Arsip selama bulan April, 2004

Ketika Shalat Teringat Pakaiannya Terkena Najis

April 30, 2004. Dikirim dalam Uncategorized | Comments Off

Terkadang karena sibuk atau tergesa-gesa untuk segera
menunaikan shalat sering terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan.Salah satu
contohnya yaitu kita shalat dengan menggunakan pakaian yang terkena
najis.Terutama bagi akhwat yang sudah memiliki momongan terkadang terkena air
kencing buah hati kita atau najis lainnya tanpa sempat membersihkannya terlebih
dahulu atau mengganti pakaian karena sibuk atau lupa, akhirnya kita shalat
dengan pakaian yang sama, pakaian yang terkena najis tadi.Nah bagaimana bila hal
ini menimpa ukhti/ikhwah sekalian apa yang harus kita lakukan sedangkan kita
baru teringat ketika dalam posisi shalat???Mari kita lihat jawabannya…

Tanya: Jika seorang wanita lupa sehingga ia shalat dengan menggunakan pakaian
yang telah terkena najis, lalu ditengah shalat ia teringat bahwa pakaian yang
dipakainya itu telah terkena najis, apakah boleh bagi wanita itu menghentikan
shalatnya untuk mengganti pakaian itu?Dan bilakah saat-saat dibolehkannya
menghentikan shalat?

Jawab: Barangsiapa yang melaksanakan shalat dengan membawa najis dan ia
mengetahui adanya najis itu maka shalatnya batal, akan tetapi jika ia tidak tahu
adanya najis hingga selesai shalat maka shalatnya sah dan tidak diharuskan
baginya untuk mengulangi shalat itu.Jika keberadaan najis itu diketahui sat ia
melakukan shalat serta memungkinkan baginya untuk menghilangkan najis itu dengan
segera, maka hendaknya ia lakukan itu kemudian melanjutkan shalatnya hingga
selesai, telah disebutkan dalam hadits Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam
bahwa suatu ketika beliau melepaskan kedua sandalnya saat shalat setelah
malaikat Jibril mengabarkan beliau bahwa pada kedua sandalnya itu terdapat najis
dan Nabi Shalallahu alaihi wassalam tidak membatalkan bagian shalat yang telah
dikerjakannya.Begitu juga bila mengetahui pada sorbannya terdapat najis, maka
hendaklah segera menanggalkannya berdasarkan riwayat tadi.Adapun jika
menghilangkan najis itu membutuhkan suatu proses yang panjang, seperti harus
melepaskan baju atau celana atau yang lainnya yang mana setelah melepaskan
pakaian itu ia jauh dari shalatnya, maka hendaknya menghentikan shalat dulu
untuk itu dan memulai shalatnya dari awal, seperti halnya bila teringat bahwa ia
dalam keadaan tidak suci atau batal wudhunya saat shalat atau batal shalatnya
karena tertawa atau lainnya saat shalat.

dikutip dari: Fatwa-fatwa Tentang Wanita (oleh Masyayikh),jilid I
hal:121,Darul Haq, Jakarta

 

[baca selengkapnya...]

Ikan Bakar Parahiyangan

April 29, 2004. Dikirim dalam Uncategorized | Comments Off

Bahan: 400 gr ikan emas/2 ekor, 1 sdm
garam, minyak goreng secukupnya.
Olesan: 5 sendok makan kecap manis, 2
sdm minyak goreng, 1 sdm, ketumbar halus, 1/2 sdm bumbu isi**
**Bumbu isi:
100 gr jahe muda, diparut, 6 siung bawang putih diiris halus, 1 sendok teh
garam.

Cara Membuat:

Bersihkan sisik dan isi perut ikan.
Taburi garam, biarkan selama 1 jam. Cuci bersih ikan agar garam di tubuhnya
larut. Masukkan bumbu isi ke dalam perut ikan, lalu goreng dalam minyak panas
hingga ikan berwarna kecoklatan. Angkat. Siapkan alat pemanggang. Bakar ikan di
atasnya sambil dilumuri bumbu olesan. Lakukan hingga bumbu olesan habis.
Balik-balik ikan, dan sajikan bersama sambal tomat dan lalapan.

Tambahan:
Beberapa jenis ikan dapat diperoleh di pasar dengan harga relatif murah. Tapi
harus hati-hati memilihnya. Sebab ikan yang sudah tidak segar dapat menimbulkan
keracunan atau gatal-gatal.

Berikut ini Beberapa tips memilih
ikan:

- Pilihlah ikan yang sisiknya masih melekat kuat di badan

-
Warna sisik masih mengkilat

- Insangnya masih berwarna cerah

-
Dagingnya bila ditekan masih elastis dan keras

- Matanya masih bulat dan
jernih

- Tidak mengeluarkan bau busuk.

[baca selengkapnya...]

Makna dan Urgensi Akidah Sebagai Landasan Agama

April 29, 2004. Dikirim dalam Uncategorized | Comments Off

Kata aqidah mungkin sudah begitu
sering kita dengar. Tapi, barangkali banyak dari kita yang belum mengetahui
makna dan kandungannya. Padahal, aqidah merupakan pondasi penting yang mestinya
kita ketahui sebagai seorang muslim. Pada kesempatan kali ini Insya Allah kita
akan membahas tentang makna aqidah dan urgensinya sebagai landasan agama, yang
diambil dari Kitab Tauhid 1 karya Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al Fauzan.
Selamat menyimak.
< ?XML:NAMESPACE PREFIX = O
/>

[baca selengkapnya...]

Nasehat Berharga Untuk Saudariku Tercinta

April 29, 2004. Dikirim dalam Uncategorized | Comments Off

Saudariku, Agama adalah nasehat,
sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wa salam dari Abu
Ruqayyah Tamiim bin Aus Ad Daari. Para shahabat kemudian bertanya: ”Untuk
siapa?” Sabda beliau: ”Untuk Allah, kitab-Nya, rasul-Nya, para pemimpin umat
Islam, dan bagi seluruh kaum muslimin.” (HR Muslim).

Untuk itu pada
kesempatan ini saya ingin menyampaikan beberapa butir-butir nasehat yang,
semoga, dapat meningkatkan keimanan kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
Sebab, keimanan itu bertambah dan berkurang, bertambah dengan ketaatan dan
berkurang dengan kemaksiatan.

Saudariku,

* Jika Anda menghendaki
taufiq untuk khusyu’ maka jauhilah dari memandang yang haram.

* Jika Anda
menghendaki taufik untuk hikmah, maka jauhilah dari banyak bicara

* Jika
Anda menghendaki taufiq untuk dapat mengetahui aib sendiri, maka hindarilah
mencari aib orang lain

* Waspadalah Anda jika lalai dari tugas di jalan
Allah karena tipuan Iblis, sesungguhnya tipuan dan rayuan Iblis itu bisa
melalaikan Anda.

* Jadilah wanita yang penyayang

* Waspadalah,
jangan tertipu oleh luasnya rahmat Allah, sehingga Anda tidak beramal

*
Jika Anda tidak merasa takut siksaan Allah atas kelalaian Anda dalam ketaatan,
maka Anda adalah orang yang celaka

* Diantara kesempurnaan akal seorang
muslimah adalah penyayang, tenang dan sedikit bicara.

* Ketahuilah bahwa
wanita yang paling sedikit istirahatnya adalah wanita yang hasad dan
pendengki

* Ingatlah bahwa siapa yang memuji dengan apa yang tidak ada
pada diri Anda, berarti dia mencerca dengan apa yang ada pada diri
Anda.

* Tidak sempurna sifat seorang wanita hingga ada pada dirinya sifat
menjaga diri dari sesuatu yang ada di tangan orang lain dan bersabar dari
gangguan mereka

* Diantara tawadhu’ seorang wanita muslimah adalah benci
jika disebut kebaikan dan ketakwaannya di tengah manusia

* Perbanyaklah
taubat dan istighfar pada waktu siang dan malam, karena Anda tidak akan terbebas
dari perbuatan dosa

* Musibah yang menimpa seorang muslimah di dunia ini
ada tiga: ”Tertinggal dari shalat, saudarinya yang shalihah meninggal dunia dan
bencana yang menimpa alam”

* Seorang wanita yang shalihah harus banyak
beribadah kepada Allah jika ingin mendapatkan keagungan dari Allah

*
Setiap yang menganggap dirinya baik, maka dia termasuk orang-orang yang tertipu
oleh amal jeleknya

* Boleh jadi seseorang binasa karena pujian dan
terperdaya dengan kebaikan yang diperbuatnya

* Siapa yang banyak
syahwatnya maka banyak pula dosanya, dan siapa yang banyak dosanya, maka hatinya
menjadi beku.

* Memperbaiki niat adalah puncak ketaatan

* Ingatlah
bahwa yang disebut manusia adalah yang mengajar atau belajar, dan tidak ada
kebaikan selain dari itu

* Siapa yang tidak menjaga lisannya maka hatinya
tidak akan tenang

* Siapa yang banyak bicaranya maka banyak pula
bohongnya, dan siapa yang banyak bohongnya maka malunya telah berkurang, dan
siapa yang kurang malunya maka berkurang pula wara’nya. Dan siapa yang telah
berkurang wara’nya berarti hatinya telah mati.

* Ingatlah bahwa anggota
tubuh yang paling dicintai Allah adalah lidah yang jujur. Dan tidak satupun
anggota tubuh yang sangat dibenci kecuali lidah yang pendusta

* Jika Anda
ingin sampai kepada iman yang sebenarnya, maka tinggalkanlah debat, sekalipun
Anda dalam posisi benar.

Demikianlah nasehat-nasehat itu, semoga kita selalu
istiqomah di atas jalan-Nya. Amin.

Maraji’: Nasehat Kepada Para
Muslimah
, Abdul ‘Aziz al-Muqbil, Fathi Madji As
Sayyid

[baca selengkapnya...]

Mengenal Ummu Salamah Radhiyallahu Anha

April 27, 2004. Dikirim dalam Uncategorized | Comments Off

Beliau adalah Hindun binti Abi Umayyah bin Mughirah al-Makhzumiyah al-Qursyiyah. Bapaknya adalah putra dari salah seorang Quraisy yang diperhitungkan (disegani) dan terkenal dengan kedermawanannya. Ayahnya dijuluki sebagai ”Zaad ar-Rakbi ” yakni seorang pengembara yang berbekal. Dijuluki demikian karena apabila dia melakukan safar (perjalanan) tidak pernah lupa mengajak teman dan juga membawa bekal bahkan ia mencukupi bekal milik temannya. Adapun ibu beliau bernama ‘Atikah binti Amir bin Rabi’ah al-Kinaniyah dari Bani Farras yang terhormat. Disamping beliau memiliki nasab yang terhormat ini beliau juga seorang wanita yang berparas cantik, berkedudukan dan seorang wanita yang cerdas.

Pada mulanya dinikahi oleh Abu Salamah Abdullah bin Abdil Asad al-Makhzumi, seorang shahabat yang agung dengan mengikuti dua kali hijrah. Baginya Ummu Salamah adalah sebaik-baik istri baik dari segi kesetiaan, keta’atan dan dalam menunaikan hak-hak suaminya. Dia telah memberikan pelayanan kepada suaminya di dalam rumah dengan pelayanan yang menggembirakan. Beliau senantiasa mendampingi suaminya dan bersama-sama memikul beban ujian dan kerasnya siksaan orang-orang Quraisy. Kemudian beliau hijrah bersama suaminya ke Habasyah untuk menyelamatkan diennya dengan meninggalkan harta, keluarga, kampung halaman dan membuang rasa ketundukan kepada orang-orang zhalim dan para thagut.

Di bumi hijrah inilah Ummu Salamah melahirkan putranya yang bernama Salamah. Bersamaan dengan disobeknya naskah pemboikotan (terhadap kaum muslimin dan kaumnya Abu Thalib) dan setelah masuk Islamnya Hamzah bin Abdul Muthallib dan Umar bin Khaththab radhiallaahu ‘anhuma , kembalilah sepasang suami-isteri ini ke Mekkah bersama shahabat-shahabat yang lainnya. Kemudian manakala Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan bagi para shahabatnya untuk hijrah ke Madinah setelah peristiwa Bai’atul Aqabah al-Kubra, Abu Salamah bertekad untuk mengajak anggota keluarganya berhijrah.

Kisah hijrahnya mereka ke Madinah sungguh mengesankan, maka marilah kita mendengar penuturan Ummu Salamah yang menceritakan dengan lisannya tentang perjalanan mereka tatkala menempuh jalan hijrah. Berkata Ummu Salamah: Tatkala Abu Salamah tetap bersikeras untuk berhijrah ke Madinah, dia menuntun untanya kemudian menaikkan aku ke atas punggung unta dan membawa anakku Salamah. Selanjutnya kami keluar dengan menuggang unta, tatkala orang-orang dari Bani Mughirah melihat kami segera mereka mencegatnya dan berkata: ‘Jika dirimu saja yang berangkat maka kami tidak kuasa untuk mencegahnya namun bagaimana dengan saudara kami (Ummu Salamah yang berasal dari Bani Mughirah) ini?’.

Kemudian mereka merenggut tali kendali unta dari tangannya dan mencegahku untuk pergi bersamanya. Ketika Bani Abdul Asad dari kaum Abi Salamah melihat hal itu, mereka marah dan saling memperebutkan Salamah hingga berhasil mengambilnya dari paman-pamannya, mereka mengatakan:’Tidak! demi Allah kami tidak akan membiarkan anak laki-laki kami bersamanya jika kalian memisahkan istri dari keluarga laki-laki kami’. Mereka memperebutkan anakku, Salamah lalu melepaskan tangannya, kemudian anakku dibawa pergi bergabung dengan kaum bapaknya, sedangkan aku tertahan oleh Bani Mughirah. Maka berangkatlah suamiku seorang diri hingga sampai ke Madinah untuk menyelamatkan dien dan nyawanya. Selama beberapa waktu lamanya, aku merasakan hatiku hancur dalam keadaan sendiri karena telah dipisahkan dari suami dan anakku. Sejak hari itu, setiap hari aku pergi keluar ke pinggir sebuah sungai, kemudian aku duduk disuatu tempat yang menjadi saksi akan kesedihanku. Terkenang olehku saat-saat dimana aku berpisah dengan suami dan anakku sehingga menyebabkan aku menangis sampai menjelang malam.

Kebiasaan tersebut aku lakukan kurang lebih selama satu tahun hingga ada seorang laki-laki dari kaum pamanku yang melewatiku. Tatkala melihat kondisiku, ia menjadi iba kemudian berkata kepada orang-orang dari kaumku:’Apakah kalian tidak membiarkan wanita yang miskin ini untuk keluar? Sungguh kalian telah memisahkannya dengan suami dan anaknya’. Hal itu dikatakan secara berulangkali sehingga menjadi lunaklah hati mereka, kemudian mereka berkata kepadaku: ‘Susullah suamimu jika kamu ingin’. Kala itu anakku juga dikembalikan oleh Bani Abdul Asad kepadaku. Selanjutnya aku mengambil untaku dan meletakkan anakku dipangkuannya. Aku keluar untuk menyusul suamiku di Madinah dan tak ada seorangpun yang bersamaku dari makhluk Allah. Manakala aku sampai di at-Tan’im aku bertemu dengan Utsman bin Thalhah. Dia bertanya kepadaku:’Hendak kemana anda wahai putri Zaad ar-Rakbi?’. ‘Aku hendak menyusul suamiku di Madinah”, jawabku. Utsman berkata: ‘apakah ada seseorang yang menemanimu?. Aku menjawab: ‘Tidak! demi Allah! melainkan hanya Allah kemudian anakku ini’. Dia menyahut: ‘Demi Allah engkau tidak boleh ditinggalkan sendirian’. Selanjutnya dia memegang tali kekang untaku dan menuntunnya untuk menyertaiku.

Demi Allah tiada aku kenal seorang laki-laki Arab yang lebih baik dan lebih mulia dari Ustman bin Thalhah. Apabila kami singgah di suatu tempat, dia mempersilahkan aku berhenti dan kemudian dia menjauh dariku menuju sebuah pohon dan dia berbaring dibawahnya. Apabila kami hendak melanjutkan perjalanan, dia mendekati untaku untuk mempersiapkan dan memasang pelananya kemudian menjauh dariku seraya berkata: ‘Naiklah!’. Apabila aku sudah naik ke atas unta dia mendatangiku dan menuntun untaku kembali. Demikian seterusnya yang dia lakukan hingga kami sampai di Madinah. Tatkala dia melihat desa Bani Umar bin Auf di Quba’ yang merupakan tempat dimana suamiku, Abu Salamah berada di tempat hijrahnya. Dia berkata:’Sesungguhnya suamimu berada di desa ini, maka masuklah ke desa ini dengan barokah Allah’. Sementara Ustman bin Thalhah langsung kembali ke Makka”. Begitulah, Ummu Salamah adalah wanita pertama yang memasuki Madinah dengan sekedup unta sebagaimana beliau juga pernah mengikuti rombongan pertama yang hijrah ke Habasyah.

 Selama di Madinah beliau sibuk mendidik anaknya – inilah tugas pokok bagi wanita – dan mempersiapkan sesuatu sebagai bekal suaminya untuk berjihad dan mengibarkan bendera Islam. Abu Salamah mengikuti perang Badar dan perang Uhud. Pada Perang Uhud inilah beliau terkena luka yang parah. Beliau terkena panah pada begian lengan dan tinggal untuk mengobati lukanya hingga merasa sudah sembuh. Selang dua bulan setelah perang Uhud, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam mendapat laporan bahwa Bani Asad merencanakan hendak menyerang kaum muslimin. Kemudian beliau memanggil Abu Salamah dan mempercayakan kepadanya untuk membawa bendera pasukan menuju Qathn, yakni sebuah gunung yang berpuncak tinggi disertai pasukan sebanyak 150 orang. Di antara mereka adalah ‘Ubaidullah bin al-Jarrah dan Sa’ad bin Abi Waqqash. Abu Salamah melaksanakan perintah Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam untuk menghadapi musuh dengan antusias. Beliau menggerakkan pasukannya pada gelapnya subuh saat musuh lengah. Maka usailah peperangan dengan kemenangan kaum muslimin sehingga mereka kembali dalam keadaan selamat dan membawa ghanimah. Disamping itu, mereka dapat mengembalikan sesuatu yang hilang yakni kewibawaan kaum muslimin tatkala perang Uhud.

Pada pengiriman pasukan inilah luka yang diderita oleh Abu Salamah pada hari Uhud kembali kambuh sehingga mengharuskan beliau terbaring ditempat tidur. Di saat-saat dia mengobati lukanya, beliau berkata kepada istrinya: ”Wahai Ummu Salamah, aku mendengar Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Tiada seorang muslimpun yang ditimpa musibah kemudian dia mengucapkan kalimat istirja’ (inna lillahi wa inna ilaihi raji’un), dilanjutkan dengan berdo’a:’Ya Allah berilah aku pahala dalam musibah ini dan gantilah untukku dengan yang lebih baik darinya’ melainkan Allah akan menggantikan yang lebih baik darinya. Pada suatu pagi Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam datang untuk menengoknya dan beliau terus menunggunya hingga Abu Salamah berpisah dengan dunia. Maka Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam memejamkan kedua mata Abu Salamah dengan kedua tangannya yang mulia, beliau mengarahkan pandangannya ke langit seraya berdo’a: Ya Allah ampunilah Abu Salamah, tinggikanlah derajatnya dalam golongan Al-Muqarrabin dan gantikanlah dia dengan kesudahan yang baik pada masa yang telah lampau dan ampunilah kami dan dia Ya Rabbal’Alamin.

Ummu Salamah menghadapi ujian tersebut dengan hati yang dipenuhi dengan keimanan dan jiwa yang diisi dengan kesabaran beliau pasrah dengan ketetapan Allah dan qadar-Nya.Beliau ingat do’a Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Abu Salamah yakni: Ya Allah berilah aku pahala dalam musibah ini… Sebenarnya ada rasa tidak enak pada jiwanya manakala dia membaca do’a: ”Wakhluflii khairan minha” (dan gantilah untukku dengan yang lebih baik darinya) karena hatinya bertanya-tanya: ‘Lantas siapakah gerangan yang lebih baik daripada Abu Salamah?’. Akan tetapi beliau tetap menyempurnakan do’anya agar bernilai ibadah kepada Allah.

 Ketika telah habis masa iddahnya, ada beberapa shahabat-shahabat utama yang bermaksud untuk melamar beliau. Inilah kebiasaan kaum muslimin dalam menghormati saudaranya, yakni mereka manjaga istrinya apabila mereka terbunuh di medan jihad. Akan tetapi Ummu Salamah menolaknya. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam turut memikirkan nasib wanita yang mulia ini; seorang wanita mukminah, jujur, setia dan sabar. Beliau melihat tidak bijaksana rasanya apabila dia dibiarkan menyendiri tanpa seorang pendamping. Pada suatu hari, pada saat Ummu Salamah sedang menyamak kulit, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam datang dan meminta izin kepada Ummu Salamah untuk menemuinya. Ummu Salamah mengizinkan beliau. Beliau ambilkan sebuah bantal yang terbuat dari kulit dan diisi dengan ijuk sebagai tempat duduk bagi Nabi. Maka Nabi pun duduk dan melamar Ummu Salamah. Tatkala Rasulullah selesai berbicara, Ummu Salamah hampir-hampir tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Tiba-tiba beliau ingat hadits yang diriwayatkan oleh Abu Salamah, yakni; Wakhlufli khairan minha (dan gantilah untukku dengan yang lebih baik darinya), maka hatinya berbisik:’Dia lebih baik daripada Abu salamah’.

Hanya saja ketulusan dan keimanannya menjadikan beliau ragu, beliau hendak mengungkapkan kekurangan yang ada pada dirinya kepada Rasulullah. Dia berkata:”Marhaban ya Rasulullah, bagaimana mungkin aku tidak mengharapkan anda ya Rasulullah…hanya saja saya adalah seorang wanita yang pencemburu, maka aku takut jika engkau melihat sesuatu yang tidak anda senangi dariku maka Allah akan mengadzabku, lagi pula saya adalah seorang wanita yang telah lanjut usia dan saya memiliki tanggungan keluarga. Maka Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda:Adapun alasanmu bahwa engkau adalah wanita yang telah lanjut usia, maka sesungguhnya aku lebih tua darimu dan tiadalah aib manakala dikatakan dia telah menikah dengan orang yang lebih tua darinya.

 Mengenai alasanmu bahwa engkau memiliki tanggungan anak-anak yatim, maka semua itu menjadi tanggungan Allah dan Rasul-Nya. Adapun alasanmu bahwa engkau adalah wanita pencemburu, maka aku akan berdo’a kepada Allah agar menghilangkan sifat itu dari dirimu. Maka beliau pasrah dengan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam . Dia berkata:Sungguh Allah telah menggantikan bagiku seorang suami yang lebih baik dari Abu Salamah, yakni Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Maka jadilah Ummu Salamah sebagai Ummul mukminin. Beliau hidup dalam rumah tangga nubuwwah yang telah ditakdirkan untuknya dan merupakan suatu kedudukan yang beliau harapkan. Beliau menjaga kasih sayang dan kesatuan hati bersama para ummahatul mukminin.

Ummu Salamah adalah seorang wanita yang cerdas dan matang dalam memahami persoalan dengan pemahaman yang baik dan dapat mengambil keputusan dengan tepat pula. Hal itu ditunjukkan pada peristiwa Hudaibiyah manakala Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan para shahabatnya untuk menyembelih qurban selepas terjadinya perjanjian dengan pihak Quraisy. Namun ketika itu, para shahabat tidak mengerjakannya karena sifat manusiawi mereka yang merasa kecewa dengan hasil perjanjian Hudaibiyah yang banyak merugikan kaum muslimin. Berulangkali Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan mereka akan tetapi tetap saja tak seorangpun mau mengerjakannya. Maka Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam masuk menemui Ummu Salamah dalam keadaan sedih dan kecewa. Beliau ceritakan kepada Ummu Salamah perihal kaum muslimin yang tidak mau mengerjakan perintah beliau. Maka Ummu Salamah berkata:Wahai Rasulullah apakah anda menginginkan hal itu?. Jika demikian, maka silahkan anda keluar dan jangan berkata sepatah katapun dengan mereka sehingga anda menyembelih unta anda, kemudian panggillah tukang cukur anda untuk mencukur rambut anda (tahallul). Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam menerima usulan Ummu Salamah. Maka beliau berdiri dan keluar tidak berkata sepatah katapun hingga beliau menyembelih untanya. Kemudian beliau panggil tukang cukur beliau dan dicukurlah rambut beliau. Manakala para shahabat melihat apa yang dikejakan oleh Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam, maka mereka bangkit dan menyembelih kurban mereka, kemudian sebagian mereka mencukur sebagian yang lain secara bergantian. Hingga hampir-hampir sebagian membunuh sebagian yang lain karena kecewa.

Setelah Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam menghadap Ar-Rafiiqul A’la, maka Ummul Mukminin, Ummu Salamah senantiasa memperhatikan urusan kaum muslimin dan mengamati peristiwa-peristiwa yang terjadi. Beliau selalu andil dengan kecerdasannya dalam setiap persoalan untuk menjaga lurusnya umat dan mencegah mereka dari penyimpangan, terlebih lagi terhadap para penguasa dari para Khalifah maupun para pejabat. Beliau singkirkan segala kejahatan dan kezhaliman terhadap kaum muslimin, beliau terangkan kalimat yang haq dan tidak takut terhadap celaan dari orang yang suka mencela dalam rangka melaksanakan perintah Allah. Tatkala tiba bulan Dzulqa’dah tahun 59 setelah hijriyah, ruhnya menghadap Sang Pencipta sedangkan umur beliau sudah mencapai 84 tahun. Beliau wafat setelah memberikan contoh kepada wanita dalam hal kesetiaan, jihad dan kesabaran.

Sumber: Mengenal Sahabiyah Nabi,Mahmud Al-Istanbuli&Mustafa Asy-Syalabi,Pustaka Tibyan,Solo

[baca selengkapnya...]

Kisah Tragis Seorang Jamal

April 27, 2004. Dikirim dalam Uncategorized | Comments Off
Sebuah kisah nyata yang belum lama terjadi di Cairo, Mesir. Kehidupan di Mesir tidak jauh berbeda dengan kehidupan di Indonesia. Mulai dari mayoritas penduduknya yang sama-sama muslim, hingga inflasi yang begitu tinggi.

[baca selengkapnya...]

Arsip