bambu dan membelahnya.Hafshah (ibunya) berkata:”Aku tinggal mendapatkan enaknya
saja. Dan bila datang musim dingin, dia membawakan tungku dan meletakkannya
dibelakang punggungku, sementara aku sendiri berdiam di tempat shalatku.
Kemudian dia duduk, membakar kayu bakar yang sudah dikupas kulitnya berikut
bambu sehingga telah dibelah-belah untuk dijadikan bahan bakar sehingga asapnya
tidak mengganggu, tetapi bisa menghangatkan tubuhku.Demikianlah waktu berlaku
menurut kehendak Allah” Hafshah melanjutkan:”Sebenarnya ada yang bersedia
mencukupi kebutuhannya, kalau dia mau.”Ia melanjutkan lagi:”Dan kadangkala aku
ingin mendatanginya, lalu kukatakan kepada anakku itu:”Wahai anakku, kamu bisa
pulang dulu kerumah istrimu” Setelah itu aku memberitahukan kepada anakku itu
apa yang menjadi kebutuhannya, lalu aku membiarkannya”

Hafshah melanjutkan kisahnya:”Ketika anakku itu menjelang wafatnya, Allah
memberikan kepadanya kesabaran yang begitu tinggi, hanya saja aku merasakan
suatu ganjalan yang tidak bisa hilang” Ia melanjutkan:”Suatu malam aku membaca
ayat dalam surat An-Nahl berikut:

”Dan janganlah kamu tukar perjanjianmu dengan Allah dengan harga yang sedikit
(murah), sesungguhnya apa yang ada di sisi Allah, itulah yang lebih baik bagimu,
jika kamu mengetahui. Apa yang dari sisimu akan lenyap, dan apa yang ada disisi
Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang yang
sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”
(An-Nahl:95-96)
Aku terus mengulang-ulang ayat tersebut, hingga Allah
menghilangkan kegundahan dalam hatiku”

Hisyam berkata:”Beliau memiliki unta bersusu banyak dan segar. Hafshah
mengisahkan:”Dia pernah mengirimkan kepadaku susu perasan disuatu pagi. Aku
berkata:Hai, anakku, kamu tentu tahu bahwa aku sedang tidak bisa meminumnya, aku
sedang puasa”Dia menanggapi ucapanku:
”Wahai Ummu Hudzail, sesungguhnya susu
yang paling bagus adalah yang sempat bermalam di tetek unta. Kalau engkau mau,
silahkan beri orang yang kamu suka”

Dikutip dari:
Panduan Akhlak Salaf, hal:143-145, Abdul Aziz Nashir
Al-Jalil,At-Tibyan, Solo,September 2000.

[baca selengkapnya...]

Tidak Jadi Mencuri Dapat Istri

July 27, 2003. Dikirim dalam Uncategorized | Comments Off

Di Damaskus, ada sebuah mesjid besar, namanya mesjid
Jami’ At-Taubah. Dia adalah sebuah masjid yang penuh keberkahan. Di dalamnya ada
ketenangan dan keindahan. Sejak tujuh puluh tahun, di masjid itu ada seorang
syaikh pendidik yang alim dan mengamalkan ilmunya. Dia sangat fakir sehingga
menjadi contoh dalam kefakirannya, dalam menahan diri dari meminta, dalam
kemuliaan jiwanya dan dalam berkhidmat untuk kepentingan orang lain.

Saat itu ada pemuda yang bertempat di sebuah kamar dalam masjid. Sudah dua
hari berlalu tanpa ada makanan yang dapat dimakannya. Dia tidak mempunyai
makanana ataupun uang untuk membeli makanan. Saat datang hari ketiga dia merasa
bahwa dia akan mati, lalu dia berfikir tentang apa yang akan dilakukan.
Menurutnya, saat ini dia telah sampai pada kondisi terpaksa yang membolehkannya
memakan bangkai atau mencuri sekadar untuk bisa menegakkan tulang punggungnya.
Itulah pendapatnya pada kondisi semacam ini.

Masjid tempat dia tinggal itu, atapnya bersambung dengan atap beberapa rumah
yang ada disampingnya. Hal ini memungkinkan sesorang pindah dari rumah pertama
sampai terakhir dengan berjalan diatas atap rumah-rumah tersebut. Maka, dia pun
naik ke atas atap masjid dan dari situ dia pindah kerumah sebelah. Di situ dia
melihat orang-orang wanita, maka dia memalingkan pandangannya dan menjauh dari
rumah itu. Lalu dia lihat rumah yang di sebelahnya lagi. Keadaannya sedang sepi
dan dia mencium ada bau masakan berasal dari rumah itu. Rasa laparnya bangkit,
seolah-olah bau masakan tersebut magnet yang menariknya.

Rumah-rumah dimasa itu banyak dibangun dengan satu lantai, maka dia melompat
dari atap ke dalam serambi. Dalam sekejap dia sudah berada di dalam rumah dan
dengan cepat dia masuk ke dapur lalu mengangkat tutup panci yang ada disitu.
Dilihatnya sebuah terong besar dan sudah dimasak. Lalu dia ambil satu, karena
rasa laparnya dia tidak lagi merasakan panasnya, digigitlah terong yang ada
ditangannya dan saat itu dia mengunyah dan hendak menelannya, dia ingat dan
timbul lagi kesadaran beragamanya. Langsung dia berkata, ‘A’udzu billah! Aku
adalah penuntut ilmu dan tinggal di mesjid , pantaskah aku masuk kerumah orang
dan mencuri barang yang ada di dalamnya?’ Dia merasa bahwa ini adalah kesalahn
besar, lalu dia menyesal dan beristigfar kepada Allah, kemudian mengembalikan
lagi terong yang ada ditangannya. Akhirnya dia pulang kembali ketempat semula.
Lalu ia masuk kedalam masjid dan mendengarkan syaikh yang saat itu sedang
mengajar. Karena terlalu lapar dia tidak dapat memahami apa yang dia dengar.

Ketika majlis itu selesai dan orang-orang sudah pulang, datanglah seorang
perempuan yang menutup tubuhnya dengan hijab -saat itu memang tidak ada
perempuan kecuali dia memakai hijab-, kemudian perempuan itu berbicara dengan
syaikh. Sang pemuda tidak bisa mendengar apa yang sedang dibicarakannya. Akan
tetapi, secara tiba-tiba syaikh itu melihat ke sekelilingnya. Tak tampak olehnya
kecuali pemuda itu, dipanggilah ia dan syaikh itu bertanya, ‘Apakah kamu sudah
menikah?’, dijawab, ‘Belum,’. Syaikh itu bertanya lagi, ‘Apakah kau ingin
menikah?’. Pemuda itu diam. Syaikh mengulangi lagi pertanyaannya. Akhirnya
pemuda itu angkat bicara, ‘Ya Syaikh, demi Allah! Aku tidak punya uang untuk
membeli roti, bagaimana aku akan menikah?’. Syaikh itu menjawab, ‘Wanita ini
datang membawa khabar, bahwa suaminya telah meninggal dan dia adalah orang asing
di kota ini. Di sini bahkan di dunia ini dia tidak mempunyai siapa-siapa kecuali
seorang paman yang sudah tua dan miskin’, kata syaikh itu sambil menunjuk
seorang laki-laki yang duduk di pojokkan. Syaikh itu melanjutkan pembicaraannya,
‘Dan wanita ini telah mewarisi rumah suaminya dan hasil penghidupannya.
Sekarang, dia ingin seorang laki-laki yang mau menikahinya, agar dia tidak
sendirian dan mungkin diganggu orang. Maukah kau menikah dengannya? Pemuda itu
menjawab ‘Ya’. Kemudian Syaikh bertanya kepada wanita itu, ‘Apakah engkau mau
menerimanya sebagai suamimu?’, ia menjawab ‘Ya’. Maka Syaikh itu mendatangkan
pamannya dan dua orang saksi kemudian melangsungkan akad nikah dan membayarkan
mahar untuk muridnya itu. Kemudian syaikh itu berkata, ‘peganglah tangan
isterimu!’ Dipeganglah tangan isterinya dan sang isteri membawanya kerumahnya.
Setelah keduanya masuk kedalam rumah, sang isteri membuka kain yang menutupi
wajahnya. Tampaklah oleh pemuda itu, bahwa dia adalah seorang wanita yang masih
muda dan cantik. Rupanya pemuda itu sadar bahwa rumah itu adalah rumah yang tadi
telah ia masuki.

Sang isteri bertanya, ‘Kau ingin makan?’ ‘Ya’ jawabnya. Lalu dia membuka
tutup panci didapurnya. Saat melihat buah terong didalamnya dia berkata: ‘heran
siapa yang masuk kerumah dan menggigit terong ini?!’. Maka pemuda itu menangis
dan menceritakan kisahnya. Isterinya berkomentar, ‘Ini adalah buah dari sifat
amanah, kau jaga kehormatanmu dan kau tinggalkan terong yang haram itu, lalu
Allah berikan rumah ini semuanya berikut pemiliknya dalam keadaan halal. Barang
siapa yang meninggalkan sesuatu ikhlas karena Allah, maka akan Allah ganti
dengan yang lebih baik dari itu.

(Sumber: Alsofwah.or.id)

[baca selengkapnya...]

Arsip