Arsip selama bulan March, 2004

Sejarah dan Keutamaan Puasa Asy-Syura

March 14, 2004. Dikirim dalam Uncategorized | Comments Off

Sesungguhnya hari Asyura (10 Muharram) meski
merupakan hari bersejarah dan diagungkan, namun orang tidak boleh berbuat bid’ah
di dalamnya. Adapun yang dituntunkan syariat kpd kita pada hari itu HANYALAH
BERPUASA, dengan dijaga agar jangan sampai tasyabbuh dengan orang
Yahudi.

 

“Orang2 Quraisy biasa berpuasa pada hari
asyura di masa jahiliyyah, Rasulullah pun melakukannya pada masa jahiliyyah.
Tatkala beliau sampai di Madinah beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan
umatnya untuk berpuasa.” (HSR Bukhari 3/454, 4/102, 244, 7/ 147 Muslim 2/792,
dll)

 

“Nabi tiba di Madinah, kemudian beliau melihat
orang-orang Yahudi berpuasa pada hari asyura. Beliau bertanya:”Apa ini?” Mereka
menjawab:”Sebuah hari yg baik, ini adalah hari dimana Allah menyelamatkan Bani
Israil dari musuh mereka, maka Musa berpuasa pada hari itu sebagai wujud syukur.
Maka beliau (rasulullah) menjawab:”Aku lebih berhak terhadap Musa daripada
kalian(Yahudi), maka kami akan berpuasa pada hari itu sebagai bentuk pengagungan
kami terhadap hari itu.” (HSR Bukhari 4/244, 6/429)

 

“Rasulullah ditanya tentang puasa Asyura,
beliau menjawab:”Puasa itu bisa menghapuskan dosa2 kecil pada tahun
kemarin.”(HSR Muslim 2/818-819)

 

Cara Berpuasa di Hari Asyura

 

1.  Berpuasa selama 3 hari tgl 9, 10, dan 11 Muharram

 

Berdasarkan  hadits Ibnu Abbas yg diriwayatkan oleh Imam
Ahmad dengan lafadz sebagaimana telah disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam al-Huda
dan al-Majd Ibnu Taimiyyah dlm al-Muntaqa 2/2:

 

“Selisihilah orang yahudi dan berpuasalah
sehari sebelum dan setelahnya.”

 

Dan pada riwayat ath-Thahawi menurut penuturan
pengarang al-Urf asy-Syadzi:

 

“Puasalah pada hari Asyura dan berpuasalah
sehari sebelum dan setelahnya dan janganlah kalian menyerupai orang
Yahudi.”

 

Namun di dalamnya sanadnya ada rawi yg
diperbincangkan. Ibnul Qayyim berkata (dalam Zaadud Ma’al 2/76):”Ini adalah
derajat yg paling sempurna.” Syaikh Abdul Haq ad-Dahlawi mengatakan:”Inilah yang
Utama.”

 

Ibnu Hajar di dalam Fathul Bari 4/246 juga
mengisyaratkan keutamaan ini. Dan termasuk yang memilih pendapat puasa 3 hari
tersebut adalah asy-Syaukani (Nailul Authar 4/245) dan Syaikh Muh Yusuf
al-Banury dlm Ma’rifus Sunan 5/434.

Namun mayoritas ulama yang memilih cara ini
adalah lebih dimaksudkan untuk berhati2. Ibnul Qudamah di dalam al-Mughni 3/174
menukil pendapat Imam Ahmad yang memilih puasa 3 hari pada saat timbul kerancuan
dlm menentukan awal bulan.

 

2.  Berpuasa tanggal 9 & 10 Muharram

 

Mayoritas Hadits menunjukkan cara
ini:

 

Rasulullah berpuasa pada hari asyura dan
memerintahkan berpuasa.Para
shahabat berkata:”Ya Rasulullah, sesungguhnya hari itu diagungkan oleh Yahudi.”
Beliau bersabda:”Di tahun depan insyaAllah kita akan berpuasa pada tanggal 9.”,
tetapi sebelum datang tahun depan Rasulullah telah wafat.” (HSR Muslim
2/798)

 

Dlm riwayat lain:”Jika aku masih hidup pada
tahun depan, sungguh aku akan melaksanakan puasa pada hari kesembilan.”(HSR
Muslim 2/798; Ibnu Majah, Ahmad, Tabrani dll)

 

Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata dalam Fathul
Baari 4/245 :”Keinginan beliau untuk berpuasa pd tgl 9 mengandung kemungkinan
bahwa beliau tidak hanya berpuasa pada tanggal 9 saja, namun juga ditambahkan
pada hari kesepuluh. Kemungkinan dimaksudkan untuk berhati2 dan mungkin juga
untuk menyelisihi kaum Yahudi dan Nashara, kemungkinan kedua inilah yang lebih
kuat, yang itu ditunjukkan sebagian riwayat Muslim:

 

“Dari ‘Atha’, dia mendengar Ibnu Abbas
berkata:”Selisihilah Yahudi, berpuasalah pada tgl 9 dan 10.” (Abdurrazaq,
Thahawi, Baihaqi, dll)

 

3.  Berpuasa pada tanggal 9 & 10 atau 10 & 11 Muharram

 

“Berpuasalah pada hari asyura dan selisihilah
orang Yahudi, puasalah sehari sebelumnya atau sehari setelahnya.”(Hadits DHOIF,
riwayat Ahmad, Ibnu Khuzaimah, Thahawi)

 

Hadits marfu’ ini tidak shahih karena ada 3
illat (cacat):

-         Ibnu ABi Laila, lemah karena hafalannya buruk.

-         Dawud bin Ali bin Abdullah bin Abbas, bukan hujjah

-         Perawi sanad hadits tersebut secara mauquf lebih tsiqah dan lebih hafal daripada perawi jalan/sanad marfu’

 

Jadi hadits diatas Shahih secara mauquf
sebagaimana dalam as-Sunan al-Ma’tsurah karya As-Syafi’I no 338 dan Ibnu Jarir
ath-Thabari dlm Tahdzibul Atsar 1/218.

 

Ibnu rajab berkata (Lathaiful Ma’arif hal
49):”Dlm sebagian riwayat disebutkan ATAU SESUDAHNYA maka kata ATAU disini
mungkin karena keraguan dari perawi atau memang menunjukkan
kebolehan….”

 

Al-Hafidz berkata (Fathul Baari):”Dan ini
adalah akhir perkara Rasulullah, dahulu beliau suka menyocoki ahli kitab dalam
hal yang tidak ada perintah, lebih-lebih bila hal itu menyelisihi orang-orang
musyrik. Maka setelah fathu Makah dan Islam menjadi termahsyur, beliau suka
menyelisihi ahli kitab sebagaimana dalam hadits shoheh. Maka masalah puasa
asyura termasuk dalam hal itu. Maka pertama kali beliau menyocoki ahli kitab dan
berkata:”Kami lebih berhak atas Musa daripada kalian.”, kemudian beliau menyukai
menyelisihi ahli kitab, maka beliau menambah sehari sebelum ATAU sesudahnya
untuk menyelisihi ahli kitab.”

 

Ar-Rafi’I berkata (at-Talhish al-Habir
2/213):”berdasarkan ini, seandainya tidak berpuasa pada tanggal 9 maka
dianjurkan untuk berpuasa pada tanggal 11.”

 

4.   Berpuasa pd tgl 10 Muharram saja

 

Al-Hafidz berkata (Fathul Baari):”Puasa asyura
mempunyai 3 tingkatan, yang terendah berpuasa sehari saja, tingkatan diatasnya
ditambah puasa pada tanggal 9, dan tingkatan diatasnya ditambah puasa pada
tanggal 9 dan 11. Wallahu a’lam.”

 

 

Bid’ah2 di hari asyura’

 

  1. style='MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify; mso-list: l0 level1 lfo3; tab-stops: list .5in'
    >Shalat dan dzikir2 khusus, sholat ini
    disebut dengan sholat asyura
  2. style='MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify; mso-list: l0 level1 lfo3; tab-stops: list .5in'
    >Mandi, bercelak, memakai minyak rambut,
    mewarnai kuku, dan menyemir rambut.
  3. style='MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify; mso-list: l0 level1 lfo3; tab-stops: list .5in'
    >Membuat makanan khusus yang tidak seperti
    biasanya.
  4. style='MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify; mso-list: l0 level1 lfo3; tab-stops: list .5in'
    >Membakar kemenyan.
  5. style='MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify; mso-list: l0 level1 lfo3; tab-stops: list .5in'
    >Bersusah2 dalam kehausan dan menampakkan
    kesusahannya itu.
  6. style='MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify; mso-list: l0 level1 lfo3; tab-stops: list .5in'
    >Doa awal dan akhir tahun yang dibaca pada
    malam akhir tahun dan awal tahun (majmu’ Syarif)
  7. style='MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify; mso-list: l0 level1 lfo3; tab-stops: list .5in'
    >Menentukan berinfaq dan memberi makan
    orang-orang miskin
  8. style='MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify; mso-list: l0 level1 lfo3; tab-stops: list .5in'
    >Memberi uang belanja lebih kepada keluarga.
  9. style='MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify; mso-list: l0 level1 lfo3; tab-stops: list .5in'
    >As-Subki berkata (ad-Din al-Khalish
    8/417):”Adapun pernyataan sebagian orang yang menganjurkan mandi hari ini (10
    Muharram) untuk ziarah kepada orang alim, menengok orang sakit, mengusap
    kepala anak yatim, memotong kuku membaca al-Fatihah seribu kali dan
    bersilaturahmi maka TDK ADA dalil yang menunjukkan keutamaan amal-amal itu
    jika dikerjakan pada hari asyura. YG BENAR amalan2 ini diperintahkan oleh
    syariat di setiap saat, adapun MENGKHUSUSKAN di hari asyura mak hukumnya
    adalah bid’ah.”

 

Perhatikan!!

 

Hadits :”Barangsiapa memberi kelonggaran pada
hari asyura, niscaya Allah akan memberikan kelonggaran kepadanya sepanjang
tahun.”

 

Hadits diatas adalah BATHIL. Imam Ahmad
berkata:”Hadits ini tidak sah/bathil.”

 

Hadits : “Barangsiapa mandi dan bersuci pada
hari asyura maka tidak akan sakit di tahun itu kecuali sakit yg menyebabkan pada
kematian.”

 

Hadits diatas adalah Palsu, buatan para
pembunuh Husain.

 

Hadits : “Barangsiapa bercelak dengan batu
ismid di hari asyura maka matanya tdk akan pernah sakit selamanya.”

 

Maka ulama seperti Ibnu Rajab, az-Zakarsyi dan
as-Sakhawi menilai hadits diatas adalah maudhu’/palsu.

 

Demikianlah sedikit pembahasan tentang hari
asyura’. Semoga kita bisa mengamalkan sunnah dan meninggalkan bid’ah.
Amin.

 

Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa
barakatuhu

 

(Ditulis ulang oleh Bekti, dr Majalah
As-Sunnah edisi 03/V/1421H-2001M)

Diedit dan dikirim ulang oleh Tami untuk
Jilbab Online

 

 

[baca selengkapnya...]

Di Mana Allah?

March 14, 2004. Dikirim dalam Uncategorized | 1 komentar
Saya akan menjelaskan salah satu aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, yang telah hilang dari dada sebagian kaum muslimin, yaitu : tentang istiwaa Allah di atas Arsy-Nya yang sesuai dengan  kebesaran dan kemuliaan-Nya. Sehingga bila kita bertanya kepada saudara kita ; Dimana Allah ? Kita akan mendapat dua jawaban yang bathil bahkan sebagiannya kufur..! :
  1. Allah ada pada diri kita ini ..!
  2. Allah dimana-mana di segala tempat !
Jawaban yang pertama berasal dari kaum wihdatul wujud (kesatuan wujud Allah dengan manusia) yang telah dikafirkan oleh para Ulama kita yang dahulu dan sekarang. Sedangkan jawaban yang kedua keluar dari kaum Jahmiyyah (faham yang menghilangkan sifat-sifat Allah) dan Mu’tazilah, serta mereka yang sefaham dengan keduanya dari ahlul bid’ah.
 
Rasulullah SAW pernah mengajukan pertanyaan kepada seorang budak perempuan milik Mua’wiyah bin Al-Hakam As-Sulamy sebagai ujian keimanan sebelum ia dimerdekakan oleh tuannya yaitu Mu’awiyah :
Artinya :

”Beliau bertanya kepadanya : ”Di manakah Allah ?. Jawab budak perempuan : ”Di atas langit. Beliau bertanya (lagi) : ”Siapakah Aku ..?. Jawab budak itu : ”Engkau adalah Rasulullah”. Beliau bersabda : ”Merdekakan ia ! .. karena sesungguhnya ia mu’minah (seorang perempuan yang beriman)”.

Hadits shahih. Dikeluarkan oleh Jama’ah ahli hadits, diantaranya :

  1. Imam Malik (Tanwirul Hawaalik syarah Al-Muwath-tho juz 3 halaman 5-6).
  2. Imam Muslim (2/70-71)
  3. Imam Abu Dawud (No. 930-931)
  4. Imam Nasa’i (3/13-14)
  5. Imam Ahmad (5/447, 448-449)
  6. Imam Daarimi 91/353-354)
  7. Ath-Thayaalis di Musnadnya (No. 1105)
  8. Imam Ibnul Jaarud di Kitabnya ”Al-Muntaqa” (No. 212)
  9. Imam Baihaqy di Kitabnya ”Sunanul Kubra” (2/249-250)
  10. Imam Ibnu Khuzaimah -Imamnya para Imam- di Kitabnya ”Tauhid” (hal. 121-122)
  11. Imam Ibnu Abi ‘Aashim di Kitab As-Sunnah (No. 489 di takhrij oleh ahli hadits besar Muhammad Nashiruddin Al-Albanni).
  12. Imam Utsman bin Sa’id Ad-Daarimi di Kitabnya ”Ar-Raddu ‘Alal Jahmiyyah” (No. 60,61,62 halaman 38-39 cetakan darus Salafiyah).
  13. Imam Al-Laalikai di Kitabnya ”As-Sunnah ” (No. 652).
 
PEMBAHASAN
 
Pertama.
Hadist ini merupakan cemeti dan petir yang menyambar di kepala dan telinga ahlul bid’ah dari kaum Jahmiyyah dan Mu’tazilah dan yang sefaham dengan mereka, yaitu ; dari kaum yang menyandarkan aqidah mereka kepada Imam Abul Hasan Ali bin Ismail Al-Asy’ary, yaitu ; mereka mempunyai i’tiqad (berpendapat) :

”ALLAH BERADA DI TIAP-TIAP TEMPAT ATAU ALLAH BERADA DIMANA-MANA .!?”

 
Katakanlah kepada mereka : Jika demikian, yakni Allah berada dimana-mana tempat, maka Allah berada di jalan-jalan, di pasar-pasar, di tempat kotor dan berada di bawah mahluknya !?.
 
Jawablah kepada mereka dengan firman Allah ‘Azza wa Jalla :
Artinya :

”Maha suci Engkau ! ini adalah satu dusta yang sangat besar” (An-Nur : 16)

 ”Maha suci Allah dari apa-apa yang mereka sifatkan ” (Al-Mu’minun : 91)

”Maha Suci Dia ! Dan Maha Tinggi dari apa-apa yang mereka katakan dengan ketinggian yang besar”. (Al-Isra : 43)

Berkata Imam Adz-Dzahabi  setelah membawakan hadits ini, di kitabnya ”Al-Uluw” (hal : 81 diringkas oleh Muhammad Nashiruddin Al-Albani).
Artinya :

”Dan demikian ra’yu kami (setuju dengan hadits) setiap orang yang ditanya : ”Dimana Allah ? ”Dia segera dengan fitrahnya menjawab : Di atas langit !. Didalam hadits ini ada dua masalah : pertama : Disyariatkan pertanyaan seorang muslim : Dimana Allah ?. Kedua : Jawaban orang yang ditanya : (Allah) di atas langit ! Maka barangsiapa yang mengingkari dua masalah ini berarti ia telah mengingkari Al-Musthafa (Nabi) SAW”.

 
Dan telah berkata Imam Ad-Daarimi setelah membawakan hadits ini di kitabnya ”Ar-Raddu ‘Alal Jahmiyah (hal: 39): ”Di dalam hadits Rasulullah SAW ini, ada dalil bahwa seseorang apabila tidak mengetahui sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla berada di atas langit bukan bumi, tidaklah ia seorang mu’min”.
 
Tidaklah engkau perhatikan bahwa Rasulullah SAW telah menjadikan tanda/alamat keimanannya (yaitu budak perempuan) tentang pengetahuannya sesungguhnya Allah diatas langit. Dan pada pertanyaan Rasulullah SAW (kepada budak perempuan): ”Dimana Allah ?”. Mendustakan perkataan orang yang mengatakan : ”Dia (Allah) ada di tiap-tiap tempat (dan) tidak boleh disifatkan dengan (pertanyaan) : Dimana .?
 
 
Kedua
Lafadz ‘As-Samaa” menurut lughoh/bahasa Arab artinya : Setiap yang tinggi dan berada di atas. Berkata Az-Zujaaj (seorang Imam ahli bahasa) :
Artinya :

”(Lafadz) As-Samaa/langit di dalam bahasa dikatakan : Bagi tiap-tiap yang tinggi dan berada diatas. Dikatakan : Atap rumah langit-langit rumah”.

Dinamakan ”Awan” itu langit/As-Samaa, karena ia berada di atas manusia. Firman Allah ‘Azza wa Jalla.
Artinya :

”Dan Ia turunkan dari langit Air (hujan)” (Al-Baqarah : 22).

Adapun huruf ”Fii” dalam lafadz hadits ”Fiis-Samaa” bermakna ” ‘Alaa” seperti firman Allah ‘Azza wa Jalla:
Artinya :

”Maka berjalanlah kamu di atas/di muka bumi” (At-Taubah : 2)

”Mereka tersesat di muka bumi” (Al-Ma’dah : 26).

Lafadz ”Fil Arldhii” dalam dua ayat diatas maknanya ” ‘Alal Arldhii”, Maksudnya : Allah ‘Azza wa Jalla berada dipihak/diarah yang tinggi -di atas langit- yakni di atas ‘Arsy-Nya yang sesuai dengan kebesaran-Nya. Ia tidak serupa dengan satupun mahluk-Nya dan tidak satupun mahluk menyerupai-Nya.
 
Firman Allah ‘Azza wa Jalla :
Artinya :

”Tidak ada sesuatupun yang sama dengan-Nya, dan Ia-lah yang Maha Mendengar (dan) Maha Melihat”. (As-Syura : 4)

”Dan tidak ada satupun yang sama/sebanding dengan-Nya” (Al-ikhlas : 4)

”Ar-Rahman di atas ‘Arsy Ia istiwaa (bersemayam)”. (Thaha : 5)

”Sesungguhnya Tuhan kamu itu Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, kemudian ia istiwaa (bersemayam) di atas ‘Arsy”.(Al-A’raf :54).

 
Madzhab Salaf -dan yang mengikuti mereka- seperti Imam yang empat : Abu Hanifah, Malik, Syafi’iy dan Ahmad bin Hambal dan lain-lain Ulama termasuk Imam Abul Hasan Al-Asy’ari sendiri, mereka semuanya beriman bahwa ; Allah ‘Azza wa Jalla ISTIWAA diatas ‘Arsy-Nya sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya.
 
Mereka tidak menta’wil ISTIWAA/ISTAWAA dengan ISTAWLA yang artinya : Berkuasa. Seperti halnya kaum Jahmiyyah dan yang sefaham dengan mereka yang mengatakan ”Allah istiwaa di atas ‘Arsy” itu maknanya : Allah menguasai ‘Arsy !. Bukan Dzat Allah berada di atas langit yakni di atas ‘Arsy-Nya, karena Allah berada dimana-mana tempat !?… Mereka ini telah merubah perkataan dari tempatnya dan telah mengganti perkataan yang tidak pernah dikatakan Allah kepada mereka sama seperti kaum Yahudi (baca surat Al-baqarah : 58-59).
 
Katakan kepada mereka : Kalau makna istiwaa itu adalah istawla/berkuasa, maka Allah ‘Azza wa Jalla berkuasa atas segala sesuatu bukan hanya menguasai ‘Arsy. Ia menguasi langit dan bumi dan apa-apa yang ada diantara keduanya dan sekalian mahluk (selain Allah dinamakan mahluk). Allah ‘Azza wa Jalla telah mengabarkan tentang istawaa-Nya diatas ‘Arsy-Nya dalam tujuh tempat di dalam kitab-Nya Al-Qur’an. Dan semuanya dengan lafadz ”istawaa”. Ini menjadi dalil yang sangat besar bahwa yang dikehendaki dengan istawaa ialah secara hakekat, bukan ”istawla” dengan jalan menta’wilnya.
 
Telah berfirman Allah ‘Azza wa Jalla di Muhkam Tanzil-Nya.
Artinya :

”Ar-Rahman di atas ‘Arsy Ia istawaa” (Thaha : 5)

”Kemudian Ia istawaa (bersemayam) di atas ‘Arsy”.

Pada enam tempat. Ia berfirman di kitab-Nya yaitu :
  1. Surat Al-A’raf ayat 54
  2. Surat Yunus ayat 3
  3. Surat Ar-Ra’du ayat 2
  4. Surat Al-Furqaan ayat 59
  5. Surat As-Sajdah ayat 4
  6. Surat Al-Hadid ayat 4
Menurut lughoh/bahasa, apabila fi’il istiwaa dimuta’adikan oleh huruf ‘Ala, tidak dapat dipahami/diartikan lain kecuali berada diatasnya.
Firman Allah ‘Azza wa Jalla :
Artinya :

”Dan berhentilah kapal (Nuh) diatas gunung/bukit Judi” (Hud : 44).

Di ayat ini fi’il ”istawaa” dimuta’addikan oleh huruf ‘Ala yang tidak dapat dipahami dan diartikan kecuali kapal Nabi Nuh AS secara hakekat betul-betul berlabuh/berhenti diatas gunung Judi. Dapatkah kita artikan bahwa ”Kapal Nabi Nuh menguasai gunung Judi” yakni menta’wil lafadz ”istawat” dengan lafadz ”istawlat”  yang berada di tempat yang lain bukan di atas gunung Judi..? (yang sama dengan ayat di atas, baca surat Az-Zukhruf : 13).
 
Berkata Mujahid (seorang Tabi’in besar murid Ibnu Abbas).
Artinya :

”Ia istawaa (bersemayam) di atas ”Arsy” maknanya :

”Ia berada tinggi di atas ”Arsy”

(Riwayat Imam Bukhari di sahihnya Juz 8 hal : 175)

Berkata Imam Ibnu Khuzaimah -Imamnya para Imam- di kitabnya ”At-Tauhid” (hal: 101):
Artinya :

”Kami beriman dengan khabar dari Allah Jalla wa A’laa (yang  Maha Besar dan Maha tinggi) sesungguhnya pencipta kami (Allah) Ia istiwaa di atas ‘Arsy-Nya. Kami tidak akan mengganti/mengubah Kalam (firman) Allah dan kami tidak akan mengucapkan perkataan yang tidak pernah dikatakan (Allah) kepada kami sebagimana (kaum) Jahmiyyah yang menghilangkan sifat-sifat Allah, dengan mengatakan ”Sesungguhnya Ia (Allah) istawla (menguasai) ‘Arsy-Nya tidak istawaa!”. Maka mereka telah mengganti perkataan yang tidak pernah dikatakan  (Allah) kepada mereka seperti perbuatan Yahudi tatkala mereka diperintah mengucapkan : ”Hith-thatun (ampunkanlah dosa-dosa kami)” Tetapi mereka mengucapkan : ”Hinthah (gandum).?”. Mereka (kaum Yahudi) telah menyalahi perintah Allah yang Maha Besar dan Maha tinggi, begitu pula dengan (kaum) Jahmiyyah”.

Yakni, Allah telah menegaskan pada tujuh tempat di kitab-Nya yang mulia, bahwa Ia istiwaa di atas ‘Arsy-Nya (Dzat Allah istiwaa/bersemayam di atas ‘Arsy-Nya yang sesuai dengan kebesaran-Nya, sedangkan ilmu-Nya berada dimana-mana/tiap-tiap tempat tidak satupun tersembunyi dari pengetahuan-Nya). Kemudian datanglah kaum Jahmiyyah mengubah firman Allah istawaa dengan istawla yakni menguasai ‘Arsy sedangkan Dzat Allah berada dimana-mana/tiap-tiap tempat !!!. Maha Suci Allah dari apa-apa yang disifatkan kaum Jahmiyyah !
 
Adapun madzhab Salaf, mereka telah beriman dengan menetapkan (istbat) sesungguhnya Allah Azza wa Jalla istiwaa -dan bukan istawla- di atas ‘Arsy-Nya tanpa :
  1. Tahrif yakni ; Merubah lafadz atau artinya.
  2. Ta’wil yakni ; Memalingkan dari arti yang zhahir kepada arti yang lain.
  3. Ta’thil yakni ; Meniadakan/menghilangkan sifat-sifat Allah baik sebagian maupun secara keseluruhannya.
  4. Tasybih yakni ; Menyerupakan Allah dengan mahluk.
  5. Takyif yakni ; Bertanya dengan pertanyaan : Bagaimana (caranya) ?
Alangkah bagusnya jawaban Imam Malik ketika beliau ditanya :
”Bagaimana caranya Allah istiwaa di atas ‘Arsy ?. Beliau menjawab :
Artinya :

”Istiwaa itu bukanlah sesuatu yang tidak dikenal (yakni telah kita ketahui artinya), tetapi bagaimana caranya (Allah istiwaa) tidaklah dapat dimengerti, sedang iman dengannya (bahwa Allah istiwaa) wajib, tetapi bertanya tentangnya (bagaimana caranya) adalah bid’ah”.

(baca : Fatwa Hamawiyyah Kubra hal : 45-46).

 
Perhatikan !
 
 
1.    ‘Arsy adalah mahluk Allah yang paling tinggi berada diatas tujuh langit dan sangat besar sekali sebagaimana diterangkan Ibnu Abbas :
Artinya :

”Dan ‘Arsy tidak seorangpun dapat mengukur berapa besarnya”.

Berkata Imam Dzahabi di kitabnya ”Al-Uluw” (hal : 102) : rawi-rawinya tsiqaat (terpercaya).
 
Muhammad Nashiruddin Al-Albani mengatakan : Sanadnya shahih semua riwayatnya tsiqaat. (dikeluarkan oleh Imam ibnu Khuzaimah di kitabnya ”At-Tauhid”).
 
2.    Bahwa Allah ‘Azza wa Jalla -istiwaa-Nya di atas ‘Arsy- tidak tergantung kepada ‘Arsy. Bahkan sekalian mahluk termasuk ‘Arsy bergantung kepada Allah Azza wa Jalla.
 
Firman Allah ‘Azza wa Jalla.
Artinya :

”Sesungguhnya Allah Maha Kaya dari sekalian alam” (Al-Ankabut : 6) Yakni : Allah tidak berkeperluan kepada sekalian mahluk”.

Ketiga
Penunjukan Beberapa Dalil dari Al-Qur’an dan Hadits yang Shahih.
 
Firman Allah ‘Azza wa Jalla.
Artinya :
”Apakah kamu merasa aman terhadap DZAT yang di atas langit, bahwa Ia akan menenggelamkan ke dalam bumi, maka tiba-tiba ia (bumi) bergoncang ?” (Al-Mulk : 16)

”Ataukah kamu (memang) merasa aman terhadap DZAT yang di atas langit bahwa Ia akan mengirim kepada kamu angin yang mengandung batu kerikil ? Maka kamu akan mengetahui bagaimana ancaman-Ku”. (Al-Mulk : 17).

Berkata Imam Ibnu Khuzaimah -setelah membawakan dua ayat di atas di kitabnya ”At-Tauhid” (hal : 115).
Artinya :
”Bukankah Ia telah memberitahukan kepada kita -wahai orang yang berakal- yaitu ; apa yang ada diantara keduanya sesungguhnya Ia di atas langit”.

Berkata Imam Abul Hasan Al-Asy’ary di kitabnya ”Al-Ibanah Fi Ushulid-diayaanah hal : 48) setelah membawakan ayat di atas : ”Di atas langit-langit itu adalah ‘Arsy, maka tatkala ‘Arsy berada di atas langit-langit. Ia berfirman : ”Apakah kamu merasa aman terhadap Dzat yang berada di atas langit ?” Karena sesungguhnya Ia istiwaa (bersemayam) di atas ‘Arsy yang berada di atas langit, dan tiap-tiap yang tinggi itu dinamakan ‘As-Samaa” (langit), maka ‘Arsy berada di atas langit. Bukankah yang dimaksud apabila Ia berfirman : ”Apakah kamu merasa aman terhadap Dzat yang diatas langit ?” yakni seluruh langit ! Tetapi yang Ia kehendaki adalah ‘Arsy yang berada di atas langit”.
 
Saya berpandangan (Abdul Hakim bin Amir Abdat) : Dua ayat di atas sangat tegas sekali yang tidak dapat dibantah dan ta’wil bahwa lafadz ”MAN” tidak mungkin difahami selain dari Allah ‘Azza wa Jalla. Bukan Malaikat-Nya sebagaimana dikatakan oleh kaum Jahmiyyah dan yang sepaham dengannya, yang telah merubah firman Allah ‘Azza wa Jalla. Bukankah dlamir (kata ganti) pada fi’il (kata kerja) ”yakhtsif” (Ia menenggelamkan) dan ”yartsil” (Ia mengirim) adalah ”huwa” (Dia) ? siapakah Dia itu kalau bukan Allah ‘Azza wa Jalla.
 
Firman Allah :
Artinya :
”Mereka (para Malaikat) takut kepada Tuhan mereka yang berada di atas mereka, dan mereka mengerjakan apa-apa yang diperintahkan”. (An-Nahl : 50).

Ayat ini tegas sekali menyatakan bahwa Allah ‘Azza wa Jalla berada di atas bukan di mana-mana tempat. Karena lafadz ”fawqo” (di atas) apabila di majrur dengan huruf ”min” dalam bahasa Arab menunjukan akan ketinggian tempat. Dan tidak dapat di ta’wil dengan ketinggian martabat, sebagaimana dikatakan kaum Jahmiyyah dan yang sepaham dengan mereka. Alangkah zhalimnya mereka ini yang selalu merubah-rubah firman Tuhan kita Allah Jalla Jalaa Luhu.
 
Berkata Imam Ibnu Khuzaimah di kitabnya ”At-Tauhid”  (hal : 111): ”Tidaklah kalian mendengar firman pencipta kita ‘Azza wa Jalla yang mensifatkan diri-Nya.
Artinya :

”Dan Dialah (Allah) yang Maha Kuasa di atas hamba-hamba-Nya”. (Al-An’am : 18 & 61).

Berkata Imam Ibnu Khuzaimah di kitabnya tersebut : ”Tidakkah kalian mendengar wahai penuntut ilmu. Firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala kepada Isa bin Maryam :
Artinya :
”Wahai Isa ! Sesungguhnya Aku akan mengambilmu dan mengangkatmu kepada-Ku” (Ali Imran : 55)

Ibnu Khuzaimah menerangkan : Bukankah ”mengangkat” sesuatu itu dari bawah ke atas (ke tempat yang tinggi) tidak dari atas ke bawah!. Dan firman Allah ‘Azza wa Jalla.
Artinya :
”Tetapi Allah telah mengangkat dia (yakni Nabi Isa) kepada-Nya” (An-Nisa’ : 158).

Karena ”Ar-raf’ah” = mengangkat dalam bahasa Arab yang dengan bahasa mereka kita diajas berbicara (yakni Al-Qur’an) dalam bahasa Arab yang hanya dapat diartikan dari bawah ke tempat yang tinggi dan di atas” (kitab At-Tauhid : 111).
 
Sekarang dengarlah wahai orang yang berakal, kisah Fir’aun bersama Nabi Allah Musa ‘Alaihis Salam di dalam kitab-Nya yang mulia, dimana Fir’aun telah mendustakan Musa yang telah mengabarkan kepadanya bahwa Tuhannya Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas langit :
Artinya :
”Dan berkata Fir’aun : Hai Haman! Buatkanlah untukku satu bangunan yang tinggi supaya aku (dapat) mencapai jalan-jalan. (Yaitu) jalan-jalan menuju ke langit supaya aku dapat melihat Tuhan(nya) Musa, karena sesungguhnya aku mengira dia itu telah berdusta”. (Al-Mu’min : 36-37. Al-Qashash : 38).

Perhatikanlah wahai orang yang berakal!. Perintah Fir’aun kepada Haman -menterinya- untuk membuatkan satu bangunan yang tinggi supaya ia dapat jalan ke langit untuk melihat Tuhannya Musa. Hal ini menunjukkan bahwa Nabi Musa telah memberitahukan kepadanya bahwa Tuhannya -Allah Subhanahu wa Ta’ala- berada di atas langit-.
 
Kalau tidak demikian, yakni misalnya Nabi Musa mengatakan bahwa Tuhannya ada dimana-mana tempat -sebagaimana dikatakan kaum Jahmiyyah- tentu Fir’aun yang disebabkan karena kekafirannya dan pengakuannya  sebagai Tuhan, akan mengerahkan bala tentaranya untuk mencari Tuhannya Musa di istananya, di rumah-rumah Bani Israil, di pasar-pasar dan di seluruh tempat di timur dan di barat !?. Tetapi tatkala Nabi Musa dengan perkataannya: ”Sesungguhnya aku mengira dia ini berdusta !”. Yakni tentang perkataan Musa bahwa Tuhannya di atas langit.
 
Perhatikanlah, wahai orang yang berakal !. Keadaan Fir’aun yang mendustakan Nabi Musa dengan kaum Jahmiyyah dan yang sepaham dengan mereka yang telah merubah firman Allah dengan mengatakan : Allah ada di segala tempat !.
 
Ketahuilah ! Bahwa pemahaman di atas bukanklah hasil dari pikiran saya (Abdul Hakim bin Amir Abdat)  tetapi pemahaman Ulama-ulama kita diantaranya :
  1. Imam Ibnu Khuzaimah di kitabnya ”At-Tauhid” (hal : 114-115) diantara keterangannya :”Perkataan Fir’aun (sesungguhnya aku menyangka/mengira ia termasuk dari orang-orang yang berdusta) terdapat dalil bahwa Musa telah memberitahukan kepada Fir’aun :” Bahwa Tuhannya Yang Maha Besar dan Maha Tinggi berada di tempat yang tinggi dan di atas”.
  2. Berkata Imam Al-Asy’ary setelah membawakan ayat di atas : ”Fir’aun telah mendustakan Musa tentang perkataannya : Sesungguhnya Allah di atas langit” (Al-Ibanah : 48).
  3. Berkata Imam Ad-Daarimi di kitabnya ”Raddu ‘Alal Jahmiyyah hal : 37 Setelah membawakan ayat di atas : ” Di dalam ayat ini terdapat keterangan yang sangat jelas dan dalil yang nyata, bahwa Musa telah mengajak Fir’aun mengenal Allah bahwa Ia berada di atas langit. Oleh karena itu Fir’aun memerintahkan membuat bangunan yang tinggi”.
  4. Berkata Syaikhul Islam Al-Imam As-Shaabuny di kitabnya ”Itiqad Ahlus Sunnah wa Ashabul Hadits wal A’imah ” (hal : 15) : ”Bahwasanya Fir’aun mengatakan demikian (yakni menuduh Musa berdusta) karena ia telah mendengar Musa AS menerangkan bahwa Tuhannya berada diatas langit. Tidakkah engkau perhatikan perkataannya : ”Sesungguhnya aku mengira dia itu berdusta” yakni tentang perkataan Musa : ”Sesungguhnya di atas langit ada Tuhan”.
  5. Imam Abu Abdillah Haarits bin Ismail Al-Muhaasiby diantara keterangannya :”Berkata Fir’aun : (Sesungguhnya aku mengira dia itu berdusta) tentang apa yang ia (Musa) katakan kepadaku : ”Sesungguhnya Tuhannya berada di atas langit”. Kemudian beliau menerangkan : ”Kalau sekiranya Musa mengatakan : ”Sesungguhnya Allah berada di tiap-tiap tempat dengan Dzatnya, nisacaya Fir’aun akan mencari di rumahnya, atau di hadapannya atau ia merasakannya, -Maha Tinggi Allah dari yang demikian- tentu Fir’aun tidak akan menyusahkan dirinya membuat bangunan yang tinggi”. (Fatwa Hamawiyyah Kubra : 73).
  6. Berkata Imam Ibnu Abdil Bar : ”Maka (ayat ini) menunjukan sesungguhnya Musa mengatakan (kepada Fir’aun) : ”Tuhanku di atas langit ! sedangkan Fir’aun menuduhnya berdusta”. (baca Ijtimaaul Juyusy Al-Islamiyyah hal : 80).
  7. Berkata Imam Al-Waasithi di kitabnya ”An-Nahihah fi Shifatir Rabbi Jalla wa ‘Alaa” (hal : 23 cetakan ke-3 th 1982 Maktab Al-Islamy) : ”Dan ini menunjukkan bahwa Musa telah mengabarkan kepadanya bahwa Tuhannya yang Maha Tinggi berada di atas langit. Oleh karena itu Fir’aun berkata : ”Sesungguhnya aku mengira dia ini berdusta”.
Demikianlah penjelasan dari tujuh Imam besar di dalam Islam tentang ayat di atas, selain masih banyak lagi yang kesimpulannya : ”Bahwa mendustakan Allah Subhanahu wa Ta’ala berada di atas langit di atas ‘Arsy-Nya, Ia istiwaa (bersemayam) yang sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya, adalah ; sunnahnya Fir’aun”. Na’udzu billah !!.
 
Sampai disini pembahasan beberapa dalil dari kitab Allah -salain masih banyak lagi- yang cukup untuk diambil pelajaran bagi mereka yang ingin mempelajarinya. Firman Allah Subahanhu wa Ta’ala.
Artinya :
”Ambillah pelajaran wahai orang-orang yang mempunyai pandangan !” (Al-Hasyr : 2).

Adapun dalil-dalil dari hadits Nabi SAW banyak sekali. Dibawah ini akan disebutkan beberapa diantaranya :
Nabi kita SAW telah bersabda :
Artinya :

”Orang-orang yang penyayang, mereka itu akan disayang oleh Allah Tabaaraka wa Ta’ala (Yang Maha berkat dan Maha Tinggi). oleh karena itu sayangilah orang-orang yang di muka bumi, niscaya Dzat yang di atas langit akan menyayangi kamu”. (Shahih. Diriwayatkan oleh Imam-imam : Abu Dawud No. 4941. Ahmad 2/160. Hakim 4/159. dari jalan Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash. Hadits ini telah dishahihkan oleh Imam Hakim dan telah pula disetujui oleh Imam Dzahabi. Demikian juga Al-Albani telah  menyatakan hadits ini shahih dikitabnya ”Silsilah Shahihah No. 925”.

”Barangsiapa yang tidak menyayangi orang yang dimuka bumi, niscaya tidak akan di sayang oleh Dzat yang di atas langit”. (Shahih, diriwayatkan oleh Imam Thabrani di kitabnya ”Mu’jam Kabir No. 2497 dari jalan Jarir bin Abdullah. Imam Dzahabi di kitabnya ”Al-Uluw” hal : 83 diringkas oleh Al-Albani) mengatakan : Rawi-rawinya tsiqaat/kepercayaan).

”Tidakkah kamu merasa aman kepadaku padahal aku orang kepercayaan Dzat yang di atas langit, datang kepadaku berita (wahyu) dari langit di waktu pagi dan petang”. (Shahih, diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Muslim 3/111 dan Ahmad 3/4 dari jalan Abu Sa’id Al-Khudry).

”Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya ! Tidak seorang suamipun yang mengajak istrinya ke tempat tidurnya (bersenggama), lalu sang istri menolaknya, melainkan Dzat yang di atas langit murka kepadanya sampai suaminya ridla kepadanya ”.(Shahih, diriwayatkan oleh Imam Muslim 4/157 dari jalan Abu Hurarirah).

Keterangan :

”Dzat yang di atas langit yakni Allah ‘Azza wa Jalla (perhatikan empat hadits diatas)”.

”Silih berganti (datang) kepada kamu Malaikat malam dan Malaikat siang dan mereka berkumpul pada waktu shalat shubuh dan shalat ashar. Kemudian naik malaikat yang bermalam dengan kamu, lalu Tuhan mereka bertanya kepada mereka, padahal Ia lebih tahu keadaan mereka : ”Bagaimana (keadaan mereka) sewaktu kamu tinggalkan hamba-hamba-Ku ? Mereka menjawab : ”Kami tinggalkan mereka dalam keadaan shalat dan kami datang kepada mereka dalam keadaan shalat”. (Shahih, diriwayatkan oleh Imam Bukhari 1/139 dan Muslim 2/113 dll).

Keterangan :

”Sabda Nabi SAW : ”Kemudian NAIK Malaikat-malaikat yang bermalam …dst” Menunjukan bahwa Pencipta kita Allah Subhanahu wa Ta’ala berada di atas. Hal ini juga menunjukan betapa rusaknya pikiran dan fitrahnya kaum Jahmiyyah yang mengatakan Pencipta kita, tidak berada di atas tetapi di segala tempat ? Maha Suci Allah ! Dan Maha Tinggi Allah dari segala ucapan kaum Jahmiyyah dan yang sepaham dengan mereka !.

”Jabir bin Abdullah telah meriwayatkan tentang sifat haji Nabi dalam satu hadits yang panjang yang didalamnya diterangkan khotbah Nabi SAW di padang ‘Arafah : ”(Jabir  menerangkan) : Lalu Nabi SAW mengangkat jari telunjuknya ke arah langit, kemudian beliau tunjukkan jarinya itu kepada manusia, (kemudian beliau berdo’a) : ”Ya Allah saksikanlah ! Ya Allah saksikanlah ! ( Riwayat Imam Muslim 4/41).

Sungguh hadits ini merupakan tamparan yang pedas di muka-muka kaum Ahlul Bid’ah yang selalu melarang kaum muslimin berisyarat dengan jarinya ke arah langit. Mereka berkata : Kami khawatir orang-orang akan mempunyai i’tiqad bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala berada di atas langit ! Padahal Allah tidak bertempat tetapi Ia berada di segala tempat !?.
 
Demikianlah kekhawatiran yang dimaksudkan syaithan ke dalam hati ketua-ketua mereka. Yang pada hakekatnya mereka ini telah membodohi Nabi SAW yang telah mengisyaratkan jari beliau ke arah langit.
 
Perhatikanlah perkataan mereka : ”Allah tidak bertempat tetapi Ia berada di segala tempat !?”
 
Perhatikanlah ! Adakah akal yang shahih dan fitrah yang bersih dapat menerima dan mengerti perkataan di atas !?.
 
Mereka mengatakan Allah tidak bertempat karena akan menyerupai dengan mahluk-Nya. Tetapi pada saat yang sama mereka tetapkan bahwa Allah berada disegala tempat atau dimana-mana tempat !?.
 
Ya Subhanallah !
Artinya :

”Dari Ibnu Abbas (ia berkata) : ” Bahwa Rasulullah SAW berkhotbah kepada manusia pada hari Nahr (tgl.  10 Zulhijah) -kemudian Ibnu Abbas menyebutkan khotbah Nabi SAW- kemudian beliau mengangkat kepalanya (ke langit) sambil mengucapkan : Ya Allah bukankah Aku telah menyampaikan ! Ya Allah bukankah aku telah menyampaikan !. (Riawayat Imam Bukhari Juz 2 hal : 191).

Perhatikan wahai orang yang berakal ! Perbuatan Rasulullah SAW mengangkat kepalanya ke langit mengucapkan : Ya Allah !.
 
Rasulullah SAW menyeru kepada Tuhannya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berada di atas langit yakni di atas ‘Arsy di atas sekalian mahluk-Nya. Kemudian perhatikanlah kaum Jahmiyyah yang mengatakan Allah ada di segala tempat, dibawah mahluk, di jalan-jalan, di tempat-tempat yang kotor, dan di perut-perut hewan !?
 
Maha Suci Allah ! Maha Suci Allah dari apa yang disifatkan oleh kaum Jahmiyyah dan yang sama dengan mereka !.
Artinya :

”Dari Aisyah, ia berkata : ”Nabi SAW mengangkat kepalanya ke langit. (Riwayat Imam Bukhari 7/122).

Keempat
Keterangan Para Sahabat Nabi SAW, dan Ulama-Ulama Islam.
 
Adapun keterangan dari para sahabat Nabi SAW, dan Imam-imam kita serta para Ulama dalam masalah ini sangat banyak sekali, yang tidak mungkin kami turunkan satu persatu dalam risalah kecil ini, kecuali beberapa diantaranya.
 
1. Umar bin Khatab pernah mengatakan :
    Artinya :
”Hanyasanya segala urusan itu (datang/keputusannya) dari sini”. Sambil Umar mengisyaratkan tangannya ke langit ” [Imam Dzahabi di kitabnya ''Al-Uluw'' hal : 103. mengatakan : Sanadnya seperti Matahari (yakni terang benderang keshahihannya)].

 
2. Ibnu Mas’ud berkata :
    Artinya :
”’Arsy itu diatas air dan Allah ‘Azza wa Jalla di atas ‘Arsy, Ia mengetahui apa-apa yang kamu kerjakan”.

Riwayat ini shahih dikeluarkan oleh Imam Thabrani di kitabnya ”Al-Mu’jam Kabir” No. 8987. dan lain-lain Imam.

Imam Dzahabi di kitabnya ”Al-Uluw” hal : 103 berkata : sanadnya shahih,dan Muhammad Nashiruddin Al-Albani menyetujuinya (beliau meringkas dan mentakhrij hadits ini di kitab Al-Uluw).

Tentang ‘Arsy Allah di atas air ada firman Allah ‘Azza wa Jalla.

”Dan adalah ‘Arsy-Nya itu di atas air” (Hud : 7)

 
3. Anas bin Malik menerangkan :
    Artinya :
”Adalah Zainab memegahkan dirinya atas istri-istri Nabi SAW, ia berkata : ”Yang mengawinkan kamu (dengan Nabi) adalah keluarga kamu, tetapi yang mengawinkan aku (dengan Nabi) adalah Allah Ta’ala dari ATAS TUJUH LANGIT”.

Dalam satu lafadz Zainab binti Jahsyin mengatakan :

”Sesungguhnya Allah telah menikahkan aku (dengan Nabi) dari atas langit”. (Riwayat Bukhari juz 8 hal:176). Yakni perkawinan Nabi SAW dengan Zainab binti Jahsyin langsung Allah Ta’ala yang menikahinya dari atas ‘Arsy-Nya.

Firman Allah di dalam surat Al-Ahzab : 57

”Kami kawinkan engkau dengannya (yakni Zainab)”.

 
4. Imam Abu Hanifah berkata :
    Artinya :
”Barangsiapa yang mengingkari sesungguhnya Allah berada di atas langit, maka sesungguhnya ia telah kafir”.

Adapun terhadap orang yang tawaqquf (diam) dengan mengatakan ”aku tidak tahu apakah Tuhanku di langit atau di bumi”. Berkata Imam Abu Hanifah : ”Sesungguhnya dia telah ‘Kafir !”. Karena Allah telah berfirman : ”Ar-Rahman di atas ‘Arsy Ia istiwaa”. Yakni : Abu Hanifah telah mengkafirkan orang yang mengingkari atau tidak tahu bahwa Allah istiwaa diatas ‘Arsy-Nya.

 
5. Imam Malik bin Anas telah berkata :
    Artinya :
”Allah berada di atas langit, sedangkan ilmunya di tiap-tiap tempat, tidak tersembunyi sesuatupun dari-Nya”.

 
6. Imam Asy-Syafi’iy telah berkata :
    Artinya :

”Dan sesungguhnya Allah di atas ‘Arsy-Nya di atas langit-Nya”

 
7. Imam Ahmad bin Hambal pernah di tanya : ”Allah di atas tujuh langit diatas ‘Arsy-
    Nya, sedangkan kekuasaan-Nya dan ilmu-Nya berada di tiap-tiap tempat .?
 
    Jawab Imam Ahmad :
    Artinya :
”Benar ! Allah di atas ‘Arsy-Nya dan tidak sesuatupun yang tersembunyi dari pengetahuan-nya”.

 
8. Imam Ali bin Madini pernah ditanya : ”Apa perkataan Ahlul Jannah ?”.
    Beliau menjawab :
    Artinya :
”Mereka beriman dengan ru’yah (yakni melihat Allah pada hari kiamat dan di sorga khusus bagi kaum mu’minin), dan dengan kalam (yakni bahwa Allah berkata-kata), dan sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla di atas langit di atas ‘Arsy-Nya Ia istiwaa”.

 
9. Imam Tirmidzi telah berkata :
    Artinya :
”Telah berkata ahli ilmu : ”Dan Ia (Allah) di atas ‘Arsy sebagaimana Ia telah sifatkan diri-Nya”.

(Baca : ”Al-Uluw oleh Imam Dzahabi yang diringkas oleh Muhammad Nashiruddin Al-Albani di hal : 137,140,179,188,189 dan 218. Fatwa Hamawiyyah Kubra oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah hal: 51,52,53,54 dan 57).
 
10. Telah berkata Imam Ibnu Khuzaimah -Imamnya para imam- :
    Artinya :
”Barangsiapa yang tidak menetapkan sesungguhnya Allah Ta’ala di atas ‘Arsy-Nya Ia istiwaa di atas tujuh langit-Nya, maka ia telah kafir dengan Tuhannya…”.

(Riwayat ini shahih dikeluarkan oleh Imam Hakim di kitabnya Ma’rifah ”Ulumul Hadits” hal : 84).

11. Telah berkata Syaikhul Islam Imam Abdul Qadir Jailani -diantara perkataannya- :

”Tidak boleh mensifatkan-Nya bahwa Ia berada diatas tiap-tiap tempat, bahkan (wajib) mengatakan : Sesungguhnya Ia di atas langit (yakni) di atas ‘Arsy sebagaimana Ia telah berfirman :” Ar-Rahman di atas ‘Arsy Ia istiwaa (Thaha : 5). Dan patutlah memuthlakkan sifat istiwaa tanpa ta’wil sesungguhnya Ia istiwaa dengan Dzat-Nya di atas ‘Arsy. Dan keadaan-Nya di atas ‘Arsy telah tersebut pada tiap-tiap kitab yang. Ia turunkan kepada tiap-tiap Nabi yang Ia utus tanpa (bertanya) :”Bagaimana caranya Allah istiwaa di atas ‘Arsy-Nya ?” (Fatwa Hamawiyyah Kubra hal : 87).

Yakni : Kita wajib beriman bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala istiwaa di atas ‘Arsy-Nya yang menunjukan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas sekalian mahluk-Nya. Tetapi wajib bagi kita meniadakan pertanyaan : ”Bagaimana caranya Allah istiwaa di atas ‘Arsy-Nya ?”. Karena yang demikian tidak dapat kita mengerti sebagaimana telah diterangkan oleh Imam Malik dan lain-lain Imam. Allah istiwaa sesuai dengan kebesaran-Nya tidak serupa dengan istiwaanya mahluk sebagaiamana kita meniadakan pertanyaan : Bagaimana Dzatnya Allah ?.

Demikianlah aqidah salaf, salah satunya ialah Imam Abdul Qadir Jailani yang di Indonesia, di sembah-sembah dijadikan berhala oleh penyembah-penyembah qubur dan orang-orang bodoh. Kalau sekiranya Imam kita ini hidup pada zaman kita sekarang ini dan beliau melihat betapa banyaknya orang-orang yang menyembah dengan meminta-minta kepada beliau dengan ”tawasul”, tentu beliau akan mengingkari dengan sangat keras dan berlepaas diri dari qaum musyrikin tersebut.
Inna lillahi wa innaa ilaihi raaji’un !!.
 
 
Kelima

Kesimpulan

Hadits Jariyah (budak perempuan) ini bersama  hadits-hadits yang lain yang sangat banyak dan berpuluh-puluh ayat Al-Qur’an dengan tegas dan terang menyatakan : ”Sesungguhnya Pencipta kita Allah ‘Azza wa Jalla di atas langit yakni di atas ‘Arsy-Nya, yang sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya”. Maha Suci Allah dari menyerupai mahluk-Nya.!.

Dan Maha Suci Allah dari ta’wilnya kaum Jahmiyyah yang mengatakan Allah ada dimana-mana tempat !??.

Dapatlah kami simpulkan sebagai berikut :

  1. Sesungguhnya bertanya dengan pertanyaan : ”Dimana Allah ?, disyariatkan dan penanya telah mengikuti Rasulullah SAW.
  2. Wajib menjawab : ”Sesungguhnya Allah di atas langit atau di atas ‘Arsy”. Karena yang dimaksud di atas langit adalah di atas ‘Arsy. Jawaban ini membuktikan keimanannya sebagi mu’min atau mu’minah. Sebagaimana Nabi SAW, telah menyatakan keimanan budak perempuan, karena jawabannya : Allah di atas langit !.
  3. Wajib mengi’tiqadkan sesungguhnya Allah di atas langit, yakni di atas ‘Arsy-Nya.
  4. Barangsiapa yang mengingkari wujud Allah di atas langit, maka sesungguhnya ia telah kafir.
  5. Barangsiapa yang tidak membolehkan bertanya : Dimana Allah ? maka sesunguhnya ia telah menjadikan dirinya  lebih pandai dari Rasulullah SAW, bahkan lebih pandai dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Na’udzu billah.
  6. Barangsiapa yang tidak menjawab : Sesungguhnya Allah di atas langit, maka bukanlah ia seorang mukmin atau mukminah.
  7. Barangsiapa yang mempunyai iti’qad bahwa bertanya :”Dimana Allah ?” akan menyerupakan Allah dengan mahluk-nya, maka sesunguhnya ia telah menuduh Rasulullah SAW jahil/bodoh !. Na’udzu billah !
  8. Barangsiapa yang mempunyai iti’qad bahwa Allah berada dimana-mana tempat, maka sesunguhnya ia telah kafir.
  9. Barangsiapa yang tidak mengetahui dimana Tuhannya, maka bukankah ia penyembah Allah ‘Azza wa Jalla, tetapi ia menyembah kepada ”sesuatu yang tidak ada”.
  10. Ketahuilah ! Bahwa sesunguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas langit, yakni di atas ‘Arsy-Nya di atas sekalian mahluk-Nya, telah setuju dengan dalil naqli dan aqli serta fitrah manusia. Adapun dalil naqli, telah datang berpuluh ayat Al-Qur’an dan hadits yang mencapai derajat mutawatir. Demikian juga keterangan Imam-imam dan Ulama-ulama Islam, bahkan telah terjadi ijma’ diantara mereka kecuali kaum ahlul bid’ah. Sedangkan dalil aqli yang sederhanapun akan menolak jika dikatakan bahwa Allah berada di segala tempat !. Adapun fitrah manusia, maka lihatlah jika manusia -baik muslim atau kafir- berdo’a khususnya apabila mereka terkena musibah, mereka angkat kepala-kepala mereka ke langit sambil mengucapkan ‘Ya … Tuhan..!. Manusia dengan fitrahnya mengetahui bahwa penciptanya berada di tempat yang tinggi, di atas sekalian mahluk-Nya yakni di atas ‘Arsy-Nya. Bahkan fitrah ini terdapat juga pada hewan dan tidak ada yang mengingkari fitrah ini kecuali orang yang telah rusak fitrahnya.

Tambahan

Sebagian ikhwan telah bertanya kepada saya (Abdul Hakim bin Amir Abdat) tentang ayat :

Artinya :

”Dan Dia-lah Allah di langit dan di bumi, Dia mengetahui rahasia kamu dan yang kamu nyatakan, dan Dia mengetahui apa-apa yang kamu kerjakan ”. (Al-An’am : 3)

Saya jawab : Ahli tafsir telah sepakat sebagaimana dinukil Imam Ibnu Katsir mengingkari kaum Jahmiyyah yang membawakan ayat ini untuk mengatakan :

”Innahu Fii Qulli Makaan”

           ”Sesungguhnya Ia (Allah) berada di tiap-tiap tempat !”.

Maha Suci Allah dari perktaan kaum Jahmiyyah ini !

Adapun maksud ayat ini ialah :

  1. Dialah yang dipanggil (diseru/disebut) Allah di langit dan di bumi.
  2. Yakni : Dialah yang disembah dan ditauhidkan (diesakan) dan ditetapkan bagi-Nya Ilaahiyyah (Ketuhanan) oleh mahluk yang dilangit dan mahluk yang di bumi, kecuali mereka yang kafir dari golongan Jin dan manusia.

Ayat tersebut seperti juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Artinya :

”Dan Dia-lah yang di langit (sebagai) Tuhan, dan di bumi (sebagai) Tuhan, dan Dia Maha Bijaksana (dan) Maha mengetahui”. (Az-Zukhruf : 84)

Yakni : Dia-lah Allah Tuhan bagi mahluk yang di langit dan bagi mahluk yang di bumi dan Ia disembah oleh penghuni keduanya. (baca : Tafsir Ibnu Katsir Juz 2 hal 123 dan Juz 4 hal 136).

Bukanlah dua ayat di atas maksudnya : Allah ada di langit dan di bumi atau berada di segala tempat!. Sebagaimana ta’wilnya kaum Jahmiyyah dan yang sepaham dengan mereka. Atau perkataan orang-orang yang ”diam” Tidak tahu Allah ada di mana !.

Mereka selain telah menyalahi ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits Nabi serta keterangan para sahabat dan Imam-imam Islam seluruhnya, juga bodoh terhadap bahasa Arab yang dengan bahasa Arab yang terang Al-Quran ini diturunkan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Imam Abu Abdillah Al-Muhasiby dalam keterangan ayat di atas (A-Zukhruf : 84) menerangkan : ”Yakni Tuhan bagi penduduk langit dan Tuhan bagi penduduk bumi. Dan yang demikian terdapat di dalam bahasa, (umpamanya ) engkau berkata : ”Si Fulan penguasa di (negeri) Khirasan, dan di Balkh, dan di Samarqand”, padahal ia berada di satu tempat”. Yakni : Tidak berarti ia berada di tiga tempat meskipun ia menguasai ketiga negeri tersebut. Kalau dalam bahasa Indonesia, umpamanya kita berkata ”Si Fulan penguasa di Jakarta, dan penguasa di Bogor, dan penguasa di Bandung”. Sedangkan ia berada di satu tempat.Bagi Allah ada perumpamaan/misal yang lebih tinggi (baca : Fatwa Hamawiyyah Kubra hal : 73).

Adapun orang yang ”diam” (tawaqquf) dengan mengatakan : ”Kami tidak tahu Dzat Allah di atas ‘Arsy atau di bumi”, mereka ini adalah orang-orang yang telah memelihara kebodohan !. Allah Rabbul ‘Alamin telah sifatkan diri-Nya dengan sifat-sifat ini, yang salah satunya bahwa Ia istiwaa (bersemayam) di atas ‘Arsy-Nya supaya kita mengetahui dan menetapkannya. Oleh karena itu ”diam” darinya dengan ucapan ”kita tidak tahu” nyata telah berpaling dari maksud Allah. Pantaslah kalau Abu Hanifah mengkafirkan orang yang berfaham demikian, sama seperti orang yang menta’wilnya.

Dikirim ulang oleh Tami untuk Jilbab
Online

 

[baca selengkapnya...]

Unaizah Kota Santri

March 14, 2004. Dikirim dalam Uncategorized | 2 komentar

Sebagai kota yang digelari ”Madinatul Muthawwi’ien”
alias kota santri, Unaizah tentu saja memiliki perbedaan agak mencolok di
banding kota lain di seantero Kerajaan Saudi Arabia. Kebiasaan para thalibul
ilmu (penuntut ilmu) demikian pekat mewarnai lingkungan pergaulan masyarakat
setempat, sehingga dapat juga berpengaruh dalam kehidupan sosial dan kebiasaan
masyarakat secara umum, baik penduduk setempat maupun para perantau dari
berbagai negeri.

Letaknya

Terletak di ujung selatan ibu kota Al-Qashim, yang lebih terkenal dengan
sebutan Al-Gasim. Al-Gasim lebih biasa untuk lidah perantauan Indonesia, yang
sebenarnya merupakan dialek pasaran daerah setempat. Unaizah terlihat sebagai
kota yang lebih meyerupai ”kampung” dibanding kota di sekitarnya, seperti
Buraidah, Riyadhul Khabra. Meskipun masih ada beberapa kota yang lebih kecil di
sekitarnya, sebut saja Midznab; kota yang terletak lebih ke selatan.

Kota Unaizah tidak begitu luas. Sehingga untuk mencapai ujung-ujung kota
hanya dibutuhkan tidak lebih dari setengah jam, dengan ukuran kecepatan dalam
kota. Dengan beberapa jam berjalan kaki, kita sudah bisa mengelilingi kota ini.
Al-Qashim sendiri adalah wilayah yang tergolong muhafazhah, kalau di Indonesia
setingkat propinsi. Sementara Unaizah adalah bagian dari wilayah Al-Qashim
-setingkat dengan kotamadya di negeri kita. Ada sekitar 70-an kota madya yang
masuk dalam Muhafazhah Al-Qashim.
Jarak Unaizah ke kota Al-Qashim sekitar
empat puluh lima kilometer.

Religius Kental

Memasuki kota Unaizah, bagi kalangan perantauan ibarat ”bertukar alam” secara
drastis. Sebagai kota santri kerajaan Saudi Arabia -yang termasuk negara Islam-
warna keislaman di kota ini lebih kental dibandingkan kebanyakan kota yang ada,
termasuk kota Makkah pun. Sebut saja sebagai contoh, dalam hal mengenakan cadar.
Meski para ulama masih berbeda pendapat soal wajib-tidaknya seorang wanita
mengenakan cadar, di kota ini seolah sudah tidak ada lagi perbedaan pendapat
itu. Memang ketika masyarakat sudah terbiasa melakukan satu ajaran Islam, nilai
sunnah atau wajib sudah tidak begitu menjadi persoalan. Konsekuensinya, siapapun
wanita yang berjalan di tengah kota ini, harus tampil dengan pakaian Islamnya
yang palin gutama, Abaya (pakaian wanita) hitam yang serba lebar, lengkap dengan
cadar bahkan sarung tangan dan kaus kaki. Hal itu tentu saja jauh lebih dapat
memelihara pandangan-pandangan haram kaum lelaki, sehingga suasana (bag orang
beriman) terasa lebih sejuk, terutama di bulan Ramadhan kala kita sedang
menunaikan ibadah puasa

Gudang Ilmu

Suasana keilmuan cukup kental di kota yang menjadi tempat kelahiran Syaikh
Al-Utsaimin rahimahullah ini. Bisa dilihat dari saratnya masjid-masjid kecil
dengan jadwal kajian Islam yang langsung mengupas buku-buku panduan, seperti
buku-buku aqidah dan fikih, berlangsung setiap hari. Berbeda sangat dengan warna
kajian di banyak negeri lain, yang seringkali hanya berupa ceramah dan wejangan
saja.

Hal itu tidak aneh, karena di tengah kota terdapat sebuah masjid besar
yang dikenal sebagai Jami’ Al-Utsaimin. Di masjid inilah -setiap habis shalat
Ashar dilanjutkan setelah Maghrib hingga waktu Isya yang diakhirkan- ada
pelajaran-pelajaran ilmiah. Dahulu di masa hidup Syaikh Muhammad Shalih
Al-Utsaimin, beliau sendiri yang menjadi pengajarnya. Seluruh bentuk pelajaran,
mulai aqidah, nahwu, fikih, ushul fikih dan yang lainnya, beliau sendiri yang
mengajarkan dengan pengetahuan dan tingkat penguasaan beliau yang luas sekali.
Setelah beliau wafat, dengan wasiat beliau juga, pelajaran-pelajaran itu
diajarkan kembali secara kolektif oleh tiga murid senior beliau: Kedua menantu
beliau, Syaikh Sami Ash-Shuqair dan Syaikh Khalid Al-Mushlih, juga murid beliau
yang belajar sejak kecil, Syaikh Abdurrahman Ad-Dahys. Alhamdulillah, semua
pengajaran itu berjalan lancar, karena ditambah juga dengan dukungan murid
senior beliau lainnya yang turut serta dalam kajian-kajian itu, untuk memberi
semangat kepada murid-murid yang baru.

Untuk menambah intensivitas pelajaran, Syaikh Al-Utsaimin telah
membangunkan rumah tinggal bertingkat empat bagi para santrinya yang datang dari
berbagai negeri. Rumah tinggal (yang amat permanen) itu, dibangun dengan biaya
enam juta riyal, sekitar 14 Milyar empat ratus juta rupiah, dengan kurs riyal
2400 rupiah. Kesemuanya itu dibangun dari uang yang sebenarnya dihadiahkan untuk
syaikh, lalu beliau infakkan untuk fasilitas para thalibul
ilmu.
bangunantersebuta ada dua. Salah satunyadiperuntukkan untuk para
penuntut ilmu yang masih bujangan. yang lainnya, untuk mereka yang sudah
menikah. Di samping itu, masih ada satu bangunan lagi yang berdampingan dengan
masjid -di sebelah barat bangunan utama- yang juga diperuntukkan untuk mereka
yang sudah menikah bersama keluarga mereka.

Kegiatan Lain

Di samping itu, kota Unaizah juga sarat dengan berbagai kegiatan keagamaan
yang dikelola oleh berbagai lembaga dakwah yang tersebar di kota tersebut. Ada
program pengiriman dai (kebanyakan dari murid-murid Syaikh Al-Utsaimin),
bantuan-bantuan hewan kurban, dana berbuka puasa dan yanglainyya, ke berbagai
negara Islam. Aktivitas keagamaan lain juga terlihat mendapat dukungan
masyarakat luas, misalnya, ‘sekadar’ shalat Istisqa (untuk meminta hujan) saja,
diumumkan di berbagai masjid, untuk kemudian dilaksanakan di lapangan besar
dengan satu imam di waktu yang telah ditentukan.

Gratisan

Perhatian masyarakat terhadap para penuntut ilmu juga cukup besar. Karena
itulah, para penuntut ilmu yang tinggal di asrama Syaikh Al-Utsaimin mendapat
jatah makan-minum yang cukup, gratis lagi! Meskipun mereka datang dengan latar
pendidikan yang berbeda-beda, dari berbagai negara Islam dan bahkan dari negara
non-Islam.
Tidak ketinggalan, sebagaimana juga di kota-kota lain, kota
Unaizah juga menyediakan Islamic Centre yang disebut Al-Jaliyyat. Di situ para
pekerja muslim dari berbagai negara -dengan bimbingan para penuntut ilmu dari
negara masing-masing- bisa menimba ilmu secara rutin beberapa kali seminggu,
tentu dengan bahasa mereka masing-masing.

Mau Cari Kurma?

Kota Unaizah termasuk daerah penghasil kurma terbaik. Kurma As-Sukkari dan
berbagai jenis kurma paling bermutu di Saudi Arabia, banyak didapat dari kota
ini. Selain itu, berbagai hasil pertanian lain, dari mulai kebutuhan pokok,
seperti gandum, cabe, bawang, hingga buah-buahan, juga cukup banyak didapatkan
di bagian pinggiran kota ini.
Melihat kota Unaizah ini -meski tergolong kota
yang amat kecil- hilanglah bayangan kita tentang negeri Saudi yang gersang dan
tidak bisa ditanami. Dengan teknologi pertanian yang cukup canggih, hampir
setiap tanaman tropis bisa ditanam di sini. Bisa jadi, suatu saat kota Unaizah
secara khusus dan negeri Saudi Arab umumnya, bisa menjadi negeri pengekspor
beras.

Bila mampir ke kota ini, jangan lupa mengunjungi sebuah danau (terletak di
luar kota) yang disebut danau garam. Karena pada musim-musim tertentu, danau ini
mengering, airnya nerubah menjadi tumpukan garam, menyerupai danau kaca.
Selebihnya, kota ini memang bukan kota wisata. Pemandangan alamnya pun tidaklah
bisa menyamai atau sekedar mendekati keindahan kota di tanah air kita. Namun
semua itu seolah tidak terasa, ketika sudah terbalut suasana nyaman, tentram dan
aman. Pencurian termasuk kasus yang amat jarang terjadi, apalagi pencurian
sendal dan sepatu di masjid-masjid, bisa dibilang mustahil. Kalaupun ada kasus
penipuan di toko-toko, dilakukan oleh pelanggan yang berasal dari negara lain,
dengan modus operandi yang klasik dan monoton, sehingga mudah
diantisipasi.
Akhirnya, kota Unaizah ini bisa dibilang mewakili kebanyakan
kota di berbagai penjuru Kerajaan Saudi, amat sulit membuka investasi usaha
asing. Cina yang biasanya menguasai perekonomian berbagai negara Islam, tidak
punya kans di sini. Itu disebabkan usaha yang dirintis di negeri unta ini memang
harus melalui birokrasi wakalah atau hak kepemilikan penduduk setempat.
Interaksi budaya asing juga bisa dibilang hilang sama sekali.

Orang bisa mengatakan, bahwa bagaimanapun cinta seseorang kepada negeri
asing, tetap lebih mencintai negeri sendiri. Namun bagi seorang mukmin yang
bersih keimanannya, kota Unaizah ini bisa menjadi salah satu di antara kota yang
mungkin bisa merubah pendirian tersebut. Wallahu a’lam.

Oleh Abu Fudhail, El-Fata edisi 8/II/2002
Diketik ulang oleh tami untuk
Jilbab Online

[baca selengkapnya...]

Bercerai dari Suami Akibat Kecanduan Chatting

March 3, 2004. Dikirim Ummu Raihanah dalam Keluarga, Kisahku | 23 komentar
Duh,…siapa yang tidak kenal dengan chatting?? Rasanya hampir sebagian besar umat manusia diatas muka bumi ini mengenal chatting dengan baik,…bahkan amat akrab dalam kehidupan kita sehari-hari.Sarana yang satu ini memang sangat bermanfaat sekali bagi mereka yang jauh dari keluarga,handai taulan,teman atau saudara dan yang lainnya.

[baca selengkapnya...]

Sehat dan Cantik dengan Zaitun

March 3, 2004. Dikirim dalam Uncategorized | 2 komentar

Rasanya tak ada yang tak kenal dengan zaitun.walaupun mungkin diantara kita belum pernah melihatnya atau mengkonsumsinya kita semua sebagai muslim tidak asing lagi dengannya.Karena Al-Qur’an mengabadikannya sebagai pohon yang di berkahi.Maka tak heran bila saat ini para peneliti maupun ilmuwan modern banyak menemukan manfaat dan khasiat dari pohon zaitun ini.Tak ada salahnya kita meneliti lebih dalam lagi tentang manfaat zaitun ini bagi kita terutama para akhwat yang ingin tetap tampil sehat dan cantik (Insya Allah) dengan zaitun.Ibnul Qayyim AL-Jauziyah dalam bukunya Zaadul Maad menerangkan tentang keutamaan pohon zaitun :

”Allah Berfirman tentang Zaitun :

”Yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya,(yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak disebelah timur dan tidak pula disebelah baratnya, yang minyaknya saja hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api” {An-Nuur:35}

Imam Tirmidzi dan Ibnu Majah meriwayatkan dengan isnad yang jayyid, dari hadits Abu Hurairah, Nabi kita Shalallahu alaihi wassalam bersabda:

makanlah minyak zaitun dan minyakilah dengannya, karena ia berasal dari pohon yang penuh barakah”

Kemudian Ibnul Qayyim melanjutkan lagi bahwa :

Kualitas minyak zaitun tergantung dari kualitas buah zaitun.Perasan dari buah yang masak adalah yang paling baik.Minyak dari buah zaitun masih mentah bersifat dingin dan kering. minyak dari buah zaitun yang merah berkualitas menengah dan dari buah zaitun yang hitam memiliki sifat yang panas dan lembab secara seimbang.Ia bermanfaat untuk membebaskan racun dan mengeluarkan cacing.semua jenis minyak ini menghaluskan kulit dan menghambat tumbuhnya uban. air zaitun yang asin baik untuk bekas luka karena kebakaran dan menguatkan gusi.Sedangkan daun zaitun digunakan untuk mengobati luka, gatal-gatal dan mencegah keringat. (Zaadul Maad hal:333)

Tak heran bila orang-orang Arab banyak mengkonsumsi buah zaitu dan sekaligus minyaknya ini. Diantara mereka ada yang cukup dengan menyantap minyak zaitun dengan roti Arab saja..Biasanya kaum wanita Arab meminyaki rambut mereka dengan minyak zaitun sebelum tidur kemudian berkeramas keesokan harinya menjadikannya lebat , tidak mudah rontok dan panjang.

Selain itu bagi para ibu muda (akhwat) yang sedang mengandung ternyata minyak zaitun inipun dapat dipakai untuk mengoles bagian perut yang terkadang gatal dan mengurangi guratan di seputar perut bila rajin menggunakannya, insya Allah.Para pakar kecantikan modern menggunakan minyak zaitun dalam pembuatan krem kecantikan mereka untuk menghilangkan guratan setelah melahirkan.

Mengenal lebih dalam lagi tentang zaitun, ini,Buah zaitun yang diawetkan sering digunakan sebagai campuran hidangan seperti salad, pizza, mezze dari Yunani atau untuk campuran tapas dari Spanyol.

Dalam dunia kuliner, selain buah zaitun utuh, minyaknya pun sangat terkenal. Minya zaitun yang berwarna kuning pucat sampai hijau tua merupakan minyak nabati tak jenuh tunggal. Tentu saja dapat pula menambah nilai gizi pada masakan. Ada tiga jenis minyak zaitun

yang dijual di pasaran. Biasanya tersedia dalam kemasan
botol atau kaleng besar. Ada dua jenis zaitun yaitu yang berwarna hijau dan
hitam. Sampai saat ini Spanyol dan Itali masih merupakan negara terdepan dalam
memproduksi minyak zaitun.

buah dari tanaman yang banyak tumbuh di daratan Mediterania ini, uga dipakai untuk menjaga kemulusan dan kecantikan kulit para ratu Romawi dan Mesir pada zaman dahulu dan itu bukan merupakan rahasia lagi.

Tampaknya, keyakinan bangsa Romawi terhadap khasiat zaitun kini telah terungkap. Buktinya, para ahli pun berpendapat bahwa nutrisi yang terkandung dalam buah zaitun berguna secara fisiologis dan klinis. Secara fisiologis, zaitun bermanfaat untuk mempercepat proses pencernaan. Sedangkan secara klinis, ia memiliki fungsi sebagai pencegah kanker usus, penyakit kandung kemih, penyakit jantung, dan mampu mampu menurunkan kadar kolesterol.

Pohonnya yang selalu hijau di sepanjang tahun memberi manfaat yang berlimpah bagi kesehatan. Mulai dari kayunya yang keras, buahnya baik yang mentah maupun yang matang, sampai minyaknya, dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan

Selain itu, manfaat zaitun bagi dunia farmasi dan kimia sangat banyak

ini dikarenakan kandungan minyaknya yang tergolong tak jenuh tunggal. Limbah minyak zaitun sendiri masih dapat dipergunakan sebagai bahan bakar, pupuk dan makanan hewan dan minyak pelumas. Sedangkan, biji zaitun dapat digunakan sebagai produk cetakan plastik. Dalam dunia kecantikan buah zaitun juga turut berperan, terbukti beberapa produk kecantikan juga banyak yang menggunakan buah ini.

Minyak zaitun (olive oil) merupakan ‘obat’ andalan bangsa Mesir dan Romawi kuno sejak jaman dulu kala. Sampai sekarang pun minyak zaitun sangat populer bagi bangsa Mesir hingga Mediterania, bukan hanya sebagai bagian dari masak-memasak, tetapi juga berperan menjaga kesehatan mereka.

Hal ini dibuktikan oleh Dimitros Trichopoulus, profesor dari Harvard School of Public Health di AS yang menyelidiki hubungan antara banyaknya konsumsi minyak zaitun dengan pertumbuhan kanker payudara.

Dari penelitian yang melibatkan sedikitnya 2300 wanita diketahui bahwa wanita yang mengkonsumsi minyak zaitun lebih dari satu kali dalam sehari memiliki peluang terkena kanker payudara 25 % lebih rendah dibanding wanita yang kurang mengkonsumsi minyak zaitun.Dan, kenyataannya wanita Mesir dan Mediterania lebih sedikit terkena kanker payudara dibanding dengan wanita Amerika.

“Minyak zaitun banyak mengandung vitamin E yang sangat dibutuhkan untuk menghentikan kerusakan sel-sel pemicu kanker. Selain itu juga, mengandung polifenol yang berperan sebagai penghadang radikal bebas”, ungkapnya lagi.

Jadi kita semua telah mengetahui betapa barakahnya pohon ini.Untuk ukhti muslimah yang senang luluran maka minyak zaitun inipun dapat digunakan untuk luluran sebelum mandi,insya Allah bila rutin di gunakan maka kulit ukhti akan tampak lebih halus dan segar.Nah,mengapa tidak dicoba…jangan lupa bila ada saudara-saudara kita yang ingin safar umrah ataupun haji selain titip air zam-zam sebagai oleh-oleh tak ada salahnya minta pula dikirimi minyak zaitun beserta buahnya.Wallahu ‘alam bish-shawwab.

 

 

Sumber:

1.Zaadul Maad,Ibnul qayyim Al-Jauziyah,Pustaka Azzam,1990M

2.Sumber bacaan lain dan pengalaman pribadi

 

 

 

 


[baca selengkapnya...]

Siap Nikah = Siap Ta’at??

March 3, 2004. Dikirim dalam Uncategorized | 1 komentar

Anda ukhti muslimah yang ingin mempersiapkan diri kegerbang pernikahan? bekal apa yang telah ukhti siapkan?? jangan asal bekal (bekal ''kepengen'') terus buru-buru ingin menikah.Jika hanya ini yang ukhti punya, eitt! tunggu dulu!?..jangan dulu berfikir kesana, karena tentunya anda tidak ingin kecewa dan mengecewakan orang yang menikahi anda.Jangan nantinya pernikahan ukhti seumur jagung, atau manis ditahun pertama dan racun ditahun-tahun berikutnya.Nah, coba selidiki dulu dalam diri ukhti, sudahkah anda memiliki bekal ilmu syar'i?? sangat penting lho!.. karena banyak hal yang terjadi diluar dugaan ketika sudah menikah dan ilmu syar'i ini menjadi ''pengerem '' dan sekaligus benteng pertahanan yang kuat untuk terus merajut benang-benang hubungan antara suami istri hingga dihari tua.Kemudian sudahkah ukhti siap untuk diperintah?? bila anda termasuk orang yang egois, suka menang sendiri(tidak mau mengalah), juga tidak senang diatur….waah ini bahaya sekali, bisa-bisa rumah tangga ukhti ''panas'' setiap harinya,penuh dengan perselisihan dan percekcokan.Rencananya ingin membina rumah tangga yang sakinnah mawaddah warrohmah hanya jadi bunga mimpi saja. Coba simak dengan seksama hadits berikut ini:


[baca selengkapnya...]

Arsip