Arsip selama bulan April, 2004

Bagai Api Melalap Kayu Bakar

April 23, 2004. Dikirim adillah dalam Uncategorized | Comments Off

Kesuksesan dan keberhasilan yang didapatkan seseorang terkadang menimbulkan rasa dengki bagi orang lain, baik itu
temannya, tetangganya, karib kerabatnya, maupun … diri kita sendiri.Demikianlah, sifat dengki hampir menjangkiti semua orang, kecuali orang-orang yang dirahmati oleh Allah subhana wa ta’ala. Tentu saja, sebagai seorang Muslim
yang mengharapkan wajah Allah di jannah-Nya kelak, kita perlu melatih diri secara kontinu dan konsisten, untuk membuang jauh-jauh sifat dengki dari diri kita.

[baca selengkapnya...]

Ukhti, Sudahkah Engkau Mengetahui Tentang Shirat?

April 23, 2004. Dikirim dalam Uncategorized | Comments Off

Ukhti mulimah, pernahkah engkau mendengar tentang shirat?? bila iya, maka bekal apa yang telah ukhti siapkan agar bisa selamat menyebranginya hingga ketepian? sungguh tanpa bekal amal shaleh yang diterima-Nya mustahil kita akan selamat menitinya. Banyak orang awwam mengatakan bahwa shirat adalah titian rambut yang dibelah tujuh, benarkah pernyataan ini?Bila ukhti belum pernah mendengar tentang shirat ini maka penulis akan memaparkan tentang ash-shirat ini dengan agak mendetail (Insya Allah) disertai dengan dalil yang shahih dan rajih dengan harapan agar ukhti-ukhti muslimah semuanya mempersiapkan diri sejak sekarang supaya nantinya tidak menyesal dan selamat dalam menitinya.Amiin.

Makna Ash-Shirat

Ash-shirat sebagaimana yang difahami oleh para ulama salaf adalah titian (jembatan) yang melintas diatas Jahannam. Yaitu apabila manusia telah keluar dari mahsyar menuju kegelapan, sampai ketitian (jembatan).1

 

Keadaan Ash-Shirat Yang Gelap Gulita

Karena sangat gelapnya maka pada hari itu manusia amatlah butuh dengan cahaya agar mereka bisa melihat. Kondisi yang sangat mengerikan ini telah dijelaskan Allah Ta’ala dalam firman-Nya:

”Yaitu pada hari ketika kamu melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan, sedang cahaya mereka bersinar dihadapan dan disebelah kanan mereka,Pada hari ini ada berita gembira untukmu yaitu surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai yang kamu kekal didalamnya. Itulah keberuntungan yang banyak(12) Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang beriman “Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebagian dari cahayamu” dikatakan “kembalilah kamu kebelakang dan carilah sendiri cahaya”Lalu diadakan diantara mereka dinding yang mempunyai pintu.Disebelah dalamnya ada rahmat dan disebelah luarnya dari situ ada siksa(13) Orang-orang munafik itu memanggil mereka seraya berkata “Bukankah kami bersama-sama dengan kamu”Mereka menjawab”Benar, tetap kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran)kami dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh syetan yang amat penipu(14) Maka pada hari ini tidak diterima tebusan dari kamu dan tidak pula dari orang-orang kafir.Tempat kamu ialah neraka. Dialah tempat berlindungmu dan dia adalah sejahat-jahat tempat kembali(15)”[Al-hadid ayat 12-15]

Dan, dalam ayat lainnya, Allah berfirman:

”Pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang beriman bersama dengan dia, sedang cahaya mereka memancar dihadapan dan disebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan:”Ya, Tuhan Kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami, sesungguhnya engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”(At-Tahrim ayat 8)

Imam Ibnu Katsir menjelaskan makna ayat diatas dengan berkata (lihat ayat 12-15):

Sesuai dengan amal mereka akan melintasi jembatan .Diantara mereka ada yang cahayanya sebesar gunung ada pula yang seperti pohon kurma dan ada pula seperti seorang laki-laki normal yang tengah berdiri tegak Yang paling rendah adalah orang-orang yang cahayanya terdapat pada ibu jari mereka terkadang bercahaya terkadang padam.Riwayat ini turut pula diriwayatakan oleh Ibnu Abi hatim dan Ibnu Jarir.Apabila menyala ia melangkah dan apabila padam ia berhenti.Imam Abul Qasim Ath-Thabrani telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra bahwa rasulullah saw bersabda :”Allah swt akan memanggil umat manusia diakhirat nanti dengan nama-nama mereka sebagai tirai penghalang dari-Nya. Adapun diatas jembatan, maka Allah ta’ala memberikan cahaya kepada setiap orang beriman dan munafik. Bila mereka telah berada ditengah-tengnah jembatan, Allahpun akan segera merampas cahaya orang-orang munafik laki-laki dan perempuan .Ketika itu berkatalah orang-orang munafik”Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebagian dari cahayamu. Dan berkatalah orang-orang beriman:Ya, Rabb kami sempurnakanlah untuk kami cahaya kami. Ketika itulah setiap orang tidak akan mengingat orang lain.”(HR.Tabrani)Ad-Dahak mengatakan: masing-masing dari kalian pastilah diberi cahaya pada hari kiamat, maka apabila mereka sampai ke shirat (jembatan/titian) padamlah cahaya orang-orang munafik, maka ketika orang mukmin melihatnya khawatirlah mereka apabila cahaya mereka padam, sebagaimana orang munafik.Maka mereka berdo’a wahai Rabb kami sempurnakanlah cahaya kami.

Tingkatan Orang yang Melintasi Ash-Shirat

Sungguh orang yang akan melewati shirat ini bermacam-macam tingkatannya, berdasarkan amal perbuatannya sewaktu hidup didunia.Ada yang secepat kilat,ada yang secepat angin, ada yang berlari dan ada pula yang berjalan bahkan merangkak!!Perhatikanlah,..wahai hamba-hamba Allah yang beriman dan saudariku seiman betapa dahsyatnya peristiwa pada hari itu sehingga Nabi kita pun sampai berdo’a kepada-Nya agar umatnya selamat dalam meniti shirat ini.Untuk lebih jelasnya marilah kita simak hadits-hadits berikut ini:

hadits pertama,

”………maka orang itu dan yang lainnya melewati titian tadi.Sedangkan titian itu pipih bagaikan mata pedang, licin dan tajam. Diperintahkan kepada mereka:”lewatlah kalian menurut cahaya masing-maing”.Diantara mereka ada yang lewat bagaikan lesatan bintang-bintang. Diantaranya ada yang lewat bagaikan angin. Ada juga yang lewat bagaikan kejapan mata. Ada juga yang seperti kuda tunggangan yang kencang. Ada lagi yang berjalan miring.Mereka semua berjalan sesuai dengan kadar amal perbuatannya. Sampai datang orang yang cahayanya cuma diujung jempol kakinya untuk lewat. Sekali satu tangannya dikedepankan, yang lain terpaksa digantungkannya.Sekali kaki yang satu kedepan, yang lainnya juga harus ditahan kuat-kuat. Pinggir-pinggir tubuhnya sempat juga menyentuh api Jahannam.Lalu beliau melanjutkan:”maka selamatlah mereka sampai kesebrang. Ketika sampai mereka berkata: Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan kami dan kamu dari neraka setelah terlebih dahulu memperlihatkan dirimu kepada kami.Sungguh Allah telah menganugerahkan kepada kami apa yang tak pernah Dia berikan kepada siapapun”

{HR. Al-Hakim. secara mauquf pada Ibnu Mas’ud dikeluarkan oleh Al-Hakim
II/376-377.Atsar tersebut shahih, disahihkan oleh Al-hakim dan disepakati oleh
Adz-Dzahabi.Untuk melihat secara lengkap takrijnya silahkan merujuk kitab Tahzib
Syarh Aqidah Thahawiyah yang telah di syarahkan oleh Syaikh Nashiruddin Al-Bani
dalam jilid II/66-67– penulis}

hadits kedua,

Dari jalan Abu Hurairah dan Huzaifah:

”……Diriwayatkan bahwa mereka pun mendatangi Muhammad. beliau lalu berdiri dan dijijnkan untuk membuka pintu surga. dikirimlah amanah dan rahmat lalu berdiri dikedua sisi titian tersebut, kiri dan kanannya. Rombongan pertama melewatinya sebagaimana kilat”.Aku bertanya (yaitu Abu Hurairah–pen): Demi Ayah dan ibuku bagaimana yang dimaksud dengan secepat kilat?” Rasulullah menjawab:”Tidakkah kalian tahu bagaimana kilat itu datang dan pergi dengan sekejap mata? Ada juga yang melewatinya secepat angin, kemudian secepat burung dan berlari kencang. Amal perbuatan mereka yang menentukan semua itu. Sementara Nabimu ini berdiri diatas titian itu dan berkata;”Ya, rabbi, selamatkanlah mereka, selamatkanlah mereka”Sampai ada yang amal perbuatannya tak mampu menjalankan dirinya, sehingga ada orang yang hanya dapat melewatinya dengan merangkak” (HR. Muslim, no.195, Kitabul Iman, Bab Penghuni surga yang terendah)

hadits ketiga

,

Dari jalan Abu Said Al-Khudry :

”Maka ada orang-orang mukmin yang melewatinya sekejap mata, ada yang seperti kilat, ada yang seperti angin, ada yang seperti burung, ada yang bagaikan tunggangan yang baik. Orang yang selamat tanpa suatu apapun, itulah yang akan selamat kesurga. Orang yang tercakar, masih menggantungkan nasibnya dan yang terdorong akan masuk keneraka”

{HR.Muslim dalam kitabul Iman 183, Bukhari dalam Kitab Tauhid, An-Nasa’i 8/112,11 dan Ahmad 3/17}

 

Bentuk Ash-Shirat, Wujud dan Cara Melewatinya

Orang yang menganggap remeh tentang masalah shirat ini mungkin hanyalah mengira bahwa ia adalah mirip dengan jalan di dunia yang sulit dilalui dan bergelombang turun dan naik. Padahal tidaklah demikian. Shirat ini lebih tajam daripada pedang, diatas kiri kanannya terdapat jangkar-jangkar dan alat penyambar. Tiba-tiba anda akan dipaksa melewatinya sementara dibawahnya adalah neraka jahannam, melihatnya tentu akan membuat hati ukhti ciut dan pendengaranmu akan tertutup oleh suara gemuruhnya.Marilah kita simak pengabaran tentang bentuk ash-shirat ini.

hadits pertama

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda:

” Ash-shirat dibentangkan diatas punggung jahannam.Aku dan umatku yang pertama kali melewatinya.Hanya para rasul yang berhak berbicara pada hari itu. Do’a para rasul adalah :”Ya, Allah selamtakanlah mereka, selamatkanlah mereka”.Diatas Jahannam itu terdapat jangkar-jangkar yang bagaikan duri sa’dan.Tahukah kalian apa duri Sa’dan itu? [Sa'dan adalah sejenis tumbuhan yang dipenuhi dengan duri pada segala sisinya--penulis]Kami menjawab: Ya.Sungguh ia seperti duri Sa’dan. Hanya Allah sajalah yang mengetahui besarnya. Mereka semua akan diperlakukan sesuai dengan amal perbuatan mereka”

(HR. Bukhari, kitabu riqaaq bab : Ash-Shirat adalah jembatan diatas Jahannam. Muslim no.182,kitabul Iman)

hadits kedua

,

Dari Abu Hurairah dan Huzaifah radhiyallahu anhuma bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda:

”Di kedua sisi titian (jembatan) itu terdapat jangkar-jangkar yang bergantung diperintah untuk menjerat siapa saja yang diperintahkan oleh Allah.Orang yang hanya tercakar, akan selamat, namun yang terdorong akan masuk ke neraka”. Demi Dzat yang jiwa Abu Hurairah ditangan-Nya sesungguhnya dasar neraka itu dalamnya sejauh 70 tahun”(HR. Muslim, no.192 kitabul Iman)

Tambahan tentang bentuk ash-shirat ini terdapat dalam kitab Fitnah dan Bencana Akhir Zaman oleh Imam Ibnu Katsir (dalam bahasa ArabnyaAn-Nihayaah fil fitan wal malaahim) tidak semua dipaparkan disini karena sangat panjang nantinya, untuk lebih jelasnya silahkan merujuk kesana.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya dari Ubaid bin Umaid bahwa ia berkata:

” Wahai manusia sesungguhnya ash-shirat adalah titian yang dipasang diatasnya,licin dan curam adapun para malaikat berada disisi jembatan seraya berkata : Rabbi selamatkan. Ia berkata: Sesungguhnya ash-shirat seperti pedang diatas titian jahannam yang penuh dengan duri-duri, dan demi Allah sesungguhnya satu duri akan mengait lebih banyak dari suku Rabi’ah dan Bani Mudar”. Dan dari Sa’id bin Abi Hilal ia berkata : Telah sampai kepada kami bahwa shirat pada hari kiamat diatas titian jahannam, atas sebahagian manusia lebih rumit dari helaian rambut dan atas sebahagian yang lain seperti lembah yang luas. (Fitnah dan Bencana Akhir zaman hal: 482)

Setelah membaca penjelasan diatas tentunya engkau akan merasa ngeri dan takut, dan sungguh pasti engkau akan berfikir dapatkah aku melewatinya dengan selamat? Ukhti muslimah, tidakkah engkau renungkan pada posisi yang mana engkau akan melewatinya? apakah dengan secepat kilat, berlari, berjalan ataukah merangkak?? kalau titian itu telah bergoncang dan api Jahannam telah menjilat-jilat dibawahmu dengan dahsyat maka tak ada jalan selamat atau jalan pembebasan. Yang berguna bagimu dan bagi kita semua adalah hanya amal shalih yang diterima atau taubat (di dunia) yang tulus dan dosa yang sudah terampuni. Pilihlah sekarang, amalan apa yang lebih menyelamatkan dirimu? jalan mana yang dapat menolong dan berguna menyelamatkanmu? Semoga Allah selalu memberikan kita hidayah dan taufik-Nya sesungguhnya tanpa kedua hal ini maka kita akan sulit untuk iltizam dalam beramal shalih.Ya, Allah ampunilah dosa-dosa kami dan karuniakanlah rahmat-Mu kepada kami. amin.

Footnote:(1).Tahdzib Syarah Ath-Thahawiyah Dasar-dasar Aqidah Menurut Ulama Slaaf,2/65,At-Tibyan.

Sumber bacaan:

1. Terjemah Shahih Bukhari, Ahmad Sunarto,Asy-Syifa, semarang

2. Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir,Muhammad Nasib Ar-rifa’i,GIP, Jakarta

3.Tahdzib Syarah Ath-Thahawiyah dasar-dasar Aqidah Menurut Ulama Salaf, At-Tibyan,Solo

4. Hiburan Bagi Orang yang Tertimpa Musibah, Muhammad bin Muhammad Al-Manjabi Al Hambali,Darul Haq,Jakarta

5. Fitnah dan Bencana Akhir zaman, Ibnu Katsir, Pustaka Azzam

 

 

 

 

 

 


[baca selengkapnya...]

Warna Kuning dan Keruh Sesudah Kebiasaan Haidh

April 22, 2004. Dikirim dalam Uncategorized | Comments Off

Terkadang pada wanita yang telah mengalami
masa suci dari haidhnya mendapatkan warna kuning atau cairan keruh, sehingga
terkadang membingungkannya. Agar hilang rasa bingung di hati para wanita
muslimah yang mengalaminya maka akan saya bawakan hadits yang menjelaskan
masalah ini.Dimana para shahabiyah pun mengalami hal yang sama.Nah, mari kita
tengok haditsnya.

Dari Ummu Athiyah, ia berkata : ”Warna
kuning dan keruh (kotor)sesudah suci itu, tidak kami anggap sesuatu darah
haidh.”(HR.Abu Daud dan Bukhari, tetapi Bukhari tidak menyebutkan kata-kata
”sesudah suci”)

Dari Aisyah, bahwa Rasulullah shalallahu
alaihi wassalam menerangkan tentang perempuan yang melihat sesuatu yang
meragukannya setelah suci, sesungguhnya dia itu hanya sekedar basah.Atau ia
mengatakan: ”basah”.(HR.Ahmad, Abu Daud dan Ibnu Majah)

Penjelasan hadits diatas :
Imam Syaukani berkata: hadits itu menunjukkan bahwa warna
kuning dan keruh sesudah suci, kedua-duanya bukan darah haidh, akan tetapi kalau
terjadi pada waktu haidh, maka kedua-duanya berarti darah haidh.Sebagai
tambahan, Ibnu Taimiya berkata dalam kitabnya Al-Ikhtiyaaraat: Sedikit dan
lamanya waktu haidh itu tidak dapat ditentukan, bahkan setiap yang diakui
sebagai suatu kebiasaan bagi perempuan adalah berarti haidh, sekalipun kurang
dari satu hari atau lebih dari lima sampai lima belas hari. Tidak pula ada batas
minimal umur perempuan mulai haidh.Juga tidak ada batas maksimal dan minimalnya
masa suci antara dua haidh.Perempuan yang pertama kali haidh menghitung darah
yang ia lihatnya, selama tidak menjadi istihadhah.begitu juga orang yang pindah
kebiasaannya dengan tambah atau kurang, atau benar-benar pindah (berubah siklus
haidhnya) maka yang demikian itu dianggap sebagai darah haidh. Sehingga dia
mengetahui bahwa dia adalah istihadhah, karena terus mengalirnya darah.Sebab
perempuan yang hamilpun kadang-kadang mengalami haidh.

Dari dalil diatas dapat kita fahami bahwa warna kuning atau keruh yang keluar setelah suci dari haidh maka ia tidak dianggap apa-apa,
hanya basah-basah saja atau lembab.Adapun ciri darah haidh yang dapat kita ketahui adalah:
1. Baunya busuk
2. warnanya hitam
3. Lunak dan kental
Dan
orang-orang pada zaman modern ini menyebutkan ciri yang keempat yaitu bahwa
darah haidh tidak bisa beku sementara darah yang bukan haidh dapat
membeku.

Untuk melengkapi pembahasan diatas ada
baiknya ukhti simak pertanyaan yang diajukan kepada ulama kita berikut
ini:

Syaikh Ibnu Utsaimin ditanya: Ada seorang
wanita yang setelah habis masa haidhnya tidak mengalami keluarnya gumpalan
putih, akan tetapi ia mengeluarkan cairan berwarna kuning terus menerus
bagaimana hukumnya ini?

Jawaban: Jika wanita itu tidak mengeluarkan cairan putih sebagai tanda berakhirnya masa haidh, maka cairan kuning itu telah menggantikan kedudukan cairan atau gumpalan putih, karena cairan putih adalah merupakan tanda dan tanda itu bisa dipastikan dalam satu macam bentuk, karena tanda berakhirnya tidak dapat dipastikan dengan satu macam petunjuk akan tetapi banyak penunjuk yang menunjukkan pada hal itu, pada umumnya tanda berakhirnya masa haidh pada sebagian besar wanita adalah terdapatnya cairan/gumpalan putih, akan tetapi bisa jadi tanda habisnya masa haidh itu adalah selain itu, dan terkadang pula seorang wanita tidak mengeluarkan cairan putih dan tidak mengeluarkan cairan kuning sebagai tanda habisnya masa haidh, melainkan kering begitu saja sehingga ia mendapatkan masa
haidh
selanjutnya, setiap wanita bisa memiliki kebiasaan yang berbeda dalam mengakhiri
masa haidhnya.Wallahu’alam bishshawwab.

Maraji:
1. Terjemahan nailu Authar, Imam Syaukani, 1/150-151,Bina Ilmu Surabaya
2. Fatwa-fatwa Tentang Wanita, Masyayikh, darul
haq,Jakarta

[baca selengkapnya...]

Saudaraku, Tahanlah Amarahmu

April 22, 2004. Dikirim dalam Uncategorized | Comments Off

Saudaraku, betapa sering kita mendengar
atau membaca berita-berita kriminalitas. Begitu banyaknya yang terjadi setiap
hari, memenuhi berbagai media massa, baik cetak maupun elektronik. Jika
dicermati, masalahnya sebenarnya hanya sepele. Hanya saja, banyak dari mereka
yang kemudian tidak mampu menahan amarahnya karena hal sepele tadi. Sehingga
terjadilah hal-hal yang mestinya tidak perlu terjadi.

Pernah dalam salah
satu media diulas, bagaimana seorang tetangga dibacok hanya karena permasalahan
dapur yang dipakai bersama. Salah seorang istri tersinggung perasaannya karena
dikatakan jorok oleh istri tetangganya, sehingga membangkitkan amarah sang
suami. Akhirnya terjadi ribut-ribut antar suami dan berakhir dengan pembacokan,
wal iyadzu billah. Hal-hal seperti itu mestinya bisa diselesaikan secara
baik-baik bukan? Bahkan tetangga mempunyai kedudukan dalam Islam. Rasulullah
shalallahu alaihi wa salam bersabda:

”Barangsiapa beriman kepada Allah
dan Hari Akhir, hendaklah memuliakan tetangganya.”
(Muttafaqun
Alaih)

Saudaraku, amarah kini telah menjadi hal yang biasa dan lumrah.
Kerusuhan-kerusuhan yang terjadi di negeri kita juga dipicu oleh kemarahan yang
tidak bisa dikendalikan. Maka marilah kita mencoba untuk menahan setiap emosi
dan amarah yang akan meluap, karena tidaklah kemarahan kecuali akan membuat kita
rugi dan menyesal. Bukankah kita terkadang merasa begitu menyesal setelah
melampiaskan rasa marah baik dengan ucapan maupun
perbuatan? 

Rasulullah shalallahu alaihi wa salam memberi nasehat
tentang rasa marah ini. Diceritakan oleh Abu Hurairah dalam hadits Imam Al
Bukhari, bahwa ada seorang laki-laki yang berkata kepada Nabi shalallahu alaihi
wa salam: ”Berilah wasiat kepadaku.” Sabda Nabi: ”Janganlah engkau marah.” Maka
diulanginya permintaan itu beberapa kali. Sabda beliau: ”Janganlah engkau
marah.” 

Pengarang kitab Al-Ifshah berkata: ”Boleh jadi Nabi
shalallahu alaihi wa salam mengetahui laki-laki tersebut sering marah, sehingga
nasihat ini ditujukan khusus kepadanya. Nabi shalallahu alaihi wa salam memuji
orang yang dapat mengendalikan hawa nafsunya ketika marah.” Sabda
beliau:

”Bukanlah dikatakan orang kuat karena dapat membanting
lawannya, tetapi orang yang kuat ialah orang yang mampu mengendalikan hawa
nafsunya di waktu marah.”
(HR. Bukhari, no. 5648)

Allah juga memuji
orang yang dapat mengendalikan nafsunya ketika marah dan mudah memberi maaf
kepada orang lain. Diriwayatkan dari Nabi shalallahu alaihi wa salam bahwa
beliau bersabda:

”Barang siapa menahan marahnya padahal ia sanggup
untuk melampiaskannya, maka kelak Allah akan memanggilnya pada hari kiamat di
hadapan segala makhluk, sehingga ia diberi hak memilih bidadari yang
disukainya.”

Dalam hadits lain disebutkan: ”Marah itu dari
setan”
(HR. Abu Dawud, no. 4152)
Oleh karena itu, orang yang marah
menyimpang dari keadaan normal, berkata yang bathil, berbuat yang tercela,
menginginkan kedengkian, perseteruan, dan perbuatan-perbuatan tercela. Semua itu
adalah akibat dari rasa marah. 

Saudaraku, marilah kita menyimak
resep nabawi dalam menahan rasa marah ini. Nabi bersabda:

”Sungguh aku
mengetahui satu kalimat yang bila diucapkan maka hilanglah marahnya, yaitu:
A’udzu billaahi minasy syaithaanir rajiim‘.”
(HR. Tirmidzi no
3374)

Demikianlah, karena sesungguhnya setanlah yang mendorong marah.
Setiap orang yang menginginkan hal-hal yang terpuji, setan selalu membelokannya
dan menjauhkannya dari keridhaan Allah, maka mengucapkan ‘a’udzu billaahi
minasy syaithaanir rajiim’
merupakan senjata yang paling kuat untuk menolak
tipu daya setan ini. Semoga bermanfaat.

Maraji’:
Syarah Hadits Arba’in
Imam Nawawi, Ibnu Daqiq Al-’Ied, Penerbit Media
Hidayah.

[baca selengkapnya...]

Syarat dan Adab Menuntut Ilmu Bagi Muslimah

April 21, 2004. Dikirim dalam Uncategorized | Comments Off

Wanita adalah seorang pribadi yang dibebani kewajiban-kewajiban sebagaimana laki-laki. Maka wajib baginya untuk mencari ilmu tentang kewajiban-kewajiban yang dibebankan padanya agar ia dapat menunaikan itu dengan keyakinan.

Ketahuilah wahai muslimah, bahwa keluarnya wanita untuk menuntut ilmu adalah boleh (yang jika dia tidak mempelajari ilmu itu maka ibadahnya akan mengalami cacat). Islam memberikan syarat dan adab-adab kepada wanita ketika keluar rumah untuk menuntut ilmu. Diantara syarat yang paling penting adalah:

1. Tidak adanya mahrom yang dapat mengajarinya.

Jika ada mahrom yang dapat mengajarinya seperti ayah, saudara laki-laki atau suami maka itu telah mencukupi dia daripada keluar. Akan tetapi jika tidak ada yang dapat mengajarinya maka ia wajib bertanya dan belajar

2.Adanya kebutuhan yang mendesak untuk keluar rumah

seperti dia mempunyai masalah syar’i yang keadaannya mengharuskan untuk dijawab. Sedangkan ia tidak mendapati diantara mahramnya yang mengetahui jawabannya.

3. Memilih dengan baik kepada siapa dia bertanya.

Dia tidak bertanya kepada masyaikh laki-laki kecuali bila tidak ada wanita yang dapat mengajarinya. Dan dia tidak bertanya kepada masyaikh yang masih muda kecuali apabila tidak ada masyaikh yang sudah lanjut usia.

4. Mempersingkat waktu sesuai dengan kebutuhan untuk menjawab.

Ketika masyaikh menjawab pertanyaannya, tidak boleh bagi wanita tersebut memperbanyak pembicaraan dengan masyaikh, karena khawatir terjadi fitnah.

5. Tidak bercampur baur atau menyepi dengan syaikh atau laki-laki yang ada dalam majelisnya.

Sabda Rasulullah Shallahu’alaihi wa sallam:

“Janganlah seorang laki-laki menyepi dengan seorang wanita kecuali ada mahram yang menyertai wanita itu”

(Hadits Shahih Bukhari, Muslim dan Nasa’i dalam usyroh an-nisaa’ 336).

Tidak diragukan lagi bahwa apabila seorang laki-laki dan seorang wanita berkumpul dalam satu tempat, maka setan bermaksud jahat terhadap keduanya. Setan membisikkan ke dalam hati-hati mereka agar saling melihat tempat kecantikan dan fitnah. Dan mereka tidak akan amandari fitnah ini kecuali dengan meninggalkanikhtilath dan khulwah dengan laki-laki asing.

6. Menundukkan pandangan dan bertanya dari balik hijab.

Firman Allah dalam QS:Al-Ahzab 53:

Apabila kalian meminta suatu keperluan kepada mereka/istri-istri Nabi, maka mintalah dari balik hijab/tabir.

Apabila seorang wanita membuka tempat fitnah pada dirinya bagi laki-laki, maka dia telah menjadikan satu tempat masuk bagi syetanke dalam hatinya dan hati laki-laki itu.

Nabi Shallahu’alaihiwasallam bersabda:

“Sesungguhnya Allah telah menetapkan kepada Bani Adam bagiannya dari zina, dia pasti mendapatkan hal itu.Maka zinanya mata adalah memandang, zinanya lisan berucap, zinanya jiwa adalah berharap dan berkeinginan, dan kemaluan akan membenarkan atau mendustakan hal itu”.

(Hadits Shahih riwayat Bukhari, Muslim, Abu Daud dan Nasa’i dalam al-Kubro)

Adapun adab-adab yang paling penting yang diwajibkan kepada seorang wanita apabila keluar rumah untuk menuntut ilmu dan selainnya adalah:

1. Senantiasa memakai hijab dan busana yang syar’i.

Allah Ta’ala berfirman (An-Nuur:31):

“Janganlah mereka para wanita menampakkan perhiasan mereka kecuali yang biasa nampak daripadanya dan hendaklah mereka menutupkan kerudung-kerudung mereka diatas dada mereka”.

2. Tidak menampakkan perhiasan

Firman Allah (Al-Ahzab:33)

“ Janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang terdahulu”.

.

Nabi Shallahu’alaihiwasallam bersabda:

“Dua golongan ahli neraka yang aku tidak pernah melihat keduanya adalah satu kaum yang membawa cambuk seperti ekor sapi.Mereka memukuli manusia dengan cambuk itu. Dan para wanita yang berpakaian tapi telanjang. Mereka menyimpang dari kebenarandan condong pada kejelekan. Kepala mereka seperti punuk onta yang miring. Mereka tidak akan masuk syurga dan tidak akan mendapatkan baunya syurga. Sesungguhnya bau syurga benar-benar dapat tercium dari jarak perjalanan sebegini dan sebegini”

(HSR Muslim)

3. Tidak memakai wangi-wangian

Abu Musa Al-Asy’ari Radhiyallahu’anhuma berkata bahwa Rasulullah shallahu’alaihiwasallam bersabda:

“Wanita mana saja yang memakai wangi-wangian kemudian melewati suatu kaum agar mereka mendapatkan/mencium baunya, maka ia adalah pezina’.

(HSR Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi dan Nasa’i)

dikutip dari : Majalah As-Sunnah

[baca selengkapnya...]

Kenapa Do’a Kita Tidak Terjawab??

April 16, 2004. Dikirim dalam Uncategorized | Comments Off

Banyak diantara kita yang mengeluhkan betapa banyaknya kita berdo’a memohon sesuatu kepada Allah tapi belum juga terjawab dan belum nampak pula tanda-tanda akan terkabulnya do’a kita. Sehingga terkadang banyak diantara kaum muslimin yang berputus asa alias tidak mau lagi berdo’a. Dan, tidak jarang pula ada yang berkomentar,…ah..aku sudah capek berdo’a tapi nggak dikabulkan juga..jadi males deh..! mm…apa jangan-jangan Allah enggak sayang lagi kepadaku?? dan masih banyak praduga dan prasangka lainnya yang kalau ditulis bisa memenuhi isi halaman ini. Tapi apa memang bener begitu??

[baca selengkapnya...]

Arsip