Jilbab Online

Adab-Adab Shadaqah

Sumber ilustrasi Adab-adab shadaqah di antaranya: Hendaknya meniatkan bershadaqah semata-mata untuk mencari ridha Allah. Bershadaqah dengan harta miliknya yang paling dicintainya dari harta yang baik (halal), berdasarkan hadits yang artinya: _“Barangsiapa yang bershadaqah dengan sesuatu yang senilai dengan sebutir kurma dari usaha yang halal, sedangkan Allah tidaklah menerima kecuali yang baik, maka Allah akan menerima shadaqahnya dengan tangan kanan-Nya kemudian mengembangkannya untuk pemiliknya seperti seorang diantara kalian membesarkan kuda kecilnya hingga shadaqah tersebut besar seperti gunung. Baca Selengkapnya →

Amalan Nabi ketika Masuk-Keluar Rumah

Sumber ilustrasi Imam Nawawi mengatakan, “Disunnahkan melafalkan ‘bismillaah’ serta memperbanyak dzikrullah dan mengucapkan salam.” Sunnah-sunnah lain yang ada pada perkara ini: Dzikrullah, atau menyebut nama Allah; yakni ketika masuk ke dalam rumah, berdasarkan hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam: “Jika seseorang masuk ke rumahnya lantas berdzikir kepada Allah ketika masuknya dan ketika ia makan, maka setan berseru (dengan penuh penyesalan kepada teman-temannya), ‘Tidak ada tempat bermalam dan tempat makan bagi kalian’. Baca Selengkapnya →

Sunnah-Sunnah ketika Bangun Tidur

Green-stripes-bedroom-Index-11

Sumber ilustrasi

1. Mengusap bekas tidur yang ada di wajah dengan tangan

Menurut Imam an-Nawawi dan al-Hafizh Ibnu Hajar, hal ini dianjurkan berdasarkan hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bangun tidur kemudian duduk sambil mengusap bekas tidur dari wajahnya dengan tangannya.” (HR. Muslim)

Baca Selengkapnya →

Malam Lailatul Qadar

oleh: Samahatusy Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baaz

Sesungguhnya, hadits-hadits Rasulullah yang berkaitan dengan meraih Lailatul Qadar di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan sangat luas (banyak). Jumhur ulama berpendapat bahwa Lailatul Qadar itu berada di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Dan barangsiapa yang mendirikan (dengan ibadah) di sepuluh malam ini -seluruhnya- dengan keimanan dan mengharapkan pahala, maka ia akan mendapati malam Lailatul Qadar ini. Karena sesungguhnya, Lailatul Qadar tidak keluar dari sepuluh malam tersebut.

Sumber ilustrasi

Saya akan jelaskan hadits-hadits Rasulullah (yang menerangkan) bahwa malam-malam ganjil lebih diutamakan dari selainnya, seperti malam ke-21, malam ke-23, malam ke-25, malam ke-27, dan malam ke-29.

Baca Selengkapnya →

I’tikaf dan Adab-Adabnya

oleh: Samahatusy Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin[1]

moq

Sumber ilustrasi

I’tikaf adalah berdiam diri di dalam masjid dalam rangka melaksanakan ketaatan kepada Allah. I’tikaf disunnahkan untuk meraih malam Lailatul Qadar. Allah telah menjelaskan masalah ini di dalam firman-Nya,

“Tetapi jangan kamu campuri mereka, ketika kamu ber-I’tikaf” (QS. Al-Baqarah: 187)

Dijelaskan dalam as-Shahiihain, dan lain-lain, bahwa Nabi ber-I’tikaf dan para sahabat pun ber-I’tikaf bersama beliau.[2] Setelah itu, I’tikaf tetapi disyari’atkan dan tidak dihapus. Dalam hadits lain dijelaskan dari ‘Aisyah, ia berkata,

“Nabi ber-I’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan hingga Allah mewafatkan beliau. Lalu, para isteri beliau pun ber-I’tikaf sesudahnya” [3]

Dalam Shahiih Muslim dijelaskan juga dari Abu Sa’id al-Khudri bahwa Rasulullah ber-I’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, kemudian beliau bersabda, “Sesungguhnya aku ber-I’tikaf pada sepuluh hari pertama untuk mencari malam ini (Lailatul Qadar), lalu aku ber-I’tikaf pada sepuluh hari pertengahan (bulan Ramadhan). Kemudian dikatakan kepadaku bahwasanya Lailatul Qadar itu pada sepuluh malam terakhir. Maka, barangsiapa dari kalian yang senang ber-I’tikaf maka lakukanlah.” (Diriwayatkan al-Bukhari).

Maka, orang-orang pun ber-I’tikaf bersama beliau. [4]

Baca Selengkapnya →

Pembatal – Pembatal Puasa

Gembira, bahagia, dan senang hati kita saat mengetahui ramadhan kembali menyapa kita. Kegembiraan dan kebahagiaan ini akan semakin sempurna manakala kita mampu meraup pahala di bulan Ramadhan. Dan untuk meraup pahala di bulan Ramadhan, tentunya kita harus mengetahui perkara – perkara penting seputar puasa. Di antaranya adalah pembatal-pembatal puasa. Karena jika puasa batal, maka seseorang yang puasanya batal berkewajiban mengganti puasanya di hari lain atau membayar tebusan dan fidyah.

Sumber ilustrasi

Mengingat besarnya konsekuensi atas orang yang puasanya batal, maka di sini akan kita sebutkan perkara-perkara yang membatalkan puasa. Terlebih lagi, seiring perkembangan zaman, semakin pula berkembang perkara-perkara baru yang masih diperselisihkan hukumnya, dan banyak tidak diketahui oleh masyarakat. Buktinya, masih sering kita dengar, bagaimana seorang ibu berkata kepada anaknya, “Jangan menangis, nanti puasanya batal lho?”, yang lain berkata bahwa darah yang keluar karena terluka membatalkan puasa, dan lain sebagainya yang salah dipahami oleh kebanyakan orang.

Baca Selengkapnya →

Mendengarkan Murottal Sambil Beraktivitas

Sumber ilustrasi Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah pernah ditanya:  “Terkadang saya menghabiskan banyak waktu di dapur untuk menyiapkan makanan suamiku. Untuk memanfaatkan waktu, aku mendengarkan al-Qur’anul karim, baik melalui siaran atau dari tape. Apakah perbuatanku ini benar, ataukah tidak sepantasnya aku melakukan hal ini? Sebab Allah berfirman: Dan apabila dibacakan al-Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat. (QS. al-A’rof: 204) Syaikh hafizhahullah menjawab: Baca Selengkapnya →

Nama Istri-istri Rasulullah

64fac25920b3be9a4fa32a6ed5086cb6

Sumber ilustrasi

Istri-istri Rasulullah kumpulan wanita termulia. Allah memuliakan mereka untuk menemani kehidupan Rasul termulia. Sebuah keutamaan paling besar yang direngkuh kaum wanita, yang tak tertandingi oleh wanita manapun. Mereka juga menjadi istri-istri beliau di akhirat kelak. Tidak ada seorang lelaki pun yang boleh menikahi mereka sepeninggal Rasulullah.

Salah satu ayat yang menunjukkan ketinggian martabat mereka, Allah berfirman:

“Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain. Jika kamu bertakwa… “ (Qs al-Ahzab/ 33:32)

Baca Selengkapnya →

Rasulullah Mentadaburi Bacaan Al-Qur’an

Sumber ilustrasi

Tadabbur al-Qur’an bermakna merenungi makna-maknanya, konsentrasi dalam memikirkannya, dan memahami prinsip-prinsip ajarannya dan hal-hal yang berhubungan dengannya1. Allah berfirman:

Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah, supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapatkan pelanaran orang-orang yang mempunyai pikiran (QS. Shad/38:29)

“Inilah hikmah al-Qur’an diturunkan. Yakni, agar manusia mentadabburi ayat-ayatnya, menguak ilmu-ilmunya, dan merenungkan rahasia-rahasia dan hukum-hukumnya… Ini menunjukkan ajakan untuk mentadabbur al-Qur’an, danitu termasuk amalan paling utama. Sekaligus (juga) menunjukkan bahwa bacaan yang berisi tadabbur lebih baik daripada bacaan cepat yang tidak mendatangkan hasil (tadabbur)”. [2]

Baca Selengkapnya →

Hukum Sinetron, Drama, & Seni Cerita

Sumber ilustrasi

Pada Qiblati edisi 04/II hal. 18, 19, 87 telah dimuat makalah berjudul “Hukum Cerita Fiktif”, kini kita hadirkan makalah lanjutan tentang cerita fiktif, sinetron dan sandiwara. Berkaitan dengan cerita fiktif, Qiblati telah mengajukan pertanyaan sebagai berikut:

“Apakah boleh menulis cerita fiktif, terutama jika bertujuan dan dapat mewujudkan nilai-nilai yang luhur?”

“Maka Dr. Abdul Wadud Hanif (mantan Imam Masjid Nabawi), Dr. Yahya Zamzami (mantan Wakil Dekan Fakultas Dakwah dan Ushuluddin, Universitas Ummul Qura’ Makkah) dan DR. Shalih al-Furaih (Wakil Dekan pada Fakultas yang sama sekarang) menjawab: “Hal itu diperbolehkan dan tidak bermasalah.” (11 Muharram 142830 Januari 2007).

Selanjutnya kita mengutip dari tulisan Syekh Abdul Qadir Ahmad Atha dalam Kitabnya Hadza Halal Wa Hadza Haram. Tulisan beliau dimuat apa adanya (dengan tambahan keterangan penjelas dalam tanda kurung atau dalam catatan kaki) meskipun ada yang kurang pas bagi sebagian kita, karena kita memaklumi bahwa dalam masalah ijtihadiyyah sangat wajar adanya perbedaan hasil ijtihad. Insya Allah pada edisi yang lain kita hadirkan tulisan ulama ahlus sunnah yang lain. Tulisan beliau tersebut adalah sebagai berikut:

“Industri sinema, sinetron, dan panggung sandiwara berdiri di atas dasar seni cerita (al-Fann al-Qashashi). Dari seni ini industri dunia peran (al-Tamtsil) bermula, yang kemudian diiringi dengan industri-industri lain seperti, tari, nyanyian, tata busana, tata rambut, shooting, pencahayaan, desain, dan lain-lain.”

Telah banyak penulis muslim yang mengeluarkan hukum-hukum syar’i dalam kasus ini secara global tanpa ada perincian, tanpa membandingkan dan men_qiyas_kan dengan hukum-hukum lain yang serupa.

Pembicaraan dalam kasus ini memerlukan perincian dalam dua tema ini yaitu: kisah fiktif dan penayangannya dalam bentuk cerita bergambar yang dapat berbicara, atau dalam bentuk peragaan panggung/pentas.

Baca Selengkapnya →