Archive for July, 2004
Jul
10
Posted under Uncategorized
Hadits-hadits lemah tentang mengusap muka setelah berdo’a Banyak orang yang
mengusap muka mereka setelah melakukan sholat ataupun berdo’a. Namun benarkah
amalan itu pernah dilakukan dan dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam dan para shahabatnya? Risalah ini insya Allah akan menjelaskan tentang
lemahnya hadits-hadits mengenai mengusap wajah.
1. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika mengangkat kedua tangannya
untuk berdo’a, tidaklah menurunkannya kecuali beliau mengusapkannya terlebih
dahulu ke mukanya.
Hadits ini lemah. Diriwayatkan oleh At Tirmidzi (2/244), Ibnu ‘Asakir
(7/12/2). Dengan sanad :Hammaad ibn ‘Isa al-Juhani dari Hanzalah ibn Abi Sufyaan
al-Jamhi dari Salim ibn ‘Abdullah dari bapaknya dari ‘Umar ibn al-Khatthab. At
Tirmidzi berkata : ”Hadits ini gharib, kami hanya mendapatkannya dari Hammad ibn
‘Isa Al Juhani. Dan dia menyendiri dalam meriwayatkan hadits ini. Dia hanya
mempunyai (meriwayatkan) beberapa hadits saja, tapi orang-orang meriwayatkan
darinya.” Bagaimanapun juga hadits ini lemah, berdasarkan pada perkataannya Al
Hafidh Ibnu Hajar di dalam At Taqrib, dimana beliau menjelaskan tentang riwayat
hidupnya dalam At Tahdzib : ”Ibnu Ma’in berkata:’Dia adalah Syaikh yang baik’,
Abu Hatim berkata:’Lemah didalam (meriwayatkan) hadits’, Abu Dawud
berkata:’Lemah, dia meriwayatkan hadits-hadits munkar’. Hakim dan Naqash
berkata:’Dia meriwayatkan hadits-hadits yang tidak kuat dari Ibnu Juraij dan
Ja’far Ash Shadiq’, Dia dinyatakan lemah oleh Ad Daraquthni, Ibnu Hibban
mengatakan bahwa dia meriwayatkan sesuatu yang salah melalui jalur Ibnu Juraij
dan Abdul Aziz bin Umar bin Abdul Aziz, tidaklah diperbolehkan untuk
menjadikannya sebagai sandaran, Ibnu Makula berkata:’mereka semua mencap
hadits-hadits dari dia sebagai hadits lemah”’. Terdapat hadits yang sejenis
dengan hadits 1:
”Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a dan mengangkat
kedua tangannya, maka beliau mengusap wajahnya dengannya”
Hadits ini Dha’if. Diriwayatkan oleh Abu Dawud (1492) dari Ibnu Lahi’ah dari
Hafsh bin Hisyam bin ‘Utbah bin Abi Waqqash dari Sa’ib bin Yazid dari ayahnya.
Ini adalah hadits dha’if berdasarkan pada Hafsh bin Hisyam karena dia tidak
dikenal (majhul) dan lemahnya Ibnu Lahi’ah (Taqribut Tahdzib). Hadits ini tidak
bisa dikuatkan oleh dua jalur hadits berdasarkan lemahnya hadits yang pertama.
2. ”Jika kamu berdo’a kepada Allah,kemudian angkatlah kedua tanganmu
(dengan telapak tangan diatas), dan jangan membaliknya,dan jika sudah selesai
(berdo’a) usapkan (telapak tangan) kepada muka”.
Hadits ini lemah. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (1181, 3866), Ibnu Nashr dalam
Qiyaamul-Lail (hal. 137),Ath Thabarani dalam Al-Mu’jam al-Kabir (3/98/1) &
Hakim (1/536), dari Shalih ibn Hassan dari Muhammad ibn Ka’b dari Ibnu ‘Abbas
radiallaahu ‘anhu (marfu’). Lemahnya hadits ini ada pada Shalih bin Hassan,
Sebagai munkarul hadits, seperti dikatakan Al Bukhari dan Nasa’i,”Dia tertolak
dalam meriwayatkan hadits”; Ibnu Hibban berkata:”Dia selalu menggunakan
(mendengarkan) penyanyi wanita dan mendengarkan musik, dan dia selalu
meriwayatkan riwayat yang kacau yang didasarkan pada perawi yang terpercaya”;
Ibnu Abi Hatim berkata dalam Kitabul ‘Ilal (2/351):”Aku bertanya pada ayahku
(yaitu Abu Hatim al-Razi) tentang hadits ini, kemudian beliau berkata:’Munkar’.”
Hadits dari Shalih bin Hasan ini diriwayatkan juga oleh jalur lain yaitu dari
Isa bin Maimun, yaitu yang meriwayatkan dari Muhammad bin Ka’ab, seperti yang
diriwayatkan oleh Ibnu Nashr. Tapi hal ini tidaklah merubah lemahnya hadits ini,
sebab Isa bin Maimun adalah lemah. Ibnu Hibban berkata:”Dia meriwayatkan
beberapa hadits,dan semuanya tertolak”. An Nasa’i berkata:”Dia tidak bisa
dipercaya”. Hadits dari Ibnu Abbas ini juga diriwayatkan oleh Abu Dawud (1485),
dan Bayhaqi (2/212), melalui jalur ‘Abdul Malik ibn Muhammad ibn Aiman dari
‘Abdullah ibn Ya’qub ibn Ishaq dari seseorang yang meriwayatkan kepadanya dari
Muhammad ibn Ka’b, dengan matan sebagai berikut :
”Mintalah kepada Allah dengan (mengangkat) kedua telapak tanganmu,dan
minta pada-Nya dengan membaliknya, dan jika kau selesai, maka usaplah mukamu
dengannya”.
Hadits ini sanadnya dha’if. Abdul Malik dinyatakan lemah oleh Abu Dawud.
Dalam hadits ini terdapat Syaikhnya Abdullah bin Ya’qub yang tidak disebutkan
namanya, dan tidak dikenal – Bisa saja dia adalah Shalih Bin Hassan atau Isa bin
Maimun. Keduanya sudah dijelaskan sebelumnya. Hadits ini juga diriwayatkan oleh
Hakim (4/270) melalui jalur Muhammad ibn Mu’awiyah, yang berkata bahwa Mashadif
ibn Ziyad al-Madini memberitahukan padanya bahwa dia mendengar hal ini dari
Muhammad ibn Ka’b al-Qurazi. Adz Dzahabi menyatakan bahwa Ibnu Mu’awiyah
dinyatakan kadzab oleh Daraquthni, Maka hadits ini adalah maudhu’. Abu Dawud
berkata tentang hadits ini:”hadits ini telah diriwayatkan lebih dari satu jalur
melalui Muhammad ibn Ka’b; semuanya tertolak.”
Mengangkat kedua tangan ketika melakukan qunut memang terdapat riwayat dari
Rasulullah tentangnya, yaitu ketika beliau berdoa terhadap kaum yang membunuh 15
pembaca Al Qur’an (Riwayat Ahmad (3/137) & AthThabarani Al-Mu’jamus-Shaghir
(hal. 111) dari Anas dengan sanad shahih. Serupa dengan yang hadits yang
diriwaytakan dari Umar dan yang lainnya ketika melakukan qunut pada sholat
Witir. Namun mengusap muka sesudah du’a qunut maka tidaklah pernah dicontohkan
oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, tidak juga dari para shahabatnya,
ini adalah bid’ah yang nyata. Sedangkan mengusap muka setelah berdoa diluar
sholat berdasarkan pada dua hadits. Dan tidaklah dapat dikatakan benar kedua
hadits tersebut bisa menjadi hasan,seperti yang dikatakan oleh Al Manawi,
berdasarkan pada lemahnya sanad yang ditemukan pada hadits tersebut. Inilah yang
menjadikan alasan Imam An Nawawi dalam Al Majmu bahwa hal ini tidak dianjurkan,
menambahkan perkataan Ibnu ‘Abdus-Salaam yang berkata bahwa ”hanya orang yang
sesat yang melakukan hal ini”.
Bukti bahwa mengusap muka setelah berdo’a tidak penah dicontohkan adalah
dikuatkan bahwa terdapat hadits-hadits yang tsabit yang menyatakan diangkatnya
tangan untuk berdo’a, tapi tidak ada satupun yang menjelaskan mengusap muka
setelahnya, dengan hal ini, wallahu a’lam, hal ini tidak diterima dan tidak
pernah dicontohkan. Wallahu a’lam bish shawab
Sumber : Kitab Irwa’ul Ghalil 2/178-182. Karya Syaikh Muhammad Nashiruddin al
Albani
Read the rest of this entry »
Jul
10
Posted under Uncategorized
Ingin masak nasi kebuli tapi tidak mempunyai persediaan daging? wah,..jangan
putus asa dulu lalu enggak jadi masak. Ukhti tetap bisa masak nasi kebuli
walaupun tanpa daging,.. aromanya tetap berbau bumbu rempah. Sajikan nasi kebuli
ini dengan taburan bawang goreng beserta irisan telur dadar, insya Allah nikmat
disantap.Ingin tau resepnya ?? ini dia…..
Bahan;
-1/2 liter beras dicuci bersih dan tiriskan,
- minyak sayur atau mentega untuk menumis
- 6 butir bawang merah diiris tipis
- 3 siung bawang putih diiris tipis
- 1 butir kapulaga
- 3 butir cengkeh,
- 3 cm kayu manis
- 1/3 butir pala dimemarkan
- 1 bungkus kecil bumbu kaldu rasa sapi
- garam menurut selera
- dan air secukupnya.
Cara membuatnya:
1. Lelehkan mentega, tumis bawang merah dan bawang putih hingga harum.
Berturut-turut masukkan kapulaga, kayu manis, cengkeh dan pala. Berikan garam,
bumbu kaldu dan air. Masak hingga airnya mendidih.
2. Terakhir masukkan beras, aduk hingga merata. Masak dengan api kecil dalam
keadaan tertutup, hingga nasi matang. Angkat dan sajikan panas-panas.
Tips: Nasi Kebuli biasanya berbau khas/istimewa karena pada waktu akan
dihidangkan biasanya diaduk /ditambahkan minyak samin, bila ukhti mempunyai
bahan tersebut bisa ditambahkan agar baunya lebih harum.
Read the rest of this entry »
Jul
08
Posted under Uncategorized
Al-Mubarrid menyebutkan
dari Abu Kamil dari Ishaq bin Ibrahim dari Raja’ bin Amr An-Nakha’i, ia berkata:
”Adalah di Kufah terdapat pemuda tampan, dia kuat beribadah dan sangat rajin.
Suatu saat dia mampir berkunjung ke kampung dari Bani Na-Nakha’. Dia melihat
seorang wanita cantik dari mereka sehingga dia jatuh cinta dan kasmaran. Dan
ternyata, si wanita cantik ini pun begitu juga padanya. Karena sudah jatuh
cinta, akhirnya pemuda itu mengutus seseorang melamarnya dari ayahnya. Tetapi si
ayah mengabarkan bahwa putrinya telah dijodohkan dengan sepupunya. Walau
demikian, cinta keduanya tak bisa padam bahkan semakin berkobar.
Si
wanita -akhirnya- mengirim pesan lewat seorang untuk si pemuda, bunyinya, ‘Aku
telah tahu betapa besar cintamu kepadaku, dan betapa besar pula aku diuji dengan
kamu. Bila kamu setuju, aku akan mengunjungimu atau aku akan mempermudah jalan
bagimu untuk datang menemuiku di rumahku’. Dijawab oleh pemuda tadi melalui
orang suruhannya, ‘Aku tidak setuju dengan dua alternatif
itu:
”Sesungguhnya aku merasa takut bila aku berbuat maksiat pada
Rabbku akan adzab yang akan menimpaku pada hari yang besar.” (Yunus:
15)
Aku takut pada api yang tidak pernah mengecil nyalanya dan tidak
pernah padam kobarannya.’
Ketika disampaikan pesan tadi kepada si wanita,
dia berkata: ”Walau demikian, rupanya dia masih takut kepada Allah? Demi Allah,
tak ada seseorang yang lebih berhak untuk bertakwa kepada Allah dari orang lain.
Semua hamba sama-sama berhak untuk itu.” Kemudian dia meninggalkan urusan dunia
dan menyingkirkan perbuatan-perbuatan buruknya serta mulai beribadah mendekatkan
diri kepada Allah. Akan tetapi, dia masih menyimpan perasaan cinta dan rindu
kepada sang pemuda. Tubuhnya mulai kurus dan kurus menahan perasaan rindunya,
sampai akhirnya dia meninggal dunia karenanya. Dan si pemuda itu seringkali
berziarah ke kuburannya, dia menangis dan mendo’akannya. Suatu waktu dia
tertidur di atas kuburannya. Dia bermimpi berjumpa dengan kekasihnya dengan
penampilan yang sangat baik. Dalam mimpi dia sempat bertanya: ”Bagaimana
keadaanmu? Dan apa yang kau dapatkan setelah meninggal?”
Dia menjawab:
”Sebaik-baik cinta – wahai orang yang bertanya – adalah cintamu. Sebuah cinta
yang dapat menggiring menuju kebaikan”.
Pemuda itu bertanya: ”Jika
demikian, kemanakah kau menuju?”
Dia jawab: ”Aku sekarang menuju pada
kenikmatan dan kehidupan yang tak berakhir. Di Surga kekekalan yang dapat
kumiliki dan tidak akan pernah rusak.”
Pemuda itu berkata: ”Aku harap kau
selalu ingat padaku di sana, sebab aku di sini juga tidak melupakanmu.” Dia
jawab: ”Demi Allah, aku juga tidak melupakanmu. Dan aku minta kepada Tuhanku dan
Tuhanmu (Allah subhanahu wa ta’ala) agar kita nanti bisa dikumpulkan. Maka,
bantulah aku dalam hal ini dengan kesungguhanmu dalam ibadah.”
Si Pemuda
bertanya: ”Kapan aku bisa melihatmu?” Jawab si wanita: ”Tak lama lagi kau akan
datang melihat kami.” Tujuh hari setelah mimpi itu berlalu, si pemuda dipanggil
oleh Allah menuju kehadirat-Nya, meninggal dunia.
Sumber: Kisah-Kisah Nyata Tentang
Nabi, Rasul, Sahabat, Tabi’in, Orang-orang Dulu dan Sekarang, Syaikh Ibrahim
bin Abdullah Al-Hazimi, Darul Haq
Read the rest of this entry »
Jul
08
Posted under Uncategorized
Dari An Nawas bin Sam’an radhiallahu anhu, dari Nabi shalallahu alaihi wa salam, beliau bersabda: ”Kebajikan itu keluhuran akhlak sedangkan dosa adalah apa-apa yang dirimu merasa ragu-ragu dan kamu tidak suka jika orang lain mengetahuinya” (HR. Muslim)
Dan dari Wabishah bin Ma’bad radhiallahu anhu, ia berkata: ”Aku telah datang kepada Rasulullah shalallahu alaihi wa salam, lalu beliau bersabda: ‘Apakah engkau datang untuk bertanya tentang kebajikan?’ Aku menjawab: ‘Benar.’ Beliau bersabda: ‘Mintalah fatwa dari hatimu. Kebajikan itu adalah apa-apa yang menentramkan jiwa dan menenangkan hati, dan dosa itu adalah apa-apa yang meragukan jiwa dan meresahkan hati, walaupun orang-orang memberikan fatwa kepadamu dan mereka membenarkannya.’ ”(HR. Ahmad dan Darimi, Hadits hasan)
Sabda beliau ”Kebajikan itu keluhuran akhlak”, maksudnya ialah bahwa keluhuran akhlak adalah sebaik-baik kebajikan, sebagaimana sabda beliau ”Haji adalah Arafah”. Adapun kebajikan adalah perbuatan yang menjadikan pelakunya menjadi baik, selalu berupaya mengikuti orang-orang yang berbuat baik, dan taat kepada Allah yang Maha Mulia lagi Maha Tinggi.
Yang dimaksud dengan berakhlak baik yaitu jujur dalam bermuamalah, santun dalam berusaha, adil dalam hukum, bersungguh-sungguh dalam berbuat kebajikan, dan beberapa sifat orang-orang mukmin yang Allah sebutkan di dalam surah Al-Anfal:
”Orang-orang mukmin yaitu orang-orang yang ketika nama Allah disebut, hati mereka gemetar, dan ketika ayat-ayat-Nya dibacakan kepada mereka, iman mereka bertambah, dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (Yaitu) mereka yang melaksanakan shalat dan mengeluarkan infaq dari sebagian harta yang Kami anugerahkan kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang benar-benar mukmin.” (Al Anfaal: 2-4).
Dan firman-Nya:
”Orang-orang yang bertaubat, yang beribadah, yang memuji (Allah), yang mengembara (di jalan Allah), yang ruku’, yang sujud, yang menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah berbuat mungkar, serta yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu.” (At Taubah: 112).
Dan firman-Nya:
”Sungguh beruntung orang-orang mukmin. (Yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau terhadap budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barang siapa mencari selain dari itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang diberikan kepadanya) dan janjinya, dan orang-orang yang memelihara shalatnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi. (Yaitu) mewarisi (surga) Firdaus, mereka kekal di dalamnya.” (Al-Mukminun: 1-10).
Dan firman-Nya:
”Hamba-hamba Tuhan yang Maha Pengasih adalah mereka yang berjalan di atas bumi dengan rasa rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka menanggapinya dengan kata-kata yang baik.” (Al-Furqan: 63).
Barang siapa yang merasa belum jelas mengenai sifat dirinya, maka hendaklah bercermin pada ayat-ayat tersebut. Dengan adanya semua sifat itu pada dirinya pertanda bahwa dia berakhlak baik. Sebaliknya, jika semuanya tidak ada pada dirinya pertanda dia berakhlak buruk. Bila terdapat sebagian sjaa, maka hendaklah ia bersungguh-sungguh memelihara yang ada itu dan mengupayakan yang belum ada pada dirinya. Janganlah seseorang menganggap bahwa akhlak baik itu hanyalah bersifat lemah lembut kepada orang lain dan meninggalkan perbuatan-perbuatan keji dan doa saja, sebaliknya orang yang tidak seperti itu dianggap rusak akhlaknya. Akan tetapi, yang disebut akhlak baik yaitu seperti yang telah kami sebutkan mengenai sifat-sifat orang mukmin dan perilaku mereka. Termasuk akhlak baik adalah sabar menghadapi gangguan dalam menjalankan agama.
Dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa ada seorang Arab gunung menarik selendang sutera Nabi shalallahu alaihi wa salam sehingga membekas pada bahu beliau, dan orang itu berkata: ”Wahai Muhammad, serahkanlah kepadaku harta Allah yang ada di tanganmu.” Kemudian Nabi shalallahu alaihi wasalam menoleh kepada orang itu, beliau kemudian tertawa dan menyuruh untuk memberi kepada orang itu.
Sabda Nabi shalallahu alaihi wa salam ”dosa adalah apa-apa yang dirimu merasa ragu-ragu dan kamu tidak suka jika orang lain mengetahuinya” maksudnya adalah perbuatan yang ditolak oleh hati nurani. Ini merupakan suatu pedoman untuk membedakan antara dosa dan kebaikan. Dosa menimbulkan keraguan dalam hati dan tidak senang jika orang lain mengetahuinya. Yang dimaksud dengan ”orang lain” di sini adalah orang-orang baik, bukan orang-orang yang telah rusak akhlaknya. Demikianlah yang disebut dosa, karena itu tinggalkanlah perbuatan tersebut. Wallahu a’lam
Sumber: Syarah Hadits Arba’in An Nawawi, Ibnu Daqiq Al-’Ied, Media Hidayah
Read the rest of this entry »
Jul
03
Posted under Uncategorized
Diantara
resep perawatan kecantikan yang disyariatkan oleh Islam adalah sebagai berikut
:
Ta’at pada Allah ‘Azza wa jalla
Dengan
taat kepada Allah ‘Azza wa jalla menjadikan wajah tetap sehat cantik dan berseri
karena sehatnya hati dan badannya.
Berhias dengan pakaian yang baik dan indah disertai penataan rambut yang
bagus terutama dihadapan suami. Merawat rambut dengan telaten dan secara teratur
dengan bahan-bahan yang tidak merusak.
Berhias dengan perhiasan dari
emas dan perak atau yang lain yang tidak terlarang
oleh syariat.
Mengkonsumsi makanan yang sehat dan lengkap kadar gizinya
karena wajah menunjukan kesehatan dan kesegaran tubuh. Bila tubuh sehat, wajah
akan takpak segar dan berseri, tentunya tanpa mengabaikan kesehatan
rohani.
Minum madu secara teratur.
salah
satu teknik perawatan kecantikan yang hasilnya insya Allah menakjubkan adalah
minum madu secara teratur setiap pagi dan sore. Insya Allah akan mencegah segala
jenis penyakit dan menambah kesegaran tubuh wajahpun menjadi cerah dan
berseri-seri dan tampak awet muda.
Bercelak dengan
Istmid.
Istmid adalah perhiasan wanita yang telah terbukti sehat dan
tidak menimbulkan mudlarat bagi mata.
Berikut ini ada beberapa kaidah
bagaimana seharusnya seorang muslimah berhias:
-Segala sesuatu yang tidak
bertentangan dengan syariat.
-Tidak menyerupai (Tasyabbuh) dengan wanita
kafir.
-Tidak menyerupai laki-laki.
-Keberadaan didalam/diluar tubuh tidak
tetap.
-Tidak membawa pada perbuatan merubah ciptaan Allah.
-Tidak mem
buat bahaya bagi tubuh (berpakaian ketat).
-Tidak menghalangi air sampai pada
kulit ketika wudlu dan mandi.
-Tidak ada unsur israf dan membuang-buang
harta.
-Tidak membuang waktu ketika memakainya.
-Tidak ada perasaan
sombong dan takabur ketika memakainya.
-Tidak ada unsur menyelisihi fitrah
muslimah.
-Tidak membuka aurat ketika memakainya.
-Tidak membuat lalai
dari melaksanakan kewajiban.
-Dipersembahkan untuk suami yang paling guna
mencari pahala disisi Allah.
(Sumber:
Salafy edisi 27/1419/1998;Hal.08)
Read the rest of this entry »
Jul
03
Posted under Uncategorized
Ada seorang pria berkebangsaan
Eropa yang telah memeluk Islam. Dia adalah seorang muslim yang baik Islamnya,
jujur dalam tindakannya dan bersemangat untuk menampakkan ke-Islamannya. Dia
bangga dengan Islamnya di hadapan orang-orang kafir. Tidak ada perasaan minder,
malu atau perasaan ragu. Bahkan, tanpa ada kesempatan terlewatkan dia selalu
bersemangat untuk menampakkan ke-Islaman itu.
Suatu saat dia bercerita
bahwa ada sebuah iklan lowongan kerja di sebuah instansi pemerintah yang kafir.
Pria muslim yang bangga dengan Islamnya ini mengajukan lamaran untuk mendapat
pekerjaan tersebut. Tentunya dia harus menjalani test wawancara. Selain dia
banyak juga orang-orang yang ikut test ini. Saat tiba gilirannya untuk test
wawancara, panitia khusus instansi ini mengajukan kepadanya beberapa pertanyaan.
Di antara pertanyaan itu adalah, ‘Apakah Anda minum-minuman keras?’, dia jawab,
‘Tidak, saya tidak mengkonsumsi minuman keras karena saya orang Islam dan agama
saya melarangnya’. Mereka bertanya lagi, ‘Apakah Anda memiliki teman kencan dan
pacar?’, dia jawab, ‘Tidak, karena agama Islam yang saya peluk ini telah
mengharamkannya. Saya hanya berhubungan dengan isteri yang telah saya nikahi
sesuai dengan syariat Allah subhanahu wa ta’ala’.
Wawancara telah usai.
Dia keluar dari ruang test, tetapi dia pesimis akan berhasil dalam persaingan
ini. Ternyata — di luar dugaan — hasil akhir menyebutkan, semua pelamar —
yang jumlahnya banyak itu — gagal, hanya dialah satu-satunya yang berhasil
diterima. Kemudian dia pergi menemui ketua panitia test itu dan mengatakan,
‘Tadinya, saya menunggu pernyataan tidak diterima untuk pekerjaan ini, sebagai
balasan atas perbedaan agama saya dan Anda, juga karena saya memeluk Islam. Saya
terkejut bisa diterima untuk bergabung dengan rekan-rekan kristen di sini. Apa
rahasia di balik itu?’. Ketua panitia menjawab, ‘Sebenarnya orang yang
dicalonkan untuk pekerjaan ini, syaratnya harus orang yang selalu cekatan dan
perhatian penuh dalam setiap keadaan, juga tidak teler. Sementara, orang yang
mengkonsumsi minuman keras tidak mungkin bisa demikian. Kami memang mencari
orang yang tidak mengkonsumsi minuman keras, dan Anda terpilih untuk pekerjaan
ini karena Anda memenuhi syarat’. Maka keluarlah dia dari ruangan seraya memuji
dan bersyukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala yang telah melimpahkan untuknya
nikmat yang begitu besar sambil membaca firman Allah subhanahu wa
ta’ala.
”Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah
jadikan untuknya jalan keluar.” (Ath-Thoriq: 2)
Sumber: Syaikh Ibrahim bin Abdullah Al-Hazimi, Kisah-Kisah
Nyata Tentang Nabi, Rasul, Sahabat, Tabi’in, Orang-orang Dulu dan Sekarang,
Darul Haq
Read the rest of this entry »
Jul
01
Posted under
Pribadi Shalihah Disadur secara ringkas dari buku 13 Penawar Racun kemaksiatan (terjemahan dari kitab Sabiilun najah min syu’mil ma’shiyyah) karangan Muhammad bin Abdullah Ad-Duwaisy, terbitan Darul Haq, Jakarta.
Berikut ini ada beberapa terapi mujarab untuk menawar racun kemaksiatan.
1. Anggaplah besar dosamu
Abdullah bin Mas’ud radhiallahu anhu berkata, ”Orang beriman melihat dosa-dosanya seolah-olah ia duduk di bawah gunung, ia takut gunung tersebut menimpanya. Sementara orang yang fajir (suka berbuat dosa) dosanya seperti lalat yang lewat di atas hidungnya.”
2. Janganlah meremehkan dosa Read the rest of this entry »
Jul
01
Posted under Uncategorized
Arsip baru : http://jilbab.or.id/archives/28-tiga-belas-penawar-racun-kemaksiatan/
Berikut ini ada beberapa terapi mujarab untuk menawar racun kemaksiatan.
1. Anggaplah besar dosamu
Abdullah bin Mas'ud radhiallahu anhu berkata, ''Orang beriman melihat dosa-dosanya seolah-olah ia duduk di bawah gunung, ia takut gunung tersebut menimpanya. Sementara orang yang fajir (suka berbuat dosa) dosanya seperti lalat yang lewat di atas hidungnya.''
2. Janganlah meremehkan dosa
Rasulullah shalallahu alaihi wa salam bersabda, ''Janganlah kamu meremehkan dosa, seperti kaum yang singgah di perut lembah. Lalu seseorang datang membawa ranting dan seorang lainnya lagi datang membawa ranting sehingga mereka dapat menanak roti mereka. Kapan saja orang yang melakukan suatu dosa menganggap remeh suatu dosa, maka itu akan membinasakannya.'' (HR. Ahmad dengan sanad yang hasan)
3. Janganlah mujaharah (menceritakan dosa)
Rasulullah shalallahu alaihi wa salam bersabda, ''Semua umatku dimaafkan kecuali mujahirun (orang yang berterus terang). Termasuk mujaharah ialah seseorang yang melakukan suatu amal (keburukan) pada malam hari kemudian pada pagi harinya ia membeberkannya, padahal Allah telah menutupinya, ia berkata, 'Wahai fulan, tadi malam aku telah melakukan demikian dan demikian'. Pada maalm hari Tuhannya telah menutupi kesalahannya tetapi pada pagi harinya ia membuka tabir Allah yang menutupinya.'' (HR. Bukhari dan Muslim)
4. Taubat nasuha yang tulus
Rasulullah shalallahu alaihi wa salam bersabda, ''Allah lebih bergembira dengan taubat hamba-Nya tatkala bertaubat daripada seorang di antara kamu yang berada di atas kendaraannya di padang pasir yang tandus. Kemudian kendaraan itu hilang darinya, padahal di atas kendaraan itu terdapat makanan dan minumannya. Ia sedih kehilangan hal itu, lalu ia menuju pohon dan tidur di bawah naungannya dalam keaadaan bersedih terhadap kendaraannya. Saat ia dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba kendaraannya muncul di dekatnya, lalu ia mengambil tali kendalinya. Kemudian ia berkata, karena sangat bergembira, 'Ya Allah Engkau adalah hambaku dan aku adalah Tuhanmu'. Ia salah ucap karena sangat bergembira''. (HR. Bukhari dan Muslim)
5. Jika dosa berulang, maka ulangilah bertaubat
Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu berkata, ''Sebaik-baik kalian adalah setiap orang yang diuji (dengan dosa) lagi bertaubat.'' ditanyakan, 'Jika ia mengulangi lagi?' Ia menjawab, 'Ia beristighfar kepada Allah dan bertaubat.' Ditanyakan, 'Jika ia kembali berbuat dosa?' Ia menjawab, 'Ia beristighfar kepada Allah dan bertaubat.' Ditanyakan, 'Sampai kapan?' Dia menjawab, 'Sampai setan berputus asa.'''
6. Jauhi faktor-faktor penyebab kemaksiatan
Orang yang bertaubat harus menjauhi situasi dan kondisi yang biasa ia temui pada saat melakukan kemaksiatan serta menjauh darinya secara keseluruhan dan sibuk dengan selainnya.
7. Senantiasa beristighfar
Saat-saat beristighfar:
a. Ketika melakukan dosa
b. Setelah melakukan ketaatan
c. Dalam dzikir-dzikir rutin harian
d. Senantiasa beristighfar setiap saat
Rasulullah shalallahu alaihi wa salam beristighfar kepada Allah dalam sehari lebih dari 70 kali (dalam hadits lain 100 kali).
8. Apakah anda berjanji kepada Allah untuk meninggalkan kemaksiatan?
Tidak ada bedanya antara orang yang berjanji kepada Allah (berupa nadzar atas tebusan dosa yang dilakukannya) dengan orang yang tidak melakukannya. Karena yang menyebabkan dirinya terjerumus ke dalam kemksiatan tidak lain hanyalah karena panggilan syahwat (hawa nafsu) lebih mendominasi dirinya daripada panggilan iman. Janji tersebut tidak dapat melakukan apa-apa dan tidak berguna.
9. Melakukan kebajikan setelah keburukan
Rasulullah shalallahu alaihi wa salam bersabda, ''Bertakwalah kepada Allah di mana saja kamu berada, dan iringilah keburukan dengan kebajikan maka kebajikan itu akan menghapus keburukan tersebut, serta perlakukanlah manusia dengan akhlak yang baik.'' (HR. Ahmad dan Tirmidzi. Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih))
10. Merealisasikan tauhid
Rasulullah shalallahu alaihi wa salam bersabda, ''Allah 'Azza wa Jalla berfirman, 'Barangsiapa yang melakukan kebajikan, maka ia mendapatkan pahala sepuluh kebajikan dan Aku tambah dan barangsiapa yang melakukan keburukan keburukan, maka balasannya satu keburukan yang sama, atau diampuni dosanya. Barangsiapa yang mendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku mendekat kepadanya sehasta dan barangsiapa yang mendekat kepada-ku sehasta, maka Aku mendekat kepadanya sedepa; barangsiapa yang datang kepada-ku dengan berjalan, maka Aku datang kepadanya dengan berlari. Barangsiapa yang menemui-Ku dengan dosa sepenuh bumi tanpa menyekutukan Aku dengan sesuatu apapun, maka Aku menemuinya dengan maghfirah yang sama.'' (HR. Muslim dan Ahmad)
11. Jangan berpisah dengan orang-orang yang baik
a. Persahabatan dengan orang-orang baik adalah amal shalih
b. Mencintai orang-orang shalih menyebabkan sesorang bersama mereka, walaupun ia tidak mencapai kedudukan mereka dalam amal
c. Manusia itu ada 3 golongan
i. Golongan yang membawa dirinya dengan kendali takwa dan mencegahnya dari kemaksiatan. Inilah golongan terbaik.
ii. Golongan yang melakukan kemaksiatan dalam keadaan takut dan menyesal. Ia merasa dirinya berada dalam bahaya yang besar, dan ia berharapa suatu hari dapat berpisah dari kemaksiatan tersebut.
iii. Golongan yang mencari kemaksiatan, bergembira dengannya dan menyesal karena kehilangan hal itu.
d. Penyesalan dan penderitaan karena melakukan kemaksiatan hanya dapat dipetik dari persahabatan yang baik
e. Tidak ada alasan untuk berpisah dengan orang-orang yang baik
12. Jangan tinggalkan da'wah
Said bin Jubair berkata, ''Sekiranya sesorang tidak boleh menyuruh kebajikan dan mencegah dari kemungkaran sehingga tidak ada dalam dirinya sesuatu (kesalahanpun), maka tidak ada seorangpun yang menyeru kepada kebajikan dan mencegah dari kemungkaran.'' Imam malik berkomentar, ''Ia benar. Siapakah yang pada dirinya tidak ada sesuatupun (kesalahan).''
13. Jangan cela orang lain karena perbuatan dosanya
Rasulullah shalallahu alaihi wa salam menceritakan kepada para shahabat bahwasanya seseorang berkata, ''Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni si fulan.'' Allah swt berkata, ''Siapakah yang bersumpah atas nama-Ku bahwa Aku tidak mengampuni si fulan? Sesungguhnya Aku telah mengampuni dosanya dan Aku telah menghapus amalmu.'' (HR. Muslim).
Disadur secara ringkas dari buku 13 Penawar Racun kemaksiatan (terjemahan dari kitab Sabiilun najah min syu'mil ma'shiyyah) karangan Muhammad bin Abdullah Ad-Duwaisy, terbitan Darul Haq, Jakarta.
Read the rest of this entry »