Archive for June, 2004
Jun
29
Posted under Uncategorized
Imam Bukhari (hadits no
3464) dan Muslim (hadits no 2964) meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi
shalallahu alaihi wa salam pernah bercerita: ”Dahulu ada tiga orang Bani Israil
yang masing-masing menderita suatu penyakit. Orang pertama diserang penyakit
kudis disekujur tubuhnya, orang kedua tidak memiliki sehelai rambut pun di
kepalanya (botak) dan orang ketiga menderita cacat pada matanya sehingga tidak
bisa melihat (buta). Allah ingin menguji mereka dengan mengutus
malaikat-Nya.
Malaikatpun mendatangi orang pertama seraya bertanya: ”Apa
yang paling anda inginkan?” Jawabnya: ”Warna dan kulit yang indah serta
hilangnya seluruh cacat di tubuhku yang membuat manusia menjauhiku.” Malaikat
lalu mengusapnya sehingga segala cacat di kulitnya hilang dan berganti warna
kulit yang indah. Malaikat lalu bertanya lagi: ”Binatang (ternak) apa yang anda
inginkan?” Jawabnya: ”Unta…-atau sapi-” (perawi ragu). Lantas diapun diberi
unta yang sedang bunting dan malaikat berdoa: ”Semoga Allah memberkahimu dengan
binatang itu.”.
Selanjutnya malaikat mendatangi orang yang botak dan
bertanya: ”Apa yang paling anda inginkan?” Jawabnya: ”Rambut yang indah serta
hilangnya seluruh cacat yang membuat manusia lari dariku.” Malaikat lalu
mengusapnya sehingga cacat di kepalanya hilang dan diberi rambut yang indah.
Malaikat lalu bertanya lagi: ”Binatang apa yang paling anda inginkan?” Jawabnya:
”Sapi”. Lantas diapun diberi seekor sapi bunting dan malaikat berdoa: ”Semoga
Allah memberkahimu dengan binatang itu.”
Kemudian malaikat mendatangi
orang ketiga (si buta) dengan pertanyaan yang sama: ”Apakah sesuatu yang paling
anda inginkan?” Jawabnya: ”Semoga Allah menyembuhkan mataku hingga aku dapat
melihat.” Malaikat lalu mengusapnya sehingga dia dapat melihat. Malaikat lalu
bertanya lagi: ”Binatang apa yang paling anda inginkan?” Jawabnya: ”Kambing”.
Lantas diapun diberi kambing bunting dan malaikat berdoa: ”Semoga Allah
memberkahimu dengan binatang itu.”
Waktu terus berputar, hari datang
silih berganti, bulan terus berganti dan tahun demi tahun pun berlalu. Ternak
mereka makin berkembang biak dan bertambah banyak, hingga masing-masing
mempunyai sebuah lembah yang mereka pergunakan untuk menggembala ternaknya
masing-masing. Lembah unta, lembah sapi, dan lembah kambing.
Tibalah
saatnya bagi Allah untuk menguji mereka.
Malaikat kembali
mendatangi orang pertama yang kini adalah orang kaya dan tidak lagi berkudis.
Malaikat tersebut datang dengan wujud dan keadaan orang tersebut sebelum jadi
kaya, yaitu seorang miskin lagi berkudis. Kemudian mengatakan: ”Saya seorang
miskin yang kehabisan bekal dalam perjalanan, hari ini tiada yang dapat menolong
diri saya kecuali Allah kemudian tuan. Saya memohon kepada tuan yang telah
dikaruniai kulit yang indah untuk berkenan kiranya memberikan sedikit harta demi
kelangsungan perjalanan saya”. Si kudis menjawab: ”Tidak, kebutuhanku yang lain
masih banyak.” Malaikat berkata: ”Sepertinya dulu saya pernah mengenal tuan.
Bukankah dahulunya tuan adalah seorang yang berkudis lalu Allah sembuhkan? Dan
dahulu tuan adalah seorang fakir lalu Allah cukupkan?” Dia menjawab: ”Harta ini
adalah warisan nenek moyang sejak dulu”. Kata Malaikat: ”Jikalau engkau dusta
maka Allah akan merubah tuan seperti keadaan semula”.
Berikutnya malaikat
mendatangi orang kedua. Malaikat menyerupai wujudnya ketika masih miskin dan
botak dahulu seraya mengajukan permintaan yang serupa dengan orang kedua tadi.
Jawaban yang diperoleh pun tak berbeda dengan jawaban orang pertama. Akhirnya
malaikat berkata: ”Jikalau engkau dusta, maka Allah akan merubah tuan seperti
semula”.
Malaikat kemudian mendatangi orang ketiga dengan rupa seorang
buta yang miskin seraya mengatakan: ”Saya orang miskin yang kehabisan bekal
dalam perjalanan. hari ini tiada yang dapat menolong diri saya kecuali Allah,
kemudian tuan. Saya memohon kepada tuan yang telah disembuhkan oleh Allah untuk
berkenan kiranya memberi saya sedikit harta demi kelangsungan perjalanan saya
ini”. Jawab si buta: ”Dahulu aku adalah seorang buta, kemudian Allah
menyembuhkanku. Maka ambillah apa saja dan berapapun yang anda mau dan
tinggalkan yang anda tidak suka. Demi Allah, saya tidak merasa keberatan bila
anda mengambil sesuatu untuk Allah”. Malaikat menjawab: ”Tahanlah hartamu,
ambillah kembali. Sesungguhnya kalian sedang diuji. Allah telah meridhoimu dan
murka kepada saudaramu”.
Su Buta dengan ikhlas hati memberikan hartanya
kepada malaikat tersebut yang dalam pandangannya adalah seorang yang membutuhkan
bantuan. Maka Allah memberkahinya dan dia tetap memiliki hartanya. Berbeda
halnya dengan kedua rekannya terdahulu yang ternyata dia berubah menjadi seorang
bakhil. Setelah berubah menjadi orang kaya dan berharta, keduanya lupa akan
kewajibannya, yaitu bersyukur kepada Allah dan memberikan hak orang lain yang
juga membutuhkan uluran tangannya. Maka dikembalikanlah keadaan mereka
sebagaimana semula.
Dari kisah di atas kita dapat mengambil banyak hikmah
dan pelajaran yang sangat berharga. Di antaranya:
1. Iman akan adanya para
malaikat yang diciptakan Allah dari cahaya.
2. Malaikat dapat menjelma
seperti wujud bani Adam.
3. Wajibnya bersyukur atas nikmat yang diberikan
oleh Allah.
4. Syukur nikmat merupakan sebab keridhaan Allah.
5. Penetapan
sifat ”Ridho” dan ”Murka” bagi Allah sebagaimana aqidah salaf.
6. Sifat
bakhil dan dusta merupakan penyebab murka Allah subhanahu wa ta’ala sebagaimana
terjadi pada si kudis dan si botak.
7. Jujur dan dermawan merupakan sifat
yagn mulia sebagaimana sifat si buta di atas.
8. Harta yang sedikit tapi
disyukuri itu lebih baik daripada banyak tapi tidak disyukuri sebagaimana harta
si buta yang hanya kambing dibanding harta si kudis dan si botak yaitu unta dan
sapi.
9. Keutamaan shadaqah dan belas kasih terhadap fakir miskin.
10.
Pentingnya ilmu kisah karena lebih mendalam di hati manusia.
Sumber:
Majalah Al Furqon edisi 1 tahun II
Read the rest of this entry »
Jun
28
Posted under Uncategorized
align=justify>
Penyakit mabuk cinta (al isyq) akan
menimpa orang-orang yang hatinya kosong dari rasa mahabbah (cinta) kepada Allah,
selalu berpaling dari-Nya dan dipenuhi kecintaan kepada selain-Nya. Hati yang
penuh cinta kepada Allah dan rindu bertemu dengan-Nya pasti akan kebal terhadap
serangan virus ini, sebagaimana yang terjadi dengan Yusuf
‘alaihissalam,
”Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan
perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan
wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar
Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf pun
termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih…(QS Yusuf : 24).
Nyatalah
bahwa ikhlas merupakkan imunisasi manjur yang dapat menolak virus ini dengan
berbagai dampak negatifnya, berupa perbuatan jelek dan keji. Artinya,
memalingkan seseorang dari kemaksiatan harus dengan menjauhkan berbagai sarana
yang menjurus ke arah itu.
Berkata ulama salaf, ”Penyakit cinta
adalah getaran hati yang kosong dari segala sesuatu selain apa yang yang dicinta
dan dipujanya. Allah berfirman mengenai ibu Nabi Musa
alaihissalam,
”Dan menjadi kosonglah hati ibu Musa. Sesungguhnya
hampir saja ia menyatakan rahasia tentang Musa, seandainya tidak Kami teguhkan
hatinya, supaya ia termasuk orang-orang yang percaya (kepada janji Allah). (QS
Al Qashash : 10).
Yakni kosong dari segala sesuatu, kecuali Musa;
karena sangat cintanya kepada Musa dan bergantungnya hatinya kepada
Musa.
Bagaimana Virus Ini Bisa Berjangkit?
Penyakit al isyq
terjadi karena dua sebab. Pertama, karena menganggap indah apa-apa yang
dicintainya. Kedua, perasaan ingin memiliki apa yang dicintainya. Jika
salah satu dari dua faktor ini tak ada, niscaya virus tidak akan berjangkit.
Walaupun penyakit kronis ini telah membingungkan banyak orang dan sebagian pakar
berupaya memberikan terapinya, namun solusi yang diberikan belum
mengena.
Makhluk Diciptakan Saling Mencari yang Sesuai
Dengannya
Berkata Ibnu Al Qayyim, ketetapan Allah dengan hikmahNya
menciptakan makhlukNya dalam kondisi saling mencari yang sesuai dengannya.
Secara fitrah saling tertarik dengan jenisnya, dan sebaliknya akan menjauh dari
yang berbeda dengannya.
Rahasia adanya pencampuran dan kesesuaian di alam
ruh, menyebabkan adanya keserasian serta kesamaan, sebagaimana adanya perbedaan
di alam ruh akan berakibat tidak adanya keserasian dan kesesuaian. Dengan cara
inilah tegaknya urusan manusia. Allah berfirman,
align=justify>
”Dialah Yang menciptakan kamu dari
diri yang satu dan daripadanya Dia menciptakan isterinya, agar dia merasa senang
kepadanya. (QS Al A’raf : 189).
Dalam
ayat ini Allah menjadikan sebab perasaan tenteram dan senang seorang lelaki dan
bentuknya. Jelaslah faktor pendorong cinta tidak bergantung dengan kecantikan
rupa. Tidak pula kerana adanya kesamaan dalam tujuan dan keinginan, ataupun
kesamaan bentuk dan dalam mendapat petunjuk. Pun demikian tidak dipungkiri,
bahwa hal-hal ini merupakan salah satu penyebab ketenangan dan timbulnya
cinta.
Nabi pernah mengatakan dalam sebuah hadits,
size=2>
”Ruh-ruh itu ibarat tentara yang saling berpasangan, yang saling
mengenal sebelumnya akan bersatu dan yang saling mengingkari akan berselisih.”
(HR. Bukhori dan Muslim)
Dalam Musnad
Imam Ahmad diceritakan, bahwa asbabul wurud hadits ini yaitu ketika seorang
wanita penduduk Makkah yang selalu membuat orang tertawa hijrah ke Madinah,
ternyata dia tinggal dan bergaul dengan wanita yang sifatnya sama sepertinya.
Yaitu senang membuat orang tertawa. Karena itulah Nabi mengucapkan hadits
ini.
Karena itulah syariat Allah menghukumi sesuatu sesuai jenisnya.
Mustahil syariat menghukumi dua hal yang sama dengan perlakuan yang berbeda atau
mengumpulkan dua hal yang kontradiktif. Barang siapa yang berpendapat lain, maka
jelaslah minimnya ilmu pengetahuannya terhadap syariat ini atau kurang memahami
kaidah persamaan dan sebaliknya.
Penerapan kaedah ini tidak saja berlaku
di dunia. Lebih dari itu akan diterapkan pula di akhirat. Allah
berfirman,
”(kepada malaikat diperintahkan), ‘Kumpulkanlah orang-orang
yang dhalim bersama teman sejawat mereka dan sembahan-sembahan yang selalu
mereka sembah’.” (QS Ash Shaffat : 22).
Umar Ibnu Khattab dan
setelahnya Imam Ahmad pernah berkata mengenai tafsiran ‘azwajahum’ yakni yang
sesuai dan mirip dengannya.
Allah juga berfirman,
”dan apabila jiwa
(ruh-ruh) dipertemukan. (QS At Takwir : 7).
Yakni setiap orang akan
digiring beserta dengan orang-orang yang sama perilakunya. Allah akan menggiring
sesama orang-orang yang saling mencintai karenaNya ke dalam surga, dan
orang-orang yang saling berkasih-kasihan di atas jalan syetan digiring ke neraka
jahim. Mau tidak mau, maka setiap orang akan digiring dengan siapa yang
dicintainya. Di dalam Mustadrak Al Isyq Hakim disebutkan, bahwa Nabi shalallahu
alaihi wa salam bersabda,”Tidaklah seseorang mencintai suatu kaum, kecuali
akan digiring bersama mereka kelak”. (HR Ahmad)
Cinta Dan
Jenis-Jenisnya
Cinta memiliki berbagai macam jenis dan tingkatan.
Yang tertinggi dan paling mulia ialah mahabbatu fillah wa lillah (cinta karena
Allah dan didalam agama Allah). Yaitu cinta yang mengharuskan mencintai apa-apa
yang dicintai Allah, dilakukan berlandaskan cinta kepada Allah dan RosulNya.
Cinta berikutnya adalah cinta yang karena adanya kesamaan dalam cara hidup,
agama, madzhab, ideologi, hubungan kekeluargaan, profesi dan kesamaan dalam
hal-hal lainnya.
Diantara jenis cinta lainnya, yakni cinta yang motifnya
karena ingin mendapatkan sesuatu dari yang dicintainya, baik karena kedudukan,
harta, pengajaran dan bimbingan, ataupun kebutuhan biologis. Cinta yang didasari
hal-hal seperti tadi – yaitu al mahabbah al ‘ardiyah – akan hilang
bersama hilangnya apa yang ingin didapatkan dari orang yang dicintainya.
Yakinlah, bahwa orang yang mencintaimu karena sesuatu, akan meninggalkanmu
ketika telah mendapatkan apa yang diinginkan darimu.
Adapun cinta
lainnya, yaitu cinta karena adanya kesamaan dan kesesuaian antara yang menyinta
dan yang dicinta. Mahabbah al isyq termasuk cinta jenis ini. Tidak akan
sirna kecuali jika ada sesuatu yang menghilangkannya. Cinta jenis ini, yaitu
berpadunya ruh dan jiwa. Oleh karena itu tidak terdapat pengaruh yang begitu
besar baik berupa rasa was-was, hati yang gundah gulana maupun kehancuran
kecuali pada cinta jenis ini.
Timbul pertanyaan, bahwa cinta ini
merupakan bertemunya ikatan batin dan ruh, tetapi mengapa ada cinta yang
bertepuk sebelah tangan? Bahkan kebanyakan cinta seperti ini hanya sepihak dari
orang yang sedang kasmaran saja? Jika cinta ini perpaduan antara jiwa dan ruh,
maka tentulah cinta itu akan terjadi antara kedua belah pihak dan bukan sepihak
saja?
Jawabnya ialah, bahwa tidak terpenuhinya hasrat disebabkan
kurangnya syarat tertentu. Atau adanya penghalang sehingga tidak terealisasikan
cinta antara keduanya. Hal ini disebabkan tiga faktor. Pertama, bahwa cinta ini
sebatas cinta karena adanya kepentingan. Oleh karena itu tidak mesti keduanya
saling mencintai. Terkadang yang dicintai justru lari darinya. Kedua, adanya
penghalang sehingga seseorang tidak dapat mencintai orang yang dicintainya, baik
karena adanya cela dalam akhlak, bentuk rupa, sikap dan faktor lainnya. Ketiga,
adanya penghalang dari pihak orang yang dicintai.
Jika penghalang ini
dapat disingkirkan, maka akan terjalin benang-benang cinta antara keduanya.
Kalau bukan karena kesombongan, hasad, cinta kekuasaan dan permusuhan dari
orang-orang kafir, niscaya para rasul-rasul akan menjadi orang yang paling
mereka cintai lebih dari cinta mereka kepada diri, keluarga dan
harta.
Terapi Penyakit Al-Isyq
Sebagai salah
satu jenis penyakit, tentulah al-isyq dapat disembuhkan dengan terapi-terapi
tertentu. Diantara terapi tersebut ialah sebagai berikut.
Jika terdapat
peluang bagi orang yang sedang kasmaran tersebut untuk meraih cinta orang yang
dikasihinya dengan ketentuan syariat dan suratan taqdirnya, maka inilah terapi
yang paling utama. Sebagaimana terdapat dalam shahihain dari riwayat Ibnu Mas’ud
radhiallahu anhu, bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wa salam
bersabda,
”Hai
sekalian pemuda, barangsiapa yang mampu untuk menikah, maka hendaklah dia
menikah. Barangsiapa yang belum mampu, maka hendaklah berpuasa. Karena puasa
dapat menahan dirinya dari ketergelinciran (kepada perbuatan
zina).
Hadits ini memberikan dua
solusi, utama dan pengganti. Solusi utama dalah menikah. Jika solusi ini dapat
dilakukan, maka tidak boleh mencari solusi lain. Ibnu Majah meriwayatkan dari
Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wa salam bersabda,
”Aku
tidak pernah melihat ada dua orang yang saling mengasihi selain melalui jalur
pernikahan.”
Inilah tujuan dan anjuran Allah untuk menikahi wanita,
baik yang merdeka ataupun budak dalam firman-Nya,
”Allah hendak
memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah. (QS. An
Nisa: 28).
Allah menyebutkan dalam ayat ini keringanan yang diberikan
terhadap hamba-Nya. Dan Allah mengetahui kelemahan manusia dalam menahan
syahwatnya, sehingga memperbolehkan para wanita yang baik-baik dua, tiga,
ataupun empat. Sebagaimana Allah memperbolehkan mendatangi budak-budak wanita
mereka. Sampai-sampai Allah membuka bagi mereka pintu untuk menikahi budak-budak
wanita jika mereka membutuhkannya sebagai peredam syahwat. Demikianlah
keringanan dan rahmat-Nya terhadap makhluk yang lemah ini.
Jika terapi
pertama tidak dapat dilakukan akibat tertutupnya peluang menuju orang yang
dikasihinya karena ketentuan syar’i dan takdir, maka penyakit ini bisa semakin
ganas. Adapun terapinya harus dengan meyakinkan pada dirinya, bahwa apa-apa yang
diimpikannya mustahil terjadi. Lebih baik baginya untuk segera melupakannya.
Jiwa yang telah memutus harapan untuk mendapatkan sesuatu, niscaya akan tenang
dan tidak lagi mengingatnya. Jika ternyata belum terlupakan, dapat mempengaruhi
keadaan jiwanya hingga semakin menyimpang jauh.
Dalam kondisi seperti ini
wajib baginya untuk mencari terapi lain. Yaitu dengan mengajak akalnya berfikir,
bahwa menggantungkan hatinya kepada sesuatu yang mustahil dijangkaunya itu
ibarat perbuatan gila. Ibarat pungguk merindukan bulan. Bukankah orang-orang
akan menganggapnya termasuk ke dalam kumpulan orang-orang yang tidak
waras?
Apabila kemungkinan untuk mendapatkan apa yang dicintainya
terhalang karena larangan syariat, maka terapinya yaitu dengan menganggap bahwa
yang dicintainya itu bukan ditakdirkan menjadi miliknya. Jalan keselamatan yaitu
dengan menjauhkan dirinya dari orang yang dicintainya. Dia harus merasa bahwa
pintu ke arah yang diinginkannya tertutup, dan mustahil tercapai.
Jika
ternyata jiwanya yang selalu menyuruhnya kepada kemungkaran masih tetap
menuntut, handaklah dia mau meninggalkannya karena dua
hal.
Pertama, karena takut (kepada Allah). Yaitu dengan
menumbuhkan perasaan bahwa ada hal yang lebih layak dicintai, lebih bermanfaat,
lebih baik dan lebih kekal. Seseorang yang berakal jika menimbang-nimbang antara
mencintai sesuatu yang cepat sirna dengan sesuatu yang lebih layak untuk
dicintai, lebih bermanfaat, lebih kekal dan lebih nikmat, tentu akan memilih
yang lebih tinggi derajatnya. Jangan sampai engkau menggadaikan kenikmatan abadi
yang tidak terlintas dalam pikiranmu dan menggantikannya dengan kenikmatan
sesaat yang segera berbalik menjadi sumber penyakit. Ibarat orang yang sedang
bermimpi indah, ataupun berkhayal terbang melayang jauh, maka ketika tersadar
ternyata hanyalah mimpi dan khayalan. Akhirnya sirnalah segala keindahan semu.
Yang tertinggal hanyalah keletihan, hilang nafsu dan kebinasaan
menunggu.
Kedua, keyakinan bahwa resiko yang sangat menyakitkan
akan ditemuinya jika gagal melupakan yang dikasihinya. Dia akan mengalami dua
hal yang menyakitkan sekaligus. Yaitu gagal mendapatkan kekasih yang
diinginkannya, serta bencana menyakitkan dan siksa yang pasti akan
menimpanya. Jika yakin bakal mendapatkan dua hal menyakitkan ini, niscaya
akan mudah baginya meninggalkan perasaan ingin memiliki yang dicinta. Dia akan
berpikir, bahwa sabar menahan diri itu lebih baik. Akal, agama, harga diri dan
kemanusiaannya akan memerintahkannya untuk bersabar, demi mendapatkan
kebahagiaan abadi. Sementara kebodohan, hawa nafsu, kedhalimannya akan
memerintahkannya untuk mengalah mendapatkan apa yang dikasihinya. Sungguh, orang
yang terhindar ialah orang-orang yang dipelihara oleh Allah.
Jika hawa
nafsunya masih tetap ngotot dan tidak menerima terapi tadi, maka hendaklah
berfikir mengenai dampak negatif dan kerusakan yang akan ditimbulkannya segera,
dan kemaslahatan yang akan gagal diraihnya. Sebab mengikuti hawa nafsu dapat
menimbulkan kerusakan dunia dan menepis kebaikan yang bakal diterimanya. Lebih
parah lagi, dengan memperturutkan hawa nafsu ini akan menghalanginya untuk
mendapat petunjuk yang merupakan kunci keberhasilan dan
kemaslahatannya.
Jika terapi ini tidak mempan juga untuknya, hendaklah
dia selalu mengingat sisi-sisi keburukan kekasihnya dan hal-hal yang dapat
membuatnya menjauh darinya. Jika dia mau mencari-cari kejelekan yang ada pada
kekasihnya, niscaya dia akan mendapatkannya lebih dominan daripada keindahannya.
Hendaklah dia banyak bertanya kepada orang-orang yang berada di sekeliling
kekasihnya tentang berbagai kejelekannya yang belum diketahuinya. Sebab,
sebagaimana kecantikan sebagai faktor pendorong seseorang untuk mencintai
kekasihnya, maka demikian pula kejelekan merupakan pendorong kuat agar dapat
membenci dan menjauhinya. Hendaklah dia mempertimbangkan dua sisi ini dan
memilih yang terbaik baginya. Jangan terpedaya karena kecantikan kulit, dan
membandingkannya dengan orang yang terkena penyakit sopak atau kusta. Tetapi
hendaklah dia memalingkan pandangannya kepada kejelekan sikap dan perilakunya.
Hendaklah dia mentutup matanya dair kencantikan fisik dan melihat kepada
kejelekan yang diceritakan mengenai hatinya.
Jika terapi ini masih saja
tidak mempan baginya, maka terapi terakhir yaitu mengadu dan memohon dengan
jujur kepada Allah penolong orang-orang yang ditimpa musibah jika memohon
kepada-Nya. Hendaklah dia menyerahkan jiwa sepenuhnya dihadapan kebesaran-Nya
sambil memohon, merendahkan dan menghinakan diri. Jiak dia dapat melaksanakan
terapi akhir ini, maka sesungguhnya dia telah membuka pintu taufik (pertolongan
Allah). Hendaklah dia berbuat iffah (menjaga diri) dan menyembunyikan
perasaannya. Jangan menjelek-jelekkan kekasihnya dan mempermalukannya di hadapan
manusia ataupun menyakitinya. Sebab hal tersebut merupakan kedzaliman dan
melampaui batas.
Penutup
size=2>
Demikianlah kiat-kiat khusus untuk menyembuhkan penyakit ini. Namun
ibarat kata pepatah, mencegah lebih baik daripada mengobati. Sebelum terkena
virus ini, maka lebih baik menghindar. Bagaimana cara mengindarinya? Tidak lain,
yaitu dengan tazkiyatun nafs (pembersihan jiwa). Semoga pembahasan ini
bermanfaat.
Sumber: Majalah As-Sunnah Edisi 08/Tahun VI/1423 H/2002 M
(dari tulisan Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah dalam kitab beliau Zadul Ma’ad Fi
Hadyi Khairi Ibad)
Read the rest of this entry »
Jun
16
Posted under Uncategorized
Di antara sebab
terbanyak yang menjerumuskan anak Adam ke lembah kemaksiatan, adalah mereka
tidak menjaga dua hal yaitu lidah dan kemaluannya. Sehingga Rasulullah
shalallahu alaihi wa salam bersabda:
”Barangsiapa yang mampu menjaga
apa yang terdapat di antara dua janggutnya dan apa yang ada di antara dua
kakinya, maka aku jamin akan masuk surga.” (Muttafaq alaih, dari Sahl bin
Sa’ad).
Kemaksiatan yang ditimbulkan dari kemaluan adalah zina, dan
kemaksiatan yang ditimbulkan oleh lisan adalah dusta. Terkadang dengan lisannya
seseorang mengucapkan kata-kata tanpa dipertimbangkan dan dipikirkan sebelumnya,
sehingga menimbulkan fitnah dan kemudharatan yang banyak bagi dirinya maupun
bagi orang lain.
Oleh karena itu jelaslah bahwa di antara keselamatan
seorang hamba adalah tergantung pada penjagaannya terhadap lisannya. Nabi
shalallahu alaihi wa salam sendiri pernah menasehati ‘Uqbah bin Amir ketika dia
bertanya tentang keselamatan, lalu beliau bersabda:
”Peliharalah
lidahmu, betahlah tinggal di rumahmu dan tangisilah dosa-dosamu.” (HR
Tirmidzi, hadits hasan).
Termasuk penyimpangan yang nyata dan banyak
terjadi di masyarakat kita sekarang ini adalah melakukan dusta, baik dalam
ucapan maupun perbuatan, baik dalam menjual maupun membeli, dalam sumpah dan
perjanjian, bahkan menggunakan dusta sebagai bumbu dakwah dan menjatuhkan orang
karena kedengkian.
Manusia yang awam maupun yang ‘alimnya banyak
menganggap sepele masalah dusta, sehingga menjadi kebiasaan yang membudaya, yang
seolah sulit ditinggalkan. Yang lebih parah lagi adalah kebiasaan dusta ini
tidak dipedulikan lagi oleh yang awam maupun yang alim, mad’u maupun da’inya,
terhadap bahaya yang ditimbulkan. Na’udzubillah min
dzalik.
Padahal urusan dusta adalah termasuk hal yang berbahaya,
karena termasuk urusan haram yang menyebabkan pelakunya terjerumus ke dalam
neraka. Rasulullah shalallahu alaihi wa salam bersabda:
”Sesungguhnya
dusta itu menuntun kepada kekejian dan kekejian itu menuntun ke dalam neraka.
Tidak henti-hentinya seseorang itu berdusta dan membiasakan diri dalam dusta,
sehingga dicatat di sisi Allah sebagai pendusta (muttafaqun
‘alaih).
Dusta mempunyai beberapa pengaruh buruk, yang seandainya hal ini
disadari oleh para pendusta pasti mereka akan meninggalkan kebiasaan dustanya
dan akan kembali bertaubat kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
Sebagian
dari pengaruh buruk itu adalah:
1. Menyebarkan
keraguan kepada dan di antara manusia
Keraguan artinya
bimbang dan resah. Ini berarti seorang pendusta selamanya menjadi sumber
keresahan dan keraguan, serta menjatuhkan ketenangan pada orang yang jujur.
Berkata Rasulullah shalallahu alaihi wa salam:
”Tinggalkanlah apa-apa
yang membuatmu ragu dan ambil apa-apa yang tidak meragukanmu, karena
sesungguhnya kejujuran itu adalah ketenangan dan dusta itu adalah
keresahan.” (HR Tirmidzi, An Nasai, dan lainnya).
2. Terjerumusnya
seseorang ke dalam salah satu tanda munafik
Rasulullah shalallahu
alaihi wa salam bersabda:
”Ada empat hal, barangsiapa yang memiliki
semuanya, maka dia munafik sejati. Dan barangsiapa memiliki salah satu di
antaranya, berarti dia mempunyai satu jenis sifat munafik hingga dia
meninggalkannya. Yaitu bila diberi amanat dia khianat, bila berkata dia dusta,
bila berjanji dia mengingkari, dan jika berselisih dia berkata kotor.”
(Muttafaqun ‘alaih).
Sebagaimana diketahui, bahwa orang munafik akan
menempati kerak neraka yang paling bawah. Sebutan munafik adalah sebutan yang
amat berat, maka mengapa kita berani berdusta dan mempertahankannya padahal ia
hanya akan mengantarkan kita kepada kedudukan yang buruk lagi
menghinakan.
3. Hilangnya kepercayaan
Sesungguhnya selama
dusta menyebar dalam kehidupan masyarakat, maka hal itu akan menghilangkan
kepercayaan di kalangan kaum Muslimin, memutuskan jalinan kasih sayang di antara
mereka, sehingga menyebabkan tercegahnya kebaikan dan menjadi penghalang
sampainya kebaikan kepada orang yang berhak menerimanya.
4.
Memutarbalikkan kebenaran
Di antara pengaruh buruk dusta adalah
memutarbalikkan kebenaran dan membawa berita yang berlainan dengan fakta,
lebih-lebih dilakukan dengan tanpa mencari kejelasan atau tabayyun yang
disyariatkan. Hal ini dilakukan karena para pendusta suka merubah kebatilan
menjadi kebenaran dan kebenaran menjadi kebatilan dalam pandangan manusia.
Sebagaimana para pendusta pun suka menghias-hiasi keburukan sehingga tampak baik
dan memburuk-burukkan yang baik sehingga berubah menjadi buruk. Dan itulah
perniagaan para pendusta yang terurai rapi dan mahal harganya menurut pandangan
mereka.
Dan apa saja yang mereka katakan tentang keburukan seseorang, dan
apapun pengaruhnya, maka hati-hatilah terhadap mereka, baik yang anda baca dari
mereka ataupun yang anda dengar. Pahami firman Allah
ta’ala:
”…Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada
orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta.” (QS Al Mukmin:
28)
5. Pengaruh dusta terhadap anggota badan
Dusta menjalar
dari hati ke lidah, maka rusaklah lidah itu, lalu menjalar ke anggota badan,
maka rusaklah amal perbuatannya sebagaimana rusaknya lidah dalam berbicara. Maka
jika Allah subhanahu wa ta’ala tidak memberikan kesembuhan dalam kejujuran
kepada para pendusta itu. Sehingga semakin rusaklah mereka dan menjerumuskan
mereka ke arah kehancuran.
Rasulullah shalallahu alaihi wa salam
bersabda:
”Sesungguhnya kejujuran itu menuntun kepada kebajikan, sedangkan
dusta menuntun kepada kedurhakaan.” (Muttafaq ‘alaih).
Itulah
sebagian kecil dari akibat buruk dusta yang semuanya merupakan akibat yang
terasa di dunia, dan di sisi Allah balasan bagi pendusta lebih dahsyat dan
mengerikan.
Jelaslah bahwa para pendusta akan berjalan di atas jalan yang
menuju neraka, karena dengan berdusta berarti ia akan membuka berbagai pintu
keburukan lainnya. Rasulullah shalallahu alaih wa salam
bersabda:
”Sesungguhnya dusta itu menuju kepada kekejian dan kekejian
menuntun ke neraka, seseorang terus menerus berdusta sehingga dicatat di sisi
Allah sebagai Pendusta.” (muttafaq ‘alaih)
Untuk itu agar kita semua
memperhatikan bahaya dusta sehingga takut untuk melakukannya. Adapun cara untuk
menghindar darinya antara lain:
1. Tidak bergaul dengan
para pendusta dan mencari teman yang shaleh lagi jujur.
2. Mempunyai
keyakinan yang mantap akan bahaya yang ditimbulkannya baik di dunia maupun di
akhirat.
3. Melatih hati dan lisan untuk selalu berkata dan berbuat
jujur.
4. Selalu aktif mengkaji Al-Qur’an dan mengamalkannya.
Semoga
Allah menganugerahkan kejujuran kepada kita semua dalam ucapan maupun
perbuatan.
Sumber:
Majalah As-Sunnah Edisi 09/Th III/1419H-1999
M
Read the rest of this entry »
Jun
09
Posted under Uncategorized
Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari jalan Abu Hurairah
bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wa salam bersabda:
”Sesungguhnya orang
yang pertama akan diadili oleh Allah adalah seorang yang mati syahid (di
mata manusia), maka orang ini didatangkan (menghadap Allah), diberitahukan
kepadanya nikmat-nikmatnya dan iapun mengetahuinya. Maka Allah bertanya
kepadanya, ”Apa yang engkau lakukan di dalam nikmat tersebut?” Maka ia menjawab,
”Sungguh aku telah berperang karena Engkau, sehingga aku mati syahid.” Maka
Allah berfirman, ”Engkau dusta. Akan tetapi, engkau berperang supaya dikatakan
pemberani, dan pujian itu telah engkau dapatkan,” kemudian orang ini
diperintahkan agar dicampakkan wajahnya ke dalam api
neraka.
Kemudian orang yang mempelajari ilmu dan mengajarkannya
serta membaca Al-Qur’an, maka orang ini didatangkan (menghadap Allah), maka
diberitahukan kepadanya nikmat-nikmatNya, dan iapun mengetahuinya. Maka Allah
bertanya kepadanya, ”Apa yang telah engkau lakukan di dalam nikmat tersebut?”
Orang ini menjawab, ”Sesungguhnya aku telah mempelajari ilmu dan mengajarkannya,
dan aku membaca Al-Qur’an karena Engkau.” Maka Allah berfirman, ”Engkau
berdusta, akan tetapi engkau belajar ilmu agar dikatakan ‘alim dan
membaca Al-Qur’an supaya dikatakan qarri’, dan pujian itu telah engkau
dapatkan.” Kemudian orang ini diperintahkan agar dicampakkan wajahnya ke dalam
api neraka.
Kemudian orang yang diberi keluasan rizki oleh
Allah, maka Allah memberikan kepadanya berbagai macam harta. Maka orang ini
didatangkan (menghadap Allah). Diberitahukan kepadanya nikmat-nikmatNya, dan
iapun mengetahuinya. Maka Allah bertanya kepadanya, ”Apa yang telah engkau
lakukan di dalam nikmat tersebut?” Orang ini menjawab, ”Tidaklah aku
meninggalkan satu jalan yang Engkau cintai atau diinfakkan di dalamnya, kecuali
aku menginfakkan di jalan tersebut karena Engkau,” maka Allah berfirman, ”Engkau
dusta, akan tetapi engkau berinfak supaya dikatakan dermawan, dan pujian itu
telah dikatakan.” Kemudian orang ini diperintahkan agar dicampakkan wajahnya ke
dalam api neraka. (HR Muslim)
Apa yang menyebabkan tiga orang ini
dicampakkan Allah ke dalam neraka jahannam? Bukankah mereka telah melakukan
amalan-amalan yang mulia? Bukankah mereka telah bersusah payah melakukannya?
Tiada lain karena mereka melakukan semua itu bukan karena Allah, tapi karena
ingin dipandang oleh manusia.
Jihad di Jalan Allah
Jihad, merupakan amalan yang mulia, bahkan
sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wa
salam,
”Dan puncak agama adalah jihad fi sabilillah.” (HR
Tirmidzi)
Dan sebagaimana yang difirmankan oleh Allah:
”Dan
janganlah kamu mengatakan bahwa orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan
sebenarnya mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (QS
Al-Baqarah: 154)
Dan masih banyak lagi ayat maupun hadits yang
menjelaskan keutamaan jihad dan orang yang mati syahid. Akan tetapi, tatkala
amalan yang agung ini dicampuri dengan perbuatan riya’, maka hilanglah
pahalanya. Dari sini, maka kita perlu mengetahui yang disebut dengan jihad fi
sabilillah dan ciri-cirinya.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh
Bukhari dan Muslim dari jalan sahabat Abu Musa Al Asy’ari, ia berkata: Seorang
Badui datang kepada Rasulullah dan bertanya, ”Wahai Rasulullah, seseorang
berperang karena harta rampasan, seseorang berperang karena ingin terkenal, dan
seseorang berperang agar dilihat oleh manusia. Siapakah yang di jalan Allah?”
Maka Rasulullah menjawab,
”Barangsiapa yang berperang untuk
meninggikan kalimat Allah, maka ia berada di jalan Allah. (muttafaqun
‘alaih).
Inilah jihad yang sebenarnya, yaitu tidak ada tujuan lain,
kecuali dalam rangka menegakkan kalimat Allah di muka bumi ini.
Mencari dan Mengajarkan Ilmu serta Membaca
Al-Qur’an
Selanjutnya diantara orang yang pertama akan dihakimi oleh
Allah adalah seseorang yang mencari ilmu dan mengajarkannya, serta orang yang
membaca Al-Qur’an. Tiga amalan ini merupakan amalan yang sangat mulia dan banyak
pahalanya. Akan tetapi, tatkala tiga amalan tersebut bukan karena Allah semata,
maka menjadi hilanglah pahalanya, bahkan pelakunya diancam oleh Allah dengan
neraka. Dalam sabdanya, Rasulullah mengancam seseorang yang mencari ilmu bukan
karena Allah,
”Barangsiapa yang mempelajari ilmu yang dengannya
diharapkan wajah Allah, kemudian dia tidak mempelajarinya, kecuali karena ingin
mendapatkan dunia, maka dia tidak akan mencium bau surga dan pada hari
kiamat. (HR Abu Dawud).
Berinfaq di Jalan Allah
Adapun orang
yang ketiga adalah orang yang berinfak. Banyak ayat-ayat maupun hadits-hadits
yang menjelaskan keutamaan berinfak. Di antaranya firman
Allah:
”Perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah
adalah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tiap butir
seratus biji. Allah melipatgandakan ganjaran bagi siapa yang Dia kehendaki dan
Allah Maha Luas karunia-Nya, lagi Maha Mengetahui. (QS Al-Baqarah:
261)
Rasulullah shalallahu alaihi wa salam
bersabda,
”Baransiapa yang bersedekah dengan seukuran buah kurma
dari hasil usaha yang halal -dan Allah tidak menerima kecuali yang baik-, maka
Allah akan menerima dengan tangan kanannya, kemudian akan mengembangkan
(shadaqah tersebut) untuk pemiliknya, sebagaimana salah seorang diantara kalian
mengembangkan anak kudanya, sehingga menjadi seukuran gunung uhud
(muttafaqun alaih).
Ini merupakan keutamaan besar yang Allah berikan
kepada orang-orang yang mau bersedekah. Akan tetapi, apabila seseorang
menginfakkan hartanya bukan karena Allah, yang karena ingin mendapatkan pujian
manusia, maka didapat bukan pahala, tetapi siksa dari
Allah.
Khatimah
Hadits yang disebutkan di atas menunjukkan
pentingnya masalah ikhlas dalam beribadah, dan menunjukkan betapa berbahayanya
perbuatan riya’, hingga dapat menghapus amalan yang dilakukan oleh seseorang.
Oleh karena itu, riya’ termasuk perbuatan yang sangat ditakutkan Rasullah,
sebagaimana sabda Beliau shalallahu alaihi wa salam:
”Sesungguhnya
yang paling aku takutkan akan menimpa kalian adalah syirik kecil. Beliau ditanya
tentangnya, maka Beliau mejawab, yaitu riya’ (HR Ahmad).
Rasulullah
shalallahu alaihi wa salam juga memerintahkan kepada umatnya agar selalu meminta
perlindungan Allah dari perbuatan syirik, baik yang besar maupun yang kecil.
Ketahuilah, bahwa ikhlas merupakan salah satu syarat diterimanya ibadah
seseorang. Allah tidak akan menerima ibadah seseorang, kecuali jika hanya
diberikan kepada Allah.
Semoga amalan Allah melindungi kita dari
perbuatan riya’ dan menjadikan kita sebagai orang yang ikhlas.
Amin
Sumber:
Bonus Khutbah Jum’at Majalah As Sunnah Edisi
02/VII/1424 H – 2004 M
Read the rest of this entry »
Jun
09
Posted under Uncategorized
Setiap muslim diperintahkan untuk berlaku amanah dan memiliki akhlak yang baik serta sifat yang terpuji. Barang-siapa yang melakukan sifat-sifat tersebut, niscaya ia diberi balasan yang baik, di dunia maupun di akhirat. Barangsiapa yang meninggalkan khianat dan menipu karena Allah dengan segenap kejujuran dan keikhlasan, niscaya Allah mengganti hal tersebut dengan kebaikan yang banyak Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu meriwayatkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Ada seorang laki-laki yang membeli tanah perkebunan dari orang lain. Tiba-tiba orang yang membeli tanah perkebunan tersebut menemukan sebuah guci yang di dalamnya terdapat emas. Maka ia berkata kepada penjualnya, ‘Ambillah emasmu dariku, sebab aku hanya membeli tanah perkebunan, tidak membeli emas!’ Orang yang memiliki tanah itu pun menjawab, ‘Aku menjual tanah itu berikut apa yang ada di dalamnya’. Lalu keduanya meminta keputusan hukum kepada orang lain. Orang itu berkata,’Apakah kalian berdua memiliki anak?’ Salah seorang dari mereka berkata, ‘Aku memiliki seorang anak laki-laki’. Yang lain berkata, ‘Aku memiliki seorang puteri’. Orang itu lalu berkata, ‘Nikahkanlah anak laki-laki(mu) dengan puteri(nya) dan nafkahkanlah kepada keduanya dari emas itu dan bersedekahlah kalian dari padanya!’.” (HR. Al-Bukhari dalam Akhbar Bani Israil, dan Muslim).
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwasanya beliau menyebutkan seorang laki-laki dari Bani Israil yang meminta orang Bani Israil lainnya agar memberinya hutang sebesar 1000 dinar. Lalu orang yang menghutanginya berkata, ‘Datangkanlah beberapa saksi agar mereka menyaksikan (hutangmu ini)’. Ia menjawab, ‘Cukuplah Allah sebagai saksi bagiku!’ Orang itu berkata, ‘Datangkanlah seseorang yang menjamin(mu)!’ Ia menjawab, ‘Cukuplah Allah yang menjaminku!’ Orang yang akan menghutanginya pun lalu berkata, ‘Engkau benar!’ Maka uang itu diberikan kepadanya (untuk dibayar) pada waktu yang telah ditentukan.
(Setelah lama) orang yang berhutang itu pun pergi berlayar untuk suatu keperluannya. Lalu ia mencari kapal yang bisa mengantarnya karena hutangnya telah jatuh tempo, tetapi ia tidak mendapatkan kapal tersebut. Maka ia pun mengambil kayu yang kemudian ia lubangi, dan dimasukkannya uang 1000 dinar di dalamnya berikut surat kepada pemiliknya. Lalu ia meratakan dan memperbaiki letaknya. Selanjutnya ia menuju ke laut seraya berkata, ‘Ya Allah, sungguh Engkau telah mengetahui bahwa aku meminjam uang kepada si fulan sebanyak 1000 dinar. Ia memintaku seorang penjamin, maka aku katakan cukuplah Allah sebagai penjamin, dan ia pun rela dengannya.
Ia juga meminta kepadaku saksi, maka aku katakan, cukuplah Allah sebagai saksi, dan ia pun rela dengannya. Sungguh aku telah berusaha keras untuk mendapatkan kapal untuk mengirimkan kepadanya uang yang telah diberikannya kepadaku, tetapi aku tidak mendapatkan kapal itu. Karena itu, aku titipkan ia kepadaMu’. Lalu ia melemparnya ke laut sehingga terapung-apung, lalu ia pulang.
Adapun orang yang memberi hutang itu, maka ia mencari kapal yang datang ke negerinya. Maka ia pun keluar rumah untuk melihat-lihat barangkali ada kapal yang membawa titipan uangnya. Tetapi tiba-tiba ia menemukan kayu yang di dalamnya terdapat uang. Ia lalu mengambilnya sebagai kayu bakar untuk isterinya. Namun, ketika ia membelah kayu tersebut, ia mendapatkan uang berikut sepucuk surat. Setelah itu, datanglah orang yang berhutang kepadanya. Ia membawa uang 1000 dinar seraya berkata, ‘Demi Allah, aku terus berusaha untuk mendapatkan kapal agar bisa sampai kepadamu dengan uangmu, tetapi aku sama sekali tidak mendapatkan kapal sebelum yang aku tumpangi sekarang!’.
Orang yang menghutanginya berkata, ‘Bukankah engkau telah mengirimkan uang itu dengan sesuatu?’ Ia menjawab, ‘Bukankah aku telah beritahukan kepadamu bahwa aku tidak mendapatkan kapal sebelum yang aku tumpangi sekarang?’ Orang yang menghutanginya mengabarkan, ‘Sesungguhnya Allah telah menunaikan apa yang engkau kirimkan kepadaku melalui kayu. Karena itu bawalah uang 1000 dinarmu kembali dengan beruntung!’
Read the rest of this entry »
Jun
08
Posted under Uncategorized
Ikhlas
kepada Allah maknanya “seseorang memaksudkan ibadahnya untuk taqorrub
(mendekatkan diri) kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan menjadikannya perantara
untuk mengantarkannya ke negeri yang mulia (surga)”. Jika seorang hamba dalam
ibadahnya menginginkan sesuatu yang lain, maka terdapat perincian sebagaimana
pembagian berikut,
size=2>Pertama, dengan ibadah yang dilakukannya dia ingin mendekatkan
diri kepada selain Allah subhanahu wa ta’ala dan memperoleh pujian makhluk atas
perbuatannya itu, maka yang seperti ini menggugurkan amal dan termasuk syirik.
Di dalam hadits yang shahih dari Abu Hurairah shalallahu alaihi wa salam
bersabda, “Allah subhanahu wa ta’ala berkata:
size=2>“Sesungguhnya Akulah yang paling tidak membutuhkan persekutuan di
antara sekutu-sekutu (yang dijadikan oleh manasia). Barangsiapa mengamalkan
suatu amalan yang dalam amalnya itu dia menjadikan selain-Ku sebagai sekutu
bersama-Ku, maka Aku tinggalkan dia dengan sekutunya itu.” (HR
Muslim)
Maksudnya
bahwa Allah tidak mengacuhkannya di akhirat (dimasukkan ke
neraka-Nya)
size=2>Kedua, dia memaksudkan ibadahnya untuk tujuan-tujuan duniawi,
serperti kekuasaan, pengaruh, dan harta benda, tanpa memaksudkan pendekatan diri
kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Yang seperti ini pahala amalnya terhapus dan
tidak mendekatkannya kepada Allah subhanahu wa ta’ala, sebagaimana
firman-Nya,
size=2>“Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya
kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan
mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak
memperoleh bagian di akhirat, kecuali neraka, dan lenyaplah di akhirat itu apa
yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka
kerjakan.” (QS Hud: 15-16).
Perbedaan
antara jenis ini dengan yang sebelumnya adalah bahwa yang pertama tujuannya
mengharapkan pujian bahwa dia adalah seorang hamba Allah subhanahu wa ta’ala,
sedangkan yang kedua tidak memaksudkan perbuatannya untuk (mendapatkan) pujian
bahwa dia hamba Allah, tidak juga peduli dengan pujian manusia atas
perbuatannya.
size=2>Ketiga, dia memaksudkan dengan ibadahnya pendekatan diri kepada
Allah subhanahu wa ta’ala sekaligus tujuan-tujuan duniawi yang dihasilkannya,
seperti di samping bermaksud ibadah, ketika bersuci dia bermaksud menyegarkan
badan dan menghilangkan kotoran-kotorannya, ketika shalat dia bermaksud mengolah
dan menggerakkan tubuh, ketika puasa dia bermaksud melangsingkan badan dan
mengurangi kegemukan, ketika haji dia bermaksud dapat melihat syiar-syiar Islam
dan para jamaah haji. Yang seperti ini mengurangi pahala ikhlas. Jika
keinginannya ini lebih mendominasi daripada niat beribadah, maka dia kehilangan
kesempurnaan pahala, tetapi tidak menjadikannya berdosa atau maksiat,
sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala,
“Tidak
ada dosa bagimu mencari karunia (rezeki hasil perniagaan) dari Rabbmu.” (QS.
Al-Baqarah: 198).
Jika niat
selain ibadah yang lebih mendominasi, maka dia tidak mendapatkan pahala di
akhirat, tetapi pahalanya adalah apa yang dia dapatkan di dunia. Saya khawatir
dia berdosa karenanya, karena telah menjadikan ibadah, yang merupakan tujuan
tertinggi, sebagai wasilah untuk mendapatkan dunia yang hina. Keadaannya seperti
orang-orang yang Allah subhanahu wa ta’ala katakan dalam firman-Nya,
“Dan
di antara mereka ada orang yang mencelamu tentang (pembagian) zakat. Jika mereka
diberi sebagian dariny, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi
sebagian darinya, dengan serta mereka menjadi marah.” (QS. At-Taubah:
58).
size=2>Diriwayatkan dalam Sunan Abu Dawud dari Abu Hurairah shalallahu alaihi wa
salam bahwa seorang lelaki berkata, “Wahai Rasulullah, seorang laki-laki
ingin berjihad dan juga ingin mendapatkan bagian dari perkara dunia.” Nabi
shalallahu alaihi wa salam menjawab, “Dia tidak mendapat pahala.” Orang itu
mengulangi pertanyaannya sebanyak tiga kali dan Nabi shalallahu alaihi wa salam
(tetap) menjawab, “Dia tidak mendapat pahala.” (HR Abu Dawud).
size=2>Diriwayatkan pula di dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim dari Umar bin
al-Khattab radhiallahu anhu bahwa Nabi shalallahu alaihi wa salam
bersabda,
size=2>“Barangsiapa berhijrah untuk mendapatkan kepentingan dunia atau wanita
yang ingin dia nikahi, maka (pahala) hijrahnya (sekadar) apa yang dia
hijrahi.”
Jika
kedua niat tersebut sama, tidak ada yang lebih mendominasi, baik niat beribadah
maupun niat selain beribadah maka hal ini menjadi masalah yang diperselisihkan
(memerlukan penelitian). Namun, yang lebih dekat pada kebenaran adalah bahwa dia
tidak mendapatkan pahala sebagaimana orang yang beramal untuk Allah dan juga
untuk selain-Nya.
Perbedaan
antara jenis ini dan yang sebelumnya, bahwa tujuan selain ibadah pada jenis
sebelumnya timbul karena kebutuhan, sehingga keinginannya adalah terhadap yang
dihasilkan dari kebutuhannya. Sepertinya dia ingin apa yang dihasilkan dari
perbuatannya adalah perkara-perkara dunia.
Jika ada
yang bertanya, “Apa timbangan untuk dapat menentukan bahwa keinginannya pada
jenis ini lebih mendominasi kepada beribadah kepada selain-Nya?”
Kita
jawab, “Timbangannya adalah jika dia tidak peduli dengan tujuan selain ibadah,
baik itu diraihnya atau tidak, maka hal itu menunjukkan bahwa niat beribadah
lebih mendominasi. Begitu pula sebaliknya.”
Yang
jelas bahwa niat yang merupakan ucapan hati. Perkaranya amatlah penting dan
merupakan hal yang amat urgen, bisa mengantarkan seorang hamba ke derajat
shiddiqin, bisa pula menjerumuskannya ke tempat yang paling rendah. Berkata
sebagian salaf, “Tidaklah aku bersungguh-sungguh terhadap diriku atas sesuatu
daripada kesungguhan berikhlas.”
Kita
meminta kepada Allah agar memberikan kita niat yang ikhlas dan kesalehan dalam
beramal.
Sumber:
Majalah Fatawa Vol 02/Th II/ 1425 H – 2004 M,
dari fatwa Syaikh Muhammad Al-Utsaimin.
Read the rest of this entry »
Jun
04
Posted under Uncategorized
Wahai saudariku, para
isteri,
Sesungguhnya setiap kesalahan yang isteri lakukan, rasa cemburu yang
terlalu besar, ataupun mengikuti hawa nafsu berasal dari syaithan. Semua itu
bersumber dari lemahnya iman kepada Allah, sehingga rumah tangga menjadi ajang
keributan.
Betapa indahnya bila Anda meluruskan hati, akhlak dan tabiat
ketika bergaul bersama suami dan kerabat suami Anda.
Betapa indahnya bila
Anda selalu menggunakan akal sehat dan kesabaran dalam menghadapi setiap urusan
rumah tangga.
Betapa mulianya ketika seorang isteri mampu menjadi
pendamping setia bagi suami dan betapa agung kedudukannya di hati sang suami
bahkan ia mampu memikat perasaan sang suami ketika dia berkata kepadanya: ”Aku
mendengar dan menta’ati”.
Wahai saudariku,
Sesungguhnya Nabi pernah
bersabda kepada para wanita dalam salah satu khutbahnya,
”Wahai para
wanita, bersedekahlah, sesungguhnya kalian adalah kebanyakan penghuni
neraka.”
Hal ini kemudian ditanyakan kepada Nabi shalallahu alaihi wa
salam, ”Mengapa wahai Rasulullah?” Nabi bersabda,
”Karena kalian
banyak melaknat dan tidak bersyukur kepada suami.”
Nabi shalallahu
alaihi wa salam menjelaskan sebab banyaknya kaum wanita di dalam neraka, yaitu
karena mereka banyak melaknat, mencela, dan memaki, serta tidak bersyukur
terhadap suami, karena itulah mereka banyak menjadi penghuni
neraka.
Semoga saudariku muslimah mendapat taufik dan hidayah dengan
etika Islam, mau menyempurnakan akal pikiran dengan ilmu dan ma’rifah dan
menyembuhkan hatinya dengan keimanan kepada Allah, sehingga kehidupan rumah
tangga penuh dengan nuansa kebahagiaan dan hidup bersama suami penuh dengan
ketenangan dan ketenteraman serta kegembiraan.
Sumber: Majalah As-Sunnah dan
Fatawa
Read the rest of this entry »