Arsip selama bulan July, 2003

Mendisiplinkan Anak Menuju Surga

July 12, 2003. Dikirim dalam Uncategorized | Comments Off

Mendidik anak adalah tugas orang tua.
ALlah telah memerintahkannya dalam Quran, dan Rasul-Nya juga demikian.

ALlah berfirman:

”Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim:6)

Imam At-Tabari berkata,

Di sini ALlah berfirman: Hai orang-orang yang beriman kepada ALlah dan Rasul-Nya, ”peliharalah dirimu” dengan saling mengajarkan apa-apa yang akan menjaga siapapun yang melakukannya dari api neraka, jika hal itu dilakukan dalam rangka ketaatan kepada ALlah, dan mereka pun melakukannya dalam rangka ketaatan kepada ALlah. Frase ”dan keluargamu dari api neraka” berarti, mengajari keluargamu untuk melakukan ketaatan kepada ALlah, sehingga dapat menjaga mereka dari api neraka. (Tafsir At-Tabari, 18/165)

Al-Qurtubi berkata,

Muqaatil berkata: Ini adalah tugas/perintah dimana setiap manusia memiliki kewajiban terhadap dirinya sendiri, anak-anaknya, keluarganya, dan budak laki-laki dan perempuannya. Ilkiya berkata: Kita harus mengajari anak-anak dan keluarga kita dalam hal agama dan kebaikan, dan apa yang tidak dapat mereka lakukan tanpa aturan. Inilah yang dimaksud dalam firman Allah, ”Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.” (Thoha:132)

Dan ALlah berfirman kepada Rasul-nya:

”Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat,” (Asy-Syu’ara: 214)

Rasul pun bersabda, ”Dan perintahkanlah mereka untuk sholat saat berusia 7 tahun”(Tafsir Al-Qurtubi, 18/19)

Seorang muslim -siapapun dia- adalah dai yang menyeru manusia kepada ALlah, sehingga orang pertama yang harus dia seru adalah anak-anak dan keluarganya yang dekat dengannya. Ketika ALlah menyuruh Rasul untuk berdakwah, ALlah berfirman,

”Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat” (Asy-Syu’ara: 214)

karena mereka adalah orang pertama yang seharusnya menerima kebaikan kita.

Bagian dari tugas kita adalah mendidik mereka sejak kecil agar mencintai ALlah dan Rasul-Nya dan cinta kepada aturan Islam. Anda haruslah menjelaskan bahwa ALlah-lah yang telah menciptakan surga dan neraka; dan bahwa neraka-Nya sangatlah panas, sedangkan bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Ada sebuah cerita yang mengandung pelajaran yang cukup penting.

Ibnul Jauzy berkata,

”Ada seorang raja yang sangat kaya. Dia hanya memiliki seorang anak perempuan yang sangat disayanginya, dan membiarkan anaknya itu menikmati segala kesenangan. Hal ini pun berlangsung cukup lama. Di samping raja, hiduplah seorang ahli ibadah yang sangat tekun beribadah, dan suatu malam, dia mengeraskan bacaannya,

”Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu” (At-Tahrim:6).

Ketika gadis itu mendengar bacaannya, ia menyuruh mereka untuk berhenti. Namun, mereka tidak mau berhenti. Ahli ibadah itupun mengulangi bacaan ayat tersebut, sedangkan gadis itu tetap menyuruh mereka diam, namun mereka tidak menghiraukannya. Akhirnya dia menekan lehernya dan menyobek bajunya, dan pergi bercerita kepada ayahnya. Si ayah menghampirinya dan kemudian berkata, ”Ada apa denganmu malam ini? Mengapa engkau menangis?” Dia berkata, ”Saya ingin bertanya, demi ALlah… ayahku, katakanlah kepadaku, apakah ALlah memiliki neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu?” Si ayah menjawab, ”Ya”. Kemudian gadis itu bertanya lagi, ”Mengapa tidak ayah ceritakan kepadaku? Demi ALlah, saya tidak akan makan makanan yang enak atau tidur pada kasur empuk sampai saya tahu apakah saya masuk surga atau neraka” (Safwat al-Safwah, 4/437-438)

Wahai para orang tua…

Kita haruslah menjaga anak-anak kita dari tempat-tempat maksiat dan menyesatkan; jangan tinggalkan mereka tumbuh dengan segala sesuatu yang jelek, misalnya televisi dsb, karena jika kita berharap bahwa anak-anak kita akan tumbuh menjadi orang mukmin, tetapi kita malah membiarkan mereka seperti itu, maka hal itu sama saja bohong. Dan mulai ajarilah mereka sejak kecil, sehingga akan menjadi mudah bagi mereka di kala sudah dewasa, dan mereka pun menjadi terbiasa, sehingga mudah pula bagi kita untuk menyuruh mana yang benar dan mana yang salah, dan mereka pun akan menaati kita.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa RasuluLlah bersabda, ”Perintahkan anak-anakmu untuk sholat ketika mereka berusia 7 tahun, dan pukullah jika mereka tidak mau saat berusia 10 tahun, dan pisahkanlah tempat tidur mereka” (H.R. Abu Dawud, 495 dishahihkan oleh Syaikh Al-Albany dalam Shahihul Jami’ 5868)

Wahai para orang tua,

Seorang pendidik memang haruslah orang yang rendah hati, mampu bersabar, cekatan, tidak sering mendikte, menasehati dengan cara yang baik, menjauhi celaan, pukulan, dan amarah, kecuali jika anak tersebut sangat tidak patuh dan menolak perintah ayahnya dan mengabaikan tugas-tugasnya, serta melakukan hal2 yang haram. Pada kasus ini, maka memang lebih baik untuk bersikap lebih keras kepada mereka, namun tetap tidak membahayakan.

Dan ingatlah,

Menjaga dirimu dan keluargamu dari api neraka berarti mengingatkan mereka tentang api neraka. Disiplin itu mencakup nasehat, peringatan, ancaman, pukulan, memberi, dan berbuat baik. Dan mendisiplinkan seseorang yang baik tentu berbeda dengan mendisiplinkan seseorang yang sangat lalai. (Faid Al-Qadir, 5/257)

Ada sistem hukuman tersendiri dalam Islam, dan banyak sekali jenis hukuman dalam Islam, misalnya hadd, hukuman bagi pezina, pencuri, tukang fitnah, dsb. Semuanya itu bertujuan untuk meluruskan orang dan menghentikan kejahatan mereka. Berkaitan dengan ini, RasuluLlah menasehatkan agar para orang tua menghalangi jika anaknya hendak berbuat salah.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa RasuluLlah bersabda: ”Gantunglah cambukmu, sehingga seluruh anggota keluarga bisa melihatnya, untuk mendisiplinkan mereka” (H.R. Thabarani, 10/248; sanad hasan menurut al-Haitami dalam Majmu’ Al-Zaawaid, 8/106, dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albany dalam Shohihul Jami’).

Jadi, dalam mendidik anak, haruslah terdapat keseimbangan antara pemberian semangat dan pemberian peringatan. Hal paling penting adalah membuat lingkungan yang baik bagi tempat tinggal anak-anak, dengan menyediakan mereka sarana menuju ketaatan; yang mana berarti setiap pendidik anak haruslah yang memiliki komitmen terhadap agama, termasuk orang tuanya.

Dan salah satu cara yang bisa dilakukan orang tua untuk mendidik anaknya adalah dengan menggunakan tape untuk memperdengarkan kaset dalam memberi pelajaran, membaca Quran, khutbah dan pelajaran dari ulama, dan lain-lain.

Sumber:

(Bagaimana Mendapatkan Anak yang Beriman? ed. bhs Inggris )

   

 

 

[baca selengkapnya...]

Memperbaiki Birrul Walidain Kita

July 12, 2003. Dikirim dalam Uncategorized | Comments Off

Suatu hari ada seorang laki-laki datang menghadap
Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam. Dia bertanya, “Wahai Rasulullah,
aku mempunyai harta kekayaan dan anak. Sementara ayahku berkeinginan menguasai
harta milikku dalam pembelanjaan. Apakah yang demikian ini benar?” Maka jawab
Rasulullah, “Dirimu dan harta kekayaanmu adalah milik orang tuamu.”
(Riwayat Ibnu Majah dari Jabir bin Abdillah).< ?xml:namespace prefix = o ns
= 'urn:schemas-microsoft-com:office:office' />

Begitulah, syari’at Islam menetapkan betapa besar hak-hak
orang tua atas anaknya. Bukan saja ketika sang anak masih hidup dalam rengkuhan
kedua orang tuanya, bahkan ketika ia sudah berkeluarga dan hidup mandiri. Tentu
saja hak-hak yang agung tersebut sebanding dengan besarnya jasa dan pengorbanan
yang telah mereka berikan. Sehingga tak mengherankan jika perintah berbakti
kepada orang tua menempati ranking ke dua setelah perintah beribadah kepada
Allah dengan mengesakan-Nya. Allah berfirman, “Dan sembahlah Allah dan janganlah
kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada ibu
bapakmu.” (An-Nisa:36)

Birrul Walidain, Bagaimana
Caranya?

Sebagai anak, sebenarnya banyak hal yang dapat kita lakukan
untuk mengekspresikan rasa bakti dan hormat kita kepada kedua orang tua.
Memandang dengan rasa kasih sayang dan bersikap lemah lembut kepada mereka pun
termasuk birrul walidain. Allah berfirman, “Dan ucapkanlah kepada mereka
perkataan yang mulia, dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan
penuh kasih sayang.” (Al-Isra’:23)

Dalam kitab “Adabul Mufrad, Imam Bukhari mengetengahkan
sebuah riwayat bersumber dari Ibnu Jarir dan Ibnu Mundzir melalui Urwah,
menjelaskan mengenai firman Allah : “Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka
berdua dengan penuh kasih sayang.” Maka Urwah menerangkan bahwa kita seharusnya
tunduk patuh di hadapan kedua orang tua sebagaimana seorang hamba sahaya tunduk
patuh di hadapan majikan yang garang, bengis, lagi kasar.

Pada suatu ketika, ada seorang laki-laki datang menghadap
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dia bersama seorang laki-laki lanjut
usia. Rasulullah bertanya, ”Siapakah orang yang bersamamu?” Maka jawab laki-laki
itu, “Ini ayahku”. Rasulullah kemudian bersabda, “Janganlah kamu berjalan di
depannya, janganlah kamu duduk sebelum dia duduk, dan janganlah kamu memanggil
namanya dengan sembarngan serta janganlah kamu menjadi penyebab dia mendapat
cacian dari orang lain.” (Imam Ath-Thabari dalam kitab Al-Ausath)

Berbakti kepada orang tua tak terbatas ketika mereka masih
hidup, tetapi bisa dilakukan setelah mereka wafat. Hal itu pernah ditanyakan
oleh seorang sahabat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka
Rasulullah menjawab, “Yakni dengan mengirim doa dan memohonkan ampunan .
Menepati janji dan nadzar yang pernah diikrarkan kedua orang tua, memelihara
hubungan silaturahim sera memuliakan kawan dan kerabat orang taumu.” Demikian
Imam Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ibnu Hiban meriwayatkan bersumber dari Abu Asid
Malik bin Rabi’ah Ash-Sha’idi

Bukan dalam Syirik dan Maksiyat

Meski kita diperintah untuk taat dan patuh kepada mereka,
namun hal itu tak berlaku ketika keduanya memerintahkan kita untuk menyekutukan
Allah dan bermaksiyat kepada-Nya. Rasulullah bersabda,”Tidak ada ketaatan kepada
makhluk dalam bermaksiyat kepada Allah.” (Riwayat Ahmad)

Kita tentu  ingat
kisah seorang sahabat, Sa’ad bin Waqash yang diberi dua buah opsi oleh ibunya
yang masih musyrik: kembali kepada kemusyrikan atau ibunya akan mogok makan dan
,minum sampai mati. Ketika sang ibu tengah melakukan aksinya selama tiga hari
tiga malam, beliau berkata,”Wahai Ibu, seandainya Ibu memiliki 1000 jiwa
kemudian satu per satu meninggal, tetap aku tidak akan meninggalkan agama baruku
(Islam). Karena itu, terserah ibu mau makan atau tidak.” Melihat sikap Sa’ad
yang bersikeras itu maka ibunya pun menghentikan aksinya. Sehubungan dengan
peristiwa itu, Allah menurunkan ayat: “Dan jika keduanya memaksamu untuk
mempersekutukan-Ku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka
janganlah kamu mengikuti keduanya dan pergaulilah keduanya di dunia dengan
baik.” (Luqman:15). Jadi, kalau ortu ngajak ke arah kemusyrikan maka tidak wajib
kita mentaati mereka. Hanya saja sebagai anak tetap berkewajiban bergaul dengan
baik selama di dunia. Sikap santun harus senantiasa dijaga.

Awas: Durhaka!

Durhaka kepada orang tua (‘uquuqul walidain) termasuk dalam
kategori dosa besar. Bentuknya bisa berupa tidak mematuhi perintah, mengabaikan,
menyakiti, meremehkan, memandang dengan marah, mengucapkan kata-kata yang
menyakitkan perasaan, sebagaimana disinggung dalam Al-Qur’an: “Dan janganlah
sekali-kali kamu mengatakan ‘ah’ kepada orang tua.” (Al-Isra’ : 23). Jika
berkata ‘ah/cis/huh’ saja nggak boleh, apalagi yang lebih kasar daripada
itu.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
”Barangsiapa membuat hati orang tua sedih, berarti dia telah durhaka kepadanya.”
(Riwayat Bukhari). Dalam kesempatan lain Rasulullah bersabda, “Termasuk
perbuatan durhaka seseorang yang membelalakkan matanya karena marah.” (Riwayat
Thabrani).

Orang tua kita, siapa pun orangnya, memang harus dihormati,
apalagi jika beliau seorang muslim. Rasulullah pernah berpesan, “Seorang muslim
yang mempunyai kedua orang tua yang muslim, kemudian ia senantiasa berlaku baik
kepadanya, maka Allah berkenan membukakan dua pintu surga baginya. Kalau ia
memiliki satu orang tua saja, maka ia akan mendapatkan satu pintu surga terbuka.
Dan kalau ia membuat kemurkaan kedua orang tua maka Allah tidak ridha
kepada-Nya.” Maka ada seorang bertanya, “Walaupun keduanya berlaku zhalim
kepadanya?” Jawab Rasulullah, “Ya, sekalipun keduanya menzhaliminya.”

(Riwayat Bukhari)

Berhubungan dengan orang tua memang harus hati-hati. Jangan
sampai hanya karena emosi, kelalaian, ketidaksabaran plus rasa ego kita yang
besar, kita terjerumus ke dalam ‘uququl walidain yang berarti kemurkaan Allah.
Na’udzubillah. Bukankah dalam sebuah hadits Rasulullah pernah berpesan bahwa
keridhaan Allah berada dalam keridhaan orang tua, dan kemurkaan Allah berada
dalam kemarahan orang tua? Dus, selagi masih ada waktu dan kesempatan,
tunjukkanlah cinta, sayang, hormat, dan bakti kita kepada keduanya, hanya untuk
satu tujuan: meraih cinta, ampunan, pahala, dan ridha-Nya…

Wallahu A’lam.

 

 

 

 

   

 

 

[baca selengkapnya...]

Kewajiban Mendatangi Walimah

July 12, 2003. Dikirim dalam Uncategorized | Comments Off

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda yang artinya: “Jika salah seorang dari kamu diundang menghadiri acara walimah maka datangilah.” [HR. Bukhari]< ?xml:namespace prefix = o ns = "urn:schemas-microsoft-com:office:office" />

Imam Syafi’I dalam kitab Al Umm berkata: “Mendatangi walimah wajib hukumnya, yaitu walimah yang dikenal dengan sebutan walimatul ‘urs (walimah pernikahan).” Demikian yang dinukil Abu Ishaq Al Huwaini Al Atsary dalam “Bekal-Bekal Menuju Pelaminan Mengikuti Sunnah” .  

Syaikh Muhammad Shalih Al Utsaimin rahimahullah di dalam ”Fatwa-Fatwa Problematika Pernikahan” menjelaskan:

“Adapun apabila undangan itu berada di tempat yang berdekatan dengan tempat tinggalnya dan tidak ada bahaya bagi seseorang untuk menghadirinya, tidak berada di tempat mungkar yang ia tidak sanggup merubahnya dan orang yang mengundang itu sendiri yang mengatakannya: ”Wahai Fulan hadirlah.” Serta telah diketahuinya bahwa undangan itu tidak sekedar basa-basi belaka, maka dia wajib memenuhi undangannya dan barangsiapa tidak memenuhi undangannya, maka berarti dia telah bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya.

Sedangkan terhadap surat undangan yang hanya dibagi-bagikan itu (tanpa mempedulikan siapa orang yang diundang), maka kamu tidak wajib memenuhi undangannya kecuali jika yang mengundang itu terbukti secara meyakinkan bahwa ia secara serius mengundangnya. Hal ini karena banyak di antara orang yang membagi-bagikan kartu undangan tersebut tujuannya hanya untuk menginformasikan bahwa dia sedang mempunyai hajatan pernikahan dan dia tidak peduli apakah kamu akan hadir atau tidak. 

Berbeda apabila dia mengulangi undangan tersebut dengan telepon umpamanya atau langsung datang menemui kamu, maka kamu wajib memenuhi undangannya, dengan syarat-syarat sebagaimana yang telah kami sebutkan.”  [Fatwa-Fatwa Problematika Pernikahan hal. 39-40]

Boleh tidak hadir apabila ada udzur syar’I

Jika yang diundang memiliki alasan yang kuat, seperti sakit, perjalanan yang sangat jauh dan melelahkan, ataupun adanya udzur syar’I lainnya, ia diperbolehkan untuk tidak menghadiri undangan yang datang pada dirinya. 

Ibnu Abbas pernah tidak mengahadiri undangan karena sibuk mengurusi urusan pengairan. Ia berkata kepada orang-orang: “Datangilah undangan saudara kalian tersebut, sampaikanlah salam saya kepadanya dan kabarkan bahwa saya sedang sibuk

Undangan yang memerlukan safar

Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin rahimahullah pernah ditanya, “Apa yang harus aku perbuat jika diundang untuk menghadiri resepsi perkawinan yang membutuhkan perjalanan yang memberatkan?” 

Beliau rahimahullah menjawab, “Memenuhi undangan yang memerlukan safar, maka seseorang tidak diharuskan bersafar untuk tujuan tersebut apabila dalam safar itu terdapat masyaqoh (kesulitan-kesulitan) dan hanya menghabiskan waktu sementara manfaat yang diperoleh hanya sedikit. Kecuali apabila yang mengundang adalah kerabat dekat yang dikhawatirkan akan terputus hubungan kerabat apabila ia tidak mendatanginya. [Fatwa-Fatwa Problematika Pernikahan, hal.: 39-40]

==dari http://mobynuke.net/nikahku ==

   

 

 

[baca selengkapnya...]

Ketika Kita Tidak Diundang..

July 12, 2003. Dikirim dalam Uncategorized | Comments Off

Anda tidak diundang dalam suatu acara tertentu oleh Saudara, Teman, Kerabat, …???< ?xml:namespace prefix = o ns = "urn:schemas-microsoft-com:office:office" />

jangan bersedih dan jangan pula kecewa, apalagi sampai marah-marah, nge-gossip, atau perbuatan-perbuatan lainnya yang kurang baik …

Hendaknya kita selalu ingat bahwa dia memiliki hak untuk tidak mengundang kita sebagaimana juga dia memiliki hak untuk mengundang kita.

Mengundang ataupun tidak mengundang adalah hak dia.

Husnudhon … berprasangka baik pada Saudara kita itu … !!!

Kita cari udzur-udzur yang ada pada dirinya

…mungkin ini acara pribadi

…mungkin dia sedang pingin sendiri

…mungkin dia sedang tidak ingin kehadiranku

…bisa jadi tempatnya terbatas

…bisa jadi dana nya terbatas

…dia lebih tahu tentang acanya, siapa aja yang mesti diundang …

…dan lain-lain hal yang membuat kita berhusnudhon pada dirinya.

Kemudian… perlu kita bertanya pada diri kita,

adakah hak pada diri kita untuk selalu diundang oleh dirinya?

untuk selalu diikutsertakan pada setiap kegiatannya??

Atau …

Bisa jadi dia lupa atau Anda terlewatkan…

Kalau demikian halnya, coba hubungi dirinya, bisa via epon, sms, imel, ato yang lainnya.

Tanyakan tentang acaranya… klo sampai akhir pembicaraan dia tidak mengundang Anda, besar kemungkinan Anda memang sedang tidak ingin diundang.

Klo Anda termasuk ‘oarang yang vulgar’ tanyakan kepada dirinya: ”aku diundang gak neh, kok undangannya lom sampai??”

Ternyata memang tidak diundang??

Bersabarlah… berhusnudhon lah… cari udzur-udzur pada Saudara Anda itu..dengan demikian hati ini akan menjadi tenang dan

dapat berlapang dada … semoga.

Berlapang dada lah…jauhi ghibah … apalagi sampai menyebarkan issu atau gossip yang gak jelas juntrungannya.

Do’akanlah Saudara kita itu …

Do’a seorang muslim untuk saudaranya tanpa sepengetahuannya terkabulkan, di sisi kepalanya ada malaikat yang ditugaskan.

Setiap ia mendoakan kebaikan bagi saudaranya maka malaikat yang ditugaskan itu berkata: ”Amin, dan untukmu hal yang sama.” (Terjemah HR. Muslim)

Semoga bermanfaat …

Note: Kenyataan hidup emang terkadang pahit…tapi selalu ingat… pahit atau tidak…itu adalah qodar Allah Subhanahu wa Ta’ala.

terima kasih buat Saudaraku… yang telah mampu membuat aku untuk menulis hal ini.

Awalnya memang berat … tak diundang oleh Saudara tercinta … hiks

==diambil dari: http://mobynuke.net/nikahku ==

 

[baca selengkapnya...]

Ketika Kita Jadi Pengintai

July 12, 2003. Dikirim dalam Uncategorized | Comments Off

Terkadang sebagian kita… -mungkin karena rasa ingin tahu yang begitu tinggi, allahu ‘alam- < ?xml:namespace prefix = o ns = "urn:schemas-microsoft-com:office:office" />

ketika bertamu berkunjung …tak terkecuali ketika menghadiri acara walimah …

pingin melihat ada apa di sekitar kita…termasuk juga apa yang ditutupi oleh tuan rumah…

mencoba ingin tahu ada apa di ruangan lain…

mata kita asyik berkeliaran ke mana-mana…mengintai setiap sudut ruangan ….

telinga kita kita pasang dengan sebaik-baiknya..untuk menangkap apa saja yang bisa ditangkap…

 

Untuk sekedar mengingatkan…semoga bermanfaat…

simak terjemahan hadits di bawah ini….

Dari Abu Huraiarah radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: Abul Qosim Shalallahu ‘Alaihi wa Salam bersabda: ”Andaikan ada oarnag yang melihatmu di rumah tanpa izin, lalu engkau melemparnya dengan batu kecil lalu kamu cungkil matanya, maka tidak ada dosa bagimu.” [Terjemah HR. Bukhari]

=sumber: http://mobynuke.net/nikahku =

 

 

 

 

[baca selengkapnya...]

Doa yang Terlupa

July 12, 2003. Dikirim dalam Uncategorized | Comments Off

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwasanya suatu ketika Nabi melihat bekas kuning (dari minyak za’faran) terdapat di badan Abdur Rahman bin Auf, lalu beliau bertanya, “Apa ini?” Sesungguhnya saya telah menikah dengan seorang perempuan dengan maskawin seberat biji sawi dari emas, tukas Abdurrahman bin Auf. Lalu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengucapkan, “Barakallahu laka” (Semoga Allah memberkahimu).< ?xml:namespace prefix = o ns = "urn:schemas-microsoft-com:office:office" />

Mendo’akan kedua mempelai

Hendaknya orang yang menghadiri walimah mendo’akan mempelai dengan do’a:

Barokallahu laka wa baaroka ‘alaika wa jama’a bainakumaa fii khoir

artinya: Semoga Allah memberkahimu, semoga Allah memberkahi atasmu, dan mengumpulkan kamu berdua dalam kebaikan. (Riwayat Abu Darda dan Tirmidzi, Shahih)

Dr. Abi Maryam Majdi as Sayyid dalam “30 Pesan Nabi di Malam Pengantin” menjelaskan mengapa dalam do’a menggunakan idiom “ala” dalam “wa baaroka ‘alaika.” Hal itu dikarenakan yang dimaksudkan keberkahan tidak hanya kedua mempelai tetapi juga anak-anak dan keturunannya.

Mendo’akan tuan rumah, shahibul hajat

Di sunahkah mendo’akan tuan rumah dengan do’a:

Allahumaghfirlahum warhamhum wa baariklahum fiimaa rozatahum.”

Artinya: Ya Allah, ampunilah mereka, rahmatilah mereka dan berkahilah mereka dalam apa yang Kau rezekian kepada mereka. (Riwayat Muslim, Abu Daud, Ibnu Abi Syaibah)

Allahumma ath’im man ath’amani wasqi man saqooni

artinya: Ya Allah, berilah makan oarang yang telah memberiku makan, dan berilah minum orang yang telah memberiku minum. (Riwayat Muslim dan Hakim, Shahih)

Syaikh Mahmud Mahdi Al Istambuly di dalam “Pendidikan Keluarga dalam Islam” di bab “Kesunatan bagi orang yang menghadiri walimah,” setelah membawakan do’a untuk tuan rumah, beliau memberikan catatan kaki, “Di manakah doa-doa indah yang bisa melembutkan kebanyakan kamu muslimin ini? Sayang sekali kebanyakan para undangan lupa atau melupakan keharusan mendoakan para tuan rumah dengan kata-kata yang menyenangkan mereka dan menyejukkan dada mereka.”

==sumber: http://mobynuke.net/nikahku ==

   

 

 

[baca selengkapnya...]

Arsip