Jilbab Online

Kitab Tauhid (Bag 8): Hak Allah Atas Setiap Hamba

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah membawakan hadits dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu. Beliau mengisahkan : Dahulu saya pernah membonceng Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas seekor keledai. Ketika itu beliau berkata kepadaku, “Wahai Mu’adz, apakah kamu tahu apakah hak Allah atas hamba dan apa hak hamba kepada Allah?”. Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Beliau bersabda, “Hak Allah atas hamba adalah mereka beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Adapun hak hamba kepada Allah ialah Allah tidak akan menyiksa orang yang tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” Aku berkata, “Wahai Rasulullah, apakah tidak sebaiknya saya kabarkan berita gembira ini kepada manusia?”. Beliau menjawab, “Jangan kabarkan berita gembira ini kepada mereka karena itu akan membuat mereka bersandar.” (HR. Bukhari dan Muslim dalam kedua kitab Sahih mereka)

Hadits ini mengandung keterangan mengenai wajibnya tauhid atas setiap hamba, keutamaannya yang sangat agung, dan tafsir daripada tauhid itu sendiri. Setiap hamba wajib mentauhidkan Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Tauhid merupakan sebab utama untuk selamat dari azab Allah. Tafsir tauhid itu adalah beribadah kepada Allah dan meninggalkan syirik. Demikian poin-poin penting yang kami kembangkan dari keterangan Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah (lihat Al-Mulakhash fi Syarhi Kitab At-Tauhid, hal. 22)

 

Hadits ini juga menunjukkan bahwa orang-orang yang bertauhid tempat kembali mereka adalah surga, walaupun sebagian diantara mereka harus diazab terlebih dulu di dalam neraka -karena dosanya- sebab tauhid itulah yang menjadi sebab keselamatan dirinya. Adapun orang-orang kafir, musyrik, dan munafik -nifak akbar- maka tempat tinggal mereka di akhirat adalah neraka. Mereka kekal di dalamnya, dan tidak bisa masuk surga (lihat I’anatul Mustafid, 164)

 

Hadits ini juga memberikan faidah, hendaknya penimba ilmu pandai-pandai dalam menyampaikan masalah agama. Bagi orang-orang yang mutasahil/suka meremehkan maka hadits-hadits tentang janji ampunan dan semacamnya tidak seyogyanya diperbanyak, karena hal itu akan menyeret mereka ke dalam keburukan yang lebih besar. Bagi orang-orang yang mutasyaddid/suka berlebihan, hadits-hadits tentang ancaman tidak seyogyanya diperbanyak, karena hal itu membuat mereka bertambah berlebihan/bersikap terlalu keras atau tertimpa waswas. Hendaklah penimba ilmu, pemberi nasihat, atau pengajar memperhatikan kondisi orang-orang yang dia hadapi. Apabila ada perkara-perkara rumit dan pelik yang sekiranya sulit dipahami oleh orang-orang awam maka hendaklah tidak dibeberkan kepada mereka, namun hendaklah hal itu hanya dikemukakan kepada penimba ilmu atau mereka yang memang sanggup memahaminya. Sebagaimana dokter yang meletakkan obat pada tempat yang sesuai dengannya. Demikian faidah yang kami sarikan dari keterangan Syaikh Al-Fauzan hafizhahullah (lihat I’anatul Mustafid, 168)

 

Oleh sebab itu hendaklah hadits ini dipahami dengan baik dan seksama, agar kita tidak terjerumus dalam sikap meremehkan. Minimal ada dua hal yang harus diingat di sini. Pertama, orang yang dijanjikan selamat dari adzab itu adalah ‘orang yang beribadah kepada Allah’; dan yang dimaksud ibadah ialah mencakup segala aturan agama, baik yang wajib ataupun yang sunnah, baik melaksanakan perintah ataupun menjauhi larangan. Kedua, orang yang dijanjikan selamat dari adzab ini ‘tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun’; sehingga tercakup di dalamnya tidak berbuat syirik besar maupun syirik kecil, baik syirik yang tampak ataupun yang tersembunyi di dalam hati. Padahal, sebagaimana disebutkan dalam riwayat bahwa syirik di tengah umat ini lebih samar daripada bekas rayapan semut. Selain itu, orang sekelas Nabi Ibrahim ‘alaihis salam saja khawatir terjerumus syirik lalu bagaimana lagi dengan orang seperti kita?

 

Diantara faidah penting juga dari hadits di atas -sebagaimana diterangkan para ulama- ialah metode tanya-jawab dalam hal pengajaran merupakan metode yang bagus dan cukup efektif dalam kegiatan belajar-mengajar, karena hal itu akan lebih membekas dalam diri peserta. Dan metode semacam ini adalah metode pendidikan yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan metode seperti ini pula proses pembelajaran akan terasa tidak membosankan.

 

Di sisi lain, hadits di atas juga menunjukkan ketawadhu’an Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam; dimana beliau mau memboncengkan sahabatnya dengan menunggangi keledai pula. Maka demikian pula seyogyanya seorang pengajar dan pembina diantara orang-orang yang dididik dan dibinanya, hendaklah dia menjadi orang yang tawadhu’ dan rendah hati bersama mereka. Dengan cara semacam inilah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendidik para sahabatnya. Bukan dengan sikap-sikap yang mencerminkan arogansi dan kesombongan. Oleh sebab itu disebutkan oleh Imam Ibnul Qayim rahimahullah, bahwa salah satu tanda kebahagiaan dan keberuntungan seorang hamba ialah apabila semakin bertambah ilmu pada dirinya maka semakin bertambah pula sikap rendah hati dan kasih sayangnya kepada sesama (lihat Al-Fawa’id, hal. 148)

 

Hadits di atas juga mengisyaratkan kepada kita, bahwa semakin orang memahami tauhid maka justru semakin besar rasa takutnya kepada Allah dan semakin berusaha untuk menjauhi dosa-dosa. Sebab dalil-dalil tentang keutamaan tauhid tidak bisa dipahami secara terpisah dari dalil-dalil lain yang mengandung ancaman bagi para pelaku dosa-dosa besar. Akan tetapi dalil itu melengkapi satu sama lain dan saling menjelaskan. Sebagaimana hadits di atas juga mengisyaratkan kepada kita bahwa semakin tinggi pemahaman tauhid seorang hamba maka semakin besar pula semangatnya untuk mengajak manusia kepada tauhid, walaupun melalui momen dan kesempatan yang sederhana dan waktu yang terbatas. Lihatlah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan pelajaran tauhid ini ketika beliau sedang berada di atas hewan tunggangan, suatu hal yang mungkin tidak terpikirkan oleh kebanyakan orang atau bahkan pengajar dan guru-guru.

 

Lebih daripada itu semuanya, hadits di atas juga menunjukkan kepada kita bagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa berusaha untuk menjaga waktu-waktunya agar selalu mendatangkan kebaikan baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain. Beliau memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya dan tidak menyia-nyiakan waktu untuk perkara yang sia-sia atau bahkan mengundang dosa. Dimana pun berada beliau senantiasa mengajarkan kebaikan; baik dengan ucapan, sikap, atau perbuatannya. Mungkin ini adalah salah satu sifat yang hilang dari kebanyakan orang, bahkan dari sebagian orang yang menisbatkan diri kepada ilmu dan dakwah. Pembicaraan dan waktunya hanya disibukkan dengan hal-hal yang tidak perlu. Kita memohon kepada Allah limpahan ampunan dan taufik menuju kebaikan.

 

Kesimpulan :

  • Tauhid adalah sebab keselamatan bagi hamba dari adzab Allah. Meskipun demikian hal itu tidak boleh mendorong manusia untuk bersantai-santai dan meremehkan amalan
  • Syirik adalah sebab utama datangnya adzab Allah. Apabila pelaku syirik besar tidak bertaubat di dunia maka di akhrat dia akan kekal di neraka, wal ‘iyadzu billah
  • Hak Allah atas setiap hamba adalah tauhid. Tauhid inilah hak paling agung yang wajib ditunaikan olehnya di atas hak-hak yang lainnya.
  • Keutamaan dan karunia yang Allah berikan kepada orang-orang yang betauhid dan bersih dari syirik, bahwa mereka pasti akan masuk ke dalam surga
  • Hendaklah seorang pengajar dan da’i melihat kondisi orang atau masyarakat yang dia dakwahi agar dia bisa menyampaikan ajaran agama ini dengan tepat kepada mereka

 

Disalin dari tulisan Ustadz Ari Wahyudi yang berisi faidah dari Kitab Tauhid karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.

Website: www.al-mubarok.com

 


Bagikan