Jilbab Online

Jilbabku Surga Duniaku Jangan Pisahkan Aku Darinya

Sumber ilustrasi

Untuk sahabatku ukhti muslimah puisi ini kubuat………

Pada kedua orangtuaku yang mulia semoga Allah memberkahi mereka berdua dunia dan akhirat…

Pada jilbab kutemukan surga duniaku… Ketenangan hatiku ketika mematuhi perintahNya…

Tak ingin aku melepasnya ketika keluar rumah walau sesaat…

Karena padanya kecintaan dan keridhaan Rabbku pasti kudapat…

Tidaklah aku ingin mengenakannya karena ingin menjadi muslimah yang ta’at…

Sungguh aku yakin bila kedua orangtuaku mendapatkan hidayah dari Rabbbku pasti keduanya akan menyuruhku menutup aurat…

Pada suamiku yang belum memahami kewajiban jilbab sebagai penutup aurat ialah beda dengan kerudung kecil yang terpasang diatas kepala begitu ketat…

Melilit melingkari leher ditambah lengan panjang dan celana ketat…

Bukan disitu nilai menutup aurat…

Justru kan kau lihat laki-laki akan tertarik pada penampilan yang sangat hebat memikat… Karena lekuk tubuh tergambar jelas dan menaikkan syahwat…

Kan bertambah dosamu jika banyak kaum lelaki yang melihat istrimu keluar rumah dengan pakaian ini karena ia sejatinya pakaian syahwat…

Sanggupkah engkau memanggul dosa-dosa ini di hari kiamat?

Baca Selengkapnya →

Fathimah Radiyallahu ‘anha Memahami Arti Jilbab yang Sesungguhnya

Adakah kaum muslimin dan muslimah yang tak mengenal sosok Fathimah binti Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam? Rasanya tak mungkin! Beliau radiyallahu ‘anha satu-satunya putri Rasulullah shalallahu alaihi wassalam  yang hidup mendampingi  beliau hingga wafatnya beliau ke Rafiqil a’la.1 Fathimah az-Zahra radiyallahu ‘anha adalah ratu bagi para wanita di surga (Sayyidah nisa ahlil jannah). Pemahaman beliau tentang arti jilbab yang sesungguhnya sangat layak untuk disimak dan direnungi oleh para muslimah yang sangat merindukan surga dan keridhaan RabbNya. Sudah sempurnakah kita menutup aurat kita seperti apa yang difahami Shahabiyah?

Baca Selengkapnya →

Sudah Tidak Diganggu Haruskah Berjilbab?

Allah Ta’ala berfirman:

يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Ahzab:59)

Wahai ukhti muslimah,… ayat ini ternyata dijadikan dalil oleh suatu kaum untuk menyanggah bahwa jilbab hanya dipakai dalam kondisi diganggu, kalau tidak ada gangguan sah-sah saja membuka jilbab,..banyak saudari kita yang ilmunya masih minim termakan syubhat ini. Lalu apakah memang benar demikian?

Baca Selengkapnya →

Setetes Parfum yang Kau Usapkan Pada Tubuhmu

Parfum dan wanita merupakan bagian yang tak terpisahkan.Saking pentingnya banyak kaum hawa yang tak percaya diri bila tidak memakai benda ini. Sekejap saja kita keluar rumah dijalan, di pasar, di tempat keramaian maka akan dengan mudah hidung kita mencium bau yang semerbak dari wewangian parfum.Berbagai macam merek parfum dijual dari harga di bawah sepuluh ribu rupiah sampai ratusan ribu bahkan ada yang mencapai jutaan.Yang menjadi masalah bukannya merek atau harganya . Sebenarnya boleh nggak sih seorang wanita muslimah keluar dengan memakai parfum?walaupun hanya setetes saja?

Baca Selengkapnya →

Saudariku, Apa yang Menghalangimu Berhijab? (II)

  1. Ukhti, Jangan Terjerumus Pada rnPertentangan.

Tatkala engkau menasehati sebagian ukhti yang belum berhijab, rnsebagian mereka ada yang menjawab: ”Saya juga seorang muslimah, selalu menjaga rnshalat lima waktu dan sebagian shalat sunat, saya puasa Ramadhan dan telah rnmelakukan haji, berkali-kali pula saya umrah, aktif sebagai donatur pada rnbeberapa yayasan sosial, tetapi saya belum’ mantap dengan ber-hijab”.

rn

  1. Pertanyaan Buat Ukhti

”Kalau memang anda sudah dan selalu melakukan rnamalan-amalan terpuji, yang berpangkal dari iman, kepatuhan pada perintah Allah rnserta takut siksaNya jika meninggalkan kewajiban-kewajiban itu, mengapa anda rnberiman kepada sebagian dan tidak beriman kepada sebagian yang lain, padahal rnsumber perintah-perintah itu adalah satu?

rn

Sebagaimana shalat yang selalu anda jaga adalah suatu kewajiban, demikian rnpula halnya dengan hijab. Hijab itu wajib, dan kewajiban itu tidak diragukan rnadanya dalam A1Qur’an dan As Sunnah. Atau, apakah anda tidak pernah mendengar rncercaan Allah terhadap Bani Israil, karena mereka melakukan sebagian perintah rndan meninggalkan sebagian yang lain?

Secara tegas, dalam hal ini Allah rnberfirman:

Artinya:

…Apakah kamu beriman kepada sebahagian AI-Kitab rn(Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tidaklah balasan bagi rnorang-orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam rnkehidupan dunia, dan pada hari Kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang rnsangat berat, Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat”. (Al-Baqarah: rn85)

Selanjutnya renungkanlah hadits shahih berikut ini:

rn

”Sesungguhnya penghuni Neraka yang paling ringan adzabnya pada Ilari Kiamat rnialah orang yang diletakkan di tengah kedua telapak kakinya dua bara api, dari rndua bara api ini otaknya mendidih, sebagaimana periuk yang mendidih dalam bejana rnbesar yang dipanggang dalam kobaran api ”.

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, rnKitabur Riqaaq, 11376.

rn

Jika seperti ini adzab yang paling ringan pada hari Kiamat, lalu bagaimana rnadzab bagi orang yang diancam Allah dengan adzab yang amat pedih, sebagaimana rndisebutkan dalam ayat ini. Yakni bagi orang yang beriman kepada sebagian ayat rndan meninggalkan sebagian yang lain?

rn

  1. Wahai Ukhti…

Apakah hanya demi penampilan, kebanggaan dan saling rnunggul-mengungguli di dunia, lain anda rela menjual akhirat dan slap menerima rnadzab yang pedih?

Sungguh, kami tidak berharap untuk ukhti, melainkan rnkebaikan di dunia dan di akhirat. Kami meminta agar ukhti mau menggunakan akal rnsehat dalam menentukan pilihan ini.

rn

C. SYUBHAT KETIGA: IMAN ITU LETAKNYA DI HATI

rn

Jika salah seorang di antara mereka ditanya, mengapa dia tidak berhijab? Maka rnukhti yang terhormat ini akan menjawab: ”Ah, iman itu letaknya di hati”.

Ini rnadalahjawaban yang paling sering dilontarkan para wanita muslimah yang belum rnberhijab. Karena itu, di bawah ini akan kita bahas syubhat tersebut.

rn

  1. Sumber Syubhat:

Mereka berusaha menafsirkan sebagian hadits, tetapi rntidak sesuai dengan yang dimaksudkan. Seperti dalam sabda Nabi Shallallahu rn’Alnihi Wnsallam:

rn

”Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk-bentuk (lahiriah) dan harta rnkekayaanmu, tetapi Dia melihat pada hati dan amalmu sekalian ”.

Tampaklah, rnbahwa mereka menggugurkan makna yang semestinya, yaitu kebenaran yang dibelokkan rnkepada kebatilan. Memang benar, iman letaknya dalam hati, tetapi iman itu tidak rnsempurna bila dalam hati saja.

rn

Dengan hadits ini Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam hendak menjelaskan rnmakna keikhlasan bagi diterimanya suatu amal perbuatan. Allah tidak melihat rnbentuk-bentuk lahiriah, seperti pura-pura khusyu’ dalam shalat dan sebagainya, rntetapi Allah melihat hati dan keikhlasan niat dari segala yang selain Allah. Dia rntidak menerima suatu amal perbuatan kecuali yang ikhlas untuknya rnsemata.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

rn

”Taqwa itu ada di sini”, seraya menunjuk ke arah dadanya ”.

Pengarang rnkitab Nuzhatul Mutraqin berkata: ”Hadits ini menunjukkan, pahala amal tergantung rnkeikhlasan hati, kelurusan niat, perhatian terhadap situasi hati, pelempangan rntujuan dan kebersihan hati dari segala sifat tercela yang dimurkai Allah”

rn

  1. Definisi Iman

Iman tidak cukup hanya dalam hati. Iman dalam hati semata rntidak cukup menyelamatkan diri dari Neraka dan mendapatkan Surga.

Definisi rniman menurut jumhur ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah : ”Keyakinan dalam rnhati, pengucapan dengan lisan dan pelaksanaan dengan anggota badan”.

Definisi rnini terdapat dalam setiap buku akidah (tauhid), kecuali buku-buku yang rnmenyimpang dan tidak berdasarkan manhaj (methode) Ahlus Sunnnh wal Jama ‘ah.

rn

  1. Kesempurnaan Iman

Dalam tashawwur (gambaran) kita, orang yang rnmengatakan iman dengan lidahnya, tetapi tidak disertai keyakinan hatinya, itu rnadalah keadaan orang-orang munafik. Demikian pula orang yang beramal hanya rnsebatas aktifitas anggota tubuh, tetapi tidak disertai keyakinan hati, itu rnmerupakan keadaan orang-orang munafik.

rn

Pada masa Nabi Shallallahu alaihi wasalam , mereka senantiasa shalat bersama rnbeliau, berperang, mengeluarkan nafkah, pulang pergi bersama kaum muslimin, rntetapi hati mereka tidak pemah beriman kepada agama Allah. Kepada mereka, Allah rnmenghukumi sebagai orang-orang munafik, dan balasan untuk mereka adalah berada rndi kerak atau dasar Neraka.

Demikian pula orang yang beriman hanya dengan rnhatinya tapi tidak disertai dengan amalan anggota badan.

rn

Ini adalah keadaan iblis. Dia percaya pada kekuasaan Allah, Dzat yang rnmenghidupkan dan mematikan. Dia meminta penangguhan kematiannya, dia juga rnpercaya terhadap adanya hari Kiamat, tetapi dia tidak beramal dengan anggota rntubuhnya. Allah berfirman:

Artinya: ”la (iblis) enggan dan takabur dan dia rntemzasuk golongan orang-orang kafir”. (Al Baqarah:34)

Dalam Al Qur’an setiap rnkali disebutkan kata iman, selalu disertai dengan amal, seperti: ”Orang yang rnberiman dan beramal shaIih ………..

Amal selalu beriringan dan merupakan rnkonsekuensi iman, keduanya tidak dapat dipisah-pisahkan.

rn

Kepada ukhti yang belum berhijab dengan alasan ”iman itu letaknya di hati”, rnkami hendak bertanya, andaikata seorang kepala sekolah memintanya membuat rnlaporan, atau mengawasi murid-murid, atau memberi pelajaran ekstra kurikuler, rnatau menjadi petugas piket untuk menggantikan guru yang berhalangan hadir atau rnpekerjaan lain, logiskah jika dia menjawab: ”Dalam hati, saya percaya dan sudah rnmantap terhadap apa yang diminta oieh direktur kepadaku, tetapi aku tidak mau rnmelaksanakan apa yang dikehendakinya dariku”. Apakah jawaban ini bisa diterima? rnLalu apa akibat yang bakal menimpanya?

rn

Ini sekedar contoh dalam kehidupan manusia. Lalu bagaimana jika urusan ini rnberhubungan dengan Allah, Tuhan manusia yang memiliki sifat Yang Maha Tinggi? rn

rn

D. SYUBHAT KEEMPAT: ALLAH BELUM MEMBERIKU HIDAYAH

rn

Para akhawat yang tidak berhijab banyak yang berdalih: ”Allah belum memberiku rnhidayah. Sebenamya•aku juga ingin berhijab, tetapi hendak bagaimana jika hingga rnsaat ini Allah belum memberiku hidayah?, do’akanlah aku agar segera mendapat rnhidayah!”

rn

Ukhti yang berdalih seperti ini telah terperosok dalam kekeliruan yang nyata. rnKami ingin bertanya: ”Bagaimana engkau mengetahui bahwa Allah belum memberimu rnhidayah?”

Jika jawabannya, ”Aku tahu”, maka ada satu dari dua kemungkinan: rn

Pertama, dia mengetahui ilmu ghaib yang ada di dalam kitab yang tersembunyi rn(Lauhul Mahfuzh). Dia pasti mengetahui pula bahwa dirinya termasuk orang-orang rnyang celaka dan bakal masuk Neraka.

Kedua, ada makhluk lain yang mengabarkan rnpadanya tentang nasib dirinya, bahwa dia tidak termasuk wanita yang mendapatkan rnhidayah. Bisa jadi yang memberitahu itu malaikat atau pun manusia. Jika kedua rnjawaban itu tidak mungkin adanya, bagaimana engkau mengetahui Allah belum rnmemberimu hidayah? Ini salah satu masalah.

Masalah lain adalah, Allah telah rnmenerangkan dalam kitabNya, bahwa hidayah itu ada dua macam.Masing-masing adalah rnhidayah dilaIah dan hidayah taufiq.

  1. Hidayah Dilalah

Ini adalah rnbimbingan atau petunjuk pada kebenaran. Dalam hidayah’ini, terdapat campur rntangan dan usaha manusia, di samping hidayah Allah dan bimbingan RasulNya. Allah rntelah menunjukkan jalan kebenaran pada manusia yang mukallnf, juga Dia telah rnmenunjukkan jalan kebatilan yang menyimpang dari petunjuk para Rasul dan rnKitabNya. Para rasul pun telah menerangkan jalan ini kepada kaumnya. Begitu pula rnpara da’i. Mereka semua menerangkan jalan ini kepada manusia. Jadi semua ikut rnambil bagian dalam hidayah ini.

rn

  1. Hidayah Taufiq

Hidayah ini hanya milik Allah semata, tidak ada sekutu rnbagiNya (dalam pemberian hidayah taufiq ini). Ia berupa peneguhan kebenaran rndalam hati, penjagaan dari penyimpangan, pertolongan agar tetap meniti dan teguh rndi jalan kebenaran, pendorong pada kecintaan iman. Pendorong pada kebencian rnterhadap kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan.

Hidayah raufiq diberikan rnkepada orang yang memenuhi panggi!an Allah dan mengikuti petunjukl\lya.

Jenis rnhidayah ini datang sesudah hidayah dilalah. Sejak awal, dengan tidak pilih rnkasih, Allah memperlihatkan kebenaran kepada semua manusia. Allah rnberfirman:Artinya:

”Dan adapun kaum Tsamua maka mereka telah kami beri rnpetunjuk tetapi mereka lebih menyukai buta (kesesatan) daripada petunjuk itu rn…. ” (Fushshilat: 17 )

rn

Dan untuk itu, Allah menciptakan potensi dalam diri setiap orang mukaIlaf rnuntuk memilih antara jalan kebenaran atau jalan kebatilan. Jika dia memilih rnjalan kebenaran menurut kemauannya sendiri maka hidayah taufiq akan datang rnkepadanya. Allah berfirman:

Artinya: ”Dan orang-orang yang meminta petunjuk, rnAllah (akan) menambah petunjuk pada mereka dan memberikan kepada mereka rn(balasan) ketakwaannya ” . (Muhammad: 17)

rn

Jika dia memilih kebatilan menurut kemauannya sendiri, maka Allah akan rnmenambahkan kesesatan padanya dan Dia mengharamkannya mendapat hidayah rntaufiq.Allah berfirman :

Artinya:”Katakanlah: ‘Barangsiapa yang berada dalam rnkesesatan, maka biarlah Tuhan Yang Maha Pemurah memperpanjang tempo baginya …. rn”(Maryam: 75)

Artinya: …Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), rnAllah memalingkan hati mereka ”. (Ash Shaf: 5)

rn

  1. Penumpamaan Hidayah Taufiq

Syaikh Asy Sya’rawi memberikan perumpamaan rnyang amat mengena tentang hidayah taufiq ini, dan itu menupakan sunnatullah. rnBeliau mengumpamakan dengan seseorang yang menanyakan suatu alamat. Orang itu rnpergi ke polisi lain lintas untuk menanyakan alamat tersebut. Lain polisi rnmenyarankan: ”Anda bisa bejalan lurus sepanjang jalan ini, sampai di perempatan rnanda belok ke kanan, selanjutnya ada gang, anda belok ke kiri, di situ anda rnmendapatkan jalan raya, di seberang jalan raya tersebut akan terlihat gedung rndengan pamplet besar, itulah alamat yang anda cari”.

rn

Orang tersebut dihadapkan pada dua pilihan, percaya kepada petunjuk polisi rnatau mendustakannya. Jika percaya kepada polisi, ia akan segera beranjak rnmengikuti petunjuk yang diterimanya. Jika berjalan terus sesuai dengan petunjuk rnpolisi, ia akan semakin dekat dengan tempat dan alamat yang ia inginkan.

rn

Jika ia tidak mempercayai saran polisi itu bahkan malah mengumpatnya sebagai rnpendusta, sehingga ia bejalan menuju arah yang berlawanan, rnaka semakin jauh rndia berjalan, semakin jauh pula kesesatannya. Itulah perumpamaan petunjuk dan rnkesesatan.

rn

Ini merupakan perumpamaan yang tepat untuk mendekatkan pengertian sunnatullah rnini. Siapa yang memilih kebenaran, Allah akan menolong dan meneguhkannya. Dan rnsiapa yang memilih kebatilan, Allah akan menyesatkannya dan membiarkannya rnbersama setan yang menyertainya.

rn

  1. Carilah Sebab-sebab Hidayah, Niscaya Anda Mendapatkannya

Itulah rnsunnatullnh yang berlaku pada semua makhluknya. Allah berfirman:

…Maka rnsekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah, dan rnsekali-kaIi tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu”. rn(Faathir: 43)

rn

Adapun sunnatullah dalam perubahan nasib, hanya akan terjadi jika manusia rnmemulai dengan mengubah terlebih dahulu dirinya sendiri, lain mengupayakan rnsebab-sebab perubahan yang dimaksudnya. Allah rnberfirman:

Artinya:”Sesungguhnya AIlah tidak mengubah keadaan suatu kaum rnsehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. ” (Ar Ra’d: rn11)

Maka orang yang menginginkan hidayah, serta menghendaki agar orang lain rnmendo’akan dirinya agar mendapatkannya, ia harus berusaha keras dengan rnseba-sebab yang bisa mengantarkannya mendapat hidayah tersebut.

rn

Dalam hal ini, terdapat teladan yang baik pada diri Maryam. Suatu hari, dia rnamat membutuhkan makanan, Padahal ketika itu, ia dalam kondisi sangat lemah, rnseperti yang biasa tejadi pada wanita yang hendak melahirkan.Lalu Allah rnmemerintahkannya melakukan suatu usaha yang orang laki-laki paling kuat sekali rnpun tidak akan mampu melakukannya. Maryam diminta menggoyang-goyangkan pangkal rnpohon korma, meskipun pangkal pohon korma itu sangat kokoh dan sulit rndigoyang-goyangkan. Allah berfirman:

Artinya: ”Dan goyanglah pangkal pohon rnkomra itu ke arahmu …. (Maryam: 25)

Maryam tidak mungkin mampu menggoyang rnpangkal pohon korma, sementara dia dalam kondisi yang amat lemah. Itu hanya rndimaksudkan sebagai usaha mencari sebab dengan cara meletakkan tangannya di rnpohon korma.

rn

Dengan demikian terpenuhilah hukum kausalitas dan sunnatullah dalam hal rnperubahan. Maka hasilnya adalah:

Artinya: ”Pohon itu akan menggugurkan buah rnkorma yang masak kepadamu ”. (Maryam: 25)

Inilah sunnatullah dalam perubahan. rnTidak mungkin orang mukmin terus-menerus berada di masjid, bahkan meskipun di rnMasjidil Haram dengan hanya duduk dan beribadah kepada Allah, Seraya mengharap rnrizki dari Allah.Tentu Allah tidak akan mengabulkannya tanpa dia sendiri mencari rnsebab-sebab rizki tersebut. Langit tak mungkin sekonyong-konyong menurunkan rnhujan emas dan perak.

rn

Karena itu, wahai ukhti, berusahalah mendapatkan sebab-sebab hidayah, niscaya rnanda mendapatkan hidayah tersebut dengan izin Allah. Di antara usaha itu ialah rnberdo’a agar mendapat hidayah, memilih teman yang shalihah, selalu membaca, rnmempelajari dan merenungkan Kitab Allah, mengikuti majelis-majelis dzikir dan rnceramah agama, mendengarkan kaset pengajian agama, membaca buku-buku tentang rnkeimanan dan sebagainya.

rn

Tetapi, sebelum melakukan semua itu hendaknya engkau terlebih dahulu rnmeninggallkan hal-hal yang bisa menjauhkanmu dari jalan hidayah. Seperti teman rnyang tidak baik, membaca majalah-majalah yang tidak mendidik, menyaksikan rntayangan-tayangan televisi yang membangkitkan perbuatan haram, bepergian tanpa rndisertai mahram, menjalin hubungan dengan para pemuda (pacaran), dan hal-hal rnlain yang bertentangan dengan jalan hidayah.

Baca Selengkapnya →

Artikel Jilbab Wanita Muslimah (II)

Juga firman Allah ta’aala dalam surat Al-Ahzab ayat 59 :

“ Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin:Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan, Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

 

Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini dengan berkata:

Allah Ta’ala menyuruh Rasulullah shalallahu alaihi wassalam agar dia menyuruh wanita-wanita mukmin , istri-istri ,dan anak-anak perempuan beliau agar mengulurkan jilbab keseluruh tubuh mereka. Sebab cara berpakaian yang demikian membedakan mereka dari kaum wanita jahiliah dan budak-budak perempuan. Jilbab berarti selendang/kain panjang yang lebih besar dari pada kerudung. Demikian menurut Ibnu Mas’ud, Ubaidah, Qatadah, dan sebagainya. Kalau sekarang jilbab itu seperti kain panjang. Al-Jauhari berkata,”Jilbab ialah kain yang dapat dilipatkan”.

 

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ummu Salamah dia berkata: ”Setelah ayat diatas turun, maka kaum wanita Anshar keluar rumah dan seolah-olah dikepala mereka terdapat sarang burung gagak. Merekapun mengenakan baju hitam”

Az-Zuhri ditanya tentang anak perempuan yang masih kecil. Beliau menjawab menjawab:”Anak yang demikian cukup mengenakan kerudung, bukan jilbab”

(lihat Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir ; jilid III hal:900-901 )

Lihat dalam Kitab Jilbab Wanita Muslimah karya Syaikh Al-Albani yang menjelaskan tafsir ayat tersebut dengan mengatakan pada hal:91-92, 102-103 :

“Tatkala ayat ini turun, maka wanita-wanita Ansharpun keluar rumah sekan-akan diatas kepala-kepala mereka itu terdapat gagak karena pakaian (jilbab hitam) yang mereka kenakan”

Dikeluarkan oleh Abu Dawud (II:182) dengan sanad Shahih. Disebutkan pula dalam kitab Ad-Duur (V:221) berdasarkan riwayat AbdurRazaq, Abdullah bin Humaid, Abu Dawud, Ibnul Mundzir, Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Mardawaih dari hadits Ummu Salamah dengan lafal :”Tatkala ayat ini turun, maka wanita-wanita Ansharpun keluar rumah seakan diatas kepala-kepala mereka terdapat gagak lantaran pakaian (jilbab) yang mereka kenakan” Kata”Ghurban” adalah bentuk jamak dari “Ghurab” (gagak). Pakaian (jilbab) mereka diserupakan dengan burung gagak karena warnanya yang hitam.

 

Dari hadits diatas dapat difahami bahwa mengenakan jilbab dengan warna gelap merupakan sunnahnya wanita-wanita shahabiyah dan tentu saja istri-istri Nabi kita yang mulia. Dalil yang lain adalah Hadits Shahih Riwayat Bukhari yang dimasukkan oleh Imam Syaukhani dalam kitabul Libas dimana Rasulullah shalallahu alaihi wassalam memakaikan pakaian warna hitam kepada Ummu Khalid lengkapnya adalah sebagai berikut :

 

“Dan dari Ummu Khalid, ia berkata: Beberapa pakaian dibawa kepada Nabi diantaranya terdapat pakaian berwarna hitam. Lalu Nabi bertanya: Bagaimana pandanganmu kepada siapa kuberikan pakaian hitam ini?Lalu terdiamlah kaum itu. Kemudian Nabi bersabda :Bawalah kemari Ummu Khalid, lalu aku dibawa kepada Nabi , kemudian ia memakaikan pakaian itu kepadaku dengan tangannya sendiri, dan bersabda:selamat memakai dan semoga cocok! Dua kali. Lalu Nabi melihat kepada keadaan pakaian itu dan mengisyaratkan tangannya kepadaku sambli berkata: Ya, Ummu Khalid, ini bagus, ini bagus (sanna dalam bahasa Habasyah artinya: bagus)”

(HR. Bukhari , Nailul Author, Imam Syaukhani,1404-405)

Yang namanya jilbab adalah kain yang dikenakan oleh wanita untuk menyelimuti tubuhnya diatas pakaian (baju) yang ia kenakan. Ini adalah definisi pendapat yang paling shahih(yang paling benar).

Didalam menjelaskan definisi jilbab dikatakan terdapat 7 pendapat yang telah disebutkan oleh Al-Hafizh dalam kitab beliau “Fathul Bari” (I:336), dan ini adalah salah satunya. Pendapat ini juga diikuti oleh Imam Al-Baghawi dalam Tafsirnya (III:544) yang mengatakan:”Jilbab adalah pakaian yang dikenakan oleh wanita diatas pakaian biasa dan khimar(kerudung)”

 

Ibnu Hazm (III:217) mengatakan:”Jilbab menurut bahasa Arab yang disebutkan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wassalam adalah pakaian yang menutupi seluruh badan, bukan hanya sebagiannya”

Imam Al-Qurthubi menshahihkannya dalam kitab Tafsirnya.

Umumnya jilbab ini dikenakan oleh kaum wanita manakala ia keluar rumah. Ini seperti yang diriwayatkan oleh Asy-Syaikhani (Bukhari & Muslim) dan juga oleh perawi lainnya dari Ummu ‘Athiyah radhiyallahu’anha bahwa ia berkata:

“Rasulullah shalallahu alaihi wasslam memerintahkan kami agar keluar pada hari Idul Fitri maupun Idul Adha , baik para gadis yang menginjak akil baligh, wanita-wanita yang sedang haidh maupun wanita-wanita pingitan. Wanita-wanita yang haidh tetap meninggalkan shalat namun mereka dapat menyaksikan kebaikan (mendengarkan nasehat) dan dakwah kaum muslimin. Aku bertanya: Ya, Rasulullah, salah seorang dari kami ada yang tidak memiliki jilbab? Beliau menjawab: Kalau begitu hendaklah saudarinya meminjamkan jilbabnya(agar ia keluar dengan berjilbab)!

(Hadits Shahih mutafaq alaih)

Syaikh Anwar Al-Kasymiri dalam kitabnya”Faidhul Bari” (I:388) berkaitan dengan hadits ini mengatakan:

“Dapatlah dimengerti dari hadits ini bahwa jilbab itu dituntut manakala seorang wanita keluar rumah dan ia tidak boleh keluar jika tidak mengenakan jilbab”

Diantara beberapa madzhab /pendapat yang mengatakan berkenaan dengan ayat tersebut diantaranya ada yang mengatakan bahwa pada dasarnya jilbab itu tidak diperintahkan manakala orang-orang fasik sedang tidak lagi mengganggu, atau tatkala sudah hilang illat(sebab/alasan). Jika sebab ini sudah hilang, maka hilanglah pula ma’lul (akibatnya). Salah satunya adalah seperti yang ditulis dalam buku “Al-Qur’an dan Wanita ) hal:59:

 

”Kami perlu mengingatkan riwayat-riwayat yang disebutkan berkenaan dengan keberadaan ayat surat Al-Ahzab, bahwa pakaian wanita-wanita merdeka maupun budak dahulunya sama. Lantas orang-orang fasik mengganggu mereka tanpa pandang dulu. Kemudian turunlah ayat ini yang membedakan pakaian bagi wanita-wanita merdeka agar mereka dapat dikenal sehingga tidak diganggu oleh orang-orang fasik itu. Dengan kata lain, persoalannya atau kepentingan darurat pada masa tertentu”

 

(Syaikh Albani berkata): seakan-akan ia ingin mengatakan: Sekarang ini sudah tidak ada lagi kepentingan untuk mengenakan jilbab, karena sudah hilang penyebabnya. Menurutnya dengan lenyapnya perbudakan dan kaum wanita sekarang ini sudah merdeka seluruhnya! Perhatikanlah bagaimana kejahilan mengenai sebagian riwayat itu dapat berakibat hilangnya perintah Al-Qur’an dan juga perintah Nabi sebagimana hadits Ummu Athiyah diatas”

 

Syarat-syarat yang harus dipenuhi ketika memakai jilbab:

Sebagaimana yang telah saya janjikan diatas mengenai syarat dalam memakai jilbab yang harus dipenuhi oleh seorang wanita muslimah agar jilbabnya diterima Allah subhanahuwata’ala maka wajib untuk memperhatikan hal-hal berikut ini.Yang dimana Syaikh Albani mengatakan dalam bukunya Jilbab Wanita Muslimah hal :45

 

“Penelitian kami terhadap ayat-ayat Al-Qur’an, Sunnah Nabi dan atsar-atsar Salaf dalam maslah yang penting ini memberikan jawaban kepada kami bahwa seorang wanita keluar dari rumahnya, maka ia wajib menutup seluruh anggota badannya dan tidak menampakkan sedikitpun perhiasannya kecuali wajah dan dua telapak tangannya (bercadar lebih utama bila mau) maka ia harus menggunakan pakaian yang memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

 

  1. Menutupi seluruh tubuh selain muka dan telapak tangan

Sebagaimana yang telah dibahas diatas tentang penafsiran surat An-Nuur ayat 31 dan Al-Ahzaab ayat 59 tentang keharusan menutupi seluruh tubuhnya dengan jilbab maka akan saya jelaskan beberapa tambahan secara terperinci diantaranya Firman Allah Ta’ala:

“Dan janganlah mereka itu memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan”

Ibnu Hazm dalam kitabnya Al-Muhalla (II:216) mengatakan:

“Ini merupakan nash bahwa kedua kaki dan betis itu termasuk anggota tubuh yang harus disembunyikan (ditutup) dan tidak halal untuk ditampakkan”

Sedangkan dari As-Sunnah, hal ini dikuatkan oleh hadist Ibnu Umar bahwa ia berkata: Rasulullah bersabda :

“Barangsiapa menghela pakaiannya lantaran angkuh, maka Allah tidak akan sudi melihatnya pada hari kiamat. Lantas Ummu Salamah bertanya:”Lalu, bagaimana yang mesti dilakukan oleh kaum wanita denngan bagian ujung pakaiannya? Beliau menjawa: hendaklah mereka menurunkan satu jengkal!Ummu Salamah berkata:Kalau begitu telapak kaki mereka terbuka jadinya. Lalu Nabi bersabda lagi:Kalau begitu hendaklah mereka menurunkan satu hasta dan jangan lebih dari itu!”

(HR.Tirmidzi (III/47) At-Tirmidzi berkata hadits ini Shahih)

  1. Bukan berfungsi sebagai perhiasan

Sebagaimana firman Allah dalam surat An-Nuur ayat 31 :

“dan janganlah kaum wanita itu menampakkan perhiasan mereka”

secara umum kandungan ayat ini juga mencakup pakaian biasa jika dihiasi sesuatu yang menyebabkan kaum laki-laki melirikkan pandangan kepadanya. Hal ini dikuatkan oleh Firman Allah dalam surat Al-Ahzab ayat 33:

“Dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu”

juga berdasarkan sabda Nabi :

“Ada 3 golongan yg tidak akan ditanya (karena mereka sudah termasuk orang-orang yang binasa atau celaka): Seorang laki-laki yang meninggalkan jama’ah dan mendurhakai imamnya serta meninggal dalam keadaan durhaka, seorang budak wanita/laki-laki yang melarikan diri dari tuannya, serta seorangwanita yang ditinggal pergi oleh suaminya, padahal suaminya telah mencukupi keperluan duniawinya namun setelah itu ia berhias/bertabarruj (berhias diluar rumah bukan untuk suaminya )”

 

(HR.Hakim (1119) dan Ahmad (619) dari hadits Fadhalah bin Ubaid dengan sanad shahih)

Tabarruj adalah perilaku wanita yg menampakkan perhiasan dan kecantikan-nya serta segala sesuatu yang wajib ditutup karena dapat membangkitkan syahwat laki-laki (Fathul Bayan 7274)

Yang dimaksud dengan perintah mengenakan jilbab adalah menutup perhiasan wanita. Dengan demikian tidaklah masuk akal jika jilbab itu sendiri berfungsi sebagai perhiasan. Seperti kejadian yang sering kita lihat sendiri yaitu jilbab trendy model masa kini.

  1. Kainnya harus tebal tidak tipis

Yang namanya menutup itu tidak akan terwujud kecuali harus tebal. Jika tipis maka hanya akan semakin memancing fitnah (godaan) dan berarti menampakkan perhiasan. Sebagaimana sabda Rasulullah :

“Pada akhir ummatku nanti akan ada wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang. Diatas kepala mereka seperti terdapat punuk unta. Kutuklah mereka karena sebenarnya mereka adalah kaum yang terkutuk”

(HR. Ahmad 2223.Menurut Al-Haitsami rijal Ahmad adalah rijal shahih)

Ibnu Abdil Barr berkata:

“Yang dimaksud Nabi adalah wanita yang mengenakan pakaian tipis, yang dapat mensifati(menggambarkan) bentuk tubuhnya dan tidak dapat menutup atau menyembunyikannya. Mereka itu tetap berpakaian namanya akan tetapi hakekatnya telanjang”

(Dikutip oleh Imam As-Suyuti dalam Tanwirul Hawalik 3103)

Dari Hisyam bin Urwah bahwasanya Al-Mundzir bin Az-Zubair datang dari Iraq, lalu mengirimkan kepada Asma binti Abu Bakar sebuah pakaian Marwiyah (nama pakaian terkenal di Iraq) dan Quhiyyah (tenunan tipis dan halus dari Khurasan). Peristiwa itu terjadi setelah Asma mengalami kebutaan. Asma pun menyentuh dengan tangannya kemudian berkata:”Cis! Kembalikan pakaian ini kepadanya!” Al-Mundzir merasa keberatan lalu berkata:”Duhai Bunda, sesungguhnya pakaian itu tidak tipis!” Ia menjawab : Memang tidak tipis akan tetapi ia dapat menggambarkan lekuk tubuh !”

(Dikeluarkan oleh Ibnu Saad (8184) isnadnya Shahih sampai kepada Al-Mundzir)

  1. Harus Longgar, Tidak Ketat, Sehingga tidak Dapat Menggambarkan Sesuatu Dari Tubuhnya

Karena tujuan dari mengenakan pakaian adalah untuk menghilangkan fitnah. Dan, itu tidak mungkin terwujud kecuali pakaian yang dikenakan oleh wanita itu harus longgar dan luas. Jika pakaian itu ketat, meskipun dapat menutupi warna kulit, maka tetap dapat menggambarkan bentuk tubuh atau lekuk tubuhnya, atau sebagian dari tubuhnya pada pandangan mata kaum laki-laki. Kalau demikian halnya maka sudah pasti akan menimbulkan kerusakan dan mengundang kemaksiatan bagi kaum laki-laki. Dengan demikian, pakaian wanita itu harus longgar dan luas.

 

Usamah bin Zaid pernah berkata:

“Rasulullah memberiku baju Qubthiiyyah yang tebal (biasanya baju Qubthiyyah itu tipis) yang merupakan baju yang dihadiahkan oleh Dihyah Al-Kalbi kepada beliau. Baju itupun aku pakaikan pada istriku. Nabi bertanya kepadaku :Mengapa kamu tidak mengenakan baju Qutbiyyah ? aku menjawab: Aku pakaikan baju itu pada istriku.Nabi lalu bersabda:Perintahkanlah ia agar mengenakan baju dalam di balik Qubthiyyah itu, karena saya khawatir baju itu masih bisa menggambarkan bentuk tulangnya”

(Dikeluarkan oleh Ad-Dhiya’Al-Maqdisi dalam kitab Al-Hadits Al-Mukhtarah 1441 Ahmad dan Baihaqi dengan sanad hasan)

Diriwayatkan oleh Ummu Ja’far binti Muhammad bin Ja’far bahwasanya Fatimah binti Rasulullah shalallahu alaihi wassalam berkata:

“Wahai Asma! Sesungguhnya aku memandang buruk apa yang dilakukan kaum wanita yang mengenakan baju yang dapat menggambarkan tubuhnya. Asma berkata:Wahai putri Rasulullah! Maukah kuperlihatkan kepadamu sesuatu yang pernah aku lihat di negeri Habasyah? Lalu Asma memabwakan beberapa pelepah daun kurma yang masih basah, kemudian ia bentuk menjadi pakaian lantas dipakai. Fatimah pun berkomentar:Betapa baiknya dan eloknya baju ini, sehingga wanita dapat dikenali(dibedakan) dari laki-laki dengan pakaian itu. Jika aku nanti sudah mati, maka mandikanlah aku wahai Asma bersama Ali (dengan pakaian penutup seperti itu) dan jangan ada seorangpun yang menengokku ! tatkala Fatimah meninggal dunia maka Ali bersama Asma yang memandikannya sebagaimana yang dipesankan”

 

(dikeluarkan oleh Abu Nuaim dalam kitab Al-Hilyah 243 dan ini adalah konteksnya diriwayatkan pula oleh Al-Baihaqi.Ada riwayat dengan lafal lain dari Asma dikeluarkan oleh At-Tabrani dalam Al-Ausath bahwasanya putri Rasulullah meninggal dunia. Mereka dalam membawa mayat laki-laki maupun perempuan sama saja diatas dipan. Lalu Asma berkata: Ya, rasulullah Saya pernah tinggal dinegeri Habasyah dimana penduduknya adalah nashara ahlul kitab. Mereka membuatkan tandu jenazah untuk mayat perempuan, karena mereka benci bilamana ada bagian dari tubuh wanita itu yang tergambarkan.Bolehkah aku membuatkan tandu semisal itu untukmu? Beliau menjawab: buatkanlah! Asma adalah orang yg pertama kali membuat tandu jenazah dalam islam yang mula-mula diperuntukkan buat Ruqayyah putri Rasulullah)

 

Perhatikanlah sikap Fatimah yang merupakan bagian dari tulang rusuk Nabi

bagaimana ia memandang buruk bilamana sebuah pakaian itu dapat mensifati atau menggambarkan tubuh seorang wanita meskipun sudah mati, apalagi jika masih hidup tentunya jauh lebih buruk. Oleh karena itu hendaklah kaum muslimah zaman ini merenungkan hal ini, terutama kaum muslimah yang masih mengenakan pakaian yang sempit dan ketat yang dapat menggambarkan bulatnya buah dada, pinggang, betis dan anggota badan mereka yang lain.Selanjutnya hendaklah mereka beristighfar kepada Allah dan bertaubat kepadaNya serta mengingat selalu akan sabda Nabi shalallahu alaihi wassalam:

“ Perasaan malu dan iman itu keduanya selalu bertalian. Manakala salah

satunya lenyap, maka lenyaplah pula yang satunya lagi”

(Diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam Mustadraknya dari Abdullah bin Umar,dan Al-Haitsami dalam Al-Majma III:26)

  1. Tidak Diberi Wewangian atau Parfum

Dari Abu Musa Al-Asyari bahwasanya ia berkta Rasulullah bersabda :

“Siapapun perempuan yang memakai wewangian, lalu ia melewati kaum laki-laki agar mereka mendapatkan baunya, maka ia adalah pezina”

(HR.An-Nasai II:38,Abu dawud II:92, At-Tirmidzi IV:17, At-Tirmidzi menyatakan hasan shahih)

Dari Zainab Ats-Tsaqafiyah bahwasanya Nabi bersabda :

“Jika salah seorang diantara kalian (kaum wanita) keluar menuju masjid,

maka janganlah sekali-kali mendekatinya dengan memakai parfum”

(HR. Muslim dan dalam Ash-shahihah 1094)

Syaikh Albani berkata:

“Jika hal itu saja diharamkan bagi wanita yang hendak keluar menuju masjid lalu apa hukumnya bagi yang keluar menuju pasar atau tempat keramaian lainnya? Tidak diragukan lagi bahwa hal itu jauh lebih haram dan lebih besar dosanya. Al-Haitsami dalam kita Az-Zawajir II:37 mengatakan bahwa keluarnya

seorang wanita dari rumahnya dengan memakai parfum dan berhias adalah

termasuk dosa besar walaupun sang suami mengijinkannya”

  1. Tidak Menyerupai Pakaian Wanita Kafir

Dari Abdullah bin Amru bin Ash dia berkata:

“Rasulullah melihat saya mengenakan dua buah kain yang dicelup dengan warna ushfur, maka beliau bersabda: Sungguh ini merupakan pakaian orang-

orang kafir maka jangan memakainya”

(HR. Muslim 6144, hadits Shahih)

Jelaslah sudah Rasulullah telah memberikan rambu-rambu yang harus ditaati ummatnya khususnya wanita muslimah. Mudah-mudahan Allah memberikan hidayah-Nya kepada kita untuk mampu melaksanakan apa yang diperintahkanNya. Amin. Wallahu’alam bishawwab.

Baca Selengkapnya →

Artikel Jilbab Wanita Muslimah (I)

Perintah memakai jilbab bagi wanita muslimah telah Allah firmankan dalam kitab-Nya yang mulia Al-Qur’an dan hadits rasul-Nya.Kedudukan mengenakan jilbab (busana wanita muslimah) dihukumi wajib sama kedudukannya dengan shalat , puasa, zakat, haji(bagi yang mampu).Dan, jilbab ini bila ditinggalkan (diacuhkan) oleh seorang wanita yang mengaku dirinya memeluk agama islam maka bisa mengakibatkan pelakunya terseret dalam salah satu dosa besar karena kedudukannya yang wajib maka bila ditinggalkan akan mendapatkan adzab, laknat dan murka Allah subhanahuwata’ala.Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Shahih riwayat Muslim:

 

“Ada dua golongan penduduk neraka dari ummatku, tetapi aku belum pernah melihat keduanya: Wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang, yang berlenggak-lenggok dan memiringkan kepala mereka seperti punuk unta. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya. Dan dimana sekelompok laki-laki bersama mereka yang membawa cemeti seperti ekor sapi yang mereka gunakan untuk memukuli atau menyambuki hamba-hamba Allah tersebut”

 

Hadits Muslim nomor 2128 yang berbunyi:

“Diriwayatkan oleh Abu Hurairah dari Nabi shalallahu alaihi wassalam bersabda: Ada dua kelompok ahli neraka yang aku belum pernah melihat keduanya Seorang laki-laki yang mempunyai cemeti/cambuk seperti ekor sapi. Mereka mencambuki manusia dengannya dan para wanita yang berpakaian tetapi telanjang,bergoyang-goyang dan berlenggak-lenggok , kepala mereka ( ada sesuatu) seperti punuk unta yang bergoyang-goyang. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya padahal bau surga itu dapat dicium dari jarak sekian dan sekian”

 

Sedangkan hadits lain yang diriwayatkan Imam Ahmad 2223 berbunyi :

“Pada akhir ummatku nanti akan muncul kaum laki-laki yang menaiki pelana seperti layaknya kaum laki-laki, mereka turun kemasjid-masjid, wanita-wanita mereka berpakaian tetapi laksana telanjang, diatas kepala mereka (ada sesuatu) seperti punuk unta yang lemah gemulai. Laknatlah mereka, karena sesungguhnya mereka adalah wanita-wanita yang terlaknat”

 

Hadits Riwayat Ahmad dan Al-Haitsami mengatakan rijal Ahmad adalah rijal Shahih

Sebelum saya menyampaikan dalil-dalil dari Al-Qur’an dan hadits nabi tentang wajibnya mengenakan jilbab saya juga melampirkan keterangan tentang syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh seorang wanita muslimah ketika memakai jilbabnya (tentunya dengan dalil dari hadits yang shahih). Sebagaimana yang telah kita ketahui dalam kaidah ushul fiqih bahwa apabila suatu syarat dalam ibadah tidak dipenuhi maka ibadahnya tersebut tidak sah/tertolak. Misalnya seorang yang shalat tanpa menghadap kiblat atau tanpa berbusana(telanjang) maka shalatnya tidak sah karena ada beberapa syarat yang tidak dipenuhinya. Begitupula halnya dengan memakai jilbab ini ada pula syarat-syaratnya yang harus dipenuhi agar memakai jilbab ini diterima dan dirihai Allah Dan mudah-mudahan dengan rahmat-Nya karena ketaatan kita kepada Allah yang lebih kita utamakan dari siapapun diatas muka bumi ini Allah akan memasukkan kita kedalam surga-Nya yang abadi. Amin.

 

Maka sepatutnya bagi seorang wanita muslimah setelah mendapati dalil tentang wajibnya mengenakan jilbab mematuhinya dan segera melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya untuk menghindarkan dirinya dari murka Allah dan tentu saja siksa-Nya yang sangat pedih dineraka bagi hamba-hamba-Nya yang melanggar perintah-Nya.

 

Saudariku fillah yang dirahmati Allah

Seorang wanita muslimah yang meyakini Allah sebagai Rabb-Nya dan Muhammad sebagai Nabi dan Rasul-Nya maka konsekuensinya adalah dia harus mematuhi apa yang datang dari Allah dan Rasul-Nya.Dan tidaklah patut bagi kita sebagai hamba-Nya memilih alternatif/alasan lain untuk berpaling dari perintah-Nya sebab akan menyebabkan kita tersesat dari petunjuk-Nya sebagaimana firman-Nya:

 

“dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak pula bagi wanita yang mukmin apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan(urusan) akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka. Dan, barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguh dia telah sesat, sesat yang nyata”(Al-Ahzab:36)

 

Apabila seorang hamba telah sesat maka yang menjadi teman setia baginya adalah setan.

Karena didunia ini hanya ada dua pilihan menjadi hamba Allah (taat pada perintah dan menjauhi laranganNya serta mengikuti sunnah NabiNya) atau hamba setan yaitu mengikuti hawa nafsunya dan mematuhi seruan setan dengan meninggalkan seruan Allah dan rasul-Nya . Apabila hawa nafsunya telah ditaati dan diikuti maka setanlah yang akan menjadi sahabat setianya sehingga jauhlah dia dari hidayah-Nya dan petunjuk-Nya. Sebagaimana firman-Nya:

 

“Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Rabb Yang Maha Pemurah (Al-Qur’an) kami adakan baginya setan yang (menyesatkan) maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.Dan sesungguhnya setan-setan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk” (Az-Zukhruf :36-37)

 

Seringkali kita mendengar tentang nada-nada sumbang yang berkesan mengatakan bahwa jilbab itu tidak sesuai dengan perkembangan zaman yang serba modern dan canggih ini. Dimana kita hidup diabad 21 yang penuh dengan teknologi modern dan serba bebas, sehingga apabila kita mengenakan busana islami/jilbab maka kita akan ketinggalan zaman dan kuno(kolot). Patut ditanyakan kembali kepada mereka apabila jilbab itu tidak lagi relevan/sesuai dengan perkembangan zaman saat ini secara tidak langsung dia telah menyatakan bahwa Allah itu tidak relevan lagi menjadi Rabbnya karena yang menurunkan perintah jilbab itu adalah Allah Rabbnya seluruh makhluk dibumi dan dilangit.yang jelas-jelas termuat dalam kitab-Nya yang mulia Al-Qur’anul karim bila dia mengingkari hakikat perintah jilbab tersebut berarti dia mengingkari Al-Qur’an dan dengan dia mengingkari Al-Qur’an berarti dia telah mengingkari yang membuat hak ciptanya yaitu Allah subhanahuwata’ala.Karena itu patut dicamkan dan direnungkan dengan hati-hati sebelum kita mengeluarkan nada-nada sumbang yang aneh dengan alasan perkembangan zaman.

 

Dalil Al-Qur’an Dan Hadits Yang Memerintahkan Kita Untuk Berjilbab

Dibawah ini saya sampaikan dalil-dalil yang menyuruh kita wanita muslimah untuk berjilbab. Yaitu firman Allah subhanahu wata’ala dalam surat An-Nuur ayat 31:

“katakanlah kepada wanita yang beriman:Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang biasa nampak dari mereka. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedada mereka dan janganlah menampakkan perhiasan mereka, kecuali kepad suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau puter-putera suami mereka, atau saudara-saudara mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka atau wanita-wanita islam atau budak-budak yang mereka miliki atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan terhadap wanita atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan, janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung”

 

Sebab turunnya ayat ini adalah sebagaimana yang diceritakan oleh Muqatil bin Hayan (dalam Tafsir Ibnu Katsir) dia berkata:

“Telah sampai berita kepada kami dan Allah Maha Tahu bahwa Jabir bin Abdullah Al-Anshari telah menceritakan bahwa Asma binti Murtsid tengah berada ditempatnya di Bani Haritsah. Tiba-tiba banyak wanita menemuinya tanpa menutup aurat dengan rapi sehingga tampaklah gelang-gelang kaki mereka, dada, dan kepang rambutnya. Asma berguman :Alangkah buruknya hal ini. Maka Allah Ta’ala menurunkan ayat ini”

 

Diriwayatkan bahwa Aisyah radhiyallahu anha pernah berkata :

“Semoga Allah merahmati wanita Muhajirin yang pertama yang tatkala Allah Ta’ala menurunkan ayat:”Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung kedada mereka..”mereka lantas merobek kain tak berjahit (muruth) yang mereka kenakan itu, lalu mereka berkerudung dengannya (dalam riwayat lain disebutkan: Lalu merekapun merobek sarung-sarung mereka dari pinggir kemudian mereka berkerudung dengannya”

 

Hadits Riwayat Bukhari (II:182 dan VIII:397) dan Abu Dawud dan Al-Hakim (IV/194)

Sedangkan riwayat dari Ibnu Abi Hatim lebih sempurna dengan sanadnya dari Shafiyah binti Syaibah yang mengatakan:

“Tatkala kami berada disamping Aisyah yang menyebutkan keutamaan wanita suku Quraisy, lalu Aisyah berkata: Sesungguhnya kaum wanita suku Quraisy itu memiliki satu keutamaan . Dan, aku demi Allah tiada melihat yang lebih utama daripada wanita-wanita Anshar dan yang lebih membenarkan terhadap Kitabullah maupun keimanan terhadap Al-Qur’an. Tatkala diturunkan surat An-Nuur ayat 31, maka para lelaki mereka (kaum Anshar) langsung kembali pulang menuju mereka untuk membacakan apa yang baru saja diturunkan oleh Allah atas mereka , seorang laki-laki membacakan ayat tersebut kepada istrinya, putrinya, saudarinya serta kerabatnya. Tak seorang wanitapun dari mereka melainkan lantas bangkit untuk mengambil kain yang biasa dikenakan lalu digunakan untuk menutupi kepala (menjadikannya kerudung) dalam rangka membenarkan dan mengimani apa yang telah diturunkan Allah dari Kitab-Nya. Lalu pada pagi harinya dibelakang Rasulullah (menunaikan shalat shubuh) mereka mengenakan tutup kepala (kerudung) seakan-akan diatas kepala mereka itu terdapat burung gagak”

 

Ibnu Katsir menuturkan juga riwayat ini, demikian pula Al-Hafizh dalam Fathul Bari (VIII/490), Imam Thabrani dalam Mu’jam Al-Kabir I/245-2 dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Damsyiq (IV:46-1243-1) Hadits ini diriwayatkan Bukhari dalam Tarikhnya secara ringkas dan juga oleh Abu Zur’ah ia mengatakan hadits ini shahih

 

(bersambung)

Baca Selengkapnya →

Aturan tentang Jilbab di Indonesia

Nomor : 1928/D/C/2002 Jakarta, 12 September 2002

Lampiran : –

Perihal : Pas photo berjilbab/berkerudung

Kepada Yth:

– Rektor Univ/Institut Negeri

– Ketua Sekolah Tinggi Negeri

– Direktur Politeknik Negeri

– Koodinator Kopertis Wilayah I s/d XII

Seluruh Indonesia

Sejalan dengan aspirasi yang berkembang di masyarakat dalam era reformasi ini dan mengingat selalu timbulnya permasalahan pas photo berjilbab/berkerudung yang tidak diperbolehkan dalam melengkapi persyaratan penerimaan mahasiswa baru atau hal-hal yang berkenaan dengan dokumen resmi bagi seorang mahasiswa pada perguruan tinggi, dipandang perlu mempertegas beberapa kebijakan baru yang berkenaan dengan hal tersebut sebagai berikut:

  1. Para mahasiswi diperbolehkan menggunakan pas photo dirinya yang berjilbab/berkerudung untuk kelengkapan administrasi akademik antara lain:

    a. Ijazah

    b. Kartu Tanda Mahasiswa (KTM)

    c. Penerimaan mahasiswa baru

    d. Dan lain-lain yang berkenaan dengan administrasi akademik

  2. Kebijakan ini tidak dimaksudkan untuk melakukan diskriminasi dengan para mahasiswi yang tidak berjilbab/berkerudung. Oleh karena itu dimohon agar dalam semua kegiatan tri dharma perguruan tinggi, harus memberikan perlakuan yang sama baik yang berjilbab/berkerudung maupun tidak berjilbab/berkerudung sesuai dengan semangat demokrasi.

  3. Apabila di kemudian hari, untuk sesuatu keperluan tertentu disyaratkan pas foto yang tidak memakai kerudung/jilbab dan/atau pas foto yang harus kelihatan telinganya, maka Perguruan Tinggi dimana mahasiswi tersebut menyelesaikan kuliahnya tidak dapat mengganti dokumen dan/atau memberi keterangan lain yang berhubungan dengan jati diri yang bersangkutan, karena kesulitan memastikannya.

Dengan dikeluarkan surat edaran ini, maka Surat Edaran Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi No.1128/D/O/84 tanggal 28 Agustus 1984 dan surat Dirjen Dikti No.4277/D/T/91 tanggal 1 Oktober 1999 serta No.3206/D/T/94 tanggal 20 Juni 1994 mengenai pas photo yang berjilbab, dinyatakan tidak berlaku lagi.

 

Demikian untuk diketahui dan atas perhatian saudara kami ucapkan terima kasih.

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi

Satryo Soemantri Brodjonegoro

NIP.130889802

Tembusan:

  1. Bapak Mendiknas (sebagai laporan);

  2. Irjen Depdiknas

  3. Sesjen Depdiknas

  4. Direktur PAK Ditjen Dikti

  5. Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia

  6. Ketua Umum Takmir Masjid Fatimatuzzahra

Baca Selengkapnya →