Jilbab Online

Kitab Tauhid (Bag 6): Perintah Paling Agung

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah membawakan firman Allah (yang artinya), “Sembahlah Allah dan janganlah kalian mempersekutukan dengan-Nya sesuatu apapun.” (An-Nisaa’ : 36). Ayat yang mulia ini menunjukkan wajibnya beribadah kepada Allah semata dan mengingkari segala sesembahan selain-Nya (lihat Al-Jadid fi Syarhi Kitab At-Tauhid, hal. 27)

Apa yang terkandung di dalam ayat ini merupakan hakikat dari kalimat laa ilaha illallah. Karena maksud dari kalimat laa ilaha illallah adalah memerintahkan beribadah kepada Allah dan melarang dari segala bentuk kesyirikan (lihat I’anatul Mustafid bi Syarhi Kitab At-Tauhid, 139)

Syaikh Abdurrahman bin Hasan rahimahullah berkata, “Ayat ini menunjukkan bahwasanya menjauhi syirik adalah syarat sahnya ibadah, sehingga ibadah sama sekali tidaklah sah apabila tidak disertai hal itu…” (lihat Qurratu ‘Uyunil Muwahhidin, hal. 6)

Allah berfirman (yang artinya), “Seandainya mereka berbuat syirik niscaya lenyaplah segala amal yang dahulu telah mereka lakukan.” (Al-An’am : 88)

Allah berfirman (yang artinya), “Sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelummu; Jika kamu berbuat syirik pastilah lenyap amal-amalmu, dan kamu benar-benar akan termasuk golongan orang yang merugi.” (Az-Zumar : 65)

Syaikh Abdullah bin Shalih Al-‘Ubailan hafizhahullah mengatakan, “Ketahuilah, bahwa tauhid dan mengikuti hawa nafsu adalah dua hal yang bertentangan. Karena hawa nafsu itu adalah berhala, dan setiap hamba memiliki berhala di dalam hatinya sesuai dengan kadar hawa nafsunya. Dan sesungguhnya Allah mengutus para rasul-Nya dalam rangka menghancurkan berhala-berhala dan untuk beribadah kepada Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya. Dan bukanlah maksud Allah subhanahu adalah hancurnya berhala secara fisik sementara berhala di dalam hati ditinggalkan. Bahkan yang dimaksud ialah menghancurkannya mulai dari dalam hati, ini yang paling pertama.” (lihat Al-Ishbah fi Bayani Manhajis Salaf fi At-Tarbiyah wa Al-Ishlah, hal. 41)

Ayat di atas -dalam surat An-Nisaa’- memberikan faidah tidak boleh mempersembahkan ibadah -apapun bentuknya- kepada selain Allah, sebagaimana tidak boleh menjadikan selain Allah sebagai sesembahan; apapun bentuknya atau siapapun dia. Demikian sebagaimana yang diterangkan oleh Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah (lihat Al-Mulakhash fi Syarhi Kitab At-Tauhid, hal. 15)

Tauhid inilah -beribadah kepada Allah semata dan meninggalkan syirik- perintah paling agung di dalam agama Islam. Sebaliknya, syirik adalah larangan Allah yang paling besar. Oleh sebab itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan iman kepada Allah sebagai rukun iman yang paling pertama, syahadat menjadi rukun islam yang pertama, dan laa ilaha illallah sebagai cabang keimanan yang paling tinggi. Karena itu pula, beliau memerintahkan sahabatnya untuk memulai dakwah Islam dengan mengajarkan tauhid.

Kesimpulan :

  • Ibadah kepada Allah harus disertai dengan meninggalkan syirik. Apabila ibadah tercampuri dengan syirik maka ia menjadi lenyap dan sia-sia
  • Syirik adalah mempersekutukan Allah dalam ibadah
  • Tidak boleh disembah apapun atau siapapun selain Allah. Karena ibadah adalah hak Allah semata, ibadah apapun hanya boleh dipersembahkan kepada Allah.
  • Tauhid adalah beribadah kepada Allah dan menjauhi syirik
  • Tauhid adalah perintah agama yang paling agung, sedangkan syirik merupakan larangan paling besar di dalam agama Islam
  • Kalimat laa ilaha illallah mengandung perintah beribadah kepada Allah dan larangan dari berbuat syirik. Kalimat laa ilaha illallah bukan semata-mata ucapan dengan lisan, akan tetapi ia harus dilandasi keyakinan hati dan diwujudkan dalam bentuk amal ibadah kepada Allah dengan penuh keikhlasan dan meninggalkan segala bentuk syirik
  • Ibadah kepada Allah berakar dari dalam hati, demikian pula syirik kepada Allah berakar dari dalam hati. Sebagaimana syirik muncul dalam bentuk amal lahiriah maka ia juga muncul dalam bentuk amal batin
  • Seorang muslim tidak boleh meremehkan tauhid, bahkan dia wajib mempelajari tauhid sebelum ajaran-ajaran Islam yang lainnya. Sebagaimana wajib bagi para da’i untuk memprioritaskan dakwah tauhid sebelum materi-materi dakwah yang lainnya
  • Sebagaimana wajib untuk belajar tauhid, seorang muslim juga wajib mempelajari hakikat syirik dan macam-macamnya agar dirinya bisa terhindar dan selamat dari bahayanya. Sebab ibadah kepada Allah tidak terwujud tanpa menjauhinya.

 

Disalin dari tulisan Ustadz Ari Wahyudi yang berisi faidah dari Kitab Tauhid karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.

Website: www.al-mubarok.com

 


Bagikan