Archive for May, 2004
May
27
Posted under Uncategorized
Saudariku Muslimah…
Sesungguhnya
seluruh alam ini, baik yang besar maupun yang kecil dan yang ada di dalamnya
semua menuju kepada Allah ’azza wajalla, bertasbih kepadaNya (menyucikanNya),
mengagungkanNya dan bersujud kepadaNya. Sebagaimana Firman Allah
Ta’ala:
“Dan tidak ada sesuatupun kecuali dia bertasbih kepada Allah
dengan memujiNya” (QS:Al-Isra’44)
Sesungguhnya semua makhluk yang
telah diciptakan oleh Allah akan berhenti, menundukkan kepalanya, merendahkan
diri kepada Allah, mengakui karunia yang dilimpahkan kepadanya.
Akan
tetapi… masih banyak tersisa di alam ini makhluk yang kecil lagi rendah,
diciptakan dari setetes mani, tapi tiba-tiba ia menjadi musuh. Ia berjalan di
suatu lembah, sedang alam seluruhnya berada di lembah lain. Dia tidak menta’ati
Allah, tidak tunduk kepadaNya dan tidak bertasbih kepadaNya, walaupun semua
makhluk yang ada di sekitarnya tekun berdzikir dan bertasbih kepada Allah.
Sesungguhnya makhluk ini adalah manusia yang bermaksiat kepada Allah. Padahal
Allah adalah Maha Besar, alangkah rendah dan hinanya dia ketika menyendiri di
alam yang teratur ini.
Saudariku Muslimah…
Sesungguhnya syetan
selalu berusaha menyesatkan manusia dan menghancurkannya dengan berbagai cara,
diantaranya menghiasi kemaksiatan dengan keindahan serta mengajak manusia untuk
melakukan kemaksiatan tersebut agar ia mendapat murka Allah.
Semua
manusia kehendaknya lemah dalam menghadapi keinginan buruknya dan nafsu
syahwatnya. Jika engkau melihat ada kelemahan dan kecondongan dirimu untuk
melakukan maksiat, maka berhentilah sebentar sebelum engkau bermaksiat kepada
Allah. Dan fikirkanlah tentang dunia ini dengan segala kerendahannya, sedikit
kenyataannya, banyak sia-sianya dan cepat berakhirnya. Fikirkanlah tentang para
penghuni dunia dan keasyikannya, yang mereka dalam keadaan mabuk kepadanya.
Sungguh, dunia telah menyiksa mereka dengan berbagai siksaan, memberikan mereka
minuman yang pahit, dan dunia telah menjadikan mereka sedikit tertawa dan banyak
menangis.
Sebelum engkau bermaksiat kepada Allah, engkau harus fikirkan
tentang akhirat. Kekalnya dan bahwa akhirat adalah kehidupan yang hakiki, negeri
abadi, tempat berhentinya bepergian dan akhir perjalanan.
Sebelum engkau
bermaksiat kepada Allah, engkau harus fikirkan tentang neraka, bahan bakarnya,
perapiannya, kedalaman dasarnya, kedahsyatan panasnya, dan besarnya adzab
penghuninya. Engkau juga harus fikirkan tentang penghuninya, yang berada dalam
kepanasan yang sangat, diseret di atas wajah-wajah mereka, dan di neraka mereka
seperti kayu bakar yang dinyalakan.
Sebelum engkau bermaksiat kepada
Allah, fikirkanlah syurga dan segala yang telah Allah janjikan untuk orang-orang
yang ta’at, yang belum pernah terlihat mata, terdengar oleh telinga, dan juga
belum terlintas di hati manusia. Berupa kenikmatan abadi lagi mencukupi dan
dengan berbagai puncak kenikmatan berupa makanan, minuman, pakaian,
gambar-gambar, kebahagiaan dan kegembiraan. Tidak akan menyepelekan syurga
kecuali manusia yang merugi.
Saudariku Muslimah…
Sebelum engkau
bermaksiat kepada Allah, ingatlah berapa lama engkau akan hidup di dunia ini? 60
tahun, 80 tahun, 100 tahun atau 1000 tahun? Kemudian kematian. Setelah itu surga
kenikmatan atau neraka jahim, kita mohon perlindungan kepada Allah.
Ukhti
Muslimah…yakinlah dengan seyakin-yakinnya bahwa malaikat maut selain menuju
orang lain, maka ia juga berjalan menuju kepadamu. Tidaklah kematian itu
melainkan tinggal beberapa tahun lagi, atau beberapa hari saja, atau bahkan
beberapa saat lagi ! Kemudian engkau akan sendirian di alam kuburmu. Tidak ada
harta…tidak ada teman. Karenanya… fikirkanlah kegelapan kubur, kesendiriannya,
kesempitannya, kengeriannya, kedahsyatannya, awal kedatangannya serta keras
himpitannya.
Ingatlah hari kiamat, pada hari ditampakkan semua amalan
kepada Allah. Ketika hati dipenuhi rasa takut, ketika engkau terpisah dari
anakmu, ibumu, ayahmu, suamimu dan saudaramu. Ingatlah segala kejadian itu
beserta kedahsyatannya. Ingatlah pada hari diletakkannya mizan dan
lembaran-lembaran catatan amal beterbangan. Berapa banyak kesalahan, berapa
banyak cacat dalam buku amalmu.
Pikirkanlah seolah-olah engkau berdiri
di hadapan dzat yang Maha Kuasa, yang Maha Besar, yang Maha Menjelaskan segala
sesuatu menurut hakekat sebenarnya. Yang engkau lari dariNya, padahal Dia
memanggilmu, tetapi engkau berpaling dariNya.
Pikirkan…engkau berdiri
sedangkan lembaran catatan amal di tanganmu tidak meninggalkan segala dosa dan
pahala yang kecil dan besar kecuali telah dihitung. Karenanya dengan telapak
kaki yang mana engkau mampu berdiri di hadapanNya? Dengan mata mana engkau
sanggup melihatNya? Dan dengan hati yang mana engkau menjawab ketika disodorkan
pertanyaan kepadamu: “Hambaku, engkau telah meremehkan pengawasanKu terhadapmu?
Bukankah Aku telah berbuat baik kepadamu? Bukankah aku telah memberikan
kenikmatan? Tapi mengapa kau bermaksiat kepadaku padahal Aku telah memberimu
kenikmatan.?”
Saudariku Muslimah…
Di sana masih ada para wanita
yang berkeyakinan bahwa mereka diciptakan tanpa ada hikmah dan mereka dibiarkan
begitu saja. Sehingga kehidupan mereka hanya sia-sia dan permainan, pandangan
mereka terselungi oleh sesuatu, di telinga mereka ada sumbat dari mendengarkan
petunjuk, mata hati mereka buta, hati mereka terbalik, mata mereka tertutup dan
hati mereka dibutakan. Engkau dapati di majlis-majlis mereka segala macam
kemungkaran, dan engkau tidak akan mendapati Al-Qur’an dan
dzikrullah.
Mereka lari dari Allah, padahal mereka di hadapan Allah
adalah budak-budakNya dan mereka berada dalam genggamanNya. Allah menyeru mereka
tetapi mereka tidak mau memenuhi seruanNya. Bahkan mereka penuhi seruan setan,
seruan keinginan buruk mereka dan seruan hawa nafsu mereka. Bagaimana mungkin
mereka penuhi ajakan setan sedang mereka meninggalkan seruan Allah? Firman
Allah:
“Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta
ialah hati yang ada di dalam dada”. (QS. Al-Hajj:46)
Keburukan apa
yang telah Allah berikan kepada mereka, hingga mereka bermaksiat kepada Allah
dan tidak mau mentaatiNya?
“Apakah mereka merasa aman dari tipudaya
Allah. Tidak akan merasa aman dari tipu daya Allah kecuali orang-orang yang
merugi”. (Al-A’raf:99)
Maka saudariku muslimah, hendaklah engkau
berhati-hati. Jangan sampai menjadi seperti wanita-wanita tersebut. Menjauhlah
engkau dari mereka, dan beramallah sesuai dengan tujuan engkau
diciptakan.
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk
menyembahKu” (Ad-Dzariyat:56)
Ukhti Muslimah…
Wahai orang yang
bermaksiat kepada Allah, kembalilah kepada Rabb-mu dan takutlah kepada api
neraka, takutlah neraka sa’ir. Sesungguhnya di depanmu kedahsyatan-kedahsyatan
dan kesulitan-kesulitan. Sesungguhnya di depanmu ada neraka jahim dan adzab yang
pedih. Sesungguhnya di depan ada ular yang siap mematukmu dan segala
perkara-perkara yang dahsyat.
Demi Allah yang tiada Ilah yang haq
selainNya, berbagai nyanyian, sinetron-sinetron dan hal-hal remeh lainnya tidak
akan mendatangkan manfaat buatmu. Demikian pula segala cerita dan
sandiwara-sandiwara, tidak akan berguna untukmu. Keluarga dan anak-anak juga
tidak akan memberikan manfaat kepadamu. Saudari-saudari dan teman-temanmu juga
tidak akan memberi manfaat kepadamu. Juga segala baju, model-model,
permata-permata dan perhiasan-perhiasan tidak akan memberi manfaat
kepadamu.
Yang akan memberikan manfaat kepadamu hanyalah seluruh kebaikan
dan amalan shalih setelah mendapat rahmat Rabb langit dan bumi.
Saudariku
Muslimah…
Demi Allah, tidaklah aku menulis semua perkara ini kecuali
karena rasa takutku terhadap wajah-wajah yang putih akan berubah menjadi hitam
pada hari kiamat. Aku khawatir wajah yang bercahaya ini akan menjadi gelap,
tubuh yang segar akan dibakar api neraka.
Maka mandilah dengan air
taubat. Berwudhu’lah dengan air wudhu’ rujuk. Ketahuilah bahwa orang-orang yang
jelek dan rusak selalu mengintaimu, mereka ingin agar engkau melepas hijab dan
meninggikan pakaianmu. Mereka ingin engkau terbuka di pasar-pasar, mereka juga
ingin engkau berakhlaq buruk dan jelek. Karena itu selisihilah sangkaan
orang-orang yang lemah akal itu. Berpeganglah dengan agamamu, kemuliaanmu dan
hijabmu. Sesungguhnya dunia itu hanya bayang-bayang yang menggelincirkan, sedang
akhirat adalah kampung keabadian.
Yakinlah bahwa engkau tidak akan pernah
menyesal atas semua itu selamanya. Bahkan justru sebaliknya, engkau akan bahagia
dengan idzin Allah. Dan jangan sekali-kali engkau ragu dan menunda semua
itu.
Dikutip dari Majalah As-sunnah
Read the rest of this entry »
May
24
Posted under Uncategorized
Penampilan kue pisang gaya Thailand ini sangat menarik
dan mudah dibuat. Jika tak suka warna putih bisa dibubuhi pewarna merah muda
(atau warna lain yang ukhti sukai). Bentuk cetakan bisa sesuai selera. Disajikan
dingin rasanya lebih kenyal dan enak!nah..selamat mencoba,…
Bahan:
Lapisan I:
˝ bungkus agar-agar bubuk warna putih
pewarna
merah secukupnya, jika suka
˝ sdt garam
400 ml air
Lapisan II:
3
buah pisang Ambon, kupas
400 ml santan kental
3 sdt tepung hunkue
60 g
gula pasir
Ľ sdt garam
1 sdm agar-agar bubuk putih
Cara membuat:
1.Rebus semua bahan Lapisan I hingga kental dan mendidih. Angkat.
2.Tuangkan ke dalam loyang segi empat 22 cm. Biarkan hingga mengeras.
* Lapisan II: Masukkan pisang dan santan dalam mangkuk blender. Proses
hingga halus.
1.Tambahkan tepung hunkue, gula dan garam. Aduk hingga gula larut.
2.Masak di atas api kecil sambil aduk hingga panas.
3.Masukkan agar-agar, aduk hingga mendidih. Angkat.
4.Tuang ke dalam cetakan berisi adonan Lapisan I. Biarkan hingga dingin dan
mengeras.
5.Potong-potong. Sajikan.
Read the rest of this entry »
May
24
Posted under Uncategorized
1. Iman Kepada Allah Ta’ala
Iman kepada Allah adalah keyakinan yang kuat bahwa Allah adalah Rabb dan Raja segala sesuatu, Dialah Yang Mencipta, Yang Memberi Rizki, Yang Menghidupkan, dan Yang Mematikan, hanya Dia yang berhak diibadahi. Kepasrahan, kerendahan diri, ketundukan, dan segala jenis ibadah tidak boleh diberikan kepada selain-Nya, Dia memiliki sifat-sifat kesempurnaan, keagungan, dan kemuliaan, serta Dia bersih dari segala cacat dan kekurangan.
2. Iman Kepada Para Malaikat-Nya
Iman kepada malaikat adalah keyakinan yang kuat bahwa Allah memiliki malaikat-malaikat, yang diciptakan dari cahaya. Mereka, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Allah, adalah hamba-hamba Allah yang dimuliakan. Adapun yang diperintahkan kepada mereka, mereka laksanakan. Mereka bertasbih siang dan malam tanpa berhenti. Mereka melaksanakan tugas masing-masing sesuai dengan yang diperintahkan oleh Allah, sebagaimana disebutkan dalam riwayat-riwayat mutawatir dari nash-nash Al-Qur’an maupun As-Sunnah. Jadi, setiap gerakan di langit dan di bumi, berasal dari para malaikat yang ditugasi di sana, sebagai pelaksanaan perintah Allah Azza wa Jalla. Maka, wajib mengimani secara tafshil (terperinci), para malaikat yang namanya disebutkan oleh Allah, adapun yang belum disebutkan namanya, wajib mengimani mereka secara ijmal (global).
3. Iman Kepada Kitab-Kitab
Maksudnya adalah, meyakini dengan sebenarnya bahwa Allah memiliki kitab-kitab yang diturunkan-Nya kepada para nabi dan rasul-Nya, yang benar-benar merupakan Kalam (firman, ucapan)-Nya. Ia adalah cahaya dan petunjuk. Apa yang dikandungnya adalah benar. Tidak ada yang mengetahui jumlahnya selain Allah. Wajib beriman secara ijmal, kecuali yang telah disebutkan namanya oleh Allah, maka wajib baginya mengimaninya secara tafshil, yaitu Taurat, Injil, Zabur, dan Al-Qur’an. Selain wajib mengimani bahwa Al-Qur’an diturunkan dari sisi Allah, wajib pula mengimani bahwa Allah telah mengucapkannya sebagaimana Dia telah mengucapkan seluruh kitab lain yang diturunkan. Wajib pula melaksanakan berbagai perintah dan kewajiban serta menjauhi berbagai larangan yang terdapat di dalamnya. Al-Qur’an merupakan tolok ukur kebenaran kitab-kitab terdahulu. Hanya Al-Qur’anlah yang dijaga oleh Allah dari pergantian dan perubahan. Al-Qur’an adalah Kalam Allah yang diturunkan, dan bukan makhluk, yang berasal dari-Nya dan akan kembali kepada-Nya.
4. Iman Kepada Rasul-rasul
Iman kepada rasul-rasul adalah keyakinan yang kuat bahwa Allah telah mengutus para rasul untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya. Kebijaksanaan-Nya telah menetapkan bahwa Dia mengutus para rasul itu kepada manusia untuk memberi kabar gembira dan ancaman kepada mereka. Maka, wajib beriman kepada semua rasul secara ijmal sebagaimana wajib pula beriman secara tafshil kepada siapa di antara mereka yang disebut namanya oleh Allah, yaitu 25 diantara mereka yang disebutkan oleh Allah dalam Al-Qur’an. Wajib pula beriman bahwa Allah telah mengutus rasul-rasul dan nabi-nabi selain mereka, yang jumlahnya tidak diketahui oleh selain Allah, dan tidak ada yang mengetahui nama-nama mereka selain Allah Yang Maha Mulia dan Maha Tinggi. Wajib pula beriman bahwa Muhammad shalalallahu alaihi wa salam adalah yang paling mulia dan penutup para nabi dan rasul, risalahnya meliputi bangsa jin dan manusia, serta tidak ada nabi setelahnya.
5. Iman Kepada Kebangkitan Setelah Mati
Iman kepada kebangkitan setelah mati adalah keyakinan yang kuat tentang adanya negeri akhirat. Di negeri itu Allah akan membalas kebaikan orang-orang yang berbuat baik dan kejahatan orang-orang yang berbuat jahat. Allah mengampuni dosa apapun selain syirik, jika Dia menghendaki. Pengertian alba’ts (kebangkitan) menurut syar’i adalah dipulihkannya badan dan dimasukkannya kembali nyawa ke dalamnya, sehingga manusia keluar dari kubur seperti belalang-belalang yang bertebaran dalam keadaan hidup dan bersegera mendatangi penyeru. Kita memohon ampunan dan kesejahteraan kepada Allah, baik di dunia maupun di akhirat.
6. Iman Kepada Takdir Yang Baik Maupun Yang Buruk Dari Allah Ta’ala.
Iman kepada takdir adalah meyakini secara sungguh-sungguh bahwa segala kebaikan dan keburukan itu terjadi karena takdir Allah. Allah ta’ala telah mengetahui kadar dan waktu terjadinya segala sesuatu sejak zaman azali, sebelum menciptakan dan mengadakannya dengan kekuasaan dan kehendak-Nya, sesuai dengan apa yang telah diketahui-Nya itu. Allah telah menulisnya pula di dalam Lauh Mahfuzh sebelum menciptakannya.
Banyak sekali dalil mengenai keenam rukun Iman ini, baik dari segi Al-Qur’an maupun As-Sunnah. Diantaranya adalah firman Allah Ta’ala:
”Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur
dan barat itu suatu kebaktian, akan tetapi sesungguhnya kebaktian itu ialah
beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, dan
nabi-nabi…” (Al-Baqarah:177)
”Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu
menurut qadar (ukuran).” (Al-Qomar: 49)
Juga sabda Nabi shalallahu alaihi wa salam dalam hadits Jibril:
”Hendaklah engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasulNya, dan hari akhir. Dan engkau beriman kepada takdir Allah, yang baik maupun yang buruk.” (HR Muslim)
Sumber:
Syarh Al-’Aqidah Al-Wasithiyah li Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Sa’id bin Ali bin Wahf Al-Qahthaniy, Pustaka
Attibyan.
Read the rest of this entry »
May
24
Posted under Uncategorized
Dari Abu Ruqayyah Tamiim bin Aus Ad Daari, sesungguhnya Nabi shalallahu alaihi wa salam bersabda: ”Agama itu adalah nasehat.” Kami bertanya: ”Untuk siapa?” Sabda beliau: ”Untuk Allah, kitab-Nya, rasul-Nya, para pemimpin umat Islam, dan bagi seluruh kaum muslimin.” (HR Muslim).
Kata ”nasihat” merupakan sebuah kata singkat penuh isi, maksudnya ialah segala hal yang baik. Dalam bahasa Arab tidak ada kata lain yang pengertiannya setara dengan kata ”nasihat”, sebagaimana disebutkan oleh para ulama Bahasa Arab tentang kata ”al fallaah” yang tidak mempunyai padanan setara, yang mencakup makna kebaikan dunia dan akhirat.
Kalimat ”agama adalah nasihat” maksudnya adalah sebagai tiang dan penopang agama, sebagaimana halnya sabda Nabi shalallahu alaihi wa salam ”haji adalah Arafah”, maksudnya bahwa wukuf di ‘Arafah adalah tiang dan bagian terpenting haji.
Tentang penafsiran kata ”nasihat” dan berbagai cabangnya, Khathabi dan ulama-ulama lainnya mengatakan: Pertama, nasihat untuk Allah, maksudnya beriman semata-mata kepada-Nya, menjauhkan diri dari syirik dan sikap ingkar terhadap sifat-sifatNya, memberikan kepada Allah sifat-sifat sempurna dan segala keagungan, menyucikan-Nya dari segala kekurangan, menaati-Nya, menjauhkan diri dari perbuatan dosa, mencintai dan membenci sesuatu semata-mata karena-Nya, berjihad menghadapi orang-orang kafir, mengakui dan bersyukur atas semua nikmat-Nya, berlaku ikhlas dalam segala urusan, mengajak melakukan segala hal-hal yang baik sebagaimana disebutkan di atas, menganjurkan orang lain untuk berbuat semacam itu, dan bersikap lemah lembut kepada sesama manusia. Khatabi berkata: ”Secara prinsip, sifat-sifat baik tersebut kebaikannya kembali kepada pelakunya sendiri, karena Allah tidak memerlukan kebaikan dari siapa pun.”
Kedua, nasihat untuk kitab-Nya, maksudnya adalah beriman kepada firman-firman Allah dan diturunkan-Nya firman-firman itu kepada rasul-Nya, meyakini bahwa itu semua tidaklah sama dengan perkataan manusia dan tiada pula dapat dibandingkan dengan perkataan siapa pun. Kemudian menghormati firman Allah, membacanya dengan sungguh-sungguh, melafazhkannya dengan baik dengan sikap rendah hati dalam membacanya, menjaganya dari takwil orang-orang yang menyimpang, membenarkan segala isinya, mengikuti hukum-hukumnya, memahami berbagai macam ilmunya dan kalimat-kalimat perumpamaannya, mengambilnya sebagai pelajaran, merenungkan segala keajaibannya, mengamalkan dan menerima apa adanya tentang ayat-ayat mutasyabih, mengkaji ayat-ayat yang bersifat umum, dan mengajak manusia pada hal-hal sebagaimana tersebut di atas dalam mengimani kitabullah.
Ketiga, nasihat untuk rasul-Nya, maksudnya membenarkan ajaran-ajarannya, mengimani semua yang dibawanya, menaati perintah dan larangannya, membelanya semasa hidup maupun sesudah matinya, melawan para musuhnya, membela para pengikutnya, menghormati haknya, memuliakannya, menghidupkan sunnahnya, mengikuti seruannya, menyebarluaskan tuntunannya, tidak menuduhnya melakukan hal yang tidak baik, menyebarluaskan ilmunya dan memahami segala arti dari ilmu-ilmu itu, mengajak manusia kepada ajarannya, berlaku santun dalam mengajarkannya, mengagungkannya dan berlaku baik ketika membaca sunnah-sunnahnya, tidak membicarakan hal-hal yang tidak diketahuinya tentang sunnahnya, memuliakan para pengikut sunnahnya, meniru akhlak dan kesopanannya, mencintai keluarganya, para sahabatnya, meniggalkan orang yang melakukan perkara bid’ah dan orang yang tidak mengakui salah seorang shahabat beliau dan lain sebagainya.
Keempat, nasihat untuk para pemimpin umat Islam, maksudnya ialah menolong mereka dalam kebenaran, menaati perintah mereka dan memperingatkan kesalahan mereka dengan lemah lembut, memberitahu mereka jika mereka lupa, memberitahukan kepada mereka apa yang menjadi hak-hak kaum muslim, tidak melawan mreka dengan senjata, dan makmum shalat di belakang mereka, berjihad bersama mereka dan mendo’akan mereka untuk mendapatkan kebaikan.
Kelima, nasihat untuk seluruh kaum muslimin selain para penguasa, maksudnya ialah memberikan bimbingan kepada mereka apa yang dapat memberikan kebaikan bagi mereka dalam urusan dunia dan akhirat, memberikan bantuan kepada mereka, menutup aib dan cacat mereka, menghindarkan mereka dari hal-hal yang membahayakan dan mengusahakan kebaikan bagi mereka, menyuruh mereka berbuat ma’ruf dan mencegah mereka dari kemungkaran dengan sikap santun dan ikhlas, kasih sayang dengan mereka, memuliakan yang tua dan menyayangi yang muda, memberikan nasihat yang baik kepada mereka, menjauhi kebencian dan kedengkian, mencintai sesuatu yang menjadi hak mereka seperti mencintai sesuatu yang menjadi miliknya sendiri, tidak menyukai sesuatu yang tidak mereka sukai sebagaimana yang ia sendiri tidak menyukainya, melindungi harta dan kehormatan mereka, dan sebagainya baik dengan ucapan maupun perbuatan serta menganjurkan keapda mereka untuk menerapkan perilaku-perilaku tersebut diatas.
Memberi nasihat merupakan fardhu kifayah, jika telah ada yang melaksanakannya, maka yang lain terlepas dari kewajiban ini. Hal ini merupakan suatu keharusan yang dikerjakan sesuai kemampuan. Nasihat dalam bahasa Arab artinya membersihkan atau memurnikan seperti pada kalimat ”nashakhtul ‘asala” artinya saya membersihkan madu sampai tinggal tersisa yang murni. Akan tetapi, ada yang mengatakan bahwa nasihat juga mempunyai makna lain. Wallahu a’lam
Sumber:
Syarah Hadits Arbain Imam Nawawi, Ibnu Daqiq Al’Ied, Media Hidayah
Read the rest of this entry »
May
22
Posted under Uncategorized
Penyimpangan dari aqidah yang benar
adalah kehancuran dan kesesatan. Karena aqidah yang benar adalah motivator utama
bagi amal yang bermanfaat.
Tanpa aqidah yang benar seseorang akan menjadi
mangsa bagi persangkaan dan keragu-raguan yang lama-kelamaan mungkin menumpuk
dan menghalangi dari pandangan yang benar terhadap jalan hidup kebahagiaan,
sehingga hidupnya terasa sempit lalu ia ingin terbebas dari kesempitan tersebut
dengan menyudahi hidup, sekalipun dengan bunuh diri, sebagaimana yang terjadi
pada banyak orang yang telah kehilangan hidayah aqidah yang benar.
Masyarakat yang tidak dipimpin oleh aqidah yang benar merupakan
masyarakat bahimi (hewani), tidak memiliki prinsip hidup bahagia, sekali
pun mereka bergelimang materi tetapi terkadang justru sering menyeret mereka
pada kehancuran, sebagaimana telah kita lihat pada masyarakat jahiliyah. Karena
sesungguhnya kekayaan materi memerlukan taujih (pengarahan) dalam penggunaannya,
dan tidak ada pemberi arahan yang benar kecuali aqidah shahihah.
Allah
berfirman:
”Hai Rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan
kerjakanlah amal yang shalih.” (Al-mu’minun: 51)
”Dan sesungguhnya
telah kami berikam kepada Daud karunia dari Kami. (Kami berfirman): ‘Hai
gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud’, dan
kami telah melunakkan besi untuknya, (yaitu) buatlah baju besi yang besar-besar
dan ukurlah anyamannya; dan kerjakanlah amalan yang shaleh. Seungguhnya aku
melihat apa yang kamu kerjakan.” (saba’:10-11)
Maka kekuatan aqidah
tidak dapat dipisahkan dari kekuatan madiyah (materi). Jika hal itu
dilakukan dengan menyeleweng kepada aqidah batil, maka kekuatan materi akan
berubah nenjadi sarana penghancur dan alat perusak, seperti yang terjadi di
negara-negara kafir yang memiliki materi, tetapi tidak memiliki aqidah
shahihah.
Sebab-sebab penyimpangan dari aqidah shahihah yang harus kita
ketahui yaitu:
1. Kebodohan terhadap aqidah shahihah, karena tidak mau
(enggan) mempelajari dan mengajarkannya, atau karena kurangnya perhatian
terhadapnya. Sehingga tumbuh suatu generasi yang tidak mengenal aqidah shahihah
dan juga tidak mengetahui lawan atau kebalikannya. Akibatnya, mereka meyakini
yang haq sebagai sesuatu yang batil dan yang batil dianggap sebagai haq.
Sebagaimana yang pernah dikatakan oleh Umar ”Sesungguhnya ikatan simpul Islam
akan pudar satu demi satu, manakala didalam Islam terdapat orang yang tumbuh
tanpa mengenal kejahilannya.”
2. Ta’ashub (fanatik) kepada sesuatu
yang diwarisi dari bapak dan nenek moyangnya, sekali pun hal itu batil, dan
mencampakkan apa yang menyalahinya, sekali pun hal itu benar. Sebagaimana yang
difirmankan Allah:
”Dan apabila dikatakan kepada mereka: ”Ikutilah apa
yang diturunkan Allah,” mereka menjawab: ”(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti
apa yang telah kami dapati dari perbuatan nenek moyang kami”. ”(Apakah mereka
akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu
apapun, dan tidak mendapat petunjuk?” (Al-Baqarah: 170)
3. Taqlid
buta, dengan mengambil pendapat manusia dalam masalah aqidah tanpa mengetahui
dalilnya dan tanpa menyelidiki seberapa jauh kebenarannya. Sebagaimana yang
terjadi pada golongan-golongan seperti mu’tazilah, jahmiyah, dan lainnya. Mereka
bertaqlid kepada orang-orang sebelum mereka dari para imam sesat, jauh dari
aqidah shahihah.
4. Ghuluw (berlebihan) dalam mencintai para wali
dan orang-orang shalih, serta mengangkat mereka diatas derajat yang semestinya,
sehingga meyakini pada diri mereka sesuatu yang tidak mampu dilakukan kecuali
oleh Allah, baik berupa mendatangkan kemanfaatan maupun menolak kemudharatan.
Juga menjadikan para wali itu sebagai perantara antara Allah dan makhlukNya,
sehingga sampai pada tingkat penyembahan para wali tersebut dan bukan menyembah
Allah. Mereka ber-taqarrub kepada kuburan para wali itu dengan hewan qurban,
nadzar, do’a, istighasah, dan meminta pertolongan. Sebagaimana yang terjadi pada
kaum Nabi Nuh terhadap oarang-orang shalih ketika mereka berkata: ”Janganlah
kamu meninggalkan penyembahan tuhan-tuhan kami dan jangan pula sekali-kali kamu
meniggalkan penyembahan Wadd, dan jangan pula Suwaa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr.”
(Nuh: 23)
Dan demikianlah yang terjadi pada pengagung-pengagung
kuburan di berbagai negeri sekarang ini.
5. Ghaflah (lalai)
terhadap perenungan ayat-ayat Allah yang terhampar di jagat raya ini (ayat-ayat
kauniyah) dan ayat-ayat Allah yang tertuang dalam kitabNya (ayat-ayat
qur’aniyah). Di samping itu, juga terbuai dengan hasil-hasil teknologi dan
kebudayaan, sampai-sampai mengira bahwa itu semua hasil kreasi manusia semata,
sehingga mereka mengagung-agungkan manusia serta menisbatkan seluruh kemajuan
ini pada jerih payah dan penemuan manusia semata. Sebagaimana kesombongan Qarun
yang mengatakan:
”Sesungguhnya aku diberi harta itu, karena ilmu yang
ada padaku.” (Al-Qashash:78)
Dan sebagaimana perkataan orang lain
yang juga sombong:
”Ini adalah hakku…”
(Fushilat:50)
”Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah
kepintaranku”. (Az-zumar:49)
Mereka tidak berpikir dan tidak pula
melihat keagungan Tuhan yang telah menciptakan alam ini dan telah menimbun
berbagai keistimewaan didalamnya. Juga yang telah menciptakan manusia lengkap
dengan bekal keahlian dan kemampuan guna menemukan keistimewaan-keistimewaan
alam serta memfungsikannya demi kepentingan manusia.
”Padahal
Allah-lah yang telah menciptakan kamu dan apa yang telah kamu perbuat itu”.
(Ash-shaffat:49)
”Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan
langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah,…”
(Al-A’raf:185)
”Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan
menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu
berbagai buah-buahan menjadi rizki untukmu, dan Dia telah menundukkan bahtera
bagimu supaya bahtera itu berlayar di lautan dengan kehendakNya, dan Dia telah
menundukkan pula bagimu sungai-sungai. Dan Dia telah menundukkan pula bagimu
matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah
menundukkan bagimu malam dan siang. Dan telah memberikan kepadamu (keperluanmu)
dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat
Allah, tidaklah dapat kamu menghinakannya.” (Ibrahim: 32-34)
6. Pada
umumnya rumah tangga sekarang kosong dari pengarahan yang benar (menurut Islam).
Padahal baginda Rosul telah bersabda:
”Setiap bayi itu dilahirkan atas
dasar fitrah. Maka kedua orangtuanyalah yang kemudian membuatnya menjadi Yahudi,
Nashrani atau Majusi.” (HR. Al-Bukhori)
Jadi, orangtua mempunyai
peranan besar dalam meluruskan jalan hidup anak-anaknya.
7. Enggannya
dunia pendidikan dan media informasi melaksanakan tugasnya. Kurikulum pendidikan
kebanyakan tidak memberikan perhatian yang cukup terhadap pendidikan agama
Islam, bahkan ada yang tidak peduli sama sekali. Sedangkan media informasi baik
media cetak maupun elektronik berubah menjadi sarana penghancur dan perusak,
atau paling tidak hanya memfokuskan pada hal-hal yang bersifat materi dan
hiburan semata. Tidak memperhatikan hal-hal yang dapat meluruskan moral dan
aqidah serta menangkis aliran-aliran sesat. Dari sini muncullah generasi yang
telanjang tanpa senjata, yang tak berdaya dihadapan pasukan kekufuran yang
lengkap persenjataannya.
Cara-Cara Menanggulangi Penyimpangan
Ini
Cara penanggulangan penyimpangan diatas terangkum pada poin-poin
berikut ini:
1. Kembali kepada kitabullah dan sunnah Rasullah untuk
mengambil aqidah shahihah. Sebagaimana para salaf shalih mengambil aqidah mereka
dari keduanya. Tidak akan dapat memperbaiki akhir umat ini kecuali apa yang
telah memperbaiki umat pendahulunya. Juga dengan mengkaji aqidah golongan sesat
dan mengenal syubhat-syubhat mereka untuk kita bantah dan kita waspadai, karena
siapa yang tidak kenal keburukan, ia dikhawatirkan terperosok ke
dalamnya.
2. Memberi perhatian pada pengajaran aqidah shahihah, aqidah
salaf, di berbagai jenjang pendidikan. memberi jam pelajaran yang cukup serta
mengadakan evaluasi yang ketat dalam menyajikan materi ini.
3. Harus
ditetapkan kitab-kitab salaf yang bersih sebagi materi pelajaran. Sedangkan
kitab-kitab kelompok penyeleweng harus dijauhkan.
4. Menyebar para da’i
yang meluruskan aqidah umat islam dengan mengajarkan aqidah salaf serta menjawab
dan menolak seluruh aqidah batil.
Maraji’ : Dr. Shalih bin Fauzan bin
Abdullah Al-Fauzan, Kitab Tauhid 1, Darul Haq
Read the rest of this entry »
May
20
Posted under Uncategorized
Kaum muslimin dalam kehidupan
bermasyarakatnya memiliki keistimewaan yang menjadi ciri khas mereka, yaitu
adanya sifat kasih sayang dan persaudaraan, yang mana sifat kasih sayang
tersebut menghiasi mereka sementara wajah mereka dihiasi dengan
senyuman.
Dasar kehidupan sesama mukmin adalah persaudaraan dan
persahabatan yang baik. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
”Sesungguhnya
orang-orang mukmin adalah bersaudara.” (Al Hujurat: 10)
Allah
subhanahu wa ta’ala telah mengharamkan atas kaum mukminin untuk melakukan
sesuatu yang dapat menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka,
sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala yang
berbunyi:
”Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan
permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamr/arak dan
berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat, maka
berhentilah kamu (dari melakukan perbuatan itu).” (Al-Maidah: 91)
Dan
Allah subhanahu wa ta’ala telah memberi karunia kepada hamba-hambaNya dengan
menumbuhkan rasa kesatuan di dalam hati mereka. Allah subhanahu wa ta’ala
berfirman:
”Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa
jahiliyah) kamu bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu
menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara.” (Ali
Imran: 103)
Dan Allah subhanahu wa ta’ala berfirman pula:
”Dialah
yang memperkuatmu dengan pertolonganNya dan dengan para mukmin. Dan Yang
mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu
membelanjakan (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat
mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati
mereka.” (Al-Anfal: 62-63).
Adalah selayaknya setiap pribadi muslim
untuk menjaga lidahnya sehingga tidak berkata-kata kecuali untuk kebaikan, dan
jika berkata-kata itu sama baiknya dengan tidak berkata-kata, maka agama
menganjurkan untuk tidak berkata-kata, karena terkadang perbincangan yang halal
dapat berubah menjadi perbincangan yang makruh dan bahkan menjadi perbincangan
yang haram, inilah yang sering terjadi di antara manusia.
Dari Abu
Hurairah radhiallahu anhu, dari Nabi shalallahu alaihi wa salam, beliau
bersabda:
”Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka
hendaklah ia berkata-kata yang baik atau hendaklah ia diam.” (HR Bukhari dan
Muslim)
Dalam hadits yang telah disepakati keshahihannya ini disebutkan
bahwa tidak layak seseorang berbicara kecuali jika kata-katanya itu mengandung
kebaikan, yaitu perkataan yang mendatangkan kebaikan. Untuk itu jika seseorang
ragu tentang ada atau tidaknya kebaikan pada apa yang akan diucapkannya maka
hendaklah ia tidak berbicara.
Orang yang beriman kepada Allah subhanahu
wa ta’ala tentu dia takut kepada ancaman-Nya, mengharapkan pahala-Nya,
bersungguh-sungguh melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan-Nya. Yang
terpenting dari semuanya itu ialah mengendalikan gerak-gerik seluruh anggota
badannya karena kelak dia akan dimintai tanggung jawab atas perbuatan semua
anggota badannya, sebagaimana tersebut pada firman
Allah:
”Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya
kelak pasti akan dimintai tanggung jawabnya” (Al Isra’ ayat
36)
Bahaya lisan itu sangat banyak, Rasulullah shalallahu alaihi wa salam
juga bersabda:
”Bukankah manusia terjerumus ke dalam neraka karena tidak
dapat mengendalikan lidahnya” (HR Timridzi)
Beliau juga
bersabda:
”Tiap ucapan anak Adam menjadi tanggung jawabnya, kecuali
menyebut nama Allah, menyuruh berbuat ma’ruf, dan mencegah kemungkaran.” (HR
Tirmidzi)
Barang siapa memahami hal ini dan beriman kepada-Nya dengan
keimanan yang sungguh-sungguh, maka Allah akan memelihara lidahnya sehingga dia
tidak akan berkata kecuali perkataan yang baik atau diam.
Yang terakhir,
nasehat dari Imam Syafi’i yang mengatakan: ”Jika seseorang akan berbicara
hendaklah ia berfikir sebelum berbicara, jika yang akan diucapkannya itu
mengandung kebaikan maka ucapkanlah, namun jika ia ragu (tentang ada atau
tidaknya kebaikan pada apa yang akan ia ucapkan) maka hendaklah tidak berbicara
hingga yakin bahwa apa yang akan diucapkan itu mengandung kebaikan
Maraji’:
1. Abdul Malik Abdul Qosim, Bagaimana Menjaga Hati,
Darul Haq
2. Ibnu Daqiq Al ‘ied, Syarah Hadits Arbain, Media
Hidayah
Read the rest of this entry »
May
16
Posted under Uncategorized
Peringatan penting wahai Saudaraku seagama…. Wahai orang yang memperhatikan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala , “ Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. ”( At-Tahrim : 6 ) Inilah peringatan dari orang yang mencintaimu, rindu kepadamu, bacalah dengan pandangan yang adil, jauh dari hawa nafsu, fikirkanlah dimanakah posisimu ? “ Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman ,untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan pada kebenaran yang telah turun (kepada mereka) ” (Al Hadid : 16 )
Ingatlah wahai saudaraku, keadaanmu di saat engkau merasakan pedihnya sakaratul maut, yang pada saat menghadapinya Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Aalihi Wasallam sebagai makhluk yang paling dicintai Allah bersabda : “ Tiada Ilaahyang berhak disembah selain Allah , sesungguhnya dalam kematian itu terdapat rasa kesakitan. “ (H.R. Bukhari) Bayangkan wahai saudaraku, engkau berada di hadapan kematian ini. Malaikat Maut tepat berada di atas kepalamu. Nafasmu tersengal, nyawamu meregang, mulutmu terkunci, anggota badanmu lemas, lehermu berkeringat, matamu terbelalak, pintu taubat telah tertutup untukmu, dahimu berkeringat, di sekitarmu penuh dengan tangisan dan suara rintihan, sedang engkau dalam kesedihan yang mendalam, tiada yang dapat menyelamatkan dan menghindarkanmu darinya.
Engkau saksikan peristiwa mengerikan tersebut setelah sebelumnya kenikmatan dan kesenangan yang kamu rasakan. Telah datang kepadamu ketentuan Allah , lalu nyawamu diangkat ke langit. Kebahagiaan atau kesengsaraankah yang engkau peroleh ? Cukuplah kematian sebagai nasihat, cukuplah kematian menjadikan hati bersedih, menjadikan mata menangis, perpisahan dengan orang-orang tercinta,penghilang segala kenikmatan, pemutus segala cita-cita. Wahai orang yang tertipu oleh dunianya,wahai orang yang berpaling dari Allah , wahai orang yang lengah dari ketaatan kepada Rabbnya, wahai orang yang setiap kali dinasihati, hawa nafsunya menolak nasihat ini, wahai orang yang dilalaikan oleh nafsunya dan tertipu oleh angan-angan panjangnya… Pernahkah engkau memikirkan saat-saat kematian sedangkan engkau tetap dalam keadaanmu semula? Tahukah kamu apa yang akan terjadi pada dirimu di saat kematianmu ? Tentu saat ini engkau mengucapkan dalam hatimu, saya akan mengucapkan Laa Ilaaha Illallah . Tidak mungkin wahai saudaraku, jika engkau masih tetap lalai dan berpaling dari kebenaran hingga tiba saat-saat kematianmu, tentu engkau tidak akan mampu mengucapkannya, bahkan kamu akan berharap untuk dihidupkan kembali.
Saudaraku, tahukah engkau kapan hari kematianmu ? di mana kamu akan mati? engkau tentunya tidak akan tahu secara pasti ! Jadi kenapa kamu menunda-nunda taubatmu, dan selalu berkata, “ Aku akan taubat, aku akan taubat.” Seorang terpercaya bercerita kepadaku,” Ada seorang pemuda yang mendapat kecelakaan. Salah seorang polisi segera datang ke tempat kecelakaan tersebut untuk menolongnya, namun ia mendapati pemuda itu sudah dalam keadaan sekarat. Polisi itu berkata kepada pemuda tersebut ‘ Ucapkanlah Laa Ilaaha Illallah !’ Pemuda itu kemudian mengangkat telunjuknya ke atas dan berkata, ‘ Laa Ilaaha Illallah .’ Lalu ia meninggal dunia. Setelah dimandikan dan dishalatkan, polisi tadi pergi ke rumah keluarga pemuda tersebut untuk memberitahukan bahwa anaknya telah mengucapkan syahadat sebelum meninggal. Ia berkata,’saya membawa berita gembira untuk anda, bahwa anak anda mengucapkan syahadat sebelum meninggal.’ Orang tua pemuda tersebut menjawab,’kami pun memberitahu anda, sesungguhnya anak kami tersebut baru saja bertaubat kepada Allah sekitar dua minggu yang lalu’.”
Saudaraku,… bayangkanlah jika badanmu telah berpisah dengan roh-mu dan engkau sudah dimandikan, dikafani dan dishalatkan. Setelah itu engkau akan dimasukkan ke dalam kubur dengan diangkat di atas pundak, padahal sebelumnya engkau menjadi orang yang mengangkat jenazah atau orang yang berziarah ke kubur. Di saat itu, apa kata jenazahmu, akankah mengucapkan “ Cepat, cepat…..!” ataukah akan mengucapkan,” Hai, ke mana kalian akan membawaku ? “( Hadits riwayat Al-Bukhari, An-Nasaa’i,Al-Baihaqy dan Ahmad, dalam hadits : “ Di saat jenazah diletakkan di liang kuburnya dari pundak-pundak orang yang mengangkatnya, jika jenazah itu dulunya orang yang shalih, ia akan berkata,’ cepat,cepat…!’ Dan apabila jenazah itu dulunya bukan orang yang shalih,ia akan berkata,’Hai, ke mana kalian akan membawaku ?’ Suara ini terdengar oleh setiap makhluk selain manusia, dan jika manusia mendengarnya,niscaya ia akan pingsan.” ) Kemudian engkau dimasukkan ke dalam kuburanmu oleh orang-orang yang engkau kenal. Mereka meletakkanmu ke dalam lubang bumi dan menutupi liang lahatmu dengan papan kemudian mereka menimbun kuburanmu dengan tanah. Lalu mereka mendo’akanmu. Kemudian mereka meninggalkanmu sendirian dalam kegelapan. Di atasmu hanya ada tanah, di bawahmu tanah, di kananmu tanah,di kirimu tanah.
Kemudian ruh-mu dikembalikan ke jasadmu, dan datanglah kepadamu dua malaikat yang biru kehitam-hitaman.Lalu keduanya bertanya kepadamu, ”Siapa Rabbmu ? Apa agamamu ? Siapa nabi yang diutus kepadamu ? Maka dengan apa kamu akan menjawab ? Jika di saat mati engkau telah bertaubat, jujur dan beriman, maka Allah akan menetapkan imanmu pada saat itu. Allah berfirman : “ Allah meneguhkan ( iman ) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat, dan ALLAH menyesatkan orang-orang yang zhalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” ( Ibrahim : 27 ) Dengan demikian engkau mampu mengucapkan,” Allah Rabbku, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam Nabiku, Islam agamaku.” Lalu terdengarlah suara dari langit ,”Hambaku berkata benar,berikan dia selimut dari Surga, bukakan pintu Surga baginya !” Maka engkau pun bisa mencium bau Surga, merasakan kenikmatannya, dilapangkan kuburmu sejauh mata memandang.Lalu datanglah kepadamu seseorang yang tampan,berpakaian indah dan beraroma wangi lalu berkata kepadamu,” Aku membawa kabar baik yang menyenangkanmu. Inilah hari yang telah dijanjikan sebelumnya kepadamu.” Lalu engkau bertanya kepadanya,” Siapakah engkau, wajahmu adalah wajah yang membawa kebaikan?” ia menjawab,”Saya adalah amal shalihmu.” Selanjutnya dibukakan bagimu pintu Surga dan ditunjukkan kepadamu pintu Neraka, dan amalmu berkata,” Inilah tempatmu bila engkau berbuat maksiat terhadap Allah , Allah menggantikannya bagimu dengan Surga karenaku.” Di saat engkau melihat surga engkau berkata,” Ya Rabbku, segerakan hari Kiamat. Rabbku, segerakan hari kiamat. Oh kebahagiaan, oh kesenangan, oh kemenangan…!”
Namun apabila seorang hamba meninggal –semoga Allah melindungi kita- ia menyia-nyiakan agamanya, meninggalkan shalatnya, mengejek orang-orang shalih, mengerjakan kemungkaran dan ia meninggal dalam keadaan demikian. Tahukah kamu, dengan apa ia akan menjawab pertanyaan kedua malaikat tadi, siapa Rabbmu, apa agamamu, siapa Nabi yang diutus kepadamu ? Ketahuilah, ia akan menjawab dengan, “ Hah… hah…,aku tidak tahu !” Lalu terdengarlah seruan “ Bohong ! Baringkan ia di Neraka, bukakan baginya pintu Neraka !” Maka ia pun merasakan panas dan racun Neraka,kuburannya menghimpit dia hingga meremukkan tulang-tulangnya. Kemudian datanglah kepadanya seseorang yang berwajah buruk, berbaju lusuh dan berbau busuk, ia berkata,” Saya datang membawa berita buruk untukmu. Inilah hari yang dijanjikan kepadamu.” Ia menjawab, “ Siapakah kamu ? Wajahmu membawa berita buruk. ” Orang itu menjawab,” Saya adalah amal burukmu.” Kemudian orang tersebut dijadikan buta, bisu dan tuli, di tangannya ada sebatang besi, apabila sebuah gunung dipukul dengan besi itu niscaya akan menjadi debu. Orang yang banyak dosa itu lalu dipukul sekali dengan palu godam lalu menjadi debu, kemudian Allah mengembalikan lagi seperti semula, selanjutnya ia dipukul lagi hingga ia menjerit dengan lengkingan yang bisa didengar oleh seluruh makhluk, selain jin dan manusia. Kemudian dibukakan pintu Neraka dan disiapkan baginya tempat di Neraka. Lalu ia berkata,” Ya Rabbku, janganlah Engkau datangkan hari Kiamat, janganlah Engkau datangkan hari Kiamat !” ( Hadits riwayat Abu Daud, An-Nasaa’i,Imam Ahmad dan Hakim, ia berkata bahwa hadits ini shahih menurut kriteria Al-Bukhari dan Muslim, dari hadits panjang Al-Barra bin ‘Azib radhiallahu ‘anhu)
Wahai calon penghuni kubur, apa yang menjadikanmu terpedaya oleh dunia ? Tidakkah engkau mengetahui bahwa kamu akan meninggalkan duniamu dan duniamu akan meninggalkanmu ? Mana rumahmu yang megah ? Mana pakaianmu yang indah ? Mana aroma wewangianmu ? Mana para pembantu dan keluargamu ? Mana wajahmu yang tampan ? Mana kulitmu yang halus ? Bagaimana keadaanmu setelah tiga hari dikubur ? Saat itu tubuhmu telah ditumbuhi ulat dan cacing ; mengoyak kafanmu ; mengahapuskan warnamu ; memakan dagingmu ; masuk ke dalam tulangmu ; mencerai-beraikan anggota tubuhmu ; merobek sendi – sendimu ; melelehkan biji matamu di pipimu …..( Sebagian ungkapan ini nasehat Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang zuhud ) Coba perhatikan, apa yang telah engkau persiapkan untuk menjadikan kuburanmu sebagai taman Surga ? Kemudian renungkanlah, wahai saudaraku, keadaan para makhluk yang takut dengan kedahsyatan hari Kiamat, mereka berdiri menanti datangnya penentuan dan menunggu munculnya yang memberi syafa’at kepadanya.
Pada saat itu orang-orang yang berdosa diselimuti oleh kegelapan yang pekat, dan dijilat oleh api-api yang membara,diperdengarkan kepada mereka suara yang mengerikan yang muncul dari neraka. Hiduplah sesuka hatimu. Tumpahkan dan hamburkan kesenangan demi kesenangan untuk memuaskan nafsumu. Katakan semaumu tentang Islam, orang – orang shalih, keta’atan dan kebaikan. Bergembiralah dan tertawalah sepuas-puasmu kepada dunia. Kelak pada akhirnya, engkau juga akan meregang di tengah sakaratul maut, dan entah kapan, itu pasti menimpamu, lalu engkau mati. Saat itu, malaikat maut tepat berada di atas kepalamu ; hatimu bergetar ; nyawamu meregang ; mulutmu terkunci ; anggota badanmu lemas ; lehermu berkeringat ; matamu terbelalak , pintu taubat telah tertutup, orang –orang di sekitarmu menangis, sedang kamu sendiri mengerang menerima sakit, lalu nyawamu diangkat ke langit.
Pada waktu itu barulah engkau tahu pasti dan yakin bahwa selama ini kamu terpedaya. Tak berguna lagi air mata darah, yang ada siksa, derita dan merana selamanya. Saudara,…….. Sebelum semua itu terjadi, sebelum semuanya terlambat, selamatkanlah dirimu ! Yakinilah bahwa dunia ini bukan akhir dari segalanya. Masih ada akhirat, yang justru di sanalah kehidupan yang sesungguhnya. Tempat pembalasan amal perbuatan manusia di dunia dengan seadil-adilnya. Selamatkanlah dirimu ! Bertaubatlah ! Dan ta’atilah petunjuk Rabbmu !
Dikutip dengan perubahan seperlunya dari buku “ Jagalah dirimu “ ( edisi terjemahan ) oleh penerjemah Ahmad Amin Sjihab, Lc terbitan Darul Haq, Jakarta. Judul buku asli : ” Fasatadzkuruuna maa aquulu lakum waqafaat liman araadan najaat “, tulisan ABDUL MUHSIN BIN ABDUL RAHMAN BIN ABDUL MUHSIN, terbitan Daar Al Qaasim, Riyadh, cet.pertama 1416 H
Read the rest of this entry »
May
06
Posted under Uncategorized
Khadijah Binti Khuwailid Radhiallâhu ‘Anha Beliau
adalah seorang sayyidah wanita sedunia pada zamannya. Dia adalah putri dari
Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushai bin Kilab al-Qurasyiyah
al-Asadiyah. Dijuluki ath-Thahirah yakni yang bersih dan suci. Sayyidah Quraisy
ini dilahirkan di rumah yang mulia dan terhormat kira-kira 15 tahun sebelum
tahun fill (tahun gajah). Beliau tumbuh dalam lingkungan keluarga yang mulia dan
pada gilirannya beliau menjadi seorang wanita yang cerdas dan agung. Beliau
dikenal sebagai seorang yang teguh dan cerdik dan memiliki perangai yang luhur.
Karena itulah banyak laki-laki dari kaumnya menaruh simpati kepadanya.
Pada mulanya beliau dinikahi oleh Abu Halah bin Zurarah at-Tamimi yang
membuahkan dua orang anak yang bernama Halah dan Hindun. Tatkala Abu Halah
wafat, beliau dinikahi oleh Atiq bin ‘A’id bin Abdullah al-Makhzumi hingga
beberapa waktu lamanya namun akhirnya mereka cerai. Setelah itu banyak dari para
pemuka-pemuka Quraisy yang menginginkan beliau tetapi beliau memprioritaskan
perhatiannya dalam mendidik putra-putrinya, juga sibuk mengurusi perniagaan yang
mana beliau menjadi seorang yang kaya raya. Suatu ketika, beliau mencari orang
yang dapat menjual dagangannya, maka tatkala beliau mendengar tentang Muhammad
sebelum bi’tsah (diangkat menjadi Nabi), yang memiliki sifat jujur, amanah dan
berakhlak mulia, maka beliau meminta kepada Muhammad untuk menjualkan
dagangannya bersama seorang pembantunya yang bernama Maisarah. Beliau memberikan
barang dagangan kepada Muhammad melebihi dari apa yang dibawa oleh selainnya.
Muhammad al-Amin pun menyetujuinya dan berangkatlah beliau bersama Maisarah dan
Allah menjadikan perdagangannya tersebut menghasilkan laba yang banyak.
Khadijah merasa gembira dengan hasil yang banyak tersebut karena usaha dari
Muhammad, akan tetapi ketakjubannya terhadap kepribadian Muhammad lebih besar
dan lebih mendalam dari semua itu. Maka mulailah muncul perasaan-perasaan aneh
yang berbaur dibenaknya, yang belum pernah beliau rasakan sebelumnya. Pemuda ini
tidak sebagamana kebanyakan laki-laki lain dan perasaan-perasaan yang lain. Akan
tetapi dia merasa pesimis; mungkinkah pemuda tersebut mau menikahinya, mengingat
umurnya sudah mencapai 40 tahun? Apa nanti kata orang karena ia telah menutup
pintu bagi para pemuka Quraisy yang melamarnya? Maka disaat dia bingung dan
gelisah karena problem yang menggelayuti pikirannya, tiba-tiba muncullah seorang
temannya yang bernama Nafisah binti Munabbih, selanjutnya dia ikut duduk dan
berdialog hingga kecerdikan Nafisah mampu menyibak rahasia yang disembuyikan
oleh Khodijah tentang problem yang dihadapi dalam kehidupannya.
Nafisah membesarkan hati Khadijah dan menenangkan perasaannya dengan
mengatakan bahwa Khadijah adalah seorang wanita yang memiliki martabat,
keturunan orang terhormat, memiliki harta dan berparas cantik.Terbukti dengan
banyaknya para pemuka Quraisy yang melamarnya. Selanjutnya, tatkala Nafisah
keluar dari rumah Khadijah, dia langsung menemui Muhammad al-Amin hingga
terjadilah dialog yang menunjukan kelihaian dan kecerdikannya: Nafisah : Apakah
yang menghalangimu untuk menikah wahai Muhammad? Muhammad : Aku tidak memiliki
apa-apa untuk menikah . Nafisah : (Dengan tersenyum berkata) Jika aku pilihkan
untukmu seorang wanita yang kaya raya, cantik dan berkecukupan, maka apakah kamu
mau menerimanya? Muhammad : Siapa dia ? Nafisah : (Dengan cepat dia menjawab)
Dia adalah Khadijah binti Khuwailid Muhammad : Jika dia setuju maka akupun
setuju.
Nafisah pergi menemui Khadijah untuk menyampaikan kabar gembira
tersebut, sedangkan Muhammad al-Amin memberitahukan kepada paman-paman beliau
tentang keinginannya untuk menikahi sayyidah Khadijah. Kemudian berangkatlah Abu
Tholib, Hamzah dan yang lain menemui paman Khadijah yang bernama Amru bin Asad
untuk melamar Khadijah bagi putra saudaranya, dan selanjutnya menyerahkan mahar.
Setelah usai akad nikah, disembelihlah beberapa ekor hewan kemudian dibagikan
kepada orang-orang fakir. Khadijah membuka pintu bagi keluarga dan handai taulan
dan diantara mereka terdapat Halimah as-Sa’diyah yang datang untuk menyaksikan
pernikahan anak susuannya. Setelah itu dia kembali ke kampungnya dengan membawa
40 ekor kambing sebagai hadiah perkawinan yang mulia dari Khadijah, karena
dahulu dia telah menyusui Muhammad yang sekarang menjadi suami tercinta. Maka
jadilah Sayyidah Quraisy sebagai istri dari Muhammad al-Amin dan jadilah dirinya
sebagai contoh yang paling utama dan paling baik dalam hal mencintai suami dan
mengutamakan kepentingan suami dari pada kepentingan sendiri.
Manakala Muhammad mengharapkan Zaid bin Haritsah, maka dihadiahkanlah oleh
Khadijah kepada Muhammad. Demikian juga tatkala Muhammad ingin mengembil salah
seorang dari putra pamannya, Abu Tholib, maka Khadijah menyediakan suatu ruangan
bagi Ali bin Abi Tholib radhiallâhu ‘anhu agar dia dapat mencontoh akhlak
suaminya, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam . Allah memberikan karunia pada
rumah tangga tersebut berupa kebehagaian dan nikmat yang berlimpah, dan
mengkaruniakan pada keduanya putra-putri yang bernama al-Qasim, Abdullah,
Zainab, Ruqqayah, Ummi Kalsum dan Fatimah. Kemudian Allah Ta’ala menjadikan
Muhammad al-Amin ash-Shiddiq menyukai Khalwat (menyendiri), bahkan tiada suatu
aktifitas yang lebih ia sukai dari pada menyendiri. Beliau menggunakan waktunya
untuk beribadah kepada Allah di Gua Hira’ sebulan penuh pada setiap tahunnya.
Beliau tinggal didalamnya beberapa malam dengan bekal yang sedikit jauh dari
perbuatan sia-sia yang dilakukan oleh orang-orang Makkah yakni menyembah berhala
dan lain –lain.
Sayyidah ath-Thahirah tidak merasa tertekan dengan tindakan Muhammad yang
terkadang harus berpisah jauh darinya, tidak pula beliau mengusir kegalauannya
dengan banyak pertanyaan maupun mengobrol yang tidak berguna, bahkan beliau
mencurahkan segala kemampuannya untuk membantu suaminya dengan cara menjaga dan
menyelesaikan tugas yang harus dia kerjakan dirumah. Apabila dia melihat Nabi
Shallallahu ‘alaihi wasallam pergi ke gua, kedua matanya senantiasa mengikuti
suaminya terkasih dari jauh. Bahkan dia juga menyuruh orang-orang untuk menjaga
beliau tanpa mengganggu suaminya yang sedang menyendiri. Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wasallam tinggal di dalam gua tersebut hingga batas waktu yang Allah
kehendaki, kemudian datanglah Jibril dengan membawa kemuliaan dari Allah
sedangkan beliau di dalam gua Hira’ pada bulan Ramadhan. Jibril datang dengan
membawa wahyu. Selanjutnya beliau Nabi Saw keluar dari gua menuju rumah beliau
dalam kegelapan fajar dalam keadaaan takut, khawatir dan menggigil seraya
berkata: ”Selimutilah aku ….selimutilah aku …”. Setelah Khadijah meminta
keterangan perihal peristiwa yang menimpa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wasallam, beliau menjawab:”Wahai Khadijah sesungguhnya aku khawatir terhadap
diriku”. Maka Istri yang dicintainya dan yang cerdas itu menghiburnya dengan
percaya diri dan penuh keyakinan berkata: ”Allah akan menjaga kita wahai Abu
Qasim, bergembiralah wahai putra pamanku dan teguhkanlah hatimu. Demi yang
jiwaku ada ditangan-Nya, sugguh aku berharap agar anda menjadi Nabi bagi umat
ini. Demi Allah, Dia tidak akan menghinakanmu selamanya, sesungguhnya anda telah
menyambung silaturahmi, memikul beban orang yang memerlukan, memuliakan tamu dan
menolong para pelaku kebenaran. Maka menjadi tentramlah hati Nabi berkat
dukungan ini dan kembalilah ketenangan beliau karena pembenaran dari istrinya
dan keimanannya terhadap apa yang beliau bawa.
Namun hal itu belum cukup bagi seorang istri yang cerdas dan bijaksana,
bahkan beliau dengan segera pergi menemui putra pamannya yang bernama waraqah
bin Naufal, kemudian beliau ceritakan perihal yang terjadi pada Muhammad
Shallallahu ‘alaihi wasallam . Maka tiada ucapan yang keluar dari mulutnya
selain perkataan: ”Qudus….Qudus…..Demi yang jiwa Waraqah ada ditangan-Nya, jika
apa yang engkau ceritakan kepadaku benar, maka sungguh telah datang kepadanya
Namus Al-Kubra sebagaimana yang telah datang kepada Musa dan Isa, dan Nuh alaihi
sallam secara langsung. Tatkala melihat kedatangan Nabi, sekonyong-konyong
Waraqah berkata: ”Demi yang jiwaku ada ditangan-Nya, Sesungguhnya engkau adalah
seorang Nabi bagi umat ini, pastilah mereka akan mendustakan dirimu, menyakiti
dirimu, mengusir dirimu dan akan memerangimu. Seandainya aku masih menemui hari
itu sungguh aku akan menolong dien Allah ”. Kemudian ia mendekat kepada Nabi dan
mencium ubun-ubunnya. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ” Apakah
mereka akan mengusirku?”. Waraqah menjawab: ”Betul, tiada seorang pun yang
membawa sebagaimana yang engkau bawa melainkan pasti ada yang menentangnya.
Kalau saja aku masih mendapatkan masa itu …kalau saja aku masih hidup…”. Tidak
beberapa lama kemudian Waraqah wafat.
Menjadi tenanglah jiwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tatkala mendengar
penuturan Waraqah, dan beliau mengetahui bahwa akan ada kendala-kendala di saat
permulaan berdakwah, banyak rintangan dan beban. Beliau juga menyadari bahwa itu
adalah sunnatullah bagi para Nabi dan orang-orang yang mendakwahkan dien Allah.
Maka beliau menapaki jalan dakwah dengan ikhlas semata-mata karena Allah Rabbul
Alamin, dan beliau mendapatkan banyak gangguan dan intimidasi. Adapun Khadijah
adalah seorang yang pertama kali beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan yang
pertama kali masuk Islam. Beliau adalah seorang istri Nabi yang mencintai
suaminya dan juga beriman, berdiri mendampingi Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam
yang dicintainya untuk menolong, menguatkan dan membantunya serta menolong
beliau dalam menghadapi kerasnya gangguan dan ancaman sehingga dengan hal itulah
Allah meringankan beban Nabi-Nya.Tidaklah beliau mendapatkan sesuatu yang tidak
disukai, baik penolakan maupun pendustaan yang menyedihkan beliau Shallallahu
‘alaihi wasallam kecuali Allah melapangkannya melalui istrinya bila beliau
kembali ke rumahnya. Beliau (Khadijah) meneguhkan pendiriannya, menghiburnya,
membenarkannya dan mengingatkan tidak berartinya celaan manusia pada beliau
Shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan ayat-ayat Al-Qur’an juga mengikuti (meneguhkan
Rasulullah), Firman-Nya: ”Hai orang-orang yang berkemul (berselimut), bangunlah,
lalu berilah peringatan! Dan Rabb-Mu agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah,
dan perbuatan dosa tinggalkanlah, dan janganlah kamu memberi (dengan maksud)
memperoleh (belasan) yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Rabb-Mu,
bersabarlah!”(Al-Muddatstsir:1-7). Sehingga sejak saat itu Rasulullah yang mulia
memulai lembaran hidup baru yang penuh barakah dan bersusah payah. Beliau
katakan kepada sang istri yang beriman bahwa masa untuk tidur dan
bersenang-senang sudah habis.
Khadijah radhiallâhu ‘anha turut mendakwahkan Islam disamping suaminya
-semoga shalawat dan salam terlimpahkan kepada beliau. Diantara buah yang
pertama adalah Islamnya Zaid bin Haritsah dan juga keempat putrinya semoga Allah
meridhai mereka seluruhnya. Mulailah ujian yang keras menimpa kaum muslimin
dengan berbagai macam bentuknya, akan tetapi Khadijah berdiri kokoh bak sebuah
gunung yang tegar kokoh dan kuat. Beliau wujudkan Firman Allah Ta’ala: ”Apakah
manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ‘Kami telah
beriman’ , sedangkan mereka tidak diuji lagi?” . (Al-’Ankabut:1-2). Allah
memilih kedua putranya yang pertama Abdullah dan al-Qasim untuk menghadap Allah
tatkala keduanya masih kanak-kanak, sedangkan Khadijah tetap bersabar. Beliau
juga melihat dengan mata kepalanya bagaimana syahidah pertama dalam Islam yang
bernama Sumayyah tatkala menghadapi sakaratul maut karena siksaan para thaghut
hingga jiwanya menghadap sang pencipta dengan penuh kemuliaan. Beliau juga harus
berpisah dengan putri dan buah hatinya yang bernama Ruqayyah istri dari Utsman
bin Affan radhiallâhu ‘anhu karena putrinya hijrah ke negeri Habsyah untuk
menyelamatkan diennya dari gangguan orang-orang musyrik.
Beliau saksikan
dari waktu ke waktu yang penuh dengan kejadian besar dan permusuhan. Akan tetapi
tidak ada kata putus asa bagi seorang Mujahidah. Beliau laksanakan setiap saat
apa yang difirmankan Allah Ta’ala : ”Kamu sungguh-sungguh akan duji terhadap
hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari
orang-orang yang diberikan kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang
mempersekutukan Allah, ganguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu
bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang
di utamakan ”. (Ali Imran:186). Sebelumnya, beliau juga telah menyaksikan
seluruh kejadian yang menimpa suaminya al-Amin ash-Shiddiq yang mana beliau
berdakwah di jalan Allah, namun beliau menghadapi segala musibah dengan
kesabaran. Semakin bertambah berat ujian semakin bertambahlah kesabaran dan
kekuatannya. Beliau campakkan seluruh bujukan kesanangan dunia yang menipu yang
hendak ditawarkan dengan aqidahnya. Dan pada saat-saat itu beliau bersumpah
dengan sumpah yang menunjukkan keteguhan dalam memantapkan kebenaran yang belum
pernah dikenal orang sebelumnya dan tidak bergeming dari prinsipnya walau
selangkah semut. Beliau bersabda: ”Demi Allah wahai paman! seandainya mereka
mampu meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku
meninggalkan urusan dakwah ini, maka sekali-kali aku tidak akan meninggalkannya
hingga Allah memenangkannya atau aku yang binasa karenannya”.
Begitulah Sayyidah mujahidah tersebut telah mengambil suaminya Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai contoh yang paling agung dan tanda yang
paling nyata tentang keteguhan diatas iman. Oleh karena itu, kita mendapatkan
tatkala orang-orang Quraisy mengumumkan pemboikotan mereka terhadap kaum
muslimin untuk menekan dalam bidang politik, ekonomi dan kemasyarakatan dan
mereka tulis naskah pemboikotan tersebut kemudian mereka tempel pada dinding
ka’bah; Khadijah tidak ragu untuk bergabung dengan kaum muslimin bersama kaum
Abu Thalib dan beliau tinggalkan kampung halamannya untuk menempa kesabaran
selama tiga tahun bersama Rasul dan orang-orang yang menyertai beliau menghadapi
beratnya pemboikotan yang penuh dengan kesusahan dan menghadapi
kesewenang-wenangan para penyembah berhala. Hingga berakhirlah pemboikotan yang
telah beliau hadapi dengan iman, tulus dan tekad baja tak kenal lelah. Sungguh
Sayyidah Khadijah telah mencurahkan segala kemampuannya untuk menghadapi ujian
tersebut di usia 65 tahun.
Selang enam bulan setelah berakhirnya pemboikotan itu wafatlah Abu Thalib,
kemudian menyusul seorang mujahidah yang sabar -semoga Allah meridhai beliau-
tiga tahun sebelum hijrah. Dengan wafatnya Khadijah maka meningkatlah musibah
yang Rasul hadapi. Karena bagi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, Khadijah
adalah teman yang tulus dalam memperjuangkan Islam. Begitulah Nafsul Muthmainnah
telah pergi menghadap Rabbnya setelah sampai pada waktu yang telah ditetapkan,
setelah beliau berhasil menjadi teladan terbaik dan paling tulus dalam berdakwah
di jalan Allah dan berjihad dijalan-Nya. Dalalm hubungannya, beliau menjadi
seorang istri yang bijaksana, maka beliau mampu meletakkan urusan sesuai dengan
tempatnya dan mencurahkan segala kemamapuan untuk mendatangkan keridhaan Allah
dan Rasul-Nya. Karena itulah beliau berhak mendapat salam dari Rabb-nya dan
mendapat kabar gembira dengan rumah di surga yang terbuat dari emas, tidak ada
kesusahan didalamnya dan tidak ada pula keributan didalamnya. Karena itu pula
Rasulullah bersabda: ”Sebaik-baik wanita adalah Maryam binti Imran, sebaik-baik
wanita adalah Khadijah binti Khuwailid”. Ya Allah ridhailah Khadijah binti
Khuwailid, As-Sayyidah Ath-Thahirah. Seorang istri yang setia dan tulus,
mukminah mujahidah di jalan diennya dengan seluruh apa yang dimilikinya dari
perbendaharaan dunia. Semoga Allah memberikan balasan yang paling baik karena
jasa-jasanya terhadap Islam dan kaum muslimin.
Read the rest of this entry »
May
03
Posted under Uncategorized
Adab utama yang harus dimiliki oleh
seorang ahli ilmu dan penuntut ilmu adalah: ikhlas mencari ridho Allah semata
dan bermaksud untuk menghidupkan dien ini dengan mencontoh Rasulullah shalallohu
`alaihi wa salam dalam segala tingkah lakunya. Begitu pula dalam proses
belajar mengajar harus berniat mencari ridha Allah semata agar Allah
menghilangkan kebodohan dan kegelapan dari dirinya dengan ilmu yang bermanfaat
(maraji’ hal28).
Seorang pendidik haruslah sabar ketika mengajar dan
berusaha sekuat tenaga untuk memberikan pemahaman kepada setiap siswa sesuai
dengan kemampuan otaknya. Janganlah memberikan tugas yang tidak mampu
dipikulnya, seperti menyibukkan untuk terlalu banyak membaca. Berilah motivasi
kepadanya untuk mengikuti pelajaran secara rutin dan sering-seringlah memberi
pertanyaan dan mengujinya. Selain itu juga hendaklah melatihnya untuk mengkaji
masalah-masalah tertentu agar dapat menangkap dan menguasai permasalahan, serta
dibantu dengan menjelaskan hikmahnya, tempat-tempat pengambilannya, dari ushul
syariat yang mana masalah tersebut diambil. Pengenalan akan ushul dan
kaidah-kaidah, berikut contoh-contoh permasalahannya dengan berbagai macam
ragamnya merupakan salah satu teknik pengajaran yang paling
bermanfaat.
Penuntut ilmu akan bertambah semangat dan bertambah kuat
pemahamannya setiap kali ia merasakan nikmat dalam memahami apa yang ia pelajari
dan ketika mendapatkan kemudahan dalam mencari rujukan. Begitu pula bagi seorang
pendidik hendaknya membuka pemahaman siswa dengan seringnya diadakan pembahasan
dan soal jawab. Menampakkan kegembiraan apabila ditanya atau ketika siswa
mengutarakan hal-hal yang membingungkan atau apabila siswanya membantah apa yang
disampaikan. Semua itu dalam rangka mengambil manfaat dan mencari kebenaran,
bukan untuk membela ucapan yang ia katakan atau untuk mempertahankan pendapat
yang ia pegangi.
Apabila ada orang yang dibawah dia dalam segi ilmu
memberitahukan pendapat dia yang salah, hendaklah dia berterimakasih kepadanya
dan membahasnya secara bersama-sama dengan maksud mencapai kebenaran yang
sesungguhnya, bukan untuk mempertahankan jalan yang dia tempuh selama
ini.
Rujuknya seorang guru kepada pemahaman siswanya -yang lebih
mendekati kebenaran- lebih menunjukan kepada keutamaannya, ketinggian
kedudukannya dan kebaikan akhlaknya serta kemurnian niatnya yaitu ikhlas mencari
ridha Allah Ta`ala.
Apabila dia belum sampai kepada kedudukan seperti
ini, maka biasakanlah dirinya untuk berbuat demikian dan melatihnya, karena
dengan kebiasaan akan menghasilkan kemampuan dan dengan latihan akan
meningkatkan derajatnya kepada kesempurnaan.
Seorang penuntut ilmu
haruslah mempunyai adab yang baik terhadap gurunya, bersyukur kepada Allah yang
telah memudahkan baginya mendapatkan seorang yang mendidiknya dengan ilmu
padahal sebelumnya ia berada dalam kebodohan. Bersyukurlah kepada Allah yang
telah berjasa menghidupkannya dari kematian dan membangunkannya. Hendaklah ia
mempergunakan kesempatan emas ini dengan mengambil ilmu darinya setiap
waktu.
Seringlah berdoa kepada Allah memohon kebaikan bagi gurunya baik
saat berjumpa dengannya ataupun pada saat dia tidak ada karena Nabi shallallhu
`alaihi wa sallam bersabda:
”Siapa yang telah berbuat baik kepada
kalian, maka balaslah kebaikannya. Apabila kalian tidak mendapatkan sesuatu
untuk membalas budi kepadanya, maka doakanlah (memohon kebaikan) untuknya
sehingga kalian berpendapat telah membalas budinya” (HR.Ahmad 2/68,Abu Daud
1672,Nasa`i 5/82,Bukhari dalam buku Al-Adab Al-Mufrad 216, Ibnu Hibban 3408, Al
Hakim 1/412 dan 2/13, At-Thayalisi 1895 dan selain mereka dari hadist Abdullah
bin Umar bin Khattab radhiallohu `anhuma). Derajat hadist itu shahih (Syaikh Ali
Hasan)
Kebaikan apakah yang lebih agung kalau bukan kebaikan berupa ilmu
dan setiap kebaikan tidaklah langgeng kecuali kebaikan berupa ilmu, nasehat, dan
bimbingan. Setiap perkara yang bermanfaat bagi manusia -yang sampai kepada
seorang siswa atau yang lainnya- maka hal itu termasuk kebaikan dan amal jariyah
bagi si pemiliknya.
Seorang kawan telah memberitakan kepadaku, bahwa dia
pernah berfatwa mengenai satu masalah dalam hal ilmu faraidh (ilmu waris) dan
syaikh (guru)nya yang telah mengajarkan hal tersebut telah meninggal dunia. Lalu
dia bermimpi melihat syaikhnya sedang membaca di kuburnya dan berkata :”Masalah
yang engkau fatwakan itu, pahalanya telah sampai pula kepadaku”. Hal ini
sebagaimana terdapat dalam sabda Nabi shallallhu `alaihi wa sallam
:
”Barangsiapa mempelopori jalan yang baik, maka bagi dia pahalanya dan
pahala orang yang mengamalkannya sampai hari kiamat” (HR.Muslim
1017)
Seorang penuntut ilmu haruslah haruslah bersikap lemah lembut
terhadap gurunya, sopan ketika bertanya dan janganlah bertanya kepada gurunya
pada saat dia sedang gusar, atau dalam keadaan penat atau marah. Ini agar dia
tidak mempunyai pemikiran yang menyalahi kebenaran pada saat kacau pikirannya,
atau paling tidak nantinya akan memberikan jawaban yang kurang
lengkap.
Apabila seoarang penuntut ilmu mendapatkan gurunya berbuat
kesalahan, maka janganlah menyebutkan kesalahan tersebut secara terus terang.
Tetapi betulkanlah kesalahan dia dengan cara bertanya dan bersikap sebagai
seorang siswa terhadap gurunya. Hendaklah hal itu dilakukan beulang-ulang sampai
terang bagi sang guru mana yang benar, karena kebanykan manusia apabila kau
tegur langsung kesalahannya, kecil sekali kemungkinan untuk rujuk, berat bagi
dia untuk mengakui kesalahan, kecuali orang yang telah menguasai dirinya dan
menghiasinya dengan akhlak yang terpuji. Orang seperti ini tidak akan
tersinggung apabila pendapat dia dikritik atau ditegur secara langsung. Akan
tetapi tipe orang seperti ini jarang sekali. Hanya dengan taufik Allah lah,
kemudian dengan melatih jiwa untuk menekan gengsi, barulah orang tersebut akan
mempunyai jiwa besar dengan mengakui kesalahannya dan rujuk kepada kebenaran
(Hal 30-34)
Seorang guru haruslah memperhatikan kecerdasan dan kemampuan
siswanya dalam menerima pelajaran. Janganlah ia membiarkan siswanya dalam
menerima pelajaran. Janganlah ia membiarkan siswanya menyibukkan diri dengan
buku yang tidak sesuai untuknya. Jika ia membiarkan saja, berarti dia tidak
memberikan nasehat kepada siswanya. Sesungguhnya ilmu yang sedikit disertai
dengan adanya pemahaman dan pengertian lebih baik daripada ilmu yang banyak
tetapi beresiko tinggi untuk dipahami dan besar kemungkinannya untuk
lupa.
Begitu pula ketika ia menyampaikan pelajarannya hendaklah
disertai dengan penjelasan yang disesuaikan dengan pemahaman dan daya tangkap
siswanya. Janganlah mencampuradukkan masalah antara yang satu dengan yang
lainnya. Janganlah pindah dari masalah satu ke masalah lainnya sebelum materi
itu dikuasainya dengan baik. Karena antara satu materi dengan materi lainnya itu
saling berkesinambungan, sehingga akan memudahkan baginya untuk memahami materi
berikutnya. Kalau tidak demikian, berarti akan menyia-nyiakan yang pertama dan
tidak dapat memahami yang berikutnya. Kemudian semakin menumpuk masalah-masalah
yang tidak dikuasai, sehingga ia akan bosan dan sempit dadanya untuk
mengulang-ulang masalah tersebut. Oleh sebab itu janganlah perkara ini
diremehkan.
Seorang guru hendaklah selalu memberikan nasehat kepada siswa
semaksimal mungkin dan harus bersabar atas kelambanan siswa dalam hal pemahaman.
Demikian pula bersabar atas kelakuan siswanya yang tidak baik atau kurang ajar
dengan dengan penuh perhatian dan pemantauan untuk memperbaiki dan meluruskan
adabnya (hal 42-43)
Hendaklah seorang penuntut ilmu duduk dengan sopan
dihadapan gurunya, menampakkan kebutuhannya yang sangat kepada ilmunya dan
mendoakan kebaikan untuknya pada saat bertemu dengannya, ataupun disaat tidak
bertemu.
Apabila seoarang guru sedang memberikan faidah atau sedang
menjelaskan hal-hal yang membuat bingung siswanya, maka janganlah ia menampakkan
bahwa ia telah mengetahuinya sebelumnya, meskipun sebenarnya ia telah
mengetahuinya. Akan tetapi hendaklah ia mendengarkan keterangan gurunya tersebut
dengan serius. Hal ini apabila dia telah mengetahui sebelumnya, maka bagaimana
dengan keterangan gurunya yang belum ia ketahui? Adab seperti ini baik sekali
untuk dipraktekkan terhadap setiap orang baik dalam masalah ilmu ataupun
percakapan lainnya, baik dalam masalah dien maupun dalam masalah
keduniaan.
Apabila sang guru berbuat kesalahan dalam suatu hal, maka
hendaklah penuntut ilmu menegurnya dengan penuh lemah lembut sambil
memperhatikan situasi dan kondisi. Janganlah mengatakan kepadanya: ”Engkau telah
berbuat salah! Sesungguhnya yang benar bukan seperti yang engkau katakan!”
Tetapi hendaklah menegurnya dengan kata-kata yang sopan, menjadikan seorang guru
sadar akan kesalahannya tanpa ada rasa gusar di hatinya. Cara seperti ini
merupakan keharusan dalam bersikap terhadap seorang guru dan lebih mengena untuk
sampai kepada kebenaran. Kritikan yang disertai dengan adab yang buruk akan
membuat hati orang yang dikritik menjadi gusar, sehingga akan menghalanginya
untuk dapat menangkap pemahaman yang benar dan menghalanginya untuk mengetahui
maksud baik orang yang menegurnya.
Sebagaimana hal tadi merupakan
keharusan sikap penuntut ilmu terhadap gurunya, maka haruslah bagi seorang guru
apabila berbuat kesalahan agar rujuk kepada kebenaran.Meskipun sebelumnya ia
telah menyampaikan satu pendapat kemudian terbukti bahwa pendapat tersebut
salah, maka ia tidak segan-segan untuk rujuk kepada kebenaran karena sikap
ksatria tadi merupakan tanda keadilan dan kerendahan hatinya terhadap kebenaran,
baik yang datang dari anak kecil maupun orang dewasa.
Termasuk
nikmat yang Allah berikan kepada seorang guru, ia mendapatkan dari para siswanya
yang mau menegur kesalahannya, membimbing kepada kebenaran, sehingga kebodohan
yang telah menyelimutinya selama ini menjadi lenyap. Maka seharusnya ia
bersyukur kepada Allah Ta`ala kemudian berterimakasih kepada orang yang
menasehatinya, baik ia seorang siswa atau selainnya, karena melalui sebaborang
tadi ia mendapatkan hidayah Allah subhanahu wa ta`ala (hal
48-49).
Diantara hal yang paling agung yang harus dimiliki oleh ahli ilmu
(dan penuntut ilmu, pent) adalah mempraktekkan apa yang ia sampaikan berupa
akhlak yang terpuji dan membuang segala akhlak yang hina. Mereka adalah
orang-orang yang paling utama untuk menjalankan segala kewajiban baik lahir
maupun yang batin dan meninggalkan segala hal-hal yang haram, dikarenakan mereka
memiliki keistimewaan berupa ilmu pengetahuan yang tidak dimiliki oleh selain
mereka. Juga dikarenakan mereka adalah teladan manusia. Manusia pada dasarnya
selalu mencontoh ulama mereka dalam kebanyakan urusan baik diakui atau tidak.
Juga dikarenakan protes dan kecaman atas mereka apabila perbuatan mereka
bertentangan dengan apa yang mereka katakan jauh lebih besar daripada kecaman
yang dilontarkan kepada selain mereka atas perbuatan yang
sama.
Para salafus shalih dahulu untuk memperoleh ilmu juga denagan
mempraktekan ilmu tersebut. Apabila ilmu itu diamalkan akan menempel langsung
dan bertambah serta banyak barakahnya. Sebaliknya apabila ilmu tersebut tidak
diamalkan maka akan hilang dan tidak membawa barakah. Ruh ilmu dan kehidupannya
serta tonggaknya hanya dengan mengamalkannya dengan akhlak yang terpuji, dengan
mengajarkannya dan memberi nasehat. Tidak ada daya serta upaya kecuali dengan
pertolongan Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung.
Rujukan:Al-Mu`in `ala
Tahshil Adabil `Ilmi wa Akhlaqil Muta`allimin, karya Syaikh Ali Hasan Abdul
Hamid yang dikumpulkan dari buku Al-Fatawa As-Sa`diyah, penerbit Dar
As-Shumai`i,Riyadh,Saudi Arabia,cet I th.1413H/1993)
Read the rest of this entry »