Jilbab Online

Kitab Tauhid (Bag 1): Memulai dengan Basmalah

Penulis -Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah memulai kitabnya dengan basmalah ‘yaitu ucapan bismillaahirrahmanirrahim’.

Syaikh Abdurrahman bin Hasan rahimahullah menjelaskan, bahwa ini adalah dalam rangka mengikuti Kitabullah dan juga melaksanakan kandungan hadits “Setiap perkara penting yang tidak diawali dengan bismillaahirrahmanirrahim, maka ia terputus.” Hadits ini dihasankan oleh Ibnu Sholah. Selain itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam melalui surat-suratnya dengan tulisan basmallah, sebagaimana dalam surat yang dikirim kepada Heraklius pembesar Romawi (lhat Fat-hul Majid, hal. 10 cet. Darul Hadits)

Syaikh Abdullah Al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Adapun hadits-hadits qauliyah mengenai maslah basmalah seprti hadits ‘Setiap perkara penting yang tidak dimulai dengan bismillah, maka ia terputus’ adalah hadits-hadits yang dilemahkan oleh para ulama.” (lihat Hushulul Ma’mul, hal. 9).

Hadits tersebut dilemahkan oleh para ulama ahli hadits semacam Ibnu Hajar, As-Suyuthi, dan Al-Albani. Demikian keterangan Syaikh Asyraf bin Abdul Maqshud dalam tahqiq beliau terhadap kitab Fat-hul Majid (lihat Fat-hul Majid, hal. 17 cet. Maktabah Qurthubah)

Memulai tulisan dengan basmalah termasuk perkara yang dianjurkan/sunnah. Demikan ketrangan Syaikh Abdurrahman bin Hasan rahimahullah (lihat Qurratu ‘Uyunil Muwahhidin, hal. 3)

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Telah menjadi kebiasaan para imam penyusun kitab-kitab memulai ktab-kitab ilmu dengan basmalah, demikan pula pada kebanyakan risalah.” (lihat Fat-hul Bari, Jilid 1 hal. 10)

Kesimpulan :

  1. Memulai tulisan atau buku dengan basmalah adalah disyari’atkan dan telah menjadi kebiasaan para ulama sejak masa silam.
  2. Dianjurkan mengawali surat, risalah atau buku dengan basmalah. Dalilnya adalah perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  3. Hadits-hadits yang menyatakan bahwa ‘setiap perkara penting yang tidak diawali dengan basmalah adalah terputus’ adalah hadits lemah sebagaimana telah dilemahkan para ulama hadits seperti Ibnu Hajar, As-Suyuthi, dan Al-Albani rahimahumullah.

Disalin dari tulisan Ustadz Ari Wahyudi yang membedah rahasia, faidah, dan hikmah yang terkandung dalam Mukadimah Kitab Tauhid karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.

Website: www.al-mubarok.com

Sumber ilustrasi


Bagikan