Jilbab Online

Emansipasi, Adakah Dalam Islam?

Wanita muslimah merupakan bagian terbesar dari komunitas masyarakat

secara umum. Apabila mereka baik, niscaya masyarakat pun akan menjadi

baik. sebaliknya, apabila mereka rusak, masyarakat pun akan rusak.

Sungguh, apabila mereka benar-benar memahami agama, hukum dan syari’at

Alloh, niscaya mereka akan mampu melahirkan generasi-generasi baru

yang tangguh dan berguna bagi umat seluruhnya.

Di tengah perhelatan dunia Islam sekarang ini, kita merasakan alangkah

banyaknya kekuatan yang hendak menarik, sekaligus mengeluarkan wanita

dari agama dan syari’at NabiNya ke jalan yang amat jauh dari jalan

yang diridhai Alloh, diantaranya adalah derasnya suara seruan kebebasan

wanita yang mendapatkan sambutan memuaskan dari kalangan orang-orang

yang memang berfikiran tak karuan.

Para penyeru kebebasan wanita belakangan ini, bertambah gencar dan

lancar, dengan berusaha sekuat tenaga menodai kehormatan dan kedudukan

para wanita, berbagai ucapan dan slogan-sloganpun dengan entengnya

keluar dari mulut mereka. Semua itu pada intinya adalah untuk menyeret

wanita agar supaya mempunyai kedudukan setara dengan kaum laki-laki,

agar wanita meninggalkan serta menanggalkan busana (jilbab) muslimahnya,

agar wanita bekerja di sektor-sektor pekerjaan kaum laki-laki, agar

wanita berhias secantik mungkin agar bertambah ayu, supel, feminim,

menawan bagi kaum laki-laki ketika keluar dari tempat tinggalnya.

Dan berbagaia seruan-seruan lainnya yang pada lahirnya terlihat manis

dan menggiurkan, namun pada hakekatnya pahit dan menghancurkan!

Langkah-langkah penjerumusan dan penyesatan seperti di atas bertambah

deras lajunya dengan terbentangnya berbagai sarana informasi yang

tidak lagi mengenal batasan. Akhirnya, melalui sarana informasi itulah,

kaum wanita sangat mudah diekspose bahkan dikomersialkan. Lihatlah

hampir tidak ada satu iklanpun dimedia elektronik maupun media cetak

yang tidak menampilkan wanita, bahkan sesuatu yang dulunya sangat

tabu dibicarakan, kini menjadi tontonan dan sarapan harian. Jelas,

semua ini merupakan bentuk pelecehan bagi wanita. Tapi anehnya, kenapa

amat langka sekali wanita yang membencinya, bahkan banyak sekali dukungan

dan persetujuan dari mereka?!

Benarlah sabda Nabi Muhammad:

Tidaklah aku tinggalkan fitnah yang lebih berbahaya bagi kaum laki-laki

daripada fitnah kaum wanita.1

Sebenarnya hal semacam ini tidak akan pernah terjadi bilamana para

wanita berpegang teguh dengan jalan yang digariskan Alloh sejak ribuan

tahun yang lalu yaitu sebuah solusi yang mencakup seluruh segi kehidupan

wanita yang akan membawa kaum wanita ke tempat terhormat dan terhindar

dari berbagai jurang kehinaan.

1 Makna Emansipasi Wanita

Emansipasi berasal dari bahasa latin “emancipatio”

yang artinya pembebasan dari tangan kekuasaan. Di zaman Romawi dulu,

membebaskan seorang anak yang belum dewasa dari kekuasaan orang tua,

sama halnya dengan mengangkat hak dan derajatnya.

Adapun makna emansipasi wanita adalah perjuangan sejak abad ke-14

M. dalam rangka memperoleh persamaan hak dan kebebasan seperti hak

kaum laki-laki.2

Jadi para penyeru emansipasi wanita menginginkan agar para wanita

disejajarkan dengan kaum pria disegala bidang kehidupan, baik dalam

pendidikan, pekerjaan, perekonomian maupun dalam pemerintahan.

2 Emansipasi Wanita Dalam Bidang Pendidikan

Mereka menyerukan agar para wanita menuntut ilmu di bangku-bangku

sekolah hingga perguruan tinggi sejajar dengan pria, sekalipun harus

mengorbankan nilai-nilai agamanya. seperti ikhtilath (campur baur

dengan laki-laki), bepergian tanpa mahram, pergaulan bebas tanpa batas,

bersikap toleran terhadap kemungkaran yang ada di depan mata, yang

penting bisa mendapat ijazah yang diidamkan atau berbagai gelar yang

dicita-citakan.

3 Emansipasi Wanita Dalam Bidang Pekerjaan

Setelah kaum wanita lulus dalam pendidikan formal, maka tibalah gilirannya

tuntutan untuk bekerja, tidak mau kalah dengan kaum laki-laki, maka

merekapun memasuki sektor-sektor pekerjan kaum laki-laki, bercampur

baur dengan mereka yang sudah pasti hal ini akan menimbulkan berbagai

dampak negatif. antara lain:

  1. Timbulnya pengangguran bagi kaum pria, sebab lapangan pekerjaan telah

    dibanjiri oleh kebanyakan kaum wanita.

  2. Pecahnya keharmonisan rumah tangga, sebab sang ibu lalai dengan tugas-tugas

    utamanya dalam rumah, seperti, memasak, mencuci, membersihkan rumah,

    melayani suami dan anggota keluarga. Akibatnya, rumah tanggapun berantakan

    tak terurus.

  3. Keadaan perkembangan anak menjadi kurang terkontrol, lantaran ayah

    dan ibu sibuk bekerja di luar rumah. Dari celah inilah, akhirnya muncul

    dengan subur kenakalan anak-anak dan remaja-remaji.

  4. Terjadinya percekcokkan dan perseteruan antara suami-istri. dikarenakan

    ketika suami menuntut pelayanan dari sang istri dengan sebaik-baiknya,

    si istri merasa capek dan lelah, lantaran seharian bekerja di luar

    rumah.

  5. Terjadinya perselingkuhan. Karena ditempat kerja tersebut, tidak ada

    lagi larangan bercampur antar lain jenis, dandanan yang menggoda lawan

    jenisnya dan selainnya dari malapetaka yang hanya Allohlah Maha mengetahuinya.

Semoga Alloh memberi petunjuk kepada kita semua. Semestinya, kaum

wanita hendaknya menjadikan rumahnya seperti istananya, karena memang

itulah (rumah) medan kerja mereka. Alloh berfirman:

“Hendaklah kaum wanita (wanita muslimah), tetap di rumahmu

dan janganlah kamu berhias dan bertingkahlaku seperti orang -orang

jahiliyah dahulu.” (QS. Al-Ahzab: 33)

Rasulullah bersabda:

Dan wanita adalah penanggung jawab di dalam rumah suaminya ia akan

di minta pertanggung jawabannya atas tugasnya.3

Pada hakekatnya, Alloh tidaklah membebani kaum wanita untuk bekerja

mencari nafkah keluarga, karena itu merupakan kewajiban kaum laki-laki.

Alloh berfirman:

Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan

cara yang ma’ruf (baik). (QS. Al-Baqarah: 233)

Jadi, seorang istri merupakan tanggungan suami, begitu juga seorang

putri, tanggungan orang tua. Karenanya, apabila seorang wanita muslimah

memaksakan dirinya untuk bekerja menjadi wanita karir -misalnya-,

maka pada hakekatnya dia telah merusak citra dirinya sendiri, karena

bagaimanpun juga, wanita tidak bakalan sanggup menandingi kaum pria

dalam segala pekerjaan lantaran beberapa kelemahan yang ada pada diri

wanita, seperti, kekuatan fisik yang lemah, mengalami haidh, hamil,

melahirkan, nifas, menyusui, mengasuh anak, sehingga mereka tidak

punya waktu penuh dan tenaga ekstra kuat yang mampu mengimbangi kaum

laki-laki.

4 Emansipasi Kaum Wanita Di Bidang Perekonomian

Telah dijelaskan di atas, bahwa mayoritas wanita zaman sekarang ini,

begitu mudah tergiur dan terbujuk dengan slogan emansipasi ini, sehingga

mereka beramai-ramai berusaha mencari tambahan pemasukan guna meningkatkan

taraf hidup mereka, sekalipun harus melanggar syari’at, seperti bekerja

membungakan uang pinjaman, padahal ini termasuk riba.

Alloh berfirman:

“Alloh menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.”

(QS. Al Baqarah: 275)

Firman-Nya pula:

Alloh memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. **(QS. Al-Baqarah:

176)**

Atau bekerja menawarkan produk-produk tertentu dengan menampilkan

dan memamerkan kecantikannya walau harus membuka auratnya. Padahal

Rosulullah Muhammad bersabda:

“Wanita itu adalah aurat.”4

Adapun yang di maksud aurat wanita muslimah dalam hadits ini adalah

semua anggota tubuh kecuali wajah dan kedua telapak tangan (menurut

sebagian ulama’).

5 Emansipasi Wanita Dalam Bidang Pemerintahan

Hal ini terjadi dengan antusiasnya kaum hawa untuk terjun dalam arena

kancah politik. Padahal anggotanya (yang di pimpinnya) mayoritas terdiri

dari kaum laki-laki. Seperti ini banyak kita saksikan di sekolah-sekolah,

kantor-kantor, lembaga-lembaga, istansi, maupun di berbagai sektor

pekerjaan. Hal ini sangat bertentangan dengan firman Alloh:

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Alloh

telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain

(wanita). (QS. An Nisa’: 34)

Firman-Nya pula:

Dan orang laki -laki tidaklah sama seperti orang perempuan. **(QS.

Al imron: 36)**

Inilah beberapa dalil Al Qur’an dan Sunnah yang menjadi hujjah dan

bantahan atas para penyeru slogan emansipasi kaum wanita, semoga Alloh

menjaga kaum muslimin semuanya dari tipudaya musuh-musuh-Nya, sesungguhnya

Alloh Maha Kuat lagi Maha Perkasa.


Catatan Kaki

1

Muttafaqun alaihi.

2

Lihat “Kamus ilmiyah Populer” hal.74-75.

3

HR. Buhkari Muslim.

4

HR. Tirmidzi dan berkata hasan shohih.



Bagikan