Arsip selama bulan July, 2003

Penasihat yang Penuh Kasih Sayang

July 27, 2003. Dikirim dalam Uncategorized | Comments Off

Diriwayatkan oleh Sufyan Ats-Tsuary Rahimahullah bahwa Abu Dzar Radhillahu
anhu berdiri di sisi Ka’bah seraya berkata : ” Wahai Manusia, saya adalah Jundab
Al-Ghifary Sahabat Rasulullah Shollalahu ‘Alayhi wa Sallam, kemarilah kalian
untuk menemui saudara kalian yang menasehati dengan penuh kasih sayang.” Maka
tatkala mereka berkumpul disekelilingnya, Abu Dzar bertanya: ”Bukankah kalian
tahu bahwa jika salah satu di antara kalian ingin berpergian maka dia akan
mempersiapkan bekal yang layak baginya dan menyampaikannya ke tempat yang ia
tuju?”

Mereka menjawab: ”Benar, memang demikian seharusnya wahai Abu Dzar.”

Abu Dzar pun berkata: ”Jika demikian, maka ketahuilah bahwa perjalanan di
hari kiamat lebih jauh dari apa yang kalian tuju di dunia ini, maka ambillah
bekal yang dapat menyelamatkan kalian.”
Mereka bertanya: ”Apakah bekal yang
layak kami persiapkan untuk perjalanan tersebut wahai sahabat Rasulullah
Shollalahu ‘Alayhi wa Sallam?” Beliau menjawab: ”Berhajilah kalian untuk
menghadapi urusan yang agung, shaumlah kalian di hari yang panas untuk
menghadapi lamanya berdiri di padang Mahsyar dan sholatlah dua rekaat di
kegelapan malam karena kubur itu menakutkan.” Mereka berkata: ”Semoga Allah
membalas kebaikanmu wahai Abu Dzar, tambahkanlah nasihat anda untuk kami.”

Lalu beliau menambahkan: ”Berkatalah dengan ucapan yang baik dan jangan
tanggapi ucapan buruk untuk menghadapi saat sendiri di padang Mahsyar,
bersedekalah dengan hartamu, agar kalian selamat dari kesusahan di hari
itu.”

Mereka berkata: ”Alangkah bagusnya nasehat anda wahai sahabat Rasulullah,
teruskanlah nasihat ini!” Beliau melanjutkan: ”Jadikan dunia untuk majelis dua
hal, majelis untuk memburu akhirat dan majelis untuk mencari yang halal. Adapun
yang ketiga, akan mendatangkan kemadharatan dan tiada memberikan manfaat bagimu.
Jadikan harta milikmu menjadi dua bagian. Bagian pertama sebagai nafkah yang
halal bagi keluargamu dan bagian kedua untuk bekal akhiratmu, selain itu akan
mendatangkan madharat bagimu dan tidak akan memberikan manfaat padamu.” Wahai
manusia, bisa jadi rasa tamak dapat membunuhmu sedangkan kamu tak mampu
mencegahnya.”

Sahabat yang agung ini telah menunaikan kewajiban dengan sebaik-baiknya,
mengutaraakan dengan tegas kalimat yang benar dimanapun beliau berada. Dalam
nasihatnya, beliau mengaitkan antara ibadah dengan akhlak. Beliau menyalurkan
harta pada tempat yang tepat, ikut andil dalam memperbaiki masyarakat, memenuhi
kebutuhannya dan melarang kebakhilan, menumpuk harta dan mengabdi kepada
harta

Sudah semestinya pedapatan itu berasal dari yang halal, kemudian digunakan
untuk nafkah yang wajib atau sedekah jariyah demi terealisasinya takaful (
bahu-membahu) dan keseimbangan dalam masyarakat muslim, sedangkan selain harta
yang demikian itu maka akan mendatangkan madharat dan tiada manfaat, sebagaimana
firman Allah Subhanahu wa Ta’Ala yang artinya :

”Dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya
sendiri dan Allah-lah yang maha kaya sedangkan kamulah orang yang berkehendak
(kepada-Nya).” (Muhammad : 38)

Demikianlah nasehat dari saudara yang menasihati dengan penuh kasih sayang
sebagaimana yang digambarkan Abu Dzar sendiri. Beliau menasihati mereka untuk
berbekal taqwa dan amal shalih. Lalu beliau memberikan rincian bekal yang
bermanfaat bagi mereka, yakni ibadah yang khusyu’ dan tulus, menjauhi bencana
lisan, mengarahkan semangat untuk mendapatkan yang halal, atau beramal untuk
akhirat. Sungguh tidak ada lagi kejujuran, nasihat dan kasih sayang yang lebih
besar dari itu

Diambil dari Kitab Haakadza.. Tahaddatsas Salaf , Dr. Musthafa Abdul
Wahid

[baca selengkapnya...]

Nabi Yahya ‘Alaihissalam dalam Al-Quran

July 27, 2003. Dikirim dalam Uncategorized | Comments Off

Syaikh Asy-Syinqithi berkata:
”Hai Yahya, ambillah
Al-Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh.” (QS. Maryam(19) :12)

Kalimat ‘ambillah Al-Kitab (Taurat)’ berarti mengambilnya dengan
sungguh-sungguh dan berusaha keras. Ini bisa dilakukan setelah sebelumnya
memahami isi Taurat dengan benar, lalu beramal dengannya dalam semua aspek,
mengimani ajarannya, menghalalkan sesuatu jika memang dihalalkan, dan
mengharamkan sesuatu jika memang itu diharamkan, mengamalkan aturan/tata
cara/syari’atnya, mengambil pelajaran dari kisah-kisah di dalamnya, dan
melaksanakannya dalam segala cara. Dan sebagian besar mufasirin (ahli tafsir)
mengatakan bahwa yang dimaksud ‘Al-Kitab’ di sini adalah Taurat.

”Dan Kami berikan kepadanya hikmah selagi ia masih kanak-kanak.” (QS.
Maryam(19) :12)

Para ulama berbeda pendapat mengenai ‘hikmah’, namun semuanya cenderung untuk
dekat pada arti satu hal, dimana ALlah memberikan pemahaman Taurat kepadanya,
sehingga dia dapat mengerti dan beramal dengannya meskipun dia masih kecil.

”dan rasa belas kasihan yang mendalam dari sisi Kami” (QS. Maryam(19)
:13)

Kalimat ini disebutkan setelah kata ‘hikmah’. ‘Hanaan’ (rasa belas kasihan)
berarti kemurahan, perasaan kasih, dan empati yang ada pada dirinya. Dan kata
ini banyak digunakan orang Arab merujuk pada kemurahan dan belas kasihan,
seperti perkataan mereka, ”Hanaanak wa hanaaniyka yaa Rabb”, yang artinya ‘Saya
memohon belas kasihmu, ya Rabb’.

”dan kesucian (dari dosa)” (QS. Maryam(19) :13)

Kalimat ini disebutkan setelah yang di atas, dan berarti bahwa dia bebas dari
dosa dan ketidaktaatan, karena dia menaati ALlah dan mendekatkan diri kepada
ALlah dengan hal-hal yang diridhai-Nya.

”Dan ia adalah seorang yang bertaqwa” (QS. Maryam(19) :13)

Ini berarti bahwa Nabi Yahya menaati perintah dari Rabb-nya dan menghindari
apa-apa yang dilarang-Nya. Jadi, dia tidak pernah melakukan dosa satu kalipun
dan tidak pernah disalahkan atas apa yang diperbuatnya.

”dan banyak berbakti kepada kedua orang tuanya,” (QS. Maryam(19) :14)

Kata ‘barr’ (berbakti) berarti melakukan sebuah kebaikan, yaitu: Kami
menjadikannya berbakti kepada orang tuanya, misalnya dengan melakukan kebaikan
dan memperlakukan keduanya dengan akhlaq sebaik-baiknya.

”dan bukanlah ia seorang yang sombong lagi durhaka” (QS. Maryam(19) :14)

Ini berarti bahwa Nabi Yahya tidak sombong dalam ketaatannya kepada ALlah
atau ketaatannya kepada orang tua. Beliau sangat taat kepada ALlah dan sangat
rendah hati kepada orang tuanya. Ini menurut pendapat Ibnu Jarir. ‘Jabbar’
(sombong) berarti seseorang yang suka berbuat dhalim kepada orang lain dan
merendahkan mereka. Siapapun yang sombong terhadap orang lain dan melakukan
kekerasan kepada mereka, maka dia dinamakan ‘jabbaar’.

”Salam atas dirinya pada hari ia dilahirkan, dan pada hari ia meninggal dan
pada hari ia dibangkitkan hidup kembali.” (QS. Maryam(19) :15)

Ibnu Jarir berkata, ‘Salam atas dirinya’ berarti dia selamat dan aman. Arti
yang lengkap dari ‘Salam atas dirinya pada hari ia dilahirkan’ adalah salam dari
ALlah untuk Nabi Yahya, dan itu berarti keamanan dan keselamatan.

Pada Surat Ali-Imran, ALlah berfirman:
”… menjadi ikutan, menahan diri
(dari perempuan) dan seorang Nabi, dari keturunan orang-orang bertaqwa” (Q.S.
Ali Imran(3) :39)

Kata ‘sayyid’ (yang menjadi ikutan) berarti adalah seseorang yang ditaati dan
diikuti oleh sejumlah besar manusia.
Kata ‘husur’ (menahan diri) berarti
bahwa beliau menjaga dirinya sendiri dari perempuan, meskipun beliau mampu
melakukannya, sebagai bentuk kepatuhan kepada ALlah. Hal ini diperbolehkan
menurut ajaran/syari’at yang dibawanya, sedangkan Sunnah Muhammad RasuluLlah
adalah untuk menikah, bukan menjadi bujangan untuk selamanya…

Pada frase ‘seorang Nabi, dari keturunan orang-orang bertaqwa’, kata Nabi
berasal dari kata ‘naba’, yang artinya berita penting, karena wahyu adalah
berita yang penting dari ALlah. Orang-orang bertaqwa adalah mereka yang iman,
amal, perkataan, dan niatnya lurus. Ketaqwaan berlawanan artinya dari
kemaksiatan atau pelanggaran. ALlah menjelaskan bahwa Yahya adalah seorang yang
bertaqwa dan Dia menceritakan pula nabi-nabi lain dengan cara yang hampir serupa
pada Surat Al-An’am, dimana ALlah berfirman:
”dan Zakaria, Yahaya, ‘Isa, dan
Ilyas. Semuanya termasuk orang-orang yang bertaqwa” (Q.S. Al-An’am(6) :85)

terjemahan dari www.islam-qa.com
(Question. 22248), adaptasi dari Adwaa’ al-Bayaan,
4/245-252

[baca selengkapnya...]

Gadis Amerika Memeluk Agama Islam

July 27, 2003. Dikirim dalam Uncategorized | Comments Off

Hajar adalah nama baru bagi YAMILA, seorang gadis Amerika berumur 28 tahun, mahasiswi Missouri University, Columbia, jurusan Ilmu Sosial.Dua Tahun yang lalu ia mulai mempelajari islam dengan sungguh-sungguh dan mendalami mengenai “apa hakikat islam itu”.Masalah ini adalah masalah yang sulit yang belum pernah dijumpai di Amerika yang materialistis itu.Setelah dua tahun mendalami islam ia memproklamirkan dirinya memeluk agama islam dan mengubah namnya Yamila menjadi Hajar.Ia mencintai nama itu karena ada hubungannya dengan islam.

[baca selengkapnya...]

Akibat Berbuat Sombong

July 27, 2003. Dikirim dalam Uncategorized | Comments Off

Kisah ini merupakan pengalaman pribadi dari seorang ukhti muslimah yang merupakan teman ana di Sydney. Beliau seorang muslimah kebangsaan Australia dalam mempelajari islam jangan ditanya semangatnya.Sampai beliau berusaha untuk tinggal di Saudi bersama dengan suaminya yang kebangsaan Mesir untuk menimba ilmu disana.

[baca selengkapnya...]

Bagaimana Bila Si Kecil Keracunan?

July 27, 2003. Dikirim dalam Uncategorized | Comments Off

Terkadang dalam mengurus balita banyak terjadi hal-hal
yang tidak kita inginkan.Misalnya saja buah hati kita menelan sesuatu yang
mengakibatkan keracunan.Keracunan yang terjadi umumnya karena faktor ketidak
sengajaan dalam penggunaan.

Keracunan seperti ini seringkali terjadi pada anak-anak balita yang belum
tahu bahayanya.Jenis bahannya beragam yang dimana biasanya sering digunakan
disekitar rumah kita.Seperti minyak tanah,detergent,bahan pembersih dan
lain-lainnya. Nah,..bagaimana bila hal itu menimpa pada buah hati kita??nah
ikuti tips-tips berikut ini…

1.Keracunan Minyak Tanah & Bensin

Keracunan minyak tanah dan bensin berbahaya bagi anak bila tidak segera
ditolong.Keracunan minyak tanah atau bensin dapat terjadi karena anak meminum
atau menghirup secara sengaja atau tidak sengaja.Keracunan bahan ini akan
menyebabkan anak mengalami peradangan dan pembengkakan paru-paru.

Gejalanya:
Keracunana ini akan menyebabkan mulut terasa seperti terbakar
yang diikuti dengan mual dan muntah-muntah, penglihatan kabur, kadang diare
dengan kotoran mengandung darah serta mabuk dan kehilangan kesadaran.

Pengobatan:
Untuk mengobati jenis keracunan ini sebaiknya orangtua
mengupayakan agar anak tidak muntah.Bila anak muntah akan menyebabkan rusaknya
sistem lambung dan paru-paru.Sebaiknya penderita segera dipindahkan ketempat
yang berudara bersih dan diberi minum 2 gelas susu, es krim, atau 1 sendok
minyak kelapa.Bila perlu, penderita diberi pernapasan buatan.Selanjutnya
penderita segera dibawa kerumah sakit dengan sikap setengah telungkup dan kepala
agak miring kebawah.

2.Keracunan Detergent

Detergent umumnya digunakan untuk mencuci alat-alat rumah tangga. Bahan-bahan
penyusun detergent mengandung racun yang berbahaya bila ditelan atau
diminum.

Gejalanya:
Umumnya anak yang keracunan ini akan mengalami muntah-muntah,
sakit kepala hebat, sakit perut dan diare yang terus menerus dan
kejang-kejang.

Pengobatan:
Untuk mengatasi anak yang keracunan detergent, berilah ia
minum 4-7 gelas air putih lalu 2 gelas susu (usahakan susu segar).Untuk
menghindari hal-hal yang tidak diinginkan segeralah bawa buah hati kita kerumah
sakit atau puskesmas.

3.Keracunan Bahan Pembersih (lysol)

Banyak iburumah tangga menggunakan bahan pembersih ini yang tergolong dalam
larutan basa.Selain bahan pembersih yang sejenis dengan ini adalah kapur tohor
dan amonia cair.

Gejalanya:
Penderita yang keracunan bahan ini akan menunjukkan gejala
mual, muntah, dan sulit menelan atau berbicara, nafas terasa tersumbat dan
bahkan terkadang bisa terjadi sikecil jatuh pingsan.

Pengobatan:
Anak yang tertelan larutan ini dapat ditolong dengan
menetralkan larutan tersebut.Namun, tidak diperkenankan memuntahkan larutan yang
sudah tertelan. Sebaiknya penderita diberi minum air cuka encer (1 bagian cuka
dengan 6 bagian air) atau air jeruk peras (3-4 buah dalam segelas air).Setelah
itu penderita diberi minum 2 sendok makan minyak kelapa.Selanjutnya anak segera
dibawa kerumah sakit atau puskesmas terdekat.Bila larutan ini mengenai mata
sikecil, obati dengan meregangkan pelupuk mata anak selebar-lebarnya dan rendam
selama 15-20 menit dalam air bersih yang mengalir.

Nah, semoga tips-tips diatas bermanfaat bagi ukhti semua terutama ummahat
yang memiliki buah hati.

Dikutip dari:Mencegah dan Mengatasi Cedera pada Balita,Penerbit
Trubus.

[baca selengkapnya...]

Ketika Ali dan Fathimah Inginkan Pembantu

July 27, 2003. Dikirim dalam Uncategorized | Comments Off

Sebagaimana diketahui, Muhammad RasuluLlah sangat sayang
dan cinta kepada putrinya, Fathimah Az-Zahra. Sampai-sampai RasuluLlah
menggambarkan kecintaannya kepada Fathimah tatkala beliau berkhutbah di
mimbar:
”Sesungguhnya Fathimah adalan bagian dagingku, maka barangsiapa yang
membuatnya marah, berarti telah menjadikan aku marah”

Namun, dengan kapasitas kecintaan Nabi yang sangat mendalam kepada Fathimah,
beliau lebih mendahulukan pemberiannya kepada orang-orang fakir dan yang lebih
membutuhkan daripada Fathimah, sekalipun dia menghadapi sulit dan susahnya
kehidupan. Fathimah dan suaminya, Ali bin Abi Thalib memang hidup dalam
kehidupan yang sangat susah payah. Dia menarik penggiling hingga membekas di
tangannya. Juga mengambil air dengan qirbah dan dipikulnya hingga membekas di
pundaknya, dan menyapu rumah hingga kotor pakaiannya. Suaminya adalah orang yang
fakir, sehingga tidak dapat mencarikan pembantu yang akan membantu pekerjaan
Fathimah yang melelahkan. Sehingga Ali bin Abi Thalib merasa tidak enak setiap
kali melihat istrinya bersusah payah dan bekerja keras, sehingga beliau juga
turut membantu istrinya pada sebagian pekerjaan yang memungkinkan baginya.

Ali bin Abi Thalib tergerak untuk mencari penyelesaian, hingga tatkala ada
kesempatan, pada suatu hari dia berkata kepada istrinya, bahwa dia melihat ayah
Fathimah, yaitu Nabi telah kembali dari suatu peperangan dengan membawa banyak
ghanimah dan tawanan. Ali berkata, ”Sungguh, saya merasa susah, wahai Fathimah
hingga sesak dadaku. Saya melihat RasuluLlah membawa tawanan perang, maka
mintalah kepada beliau agar dapat membantu pekerjaanmu”. Fathimah berkata, ”Akan
aku kerjakan, insya’ALlah”. Kemudian Fathimah mendatangi Nabi dan disambut Nabi
dengan sabdanya, ”Ada keperluan apa engkau datang kemari, wahai anakku?”
Fathimah menjawab, ”Aku datang untuk mengucapkan salam kepada ayah”. Fathimah
merasa malu untuk mengutarakan permintaannya sehingga iapun kembali ke rumah.
Kemudian, bersama-sama Ali, dia mendatangi RasuluLlah lagi untuk mengungkapkan
permasalahannya.

Dengan ketegasannya, maka RasuluLlah bersabda:
”Tidak, demi ALlah, aku
tidak akan memberikannya kepada kalian, sedangkan aku biarkan ahlus-suffah dalam
keadaan kosong perut mereka. Aku tidak mendapatkan apa-apa untuk aku berikan
kepada mereka, akan tetapi aku akan menjual tawanan tersebut, dan aku berikan
hasilnya kepada mereka”.

Maka kembalilah ratu ahli jannah, putri RasuluLlah, sedangkan dia tidak
mendapatkan sesuatu apapun yang ada pada ayahnya. Kemudian RasuluLlah pun
mendatangi rumahnya, dan mendapatkan mereka sedang berselimut, yang apabila
ditutupkan kepalanya, maka terbukalah kakinya, dan apabila ditutupkan kakinya,
maka terbukalah kepalanya. Keduanya hendak bangkit untuk menyambut Nabi, namun
beliau bersabda:
”Tetaplah di tempat kalian berdua…! Maukah aku beritahukan
kepada kalian tentang sesuatu yang lebih baik dari apa yang kalian minta
kepadaku tadi?” Mereka berdua menjawab:”Mau ya RasuluLlah !”

Kemudian beliau bersabda:
”Kuajarkan kepada kalian, kata-kata yang
diajarkan Jibril kepadaku. Ucapkanlah setiap selesai sholat fardhu, SubhanaLlah
10 kali, AlhamduliLlah 10 kali, ALlahu Akbar 10 kali. Apabila kalian hendak
tidur, maka bacalah SubhanaLlah 33 kali, AlhamduliLlah 33 kali, dan ALlahu Akbar
33 kali. Hal itu lebih baik bagi kalian berdua daripada seorang pembantu”

Maka Ali berkata, ”Demi ALlah, aku tidak meninggalkan kata-kata ini sejak
beliau mengajarkannya kepadaku.” Salah seorang shahabat bertanya, ”Tidak kau
tinggalkan juga tatkala malam di perang shiffin?” Beliau menjawab, ”Walaupun di
malam perang shiffin”
(H.R. Muslim, no. 2727 – 2728 )

Diambil dari:
Mengenal Shahabiyah Nabi, Pustaka At-Tibyan, Mahmud Mahdi
Al-Istanbuli dan Musthafa Abu An-Nashr Asy-Syalabi, cet 2, Januari
2002

[baca selengkapnya...]

Arsip