Oct
29
Posted under Uncategorized
Pada bulan Ramdhan, seorang mu’min mempunyai beberapa tugas syar’i.
Tugas-tugas ini sudah dijelaskan oleh Rasulullah melalui sunnah qauliyah
(perkataan) beliau, juga dengan praktek-praktek (kegiatan) beliau.
Karena bulan Ramadhan merupakan musim kebaikan. Nikmat-nikmat Allah
yang dianugerahkan kepada para hamba pada bulan ini lebih banyak dibandingkan
dengan bulan-bulan yang lain.
HREF=index.php?option=content&task=view&id=394&Itemid=58"#foot84">2
Read the rest of this entry »
Oct
17
Posted under Uncategorized
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Semua amalan anak Adam dilipatgandakan. Satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipatnya hingga tujuh ratus kali lipat. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: ‘Kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya. Yang demikian itu karena dia meningalkan syahwat dan makannya karena Aku.’ Bagi orang yang berpuasa mendapat dua kebahagiaan. Kebahagiaan ketika berbuka dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabb-nya. Dan sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih baik di sisi Allah dari bau misk. Dan puasa adalah perisai. Jika salah seorang di antaramu berpuasa maka janganlah ia berbuat keji dan berkata-kata kotor. Jika seseorang mencelamu atau memerangimu, maka katakanlah kepadanya: Sesungguhnya aku seorang yang sedang berpuasa.” (Muttafaq ‘alaihi)
< ?xml:namespace prefix = o ns = "urn:schemas-microsoft-com:office:office" />
Read the rest of this entry »
Oct
17
Posted under Uncategorized
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Semua amalan anak Adam dilipatgandakan. Satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipatnya hingga tujuh ratus kali lipat. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: ‘Kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya. Yang demikian itu karena dia meningalkan syahwat danmakannya karena Aku.’ Bagi orang yang berpuasa mendapat dua kebahagiaan. Kebahagiaan ketika berbuka dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabb-nya. Dan sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih baik di sisi Allah dari bau misk. Dan puasa adalah perisai. Jika salah seorang di antaramu berpuasa maka janganlah ia berbuat keji dan berkata-kata kotor. Jika seseorang mencelamu atau memerangimu, maka katakanlah kepadanya: Sesungguhnya aku seorang yang sedang berpuasa.” (Muttafaq ‘alaihi
Read the rest of this entry »
Oct
13
Posted under Uncategorized
Ukhti Al Muslimah, sebentar lagi bulan Suci Ramadhan akan datang kepada kita. Nah, sebelumnya apakah kita sudah mengetahui dengan baik mengenai puasa di bulan Ramadhan ? Mari kita simak nasihat salah seorang Ulama yang bernama Dr. Muhammad Ali Al-Hasyimi mengenai berpuasa di Bulan Ramadhan ini.
< ?xml:namespace prefix = o ns = "urn:schemas-microsoft-com:office:office" />
Salah satu ciri wanita muslimah adalah orang yang berpuasa pada bulan Ramadhan dan jiwanya ditaburi iman. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
Read the rest of this entry »
Oct
04
Posted under
Keluarga,
Nikah,
Pribadi Shalihah Sikap qana’ah atau menerima apa adanya (nrimo) pada masalah kebendaan (duniawi) dalam kehidupan suami istri sangat dibutuhkan.Terutama bagi seorang istri tanpa adanya sifat qana’ah maka bisa dibayangkan bagaimana susahnya seorang suami.Setiap tiba dirumah maka yang terdengar adalah keluhan-keluhan, belum punya ini belum punya itu, ingin beli perhiasan, pakaian baru, sepatu baru, jilbab baru,perkakas rumah tangga, furniture, dan lain-lainnya. Read the rest of this entry »
Oct
04
Posted under Uncategorized
border=1>
| ‘Adh-h = ‘idhah |
: sihir; dusta; tindakan mengadu domba, menghasut dan memfitnah. |
| ‘Adhih (ism fail) |
: tukang sihir. |
| ‘Adwa |
: penjangkitan atau penularan penyakit. |
| ‘Ain |
: pengaruh jahat yang disebabkan oleh rasa dengki seseorang melalui matanya;
kena mata. |
| ‘Alaihissalam |
: semoga salam sejahtera senantiasa dilimpahkan (Allah) kepadanya.
|
| Allahu Akbar |
: Allah Maha Besar. |
| Atsar |
: ada dua pengertian: 1. hadits. 2. perkataan atau perbuatan yang
dinisbatkan kepada sahabat atau tabi’in |
| ‘Azimah |
: lihat ruqyah. |
| ‘Azza wa Jalla |
: Maha Mulia dan Maha Agung. |
| Barzakh |
: alam ghaib setelah manusia meninggal dunia sampai hari Kiamat, atau alam
kubur |
| Dinar |
: nama satuan uang. Pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam
terbuat dari emas. |
| Dirham |
: nama satuan uang, lebih kecil nilainya daripada dinar. Dan pada zaman
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam terbuat dari perak. |
| Fai’ |
: harta yang diperoleh kaum muslimin dari musuh tanpa melalui peperangan,
karena ditinggalkan lari. |
| Fa’l |
: perasaan optimis; ha3rapan bernasib baik dan sukses. |
| Ghanimah |
: harta yang diambil alih oleh kaum muslimin dari musuh mereka ketika dalam
peperangan; rampasan perang. |
| Ghul |
: hantu (genderuwo), salah satu jenis jin. |
| Hadits |
: tuntunan dan tradisi yang diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
Sallam melalui sabda, sikap, perbuatan dan persetujuan beliau; sesuatu yang
dinisbatkan kepada Nabi baik berupa perkataan, perbuatan, sikap, atau
persetujuan. |
| Hamah |
: burung hantu |
| Hasan |
: hadits yang tingkatannya dibawah shahih, karena daya hafal atau kecermatan
dan ketelitian orang yang meriwayatkannya masih kurang; tetapi bila banyak atau
ada berbagai jalan dalam meriwayatkannya maka hadits tersebut meningkat menjadi
shahih |
| Ibadah |
: penghambaan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan mentaati segala
perintah- Nya dan menjauhi segala larangan-Nya sebagaimana yang telah diajarkan
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, disertai dengan penuh rasa kerendahan
hati dan penuh rasa cinta. |
| Iman |
: ucapan hati dan lisan yang disertai dengan perbuatan, diiringi dengan
ketulusan niat Lillah dan dilandasi dengan berpegang teguh kepada Sunnah
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. |
| Isnad |
: silsilah orang-orang yang meriwayatkan hadits dari Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa Sallam. |
| Istinja’ |
: bersuci atau membersihkan diri setelah buang hajat kecil atau besar.
|
| Iyafah |
:meramal alamat baik atau nasib dengan menerbangkan burung, apabila terbang
ke arah kanan berarti ada alamat baik. Sedang bedanya dengan thiyarah, bahwa
thiyarah meramal nasib buruk, atau merasa bernasib sial dengan melihat burung,
hewan lainnya atau apa saja. |
| Jahiliyah |
: kebodohan, yaitu suatu zaman yang ciri utamanya ialah mengagungkan selain
Allah dengan disembah, dipuja, dipatuhi dan ditaati; ciri lainnya kebobrokan
mental dan kerusakan akhlak, seperti zaman sebelum Islam – yang dibawa oleh
Rasulullah ini – menampakkan sinarnya di muka bumi. |
| Ja’iz |
: mubah; tidak dilarang dan tidak pula dianjurkan. |
| Jayyid |
: suatu tingkatan sanad di atas hasan. |
| Jibt |
:sihir; sebutan yang bisa digunakan untuk sihir, tukang sihir, tukang ramal,
dukun, berhala, dan yang sejenisnya. |
| Jizyah |
: semacam pajak yang dipungut dari orang-orang non-muslim yang mampu lagi
dewasa, sebagai ganti daripada zakat yang dipungut dari orang-orang Islam, atas
segala perlindungan dan ketentraman yang diberikan oleh kaum Muslimin.
|
| Al-Khalil |
: kekasih mulia, tingkatannya lebih tinggi daripada habib (kekasih).
|
| Khamilah |
: pakaian yang berbulu atau berbeludru; pakaian terbuat dari wool.
|
| Khamisah |
: pakaian yang terbuat dari wool atau sutera dengan sulaman yang indah lagi
menarik. |
| Kunyah (baca: kun-yah) |
: nama panggilan untuk kehormatan, seperti: Abu al-‘Abbas, Abu ‘Abdillah,
Abu Ahmad dll. Biasanya diambil dari nama anak yang pertama.
|
diambil dari DAFTAR ISTILAH
dalam “Kitab
Tauhid” oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab
{mospagebreak}
| Makruh |
: sesuatu yang apabila dikerjakan kurang baik, tetapi apabila ditinggalkan
akan mendapat pahala. |
| Marfu’ |
: hadits yang disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam;
sesuatu yang dinisbatkan kepada Rasulullah baik itu berupa ucapan, perbuatan,
sikap atau persetujuan, meskipun yang menisbatkan itu seorang sahabat atau
tabi’in. |
| Mauquf |
: sesuatu yang dinisbatkan kepada seorang sahabat, baik itu berupa ucapan,
perbuatan atau persetujuan; perkataan yang diucapkan seorang sahabat atau
perbuatan yang dilakukannya atau persetujuannya terhadap apa yang dilakukan
seorang tabi’in. |
| Mufti |
: orang yang memberikan fatwa atau petunjuk atas suatu masalah. |
| Nadzar |
: kaul. |
| Nau’ |
: bintang; arti asalnya; tenggelamnya atau terbitnya suatu bintang.
|
| Nusyrah |
: tindakan untuk menyembuhkan atau mengobati orang yang terkena sihir dengan
mantera atau jampi. |
| Qadha’ = qadar |
: ketetapan Ilahi, artinya bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam semesta
ini diketahui, dicatat, dikehendaki dan diciptakan oleh Allah Subhanahu wa
Ta’ala. |
| Qunut |
: membaca doa dalam shalat, dilakukan sebelum ruku’ atau sesudahnya pada
raka’at terakhir, terutama pada waktu nazilah (dalam keadaan ada bahaya).
|
| Radhiyallahu ‘anha; ‘anhu; ‘anhuma |
: semoga Allah senantiasa melimpahkan keridhaan kepadanya (wanita; laki-
laki, mereka berdua). |
| Risywah |
: sogokan; uang semir; uang pelicin. |
| Riya’ |
: melakukan suatu amal dengan cara tertentu supaya diperhatikan orang lain
dan dipujinya; contohnya: seseorang melakukan shalat, lalu memperindah shalatnya
tatkala dia mengetahui ada orang lain yang memperhatikannya. |
| Ruqyah |
:usaha penyembuhan suatu penyakit dengan pembacaan ayat-ayat Al- Qur’an,
doa- doa, atau mantera-mantera. |
| Sakrat al-maut |
: rasa pedih dan sakit yang dirasakan seseorang ketika dicabut nyawanya;
sekarat. |
| Sanad |
: lihat isnad. |
| Shafar |
: bulan kedua dalam tahun Hijriyah, yaitu bulan sesudah bulan Muharram.
|
| Shahih |
: hadits yang diriwayatkan secara bersinambung oleh orang-orang yang
terpercaya (perilaku, daya hafal dan kecermatannya) mulai dari awal sanad sampai
yang terakhir, bebas dari suatu keganjilan atau sebab yang menjadikan hadits
tersebut lemah. |
| Shallallahu ‘alaihi wa Sallam |
: Semoga Allah senantiasa melimpahkan shalawat dan salam sejahtera kepada
beliau. |
| Subhanahu wa Ta’ala |
: Maha Suci Allah dan Maha Tinggi. |
| Subhanallah |
: Maha Suci Allah. |
| Syahadat |
:persaksian dengan hati dan lisan bahwa: “Tiada sesembahan yang haq selain
Allah Muhammad adalah utusan Allah”, dengan mengerti maknanya dan mengamalkan
apa yang menjadi tuntutannya, baik zhahir maupun batin. |
| Syafa’at |
: perantaraan, yaitu perantaraan yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa Sallam kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan hal itu dengan
seizin-Nya, untuk meringankan beban umat manusia ketika di padang Mahsyar (pada
hari Kiamat) dan inilah yang dinamakan syafa’at kubra (terbesar) atau disebut
juga al-Maqam al- Mahmud; untuk memasukkan surga bagi mereka yang berhak
mendapatkan surga; uk tidak memasukkan ke neraka bagi ahli tauhid dari umatnya
yang berdosa yang semestinya masuk neraka; untuk mengeluarkan dari neraka
orang-orang ahli tauhid yang berdosa yang sudah masuk neraka; untuk menambahkan
pahala dan meningkatkan derajat bagi orang-orang penghuni surga; dan perantaraan
kepada Allah untuk meringankan siksa bagi sebagian orang kafir dan ini khusus
untuk paman beliau Abu Thalib. |
| Ta’ala |
: Maha Tinggi |
| Ta’awwudz |
:meminta perlindungan kepada Allah dengan mengucapkan “A’udzubillah min…”
(aku berlindung kepada Allah dari…). |
| Tahmid |
: memuji Allah Ta’ala dengan mengucapkan “Alhamdulillah” (Segala puji hanya
milik Allah). |
| Tahrif |
: menyelewengkan suatu nash dari Al-Qur’an atau Hadits dengan merubah
lafadznya atau membelokkan maknanya dari makna yang sebenarnya. |
| Takbir |
: mengagungkan Allah dengan mengatakan “Allahu Akbar” (Allah Mahabesar).
|
| Takyif |
:mempertanyakan bagaimana sifat Allah itu; atau menentukan bahwa hakekat
sifat Allah itu begini atau begitu. |
| Tamimah |
:sesuatu yang dikalungkan di leher anak-anak sebagai penangkal atau pengusir
penyakit, pengaruh jahat yang disebabkan rasa dengki seseorang dsb. Dan termasuk
dalam hal ini apa yang dinamakan haikal. |
| Tamtsil |
: menyerupakan sifat Allah dengan sifat makhluk-Nya. |
| Tathayyur |
: berfirasat buruk; merasa bernasib sial; atau meramal nasib buruk karena
melihat burung, binatang lain, atau apa saja. |
| Ta’thil |
: mengingkari seluruh atau sebagian sifat-sifat Allah. Sedang perbedaannya
dengan tahrif, bahwa ta’thil tidak mengakui makna sebenarnya yang dikandung oleh
suatu nash dari Al-Qur’an atau Hadits. Adapun tahrif ialah merubah lafadznya
atau memberikan tafsiran yang menyimpang dari makna sebenarnya yang dikandung
oleh nash tersebut. Lihat tahrif. |
| Ta’wil |
: Ada tiga pengertian: 1. hakekat atau kenyataan yang sebenarnya dari
sesuatu perkataan atau berita. Seperti kata-kata ta’wil yang tersebut dalam
Al-Qur’an 7:3, 53:7, 39:10 dsb. 2. tafsiran, seperti kata-kata para ahli tafsir:
“Ta’wil dari firman Allah…”, artinya: tafsiran dari firman Allah… 3.
penyimpangan suatu kata dari makna yang sebenarnya ke makna yang lain. Dan
inilah yang dimaksud dengan ta’wil yang sering disebutkan dalam pembahasan
teologis. |
| Tiwalah |
: guna-guna;sesuatu yang dibuat untuk supaya suami mencintai isterinya atau
sebaliknya. |
| Thaghut |
: setiap yang diagungkan – selain Allah – dengan disembah, atau ditaati,
atau dipatuhi; baik yang diagungkan itu batu, manusia, atau syaitan. |
| Tharq |
: meramal dengan membuat garis di atas tanah. Caranya antara lain, seperti
yang dilakukan orang-orang Jahiliyah, yaitu: dengan membuat garis-garis yang
banyak secara acak (sembarangan), lalu dihapus dua-dua, apabila yang tersisa dua
garis itu tandanya akan sukses atau bernasib baik, tetapi apabila tinggal satu
garis saja itu tandanya akan gagal atau bernasib sial. |
| Ulama’ |
: ilmuwan; secara khusus: orang ahli dalam bidang agama. |
| Umara’ |
: pemimpin; penguasa. |
| Wada’ah |
: sesuatu yang diambil dari laut, meyerupai rumah kerang, menurut anggapan
orang- orang Jahiliyah bisa digunakan sebagai penangkal penyakit.
|
diambil dari DAFTAR ISTILAH
dalam “Kitab
Tauhid” oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab
Read the rest of this entry »
Oct
03
Posted under Uncategorized
Sufyan Ats-Tsaury memberi nasehat kepada seorang pemuda ahli ibadah: ”Wahai pemuda, ambillah sesuatu dari dunia untuk badanmu dalam hal yang memang engkau harus mengambilnya, dan ambillah akhiratmu untuk hatimu.” Yakni sibukkanlah dirimu mengingat akhirat. Betapa mudahnya konsep Islam dan betapa adil perlakuannya. Sesungguhnya seorang mukmin mengambil kenikmatan dunia sekedar mencukupi kebutuhannya yang mendesak, menyibukkan hatinya untuk memikirkan tempatnya di akhirat, melihat kehidupan hakikinya di negeri abadi dan tiada menyibukkan hatinya dengan harapan-harapan dunia dan rakus terhadapnya, karena dia tahu bahwa dunia adalah fana dan akan sirna. < ?xml:namespace prefix = o ns = "urn:schemas-microsoft-com:office:office" />
Read the rest of this entry »
Oct
03
Posted under Uncategorized
Pertanyaan: \r\nTolong jelaskan hukum menghadap dan membelakangi kiblat ketika buang hajat \r\nbeserta dalilnya. Jelaskan pula tentang perbedaan pendapat diantara para ulama’ \r\ndalam masalah ini dan mana yang benar (rajih)?
\r\n
Jawaban: Ada dua \r\npendapat dalam masalah ini.
\r\n
Pendapat pertama \r\nmenyatakan keharamannya, baik dilakukan di dalam bangunan (wc) ataupun di luar \r\nbangunan, berdasarkan hadits dari Abu Hurairoh dari Nabi shalallahu alaihi wa \r\nsalam, beliau bersabda,
\r\n
“Apabila salah \r\nseorang dari kalian duduk untuk buang hajat, maka janganlah menghadap kiblat \r\natau membelakanginya.” (HR. Ahmad dan Muslim)
\r\n
Begitu pula hadits dari \r\nAbu Ayyub Al-Anshari dari Nabi, beliau bersabda,
\r\n
“Apabila kalian \r\ndatang ke tempat buang hajat, maka janganlah kalian menghadap atau membelakangi \r\nkiblat ketika buang hajat besar atau kecil, tetapi menghadaplah ke Timur atau ke \r\nBarat.” Abu Ayyub berkata, “(ketika) kami sampai di Syam lalu kami mendapati \r\nwc-wc disana dibangun dengan posisi menghadap Ka\’bah, maka kamipun menyerongkan \r\nposisi duduk dan kami pun beristighfar (mohon ampun) kepada Allah.” (Muttafaq \r\n‘Alaih)
\r\n
Muslim meriwayatkan \r\ndari Salman, dia berkata,
\r\n
“Rasulullah \r\nsungguh-sungguh telah melarang kami menghadap kiblat ketika buang hajat besar \r\natau kecil.”
\r\n
Pendapat kedua \r\nmenyatakan bahwa harus dibedakan antara buang hajat di dalam bangunan (wc) \r\ndengan di tempat terbuka. Diharamkan menghadap atau membelakangi kiblat ketika \r\nbuang hajat di tempat terbuka dan dibolehkan ketika berada di dalam bangunan \r\n(wc) berdasarkan hadits-hadits berikut.
\r\n
Hadits dari Ibnu Umar, \r\ndia berkata,
\r\n
“Pada suatu hari aku \r\nnaik keatas rumah Hafshah lalu terlihat olehku Rasulullah sedang buang hajat \r\ndengan menghadap ke syam dan membelakangi Ka’bah.” (HR. Jama’ah)
\r\n
Hadits dari Jabir bin \r\nAbdullah, dia berkata,
\r\n
“Rasulullah telah \r\nmelarang buang air kecil menghadap kiblat, akan tetapi setahun sebelum \r\nbeliau wafat aku melihat beliau buang air kecil menghadap kiblat.” \r\n(HR. lima kecuali Nasa’i)
\r\n
Dan Hadits dari ‘Aisyah \r\n-radhiyallahu’anha-, dia berkata: “Disampaikan dihadapan Rasulullah bahwa ada \r\nsebagian orang sahabat tidak suka menghadapkan kemaluan mereka ke arah kiblat, \r\nmaka beliau bersabda,
\r\n
‘Atau benar-benar \r\nmereka telah melakukan hal itu. Maka ubahlah tempat dudukku (di wc) dengan \r\nmenghadap kiblat.\’” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)
\r\n
Begitu pula hadits dari \r\nMarwan Al-Ashfar, dia berkata, “Aku melihat Ibnu Umar menderumkan (mendudukkan) \r\nuntanya menghadap kiblat lalu beliau buang air kecil sedang beliau juga \r\nmenghadap kiblat, maka aku bertanya, “Wahai Abu Abdurrahman, bukankah Rasulullah \r\ntelah melarang hal itu? ’Beliau menjawab, Memang betul, tetapi beliau melarang \r\nhal itu (dilakukan) di tanah yang lapang. Kalau diantara kamu dan kiblat itu ada \r\nsesuatu yang menutupimu, maka tidak mengapa.” (HR. Abu Daud)
\r\n
Adapun pendapat yang \r\nrajih (benar) menurut saya (Syaikh Abdul Aziz Al-Muhammad As-Salman) adalah \r\nmengamalkan hadits Abu Ayyub karena itu yang lebih berhati-hati, yaitu menghadap \r\natau membelakangi kiblat ketika buang hajat besar atau kecil di dalam bangunan \r\natau di luar bangunan (tempat terbuka) adalah haram.
\r\n
[Pendapat ini juga \r\ntelah dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Ibnu Al-Qoyyim menjelaskan \r\nbahwa apa yang dilakukan oleh Rasulullah (buang hajat dengan menghadap kiblat) \r\nadalah merupakan kekhususan beliau. Di samping itu, ada kaidah yang berbunyi \r\n“apabila bertentangan antara ucapan Nabi dengan perbuatan beliau, maka yang \r\ndidahulukan adalah ucapannya.” Contoh yang lain adalah beliau membatasi umatnya \r\nmenikah tidak boleh lebih dari empat (yaitu lewat ucapannya), padahal beliau \r\nsendiri menikah dengan sembilan wanita (dan ini adalah perbuatannya), maka yang \r\ndidahulukan adalah ucapannya].
\r\n
Diambil dari: Majalah \r\nFatawa Volume 04/I/1423 H – 2003 M
Read the rest of this entry »
Oct
03
Posted under Uncategorized
Syaikh Al-Utsaimin pernah ditanya tentang hukum memberi ucapan selamat hari natal kepada orang kafir (Nasrani). Bagaimana membalas ucapan selamat mereka jika mereka memberi selamat? Bolehkah kita pergi ke tempat-tempat perayaan acara natal? Berdosakah jika seseorang melakukan hal-hal tadi tanpa bermaksud merayakannya, tetapi hanya sekedar basa-basi, malu atau sungkan, atau karena sebab-sebab lain? Bolehkah menyerupai orang-orang kafir dengan menyelenggarakan acara-acara seperti itu?
Read the rest of this entry »