Beradablah kepada Allah, Jangan Hinakan atau Rendahkan Saudaramu

Mungkin ketika kita bergaul dengan manusia kita melihat berapa banyak manusia yang kedudukan dunia dan akhiratnya jauh lebih rendah dengan kita.

Hingga terkadang ketika kita melihat hamba Allah yang masih bergelimang dengan dosa dan maksiat terbersit dalam hati dan fikiran kita suatu perasaan betapa buruknya keadaan mereka dan muncul rasa bangga pada diri sendiri bahwa kita ini lebih baik darinya wal iyyadzu billah.

Terlebih para wanita muslimah ketika melihat jilbab mereka masih jauh dari tuntunan syari’at islam maka tak ayal tanpa sadar mencela mereka atau bila tidak keluar celaan muncul perasaan dalam hati bahwa diri ini sangat lebih baik dari mereka.

Beradablah kepada Allah wahai saudaraku… Jangan engkau menghina saudaramu karena kekurangan mereka.

Anda bisa lebih baik dari saudaramu itu semua karena nikmat dan karuniaNya yang telah Allah anugerahkan kepada anda.

Beradablah kepada Allah karena Allah lah yang telah memperbaki keadaanmu.

Sesungguhnya mengejek atau menghina (merasa lebih baik dari hamba Allah yang lainnya) dalam agama kita merupakan DOSA dan KEJAHATAN.
Continue reading →

Doa-Doa Peminta Surga

Surga yang Allah sediakan di akhirat kelak tidak akan menjadi milik seorang hamba begitu saja tanpa ada usaha berupa doa dari hamba kepada Pemilik Surga, baik dengan doa bermakna permohonan atau permintaan kepada Allah, maupun doa dengan makna berbagai macam ibadah yang dilakukan yang bisa mengantarkan seorang hamba kepada surga.

Terdapat beberapa doa yang telah disebutkan dalam hadits-hadits Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam yang bisa kita gunakan untuk meminta surga kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Hal ini mengingat bahwa doa-doa yang paling baik adalah doa-doa yang berasal dari Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam.
Continue reading →

This entry was posted in Doa.

Dahulukan Ibu Anda di Atas Seluruh Kesibukan Anda

Ia harus lebih didahulukan daripada pekerjaan-pekerjaan Anda dan dari seluruh rekan-rekan Anda.

Bahkan ia harus lebih didahulukan daripada anak-anak dan isteri Anda.

Seperti dalam kisah tiga orang umat terdahulu yang terperangkap di suatu goa, disebutkan bahwa salah seorang dari mereka berdo’a:

“Ya Allah, aku mempunyai kedua orang tua yang sudah berusia lanjut. Aku tidak minum (susu) di sore hari sebelum keduanya minum. Aku pun tidak ingin memberi minum keluargaku dan hartaku (hamba sahaya) sebelum keduanya. Suatu hari aku pergi jauh mencari sesuatu, sehingga aku tidak pulang kepada kedua orang tuaku kecuali keduanya telah tidur. Aku pun memerah susu untuk minum keduanya, namun keduanya telah tidur, dan aku tidak mau minum sebelum keduanya, aku pun tidak ingin memberi minum keluargaku dan hartaku (hamba sahaya) sebelum keduanya. Aku pun terdiam sambil memegang wadah minuman, menunggu kedua orang tuaku bangun. Barulah ketika fajar menyingsing keduanya bangun dan meminum minuman tersebut…”1

1 HR. Al Bukhari

Dari buku “Ibumu, Ibumu, Ibumu… Kamu dan Hartamu Kepunyaan Ayahmu…” yang ditulis oleh Dr. Sulaiman bin Muhammad ash-Shagir. Pustaka Ibnu ‘Umar, Shafar 1425 H – Desember 2013 M.

Sumber ilustrasi

5 Kelalaian Istri

Tidak diragukan bahwa istri shalihah adalah termasuk kenikmatan dunia yang terindah disamping sebagai tanda kebahagiaan sebuah keluarga. Keshalihan istri tidak hanya diukur dari ibadahnya kepada Allah, akan tetapi juga dipengaruhi bagaimana muamalah dia terhadap orang lain, terutama suaminya.

Dalam rangka menggapai keshalihan, seorang istri hendaknya mewaspadai berbagai kelalaian yang sering menjangkit para istri, baik kelalaian dalam hal ibadah ataupun kelalaian dalam hal muamalah pergaulannya terhadap orang lain. Berikut ini akan kami sampaikan sebagian kelalaian istri yang sering didapati di masyarakat kita, semoga para istri bisa menghindarinya, dan para suami bisa memberi nasihat yang baik kepada istrinya jika mendapati sebagian darinya.
Continue reading →

Orang yang Namanya Disebut di Atas Awan

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisahkan:

Suatu ketika, ada seseorang yang sedang berdiri di tanah lapang. Tiba-tiba ia mendengar suara di atas awan, “Wahai awan, hujanilah kebun si Fulan!”

Maka dengan cepatnya awan tersebut menjauh dan menuangkan air di bawa terik mentari. Ketika sudah terkumpul air dari lingkaran awan tersebut, turunlah hujan dengan derasnya mengguyur kebun itu.

Sedangkan di sebuah kebun, ada seorang petani yang sedang berdiri, sembari mengusap keringat yang membasahi tubuhnya. Maka orang yang mendengar suara dari awan bertanya pada petani tersebut, “Wahai hamba Allah! Siapa namamu?”
Continue reading →

Kebaikan dan Keburukan adalah Ujian

Sebagian orang mengira bahwa ujian adalah ketika dia ditimpa musibah dan keburukan, pemahaman seperti ini adalah keyakinan yang salah dan keliru. Allah telah mengabarkan kepada kita bahwa ujian itu berupa keburukan dan kebaikan, sebagaimana firman-Nya:

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati, Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan, dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya: 35)

Allah juga berfiman:

“Dan Kami uji mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran).” (QS. Al A’raf: 168)

Imam Ibnu Katsir berkata ketika menafsirkan Surat Al-Anbiya ayat 35:

“Dan firman-Nya, “Dan Kami uji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan” artinya terkadang Kami mengujimu dengan musibah-musibah dan terkadang dengan kenikmatan, maka Kami melihat siapakah yang bersyukur? Siapakah yang kufur? Siapakah yang sabar? Dan siapakah yang putus asa? Sebagaimana perkataan Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu Abbas: “Makna dari “Kami menguji kamu” adalah Dia melakukan ujian terhadap kamu “dengan keburukan dan kebaikan” yaitu dengan kesusahan, kelapangan, sakit, sehat, kekayaan, kefakiran, halal, haram, ketaatan, kemaksiatan, petunjuk dan kesesatan. Dan firman-Nya: “Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami” yaitu Kami memablas amal-amal kalian.” 1

Sumber tulisan: “Tepis Duka Raih Kebahagiaan” oleh Abu Ya’la Kurnaedi, Naashirussunnah: Maret 2013/ Rabiul Akhir 1434 H. Catatan kaki: 1 Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’anil Adzhim, juz 3/218.

Sumber ilustrasi

This entry was posted in Aqidah.